Articles
249 Documents
Pengaruh Maqôsid Syari’ah Di Dalam Tafsir dan Hadis
Zuhurul Fuqohak, Mukhamad Agus
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i1.6802
This research is intended to find out the meaning of the study maqôsidi in the interpretation, to look for the historical roots of the use of maqôsid as an independent branch of knowledge, who are the scholars who are keen to concentrate on the maqôsid theory then what are the examples of maqôsid usage in the world of the Qur'anic interpretation. This study uses qualitative without mentioning numbers, the primary source of this literature study from several master books such as the Asy-Syâthibi book which is famous as the father of maqôsid. Then the result of the findings is that the intention of the maqôsid in the world of interpretation is the review of the Qur'an seeking wisdom, reasons and lessons to get a kind of wordl view from it. Then the history begins with Umar bin Khattab, Imam Haromain, Ghazali, Asy-Syâthibi, Ibnu ‘Âsyûr to ar-Raisûni. Which is an example of the use of maqôsid in interpretation is the interpretation of QS. Al-Mâidah: 51, QS. Al-Mâidah: 6 QS. Al-Baqarah: 187.
MENGUAK VISI POLITIK AL-QUR’AN: Kajian Intertektualitas Al-Qur’an Tentang prinsip Penyelenggaraan kelembagaan Negara
Nuriyah, Nur Aini Fitri
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.899
Salah satu visi politik dari Al-Qur’an berkaitan dengan prinsipprinsip utama dari lembaga negara. Artikel ini membahas tema inimelalui metode intertekstualitas al-Qur’an pada dua kata kunci (al-Balad dan al-Mulk) dan satu konsep kunci (tugas manusia). Artikelini menyimpulkan beberapa prinsip kunci dalam pengirimanlembaga yaitu keadilan dan kesetaraan termasuk non-diskriminasi,keamanan kepatuhan-fiik, psikologis dan spiritualitas, diskusi,membela masyarakat miskin dan marginal, membangun nilai-nilaipositif dan pemberdayaan (isti’mar). Penelitian ini menunjukkanbahwa Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar dalamorganisasi negara sebagai bagian dari visi politiknya, namun AlQur’an memungkinkan pertanyaan tentang bentuk atau sistemnegara ke ladang untuk ijtihad muslim sepanjang waktu tanpamemberikan klaim pada bentuk atau sistem sebagai negara Islamdalam arti formal dan ideologi.
Living Qur’an Di Instansi Kesehatan: Fenomena “Gerakan Membaca Al-Quran Sebelum Bekerja” Di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Misbah, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5590
Penelitian ini merupakan kajian tentang fenomena komunitas yang melakukan sebuah usaha untuk menghidupkan al-Qur’an. Usaha mereka tersebut merupakan suatu bentuk resepsi terhadap Kitab Suci. Mereka adalah para karyawan di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Adapun yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah: (1) bagaimana para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang memaknai gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja? dan (2) apa pengaruh yang dirasakan para karyawan selama melaksanakan gerakan tersebut? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dan pengaruh yang dirasakan para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang atas program yang digalakkan, yaitu gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja. Kedua hal tersebut kemudian dikemas dalam sebuah kajian Living Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para karyawan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang memaknai gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja ii dengan dua pemaknaan yakni makna zahir dan makna batin. Makna zahir mencakup pemahaman mereka yang mengatakan bahwa membaca al-Quran sebagai suatu kewajiban, kebutuhan, dan rutinitas. Sedangkan makna batin meliputi tilawah sebagai motivasi hidup, penenang hati, sarana intropeksi diri, dan tabungan amal di akhirat kelak. Adapun pengaruh yang dirasakan oleh para karyawan RSI Sultan Agung adalah kedisiplinan waktu, menjalin kebersamaan dan saling mengingatkan antar karyawan, bersemangat untuk tahsin al-Quran, menjadi istiqamah dalam membaca al-Quran, dan . Pengaruh tersebut membuktikan bahwa gerakan membaca al-Quran sebelum bekerja yang digalakkan direksi Rumah Sakit Islam Sultan Agung dapat diterima dengan baik oleh para karyawannya dan merupakan suatu bentuk dari al-Quran yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
QUR’ANIC STUDIES DALAM LINTASAN SEJARA ORIENTALISME DAN ISLAMOLOGI BARA
Hanafi, Yusuf
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.922
Qur’anic studies di dunia Barat telah melewati bentangan sejarahcukup panjang. Dalam babakan-babakan sejarah itu, Qur’anicstudies dalam frame orientalisme tak terhindarkan dari perangkapzona akademis yang kompleks. Dikatakan kompleks, sebab ialekat dengan motif-motif yang amat variatif. Di antara faktor yangmempengaruhi perubahan citra Barat mengenai dunia Islam,yakni bertambahnya informasi faktual mengenai Islam dan kaummuslim, kontak-kontak langsung yang terus meningkat lantaranhubungan politik dan perdagangan, apresiasi yang tinggi terhadapprinsip-prinsip keilmuan dan fisafat yang berakar kuat di duniaTimur, dan perkembangan gradual kesadaran Barat sendiri. Padaperiode tertentu, Qur’anic studies muncul sebagai proyek apologismissionaris yang bertujuan melakukan konversi (evangelism).Namun ia acapkali muncul sebagai proyek material kolonialismeyang absolut, atau tak jarang semata-mata didorong sekadarmemenuhi rasa ingin tahu (intellectual curiosity). Kompleksitastertentu juga dapat ditemui dalam diskontinuitas Qur’anic studies,di mana secara evolutif ia mengalami transformasi-transformasiinternal akibat varian perangkat metodologi yang digunakan.Sehingga, sikap selektif diperlukan untuk menyikapi Qur’anicStudies menurut perspektif para orientalist dan Islamologi Barat.
Karakteristik Manuskrip Al-Qur’an Pangeran Diponegoro: Telaah Atas Khazanah Islam Era Perang Jawa
Hasna, Hanifatul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6374
Prince Diponegoro who is the son of Sultan Hamengkubuwana III grew up in the community of kyai and santri. The education of his great-grandmother influenced the view of Prince Diponegoro who then liked Islamic works. The aristocratic legacy of Prince Diponegoro made himself courageous to lead the Java War against the Dutch. The peak of Java War in the Magelang left historical objects. Among them are Quranic manuscripts attributed to Prince Diponegoro. Unfortunately, many works do not discuss about the legacy of Prince Diponegoro. This paper examines a Quranic manuscript attributed as a legacy of Prince Diponegoro through a philological and codicological approach with the aim of knowing how the history and characteristic of the manuscript are. Through this paper, it can be known the characteristics of philology in Islamic studies through of the Quranic manuscripts. There are several prominent characteristics of the Mushaf, such as illuminations at manuscripts that seem luxurious and thick with Javanese culture. The use of rasm, punctuation, sign tajwid, and sign waqaf also characterizes the writing of manuscripts in the 19 th century in the Java War that is different from the mushaf that is developing now.
KONSEP IMAN MENURUT TOSHIHIKO ISUTZU
Ismah, Zuhadul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.890
Artikel ini berupaya untuk memahami al-Qur’an dengan metodedan pendekatan para outsider. Akan tetapi, tidak jarang pulametode dan pendekatan yang dipakai para ousider tersebut akandapat membuka cakrawala dan mengembangkan pengetahuanbaru. Pokok-pokok implementasi iman menurut Toshihiko Izutsudalam buku “Konsep-Konsep Etika Religius dalam al-Qur’an”yaitu: (1) Iman, merupakan lawan diametrik dari kufr, makatidak ada alasan sama sekali untuk terkejut jika menemukan imanberlawanan dengan istilah etika religius lain yang kurang lebihsinonim dengan kufr. (2) Ketiga konsep (Ima>n, Isla>m, Ihsa>n)membentuk tiga tingkatan secara berurutan menurut konsepagama sebagaimana yang dipahami menurut pengertian Islam.Tingkatan yang paling tinggi adalah ihsan, tingkatan pertengahanadalah iman, dan diikuti oleh islam. Dengan demikian, setiapmuhsin (pelaku ihsan) adalah mu’min (orang yang beriman), dansetiap mu’min adalah muslim (orang Islam). Namun demikian,tidak semua mukmin adalah muhsin, dan tidak setiap muslimadalah mukmin.
DAKHIL AYAT KISAH DALAM AL-QURAN: STUDI ANALISIS KISAH HARUT DAN MARUT DALAMTAFSIR AD-DURR AL-MANTSUR KARYA JALALUDDIN AS-SUYUTHI
Misbah, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5545
Artikel ini mengulas tentang dakhil dalam tafsir ad-Durr al-Mantsur karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Penelitian ini memfokuskan pada ayat kisah tentang Harut dan Marut. Dalam menafsirkan ayat tersebut, imam Jalaluddin Suyuti memaparkan banyak riwayat-riwayat yang ketika ditelaah lebih lanjut banyak mengandung khurafat. Tafsir ad-Durr al-Mansur ini hanya sekedar memaparkan kisah tanpa ada komentar lanjutannya, apakah riwayat tersebut sahih atau bukan. Kisah tentang Harut dan Marut yang dipaparkan dalam tafsir tersebut termasuk dakhil dalam tafsir dengan kategori riwayat Israiliyyat dan hadis maudhu’.
Konstruk Metodologi Tafsir Modern: Telaah Terhadap Tafsir Al-Manar, Al-Maraghi, dan Al-Misbah
Sakirman, Sakirman
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3912
Living Qur’an Dalam Studi Qur’an Di Indonesia (Kajian Atas Pemikiran Ahmad Rafiq)
HS, Muhammad Alwi;
Parninsih, Iin
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.8554
Ahmad Rafiq is well-known as a Living Qur'an expert in Indonesia, in fact he is referred to as one of the main initiators. However, in the course of the study of Living Qur'an, none of Ahmad Rafiq's works became references in Living Qur'an's literature, including the Living Qur'an ontology book and Hadith from UIN Sunan Kalijaga (2007) and Ubaydi's book (2019) ). Whereas Ahmad Rafiq's Living Qur'an idea was seen in his work in 2004. Therefore, this article aims to discuss what and how Ahmad Rafiq's Living Qur'an perspective, here will also position the Living Qur'an between text studies and sociology-anthropology. Through descriptive-analytical-interpretative analysis, this article concludes that the phenomenon of Living Qur'an has existed since the era of the Prophet, this phenomenon can be found throughout the development of Muslims from time to time, both in the initial environment of the emergence of the Qur’an (Arabic) let alone outside, Indonesia for example. Ahmad Rafiq himself emphasized the reading of transmission and transformation in the study of the Living Qur'an, which contains synchronous reception values in diachronic reception form from time to time. From here, Living Qur’an is in the position of studying text and sociology-anthropology at the same time.
PENGARUH IDEOLOGI DALAM PENAFSIRA
Mailasari, Dewi Ulya
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.913
Artikel ini dilatarbelakangi dari pemikiran bahwa al-Qur’ansebagai kitab suci umat Islam sangatlah terbuka untuk ditafsirkan(multi interpertable). Masing-masing mufasir biasanya dipengaruhioleh ideologi, kondisi sosio-kultural di mana ia tinggaldan situasipolitik yang melingkupinya ketika menafsirkan al-Qur’an. Disamping itu, adanya kecenderungan dalam diri seseorang mufasiruntuk memahami al-Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang iatekuni, menjadikan hasil penafsiran al-Qur’an menjadi beragamdan plural, meskipun obyek kajiannya sebenarnya tunggal(yaitu teks al-Qur’an). Ideologi (maz\ hab) keagamaan, sangatmempengaruhi tafsir al-Qur’an. Para pengkaji al-Qur’an berusahamencari dalil untuk mendukung mazhabnya masing-masing,meskipun dengan cara memadukan secara terpaksa teks (nas} )alQur’an dengan pandangan mazhabnya. Mereka menafsirkannyasesuai jalan pikirannya. Akibatnya, tidak sedikit ayat-ayat al-Qur’anyang ditafsirkan secara tidak proporsional dan disimpangkan darimakna yang sebenarnya dalam rangka mendukung ideologi yangdiyakininya. Sehingga al-Qur’an seringkali diperlakukan hanyasebagai legitimasi bagi kepentingan-kepentingan tersebut. Posisial-Qur’an di sini sebagai obyek, sedangkan realitas dan mufasirnyasebagai subyek sering sering terjadi pemaksaan gagasan nonqur’ani dalam penafsiran, dan sektarianisme begitu kuat mewarnaiproduk-produk tafsir.