cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Cognitive Behavioral Therapy untuk mengurangi perilaku melukai diri pada individu dengan gangguan depresi mayor Elma Prastika Maharani
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v10i4.23548

Abstract

Depression is a mood disorder characterized by the absence of hope, prolonged sadness, excessive feelings of helplessness, inability to make decisions, inability to concentrate, loss of enthusiasm for life, feelings of tension and desire to end life or hurt oneself. The purpose of this study was to see whether self-harm behavior in depression could be reduced after giving cognitive behavioral therapy. The assessment was carried out using interviews, observation, WHO Disability Assessment Schedule (WHODAS), Depression Anxiety Stress Scales (DASS), Graphic tests (Draw a Person, BAUM, House Tree Person) and Thematic Apperception Test (TAT). The result shows that cognitive behavioral therapy is effective in reduce self-harm into positive copping mechanism behavior and can reduce negative thinking in people with depression.
Mengontrol perilaku marah pada penderita skizofrenia dengan anger management Dewi Suryaningtyas Tyas
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.23601

Abstract

Schizophrenia is one of the most severe psychological problems and has many impacts on sufferers and the surrounding environment. Many things are out of control in schizophrenics such as lack of emotional management. The purpose of this study was to control angry behavior in schizophrenics with anger management. Assessment methods used are interview, observation, graphic Test, Intelligence, TAT and WWQ. The intervention used to overcome angry behavior is behavior modification with anger management. The administration of anger management skills is carried out in six sessions. The results of the intervention showed that the frequency of verbal aggression of patients decreased, with an average of three times a day to once a day. Keywords: Anger management, angry behavior, schizophrenia Abstrak Skizofrenia merupakan salah satu permasalahan psikologis yang paling berat dan banyak memunculkan dampak bagi penderita maupun lingkungan sekitar. Banyak hal yang tidak terkendali pada penderita skizofrenia seperti pengelolaan emosi yang kurang bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengendalikan perilaku marah pada penderita skizofrenia dengan anger management. Metode asesmen yang digunakan adalah wawancara, observasi, Tes grafis, Inteligensi, TAT dan WWQ. Intervensi yang digunakan untuk mengatasi perilaku marah adalah modifikasi perilaku dengan anger management. Pemberian keterampilan manajemen amarah dilakukan dalam enam sesi. Hasil intervensi menunjukkan bahwa frekuensi agresi verbal pasien menurun, dengan ratarata dari tiga kali sehari menjadi sekali dalam satu hari. Kata kunci: Manajemen marah, perilaku marah, skizofrenia
Reality Therapy: Dapatkah Meningkatkan harga diri pada remaja ? Sitti Rojiyah Nur Inyirah Puhi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.23872

Abstract

Adolescence is a period that is strongly influenced by the peer environment and is very concerned about other people’s judgments about them. The existence of negative evaluations in adolescents causes adolescents to experience problems with self-esteem. They are often self-critical and have a hard time seeing the positive in themselves. This case study aims to determine the effect of reality therapy in increasing self-esteem in adolescents. The assessments given were interviews, observations, graphic tests, wartegg tests, and the Rosenberg self-esteem scale. The results of the intervention showed an increase in self-esteem in the subject which was marked by the ability of the subject to interpret the failures experienced, able to understand a problem from another point of view and able to manage thoughts in situations that are stressful or cause suffering. Keywords: Negative evaluation, reality therapy, self-esteem, teenagers   Abstrak Masa remaja adalah masa yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan teman sebaya dan sangat memperhatikan penilaian orang lain terhadap mereka. Adanya evaluasi negatif pada remaja menyebabkan remaja mengalami masalah pada harga diri. Mereka sering mengkritik diri sendiri dan kesulitan melihat hal positif dalam dirinya. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi realitas dalam meningkatkan harga diri pada remaja. Metode asesmen yang digunakan adalah wawancara, observasi, tes grafis, tes wartegg, dan skala harga diri Rosenberg. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan harga diri subjek yang ditandai dengan kemampuan subjek menginterpretasikan kegagalan yang dialami, mampu memahami suatu masalah dari sudut pandang lain dan mampu mengelola pikiran dalam situasi yang penuh tekanan atau menyebabkan penderitaan. Kata kunci: Penilaian negatif, terapi realitas, harga diri, remaja
Cognitive Behavioral Therapy untuk menurunkan perilaku menyakiti diri pada individu dengan Borderline Personality Disorder Risa Nur Amelia
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.23990

Abstract

Borderline Personality Disorder (BPD) is a personality disorder that appears in adolescence or early adulthood. The purpose of this study was to determine the role of cognitive behavioral therapy (CBT in reducing self-harm behavior in individuals with BPD. The subject of this study was a 24-year-old female university student who had BPD symptpamans such as irritability, difficulty controlling emotions, self-harm, and frequent suicide attempts. The assessment methods used were psychological interviews, observations, graphic tests, SSCT tests, WHODAS self-reports, and self-harm inventories. The results of the study show that CBT can effectively reduce self-harm behavior in individuals with BPD. Keywords: Boarderline personality disorder, cognitive behavioral therapy, self-harm   Abstrak Borderline Personality Disorder (BPD) adalah gangguan kepribadian yang muncul pada masa remaja atau dewasa awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran terapi perilaku kognitif dalam mengurangi perilaku menyakiti diri sendiri pada individu dengan BPD. Subjek penelitian ini adalah seorang mahasiswi berusia 24 tahun yang memiliki gejala BPD seperti mudah marah, mudah marah, kesulitan mengendalikan emosi, menyakiti diri sendiri, dan sering mencoba bunuh diri. Metode asesmen yang digunakan adalah wawancara psikologis, observasi, tes grafis, SSCT, laporan diri WHODAS, dan inventarisasi menyakiti diri sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif dapat mengurangi perilaku menyakiti diri sendiri pada individu dengan BPD. Kata kunci: Boarderline personality disorder, terapi perilaku kognitif, menyakiti diri sendiri
Menurunkan kecemasan dengan Cognitive Behavior Therapy pada penderita Posttraumatic Stress Disorder Hanifa Timur Mawarizka; Siti Suminarti Fasikhah
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.24047

Abstract

Posttraumatic Stress Disorder is an anxiety disorder experienced after people see or live in a state of danger for more than one month. The assessment in this case used clinical interviews, observation, Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), Sacks Sentence Completion Test (SSCT), graphics and wartegg, Thematic Apperception Test (TAT) and WHODAS 2.0. The intervention provided is Cognitive Behavior Therapy (CBT) which aims to change the subject's mindset to be more positive and adaptive behavior. The results of the intervention show that the percentage level of the subject's thoughts that she will die soon has been reduced to 30% and is aware that these thoughts are just mere shadows and do not necessarily occur to her, does not feel any physiological symptoms anymore since doing behavior activation in the second week, sleep quality begins to improve and have done new productive activities. Keywords: PTSD, anxiety, cognitive behavior therapy   Abstrak Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan suatu gangguan yang muncul akibat individu mengalami suatu peristiwa yang memunculkan trauma yang berlangung lebih dari satu bulan. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menurunkan PTSD. Metode asesmen yang digunakan untuk mendapatkan data dengan wawancara, observasi, Wechsler Adult Intelligence Scale, Sacks Sentence Completion Test, tes grafis dan wartegg, Thematic Apperception Test dan WHODAS 2.0. Intervensi yang diberikan kepada subjek adalah Cognitive Behavior Therapy. Hasilnya setelah dilakukan intervensi menunjukkan adanya perubahan tingkat pemikiran negative subjek, bahwa dirinya akan segera meninggal berkurang menjadi 30% dan memahami bahwa pikiran tersebut hanyalah distorsi dan belum tentu terjadi pada dirinya; tidak merasakan adanya gejala fisiologis lagi sejak melakukan behavior activation; kualitas tidur membaik dan dapat melakukan aktifitas yang produktif. Kata kunci: PTSD, kecemasan, cognitive behavior therapy
Behavior play therapy untuk meningkatkan atensi pada anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Eka Nur Maulida Sari; Cahyaning Suryaningrum
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.24381

Abstract

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is a neurological disorder in the form of behavior that is characterized by the development of an inappropriate level of attention and affects a person’s ability to organize and maintain attention on a task. In this case, the subject cannot focus, is unable to concentrate and difficult to control. Based on the problems experienced, the most troubling current is the inattentive behavior of the subject who cannot focus when doing tasks. This was reported by parents and therapists. The assessment methods are interviews, observation, the Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), and the ADHD rating scale. The intervention given to overcome is behavior play therapy with beat the clock games. The results of the intervention show that inattentive behavior in the form of not being able to focus when doing tasks can be reduced. Keywords: Attention deficit hyperactivity disorder, attention behavior play therapy, children   Abstrak Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan masalah perilaku pada diri seseorang secara neurologis yang ditandai dengan perkembangan tingkat inatensi tidak sesuai dan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatur dan mempertahankan perhatian pada suatu tugas. Dalam studi kasus ini subjek tidak dapat fokus, kurang dapat berkonsentrasi dan sulit dikendalikan. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk meningkatkan atensi subjek yang tidak dapat fokus ketika mengerjakan tugas. Metode asesmen menggunakan wawancara, observasi, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), dan ADHD rating scale. Intervensi yang diberikan untuk mengatasi masalah tersebut adalah behavior play therapy dengan permainan beat the clock. Hasil intervensi menunjukkan bahwa atensi dalam mengerjakan tugas dapat meningkat. Kata kunci: Attention deficit hyperactivity disorder, attention behavior play therapy, anak
Solution focused therapy untuk memperbaiki pola komunikasi suami-istri Eka Hertisyahrani
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i1.24451

Abstract

Ineffective communication within a family is a problem that often occurs and requires immediate treatment so as not to cause more severe problems. The lack of effective communication in this family was initially complained about by the wife, who complained about the changes in behavior experienced by her husband since he started working. Changes in behavior around being reluctant to communicate his disapproval and acting indifferent to his wife's feelings make him feel uncomfortable. This non-assertive behavior forms an indirect or indirect communication pattern that results in disharmony in household relations. Observation, interviews, and the Couple Communication Satisfaction Scale (CCSS) are the assessments carried out to explore the problem. The intervention used is solution-focused therapy (SFT); the implementation procedure consists of 6 sessions to improve communication patterns between husband and wife. SFT is proven to be able to improve communication patterns that exist between husband and wife. These changes in more positive communication between couples mean that interactions within the family are better than before and that family members are spending more time together than before. Keyword : Solution-focused therapy, communication, couple communication satisfaction    Abstrak Komunikasi yang tidak efektif dalam keluarga merupakan masalah yang sering terjadi dan memerlukan penanganan segera agar tidak menimbulkan masalah yang lebih berat. Kurangnya komunikasi yang efektif dalam keluarga ini awalnya dikeluhkan oleh istri yang mengeluhkan perubahan perilaku yang dialami suaminya sejak mulai bekerja. Perubahan perilaku seputar keengganan untuk mengomunikasikan ketidaksetujuannya dan bersikap acuh tak acuh terhadap perasaan istrinya membuatnya merasa tidak nyaman. Perilaku tidak asertif ini membentuk pola komunikasi tidak langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan ketidakharmonisan dalam hubungan rumah tangga. Observasi, wawancara, dan Couple Communication Satisfaction Scale (CCSS) merupakan penilaian yang dilakukan untuk menggali permasalahan. Intervensi yang digunakan adalah solution-focused therapy (SFT); Prosedur pelaksanaannya terdiri dari 6 sesi untuk memperbaiki pola komunikasi antara suami dan istri. SFT terbukti mampu memperbaiki pola komunikasi yang terjalin antara suami istri. Perubahan dalam komunikasi yang lebih positif antara pasangan ini berarti bahwa interaksi dalam keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya dan anggota keluarga menghabiskan lebih banyak waktu bersama daripada sebelumnya. Kata kunci: Solution-focused therapy, komunikasi, couple communication satisfaction 
Meningkatkan kemandirian toilet training anak dengan Global Developmental Delay Najwa Wafiyyah
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.23787

Abstract

Each level of age in humans will have certain developments. Likewise, at the age level of children, there will be abilities that will increase as they get older. Children aged 4-5 years have started to have the ability to apply self-help skills to meet their basic needs such as food, clothing, grooming, personal hygiene and independence in going to the toilet. The client is the youngest daughter of 2 siblings. Children with global developmental delay problems will have difficulties in self-care. He is 4 years old. The client lives with his parents, brother and grandmother. Until now the client has not been able to behave independently of his daily activities such as going to the toilet himself. The purpose of this case study is to improve the subject's ability to be independent with toilet training. The assessments used were observation, interviews and VSMS (Vineland Social Maturity Scale). The intervention given to improve the toilet training ability of the client was the provision of positive reinforcement. The results of the intervention that had been given to the client showed significant changes, namely a decrease in the intensity of bed wetting and an increase in the ability to take off/put on pants, wash, flush and wash hands independently. However, clients still need family assistance in going to the toilet or must remain with parental assistance and initiative.   Setiap tingkatan usia pada manusia akan memiliki perkembangan tertentu. Demikian pula pada tingkat usia anak-anak, akan ada kemampuan yang akan meningkat seiring bertambahnya usia. Anak usia 4-5 tahun sudah mulai memiliki kemampuan untuk menerapkan keterampilan menolong diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, pakaian, dandan, kebersihan diri dan kemandirian ke toilet. Klien adalah putri bungsu dari 2 bersaudara. Anak dengan masalah keterlambatan perkembangan global akan mengalami kesulitan dalam perawatan diri. Klien berusia 4 tahun tinggal bersama orang tua, kakak dan neneknya. Sampai saat ini klien belum dapat berperilaku mandiri dalam aktivitas kesehariannya seperti ke toilet sendiri. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk meningkatkan kemampuan klien untuk mandiri dengan toilet training. Penilaian yang digunakan adalah observasi, wawancara dan VSMS (Vineland Social Maturity Scale). Intervensi yang diberikan untuk meningkatkan kemampuan toilet training klien adalah pemberian penguatan positif. Hasil intervensi yang telah diberikan pada klien menunjukkan perubahan yang signifikan yaitu penurunan intensitas mengompol dan peningkatan kemampuan melepas/memakai celana, mencuci, menyiram dan mencuci tangan secara mandiri. Namun, klien tetap membutuhkan pendampingan keluarga dalam ke toilet atau harus tetap dengan pendampingan dan inisiatif orang tua.
Menurunkan stres pengasuhan pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus Annisafitri Nurarini Suwoto
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.24345

Abstract

Parents who have children with special needs are more prone to experiencing parenting stress. A child's disability is sometimes a source of stress for parents, especially if the nature of the disorder lasts a long time and lasts a lifetime. The assessment methods used were clinical interviews and parental stress scales. The purpose of this case study is to reduce parenting stress for mothers who have children with special needs through group counseling. The results of the intervention show that reality group counseling can reduce parenting stress experienced by mothers who have children with special needs. Participants determine and fulfill basic needs in dealing with real situations. Group settings help to learn from each other, feel comfortable, and exchange information.   Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus lebih rentan mengalami stres pengasuhan. Kecacatan anak terkadang menjadi sumber stres bagi orang tua, apalagi jika sifat kelainan tersebut berlangsung lama dan berlangsung seumur hidup. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara klinis dan skala stres orang tua. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengurangi stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus melalui konseling kelompok. Hasil intervensi menunjukkan bahwa konseling kelompok realitas dapat mengurangi stres pengasuhan yang dialami ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Peserta menentukan dan memenuhi kebutuhan dasar dalam menghadapi situasi nyata. Pengaturan grup membantu untuk belajar satu sama lain, merasa nyaman, dan bertukar informasi.
Meningkatkan kemampuan pengucapan kata pada anak dengan Speech Sound Disorder Nidia Melanita
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.24441

Abstract

Speech sound disorder (SSD) is a disorder in the production of speech sounds in children. SSD can make it difficult for children to understand when speaking, interfering with verbal communication, social participation and academic achievement. The purpose of this study was to determine the effectiveness of play therapy using puzzles in improving children's word pronunciation skills with SSD. The assessment methods used are clinical interview, observation, and psychological test (WISC). As a result  of  this play therapy, subjects began to be able to remember and memorize letters of the alphabet correctly and began  to be able to pronounce words such as "makan", and "ikan". Based on the interventions carried out, it can be concluded that play therapy with puzzle games  can improve the ability to pronounce words in children who experience speech sound disorder correctly.   Speech sound disorder (SSD) adalah gangguan dalam produksi suara ucapan pada anak-anak. SSD dapat mempersulit anak untuk memahami saat berbicara, mengganggu komunikasi verbal, partisipasi sosial, dan prestasi akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi bermain menggunakan puzzle dalam meningkatkan kemampuan pengucapan kata anak dengan SSD. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara klinis, observasi, dan tes psikologi (WISC). Hasil dari terapi bermain ini, subjek mulai dapat mengingat dan menghafal huruf abjad dengan benar dan mulai dapat melafalkan kata-kata seperti "makan dan "ikan". Berdasarkan intervensi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terapi bermain dengan permainan puzzle dapat meningkatkan kemampuan pengucapan kata pada anak yang mengalami speech sound disorder dengan benar.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue