Articles
223 Documents
Theologi Kebatinan Nu‘Mān Ibn Ḥayyūn Dalam Penafsiran Safīnah Dan Fulk Pada Kitab Asās Al-Ta’wīl
Husen, Mohammad;
Luthfillah, Dluha
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.9940
This article focuses on the meaning of Nu'mān ibn Ḥayyūn for the words al-safinah and al-fulk in the Asās al-Ta'wil book. It also explains, using Gadamer's hermeneutical theory, the way Nu'man's interpretation on safīnah and fulk appears and how its historical relevance in Nu'mān's life. Nu'mān is a ta'wīl expert from the Syī'ah Ismā'īliyyah group who has produced many scientific works. The Asās al-Ta'wīl, contains Nu'man's interpretation of the stories of the prophets, which are the philosophical, spiritual and 'essence' of the al-Qur'an. The academic problem of this research originated from Nu'mān's representation of the word safīnah in Q.S. 29:15 concerning the ark of the Prophet Nūḥ. He interprets Safinah as proselityzing science / truth. Da'wah al-ḥaq is like a boat swinging over the ocean of knowledge. In his interpretation, there is a bias of Shī'ah ideology which is only carried out by Nu'mān, not other Shi'ite scholars. This study uses a hermeneutical approach with Gadamer's theory. This theory is used to explore the internal and extrenal aspects of the text that influence the results of Nu'mān Ibn Ḥayyūn's representations.
Menelusuri Akar Perbedaan Tafsir Tentang Kepemimpinan Non Muslim(Studi Analisis Linguistik QS. Al-Mâidah: 51)
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4788
This study discusses the interpretation for QS. Al-Mâidah: 51. Research using qualitative and analytical literature finds that there are two models of interpretation for that verse. The first model mentions that the meaning of auliyâ is common which can include leadership, close friends and administrators. That is, it is not permissible to appoint non-Believer as leaders. The second model states that the meaning of auliyâ’ is a secret leak that causes non-Muslims to know the weaknesses of Muslims. The meaning in this verse according to the second opinion is specifically for hypocrites only.
Al-Ashil wa Al-Dakhil fi Tafsir
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3902
Allah menurunkan al-Qur`an sebagai petunjuk hamba-hambanya yang mau beriman, sedangkan petunjuk yang diturunkan-Nya masih bersifat global, sehingga perlu menggali apa yang terkandung didalamnya. Setelah Rasulullah saw. wafat muncul mufassir-mufassir yang ingin mencoba menggali kandungan al-Qur`an sehingga bisa diaplikasikan dengan mudah. Setiap mufassir menggunakan metode berbeda untuk menyelami kandungan dari ayat-ayat al-Qur`an, bahkan ada yang menggunakan metode yang dianggap para ulama tidak dibenarkan seperti memasukkan cerita-cerita Israiliyyat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya. Oleh karena itu untuk mengetahui hal tersebut kita harus mengkaji al-Asil wa al-Dakhil fi Tafsir.
Tafsir Era Millenial: Kajian Atas Penafsiran KH.Sya’roni Ahmadi di Channel Youtube Official Menara Kudus
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7796
This article discusses interpretations in the millennial era especially in Kudus, such as the study of the interpretation of K.H. Sya’roni Ahmadi which makes the Official YouTube Channel of Menara Kudus as the medium. In the YouTube content the Menara Kudus Official Channel carries the study of commentasries K.H. Sya’roni Ahmadi by utilizing the current development. Studies that are well understood in all circles are not only limited to the conceptual and contextual, but rather combining the two that make an advantage of the study of interpretation K.H. Sya’roni Ahmadi. He uses the deriction of the qibla in the interpretation on the YouTube Channel with various steps which are certainly different from the presentation of other commentary studies. To analyze, the writer needs to use a descriptive qualitative approach in gathering existing information and knowing the sosio-historical approach in terms of the study interpretation, through sociologi theory from study that can uncover society’s problems and oral tradition theory in the delivery of interpretive studies.
AMAR MA’RUF NAHY MUNKA MENURUT AL - QUR’AN: Kajian Semantik
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.926
Kajian semantik dalam pembacaan al-Qur’an sejatinya telahdikenal sejak masa sahabat, dengan Ibn Abbas sebagai tokohnya.Pada fase selanjutnya, banyak mufassir muslim yang turutmengaplikasikan kajian semantik ini, seperti az-Zamakhsyari,ataupun dari kalangan outsider seperti Toshihiko Izutsu. Melaluipengkajian semantik diperoleh bahwa kata ma’ru>fdan khairmemiliki makna yang berbeda, meski secara leksikal keduanyasama-sama menunjukkan arti kebaikan. Ma’ru>fsecara formalberada pada posisi yang bertentangan dengan munkar. Amarma’ru>f nahy munkarini seharusnya diaplikasikan secara persuasifdalam bentuk yang baik, karena seruan menuju nilai-nilai Ilahitidak boleh dipaksakan.
STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRA JOHN WONSBROUGH TENTANG HISTORISITAS AL- QUR’AN
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.894
Tulisan ini tentang orientalisme yang terfokus pada kajianpemikiran John Wansbrough terhadap al-Qur’an. Kajian inibertujuan untuk membongkar kontroversialitas John Wansbroughdalam mengkaji al-Qur’an. Penulis menggunakan pendekatankonten analisis terhadap pemikiran John Wansbrough. Iaadalah seorang Orientalis dalam studi Islam. Hasilnya adalahterungkapnya pemikiran kritis seorang orientalis dalam mengkajial-Qur’an, ia mengkaji tentang historisitas al-Qur’an denganmenggunakan dua metode yaitu metode critical of historis danmetode literary criticism. Dua metode tersebut yang kemudianmenghasilkan sebuah kesimpulan yang sangat kontroversialdalam pembacaannya terhadap kitab suci al-Qur’an. Denganmetode critical of histories ia mengatakan bahwa kisah yangtermuat dalam al-Qur’an dianggap merupakan duplikat dari kisahyang ada dalam bible. Menurut Wansbrough al-Qur’an sebagaiwahyu yang diturunkan Tuhan kepada nabi Muhammad sawadalah kepanjangan dari kitab Taurat. Masih banyak lagi hasil daripemikiran seorang John Wonsbrough yang mengundang responpro dan kontra di kalangan outsider dan insider. Kajian tersebutharus dapat membangkitkan minat umat Islam terhadap kajian alQur’an yang lebih mendalam lagi.
IblIs Dan Upayanya Dalam menyesatka manUsIa Dalam perspektIf al-QUr’an
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.917
Artikel ini membahas tentang permusuhan Iblis kepada Adam,yang bertujuan untuk mengungkapkan track record Iblisdalam menyesatkan manusia. Iblis adalah salah satu pemeranantagonis dalam berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini,segala yang diasumsikan sebagai kejadian dan tindakan buruksering kali dialamatkan kepada iblis. Di sinilah penulis mencobamenggunakan pisau analisis critical of historis dan content ofanalism hasilnya adalah terkuaknya berbagai peran Iblis terkaitpermusahan abadinya dengan Nabi Adam yang berimbas kepadakutukan Iblis terhadap Adam yang akan menjerumuskan semuaketurunan Adam ke jalan kesesatan. Iblis akan selalu berusahauntuk membuat manusia lupa dari mengingat Allah. Segalaupaya Iblis dalam menyesatkan manusia akan menjadi tantanganuntuk melawan hegemoninya dengan senantiasa memaksimalkanpotensi manusia berupa akal dan hati agar memiliki kesadaranuntuk tetap berada di jalan yang lurus.
Maqâshid Al-Qur’ân Dalam Ayat Penggunaan Media Sosial Menurut Penafsiran M. Quraish Shihab
Arifin, Johar
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6078
Artikel ini mengulas penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat penggunaan media sosial dalam perspektif maqâshid al-Qur’ân. Tulisan ini hendak menjawab dua persoalan utama terkait bagaimana perspektif maqâshid al-Qur’ân Quraish Shihab dan bagaimana aplikasi teoretik maqâshid al-Qur’ân Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat penggunaan media sosial. Artikel ini sampai pada kesimpulan bahwa menurut Quraish Shihab ada enam unsur gugusan besar tujuan universal al-Qur’ân yaitu penguatan akidah, manusia sebagai khalifah, kitab pemersatu, penegakan hukum, penyeru kepada ummatan wasathan, dan menguasai peradaban dunia. Kualitas informasi terletak pada kekuatan dimensi tauhid yang merupakan puncak tertinggi dari maqâshid Alquran. Quraish Shihab menawarkan enam diksi pilihan Alquran yang sesuai dengan kondisi penerima informasi dalam berinteraksi di media sosial. Demikian, bertujuan mengantarkan pada pengetahuan dan pemahaman terhadap apa yang disampaikan dalam menjalankan misi manusia sebagai khalifah, pemberi pencerahan lewat lisan dan tulisan, penegakan hukum, pemersatu umat manusia dan alam semesta menuju ummatan wasathan dan penguasaan peradaban dunia.
KONSEP WAHYU AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF NASR HAMID ABU ZAID
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.885
Artikel ini mengeksplorasikan tentang konsep wahyu yangnotabenenya merupukan salah satu pemikiran yang sangatmenonjol dari pemikiran Abu> Zaid. Tujuan penulisan artikel iniuntuk memahami bahwa wahyu (al-Qur’an) itu diturunkan secaramaknawi kepada Jibril, sedangkan lafaznya (teks) dari Jibril danMuhammad yang meriwayatkannya dan mengolahnya. Selainitu, menurutnya bentuk wahyu yang diturunkan kepada NabiMuhammad Saw. dalam bentuk ilham. Karena Allah menurunkanal-Qur’an ke dalam hati Muhammad. Hasil penelitian singkatdalam artikel ini adalah bahwasanya Abu> Zaid membahasMuhammad sebagai penerima wahyu pertama, berarti tidakmembicarakannya sebagai penerima pasif. Apa yang diturunkankepada Nabi Muhammad Saw. tidak murni lagi sebagai wahyuIlahi, tapi sudah diekspresikan dalam kemampuan intelektual danlinguistik Muhammad Saw., sehingga ia menyimpulkan al-Qur’ansebagai “spirit wahyu”. Karena ia berubah dari tanzil > menjadi ta’wi>l,dari wahyu menjadi teks. Dalam pandangannya, kebenaran wahyutidak bisa dianggap sakral, karena Muhammad sebagai penerimawahyu pertama sekaligus penyampai wahyu (al-Qur’an) adalahbagian dari realitas dan masyarakat. Ia adalah buah dan produkmasyarakat.
Instagram Sebagai Media Transfer Ilmu Al-Quran Dan Hadis
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5532
Diera globalisasi ini, dimana perkembangan teknologi informasi berkembang pesat sangat membantu manusia dalam mengakses semua informasi yang dibutuhkan.Bermuculan model tekhnologi-tekhnologi yang semakin memikat manusia dengan iming-iming kecanggihan dan fasilitas. Mulai dari facebook, twitter, blog, instagram dan masih banyak yang lainnya. Salah satu media yang sedang populer adalah instagram. Beberapa orang atau tokoh agamawan Islam memanfaatkan instgram ini untuk memosting hal-hal yang berkaitan dengan ilmu qur’an dan hadis. Hasilnya mendapat tanggapan yang sangat positif dari masyarakat.Salah satu akun intagram yang hampir setiap hari memosting hal-hal yang berkaitan dengan ilmu quran dan hadis adalah nu online .Itu merupakan wadah untuk belajar agama dengan mudah, dan efisien bagi semua kalangann maasyarakat.