Articles
417 Documents
Pendekatan Historis Sosiologis Terhadap Ayat-Ayat Ahkam dalam Studi Al-Qur'an Perspektif Fazlur Rahman
Fatimah, Heni
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.883
Artikel ini mengeksplorasikan tentang pemikiran Fazlurrahmantentang metolodologi tafsirnya double movement. Tujuan metodologitafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moraluniversal Al-Qur’an yang obyektif itu, dengan cara membiarkan AlQur’an berbicara sendiri, tanpa ada paksaan dari luar dirinya, untukkemudian diterapkan pada realitas kekinian. Langkah kerja metodepenafsirannya tersebut diimplementasikan baik pada wilayah hukumdan sosial, serta masalah metafiis dan teologis. Untuk wilayahhukum dan sosial Rahman menerapkan pendekatan historis sosiologisdan metode double movement. Hasil dari penelitian ini adalahal-Qur’an berselimutkan sejarah, sehingga untuk memahaminyameniscayakan untuk menggunakan pendekatan historis. Pendekatanhistoris hendaknya dibarengi dengan pendekatan sosiologis, yangkhusus memotret kondisi sosial yang terjadi pada massa al-Qur’anditurunkan. Aplikasi dari pendekatan ini dalam prakteknyamemunculkan apa yag seringkali orang menyebut dengan gerakanganda (double movement), sebagaimana yang ditawarkan FazlurRahman. Metodologi penafsiran al-Qur’an yang utuh dan padu, yangdia tawarkan adalah metode penafsiran yang memuat di dalamnya2 (dua) gerakan. Gerakan pertama berangkat dari situasi sekarangmenuju ke situasi massa al-Qur’an diturunkan dan gerakan keduakembali lagi, yakni dari situasi massa al-Qur’an diturunkan menujuke massa kini.
Model Pemikiran Tafsir Al-Kasysyaf Karya Imam Az-Zamakhsyari
Mu'min, Ma'mun
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5528
Al-Qur’an sebagai kitab mu’jizat tentu membutuhkan respons dari para mufasir untuk memaksimalkan fungsinya sebagai rahmat bagi sekalian alam, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan penuntun jalan ke surga atau keselamatan. Tanpa pemikiran tafsir tentu saja fungsi ini menjadi sulit dipenuhi karena begitu pelik dan tingginya balaghah bahasa yang dipakai dalam al-Qur’an. Hal ini wajar karena al-Qur’an adalah kitab wahyu yang menggunakan bahasa Tuhan, kemudian didekatkan dengan bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.Karena begitu tinggi aspek kebahasaan yang dikandung al-Qur’an, dan disertai maksud serta pesan terselubung dari penulis tafsir, pemikiran tafsir dalam perkembangannya telah mengalami dinamika yang demikian tajam. Tidak sedikit antara satu mufasir dengan mufasir lainnya, bukan hanya berbeda pendapat namun terkadang saling menyerang. Salah satu tafsir yang banyak menyerang kalangan sunni adalah Tafsir al-Kasysyaf karya Imam az-Zamakhsyari yang menjadi objek kajian penulis.Kali ini penulis berusaha menyuguhkan model pemikiran tafsir Imam az-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf, karena tafsir ini berpengaruh besar dalam belantara pemikiran tafsir di dunia Islam. Pengaruh yang diberikan tafsir ini tidak hanya di kalangan mu’tazilah saja, namun juga berpengaruh di kalangan suni yang selama ini sering menolak teologi mu’tazilah yang dianut Imam az-Zamakhsyari.
PEMIKIRAN KYAI HAJI HASYIM ASY’ARI TENTANG PENDIDIKAN AL-QUR’AN DI INDONESIA
Afif, Muhammad
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4549
Peran sentral Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam pemikiran pendidikan al-Qur’an di Indonesia tidak dapat diragukan. Melalui Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur yang demikian fenomenal, Kyai Hasyim mempraktikan pendidikan al-Qur’an kepada para santri dan masyarakat dalam memperbaharui pendidikan Islam Indonesia yang pada waktu itu tertinggal jauh dari pendidikan barat yang digagas oleh Belanda. Bagi Kyai Hasyim, pendidikan al-Qur’an merupakan dasar yang utama dalam mengembangkan pendidikan Islam Indonesia ke depan.Paling tidak terdapat empat alasana kenapa Kyai Haji Hasyim Asy’ari melakukan pendidikan al-Qur’an di Indonesia kala itu, yaitu: Pertama, Kyai Hasyim sangat sadar bahwa untuk melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Kolonial Belanda harus dimulai dari pembaruan pendidikan Islam yang bertumpu pada al-Qur’an. Kedua, Kyai Hasyim sangat prihatin melihat kondisi bangsa Indonesia kala itu yang miskin, bodoh, dan ditindas oleh pemerintah Kolonial Belanda, maka untuk membebaskan mereka tiada jalan kecuali membangkitkan mereka dari keterpurukannya melalui pendidikan al-Qur’an. Ketiga, modernisasi yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda membawa dampak negatif bagi perkembangan sosial-budaya bangsa Indonesia kala itu sehingga masyarakat harus dibentengi dengan ajaran al-Qur’an, dan Keempat, untuk memperkuat umat Islam, khususnya Jam’iyah NU, harus dibentengi dengan nilai-nilai dasar al-Qur’an.Tulisan ini bermaksud mengurai pemikiran pendidikan al-Qur’an Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam mengembangkan pendidikan Islam Indoneia. Dari pemikiran Kyai Hasyim ini jelas nampak terdapat hubungan positif terhadap perkembangan pendidikan Islam dewasa ini
KONSEP FAWATIH AS-SUWAR IMAM AL-MARAGI DALAM TAFSIR AL-MARAGI
Shofaussamawati, Shofa;
Famulaqih, Sidqon
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.872
Dalam al-Qur’an ada berbagai bentuk yang digunakan oleh Allahdalam memulai fimanNya. Terkadang sebuah surat diawalidengan tahmid, tasbih,nida’, sumpah, amr dan lain-lain. Artikel inimencoba mengeksplorasi lebih jauh tentang makna dibalik fawatihas-suwar dalam tafsir al-mara>gi>. Dalam beberapa surat ternyataAllah membuka fimanNya dengan kalimat berbeda yang seringdisebut dengan al-ah} ruf al-muqat} t{ a’ah sehingga menimbulkanmisteri dan tanda tanya besar karena sulit dipahami maknanyadibalik beberapa kalimat pembuka yang berada di luar kebiasaanitu. Penulis membedah persoalan ini dengan menggunakanpendekatan semantik untuk melakukan pemaknaan terhadapkalimah yang dijadikan pembuka surat dalam al-Qur’an. Hasilnyaadalah mengetahui sisi keunikan pemikiran Al-mara>gi dalammenafsirkan fawath as-suwar, meski sampai saat ini masih belumtentu diketahui secara pasti tentang misteri yang terdapat dibalikhuruf muqatt’ah tersebut. Al-mara>gi adalah salah satu mufassiryang mampu memaknai huruf muqatt’ah sebagai at-tanbih.
Kemukjizatan Al-Qur`an
Mansur, Sugeng Ali
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4791
Al Quran sebagai kita agama telah memuat pelbagai tatanan dan norma yang menjadi bagian dari perlawanan dan tantangan atas realitas Arab pra Islam. Artikel ini mengungkap kemukjizatan al Quran dari pelbagai aspek mulai dari kebahasaan, hukum, purbakala dan perspektif ilmiah. Adapun kajian ini bersifat pustaka yang menitik beratkan kajian pada bentuk literartur yang mempunyai hubungan dengan tema kajian, sehingga memiliki simpulan bahwa mukjizat al Quran tidak hanya terbatas pada bahasa tetapi dari pelbagai aspek kehidupan mulai dari awal turunnya samapai masa sekarang, dan mukjizat pada masa kontenporer ialah adanya penemuan yang bersifat ilmiah.
Mengenal Tafsir Tahlili Ijtihadi Corak Adabi Ijtima’i
Kusroni, Kusroni
HERMENEUTIK Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3905
Tulisan ini mengulas secara mendalam mengenai salah satu corak dalam khazanah penafsiran al-Qur’an, yakni corak adabi ijtima’i. Sebagai salah satu model pendekatan baru dalam mengurai kandungan makna al-Qur’an, corak ini menjadi menarik untuk dikaji dan dibumikan. Tulisan ini juga mengulas mengenai salah satu metode dalam tasfir al-Qur’an, yakni tahlili atau analisis. Metode tahlili yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah tahlili yang dominasi penafsirannya bersumber dari nalar-akal atau lebih dikenal dengan ra’yu. Jadi, tulisan ini akan mendiskusikan dan mengenalkan metode tafsir tahlili yang bersumber dari ijtihadi dengan corak adabi ijtima’i. Tokoh-tokoh mufasir adabi ijtima’i seperti Muhammad Abduh, Rasyid Rida (mewakili mufasir timur tengah), dan Hamka (mewakili ulama Indonesia) sekaligus karya-karya tafsir mereka juga diulas dalam tulisan ini sebagai bahan diskusi. Corak adabi ijtima’i merupakan salah satu pendekatan baru yang memfokuskan kajian pada penggalian nilai-nilai humanis dan nilai-nilai sosial dalam kehidupan kemasyarakatan, sehingga tujuan utama al-Qur’an diturunkan yaitu sebagai hudan linnas menjadi lebih terealisasikan dan dirasakan oleh khalayak.
Menggeser Paradigma Masyarakat Tentang Agama Di Tengah Pandemik Covid-19 Dalam Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur
Rosyid, Abdul
HERMENEUTIK Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7428
Covid-19 is a new type of virus that has shocked the world community in recent months. Many effects of the virus must be borne, economic, political, religious are real forms that have become new phenomena. Covid-19 changes both social and religious orders, understanding of religious propositions must be renewed again considering the context of the phenomenon is different. Religious conflict in the midst of Covid-19 is the result of incomplete religious understanding, partial understanding, the effect of which is a puritanical religious practice. Paul Ricoeur's hermeneutics is a bridge to straighten the understanding of religious propositions that don't fit the context. Islam as a major religion in the world must be able to answer the problems of its people.
PEMBACAAN AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-QURTUBI
Misbah, Muhammad
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.907
Artikel ini membahas tentang Qira>’a>t yang merupakan disiplinilmu yang penting, terutama bagi mereka yang hendak menafsirkanal-Qur’an. Banyak para ulama Islam yang menaruh perhatian yangserius terhadap disiplin ilmu ini. Tujuan penulisan ini adalah untukmengetahui seluk beluk ragam bacaan al-Qur’an. Sebagagaimanaal-Qurt| ubi dalam kitab tafsirnya al-Jami’ li Ah} ka>m al-Qur’an, alQurt| ubi tidak mengabaikan qira>at dalam menafsirkan ayat alQuran. Hal ini bisa dilihat dalam uraian penafsiran beliau, terlebihlagi pada ayat-ayat yang bermuatan hukum. Adapun sumber kitabkitab qira>at yang beliau pakai di dalam kitab tafsirnya antara lain:Kitab al-Kasyf ‘an Wuju>h al-Qira>at as-Sab’ wa ‘Ilaluha wa H} ujajihakarya Abu Muhammad Makki bin Abu Thlib al-Qi>si, Al-H} ujjah f‘Ilal al-Qira>at as-Sab’, karya Abu Ali al-Hasan bin Ahmad al-Farisi,Al-Muhtasab f Tabyi>n Wuju>h Syawa>z\ al-Qira>at wa al-Id} a>h ‘Anha,karya Abu al-Fath Us} ma \ n bin Jinni, dan kitab-kitab karya Abu Amr >ad-Dani. Penulis menggunakan pendekatan konten analisis untukmembedah makna dibalik ragam bacaan dalam al-Qur’an tersebut.Hasilnya adalah sebagaimana al-Qurt| ubi menyebutkan tentangperbedaan qiraat yang memiliki dampak hukum yang diakibatkandari variasi qiraat tersebut sehingga menimbulkan perbedaanpendapat di kalangan ahli fiih lalu beliau mendiskusikannya.Banyaknya qiraat dan variasi hukum yang ditimbulkan bukanberarti mengindikasikan adanya kontradiksi antar keduanya.
Internalisasi Hermeneutika Lontar Yusuf Sebagai Tradisi Masyarakat Kemiren, Banyuwangi
sadiyah, Miftahus
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6064
Seiring berkembangnya zaman, kajian al-Qur’an mengalami perkembangan wilayah kajian. Dari kajian teks menjadi kajian sosial-budaya. Tradisi Lontar Yusuf adalah salah satu dari sekian banyak fenomena umat Muslim dalam menghadirkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini memiliki daya tarik tersendiri bahkan sampai saat ini tradisi Lontar yusuf masih hidup di masyarakat Kemiren. Hal yang membedakan tradisi ini ialah dalam prosesi Lontar Yusuf membaca arab pegon dan berupa seperti kitab. Dengan latar sosial keagamaan serta budayanya tentu masyarakat Kemiren memiliki pemahaman dan pemaknaan tertentu. Dengan begitu, fokus penelitian ini adalah 1) Bagaimana praktik tradisi Lontar Yusuf di Desa Kemiren, Banyuwangi? 2) Apa  makna tradisi Lontar Yusuf perspektif masyarakat Kemiren, Banyuwangi? Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan metode observasi-wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui praktik tradisi Lontar Yusuf yang telah di turunkan secara turun temurun oleh leluhur mereka yang dipercaya hingga kini. Makna tradisi Lontar Yusuf perspektif masyarakat Kemiren secara fenomenologis yakni, 1) Sarana ukhuwah 2) Sebagai penolak balak 3) Sarana bermunajat kepada Allah 4) Sarana dzikir
Etik PEmanfaatan Keanekaragaman Hayati Dalam PErsPEKtif al-Qur’an
Mustaqim, Abdul
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.930
Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur’an. Keanekaragamanhayati adalah segala macam bentuk ciptan Allah swt di muka bumiini, baik yang terdiri dari alam binatang maupun alam tumbuhan.Dalam perspektif al-Qur’an keanekaragaman tersebut merupakananugrah sang pencipta yang merupakan tanda-tanda kekuasaannya.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perspektif alQur’an dalam melihat pemanfaatan keanekaragaman hayati yangdimaksud tersebut, dengan menggunakan pendekatan kontenanalisis penulis berusaha untuk membongkar sisi-sisi yang belumterungkap dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan keragamanciptaan Allah. Hasilnya adalah terungkapnya tujuan Allahmenciptakan makhluknya yang beragam tersebut sesungguhnyaadalah diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkandalam kehidupan. Hal itu membutuhkan etika manusia agarkelangsungan kehidupan ala mini tetap seimbang dan tidakmerusak keberlanjutan ekologi.