TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7 No 2 (2023): Oktober"
:
14 Documents
clear
Mentoring Poligami Berbayar Coach Hafidin dalam Perspektif Islam
Yuli Imawan
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.1043
Perbedaan pendapat tentang poligami didasarkan pada pendekatan yang berbeda dalam memahami nash-nash yang ada, argumen atas dampak positif dan dampak negative poligami menimbulkan permasalah dalam masyarakat, khususnya di lingkup keluarga antara suami dan istri yang perlu ditangani. Mereka yang percaya bahwa poligami merupakan anjuran bahkan kewajiban merujuk pada pemahaman secara tekstual nash al-Qur’an dan hadist. Sementara yang kontra berpendapat bahwa memahami nash harus mempertimbangkan banyak faktor yang menyebabkan turunnya nash tersebut dan mendialogkan dengan nash-nash lainnya. Sehingga perlunya pembacaan ulang terhadap nash-nash tersebut secara komperhensif dalam setiap ativitas penafsirannya. Kajian ini menggunakan metode kualitatif yang terdiri dari kajian pustaka dan observasi. Kajian pustaka digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Sedangkan observasi dilakukan untuk mendapatkan data empirik yang berupa konseb dasar dari kelas mentoring poligami berbayar yang dilakukan oleh coach Hafidin. Hasil penelitian ini menujukan bahwa praktik poligami yang selalu dikampanyekan lewat kelas mentoring berbayar secara kontekstual tidak selaras dengan nilai-nilai moral universal yang ditekankan oleh al-Qur’an untuk diwujudkan dalam kehidupan manusia yaitu, kemaslahatan dan keadilan. Sehingga satu istri (monogami) itu akan lebih mungkin untuk mengantarkan kepada kehidupan yang baik, stabil, dan relasi yang adil. Karena itu pula poligami sudah saatnya dihindari. Sebaiknya memang tidak poligami.
PENDIDIKAN ETIKA MORAL DALAM PERSPEKTIF IBNU MISKAWAIH
Fathurrahman, Fathurrahman;
Nasaruddin, Nasaruddin
Tajdid Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.1106
Tulisan ini bertujuan menelaah konsep dan praktek pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab Tahzib al-Akhlak karya seorang filosof Muslim Ibnu Miskawaih. Ibnu Miskawaih merupakan tokoh utama yang memusatkan kajiannya tentang etika dengan pendekatan filosofis. Upayanya meramu ajaran syariat Islam dengan teori-teori filsafat etika Yunani, Persia dan pengalaman hidup, menjadikan konsep etikanya sangat kaya dan dinamis untuk berbagai waktu dan tempat. Etika Ibnu Miskawaih didasarkan pada pentinya pemahaman tentang konsep jiwa/nafs sebagai unsur utama dalam diri manusia dalam pembentuk moral. Baginya, meskipun manusia diciptakan dengan karakter tertentu, karakter tersebut dapat diubah melalui pendidikan dan pembiasaan yang baik. Tujuan dari pendidikan akhlak ini adalah tercapainya kebahagiaan sempurna (al-sa’adah). Paradigma etika moral Ibnu Miskawaih dikenal dengan istilah doktrin jalan tengah (al-wasathan) yaitu sebuah posisi harmoni, moderat karena berada pada posisi tengah antara dua kutub ekstrim. Pendidikan etika ini mulai diajarkan dan dilatih pada anak sejak anak mulai mengenal rasa malu dengan metode dan materi yang dirancang untuk memperoleh keutamaan akhlak
OTAK RASIONAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Erchan, Nadya;
Suyadi, Suyadi
Tajdid Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.1904
Sejauh ini penelitian tentang kecerdasan rasional, kecerdasan emosional dan juga kecerdasan spiritual sudah banyak di ulas oleh para peneliti. Namun, penelitian tentang otak rasional itu sendiri belum banyak di ketahui. Dalam hal ini penggunaan tiga fungsi otak diharapkan mampu menjadi wajah baru dalam upaya memperluas insan cendikiawan yang memiliki daya nalar optimal. Artikel jurnal ini menggunakan metode studi literatur menggunakan berbagai macam sumber, jurnal buku dan juga internet yang mengkaji tentang daya fungsi otak terhadap pendidikan agama Islam. Artikel ini mengulas berbagai tindakan pelaksanaan yang dilakukan dalam upaya menggunakan tiga fungsi otak secara optimal dalam pembelajaran ilmu agama Islam. Optimalisasi daya fungsi otak ini diharapkan mampu menjadi pemicu perkembangan ilmu pendidikan Islam yang lebih luas lagi serta menjadikan pembelajaran agama Islam sebagai pembelajaran yang menarik dan diminati.
Implementasi Pembelajaran PAI Elemen Al-Quran Hadis Integratif Berbasis Project Based Learning di SMP
Afrina Yesi Gusman
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2175
Pendidikan Agama Islam memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan moral generasi muda. Dalam lembaga dunia pendidikan Pendidikan Agama Islam (PAI) dijadikan sebagai mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu pendekatan inovatif yang semakin diterapkan dalam pembelajaran PAI ditingkat SMP adalah pendekatan integrative berbasis Project Basic Learning (PjBL). Salah satu elemen utama dalam pendekatan ini adalah penggunaan Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman inti, yang digabungkan dengan prinsip-prinsip proyek berbasis pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran PAI, PjBL memungkinkan siswa untuk menggali makna Al-Quran dan Hadis dalam situasi kehidupan nyata. Implementasi pembelajaran PAI berbasis PBL dengan elemen Al-Quran dan Hadis ini membawa manfaat ganda. Pertama, siswa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang agama Islam, Kedua, mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kerjasama, dan pemecahan masalah, yang akan berguna dalam kehidupan mereka di masa depan. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif yaitu menggunakan teknik analisis deskriptif melalui penelitian kepustakaan (library research). Literatur yang ditinjau terdiri dari buku-buku dan artikel penelitian yang diterbitkan sehubungan dengan Implementasi Pembelajaran PAI Elemen Al-Quran Hadis Integratif Berbasis Project Based Learning di SMP.
KOMPARASI PEMIKIRAN TEOLOGI K.H HASYIM ASY`ARI DAN K.H AHMAD DAHLAN
SULTAN GHOLAND ASTAPALA
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2225
Artikel ini bermaksud mengkaji ulama ternama di Indonesia KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. KH. Ahmad Dahlan mengatakan teol ogi terbagi menjadi tiga. Yang pertama dan terpenting, Keyakinan yang membahas tentang kesurgawian hendaknya terlihat dari nalarnya bahwa ia boleh saja tanpa membahas masalah agama, karena cukuplah ia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Islam, Ahmad Dahlan secara umum menyinggung Al-Qur'an dan Sunnah, bagi Ahmad Dahlan tidak ada sumber hukum yang lebih hakiki selain Al-Qur'an, selain itu Ahmad Dahlan tidak mengabaikan proporsi. Ketiga, Ihsan, Ahmad Dahlan merupakan ahli tasawuf amali, hal ini terlihat dari amalan yang dilakukannya. Sedangkan KH. Hasyim Asy'ari menyatakan, ada tiga derajat tauhid atau keesaan Allah yang harus dipahami setiap umat Islam. Yang pertama adalah derajat pujian terhadap keesaan Tuhan. Kedua, informasi dan pemahaman tentang keesaan Tuhan. Ketiga, keakraban dzaq dengan juri yang tiada tara atau Al-Haq.
OPTIMASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TERHADAP KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR
afrina yesi gusman
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2262
Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat sejauhmana optimasi model pembelajaran cooperative learning dalam menghadapi kesulitan belajar peserta didik sekolah dasar. Serta memahami bagaimana mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sehingga semua peserta didik, termasuk mereka yang mengalami kesulitan belajar, dapat memperoleh manfaatnya. Metode pembelajaran cooperative learning memberikan dampak yang signifikan dalam pembelajaran yang dapat menjadi solusi konkrit dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik terutama di sekolah dasar. Sama halnya dengan metode pembelajaran lain, pembelajaran kooperatif juga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah kesulitan belajar yang dapat muncul pada sebagian peserta didik yang berdampak terhadap prestasi akademik. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang bersifat deskriptif dan berfokus pada pemahaman mendalam terhadap konteks, makna, dan kompleksitas fenomena yang sedang diteliti. Pendekatan ini lebih menekankan pada interpretasi dan pemahaman subjek, daripada mengukur atau menghitung variabel-variabel tertentu. Literatur yang digunakan terdiri sumber-sumber yang sudah ada, baik berupa artikel, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Sumber data sekunder dari penelitian ini adalah semua data yang berkaitan dengan judul penelitian serta penjelasan wawancara. Dalam menghadapi kesulitan belajar kooperatif di sekolah dasar memerlukan kesabaran dan perencanaan yang baik. Guru perlu memahami bahwa setiap peserta didik adalah individu yang unik dan dapat menghadapi tantangan yang berbeda. Dengan menggabungkan solusi-solusi, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran kooperatif yang mendukung perkembangan semua peserta didik di sekolah dasar.
PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENDIDIK AKHLAK SISWA DI SMA NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN
Safira Khairudina
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2271
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam dalam mendidik akhlak siswa, dan faktor pendukung dan menghambat dalam mendidik akhlak, serta upaya yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajarkan akhlak kepada siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Proses penyempurnaan akhlak agar peserta didik menjadi individu yang mencerminkan akhlak yang baik disebut dengan pembinaan akhlak, serta suatu tindakan yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif, yaitu melakukan penelitian dan merangkum temuannya untuk menggambarkan suatu hasil penelitian. Metode observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan dalam proses pengumpulan data. Hasil dari penelitian ini adalah guru Pendidikan Agama Islam yang profesional dalam mendidik akhlak siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan telah menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam berperan aktif sebagai pendidik, pembimbing, fasilitator, komunikator, dan motivator dalam pembinaan akhlakul karimah siswa. Faktor pendukung yang mendukung dalam pembinaan akhlakul karimah antara lain 1) Kegiatan ekstrakurikuler sekolah, dan 2) Apersepsi sebelum pembelajaran. Adapun faktor yang menghambat dalam pembinaan akhlakul karimah pada siswa antara lain 1) Latar belakang siswa, 2) Fasilitas sekolah yang belum memadai, 3) Metode yang kurang bervariatif.
ETIKA KOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL MELALUI PRINSIP 3A (KAJIAN SURAH AN-NAHL AYAT 125)
Nasaruddin, Nasaruddin;
Munir, Abdul;
Abdussahid, Abdussahid;
Mubarak, Fathani
Tajdid Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2274
Artikel ini difokuskan untuk membahas tentang etika komunikasi di media sosial melalui prinsip 3A yang berlandaskan pada QS. An-Nahl ayat 125 yang dapat diterapkan dalam bermedia sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan jenis penelitian library research. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam berkomunikasi di media sosial perlu untuk menerapkan dan menggunakan prinsip 3A, yakni: Al-Hikmah yang artinya kebijaksanaan, dalam hal ini kita ajarkan untuk bijaksana dalam berkomunikasi dalam artian kita bisa bijak dalam memberikan arahan atau berkomentar, tetapi harus melihat kondisi dan situasi. Al-Wal Mauidhatil Khasanah artinnya Nasehat yang baik, Wajadilhum Bil Lati Hiya Ahsan yang artinya berdebat dengan cara yang baik, mengajarkan kita untuk berdebat dengan munggunakan raut wajah yah ramah, perkataan yang baik serta lemah lembut dalam bertutur kata.
INDIKATOR TANGGUNG JAWAB SOSIAL DALAM AL-QUR'AN
Masyhuri, Ahmad Ari
Tajdid Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2290
Manusia adalah makhluk otonom sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk otonom, manusia berperan sebagai subjek yang bebas dan independen serta memiliki kesanggupan menumbuhkan gairah kodratnya untuk meraihan kesempurnaan. Sebagai individu manusia harus melakukan dan mengamalkan spirit ajaran agama. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk hidup bersosial. Oleh karena itu, di samping manusia memiliki nilai otonomi, manusia tidak akan sempurna jika tidak berhubungan dengan sesuatu yang lain diluar dirinya. Dari sinilah maka akan terjadi proses interaksi antara sesama, atau dengan lingkungan terdekatnya. Sebagai makhluk sosial maka paling tidak akan terjadi dual hal, yaitu interaksi sosial dan komunikasi. Interaksi sosial akan terjadi bila ada suatu tindakan, sedangkan komunikasi terjadi ketika seseorang memberikan penilaian terhadap tindakan orang lain. Menurut ilmu sosiologi, interaksi sosial dipandang sebagai salah satu sebab lahirnya aktivitas sosial, pada kenyataannya masyarakat menjadi sesuatu yang memicu motivasi individu dan bertindak secara sosial. Berinteraksi sebenarnya seseorang atau kelompok sedang memperhatikan dan berupaya memahami perilaku orang lain atau masyarakat. Interaksi tidak berlangsung dengan baik bahkan bisa kemungkinan akan kacau jika para pihak yang terlibat tidak saling mengerti dan tidak paham makna dibalik aktivitas sosial yang mereka lakukan. Kenyamanan hidup dan tumbuh berkembang adalah mengakui bahwa setiap individu harus memiliki kesadaran sosial dan harus saling mengerti antara satu dengan yang lain supaya sekelompok masyarakat bisa hidup harmonis dan teratur. Kondisi interaksi sosial dapat berlangsung dengan sopan, disiplin, tertata, dan teratur maka dibutuhkan kesanggupan bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya, dan kesanggupan menilai secara objektif perilaku diri sendiri dari kacamata orang lain. Prilaku kehidupan ini menunjukkan bahwa manusia dapat menemukan jati dirinya sebagai makhluk yang harus hidup bersama dengan sesama makhluk lainnya. Maka dari itu, arti hidup seseorang akan terwujud apabila bersama orang lain karena segala perilakunya selalu memerlukan orang lain. Manusia tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga bekerjasama memajukan dan mengembangkan harkat dan martabatnya.
TRANSFORMASI PEMIKIRAN JAMAAH SALAFI DALAM MERESPON TUNTUTAN PEMBAHARUAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Nurhakim, Moh.;
Tobroni, Tobroni;
Hasan, Ibnu;
Firmansyah, Eka
Tajdid Vol 7 No 2 (2023): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v7i2.2342
Tulisan. ini bertujuan menganalisis transformasi. pemikiran jamaah Salafi dalam. merespon pembaharuan kurikulum Pendidikan. Agama Islam (PAI) sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah. Penelitian dilakukan di beberapa pesantren Salafi di Banyumas. Pengumpulan. data dilakukan dengan. teknik wawancara., observasi dan. dokumentasi. Sedangkan analisis data. digunakan teknik Interpretative. Phenomenological. Analysis (IPA) model. Smith (2009). Hasil penelitian. Menunjukkan. bahwa sejumlah pesantren .Salafi di Banyumas melakukan. Pengembangan. dan perubahan .substansi kurikulum. Perubahan pemikiran. tersebut bersifat .adaptasi minor yang, dapat dimaknai. dalam katagori .perenial-esensialis .semi modernis. Hal itu ditandai .dengan berubahnya .kurikulum pesantren .yang menerima .program wajib belajar .sembilan tahun dan Ujian Nasional. Yang .diselenggarakan oleh .Pemerintah melalui .program Pesantren Salafiyah .(PPS) Kementerian .Agama. Selain itu .juga adanya .pengembangan kurikulum .yang memadukan .kurikulum pesantren .dengan kurikulum . pemerintah dan .memberikan ijazah. Hanya .sebagian kecil yang .benar-benar mengembangkan .tipologi pemikiran .pendidikan .perenial-esensialis .karena tidak mengikuti .program .wajib belajar .sembilan .tahun, Ujian Nasional .dan tidak .memberikan .ijazah serta tetap .menjalankan kurikulum .pendidikan keagamaan murni .tanpa memasukkan .kurikulum pemerintah.