cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 114 Documents
THE LEADERSHIP MODEL OF THE LORD JESUS: TRANSFORMATIVE LEADERS Vinus Zai; Junianus Zega
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.113

Abstract

The Lord Jesus Leadership Model in the sense of transformative leaders is a leadership model that should be emulated by world leaders because it is idealized influence, inspiration, intellectual stimulation and individualized consideration. The Lord Jesus' Leadership Model in the sense of transformative leaders brings change in terms of: 1. Transformative Faith and Trust, 2. Transformative Social 3. Transformative Ministry. Ideally, leadership that should be an example for world leaders and church organizations is the leadership model of the Lord Jesus: Transformative leaders who are leaders of leaders.Tulisan ini memiliki tujuan menganalisa tentang Model Kepemimpinan Tuhan Yesus dalam arti transformative leaders merupakan model kepemimpinan yang patut diteladani oleh para pemimpin hamba Tuhan di zaman ini. Model Kepemimpinan Tuhan Yesus diteliti dengan cara deskriptif kualitatif dan dianalisa dengan seksama. Ditemukan bahwa Model Kepemimpinan Tuhan Yesus sangat idealized influence, inspiration, intellectual stimulation dan individualized consideration. Model Kepemimpinan Tuhan Yesus dalam arti transformative leaders membawa perubahan dalam hal: 1. Faith and Trust Transformatif, 2. Social Transformatif 3. Ministry Transformatif. Idealnya kepemimpinan yang patut menjadi teladan bagi para memimpin dunia dan organisasi gereja adala model kepemimpinan Tuhan Yesus: Transformatif leaders yang adalah leader of leaders
GEREJA DAN GENERASI Z: MISI DIALOGIS PADA RUANG VIRTUAL Yeremia Yeremia
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.115

Abstract

Abstrak: Generasi Z merupakan generasi yang hidup dengan perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Sehingga penggunaan digital sebagai media atau sarana pengajaran menjadi hal yang sangat relevan pada saat ini bagi generasi Z. Pengajaran-pengajaran yang diberikan oleh gereja dapat dilakukan dengan berdialog dalam ruang virtual kepada generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriftif dan studi kepustakaan untuk melihat dan mengelola fenomena yang terjadi pada saat ini di kalangan generasi Z melalui buku-buku dan beberapa artikel tekait. Sebagai kesimpulan, misi dialogis bagi generasi Z dalam ruang virtual merupakan sebuah kebutuhan yang harus disadari dan dilakukan oleh gereja sebagai lembaga misi Allah.
PERAN PELAYANAN KONSELING PASTORAL DALAM MENANGANI REMAJA TROUBLE MAKER AKIBAT KURANG PERHATIAN Ester Widiyaningtyas; Joko Prasetyo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.121

Abstract

ABSTRAK: Seorang remaja perlu mendapat perhatian khusus sebab di masa ini mereka masih mudah untuk terpengaruh. Perlakukan yang tidak mengenakkan, pergaulan yang salah, kurangnya perhatian dapat membuat mereka menjadi remaja yang troubel maker. Agar tidak semakin buruk, troubel maker harus ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pelayanan konseling pastoral dalam menangani remaja troubel maker akibat kurang perhatian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dengan menganalisis temuan-temuan mengenai peran pelayanan konseling pastoral dalam menangani remaja trobel maker akibat kurang perhatian. Berdasar penelitian ini ditemukan bahwa pelayanan konseling pastoral dalam menangai remaja troubel maker tidak hanya diberikan kepada remaja yang troubel maker tetapi juga perlu diberikan kepada kedua orang tua atau keluarga remaja tersebut. Dengan memberikan pelayanan konseling pastoral kepada remaja yang troubel maker beserta keluarganya, maka tindakan troubel maker ini dapat diantipasi bahkan dihilangkan melalui pengawasan orang tua maupun melalui kesadaran remaja itu sendiri yang tidak lagi melakukan tindakan troubel maker. Pelayanan konseling pastoral tidak hanya membuat pribadi menjadi pribadi yang mandiri dan bertumbuh secara rohani, tetapi juga dapat membuat remaja tersebut bisa membagikan atau memberikan bimbingan konseling kepada remaja lain yang mengalami trobel maker.
PENCIPTAAN MANUSIA BERDASARKAN KEJADIAN 1:26-28 SEBAGAI EVALUASI TERHADAP PERILAKU TRANSGENDER DALAM PERSEPSI UMAT KRISTEN Dorce Sondopen; Grace Anggraini Gloria; Horas Fransiskus Gultom
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i1.131

Abstract

Abstract: This article describes the study of human creation as an evaluation of transgender behavior in the perception of Christians. So much exciting and controversial news has appeared on social media and is circulating among churches and the community. This news is being debated especially among Christians, giving rise to pro and contra thoughts on the existence of transgender people in general. Where transgender behavior is indeed a form of deviation from social norms. This study uses a qualitative descriptive method by explaining the terms used in the title of the article, where literature and journals are the main objects in obtaining information as descriptive data in this study. The purpose of this article is to answer some of the following questions: What is meant by the creation of humans based on Genesis 1:26-28? How is transgender behavior seen from the perception of Christians? How is the creation of humans based on Genesis 1:26-28 as an evaluation of transgender behavior from the perception of Christians? Starting from the theoretical reference, the important points of the research results in this study are: (1) The creation of humans based on the context of events 1:26-28 aims to relate to other creations and also to fellow humans where God wants humans to multiply and multiply to fulfill earth. (2) Transgender behavior in terms of the perception of Christians is behavior that is contrary to the principles and teachings of the Bible, which arises as a result of sin and must be prohibited because it deviates from social norms (3) According to the context of Genesis 1:26-28, humans are created according to image and likeness of God. The Bible teaches that every human being must be grateful for every gender that God has given him by not trying to change or carry out sexual deviations that contaminate the body such as transgender. The human body is God's temple which must be cared for and cared for to glorify God. Transgender perpetrators, on the one hand, are sinful according to the Bible, but on the other hand, they still have to be loved and served with God's love so that they are aware, repent and return to the right path, with normal behavior and glorify God.
PANGGILAN ILAHI BERDASARKAN YEREMIA 1:5 DAN DAMPAKNYA PADA PENGEMBANGAN DEDIKASI GURU DALAM MENGAJAR PESERTA DIDIK Suryowati Wang; Elfan Putra Laia; Jerni Hati Waruwu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i1.133

Abstract

Abstract: This study aims to explore and understand the meaning of divine calling in the context of Christian education and identify its impact on the development of teacher dedication in carrying out teaching assignments. This study uses a qualitative method with a literature study approach, involving analysis of various related literature sources. In the context of the Christian life, the divine calling has deep significance. Verse Jeremiah 1:5 becomes the central interpretation in this study, where divine calling refers to the special assignments given by God to individuals He calls. The call denotes a special election by God prior to the birth of the individual. Although the divine call applies to everyone, not everyone accepts or follows it. This study highlights some of the challenges faced in teachers' understanding and awareness of the meaning of divine calling in the context of Christian education. Some of the problems that arise include the teacher's lack of dedication in carrying out teaching duties, low motivation and commitment in carrying out vocations, lack of awareness of moral and ethical responsibilities as a Christian teacher, and deficiencies in self-development and skills improvement as a teacher. Data analysis reveals that understanding the meaning of divine calling can be a strong foundation in developing a teacher's dedication in carrying out teaching assignments. Teachers who are aware of the divine calling will voluntarily gain high dedication in carrying out their ministry as God's servants. The high dedication of a teacher who understands divine calling can also have a positive influence on students, motivate them in the learning process, and help them develop a deeper relationship with God.
SOLA FIDE SEBAGAI DASAR BERPIKIR TEOLOGIS ORANG KRISTEN Urbanus Sukri
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.138

Abstract

Jurnal ini mengulas tentang Sola Fide sebagai dasar berpikir secara Teologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pentingnya sola fide sebagai dasar berpikir teologis bagi orang Kristen. Penelitian ini menggunakan jenis riset pustaka (library research) yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Dengan kata lain, penelitian ini membatasi hanya mengambil bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa perlu melakukan riset lapangan (field research). Dan seluruh data diperoleh dari penggalian buku referensi, jurnal dan internet. Teknik analisa data pada penelitian ini dengan menggunakan teknik analisa kualitatif dengan cara deduktif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah (bahwa) sola fide sangat tepat dan relevan sebagai dasar berpikir teologis bagi orang percaya. This journal reviews Sola Fide as a basis for theological thinking. This research aims to describe the importance of sola fide as a basis for theological thinking for Christians. This research uses a type of library research that utilizes library sources to obtain research data. In other words, this research is limited to taking only library collection materials without the need to conduct field research. And all data is obtained from extracting reference books, journals and the internet. Data analysis techniques in this study using qualitative analysis techniques in a deductive way. The results of this study are (that) sola fide is very appropriate and relevant as a basis for theological thinking for believers.
RUAKH ELOHIM BERDASARKAN YESAYA 11:2 SEBAGAI FONDASI KEBERHASILAN PELAYANAN PRISE AND WORSHIP DI GEREJA Victoria Woen; Daniel Saingo; Juliardiman Saguruk
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2023): Vol. 7 No. 2 Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i2.134

Abstract

Abstrak: Adapun judul dari penelitian ini adalah Ruakh Elohim berdasarkan Yesaya 11:2 Sebagai Fondasi Keberhasilan Pelayanan Prise and Worship di Gereja. Dengan tujuan untuk memberikan arti Ruak Elohim yang sebagai fondasi keberhasilan pelayanan worship leader di gereja. Para ahli mengalami kesulitan untuk menetapkan kapan sesungguhnya penggunaan istilah “roh” mulai dikenakan sehingga konsep itu digunakan dalam PL. Ada beberapa pandangan yang berbeda berusaha menjelaskan kapan penggunaan kata itu Misalnya W R. Schoemaker secara subjektif menduga bahwa penggunaan istilah “roh” itu popular sekitar 900- 700 SM, dimana ruakh dipahami sebagai “roh” dan “angin”Kata kunci: (???????? ?????????) Ruakh Elohim dan Worship Leader
ANCILLA THEOLOGIAE: HUBUNGAN, KONTRIBUSI, DAN TANTANGAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT KRISTEN DI ERA GLOBAL Harianto GP
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2023): Vol. 7 No. 2 Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i2.135

Abstract

Abstrack: Pemikiran masa depan masyarakat Kristen dapat dilihat dari beberapa perspektif, seperti pemikiran teologi, misi Kristen, Pendidikan atau isu-isu sosial. Penelitian ini menjawab pertanyaan: Bagaimanakah Hubungan, Kontribusi, dan Tantangan Ancilla Theologiae bagi Kehidupan Masyarakat Kristen di Era Global? Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan hasil: (1) Filsafat tunduk kepada teologi  dan menjadi pelayan teologi, yang membawa: kekayaan teologi, memperindah penyampaian teologi, dan sebagai kerangka berpikir teologi.  (2)  Hubungan filsafat dan teologi: (a) Filsafat bertanggung jawab pada pengalaman dan alasan demonstratif. (b) Dengan demikian maka metode filsafat bersumber dari kehidupan dunia sedangan teologi berlanjut pada hasil tafsiran Alkitab, yang menekankan pada nilai-nilai surgawi. (c) Filsafat menggambar kajian frame ilmu yang diisi oleh nilai-nilai teologi berdasarkan dari Alkitab sebagai pedoman untuk mengenal Allah dan melayani Allah, yang berbicara mengenai nilai-nilai dunia yang bertujuan mencapai nilai-nilai kekekalan di surga.  (3) Kontribusi Ancilla Theologiae dalam Pengembangan Pemikiran Masyarakat Kristen di era global: (a) filsafat dapat membantu memperkaya teologi, memberikan kerangka pemikiran teologis, dan membuat konsep teologis lebih mudah dipahami.  (b) prinsip Ancilla Theologiae dapat membantu orang Kristen menavigasi ide-ide baru ini dan memahami bagaimana mereka berhubungan dengan iman mereka.  (c) Filsafat berguna sebagai alat untuk meningkatkan teologi. (d) Filsafat sebagai alat untuk memahami teologi dan menggunakan filsafat untuk memperkaya konsep-konsep teologi. (4) Tantangan Ancilla Theologiae sebagai Proses Pengembangan Pemikiran masyarakat Kristen di era global: misi Allah, dampak global, konflik sosial, dan dampak perkembangan teknologi digital yang semakin canggih.  
MENGEMBANGKAN KARAKTER KRISTUS BERDASARKAN KOLOSE 3: 12-17 DALAM KEHIDUPAN ORANG KRISTEN PADA MASA KINI Medi L Sihombing; R.R.R. Angger Permadi; Tiara Greey Yani
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2023): Vol. 7 No. 2 Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i2.142

Abstract

Karakter orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Krsiten. Karakter Kristus merupakan cermin yang dapat dilihat dalam setiap pribadi orang Kristen. Rasul Paulus dalam suratnya pada jemaat di Kolose, menjelaskan bagaimana karakter yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen. Penelitian ini mempergunakan metode pendekatan kualititatif dengan melakukan studi pustaka untuk meneliti Karakter Kristus dan surat Kolose, guna memperoleh dasar teori untuk membahas topik bagaimana mengembangkan Karakter Kristus berdasarkan Kolose 3: 12-17. Penulis melakukan eksposisi terhadap ayat-ayat tersebut, untuk memperoleh gambaran Karakter Kristus yang dimaksudkan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka ditemukan bahwa dengan meninggalkan kehidupan manusia lama, melakukan seperti apa yang Yesus lakukan, dan mengembangkan karakter sesuai dengan buah Roh Kudus; maka orang Kristen akan memiliki karakter yang semakin serupa dengan Yesus.
STRATEGI MENGEMBANGKAN PELAYANAN MISI DENGAN PENDEKATAN CONNECTING SEBAGAI ROLE MODEL PELAYANAN PENGINJILAN BAGI REMAJA DI ERA DIGITAL Renny Tade Bengu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2023): Vol. 7 No. 2 Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i2.147

Abstract

Bagaimana sikap gereja dan orang tua dalam pelayanan kepada generasi milenial di dunia yang serba digital serta teknologi di era digital ini. Kekhawatiran terbesar bagi gereja apabila tidak ada lagi remaja yang memiliki kerinduan dalam pelayanan sehingga masa depan gereja mengalami stagnasi. Maka dibutuhkan strategi penginjilan bagi remaja di era digital untuk mendorong generasi Kristen memiliki semangat pelayanan bagi gereja di era digitalisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, di mana pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi dengan menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data. Data yang terkumpul dianalisis secara holistik dengan tujuan memperoleh informasi yang lebih lengkap, mengeksplorasi hubungan dari berbagai sumber, melakukan perbandingan, dan menemukan temuan berdasarkan data aktual yang diperoleh. Hasil analisis data tersebut disajikan melalui uraian naratif yang menggambarkan situasi yang sedang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi empat hal penting dalam pendekatan Connecting sebagai strategi pengembangan pelayanan misi bagi remaja di era digital. Pertama, melibatkan komunitas dan kebudayaan; Kedua, meneguhkan remaja dalam fondasi Kristus; Ketiga, perlengkapan remaja untuk melayani; Keempat, memberdayakan remaja untuk memuridkan

Page 8 of 12 | Total Record : 114