cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 249 Documents
INTERPRETASI KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED: SEBUAH PENYEMPURNAAN TERHADAP GAGASAN TAFSIR FAZLUR RAHMAN Naf’atu, Lien Iffa
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.884

Abstract

Artikel ini mengekplorasikan tentang pemikiran Abdullah Saeedtentang interpretasi kontekstual. Tujuan penulisan artikel iniadalah untuk menjawab kegelisahan Saeed sendiri maraknya tafsirtekstual-literal. Sebagai tandingan dari kecenderungan itu, diamenawarkan tafsir kontekstual yang mengambil banyak inspirasidari Rahman. Sedangkan, fokus penafsiran Saeed adalah kepadaayat-ayat etika hukum. Hasil penelitian ini adalah adanya upayayang dilakukan Saeed dalam mengembangkan tafsir kontekstualini, meskipun tidak secara eksplisit dinyatakannya sebagai pelanjutkerja Rahman tapi jejak-jejaknya bisa ditemui dengan jelas padapemikirannya. Saeed telah menerjemahkan gagasan Rahmandalam kerangka kerja yang lebih rigid. Kemudian, melalui hirarkinilainya, dengan berangkat dari inspirasi pemikiran klasik danRahman, dia telah menyelesaikan persoalan berkaitan denganpenentuan mana makna yang universal dan yang partikular. Disinilah sesungguhnya sumbangan Saeed dalam kancah pemikirankontemporer, khususnya di antara kaum kontekstualis.
Takut Kepada Allah Dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Sufistik Ayat-Ayat Khasyyatulla>H fikar, zul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5561

Abstract

Agama Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya agar selalu takut kepada Allah dalam sendi kehidupannya. Namun demikian, tidak sedikit umat Islam yang memiliki sikap ini, selain karena alasan hati mereka tidak yakin dan berpaling dari Allah, juga karena mereka memang tidak mengenal Allah. Tulisan ini mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan khasyyatulla>h dalam al-Qur’an. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan sufistik berdasarkan pada kitab tafsir karya Ibn ‘Arabi>, al-Qusyairi>, al-Alu>si, al-Tustari>, Sa’i>d H}awwa> dan Hamka. Dalam perspektif sufistik, makna khasyyatulla>h adalah rasa takut kepada Allah yang dimiliki oleh orang yang mempunyai keimanan tinggi yang akan menuntutnya untuk selalu takut kepada Allah. Al-Qur’an mengkhususkan pemilik khasyyatulla>h ini kepada ulama’, yaitu orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan adanya khasyyatulla>h, seseorang akan senantiasa memperbaharui taubat, menahan hawa nafsu, beramal saleh, menjalin ikatan sosial, dan menghidupkan masjid semakin makmur. Oleh karena itu, upaya menciptakan masyarakat yang harmonis untuk selalu dekat dan takut kepada Allah hanya dapat dicapai melalui tasawuf kolektif.
DISKURSUS TENTANG PLURAITAS PENAFSIRA AL-QUR’AN
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.908

Abstract

Artikel ini membahas tentang Kajian terhadap berbagai alirandan pemikiran mengenai penafsiran al-Qur’an akan semakinmenyadarkan betapa pentingnya orang memahami pluralitastersebut sebagai sunnatullah dan kenyataan hidup. Orang yangmenyadari akan adanya pluralitas, niscaya tidak akan mengklaimbahwa dirinyalah sebagai satu-satunya pemengang otoritaskebenaran. Penulis menggunakan pendekatan konten analisisuntuk mengetahui adanya klaim kebenaran (truth claim) yangcenderung menyebabkan seseorang menjadi esklusif dan tidakterbuka menerima kritik atau memahami pemikiran di luardirinya. Hasilnya Dalam kajian maz\ a>hibut tafsi>r, seseorangakan melihat betapa banyaknya ragam penafsiran orang dalammemahami al-Qur’an yang selama ini diklaim sebagai kebenaranmutlak. Padahal yang namanya “penafsiran al-Qur’an” dengan“al-Qur’an” itu sendiri adalah berbeda. Al-Qur’an pada dataranilahiah memang mutlak kebenarannya, tetapi penafsiran terhadapal-Qura’n adalah relatif dan nisbi. Kalau ternyata, penafsiran iturelatif sifatnya, melahirkan ragam penafsiran yang berbeda-beda,mengapa kemudian oleh sebagian orang, penafsiran itu cenderungdibekukan dan dibakukan bahkan disakralkan?
Hermeneutika Al-Qur’an Muhammad Talbi (Socio-Historical Hermeneutics)
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6025

Abstract

This article discusses briefly about Mohammed Talbi’s modern interpretation of holy Qur’an. Two main ideas in his interpretation are: Talbi emphasizes on historical and humanist approach in reading Qur’an, that place great hermeneutical value on a historical context. The historical approach reads the Qur’an in light of the historical context in which the Qur’an was revealed. He also emphasizes, in addition to the first approach, on the maqasid approach, that the interpreter should understand the intentions of the text, to find something beyond the text, as the epistemological-hermeneutical ways to trace the foundation, spirit, and philosophical framework of the historical text, in order to be situated within todays context. In making cases of the approach, Talbi give example of the interpretation of An-Nisa: 34-35, that contains of the education ways of husband toward his wife. He refuses, with the contextual reading and making sense of the Arab tradition when the revelation of this text, the justification of awful ways of treating the wife, that irrelevant for the contemporary democratic society.
TARJIH DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN PERSPEKTIF IMAM ASY-SYAUKANI DALAM TAFSIR ASY-SYAUKANI
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.873

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang konsep tarji>h} dalamperbedaan penafsiran al-Qur’an. Secara spesifi kajiannyafokus kepada tafsir Fath} al-Qadi>r. Tarji>h} secara bahasa adalahkecondongan atau pengunggulan. Sedangkan secara istilahmenguatkan salah satu pendapat dari berbagai pendapat dalampenafsiran ayat karena ada dalil atau kaidah yang menguatkannyaatau karena pelemahan atau penolakan terhadap selainnya.Perbedaan penafsiran telah adalah masa salaf, namun perbedaanitu lebih banyak variatif daripada kontradiktif. Dalam menyikapiperbedaan penafsiran, para ulama dan mufassir melakukan langkahtarji>h} . Dengan tujuan mendapatkan pendapat yang paling kuatberdasarkan dalil (indikator) yang diterapkan oleh para ulama.Aspek-aspek yang menjadi fokus pentarji>h} an asy-Syaukani adalahtarji>h} dengan naz} a>ir al-Qur’a>n, dengan sunnah, dengan asba>b annuzu>l, dengan qira>’at, dengan z} a>hir al-Qur’a>n, siya>q a>ya>t, denganna>sikh dan mansu>kh, serta tarji>h} dengan tata bahasa dan syi’ir, danlainnya).
Konsep Syura dan Demokrasi dalam Wacana Kontekstual: Studi Terhadap Pemikiran Kontekstual Abdullah Saeed Akbar, Taufik
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.12590

Abstract

The discourse on democracy and all its variants, including the term shura, is an issue that is never obsolete in the study of the Qur'an. In the last few decades, Muslim scholars have begun to see the issue of shura as a discourse that must be read more widely along with the changing times. Therefore, Muslim scholars created a modern generation to respond to the concept of shura in a new social, political, economic and cultural context, especially with the contextuality method of the Qur'an. One of the figures applying the concept of shura is Abdullah Saeed, a contemporary thinker who introduced the study of the Qur'an through a contextual approach. Abdullah Saeed tries to revisit the term shura through two groups of interpretations, namely pre-modern interpretations such as al-Thabari, Zamakhsari, al-Razi and al-Qurtubi, and the interpretation that follows by quoting the work of Sayyid Abul A'la al - Maududi and Sayyid Qutb. This paper intends to further explore Abdullah Saeed's opinion on the term shura after conducting an in-depth study of the two groups of interpreters. This paper also attempts to provide a 'critical' note on the thoughts put forward by Abdullah Saeed by comparing them with other contemporary thinkers. Diskursus tentang demokrasi dan segala macam variannya, salah satunya adalah term syura, merupakan isu yang tidak pernah usang dalam studi al-Qur’an. Beberapa dekade terakhir, para cendekiawan Muslim mulai memandang isu syura sebagai wacana yang harus dibaca lebih luas seiring perubahan zaman. Oleh karena itu, para kelompok cendekiawan Muslim generasi modern cenderung untuk menafsirkan ulang konsep syura dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya, khususnya dengan menyoroti metode kontekstual penafsiran al-Qur'an. Salah satu aktor yang berperan dalam usaha untuk menafsirkan ulang konsep syura ini adalah Abdullah Saeed, salah seorang pemikir kontemporer yang mengenalkan kajian al-Qur’an melalui pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan kontekstualnya, Abdullah Saeed mencoba membaca ulang term syura ini melalui dua kelompok penafsiran, yaitu interpretasi pra-modern seperti al-Thabari, Zamakhsari, al-Razi dan al-Qurtubi, dan interpretasi yang ada setelahnya dengan mengutip karya Sayyid Abul A’la al-Maududi dan Sayyid Qutb. Tulisan ini bermaksud untuk mengekplorasi lebih jauh tentang pandangan Abdullah Saeed terhadap term syura setelah melakukan kajian secara mendalam terhadap dua kelompok penafsir tersebut. Tulisan ini juga berupaya memberikan catatan ‘kritis’ terhadap pemikiran yang dikemukakan oleh Abdullah Saeed dengan mengkomparasikan dengan pemikir-pemikir kontemporer lainnya. 
Mushaf Standar Indonesia dan Ragam Mushaf Al-Qur’an Di Dunia
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4795

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan singkat seputar keragaman rasm usmani dan cakupan pembahasannya. Hal ini dilatarbelakangi dengan fakta bahwa masyarakat umum banyak yang beranggapan bahwa rasm usmani itu hanya satu versi dan tidak bisa membedakan serta memilah apa yang masuk dalam rasm usmani dan yang bukan. Wilayah rasm usmani adalah batang tulisan ayat, sementara titik huruf, sistem harakat, dan tanda baca yang menyertai tulisan ayat bukan merupakan wilayah rasm usmani. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan dengan jenis mushaf yang berbeda dalam cara penulisannya, maka dengan cepat mereka berpendapat bahwa mushaf tersebut tidak sesuai dengan rasm usmani.
Majaz Dalam Al Qur’an Sebuah Wacana Keilmuan Islam Muhtador, Mòh.
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3906

Abstract

Unsur-unsur Budaya Jawa dalam Kitab Tafsir al-Ibriz Karya KH. Bisri Mustofa
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.8347

Abstract

A mufassir interprets and tries to express the meaning of the Qur'an. He is influenced by the culture that surrounds it. This can be seen from Tafsir al-Ibrīz  by KH. Bisri Mustofa. It contains many interesting Javanese cultural elements. He interprets the Qur'an without breaking away from the habits of the Javanese people, so that in explaining a verse it has various forms that can be accepted by the community. This paper argues that first, the interpreter's social space influenced in various forms of his interpretation of the Qur'an. Second, the vernacularization process contributes  the forms of interpretation of the Qur'an because it involves various elements of locality within it. Third, many elements of local culture appear, al-Ibrīz  as a reference for interpretation in Javanese pegon also talks about religious issues and conversations base on Javanese society. By using Koentjaraningrat theory, this study analyzes verses that contain elements of Javanese culture, including the religious system and religious ceremonies. This paper shows that Tafsir al-Ibrīz  contains these Javanese elements, including studies on beliefs in supernatural spirits, supernatural powers and religious ceremonies in the form of tahlil, as well as things that make KH. Bisri Mustofa interpreted the Qur'an by bringing up Javanese culture.
Integrasi Tafsir dan Hermeneutika Dalam Memahami Teks al-Qur’an Safrodin, Safrodin
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.7885

Abstract

This study seeks to explain the integration of interpretations (tafsīr) and hermeneutics in understanding the Qur'an, even though the possibility of the integration is still being debated among Muslims. Some Islamic scholars reject it absolutely, some of them accept it absolutely and others accept it with certain limits (muqayyad). The author sees that the hermeneutic perspective should not be avoided in the study of interpretation of the Qur'an, so that the study of interpretation becomes more philosophical, even though both have slightly different characteristics. The science of interpretation (‘ilm tafsīr) grows and develops in the treasures of Islamic thought which is very closely related to tradition, while the hermeneutics develops in a philosophical tradition that highly values freedom of thought more broadly. However, hermeneutics is very likely to be used as one of the approaches or tools in the science of interpretation, especially in understanding the verses of the Qur'an which are in the domain of ta'aqqulī or ghair ta'abbudī and ghair ta'aqqudī like the mu'amalah region whose reach is very wide.

Page 8 of 25 | Total Record : 249


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue