cover
Contact Name
Heriyadi
Contact Email
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Phone
+625414121765
Journal Mail Official
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
Gedung Dekanat Fisipol Lantai 3, Jln. Tanah Grogot, Kampus Gn. Kelua Universitas Mulawarman - Samarinda 75119
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikoborneo : Jurnal Ilmiah Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 24772666     EISSN : 24772674     DOI : 10.3872/psikoborneo
PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi is a peer-reviewed journal which is published by Mulawarman University, East Kalimantan publishes biannually in March, June, September and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi published regularly quarterly in March, June, September, and December. The purpose of this journal is to disseminate ideas and results of research conducted by universities, particularly Psychology Studies, Faculty of Social and Political Sciences at Mulawarman University, which can be applied in society. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi contains a variety of activities carried out both internally by the Social Sciences Mulawarman University or from externally in handling and overcoming various problems that occur in society by applying science and technology which can then be beneficial to improve the welfare of the society.
Articles 1,071 Documents
​ Building Service Quality through Organizational Commitment: The Mediating Role of Work Discipline Hevy Rehulina Simanjorang; Suryani Hardjo; Yudistira Fauzy Indrawan
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 4 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/dh3pz185

Abstract

Service quality is an essential aspect of healthcare delivery because it reflects a hospital’s ability to meet patients’ needs and expectations. Service quality problems may be influenced by internal organizational factors, including organizational commitment and employee work discipline. This study analysed the effect of organizational commitment on service quality and examined the role of work discipline as a mediator. A quantitative approach was employed, involving 330 employees of Hospital X, selected through purposive sampling. Data were collected through questionnaires using organizational commitment, work discipline, and service quality scales based on Allen and Meyer, Hasibuan, and Parasuraman et al., respectively. Data were analysed using structural equation modelling (SEM) with AMOS version 23.0 through confirmatory factor analysis (CFA) and goodness-of-fit index (GOFI) testing. The results showed that organizational commitment had a positive and significant effect on work discipline, work discipline had a positive and significant effect on service quality, and organizational commitment had a positive and significant effect on service quality. Furthermore, work discipline mediated the effect of organizational commitment on service quality. These findings indicate that organizational commitment and work discipline are important factors in supporting improvements in service quality. The implications of this study emphasize the need to strengthen organizational commitment and consistently implement work discipline as a strategy for human resource development and improving hospital service quality. Mutu pelayanan merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan karena berkaitan dengan kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan dan harapan pasien. Permasalahan mutu pelayanan dapat dipengaruhi oleh faktor internal organisasi, termasuk komitmen organisasi dan disiplin kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komitmen organisasi terhadap mutu pelayanan serta menguji peran disiplin kerja sebagai mediator. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 330 karyawan Rumah Sakit X yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala komitmen organisasi, disiplin kerja, dan mutu pelayanan berdasarkan teori Allen dan Meyer, Hasibuan, serta Parasuraman et al. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan AMOS versi 23.0 melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan pengujian Goodness of Fit Index (GOFI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja, disiplin kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap mutu pelayanan, serta komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap mutu pelayanan. Selain itu, disiplin kerja terbukti memediasi pengaruh komitmen organisasi terhadap mutu pelayanan. Temuan ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi dan disiplin kerja merupakan aspek penting dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan. Implikasi penelitian menekankan perlunya penguatan komitmen organisasi dan penerapan disiplin kerja secara konsisten sebagai strategi pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit.
Psychometric properties of the Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) among Indonesian college students based on the Rasch model Trisasanti Mega Pratiwi; Wilis Srisayekti; Asteria Devy Kumalasari; Rahmad Muliadi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20523

Abstract

Eating behavior is a crucial aspect of human life, encompassing multiple dimensions. Unfortunately, no Indonesian-language instrument is specifically designed to measure healthy and unhealthy eating behaviors. This study aimed to evaluate the validity and reliability of the Indonesian version of the Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) among 210 first-year undergraduate students. The data collection used a random sampling technique among first-year university students in one of the private universities in Indonesia. The HUEBS consists of two subscales: healthy eating behavior and unhealthy eating behavior. The Rasch model was employed to examine the scale's psychometric properties, including unidimensional, rating scale functioning, item fit, and differential item functioning (DIF). The results indicated that all items met the recommended fit criteria (infit and outfit MNSQ) and demonstrated adequate point-measure correlations (> 0.30). The 7-point rating scale functioned optimally and consistently. Item and person reliability values (.99 and .85–.86, respectively) were categorized as good to excellent, supporting the scale’s sensitivity in distinguishing levels of eating behavior. The results show that HUEBS can measure healthy eating and unhealthy eating behavior among university students and can be used as a basis for intervention related to lifestyle.Perilaku makan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, hingga saat ini belum tersedia instrumen berbahasa Indonesia yang secara khusus dirancang untuk mengukur perilaku makan sehat dan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi validitas dan reliabilitas versi Indonesia dari Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) pada 210 mahasiswa sarjana tahun pertama. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling pada mahasiswa tahun pertama di salah satu universitas swasta di Indonesia. HUEBS terdiri atas dua subskala, yaitu perilaku makan sehat dan perilaku makan tidak sehat. Model Rasch digunakan untuk menguji karakteristik psikometris skala, meliputi unidimensionalitas, fungsi skala penilaian, item fit, serta differential item functioning (DIF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh butir memenuhi kriteria kelayakan (infit dan outfit MNSQ) serta memiliki korelasi point-measure yang memadai (> 0,30). Skala penilaian 7 poin berfungsi secara optimal dan konsisten. Nilai reliabilitas butir (.99) maupun reliabilitas responden (.85–.86) termasuk dalam kategori baik hingga sangat baik, sehingga mendukung sensitivitas skala dalam membedakan tingkat perilaku makan. Dengan demikian, HUEBS terbukti mampu mengukur perilaku makan sehat dan tidak sehat pada mahasiswa, serta dapat dijadikan dasar bagi pengembangan intervensi terkait gaya hidup.
Self-Esteem and Life Satisfaction Among Adolescents in Semarang: Communication with Peers as a Mediator Arneta Nadila Kusuma; Endang Widyorini
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20645

Abstract

The decline in life satisfaction during adolescence is a significant concern due to its negative effects on psychological well-being and development. Factors contributing to life satisfaction include self-esteem and communication with peers. This study aimed to examine the relationship between self-esteem and life satisfaction among adolescents in Semarang, with communication with peers as a mediating variable. The proposed hypothesis was that communication with peers mediates the relationship between self-esteem and life satisfaction. The population of this study includes students who are actively attending junior high schools in Semarang. A quantitative approach with a simple mediation design was used. Data were collected from 296 participants using three instruments: the Rosenberg Self-Esteem Scale, the Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), and the Adolescent Peer Communication Scale. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results showed a positive and significant relationship between self-esteem and life satisfaction, mediated by communication with peers (coefficient = 0.019; 95% CI [0.008–0.029]). These findings highlight the important role of peer communication in mediating the relationship between self-esteem and life satisfaction in adolescents. This underscores the importance of developing peer communication skills as a strategy to enhance adolescents’ life satisfaction.Penurunan life satisfaction selama masa remaja merupakan masalah penting yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan perkembangan remaja. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap life satisfaction adalah self-esteem dan communication with peers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Kota Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Populasi penelitian meliputi siswa yang aktif bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Semarang. Pendekatan kuantitatif dengan desain mediasi sederhana digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari 296 partisipan menggunakan tiga instrumen, yaitu Rosenberg Self-Esteem Scale, Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), dan skala Adolescent Peer Communication. Analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modelling (SEM). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-esteem dan life satisfaction yang dimediasi oleh communication with peers (koefisien = 0,019; 95% CI [0,008–0,029]). Hasil penelitian ini menegaskan peran penting communication with peers dalam memediasi hubungan antara self-esteem dan life satisfaction remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan keterampilan komunikasi antar teman sebaya sebagai strategi untuk meningkatkan kepuasan hidup remaja.
The Role of Father Involvement in Adolescent Anxiety: A Gender Perspective Raras Shinta Putri; Endang Widyorini
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20701

Abstract

Adolescence is a transitional period that is highly vulnerable to anxiety due to significant physical, cognitive, and social changes. National data show that one in three adolescents in Indonesia experiences mental health problems, including anxiety. One factor that plays a role in reducing anxiety is father involvement, as fathers can provide emotional support, a sense of security, and serve as role models for adolescents. This study aims to examine the effect of father involvement on adolescent anxiety and the role of gender as a moderating variable. Participants consisted of 179 male and female adolescents aged 13–15 years, selected using total sampling. The instruments used were the Beck Anxiety Inventory (BAI) and the Father Involvement Scale (FIS). Data were analyzed using IBM SPSS Statistics version 26 and PROCESS v4.2. The results showed that father involvement had a significant negative effect on adolescent anxiety (b = -0.172, p = 0.009). Gender had no significant effect (p = 0.672) and did not moderate the relationship (p = 0.971). Father involvement significantly reduced anxiety in both male adolescents (b = -0.172, p = 0.002) and female adolescents (b = -0.175, p = 0.006), with a slightly stronger effect in males (β = -0.327) compared to females (β = -0.278). These findings indicate that father involvement is an important factor in reducing adolescent anxiety regardless of gender. The results highlight the importance of father involvement as a protective factor against adolescent anxiety, underscoring the need for family and school programs that encourage fathers’ active participation, as well as further research with broader psychosocial approaches.Masa remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap kecemasan akibat perubahan fisik, kognitif, dan sosial yang signifikan. Data nasional menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan. Salah satu faktor yang berperan dalam menurunkan kecemasan adalah keterlibatan ayah, karena figur ayah dapat memberikan dukungan emosional, rasa aman, serta menjadi role model bagi remaja. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh keterlibatan ayah terhadap kecemasan remaja serta peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah keterlibatan ayah berpengaruh terhadap kecemasan remaja dan bagaimana jenis kelamin memoderatori hubungan antara keterlibatan ayah terhadap kecemasan pada remaja. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini, yaitu terdapat hubungan antara keterlibatan ayah terhadap kecemasan pada remaja dengan jenis kelamin sebagai variabel moderator serta terdapat perbedaan hubungan keterlibatan ayah dengan kecemasan pada remaja laki-laki dan perempuan. Partisipan penelitian adalah remaja laki-laki dan perempuan berusia 13-15 tahun sebanyak 179 orang. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling, di mana seluruh individu dalam populasi yang memenuhi syarat dijadikan responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala Beck Anxiety Inventory (BAI) dan Father Involvement Scale (FIS). Skala tersebut disusun dengan model skala likert. Penelitian ini menggunakan IBM Statistik SPSS versi 26 serta PROCESS v42. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah berpengaruh negatif signifikan terhadap kecemasan remaja (b= -0,172, p = 0,009), sementara jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan (p= 0,672) dan tidak memoderasi hubungan tersebut (p=o,971). Keterlibatan ayah secara signifikan menurunkan kecemasan pada remaja laki-laki (b= -0,172, p= 0,002) maupun perempuan (b= -0,175, p= 0,006), dengan pengaruh sedikit lebih kuat pada laki-laki (β = -0.327) dibandingkan perempuan (β = -0,278). Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah merupakan faktor penting dalam menurunkan kecemasan remaja, tanpa perbedaan jenis kelamin. Hasil ini menekankan pentingnya keterlibatan ayah sebagai faktor protektif kecemasan remaja, sehingga diperlukan program keluarga dan sekolah yang mendorong peran aktif ayah serta penelitian lanjutan dengan pendekatan lebih luas.
Analysis of the Role of Perceived Social Support on Depressive Symptoms in Adolescents Mediated by Self-Compassion silvia ananda mulia sari; Siswanto Siswanto
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20702

Abstract

One of the common mental health problems experienced by teenagers is depression. If not handled properly, depression in adolescents can cause various significant negative impacts on their psychological well-being and social functions. This research aims to examine and test the role of perceived social support towards depression symptoms in adolescents, with self-compassion as a mediator variable. The hypothesis proposed in this study is that self-compassion mediates the relationship between perceived social support and symptoms of depression in adolescents. The population in this study consists of students from a private senior high schools in Semarang City, with a total of participants of 102 people (N= 102) and an age range between 15 to 18 years old. The data collection instrument used is in the form of a psychological scale, namely the Depression Symptoms Scale- Center for Epidemiologic Studies Depression Scale Revised (CESD-R), Self-Compassion Scale- Self-Compassion Scale (SCS), Perceived Social Support - The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPPS). Data analysis is carried out using mediation analysis through the help of IBM SPSS version 25, using macro PROCESS model 4 (Hayes). The results of the analysis show that self-compassion mediates the relationship between perceived social support and depressive symptoms with an effect value of -0,462. (Bootstrap 95% Cl: -0,596 to -0,334). This finding indicates that perceived social support not only has a direct effect on depression symptoms, but also indirectly through increased self-compassion in adolescents.Salah satu masalah kesehatan mental yang umum dialami oleh remaja adalah depresi. Apabila tidak ditangani secara tepat, depresi pada remaja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis maupun fungsi sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menguji peran perceived social support terhadap gejala depresi pada remaja, dengan self-compassion sebagai variabel mediator. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa self-compassion memediasi hubungan antara perceived social support dan gejala depresi pada remaja. Populasi dalam penelitian ini terdiri atas siswa dari salah satu SMA swasta di Kota Semarang, dengan jumlah partisipan sebanyak 102 orang (N= 102) dan rentang usia antara 15 hingga 18 tahun. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa skala psikologis, yaitu skala Skala Gejala Depresi- Center for Epidemiologic Studies Depression Scale Revised (CESD-R), Skala Self-Compassion- Self-Compassion Scale (SCS), Perceived Social Support - The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPPS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis mediasi melalui bantuan perangkat lunak IBM SPSS versi 25, dengan menggunakan macro PROCESS model 4 (Hayes). Hasil analisis menunjukkan bahwa self-compassion memediasi hubungan antara perceived social support dan gejala depresi dengan nilai efek sebesar -0,462. (Bootstrap 95% Cl: -0,596 hingga -0,334). Temuan ini mengindikasi bahwa perceived social support tidak hanya berpengaruh secara langsung terhadap gejala depresi, tetapi juga secara tidak langsung melalui peningkatan self-compassion pada remaja.
Construct Adaptation of Body Positive Online Content Exposure among Emerging Adults in Indonesia Wardah Almunawwarah Arrazana; Sali Rahadi Asih
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20965

Abstract

Exposure to body positive content on social media is increasing, especially with the widespread use of digital platforms among emerging adults. Body Positive Online Content (BPOC) offers an alternative that promotes body acceptance and challenges narrow beauty standards. This study aimed to adapt and validate an Indonesian version of the BPOC measurement tool. A total of 378 participants aged 18–25 completed an online questionnaire. Psychometric analyses, including confirmatory factor analysis (CFA), construct validity testing, and Cronbach’s Alpha, indicated that the BPOC scale demonstrates good validity and reliability. These findings support the use of the adapted BPOC scale to assess exposure to body positive content within the Indonesian cultural context.Paparan terhadap konten positif tentang tubuh di media sosial semakin meningkat, seiring dengan dominasi penggunaan platform digital pada emerging adults. Body Positive Online Content (BPOC) dipandang sebagai bentuk konten alternatif yang mendukung penerimaan tubuh dan resistensi terhadap standar kecantikan sempit. Untuk memastikan kesesuaian pengukuran BPOC di Indonesia, penelitian ini melakukan adaptasi dan pengujian alat ukur dalam versi Bahasa Indonesia. Sebanyak 378 partisipan berusia 18–25 tahun berpartisipasi dengan mengisi kuesioner secara daring. Hasil uji psikometri melalui confirmatory factor analysis (CFA), uji validitas konstruk, dan koefisien Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa skala BPOC memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Temuan ini mendukung bahwa versi terjemahan skala BPOC dapat digunakan untuk mengevaluasi paparan konten positif tubuh dalam konteks budaya Indonesia.
Parents Effectiveness Training (PET) as a Strategy for Improving the Interpersonal Relationship between Foster Parents and Children in Alternative Care Settings Hana Vetriana; Lucia Hernawati; RA. Praharesti Eriany
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.21173

Abstract

Building effective communication between parents and children within the family can be a challenging task. This is also the case for foster mothers at SOS Children’s Village Semarang, who face unique challenges in establishing communication with their foster children from diverse backgrounds and age groups. These circumstances present specific difficulties in achieving effective interpersonal communication in their caregiving roles. This training program aims to improve the interpersonal communication skills of foster mothers when interacting with children. The training was conducted over four sessions using key concepts from the Parents Effectiveness Training (PET) program, namely Active Listening, I-Messages, the Behavior Window, and No-Lose Conflict Resolution. The training program is expected to enhance the interpersonal communication skills of foster mothers. This study employed a quantitative method using a quasi-experimental approach. The research design followed a one-group pre-test–post-test format, comparing scores before and after the intervention within the same group. The analysis results showed a significant difference between the pre-test and post-test scores (Z = -2.80, p = 0.0019 < 0.05), indicating that the PET training program had a highly significant impact and demonstrated strong effectiveness in improving the interpersonal communication abilities of foster mothers.Membangun komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak-anak dalam suatu keluarga bukanlah hal yang mudah. Hal ini terjadi juga bagi Ibu asuh di SOS Children’s Village Semarang yang menghadapi permasalahan dalam membangun komunikasi dengan anak-anak asuh nya yang memiliki latar belakang dan rentang usia yang berbeda. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk memiliki komunikasi interpersonal yang efektif saat memberikan pengasuhan. Tujuan program pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal ibu asuh dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Pelatihan dilakukan selama 4 kali pertemuan dengan menggunakan konsep kunci yang ada dalam program pelatihan Parents Effectivess Training (PET) yaitu Active Listening, I-Messages, Behavior Window dan No-Lose Conflict Resolution. Ada kemungkinan program pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal pada ibu asuh. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen. Desain yang digunakan adalah one group pretest-posttest, yaitu dengan membandingkan skor sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok yang sama. Dari hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test (Z = -2.80, p = 0.0019 < 0.05), yang mengindikasikan bahwa intervensi program pelatihan PET memberikan pengaruh yang sangat signifikan dan memiliki efektivitas yang tinggi dalam peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal ibu asuh.
The Dynamics of Family Background and Bullying Behavior among Senior High School Students in the Era of the Merdeka Curriculum Vila Wahyu Ardila; Teguh Pribadi; Nirza Pradana; Masitah Masitah; Syauqi Maulani Alamsyah; Ruqoyyah Nasution
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.21303

Abstract

Bullying remains one of the recurring issues in school environments and requires attention in the implementation of the Merdeka Curriculum. This study aims to analyze the influence of family background on bullying behavior among high school students in Samarinda. A descriptive mixed-method approach was employed, with data collected through observation, questionnaires, and interviews. The research was conducted from January to May 2024 in four schools: SMAN 16, SMA Budi Luhur, SMAN 3, and SMK Negeri 14 Samarinda. The findings show that most students come from intact families, with percentages ranging from 70.4% to 93.7%. Nevertheless, bullying behaviors were still identified, including pushing peers (3.7%–32.9%), mocking with derogatory nicknames (14.8%–34.2%), and engaging in physical violence (2.8%–10.5%). These results indicate that family background is not the dominant factor influencing students’ bullying behavior. This study implies the need for more comprehensive prevention strategies involving schools, families, and the social environment to create a safe learning climate while simultaneously strengthening students’ character education.Bullying masih menjadi salah satu permasalahan yang sering muncul di lingkungan sekolah dan perlu mendapat perhatian dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh latar belakang keluarga terhadap perilaku bullying pada pelajar SMA di kota Samarinda. Penelitian menggunakan pendekatan pendekatan mix methode yang bersifat deskriptif.  Teknik pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, dan wawancara. Kegiatan Penelitian dilakukan pada Januari-Mei 2024 di empat sekolah, yaitu SMAN 16, SMA Budi Luhur, SMAN 3 dan SMK Negeri 14 Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa berasal dari keluarga lengkap dengan presentase 70,4% hingga 93,7%. Meskipun demikian, perilaku bullying tetap ditemukan, seperti mendorong teman (3,7%-32,9%), mengejek dengan julukan buruk (14,8%-34,2%), serta melakukan kekerasan fisik (2,8%-10,5%). Data ini menunjukkan bahwa latar belakang keluarga bukanlah factor dominan yang mempengaruhi perilaku bullying siswa. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya strategi pencegahan yang lebih komprehensif dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan social dalam menciptakan iklim belajar yang aman sekaligus memperkuat Pendidikan karakter siswa.
Cultivating Self-Acceptance: A Study on the Effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) in the ODHIV Community Sani Sutansyah; Christin Wibhowo; Siswanto Siswanto
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.21312

Abstract

People with HIV/AIDS (PWHA), particularly from the Men who have Sex with Men (MSM) group, often face double stigma which negatively impacts their self-acceptance. Low self-acceptance can hinder treatment adherence and quality of life. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is a psychotherapeutic approach hypothesized to improve self-acceptance. This study aimed to examine the effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) intervention in improving self-acceptance among PWHA from the MSM group. The study used a one group pre-test post-test design. Participants were five MSM PWHA selected by purposive sampling. The ACT intervention was delivered in six individual sessions. The measurement instrument used was the Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ). Data were analyzed statistically using the Wilcoxon Signed Rank Test and supported by qualitative analysis from observations and interviews. The statistical test results showed a significant increase (Z = -2.032; p = 0.042) between the pre-test scores (Mean = 33.8; low category) and post-test scores (Mean = 57.2; moderate category). Qualitatively, participants reported reduced anxiety and negative thoughts, as well as an increased ability to accept their condition and openness to socialize. Although significant, no participant reached a "high" level of self-acceptance. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) was proven effective in improving self-acceptance among MSM PWHA, although the achieved improvement has not yet reached an optimal level. Long-term intervention or a combination with other approaches is recommended to strengthen the outcomes.Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), khususnya dari kelompok Laki-laki Seks Laki-laki (LSL), sering menghadapi stigma ganda yang berdampak buruk pada penerimaan diri. Penerimaan diri yang rendah dapat menghambat kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan pendekatan psikoterapi yang dihipotesiskan dapat meningkatkan penerimaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam meningkatkan penerimaan diri pada ODHIV kelompok LSL. Penelitian menggunakan desain one group pre-test post-test. Partisipan berjumlah lima orang ODHIV LSL yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi ACT diberikan dalam enam sesi individu. Instrumen pengukuran menggunakan Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ). Data dianalisis secara statistik menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil uji statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan (Z = -2,032; p = 0,042) antara skor pre-test (Mean = 33,8; kategori rendah) dan post-test (Mean = 57,2; kategori sedang). Secara kualitatif, partisipan melaporkan penurunan kecemasan, pikiran negatif, serta peningkatan kemampuan untuk menerima kondisi dan keterbukaan untuk bersosialisasi. Meskipun signifikan, tidak ada partisipan yang mencapai tingkat penerimaan diri "tinggi". Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terbukti efektif dalam meningkatkan penerimaan diri pada ODHIV LSL, meskipun peningkatan yang dicapai belum mencapai tingkat optimal. Disarankan intervensi jangka panjang atau kombinasi dengan pendekatan lain untuk memperkuat hasil.
Description of Risky Sexual Behavior in Men Indicated for HIV Nisfi Balqish Rusli; Risydah Fadilah; Yudistira Fauzy Indrawan
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.21545

Abstract

Risky sexual behavior is any form of vaginal or anal sexual activity with a sexual partner that makes individuals more vulnerable to contracting sexually transmitted infections (STIs), including HIV, unwanted pregnancy, violence, and abortion. Men are at high risk of contracting and transmitting STIs by not using protection during sex, having multiple sexual partners, and having sex with strangers, such as sex with sex workers. This study applies a qualitative phenomenological approach with in-depth interviews analyzed using interpretive phenomenological analysis (IPA), aiming to explore the meaning of the experiences of risky sexual perpetrators. The snowball sampling technique was applied to recruit eight participants with the following criteria: sexually active men aged 19-40 years and having sex at an early age. This study obtained key findings, namely the description, factors, and impact of risky sexual behavior in men indicated by HIV. The description of risky sexual behavior includes sex at an early age, inconsistent condom use, multiple sexual partners, and sex with strangers. Factors of risky sexual behavior include watching pornography, sensation seeking, addiction, sexual satisfaction, and self-esteem. The impact of risky sexual behavior includes contracting STIs and regret over previous behavior. The implications of this research are that safe and healthy sexual behavior can be a method for preventing sexually transmitted infections, unwanted pregnancies, and violence. The health status of sexual partners can be identified early, thus preventing further transmission.Perilaku seks berisiko merupakan segala bentuk aktivitas seksual vaginal atau anal bersama pasangan seks sehingga menempatkan individu menjadi lebih rentan terjangkit penyakit menular seksual termasuk HIV, kehamilan tidak diinginkan, melakukan kekerasan, dan aborsi. Pria berisiko tinggi tertular dan menularkan dengan tidak memakai pengaman saat melakukan seks, berganti-ganti pasangan seks, seks bersama orang asing seperti seks bersama pekerja seks. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan wawancara mendalam yang dianalisis menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA), bertujuan menggali makna pengalaman dari pelaku seks berisiko. Teknik snowball sampling diterapkan untuk merekrut partisipan yang berjumlah delapan partisipan dengan kriteria; pria seks aktif 19 – 40 tahun dan melakukan seks di usia dini. Penelitian ini memperoleh temuan utama yaitu gambaran, faktor, dan dampak perilaku seks berisiko pria yang terindikasi HIV. Gambaran perilaku seks berisiko berupa seks di usia dini, inkonsisten pemakaian kondom, berganti – ganti pasangan seks, dan seks dengan orang asing. Faktor perilaku seks berisiko yaitu menonton tayangan porno, pencarian sensasi, ketagihan, kepuasan seksual, dan harga diri. Dampak perilaku seks berisiko seperti terjangkit penyakit menular seksual dan penyesalan atas perilaku terdahulu. Implikasi penelitian ini merupakan perilaku seks aman dan sehat sebagai metode pencegahan penyakit menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, dan melakukan kekerasan. Status kesehatan pasangan seks dapat diketahui lebih dini sehingga dapat mencegah penularan lebih lanjut.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 4 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 2 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 1 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025 Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025 Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025 Vol 13, No 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 4 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 1 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 4 (2024): Volume 12, Issue 4, Desember 2024 Vol 12, No 2 (2024): Volume 12, Issue 2, Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024 Vol 12, No 4 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 2 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 4 (2023): Volume 11, Issue 4, Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Volume 11, Issue 3, September 2023 Vol 11, No 1 (2023): Volume 11, Issue 1, Maret 2023 Vol 11, No 4 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 3 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 2 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 1 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Volume 10, Issue 3, September 2022 Vol 10, No 2 (2022): Volume 10, Issue 2, Juni 2022 Vol 10, No 1 (2022): Volume 10, Issue 1, Maret 2022 Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 2 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 1 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 9, No 4 (2021): Volume 9, Issue 4, Desember 2021 Vol 9, No 2 (2021): Volume 9, Issue 2, Juni 2021 Vol 9, No 1 (2021): Volume 9, Issue 1, Maret 2021 Vol 9, No 4 (2021): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 9, No 3 (2021): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 9, No 2 (2021): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 9, No 1 (2021): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 8, No 4 (2020): Volume 8, Issue 4, December 2020 Vol 8, No 3 (2020): Volume 8, Issue 3, September 2020 Vol 8, No 1 (2020): Volume 8, Issue 1, March 2020 Vol 8, No 4 (2020): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 8, No 3 (2020): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 8, No 2 (2020): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 8, No 1 (2020): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 4 (2019): Volume 7, Issue 4, December 2019 Vol 7, No 3 (2019): Volume 7, Issue 3, September 2019 Vol 7, No 2 (2019): Volume 7, Issue 2, June 2019 Vol 7, No 1 (2019): Volume 7, Issue 1, March 2019 Vol 7, No 4 (2019): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 3 (2019): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 2 (2019): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 1 (2019): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 6, No 4 (2018): Volume 6, Issue 4, December 2018 Vol 6, No 2 (2018): Volume 6, Issue 2, June 2018 Vol 6, No 1 (2018): Volume 6, Issue 1, March 2018 Vol 6, No 4 (2018): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 6, No 3 (2018): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 6, No 2 (2018): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 6, No 1 (2018): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 5, No 4 (2017): Volume 5, Issue 4, Desember 2017 Vol 5, No 3 (2017): Volume 5, Issue 3, September 2017 Vol 5, No 4 (2017): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 5, No 3 (2017): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 5, No 2 (2017): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 5, No 1 (2017): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 1 (2016): Volume 4, Issue 1, Maret 2016 Vol 4, No 4 (2016): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 3 (2016): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 2 (2016): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 1 (2016): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 3, No 2 (2015): Volume 3, Issue 2, April 2015 Vol 3, No 4 (2015): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 3, No 3 (2015): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 3, No 2 (2015): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 3, No 1 (2015): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 2, No 4 (2014): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 2, No 3 (2014): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 2, No 2 (2014): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 2, No 1 (2014): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 1, No 1 (2013): Volume 1, Issue 1, Januari 2013 Vol 1, No 4 (2013): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 1, No 3 (2013): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 1, No 2 (2013): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 1, No 1 (2013): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi More Issue