Articles
223 Documents
Tinjauan Strategi Wacana Kuasa Pemerintah dalam Tafsir Al-Qur’an Tematik Kementerian Agama RI
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6353
The Thematic Al-Qur'an Interpretation of the Ministry of Religion (TQTKA) is a collective work or ijtiha> d Jama> ’i> the Indonesian Ministry of Religion team. The theme presented in TQTKA is in accordance with the anxiety of the people in this contemporary era, so that it is expected to provide answers to the problems of the people. In epistemology, TQTKA essentially departs from the functional paradigm, then interpretation is the science used to explain meaning, explore the law, and wisdom that is in the Koran. The orientation used by the government is prospective orientation, therefore the government always pays attention to social-social problems that exist in Indonesia. Judging from the method used in TQTKA is the interpretation of maudu> 'i> or thematic and patterned adabi ijtima’i>. Then the validity of TQTKA is seen from 3 theories; coherence theory, correspondence theory, and pragmatism theory.The strategy used by the government is to position TQTKA as a product of knowledge, while the interpretation team is an extension of the ruling government. Of course this relationship between power and knowledge necessitates the influence of even intervention. As the power relation defined by Michel Foucault that power relations as something that makes people obedient. Power relations is the concept of power relations, where the practices of power come from subjects on objects through various media. The strategy is conveyed through religious, state, culture, gender media, the fourth of which is packaged in the Qur'anic interpretation of TQTKA.
KAIAN HERMENEUTIK AL-QUR’AN KONTEMPORER: TELAAH KRITIS TERHADAP MODEL HERMENEUTIKA NASR HAMID ABU ZAID
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.886
Tema ini diangkat berkaitan dengan kontroversialitas hermeneutikaNasr Hamid Abu Zaid. Ia adalah salah satu dari tokoh intelektualIslam yang hadir dengan menggulirkan diskursus baru dalammemahami teks al-Qur’an dengan menggunakan pendekatanhermeneutik. Artikel ini bertujuan untuk membedah hermeneutikanyaAbu Zaid dengan menggunakan pendekatan konten analisis,sehingga dapat kita pahami bagaimana sesungguhnya wacana yangdigulirkan oleh Abu Zaid yang sering dianggap kontroversial akantetapi menarik untuk didiskusikan dan diperdebatkan di lingkunganakademik. Sakralitas kitab suci al-Qur’an yang selama ini telahmapan dalam kehidupan masyarakat Islam, dikritisi oleh Abu Zaiddengan menggunakan metode hermeneutikanya ala barat. Penafsiranteks bagi Abu Zaid adalah bersifat objektif-historis, yaitu bahwaproses penafsiran dan kegiatan pengetahuan secara umum selaluditujukan untuk mengungkapkan berbagai kenyataan yang memilikikeberadaan objektif di luar horison subjek pembacaannya. Banyakpro dan kontra terjadi ketika merespon pandangan-pandangan AbuZaid terhadap berbagai persoalan dinamika sosial yang terjadi.Hasilnya berbagai penafsiran Abu Zaid terhadap teks al-Qur’anmemberikan penyegaran dalam tradisi kajian keilmuan Islam,walaupun mengundang berbagai polemik di kalangan umat Islamkarena dipandang sangat kontroversial.
Living Qur’an Di Instansi Kesehatan: Fenomena “Gerakan Membaca Al-Quran Sebelum Bekerja” Di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5544
Penelitian ini merupakan kajian tentang fenomena komunitas yang melakukan sebuah usaha untuk menghidupkan al-Qur’an. Usaha mereka tersebut merupakan suatu bentuk resepsi terhadap Kitab Suci. Mereka adalah para karyawan di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Adapun yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah: (1) bagaimana para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang memaknai gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja? dan (2) apa pengaruh yang dirasakan para karyawan selama melaksanakan gerakan tersebut? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dan pengaruh yang dirasakan para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang atas program yang digalakkan, yaitu gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja. Kedua hal tersebut kemudian dikemas dalam sebuah kajian Living Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang memaknai gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja ii dengan dua pemaknaan yakni makna zahir dan makna batin. Makna zahir mencakup pemahaman mereka yang mengatakan bahwa membaca al-Quran sebagai suatu kewajiban, kebutuhan, dan rutinitas. Sedangkan makna batin meliputi tilawah sebagai motivasi hidup, penenang hati, sarana intropeksi diri, dan tabungan amal di akhirat kelak. Adapun pengaruh yang dirasakan oleh para karyawan RSI Sultan Agung adalah kedisiplinan waktu, menjalin kebersamaan dan saling mengingatkan antar karyawan, bersemangat untuk tahsin al-Quran, menjadi istiqamah dalam membaca al-Quran, dan . Pengaruh tersebut membuktikan bahwa gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja yang digalakkan direksi Rumah Sakit Islam Sultan Agung dapat diterima dengan baik oleh para karyawannya dan merupakan suatu bentuk dari al-Quran yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
Konsep Muhkam dan Mutasyabih dalam Alqur’an menurut Muhammad ‘Abid al-Jabiri
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6072
Artikel ini membahas tentang konsep muhkam dan mutasyabih menurut Muhammad ‘Abid al-Jabiri dalam kitab Fahm Alqur’an al-Hakim. Kitab tafsir tersebut ditulis tidak seperti kitab-kitab tafsir pada umumnya yang ditulis berdasarkan tartib mushafi. Kitab tafsir ini ditulis berdasarkan tartib nuzuli. Al-Jabiri juga menyisakan bagian tersendiri untuk membahas tentang muhkam dan mutasyabih dalam Alqur’an. Konsep tentang muhkam and mutasyabih dalam ulum Alqur’an selalu dikaitkan dengan Q.S. 3:7. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan yang bersifat analisis-deskriptif. Penelitian ini juga menampilkan beberapa peneliti terdahulu baik tentang muhkam dan mutasyabih dan pemikiran tafsir al-Jabiri secara umum. Al-Jabiri mempunyai sumbangsih besar terhadap studi Alqur’an lebih luasnya pemikiran Islam kontemporer dan arah studi Alqur’an selanjutnya. Penelitian ini berkesimpulan bahwa untuk memahami ayat-ayat mutasyabih dalam Alqur’an diperlukan, pertama, analisis siyaq, yakni menjelaskan konteks pembahasan tema dengan menghubungkan ayat-ayat sebelum dan setelahnya. Kedua, perlunya menggunakan asbab al-nuzul, untuk memahami konteks sosial saat diturunkan ayat tersebut.
Pengamalan Al-Qur`an Perspektif Post-Feminisme Simone De Beauvoir
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.10498
Kesetaraan gender merupakan diskursus yang masih tetap hangat diperbincangkan bahkan menjadi perdebatan para feminis Muslim sampai sekarang. Penggagas dan pendukung kesetaraan gender tidak jarang mempersoalkan hukum Islam yang dianggap kurang adil dalam memposisikan laki-laki dan perempuan. Bermula dari kesadaran akan ketertindasan perempuan oleh sistem yang patriakis inilah muncul kajian tentang perempuan yang kemudian diistilahkan “feminisme” salah satu gagasannya adalah pembebasan yang mengkonsentrasikan pada upaya pengangkatan drajat perempuan agar bisa setara dengan kaum laki-laki dan bebas dari eksploitasi dan tidak mengenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Simone De Beauvoir adalah salah satu tokokh feminis yang menyuarakan kebebasan perempuan akan kedudukan mereka yang berbeda dari laki-laki. kebebasan perempuan haruslah didukung oleh semua pihak dan membuat mereka mampu untuk menjadi dirinya sendiri, mampu untuk memilih dan menentukan sikap Menurut Simone de Beauvoir, perempuan dikonstruksikan oleh laki-laki melalui struktur dan lembaga laki-laki. Karena perempuan tidak memiliki esensi seperti juga laki-laki, jadi perempuan tidak harus menjadi apa yang diinginkan oleh laki-laki. Perempuan dapat menjadi subjek dengan terlibat dalam kegiatan positif dalam masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan semangat Q.S an-Nisa/4: 32 adanya hak bagi laki-laki dan perempuan untuk terlibat di wilayah publik. Menurut de Beauvoir, strategi yang dapat dilakukan perempuan untuk tidak tertindas dari laki-laki, adalah : Pertama, perempuan dapat bekerja. Kedua, perempuan menjadi seorang intelektual. Ketiga, perempuan mampu mandiri. Gagasan ini juga sejalan dengan semangat Q.S at-Taubah/9: 71 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan derajat yang sama dalam setiap aspek kehidupan seperti berbuat yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar. Konsep yang digagas de Beauvoir ini disebutnya sebagai post-feminisme.
HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR (TELAAH TENTANG TEORI HUDUD)
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4536
Al-qur’an kitab terakhir, isinya mengandung berbagai petunjuk yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Salah satu media yang digunakan al-Qur’an untuk menyampaikan petunjuk dan pesan pesan moral adalah melalui kisah atau cerita. Petunjuk dan pesan-pesan moral yang ada dalam al-Qur’an bisa dipahami melalui makana tekstual dan bisa pula dipahami melalui makana simbolik atau bisa menangkap makna simbolikatau makna isyari diperlukan metode tersendiri, yaitu dengan jalan berkonsentrasi melalui serta merenungi makna yang terkandung di dalam kisah-kisah yang dibacanya, disamping metode ini adalah metode penjernihan batin dari berbagai hal yang bersifat duniawi. Dengan dua metode inilah seseorang dapat menangkap makna simbolik suatu kisah atau makana isyarinya.
Dinamika Penggunaan Sunnah Sebagai Sumber Penafsiran Dalam Pergeseran Epistemologi Tafsir
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3908
The Mystical Interpetation Of Divine Love (Mahabbah) From The Perspective Al-Sulami’s Haqaiq Al-Tafsir
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.8486
This study discusses the Quranic analysis of the word Maḥabbaḥ in al- Quran. This needs to be studied and requires some research because it has a general meaning, so it is worth analyzing. They know and understand Maḥabbaḥ in a limited way and for human needs only. Using a descriptive analytic method and Abū ‘Abd al-Rahmān al-Sulami's perspective on his own book, Haqāiq al-Tafsīr, this research answers how al-Sulami interprets the meaning of the Maḥabbaḥ in the Quran. This research finds that the Quran expresses the Maḥabbaḥ globally both to God and to humans. Some indications of the Quran suggest that the Maḥabbaḥ can arise because it begins with compassion and seeks to reach that love. This shows that Islam is concerned about the importance of love by providing several levels that must be achieved in order to be able to achieve it. This research focuses on the verses of Mahabbah from Surah Thāhā (20):39 which explain about the story of prophet Musa whom getting the specially Maḥabbaḥ. Thus, Surah Ᾱli-‘Imrān (3):31 explained about a way being a God’s lover and creating Maḥabbaḥ greatly.
Program 3 T (Tahaffudz, Ta’allum, and Ta’ammul) Sebagai Internalisasi Konsep Haqqa Tilawatih: Study di Pondok Yanbu’ul Qur’an Remaja Kudus
Istianah, Istianah;
Mahtida, Khusna
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.10616
This article examines the 3T program (Tahaffudz, Ta'allum, and Ta'ammul) as an internalization of the concept of haqqa tilawatih in (QS al-Baqarah [2]: 121) study at Pondok Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Youth in Kudus. The Islamic boarding school is a forum for educating and guiding the character of students. In an effort to shape the character of the students, the right rules are made in training character learning that is responsive in facing problems in life. This research used a qualitative descriptive method, namely Filled Research (field research) with a study of living Qur'an research. The purpose of this research is to prove the existence of the Brand Image of PTYQR (Pondok Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Youth) as a benchmark for all Islamic boarding schools in Tahfidz al-Qur'an. The results of this research prove that the 3T program, namely Tahaffudz, Ta'allum, and Ta'ammul (memorizing, studying, and practicing) as an internalization of the concept of haqqa tilawatih (QS. Al-Baqarah [2]: 21) is very influential for the students. regeneration of the Qur'anic Expert. It is proven that Pondok Tahfidz Yanbu'ul Qur'an has succeeded in giving birth to a generation that excels in memorizing the al-Qur'an and has a good character as well as having social sensitivity.
HERMENEUTIKA AMINA WADUD SEBAGAI BASIS TAFSIR HARMONI ADIL GENDER DI INDONESIA
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4508
The domination of the interpretation of the Koran that tends to gender bias has been continued until now. Therefore the presence of Wadud as a feminist thinker to be interesting discussed. This article is to track the social and intellectual background that affect her points of views in term of tafsir and its relevance for developing feminist tafsir in Indonesia. This paper used the philosophical and hermeneutical approach. The data were collected by the method of documentation and discussed with the content analysis. The conclusions among others that Wadud has given a contribution in breaking down the traditional interpretation of the Koran by offering a critical approach to interpret the Koran based on the awareness of tauhid and analyse the preor-text in the interpretive process. This model of tafsir can be developed in Indonesian tafsir that still be dominated by male commentators, therefore in a certain level still become gender biased. It can be reproduced becoming an alternative feminist tafsir to build harmony sociaty in Indonesia.