cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Token Ekonomi: Metode untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada skizofrenia Syafiin, Ahmad
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.24260

Abstract

The purpose of this study aims to see whether non-adherent behavior in taking medication can be helped by Token Economy. Assessment is carried out using Interviews, Observations, Graphics, Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), WWQ and MMSE. The subject of this study was a 55-year-old client who did not adhere to the medication prescribed by the doctor, and the client became angry when he was reminded to take the medication. The subject was a Lawang Hospital patient diagnosed with schizoaffective bipolar type. The intervention given was behavior modification, namely token economy for 6 sessions. The results of the study show that clients are able to comply with the intervention regulations and take the medication on time with the given token economic intervention. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah perilaku ketidakpatuhan dalam minum obat dapat terbantu dengan adanya Token Economy. Penilaian dilakukan dengan menggunakan Wawancara, Observasi, Grafik, Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), WWQ dan MMSE. Subyek penelitian ini adalah klien berusia 55 tahun yang tidak mematuhi pengobatan yang diresepkan oleh dokter, dan klien menjadi marah ketika diingatkan untuk meminum obat tersebut. Subjek penelitian adalah pasien RSUD Lawang yang didiagnosis menderita skizoafektif tipe bipolar. Intervensi yang diberikan adalah modifikasi perilaku yaitu token economy selama 6 sesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klien mampu mematuhi peraturan intervensi dan meminum obat tepat waktu dengan token intervensi ekonomi yang diberikan.
Konseling realita untuk meningkatkan penerimaan diri pada individu dewasa Dzikry, Lataniya Fie
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.24317

Abstract

The subject is a 22 year old male with the problem of being dissatisfied with what he has now. Comparing himself to others and feeling not free with his life. The assessment method uses interviews, observations, graphic tests and self-acceptance scales. The results of the assessment are comparing oneself with others, feeling jealous of others, unable to accept circumstances, confused with oneself and unhappy. There is a feeling of dissatisfaction and not proud of oneself. The intervention used was reality counseling and there were 7 sessions. The purpose of the intervention is to help the subject realize his own needs and the subject can make the right decision. The result of the intervention is that the subject is able to accept his current situation even though sometimes he still feels confused but, the subject will still go through what he is doing now. The subject also realizes that the subject cannot be completely free because subject cannot be separated from the responsibility that the subject accepts.   Subyeknya adalah seorang laki-laki berusia 22 tahun dengan permasalahan rasa tidak puas terhadap apa yang dimilikinya saat ini. Membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa tidak bebas dengan hidupnya. Metode penilaian menggunakan wawancara, observasi, tes grafis dan skala penerimaan diri. Hasil penilaiannya adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, merasa iri terhadap orang lain, tidak mampu menerima keadaan, bingung dengan diri sendiri dan tidak bahagia. Adanya perasaan tidak puas dan tidak bangga terhadap diri sendiri. Intervensi yang digunakan adalah konseling realitas dan berjumlah 7 sesi. Tujuan intervensi adalah membantu subjek menyadari kebutuhannya sendiri dan subjek dapat mengambil keputusan yang tepat. Hasil dari intervensi tersebut adalah subjek mampu menerima keadaannya saat ini walaupun terkadang masih merasa bingung namun subjek akan tetap menjalani apa yang dilakukannya saat ini. Subjek juga menyadari bahwa subjek tidak bisa bebas sepenuhnya karena subjek tidak bisa lepas dari tanggung jawab yang diemban subjek.
Latihan keterampilan sosial: Teknik meningkatkan kemampuan interaksi sosial skizofrenia Putri, Anisa Novita
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.24445

Abstract

Subject is a man. He is 34 years old. He often alone and do not want to interact with the people around him. The assessments use interviews, observations and psychological tests (Sack Sentence Completion Test, Wechsler Adult Intelligence Scale, Grafis, Wartegg, Thematic Apperception Test). The results of the assessment and referral from the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) concluded that the subject met the diagnostic criteria for 295.90 (F20.9) schizophrenic disorder with behavioral problems. Subject was did not want to interact with people around him, the subject often daydreams and speak by his selves. The intervention was carried out social skills training. Social skills training can improve social interaction. The social interaction that is taught aims to enable the subject to interact with people around him, establish communication or inviting people to speak and make eye contact during interactions. The research results showed that subject began to be able to interact with the people around him, but did not last long because sometimes the subject still choose to be alone.  However, the subject is still accompanied with people around him.   Subyeknya adalah seorang laki-laki. Dia berusia 34 tahun. Ia sering menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Penilaiannya menggunakan wawancara, observasi dan tes psikologi (Sack Sentence Completion Test, Wechsler Adult Intelligence Scale, Grafis, Wartegg, Thematic Apperception Test). Hasil asesmen dan rujukan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) menyimpulkan bahwa subjek memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizofrenia 295,90 (F20.9) dengan masalah perilaku. Subjek tidak mau berinteraksi dengan orang disekitarnya, subjek sering melamun dan berbicara sendiri. Intervensi yang dilakukan adalah pelatihan keterampilan sosial. Pelatihan keterampilan sosial dapat meningkatkan interaksi sosial. Interaksi sosial yang diajarkan bertujuan agar subjek dapat berinteraksi dengan orang disekitarnya, menjalin komunikasi atau mengajak orang berbicara dan melakukan kontak mata saat berinteraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mulai dapat berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, namun tidak bertahan lama karena terkadang subjek masih memilih untuk menyendiri. Namun subjek tetap ditemani oleh orang-orang disekitarnya.
Meningkatkan kepercayaan diri di sekolah pada remaja panti asuhan melalui konseling kelompok perilaku Puspasari, Karisma Dewi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.25195

Abstract

Self-confidence is essential for adolescents to have at school. Self-confidence at school can optimize adolescents' self-functioning while at school, both in teaching and learning activities and when interacting with their friends and teachers. Some adolescents from orphanages are vulnerable to low self-confidence due to differences in background between themselves and other people in general. Behavioral group counseling was considered to be a solution to increase adolescents' self-confidence. This study aimed to examine the effectiveness of behavioral group counseling to increase self-confidence at school in orphanage adolescents. This quantitative one-group pretest-posttest study involves six male and female adolescent subjects living in orphanages. Behavioral group counseling consisted of 15 sessions by applying the principles of behavioral learning theory, such as modeling, roleplay, and reinforcement. The self-confidence scale refers to Lauster's self-confidence theory, which has a reliability value 0.708. Data analysis used paired sample t-test. The results obtained p = 0.00 (p < 0.01) show that behavioral group counseling is effective for increasing self-confidence at school in adolescent orphanage subjects.   Rasa percaya diri merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki remaja di sekolah. Rasa percaya diri di sekolah dapat mengoptimalkan fungsi diri remaja selama berada di sekolah, baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun saat berinteraksi dengan teman dan gurunya. Beberapa remaja panti asuhan rentan mengalami rendahnya rasa percaya diri akibat perbedaan latar belakang antara dirinya dengan orang lain pada umumnya. Konseling kelompok perilaku dinilai dapat menjadi solusi untuk meningkatkan rasa percaya diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konseling kelompok behavioral untuk meningkatkan rasa percaya diri di sekolah pada remaja panti asuhan. Penelitian kuantitatif one-group pretest-posttest ini melibatkan enam subjek remaja laki-laki dan perempuan yang tinggal di panti asuhan. Konseling kelompok perilaku terdiri dari 15 sesi dengan menerapkan prinsip-prinsip teori pembelajaran perilaku, seperti modeling, roleplay, dan penguatan. Skala kepercayaan diri mengacu pada teori kepercayaan diri Lauster yang mempunyai nilai reliabilitas 0,708. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-test. Hasil yang diperoleh p = 0,00 (p < 0,01) menunjukkan bahwa konseling kelompok behavioral efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri di sekolah pada mata pelajaran remaja panti asuhan.
Speech Your Colors!: Mengurangi Kecenderungan Social Withdrawal Pada Anak Usia 6-10 Levi, Tifara; Jesslyn, Anastasia; Hadibroto, Marissa Gabriele; Cheriselyn, Jessica Natalie; Yulianto, Jony Eko
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.27867

Abstract

This study conducts an intervention in the form of an innovative and interactive game titled Speech Your Colors! to reduce the tendency of social withdrawal in children aged 6-10.  The participants for this intervention consisted of 33 second grade students from Sekolah Citra Berkat, Surabaya. This game was conducted for a single session with the duration of 90 minutes with supervision and direct data collection done by the research team and homeroom teacher as a spectator. A one-group posttest design was used which included items from the HQ-25 scale for social withdrawal. Results received from the observation, feedback, and posttest show that participants developed the desire to continuously interact with their peers whereas they tend to avoid social interactions beforehand. In addition, participants report positive feelings towards the intervention process as well as towards their peers. Therefore, it can be concluded that Speech Your Colors! can effectively decrease social withdrawal tendencies in children aged 6-10.   Penelitian ini melakukan intervensi berupa permainan inovatif dan interaktif bertajuk Speech Your Colors! untuk mengurangi kecenderungan penarikan diri dari pergaulan pada anak usia 6-10 tahun. Peserta intervensi ini terdiri dari 33 siswa kelas dua Sekolah Citra Berkat, Surabaya. Permainan ini dilakukan dalam satu sesi dengan durasi 90 menit dengan pengawasan dan pengumpulan data langsung yang dilakukan oleh tim peneliti dan wali kelas sebagai penonton. Desain posttest satu kelompok digunakan yang mencakup item dari skala HQ-25 untuk penarikan diri dari sosial. Hasil yang diperoleh dari observasi, feedback, dan posttest menunjukkan bahwa partisipan mengembangkan keinginan untuk terus berinteraksi dengan teman sebayanya sedangkan mereka cenderung menghindari interaksi sosial sebelumnya. Selain itu, peserta melaporkan perasaan positif terhadap proses intervensi serta terhadap rekan-rekan mereka. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Speech Your Colors! dapat secara efektif mengurangi kecenderungan penarikan diri dari pergaulan pada anak usia 6-10 tahun.
Meningkatkan kemampuan membaca kalimat pada anak mild intellectual disability dengan pendekatan modifikasi perilaku Nurshadrina, Amanda; Primana, Linda
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.28253

Abstract

A school-age child with Mild Intellectual Disability (ID) is categorized as an educable child. Nevertheless, he usually has learning difficulties, especially in reading, which is the foundation for mastering the other subjects. Teachers and parents reported that subjek, a 10 years old boy, had some difficulties in learning that made him left behind compared to his classmates in 4th grade of public elementary school. The data was collected through observation, interview, informal tests, and psychological assessments, such as Colored Progressive Matrices (CPM), Stanford-Binet Intelligence Scale (SBIS), Goodenough-Harris Drawing Test, and American Association on Mental Deficiency Adaptive Behavior Scale (AAMD ABS). The intervention carried out aimed to improve the subject’s ability in reading simple sentences using behavior modification approach. Results of the intervention showed that behavior modification approach, which includes shaping, prompting, modeling, and manipulation antecedents, was effective in increasing the reading ability of a child w mild ID.   Anak usia sekolah dengan Disabilitas Intelektual (ID) Ringan dikategorikan sebagai anak yang dapat dididik. Meski demikian, ia biasanya mengalami kesulitan belajar, terutama dalam membaca yang merupakan landasan penguasaan mata pelajaran lainnya. Guru dan orang tua melaporkan bahwa subjek, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, mengalami kesulitan belajar yang membuatnya tertinggal dibandingkan teman-teman sekelasnya di kelas 4 SD Negeri. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, tes informal, dan penilaian psikologis, seperti Colored Progressive Matrices (CPM), Stanford-Binet Intelligence Scale (SBIS), Goodenough-Harris Drawing Test, dan American Association on Mental Deficiency Adaptive Behavior Scale ( AAMD ABS). Intervensi yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan subjek dalam membaca kalimat sederhana dengan menggunakan pendekatan modifikasi perilaku. Hasil intervensi menunjukkan bahwa pendekatan modifikasi perilaku yang mencakup anteseden pembentukan, dorongan, pemodelan, dan manipulasi efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca anak berkebutuhan khusus ringan.
Efektivitas metode Picture Exchange Communication System (PECS) untuk meningkatkan perbendaharaan kata pada anak dengan Autism Spectrum Disorder Rusli, Rusdi; Rafiah, Rafiah; Safitri, Jehan
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v11i4.28382

Abstract

This study aims to investigate the effectiveness of the Picture Exchange Communication System (PECS) method in increasing vocabulary in children with autism spectrum disorder level 2. The hypothesis put forward in the study is that the PECS method is effective in increasing vocabulary in children with autism spectrum disorder level 2. The research method was a quasi-experiment with a one-group pretest posttest design. Data were collected using, observation, and interviews. The test tools for the assessment included the Coloured Progressive Matrices (CPM) test and the Binet test, the Children Autism Rating Scale (CARS), and the Vineland Social Maturity Scale (VSMS) test. Data were analyzed using the Paired Sample t-test and the results showed a significance level of 0.02 (smaller than 0.05), Based on the results of the study, it can be concluded that the PECS method is effective in increasing vocabulary in children with autism spectrum disorder level 2.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Picture Exchange Communication System (PECS) dalam meningkatkan kosa kata pada anak dengan gangguan spektrum autisme level 2. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah metode PECS efektif dalam meningkatkan kosa kata pada anak autis. gangguan spektrum tingkat 2. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain one-group pretest posttest. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan wawancara. Alat tes yang digunakan dalam penilaian antara lain tes Colored Progressive Matrices (CPM) dan tes Binet, Children Autism Rating Scale (CARS), dan tes Vineland Social Maturity Scale (VSMS). Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample t-test dan hasilnya menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,02 (lebih kecil dari 0,05), Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode PECS efektif dalam meningkatkan kosakata pada anak autis. gangguan spektrum tingkat 2.
Picture Exchange Communication System (PECS) untuk meningkatkan komunikasi pada anak autisme Doho, Saraswati Stefannie; Wulandari, Primatia Yogi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i3.28981

Abstract

Autism is a person condition who have disruption of interaction, communication, and behavior. In this study, a five years old subject experienced problems in communication of which whimper of willing something instead of expressing it. This condition is reported by the teacher and parents that happens in school and home. The subject cannot say what he wanted to others. The subject try to attract someone hand to show the stuff or something he want but others do not understand it. The aim of this research is to improve communication skills in autistic children. The hypothesis in the research does PECS (Picture Exchange Communication System) have an effect on communication in children with autism. The method used in this research was study case. The assessment methods were observation, interviews, and childhood autism rating scale. The intervention given to help subject communicate what he wanted by the help of picture card. The result of this intervention showed that the subject can communicate his willingness by the picture given. Autisme merupakan suatu kondisi seseorang yang mengalami gangguan dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Pada penelitian ini, subjek berusia lima tahun mengalami masalah dalam berkomunikasi yaitu merengek-rengek menginginkan sesuatu alih-alih mengungkapkannya. Kondisi ini dilaporkan oleh guru dan orang tua yang terjadi di sekolah dan di rumah. Subjek tidak dapat mengatakan apa yang diinginkannya kepada orang lain. Subjek mencoba menarik perhatian orang lain untuk menunjukkan barang atau sesuatu yang diinginkannya tetapi orang lain tidak memahaminya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keampuan komunikasi pada anak autis. Hipotesis dalam penelitian ini adalah apakah PECS (Picture Exchange Communication System) berpengaruh terhadap komunikasi pada anak autis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Metode penilaian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan childhood autism rating scale. Intervensi yang diberikan adalah untuk membantu subjek mengomunikasikan keinginannya dengan bantuan kartu bergambar. Hasil intervensi ini menunjukkan bahwa subjek dapat mengomunikasikan keinginannya melalui gambar yang diberikan.
Cognitive behavior therapy untuk menurunkan gejala gangguan cemas menyeluruh pada remaja Ningsih, Windar; Hidayati, Erny
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29000

Abstract

Generalized anxiety disorder is characterized by excessive and uncontrollable anxiety, worrying about various events and activities. The symptoms that the subject agitated, anxious or tense, unable to stop or control the worry, having difficulty relaxing, and feeling afraid something terrible might happen. The subject is a 15 year old who was a victim of bullying. The aim of this case study is to reduce the symptoms of generalized anxiety disorder through cognitive behavioral therapy. The data collection methods used were interviews, observation and psychological tests. The intervention was cognitive behavior therapy with mind over mood techniques. The aim of the intervention to change his cognitive distortions and develop positive thoughts. The results of the intervention showed that cognitive behavior therapy was effective in reducing the symptoms of generalized anxiety disorder, which was marked by a decrease in the GAD-7 score from 18 to 8. Gangguan kecemasan umum ditandai dengan rasa cemas yang berlebihan dan tidak terkendali, khawatir terhadap berbagai kejadian dan aktivitas. Gejalanya yaitu subjek gelisah, cemas atau tegang, tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir, sulit bersantai, dan merasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk. Subyeknya adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang menjadi korban bullying. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengurangi gejala gangguan kecemasan umum melalui terapi perilaku kognitif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan tes psikologi. Intervensi yang dilakukan adalah terapi perilaku kognitif dengan teknik mind over mood. Tujuan intervensi untuk mengubah distorsi kognitifnya dan mengembangkan pikiran positif. Hasil intervensi menunjukkan terapi perilaku kognitif efektif mengurangi gejala gangguan kecemasan umum yang ditandai dengan penurunan skor GAD-7 dari 18 menjadi 8.
Digital minimalism sebagai upaya untuk meningkatkan kontrol diri pada karyawan generasi milenial Nulipata, Muslimin; Rukmana, Gilang Mukti; Febrianto, Ahmad Malik; Attara, Sephia Caesaria
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i2.29581

Abstract

Low self-control causes many activities to use gadgets that are not focused on benefits. As an alternative solution, digital minimalism is here to direct the self-control of the millennial generation so they can maximize the function of gadgets in their work life. This study aims to find out how effectively digital minimalism can increase self-control in the millennial generation in the world of work. The method used in this study is a mixed method with a sequential exploratory strategy. The results of the study reveal that there is an influence of digital minimalism lifestyle on self-control in millennial generation employees. Employees with a digital minimalism lifestyle tend to show higher self-control compared to employees who do not adopt this lifestyle. Practically the results of this study can be used as a reference for increasing the productivity of millennial generation employees.Rendahnya pengendalian diri menyebabkan banyak aktivitas penggunaan gadget yang tidak fokus pada manfaat. Sebagai alternatif solusi, digital minimalis hadir untuk mengarahkan pengendalian diri generasi milenial agar bisa memaksimalkan fungsi gadget dalam kehidupan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif digital minimalis dapat meningkatkan pengendalian diri generasi milenial di dunia kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran dengan strategi eksplorasi sekuensial. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh gaya hidup minimalis digital terhadap pengendalian diri pada karyawan generasi milenial. Karyawan dengan gaya hidup digital minimalis cenderung menunjukkan pengendalian diri yang lebih tinggi dibandingkan karyawan yang tidak menerapkan gaya hidup tersebut. Praktisnya hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan produktivitas karyawan generasi milenial.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue