Articles
249 Documents
DINAMISME TEKS: Menimbang Prinsip Naskh Masyrut
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.912
Artikel ini membahas mengetengahkan salah satu penafsiranpaling mutakhir mengenai naskh yang mengemuka di dalammilieu penafsir Syiah kontemporer, yakni naskh masyru>t}(abrogasi kondisional-temporal). Teori naskh masyrut} ini semakinmengukuhkan relevansi ajaran-ajaran al-Qur’an untuk berbagairuang dan waktu, mengingat ia mengandaikan adanya geraksirkular tiada henti, yang pada gilirannya menolak segala bentukklaim “pembekuan” ataupun “pembatalan” teks secara fial danselamanya. Dengan demikian, teks al-Qur’an akan bergeraksecara dinamis, karena penerapan ajaran-ajarannya terjadi melaluigerak menanjak, yakni dari konteks historis menuju teks, bukanmalah sebaliknya. Namun demikian, teori ini masih memerlukanpematangan dan perumusan lebih lanjut, mengingat masihditemukannya sejumlah kelemahan si dalamnya, seperti belumjelasnya hingga saat ini tolak ukur suatu ayat dapat dikateorikansebagai bagian dari naskh masyrut > } dan masih beragamnya ayat-ayatyang masih diperdebatkan di antara para pakar sisi ke-mansu>khannya.
Kesetaraan Gender dalam Islam Perspektif Hermeneutika Muhammad Syahrur
Izzad, Rahmatul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6076
Sejak abad ke-20 hingga abad ke-21, model penafsiran feminis berkembang pesat. Mayoritas penafsir feminis, baik laki-laki atau pun perempuan, mengkritik sentralitas laki-laki dalam melakukan penafsiran al-Qur’an, mereka menekankan argumentasi bahwa bias gender penafsir hingga kini masih didominasi pria, sebagian besar telah membentuk paradigma pemahaman al-Qur’an dan Islam secara umum. Berbeda dengan feminis sekuler, sarjana feminis Muslim tidak menolak Islam itu sendiri. Sebaliknya, mereka mengacu pada al-Qur’an dan sunah Nabi untuk mendukung klaim mereka bahwa al-Qur’an perlu ditafsirkan kembali. Penelitian ini secara khusus mencoba mengkaji dan menelusuri konsep kesetaraan gender dalam Islam, khususnya dalam perspektif pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Penelitian ini menganalisis tentang bagaimana sesungguhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, apakah pandangan-pandangan ulama masa lalu masih relevan dalam memposisikan status laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, penelitian ini mencoba melakukan pembacaan kontemporer terhadap konsep kesetaraan gender dalam Islam, yang secara khusus mengacu pada pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Atas dasar tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis-hermeneutik. Melalui hermeneutika Syahrur, peneliti membedah secara kritis hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam, serta dilakukan pembacaan kontemporer terhadapnya. Sehingga diharapkan mampu mengahasilkan sebuah produk pemikiran baru tentang gender dalam Islam yang lebih kontekstual dan sesuai dengan dinamika zaman.
REFORMULASI TAFSIR IJTIMA’I DALAM MENJAWAB PROBLEMATIKA SOSIAL
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.879
Tulisan ini membahas tentang tafsir ijtima’i. Tulisan ini penting karena sesungguhnya kehidupan dunia ini terus berlangsung, berbagai peristiwa dan persoalan kehidupan terus bergulir dari masa ke masa yang akan selalu menuntut penyelesaiannya. Pada hakikatnya ketika Nabi Muhammad diutus maka segala bentuk persoalan akan selesai dengan otoritas kenabiannya, tapi sudah pasti solusi yang ditawarkan oleh beliau adalah merupakan jawaban dari respon sosial pada zamannya. Segala bentuk persoalan akan terjawab sesuai kondisi dan situasi yang ada pada saat itu. Artikel ini mencoba menyajikan suatu gagasan tafsir dengan pendekatan sosial, oleh karena itu setiap persoalan yang hadir mungkin bisa memiliki kesamaan esensi, tapi mungkin juga persoalan yang hadir dikemudian merupakan persoalan yang baru yang menuntut untuk segera direspon sesuai pemahaman keagamaan yang bersumber dari teks al-Qur’an. Hasilnya adalah bahwa perlu bagi seorang mufassir untuk menghadirkan interpretasi teks yang mampu menjawab problematika sosial yang terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Mufassir harus mengetahui berbagai situasi dan kondisi yang mengitari dinamika persoalan sosial yang berkembang, sehingga seorang mufassir dapat menghadirkan jawaban yang tepat sesuai dengan kebutuhan zaman sebagaimana fungsi al-Qur’an yang senantiasa sesuai dengan space and time (salih un likulli zaman wa makan).
Eksistensi Hijrah Dalam Al-Qur’an dan Tafsir (Studi Pemikiran M. Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Mishbah)
Akhmadiyah, Solikatul;
Sari, Febri Nur Intan;
Ilma, Syafinatul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.9941
AbstractThis article aims to explain about the hijrah movement which is a social phenomenon that is widely discussed in society. The hijrah movement marks a phase of the journey in humans, especially the millennial generation who participates in enlivening the movement of Islamic studies in Indonesia. The research approach using literature study collects various information related to the existence of hijrah in the millennial generation. Hijrah events in Islam can be interpreted in the context of territorial hijrah, spiritual and intellectual hijrah, and behavioral hijrah. There is a shift in behavior and actions, such as moving from ignorant behavior to Islamic behavior or leaving everything that is forbidden by Allah and changing towards what Allah commands and is pleased with. The millennial generation has its own challenges to be able to carry out hijrah based on the sincerity of the intention to emigrate in the way of Allah SWT as proof of a servant's faith in Allah SWT. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang gerakan hijrah yang merupakan fenomena sosial yang marak diberbincangkan dalam masyarakat, Gerakan hijrah menandai adanya fase perjalanan dalam diri manusia, khususnya generasi milenial yang ikut serta dalam meramaikan pergerakan kajian Islam di Indonesia. Hijrah disatu sisi bersifat positif akan tetapi disisi lain juga dapat bersifat negatif apabila disalah fahami oleh generasi milenial. Pendekatan penelitian yang menggunakan studi kepustakaan mengumpulkan berbagai informasi terkait eksistensi hijrah pada generasi millenial. Peristiwa hijrah dalam Islam dapat dimaknai menjadi tiga. Pertama, konteks hijrah teritorial. Kedua, Hijrah Nafsiyah, perpindahan secara spiritual dan intelektual dari kekafiran kepada keimanan. Ketiga, Hijrah Amaliyah, perpindahan perilaku dan perbuatan seperti perpindahan dari perilaku jahiliyah kepada perilaku Islam atau meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah dan berubah menuju kepada yang diperintahkan dan diridhai-Nya. Generasi milenial memiliki tantangan tersendiri untuk dapat melaksanakan hijrah yang dilandasi dengan ketulusan niat berhijrah di jalan Allah Swt sebagai bukti keimanan seorang hamba kepada Allah Swt.
MAKNA “MARADH AL-QULUB” DALAM AL-QUR’AN
Karim, Abdul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5526
Tulisan ini membahas tentang Maradh al-Qulub yang sering disebut dengan Penyakit hati, penulis mencoba menggunakan pendekatan semantik dan konten analisis untuk menemukan makna yang relevan dengan dinamika kekinian. Bahwa penyakit hati di sini yang dimaksud sesungguhnya bukanlah suatu penyakit hati dhohir atau jasmani, namun yang dimaksud adalah penyakit mental yang banyak diderita oleh semua level manusia baik orang awam maupun para ilmuan, intelektual dan agamawan. Hasilnya adalah bahwa penyakit hati sesungguhnya telah menjadi wabah yang menghawatirkan di zaman sekarang ini, dikarenakan suatu mentalitas yang lemah dalam memahami esensi ajaran agama Islam tentang makna keikhlasan dalam perbuatan dan kelemahan iman dalam memposisikan diri sebagai manusia yang harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah swt.
EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN dAN RELEVANSINYA dALAM STUdI AL-QUR’AN
Lubis, Agus Salim
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.904
Artikel ini mengangkat tema tentang epistemologi ilmu dalamal-Qur’an. Ilmu sesungguhnya telah banyak diperbincangkandalam untaian ayat-ayat suci al-Qur’an, namun banyak di antarakita belum mengerti hakikat ilmu itu sendiri. Tema ini bertujuanuntuk menunjukkan bahwa al-Qur’an sesungguhnya mengandungbanyak ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam ayatayat kauniyah. Untuk itu penulis membahas tema ini denganmenggunakan metode falsaf untuk mengungkap kebenaran alQur’an dalam mengungkap aspek-aspek pengetahuan. Hasilnyaadalah suatu metode keilmuan yang ditawarkan oleh al-Qur’anmemiliki banyak ragam yaitu berupa metode observasi (baya>ni),metode demonstratif (burha>ni) dan metode intuitif (‘irfa>ni).Semua metode tersebut merupakan metode epistemologis dalammengungkap hakikat ilmu pengetahuan tersebut.
Kisah Dakwah Nabi Shaleh Perspektif Strukturalisme Naratologi Aj Greimas: Kajian Semiotika Terhadap Qs. As-Syu’ara: 141-158
Reza, Ainullah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6021
This article examines the story of the Prophet Shaleh’s dakwah to the Thamud recorded in the QS. as-Syu'ara: 141-158 in semiotic perspective. The theory of AJ Greimas' naraotogical structuralism is used to identify the discourses inherent in the story. it also explains the narrative structure of the story in order to trace the values and ideologies contained by analyzing the actal schemes and their functional structures. The propagation story of the Prophet (pbuh) to the Thamud actually tells a very 'humanistic' problem, a heart that tends to be inconsistent to the truth because of the intervening materialistic tendencies. The solution offered in the story avoids the possibility of materialistic intervention and dedicates itself to the good. Whether it's a vertical goodness (to God) or a horizontal (to fellow creatures). Through Greimas's semiotics perspective, the story not only attempts to convey the meaning of obedience or piety and the disobedience of a righteous thing, but also emphasizes the moral dimension and credibility of human. The words of the Holy Prophet Shaleh in verse 153 lead to the value of environmentalist, the attitude of preserving and preserving the environment. In addition, the story leads to a psychological dimension, that the person who dedicates himself to the goodness tends to be anti-materialistic. It is seen in the self of the Holy Prophet Shaleh who does not expect anything at all except the obedience of the Thamud.
URGENSI PENDEKATAN SEMANTIK DALAM TAFSIR (STUDI PEMIKIRAN TOSHIHIKO IZUTSU)
Lubab, Nafiul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4504
Tulisan ini mengkaji tentang penafsiran Toshihiko yang menggunakan analisa semantik dalam memahami al Qur’an. Kajian semantik dalam al Qur’an telah mengungkap fakta bahwa makna yang terdapat dalam teks dapat menunjukkan karakteristik masyarakat, sehingga analisa semantik dapat dengan mudah mengenal sosial-budaya dari masyarakat tersebut. Kajian ini adalah penelitian pustaka yang menggunakan rujukan buku-buku induk dari Toshihiku sebagai rujukan primer dengan menggunakna semantik sebagai analisa dalam membaca pesan al Qur’an, sehingga hasil yang didapat ialah dalam memahami al Qur’an seorang harus memahami pesan secara utuh dalam teks al Qur’an itu sendiri, karena masing-masing teks saling menafsirkan, dan bahasa yang digunakan menunjukkan orisinalitas dari Tuhan sebagai media dalam menjalankan aturan agama.
Theologi Kebatinan Nu‘Mān Ibn Ḥayyūn Dalam Penafsiran Safīnah Dan Fulk Pada Kitab Asās Al-Ta’wīl
Husen, Mohammad;
Luthfillah, Dluha
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.9940
This article focuses on the meaning of Nu'mān ibn Ḥayyūn for the words al-safinah and al-fulk in the Asās al-Ta'wil book. It also explains, using Gadamer's hermeneutical theory, the way Nu'man's interpretation on safīnah and fulk appears and how its historical relevance in Nu'mān's life. Nu'mān is a ta'wīl expert from the Syī'ah Ismā'īliyyah group who has produced many scientific works. The Asās al-Ta'wīl, contains Nu'man's interpretation of the stories of the prophets, which are the philosophical, spiritual and 'essence' of the al-Qur'an. The academic problem of this research originated from Nu'mān's representation of the word safīnah in Q.S. 29:15 concerning the ark of the Prophet Nūḥ. He interprets Safinah as proselityzing science / truth. Da'wah al-ḥaq is like a boat swinging over the ocean of knowledge. In his interpretation, there is a bias of Shī'ah ideology which is only carried out by Nu'mān, not other Shi'ite scholars. This study uses a hermeneutical approach with Gadamer's theory. This theory is used to explore the internal and extrenal aspects of the text that influence the results of Nu'mān Ibn Ḥayyūn's representations.
Menelusuri Akar Perbedaan Tafsir Tentang Kepemimpinan Non Muslim(Studi Analisis Linguistik QS. Al-Mâidah: 51)
Fuqoha, Fuqoha
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4788
This study discusses the interpretation for QS. Al-Mâidah: 51. Research using qualitative and analytical literature finds that there are two models of interpretation for that verse. The first model mentions that the meaning of auliyâ is common which can include leadership, close friends and administrators. That is, it is not permissible to appoint non-Believer as leaders. The second model states that the meaning of auliyâ’ is a secret leak that causes non-Muslims to know the weaknesses of Muslims. The meaning in this verse according to the second opinion is specifically for hypocrites only.