cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 119 Documents
KAJIAN EKOTEOLOGI KEJADIAN 1:28 SEBAGAI AMANAT BUDAYA DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KERUSAKAN ALAM LINGKUNGAN Harold Pardede
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.162

Abstract

Abstract: This article is a study of the study of Genesis 1:28 to understand the cultural mandate or mandate that God gave to humans. The study of this verse will be related to its relation to ecology or environmental science. Through the interpretation of this verse, the author will relate it to the current environmental situation which is also more or less influenced by global warming today. This study uses a spiral hermeneutic method (from text to context), namely an exegetical study that reveals the meaning of the original text of the Bible. and implementation of the meaning of the original text today. Text study: The word "power" in Genesis 1:28 has various meanings and is often interpreted incorrectly by many people, including theologians. This cultural mandate to rule over plants and animals is currently being misused by humans, resulting in environmental damage, deforestation and poor world ecosystems.
BIBLICAL RESEARCH MENYEDIAKAN PETA JALAN BAGI PENULISAN MANUSKRIP JURNAL TEOLOGI Sostenis Nggebu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.165

Abstract

ABSTRAK: Studi ini menjelaskan bahwa melalui penelitian Biblical Research untuk merumuskan kebenaran teologis guna mengembangkan kemajuan ilmu teologi, peningkatkan kualitas pelayanan gereja dan menjawab persoalan teologis di tengah masyarakat. Penelitian teologis yang teramat penting untuk menemukan kebenaran yang membangun dan meneguhkan iman orang percaya agar tetap berdiri teguh dalam Yesus Kristus. Biblical Research sangat kaya dengan model studi yang dapat dipakai dalam kajian artikel jurnal ilmiah teologi guna menghasilkan karya yang bersifat induktif seperti Alkitab menafsirkan diri mesendiri. Metode dalam mengelola karya ini adalah penelitian Alkitab. Hasilnya menunjukkan bahwa beragam metode dalam Biblical Research dapat dirumuskan seperti stuti tekstual, studi tematis, studi perikop, studi naratif, studi karakter, dan studi kasus. Semua bentuk studi ini merupakan khas dari Alkitab. Fungsinya untuk menjelaskan makna dan kebenaran teologis yang terdapat dalam teks Alkitab yang diteliti. Kesimpulannya, Alkitab mampu menafsirkan dirinya sendiri untuk menyajikan kebenaran praktis sebagai temuan baru bagi kepentingan pelayanan gereja.
TINJAUAN KEPEMIMPINAN SIMSON (HAKIM-HAKIM 13-16) BERDASARKAN TEORI LEADERSHIP EMERGENCE PATTERN (LEP) J. ROBERT CLINTON, APLIKASINYA KEPADA KEHIDUPAN PARA PEMIMPIN KRISTEN Isak Suria
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.169

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi dengan pemahaman dari teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert Clinton  yang disebut Leadership Emergency Pattern (LEP). Teori ini sangat menarik untuk dipakai sebagai alat penelitian pribadi dari seorang pemimpin. Tahapan demi tahapannya jelas.Tujuannya untuk menelusuri permasalahan para pemimpin mengapa terjadi kegagalan dan kesuksesanya.  Fokus penelitian ditujukan kepada tokoh Simson, tetapi sasarannya kepada para pemimpin kristen yang ada. Sehingga para pemimpin bisa melihat dan merefleksikan diri sukses atau gagal. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif dengan penelitian dokumen diselaraskan dengan  teori Robert Clinton agar  ditemukan hal-hal yang baru. Temuan: Kegagalan dan kesuksesan tidak dapat dinilai sebatas pemahaman manusia, sehingga jangan menghkimi seseorang.  Hasil penelitian: walaupun seseorang panggilannya jelas, mendapat karunia rohani, dan fasilitas lengkap, tetapi jika tidak disertai integritas dan kedisiplinan akana Tuhan, maka semua panggilannya tidak berarti. Kesimpulan: Tuhan selalu mengajak kerja sama kepada para pemimpin kristen. Ada sinergi diantara keduanya.
ANALISIS SASTRA NARASI DALAM 1 RAJA-RAJA 17:7-16 BERDASARKAN METODE RICHARD PRATT MENGENAI RESPONS YANG MENGUBAH KRISIS MENJADI BERKAT Aska Pattinaja; Marjani
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.172

Abstract

Widow Zarephat faced the toughest struggle to make a choice in her life, namely facing the threat of starvation with little flour and oil left and eventually dying or believing Elijah's words, that God could preserve her life. This narrative of Widow Zarephath's problematic response has rarely been researched and discussed in detail. This research centers on two main elements of this narrative, namely first, the widow Sarfat's response who made the decision to believe Elijah's words as God's prophet and her obedience in carrying out Elijah's orders even though they were contrary to reality; second, Elijah's obedience in following God's orders.  For this reason, this research was conducted in a descriptive qualitative manner, with the sub-genre of narrative literary analysis based on Richard Pratt's method, then this research found that the right decision of this widow has changed her life from crisis and disaster to the guarantee of her life maintenance with her son. The narrative story of the widow Zarephath should be an inspiration and reference for many believers, who are struggling with various life challenges. The right decision and choice can change the situation and condition of life.
TEOLOGI GENDER, SEX, FENOMENA LGBTIQ DI BARAT DAN DI GEREJA-GEREJA DI INDONESIA DITINJAU DARI PERSPEKTIF REFORMED INJILI : . Gatsper Anderius Lado
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.182

Abstract

Abstract: In the beginning God created man and ordained only two genders, male and female, and they could marry and have offspring (Genesis 2:18, 21-25). Humans created a new definition where there were genders that were not male and female, and then they also made a new understanding that men could marry men (homosexuals) and women could marry women. The purpose of this research is to analyze the Theology of Gender, Sex, LGBTIQ Phenomenon in the West and in Churches in Indonesia from the perspective of Reformed Evangelical. This study uses a descriptive qualitative research method. The result of this study is that the LGBTIQ phenomenon is understood in Evangelical Reformed theology as a deviation from divine design due to the fall of man in sin. The Church must uphold the Bible's teaching on gender and sexuality while showing love and pastoral support to LGBTIQ individuals
PERAN PENDIDIKAN KRISTIANI DALAM PENGUATAN KARAKTER KRISTIANI KELUARGA DI ABAD 21: Perbubahan, Teknologi, Pendidikan Kristiani, Keluarga Maria Sinta Sembiring
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2024): Vol. 8 No. 2 Desember (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i2.157

Abstract

In the 21st century, humans live in an age of constant change. The changes that occur are inseparable from the development of increasingly sophisticated technology. Nowadays, all about the human life movement has become digital technology. Digital technology has a huge influence on humans and Christian families today are no exception. The advancement of digital technology is inevitable. Technology brings enormous changes to the behavior, spirituality, and truth values held by humans. Now, the value of ultimate truth is getting harder to apply. What is right and what is wrong depend on the situation. The Word of God is no longer an absolute truth to be practiced in this era, even there has an assumption that the principles of Christian life are no longer contextualized in this era. This situation illustrates that in the 21st century, the character of faithfulness to the truth of God's Word is eroding and deserves to be questioned, especially in the lives of today's youth. For this reason, Christian education is very important to be instilled in the family, so that Christian families are able to shape the character of life that is faithful to biblical truth.
TINJAUAN DOGMATIS KEBERADAAN PATUNG YESUS MEMBERKATI DI BUNTU BURAKE KABUPATEN TANA TORAJA BERDASARKAN KELUARAN 20:4-5: Tinjauan dogmatis, patung, Keluaran 20:4-5. Silas Bandhaso Palalong
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2024): Vol. 8 No. 2 Desember (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i2.191

Abstract

Abstrak: Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake, Toraja, telah menjadi ikon religius dan wisata yang menarik perhatian banyak orang. Patung ini, yang merupakan salah satu patung Yesus terbesar di dunia, dikagumi bagi banyak orang Kristen bahkan non Kristen di Indonesia. Namun, keberadaan patung ini memunculkan berbagai pertanyaan teologis dan dogmatis, terutama ketika dikaji dari perspektif Alkitab, khususnya Keluaran 20:4-5. Ayat ini memuat perintah kedua dari Sepuluh Perintah Allah yang menekankan larangan terhadap pembuatan dan penyembahan patung atau gambar yang menyerupai apa pun di langit, bumi, atau dalam air. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan mereview beberapa jurnal yang telah dipublikasi terkait dengan patung Yesus Memberkati di Buntu Burake dan mencari sumber-sumber buku terkait. Selain itu juga menggunakan metode hermeneutik dengan melakukan eksegesis terhadap Keluaran 20:4-5. Penelitian ini memperlihatkan bahwa Tuhan melarang secara mutlak memvisualisasikan diri-Nya dengan patung apa pun, Tuhan melarang secara mutlak menyembah patung visualisasi diri-Nya, dan Tuhan konsisten dengan sifat-Nya yang kudus.
Mengkaji Ulangan 6:4-9 sebagai Landasan Strategi Komunikasi Efektif Orang Tua dalam Mendidik Moralitas Anak Usia 2-12 Tahun di Era Postmodern: Kata Kunci: Ulangan 6:6-9, Strategi Komunikasi, Orang Tua, Moralitas Anak, Era Postmodern Renny Tade Bengu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2024): Vol. 8 No. 2 Desember (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Di era post0modern yang penuh dengan tantangan budaya dan sosial, strategi komunikasi orang tua dalam mendidik moralitas anak usia 2-12 tahun menghadapi dinamika yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Ulangan 6:4-9 sebagai landasan bagi strategi komunikasi efektif orang tua dalam mendidik moralitas anak usia 2-12 tahun di era postmodern. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan mewawancarai sepuluh orang tua Kristen yang memiliki anak dalam rentang usia tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip yang terkandung dalam Ulangan 6:4-9, yaitu: konsistensi, pengulangan, dan pengenalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, relevan dalam mengembangkan strategi komunikasi yang efektif di era postmodern untuk mendidik moralitas anak usia 2-12 tahun. Implikasi praktis penelitian ini membantu orang tua Kristen menavigasi kompleksitas lingkungan saat ini dalam mendidik moralitas anak di usia perkembangannya.
MAKNA KATA “YISSERATTU” DALAM AMSAL 31:1 SEBAGAI PARADIGMA TERHADAP POLA PENGASUHAN ANAK : MAKNA KATA “YISSERATTU” DALAM AMSAL 31:1 SEBAGAI PARADIGMA TERHADAP POLA PENGASUHAN ANAK Ashar Mapule; Farel Yosua Sualang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2024): Vol. 8 No. 2 Desember (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i2.193

Abstract

Penelitian-penelitian seperti yang dilakukan oleh Sualang, Kimilike, dan Juma tidak memberikan perhatian khusus pada kata yisserattu. Bahkan dalam penelitian yang menyentuh makna yisserattu, seperti yang dilakukan oleh Ndolu, Tari dan Sasson, eksplorasi terhadap kata ini tetap terbatas dan kurang mendalam. Penelitian ini menganalisa makna kata yisserattu serta bagaimana penerapannya dalam pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretasi berdasarkan studi kata. Hasil penelitian menunjukan bahwa kata yisserattu mengungkapkan makna yang lebih dalam dari sekadar "mengajar", mencakup aspek pendidikan yang menyeluruh, melibatkan koreksi, disiplin, hukuman dan pembentukan karakter. pentingnya peran orangtua, khususnya ibu, dalam memberikan nasihat yang kritis dan emosional untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan hidup dan kepemimpinan dengan menekankan tiga aspek utama: pendidikan karakter yang komprehensif, komunikasi emosional yang berulang, serta peringatan tentang godaan dan pengembangan pengendalian diri. Tiga pendekatan ini membentuk suatu pola pengasuhan anak yang tidak hanya relevan untuk mempersiapkan pemimpin seperti dalam konteks Amsal 31, tetapi juga sangat aplikatif dalam konteks pengasuhan anak masa kini. Kata-kata Kunci: Amsal 31:1; Raja Lemuel; Pola Asuh; Yisserattu;
KARATER MAJELIS SEBAGAI PEMIMPIN JEMAAT BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 3:8-10 DI GEREJA GPPIK MARANATHA ANTAN RAYAN PONTIANAK KALIMANTAN BARAT: Kata Kunci: Karakter, Majelis, Pemimpin, Jemaat, 1 Timotius 3:8-10 Nita Ulansari; Sonny Herens Umboh
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2024): Vol. 8 No. 2 Desember (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i2.197

Abstract

Abstract: Leadership in the church plays a crucial role in maintaining the spiritual and social well-being of the congregation. As leaders, the assembly is not only responsible for managing church administration, but also providing spiritual guidance, being a role model, and maintaining harmony among the congregation. From a Biblical perspective, the responsibilities of the assembly are clearly regulated, one of which is in 1 Timothy 3:8-10, which emphasizes the importance of strong character and integrity for the assembly. This verse underscores that the personal qualities of the assembly are an important element in effective leadership in the church. The purpose of this research is to find out what the character of congregation leaders is according to 1 Timothy 3:8-10 at the GPPIK Maranatha Anatan Rayan Pontianak Church, West Kalimantan. The method used is qualitative with a descriptive approach. The results of this research are that a congregation leader must have a good role model attitude, be spiritually mature, and wise to prevent gaps between assemblies and create dynamic and structured management. Leading with honor means maintaining one's attitude, acting wisely, being trustworthy, loyal and honest. A leader must have integrity, not spread gossip, be free from alcohol, and be far from greed that is only selfish. Maintaining faith is also key, where a leader lives holy, is loyal to God, and holds fast to God's word.

Page 10 of 12 | Total Record : 119