Articles
417 Documents
Epistemologi Tafsir Takfiri Mazhab Ibadiyyah Khawarij (Studi Tafsir Hamyan al-Zad Ila Dar al-Ma’ad Karya Muhammad Bin Yusuf Itfisy)
Abdullah, Abdullah
HERMENEUTIK Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3899
Artikel ini menjelaskan tentang penafsiran Quran dari Muhammadbin Yusuf Itfisy. ada dua alasan mendasar untuk penelitian ini.Pertama, Muhammad bin Yusuf Itfisy adalah seorang sarjanaMuslim dari sekolah literalis yang memiliki kepekaan tinggi terhadaprealitas sosial yang berhubungan dengan teks-teks Alquran, terutamabagi mereka yang berurusan dengan dosa-dosa besar. Kedua, sejarahhidupnya berasal dari komunitas Ibadiyyah-Khawarij dan juga iamenjadi Imam terkemuka (pemimpin Islam) dari Ibadiyyah sekolahdi Aljazeera. Itu adalah faktor penting yang membangun karakter dandiwujudkan dalam penafsiran. Penelitian ini menggunakan pendekatanepistemologis, dan metode penelitian ini adalah induktif (istiqra’) yangditerapkan juga dalam metode tahlili (analitis) yang tidak bisa terpecahpecah dari sekolah dan penafsiran dari tafsir al-ra’yu (rasional komentar). Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammad bin Yusuf Itfisy memiliki pandangan mendasar tentang kafir. Pertama adalah kafir rahmat (kafir nikmat) dan nifaq (kemunafikan), yang kedua adalah kafir tentang keyakinan.Â
Proses Berpikir Nabi Ibrahim as. Melalui Dialog dengan Tuhan dalam al-Qur’an
Syahputra, Afrizal El Adzim
HERMENEUTIK Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i1.6804
Thinking and dialogue is an inseparable part of life. Various studies about the Prophet Ibrahim as. have been found, but the process of deepening related to thinking process through the dialogue of Prophet Ibrahim as. to Allah Swt is still limited to be discovered. This article is structured to reveal the way of thinking of Prophet Ibrahim as. in his efforts to dialogue with Allah Swt. This paper was prepared using the literature research method, which in this case uses the Qur'an as a primary reference and books, commentaries, and soft ware applications as a secondary reference source. The results show that the dialogue carried out by Prophet Ibrahim as. involves a process of critical thinking, rational thinking, accompanied by curiosity and based on faith and devotion to Allah Swt. Prophet Ibrahim as. who had previously been at the level of "Ilm al-Yaqin", was able to reach the level of "Haqq al-Yaqin". Through this article, it is expected to be able to open up insights for people to think and dialogue in solving life's problems. Of course in this case thinking and dialogue in this life is essentially intended to draw closer to Allah Swt at the level of Haqq al-Yaqin.
ASBAB AN-NUZUL DAN URGENSINYA DALAM MEMAHAMI MAKNA AL-QUR’AN
Zaini, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.902
Pembahasan pada artikel ini adalah tentang asbab an-nuzu > l. Bahwa >Al-Qur’Än adalah kalam (perkataan) Allah Swt. yang diwahyukankepada Nabi Muhammad SAW. melalui Malaikat Jibril denganlafal dan maknanya. Al-Qur’Än sebagai kitab Allah menempatiposisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islamserta berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusiadalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Tujuandalam pembahasan ini adalahuntuk mendudukkan asba>b an-nuzu>lsebagai alat bantu untuk memahami ayat atau pun rangkaian ayatdalam Al-Qur’Än. ‘Ilm AsbÄb an-NuzÅ«l adalah di antara metodeyang amat penting dalam memahami Al-Qur’Än dan menafsirinya.Kajian ini menggunakan pisau analisis kritik sejarah. Hasilnyaadalah suatu fakta bahwa asba>b an-nuzu>l berfungi dan berfaedahuntuk membantu dalam memahami ayat dan menghilangkankesulitan, untuk mengetahui ayat ini diturunkan kepada siapa,sehingga tidak terjadi keraguan yang akan mengakibatkanpenuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan membebaskantuduhan terhadap orang yang bersalah, dan untuk memudahkanhafalan, pemahaman dan pengukuhan wahyu dalam benak setiaporang yang mendengarnya, jika ia mengetahui sebab turunnya.
Studi Tafsir Sufi: Tafsir Latha’if al-Isyarat Imam al-Qusyairi
maulana, luthfi
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.5062
Artikel ini akan memaparkan sebuah review terhadap karya tafsir corak isyari (sufi) melalui karya Imam al-Qusairi. Selama ini pemahaman corak tafsir yang berkembang di kalangan umum hanya berpaku pada dua corak yakni, tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi, kurangnya perhatian terhadap tafsir corak isyari menumbuhkan keinginan penulis untuk mengungkap sebuah karya tafsir monumental dengan corak sufi melalui karya Imam al-Qusyairi. Tafsir corak sufi isyari memiliki keunikan yang khas dalam penafsirannya, karena melalui tafsir ini perasaan dan pengalaman mufassir tentang kedekatan kepada Allah secara tidak langsung tertuang dalam bahasa yang penuh makna. Di sisi yang lain, tafsir ini sekan menuangkan nilai-nilai ungkapan isyarat-isyarat al-Quran yang ditangkap oleh para ahli ma’rifat. Isyarat tersebut berisi ungkapan yang mendalam, wakaupun tidak dijelaskan dengan panjang lebar. Meskipun al-Qusyairi menjelaskan tentang hakikat, namun beliau menegaskan bahwa tafsirnya tidak meneyelisihi syariat. Justru al-Qusairi seakan menumpahkan semua ilmu dan pengetahuannya tentang Islam dan tasawuf. Ia banyak menggunakan terminologi tasawuf dalam menjelaskan suatu ayat ke ayat selanjutnya.
MAKNA BENCANA MENURUT AL-QUR’AN : Kajian Fenomena Terhadap Bencana di Indonesia
Hakim, Abdul
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.924
Tulisan ini mencoba mengulas tentang makna bencana dalam alQur’an dan fenomena bencana di Indonesia. Bencana dalam alQur’an telah disebutkan dengan berbagai macam makna, antaralain musibah, bala’/ujian, finah/cobaan. Musibah yang menimpadapat diakibatkan kesalahan manusia. Bala’/ujian merupakankeniscayaan dan dijatuhkan Allah tanpa kesalahan manusia. Inidilakukan untuk menguji manusia untuk mengetahui kesabaranmanusia. Adapun finah adalah bencana yang dijatuhkan Allah dandapat menimpa yang bersalah dan yang tidak bersalah. Apabilamakna tersebut dirunut ke Indonesia yang notabene-nya terletak dicincin api (ring of fie), maka bencana tersebut tidak sepenuhnyabermakna sebagaimana yang ditemukan dalam al-Qur’an tersebut.Berfiir positif ketika menghadapi bencana merupakan sikap yangpaling baik dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang lebiharif. Introspeksi diri dalam konteks keimanan dan tanggungjawabsosial diperlukan, agar mampu untuk memperbaiki diri (improveourself) untuk selalu berbaik sangka dengan menafsirkan maksudTuhan di balik bencana, sehingga rasa empati dan solidaritas sosialdalam ikatan kemanusiaan terus dijaga.
Amalan Sholat Hifdzil Qur’an : Kajian Living Qur’an Di Pptq Al-Hidayah Tulungagung
Firlana, Amalia Rizky
HERMENEUTIK Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6376
This paper explains the phenomenon of the Koran of life. The study of the practice of the verses of the Koran in daily life so as to give rise to certain meanings for its practitioners is proof that the Koran can take the form of anything other than text. The object of research in this study is the interpretation of the Hifdzil Qur’an prayer which is located in Ponpes Tahfidz Al-Qur’an Al-Hidayah Tulungagung with a phenomenological approach and observation-interview method with purposive sampling technique. This research resulted in the transmission of the continuity of sanad with PP Putri Al-Fattah Mangunsari, and the transformation of differences in how to perform the hifdzil Qur’an prayer. Social construction that occurs in the practice of the hifdzil Qur’an prayers in PPTQ Al-hidayah is divided into 3; (1) externalization: the practice of the hifdzil Qur’an prayer is made a mandatory regulation by caregivers and caretakers; (2) objectivation: the practitioner feels accustomed because of the intensity, and; (3) internalization: practitioners understand the meaning and feel the effects after performing the hifdzil Qur’an prayer.
MELACAK PENAFSIRA KONTEMPORER DI BELAHAN BARA DUNIA ISLAM
Mardhiyah, Ainaul
HERMENEUTIK Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.892
Artikel ini bertujuan untuk mengisi kekurangan dalamsejarah tafsir, dan berupaya mengintrodusir karakteristiktafsir di belahan Barat dunia Islam hingga abad ke-8 Hdengan melakukan penelusuran dari awal pergumulannyadengan teks Suci. Mozaik pemikiran Islam pada duniakesarjanaan muslim mengenal adanya dua pembagianberdasarkan letak geografi yaitu belahan Barat duniaIslam dan belahan timur dunia Islam. Dalam tradisi tafsir,pembagian kawasan ini membentuk karakteristik tertentuyang mewarnai pluralitas penafsiran ketika tafsir di belahanbarat dunia Islam (masyriq) menawarkan cara barumemandang kalam Tuhan. Kemajuan perkembangan tafsirsaat ini, pada gilirannnya ditandai dengan perubahan poladi mana tafsir di kawasan timur yang notabene lebih duluberkembang dan mapan sehingga digunakan sebagai modeldalam bertafsir kemudian berbalik meminjam hasil tafsir dikawasan Barat. Namun, dalam studi tentang sejarah tafsir,kontribusi pemikiran tafsir di kawasan Barat masih belummendapatkan hak-nya yang ditandai dengan minimnyakajian dan masih dominannya kajian tafsir di belahantimur.
OTORITAS TAFSIR AGAMA DALAM PEMIKIRAN KHALED ABOU EL FADL
Nawafi, Moh. Muhtador;
Shaleh, Nur Ikhsan
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5546
Tulisan ini mengkaji pemikiran Khaled Abou el Fadl tentang otoritas tafsir yang berkembang di dunia Islam. Tafsir berkembang secara masing di belahan dunia Islam, hal ini disebabkan problem yang mengitari umat Islam. Namun yang menjadi problem ialah bagaimana tafsir tersebut dapat mempunyai otoritas sebagai wajah agama dan menjadi wakil Tuhan dalam menyebarkan ajaran Islam. Penelitian ini akan memberikan wacana dengan model kajian kepustakaan yang menggunakan metode kualitatif dengan merujuk pada sumber primer dari pemikiran Khaled Abou el Fadl untuk menemukan gagasannya tentang otoritas tafsir agama. Diharapkan kajian ini bisa memberikan jawaban dari kegelisahan atas otoritas agama yang menjadi perdebatan dari tafsir. Dengan demikian, ada peran pembaca yang harus bersikap biajk dan hati-hati dalam memahami ajaran agam dalam menafsirkan, karena kelengahan pembaca akan memunculkan sikap arogansi terhadap ajaran agama.
DISKURSUS TENTANG BENDA-BENDA ANGKAA LUAR MENURUT PAR MUFASSIRDAN ASTRONOM
Mufid, Fathul
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.915
Fokus pembahasan dalam artikel ini adalah eksistensi bendabenda angkasa luar dengan menggunakan perspektif dari paramufassir dan astronom. Ini dikarenakan al-Qur’an sebenarnyatelah menginformasikan hal ini secara sejak 14 abad yang lalumeskipun hanya berupa garis besarnya saja. Langit yang luasnyatak terjangkau oleh perhitungan akal manusia itu bukanlahruang kosong, tetapi berisi bermacam-macam benda sepertigalaksi atau gugusan bintang (buruj), tata surya, bintang(najm),komet, meteor, asteroid, planet, bulan, dan matahari. Al-Qur’anmenyebutkan, bahwa bulan itu bercahaya, sedang mataharibersinar. Perputaran matahari pada sumbunya sendiri. Rotasimatahari itu disebabkan adanya gaya gravitasi yang disebut gayacentrifugal, sehingga ia tidak jatuh ke pusat galaksi kabut susuyang mempunyai gaya centripetal. Gaya gravitasi matahari itu jugaberfungsi menahan sembilan planet yang menjadi anggotanya,sehingga mereka berevolusi mengelilingi matahari tersebut. Artikelini menemukan adanya korelasi antara konsepsi al-Qur’an denganteori para astronom di mana benda-benda alam semesta ini terusberkembang meluas sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dariyang satu dengan yang lain. Benda-benda itupun tidak hanya diamdan tenang, tetapi semuanya beredar pada orbit masing-masingsecara seimbang dan serasi sesuai dengan qadar Allah sampai padawaktu yang ditentukan.
Interpretasi Fazlur Rahman Atas Isu Poligami (Studi Analisis Q.S An-Nisa: 3)
Hayati, Ridha
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6074
This paper discusses the debate on interpretation of Q.S. An-Nisa: 3 which often used as an argument for polygamy. The problem that arises from that interpretation is the emergence of “naughty†perspectives from of most of the men. The resulting consequences are the occurrence of disharmony and even bring up conflicts that often involve children as victims. Because we live in a complex era of polemics that arise, it is important to solve the problem by looking at the thinking of contemporary scholars who are expected to provide solutions to the problems of the ummah. Therefore, to respond to the problem, the writer takes Fazlur Rahman's thought as a related analysis blade Q.s. An-Nisa: 3 which becomes the central verse in the discussion of polygamy, by looking at the socio-historical context of the decline of the verse through his double-movement theory. From these methods it can be seen that the marriage that the al-Qur'an aspired to is a monogamous marriage.