cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Meningkatkan pola komunikasi pada pasangan suami-istri Nidaan Fajriyah
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.24444

Abstract

Interpersonal communication within the family is very important, because with interpersonal communication one can find out what each one wants or does not want, because it can be emotionally, behaviorally, and interpersonally beneficial. The assessment used interviews, observation and the giving of the couple communication satisfaction scale (CCSS). Intervention solution focused therapy (SFT) is given for improve partner communication, which was originally only kept under wraps to become more active and effective. The results of the intervention showed that there was a change in the pattern of communication between partners which tended to be repressed into a more open pattern of communication.   Komunikasi interpersonal dalam keluarga sangat penting, karena dengan komunikasi interpersonal seseorang dapat mengetahui apa yang diinginkan atau tidak diinginkan masing-masing, karena dapat bermanfaat secara emosional, perilaku, dan interpersonal. Penilaian menggunakan wawancara, observasi dan pemberian couple communication satisfaction scale (CCSS). Intervention Solution Focused Therapy (SFT) diberikan untuk meningkatkan komunikasi pasangan yang semula hanya dirahasiakan menjadi lebih aktif dan efektif. Hasil intervensi menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola komunikasi antar mitra yang cenderung ditekan menjadi pola komunikasi yang lebih terbuka.
Peningkatan kemampuan pengendalian emosi dengan terapi kognitif perilaku pada klien skizofrenia paranoid Farra Anisa Rahmania; Raden Ajeng Retno Kumolohadi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.25426

Abstract

Schizophrenia disorder is a disorder that causes the main symptoms, namely delusions, and hallucinations. In the patients in this study, the delusions that emerged were delusions of pursuit and delusions of grandeur. Meanwhile, the hallucinations that appear are auditory hallucinations such as noises, and visual hallucinations such as seeing supernatural beings. Patients also have difficulty controlling their emotions so they often get angry, say harsh things, and smash things. Patients find it difficult to do activities well in their social environment. The assessment was carried out using personality tests and intelligence tests. Based on the results of the assessment, the patient's diagnosis was schizophrenia with the paranoid type. The intervention given to patients is a cognitive behavioral therapy that focuses on controlling emotions. The results of interventions in patients show that cognitive behavioral therapy can help patients to be aware of their current condition, the will to control negative emotions, and the emergence of a desire to carry out activities such as looking for a job. The patient's family is given intervention including psychoeducation about the patient's condition, how to care for the patient, and how to support the patient. Gangguan skizofrenia merupakan gangguan yang menimbulkan gejala utama yaitu delusi, dan halusinasi. Pada pasien dalam penelitian ini, delusi yang muncul adalah delusi pengejaran dan delusi keagungan. Sedangkan halusinasi yang muncul adalah halusinasi pendengaran seperti suara bising, dan halusinasi visual seperti melihat makhluk gaib. Penderita juga sulit mengendalikan emosinya sehingga sering marah-marah, berkata kasar, dan membanting barang. Pasien merasa sulit untuk melakukan aktivitas dengan baik di lingkungan sosialnya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes kepribadian dan tes inteligensi. Berdasarkan hasil asesmen, diagnosis pasien adalah skizofrenia dengan tipe paranoid. Intervensi yang diberikan kepada pasien adalah terapi perilaku kognitif yang berfokus pada pengendalian emosi. Hasil intervensi pada pasien menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif dapat membantu pasien untuk menyadari kondisinya saat ini, keinginan untuk mengendalikan emosi negatif, dan munculnya keinginan untuk melakukan aktivitas seperti mencari pekerjaan. Keluarga pasien diberikan intervensi diantaranya psikoedukasi tentang kondisi pasien, cara merawat pasien, dan cara support pasien.
Empty chair therapy untuk menurunkan gejala depresi pada remaja korban perundungan Anindyah Sekarini; Siti Muthia Dinni
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i2.25508

Abstract

Depression is a disorder that leads to a more negative mood. The subject shows symptoms of depressive disorder in the form of depression affect, lost interest in doing activities or hobies and increased hypersomnia. Subject was an 15-year-old woman who had experienced as victims of bullying. The purpose of this case study is to reduce depressive symptoms through the empty chair. There are feelings of guilt and worthlessness, trouble concentrating to complete the school task, and looking future improperly. The assessment method were used interview, observation, psychological test, and BDI (Beck Depression Inventory). The intervention used in this case was Gestalt Therapy with Empty Chair Technique. Intervention target to decreased depression symptoms and helps subject to live well everyday. The results of the intervention showed that empty chair therapy effective in reducing depression symptoms in subject. There was decreased BDI score from 37 to 22.  Depresi adalah gangguan yang mengarah ke suasana hati yang lebih negatif. Subyek menunjukkan gejala gangguan depresi berupa afek depresi, kehilangan minat dalam melakukan aktivitas atau hobi dan peningkatan hipersomnia. Subjek adalah seorang wanita berusia 15 tahun yang pernah mengalami sebagai korban bullying. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengurangi gejala depresi melalui kursi kosong. Ada perasaan bersalah dan tidak berharga, sulit berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas sekolah, dan memandang masa depan dengan tidak tepat. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara, observasi, tes psikologi, dan BDI (Beck Depression Inventory). Intervensi yang digunakan dalam kasus ini adalah Terapi Gestalt dengan Teknik Kursi Kosong. Target intervensi untuk mengurangi gejala depresi dan membantu subjek untuk hidup dengan baik setiap hari. Hasil intervensi menunjukkan bahwa terapi kursi kosong efektif dalam mengurangi gejala depresi pada subjek. Terjadi penurunan skor BDI dari 37 menjadi 22.
Self-help group pada remaja dengan internet gaming disorder Masayu Nandhia Dwiputri
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.24321

Abstract

Internet Gaming Disorder refers to persistent and repeated involvement in video games that leads to clinically significant impairment or distress as demonstrated by five (or more) of the nine criteria over a 12-month period. The purpose of this study was to reduce the intensity of using mobile phones to play online games on teenage clients. The subjects in this study were four male adolescent subjects aged 13-15 years. The assessment methods used were clinical interviews, observations, graphic tests (BAUM, DAP (draw a person) and HTP (house tree person)) and the Game Addiction Scale (GAS). The intervention technique used was a self-help group. The results of the intervention showed a decrease in the intensity of using mobile phones to play online games. Internet gaming disorder mengacu pada keterlibatan terus-menerus dan berulang dalam video game yang menyebabkan gangguan atau tekanan yang signifikan secara klinis seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) dari sembilan kriteria selama periode 12 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi intensitas penggunaan telepon seluler untuk bermain game online pada klien remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah empat orang subjek remaja laki-laki berusia 13-15 tahun. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara klinis, observasi, tes grafis (BAUM, DAP (menggambar orang) dan HTP (rumah pohon)) dan Game Addiction Scale (GAS). Teknik intervensi yang digunakan adalah self-help group. Hasil intervensi menunjukkan adanya penurunan intensitas penggunaan ponsel untuk bermain game online.
Psikoedukasi deteksi dini tumbuh kembang anak bagi kader guru Tri Eka Dewi Puspaningrum
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.24533

Abstract

People will go through the stage of growth and development. Growing is associated with increasing size such as weight and height, while developing is related to adding motor, cognitive, emotional and social development skills of individuals. Based on the stages of growth and development, it can be stimulated by environment.In this case, cadres from Raudhatul Athfal (RA) in village X of Malang city had difficulty in distinguishing between children who experienced growth and development according to stages and children who did not match their stages or experienced obstacles. Therefore, to help cadres to be able to distinguish and assist children in stages according to their age, RA cadres will be given education to detect early if there are obstacles in children through psychoeducation early detection of child growth and development. The results of the intervention carried out on RA cadres are increased knowledge related to early detection of child growth and development. They can disseminate this knowledge and continuously apply. Manusia akan melalui tahap pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh dikaitkan dengan bertambahnya ukuran seperti berat badan dan tinggi badan, sedangkan berkembang berkaitan dengan penambahan keterampilan perkembangan motorik, kognitif, emosional dan sosial individu. Berdasarkan tahapan tumbuh kembangnya dapat dirangsang oleh lingkungan. Dalam hal ini, kader Raudhatul Athfal (RA) di desa X kota Malang kesulitan membedakan antara anak yang mengalami tumbuh kembang menurut tahapannya dan anak yang mengalami tumbuh kembang menurut tahapannya. tidak sesuai tahapannya atau mengalami kendala. Oleh karena itu, untuk membantu kader agar mampu membedakan dan mendampingi anak secara bertahap sesuai usianya, maka kader RA akan diberikan edukasi untuk mendeteksi dini jika ada kendala pada anak melalui psikoedukasi deteksi dini tumbuh kembang anak. Hasil intervensi yang dilakukan terhadap kader RA adalah peningkatan pengetahuan terkait deteksi dini tumbuh kembang anak. Mereka bisa menyebarkan ilmu ini dan terus menerapkannya.
Pelatihan kebersyukuran untuk meningkatkan sense of school belonging santri di pondok pesantren Susanti Prasetyaningrum; Nurhidayati Nurhidayati
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.26478

Abstract

Islamic boarding schools are one of the religius beased-educational facilities where the students must follow much more rules than students in regular school.  This makes students feel depressed and bored. That’s finally increase misbehavior in school. These are typical of student’s lack of Sense of School Belonging. The aim of this study was to improve student’s sense of school belonging through gratitude training. This study was conducted using a quasi experiment with non-randomizer method and pre-test-post-test control group design with total of 50 subjects which divided into control group and the experimental group. The results of this study indicate that p <0.05, which means that Ho is rejected (p = 0,000). Pondok pesantren merupakan salah satu sarana pendidikan berbasis keagamaan dimana para santrinya harus lebih banyak mengikuti peraturan dibandingkan santri di sekolah biasa. Hal ini membuat siswa merasa tertekan dan bosan. Hal itulah yang akhirnya meningkatkan perilaku buruk di sekolah. Hal ini merupakan ciri khas dari kurangnya Sense of School Belonging (rasa memiliki sekolah) pada siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan rasa kepemilikan sekolah siswa melalui pelatihan rasa syukur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode quasi eksperimen dengan metode non-randomizer dan pre-test-post-test control group design dengan jumlah subjek 50 orang yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan p<0,05 yang berarti Ho ditolak (p=0,000).
Menurunkan Perilaku Maladaptif Pada Gangguan Skizoafektif dengan Behavioral activation Tiara Maulida; Adhyatman Prabowo
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.27385

Abstract

Schizoaffective disorder is a serious mental disorder that combines symptoms of schizophrenia with mood symptoms such as depression or mania. The main symptom of this disorder is affection problems, with possible motor movement and behavioral disorders. The study aims to develop effective treatment to reduce maladaptive behavior with behavioral activation. Assessment methods used through test and non-test techniques. Behavioral activation is a therapeutic approach that aims to overcome disorders by increasing positive activity and changing behavior patterns that hinder emotional well-being.  The results showed that behavioral activation can reduce maladaptive behavior of schizoaffective disorder. This meant that the duration of the subject's maladaptive behavior decreased as the intervention progresses until the end of the intervention. Gangguan skizoafektif adalah gangguan mental serius yang menggabungkan gejala skizofrenia dengan gejala suasana hati seperti depresi atau mania. Gejala utama gangguan ini adalah masalah kasih sayang, dengan kemungkinan gangguan gerak motorik dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pengobatan yang efektif untuk mengurangi perilaku maladaptif dengan aktivasi perilaku. Metode penilaian yang digunakan melalui teknik tes dan non tes. Aktivasi perilaku merupakan pendekatan terapeutik yang bertujuan untuk mengatasi gangguan dengan meningkatkan aktivitas positif dan mengubah pola perilaku yang menghambat kesejahteraan emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivasi perilaku dapat menurunkan perilaku maladaptif gangguan skizoafektif. Artinya, durasi perilaku maladaptif subjek menurun seiring berjalannya intervensi hingga akhir intervensi.
Mindfulness-Based Cognitive Therapy untuk meningkatkan Psychological Well-Being pada individu dewasa awal dengan emotional loneliness Ni Made Karinadevi Permata Jati; Andrian Pramadi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.27831

Abstract

This study investigates the effectiveness of Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT) in improving Psychological Well-Being (PWB) among emerging adults struggling with emotional loneliness. Emotional loneliness refers to deep feelings of isolation and a lack of meaningful emotional connections with others. This study used a mixed methods design, combining quantitative and qualitative data with research design in the form of a single-case experiment (A-B-A design). The technique used in selecting subjects is using purposive sampling technique and the study was conducted on two participants.. Participant selection was based on predefined criteria utilizing the UCLA-Loneliness Scale to gauge the levels of loneliness and Psychological Well Being Scale to know the baseline of their level of PWB. MBCT intervention was given to both participants in eight sessions with a duration of 60-90 minutes for each session. The intervention targets were the cognitive, affective, and behavioural aspects of the two participants related to the emotional loneliness they experienced. MBCT facilitated self-awareness, emotion regulation, and cognitive understanding of loneliness, leading to the development of healthier and more fulfilling emotional relationships. The results of the study show that MBCT can effectively increase psychological well-being in emerging adult whose struggling with emotional loneliness. The implication of this research is that MBCT can help individuals in the early adult age range in reducing emotional loneliness. this also depends on each individual's awareness and intention to rise from the downturn of feelings experienced. Studi ini menyelidiki efektivitas Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT) dalam meningkatkan Psychological Well-being (PWB) di kalangan orang dewasa yang berjuang dengan kesepian emosional. Kesepian emosional mengacu pada perasaan terisolasi yang mendalam dan kurangnya hubungan emosional yang bermakna dengan orang lain. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran, yaitu menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif dengan desain penelitian berbentuk eksperimen kasus tunggal (desain A-B-A). Teknik yang digunakan dalam pemilihan subjek adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling dan penelitian dilakukan terhadap dua orang partisipan. Pemilihan partisipan didasarkan pada kriteria yang telah ditentukan dengan menggunakan UCLA-Loneliness Scale untuk mengukur tingkat kesepian dan Psychological Well Being Scale untuk mengetahui dasar dari kesepian. tingkat PWB mereka. Intervensi MBCT diberikan kepada kedua partisipan dalam delapan sesi dengan durasi 60-90 menit untuk setiap sesinya. Sasaran intervensi adalah aspek kognitif, afektif, dan perilaku kedua partisipan terkait kesepian emosional yang dialaminya. MBCT memfasilitasi kesadaran diri, pengaturan emosi, dan pemahaman kognitif tentang kesepian, yang mengarah pada pengembangan hubungan emosional yang lebih sehat dan memuaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MBCT secara efektif dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pada orang dewasa baru yang berjuang melawan kesepian emosional. Implikasi dari penelitian ini adalah MBCT dapat membantu individu pada rentang usia dewasa awal dalam mengurangi kesepian emosional. Hal ini juga tergantung pada kesadaran dan niat masing-masing individu untuk bangkit dari keterpurukan perasaan yang dialami.
Terapi kursi kosong untuk meningkatkan harga diri korban perundungan Dian Putriana
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.27834

Abstract

Bullying that has been experienced in childhood often has a traumatic impact on individual. The individual becomes a person who has difficulties in many ways, including being a person who has low self-esteem. The intervention aims to increase self-esteem of the perundungan  victims by using the empty chair therapy method. This intervention has been carried out on perundungan  (21 years). The problem that clients has difficulty discovering their potential, and tend to feel inferior and weak compared to friends around them.  The intervention given was empty chair therapy with 6 therapy sessions The results obtained are empty chair therapy is effective for increasing client self-esteem. Evidenced by the increased client self-esteem scale score and the client can solve the bullying problem experienced. Bullying yang dialami pada masa kanak-kanak seringkali menimbulkan dampak traumatis bagi individu. Individu tersebut menjadi pribadi yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal, termasuk menjadi pribadi yang memiliki harga diri yang rendah. Intervensi tersebut bertujuan untuk meningkatkan harga diri korban perundungan dengan menggunakan metode terapi kursi kosong. Intervensi ini telah dilakukan pada perundungan (21 tahun). Permasalahannya yaitu klien sulit menemukan potensi dirinya, serta cenderung merasa rendah diri dan lemah dibandingkan dengan teman-teman disekitarnya. Intervensi yang diberikan adalah terapi kursi kosong dengan 6 sesi terapi. Hasil yang diperoleh adalah terapi kursi kosong efektif untuk meningkatkan harga diri klien. Dibuktikan dengan meningkatnya skor skala harga diri klien dan klien dapat mengatasi masalah bullying yang dialami.
Penerapan terapi gestalt pada remaja perempuan yang tinggal di panti asuhan dengan childhood trauma Nurdani kiki prastiti; Faridah Ainur Rohmah
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i3.27842

Abstract

Childhood trauma is an unpleasant experience of frightening, dangerous and life-threatening events—traumatic childhood experiences also the psychology and development of children from their youth to adulthood. The subject is a young girl who lives in an orphanage and has a traumatic experience related to the parenting process during childhood. The assessment method uses observation to observe her life and social relationships in the orphanage as well as additional data in psychological tests. Interviews are used to obtain comprehensive information from significant persons who have a relationship with the subject, and psychological tests use cognitive tests and personality tests with the purpose of obtaining information to help establish a diagnosis, make a prognosis and develop an intervention design. The intervention was carried out using a gestalt approach using the empty chair technique. The purpose of this intervention is to encourage the subject to face the experience of childhood trauma related to feelings of guilt that arise from being neglected. The intervention results showed that the subject can face and accept traumatic events during childhood and stop blaming herself for the events experienced during childhood. Trauma masa kanak-kanak adalah pengalaman yang tidak menyenangkan berupa kejadian-kejadian yang menakutkan, berbahaya, dan mengancam nyawa—pengalaman traumatis masa kanak-kanak juga psikologi dan perkembangan anak sejak remaja hingga dewasa. Subjeknya adalah seorang remaja putri yang tinggal di panti asuhan dan memiliki pengalaman traumatis terkait proses pengasuhan semasa kecilnya. Metode penilaiannya menggunakan observasi untuk mengamati kehidupan dan hubungan sosialnya di panti asuhan serta data tambahan dalam tes psikologi. Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi komprehensif dari orang-orang penting yang memiliki hubungan dengan subjek, dan tes psikologi menggunakan tes kognitif dan tes kepribadian dengan tujuan memperoleh informasi untuk membantu menegakkan diagnosis, membuat prognosis dan mengembangkan desain intervensi. Intervensi dilakukan dengan pendekatan gestalt dengan teknik kursi kosong. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mendorong subjek menghadapi pengalaman trauma masa kecil terkait perasaan bersalah yang muncul karena diabaikan. Hasil intervensi menunjukkan bahwa subjek dapat menghadapi dan menerima peristiwa traumatis pada masa kanak-kanaknya dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa yang dialami pada masa kanak-kanaknya.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue