cover
Contact Name
Bayu Fandidarma
Contact Email
bayuf@unipma.ac.id
Phone
+6285856297633
Journal Mail Official
electra@unipma.ac.id
Editorial Address
Jl. Auri 14-16 Kota Madiun Kampus III Universitas PGRI Madiun 63117
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
ELECTRA : Electrical Engineering Articles
ISSN : 2745598X     EISSN : 27470539     DOI : http://doi.org/10.25273/electra
Electrical Engineering Articles is scientific journal that publishes articles in the field of Electrical Engineering, Control System and Renewable Energy Application. It is a journal to encourage research publication to research scholars, academicians, professionals and student engaged in their respective field.
Articles 77 Documents
Perancangan Sistem Monitoring Panel Surya Dengan Berbasis IoT Menggunakan Blynk Akbar, Dian Faisal; Yuniahastuti, Irna Tri; Sari, Churnia
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i1.21271

Abstract

Salah satu teknologi yang sangat potensial untuk menghasilkan energi matahari adalah teknologi panel surya, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Saat ini, teknologi pemanen energi berbasis panel surya/photovoltaic (PV) sangat maju dan banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan. Tujuan Dari penelitian ini untuk mengetahui luaran dari panel surya. Pengujian ini di lakukan selama 7 hari dengan 7 kali pengukuran yaitu pada jam 09.00 hingga jam 15.00. Alat pengujian menggunakan sensorINA219 dan watt meter. Hasil pengujian mendapatkan hasil rata rata daya harian yaitu 11,14 watt pada pengukuran menggunakan Watt meter. Sedangkan hasil rata rata daya yang di peroleh sensor INA219 adalah 7,77 watt. Untuk melakukan pengujian arus dan tegangan pada panel surya, penelitian ini menggunakan panel surya 50 wp jenis pollikristalin, mikrokontroler NodeMCU ESP8266 dan sensor INA219. Data kemudian dikirim ke aplikasi Blynk melalui internet.
RANCANG BANGUN MONITORING BLIND SPOT AREA PADA MOBIL MPV MENGGUNAKAN NODEMCU ESP 8266 DENGAN BLYNK Kinasih, Bayu Satrio; Susilo, Dody; Laksono, Ridam Dwi
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.20783

Abstract

Blind Spot atau titik buta dalam berkendara adalah area di sekitar pengemudi yang tidak bisa dilihat saat mengemudi karena keterbatasan pandangan pada kaca spion. Akibat dari keterbatasan ini bisa menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu, rancangan sistem deteksi blind spot ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan di jalan saat pengemudi mengendarai kendaraannya. Penelitian ini menggunakan dua metode: pertama, sensor ultrasonik untuk mengukur jarak di bagian depan mobil MPV, dan kedua, NodeMCU ESP8266 untuk mengolah data dari sensor ultrasonik dan mengirimkannya ke aplikasi Blynk. Data hasil pengukuran langsung ditampilkan di aplikasi Blynk. Jarak yang dianalisis berkisar antara 20 cm hingga 330 cm. Pada hasil pengujian didapatkan error tertinggi pada sensor adalah 3,84% dari 32 kali percobaan. Kesimpulan dari pengujian menunjukkan bahwa sensor ultrasonik dapat membaca jarak dengan rata-rata error sebesar 1,65% untuk sensor depan kiri dan 1,64% untuk sensor depan kanan. Dalam pengujian sistem keseluruhan, tingkat kesalahan tertinggi untuk sensor depan kiri dan kanan adalah 3,84%. Selain itu, akurasi sensor depan kiri tercatat sebesar 98,66% dan sensor depan kanan 98,84%. Pengujian sudut pada kedua sensor menunjukkan bahwa pada sudut 0-50 derajat, buzzer masih berbunyi, tetapi jika sudut lebih dari 50 derajat, buzzer tidak berbunyi. NodeMCU ESP8266 berhasil mengirim data ke aplikasi Blynk, yang memberikan peringatan "STOP" jika jarak kurang dari 30 cm, "HATI-HATI" jika jarak antara 30 cm dan 50 cm, dan "BEBAS HAMBATAN" jika jarak lebih dari 50 cm. Blind Spot or blind spot in driving is an area around the driver that cannot be seen while driving due to limited visibility in the rearview mirror. As a result of this limitation, it can cause accidents. Therefore, the design of this blind spot detection system aims to prevent accidents on the road when the driver is driving his vehicle. This study uses two methods: first, an ultrasonic sensor to measure the distance at the front of the MPV car, and second, the NodeMCU ESP8266 to process data from the ultrasonic sensor and send it to the Blynk application. The measurement data is directly displayed in the Blynk application. The distance analyzed ranges from 20 cm to 330 cm. The test results showed that the highest error in the sensor was 3.84% from 32 trials. The conclusion of the test shows that the ultrasonic sensor can read the distance with an average error of 1.65% for the left front sensor and 1.64% for the right front sensor. In the overall system test, the highest error rate for the left and right front sensors was 3.84%. In addition, the accuracy of the left front sensor was recorded at 98.66% and the right front sensor was 98.84%. Angle testing on both sensors shows that at an angle of 0-50 degrees, the buzzer still sounds, but if the angle is more than 50 degrees, the buzzer does not sound. The NodeMCU ESP8266 successfully sends data to the Blynk application, which gives a warning "STOP" if the distance is less than 30 cm, "CAUTION" if the distance is between 30 cm and 50 cm, and "OBSTACLE FREE" if the distance is more than 50 cm
ANALISIS PEMELIHARAAN KINERJA DENGAN METODE THERMOVISI PADA JARINGAN SUTT 70KV GI MANISREJO Dirgantara, Mahadika Putra; Sunaryantiningsih, Ina
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.20791

Abstract

Pemeliharaan kinerja Sistem Utilitas Tenaga Listrik (SUTT) memainkan peran penting dalam memastikan ketersediaan dan keandalan infrastruktur tenaga listrik. Penelitian ini memperkenalkan pendekatan inovatif yang menggabungkan metode termovisi dengan analisis pemeliharaan kinerja untuk mengevaluasi kondisi termal serta kinerja jaringan SUTT. Metode termovisi digunakan untuk mendeteksi hot spot dan anomali termal pada peralatan jaringan, yang dapat mengindikasikan potensi kegagalan sistem. Selain itu, analisis pemeliharaan kinerja mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kinerja jaringan, seperti suhu operasional, beban listrik, dan tingkat keausan peralatan. Hasil pengukuran termovisi pada jaringan SUTT 70 kV GI Manisrejo arah Caruban dilakukan pada dua tower, yaitu tower 176 dan tower 175, dengan hasil sebagai berikut: Tower 176 memiliki rata-rata arus sebesar 54 A, suhu klem berkisar antara 30°C hingga 33°C, serta suhu konduktor rata-rata 26°C. Tower 175 memiliki rata-rata arus 54 A, suhu klem antara 31°C hingga 34°C, dan suhu konduktor rata-rata 27°C. Berdasarkan hasil tersebut, kondisi kedua tower dinyatakan baik karena nilai arus, suhu klem, dan suhu konduktor masih berada dalam batas standar. Tindak lanjut yang dilakukan adalah pengujian rutin setiap enam bulan. Selain itu, perhitungan nilai emisivitas pada jaringan SUTT 70 kV GI Manisrejo arah Caruban juga dilakukan pada kedua tower. Hasilnya, tower 176 memiliki nilai rata-rata emisivitas pada setiap phasa berkisar antara 0,4771 hingga 0,4937. Sementara itu, tower 175 memiliki nilai rata-rata emisivitas pada setiap phasa berkisar antara 0,4655 hingga 0,4937. Hasil perhitungan emisivitas dan selisih suhu menunjukkan bahwa kedua tower berada dalam kondisi yang baik karena masih sesuai dengan standar yang ditetapkan. Tindak lanjut yang dilakukan adalah pengujian rutin setiap enam bulan. Dengan demikian, berdasarkan hasil pengukuran termovisi, perhitungan nilai emisivitas, dan selisih suhu, dapat disimpulkan bahwa kondisi jaringan SUTT yang diuji berada dalam kategori baik serta sesuai dengan standar yang berlaku. The maintenance of Electrical Utility System (SUTT) plays a crucial role in ensuring the availability and reliability of electrical infrastructure. This study introduces an innovative approach that combines the thermographic method with performance maintenance analysis to evaluate the thermal condition and performance of the SUTT network. The thermographic method is used to detect hot spots and thermal anomalies in network equipment, which may indicate potential system failures. Additionally, performance maintenance analysis considers various factors affecting network performance, including operational temperature, electrical load, and equipment wear levels. The thermographic measurements were conducted on the 70 kV SUTT network at GI Manisrejo towards Caruban, focusing on two towers, namely tower 176 and tower 175, with the following results: Tower 176 recorded an average current of 54 A, clamp temperature ranging from 30°C to 33°C, and an average conductor temperature of 26°C. Meanwhile, tower 175 had an average current of 54 A, clamp temperature ranging from 31°C to 34°C, and an average conductor temperature of 27°C. Based on these results, both towers were found to be in good condition, as the current values, clamp temperatures, and conductor temperatures were within standard limits. The follow-up action taken was a routine inspection every six months. Additionally, the emissivity values of the 70 kV SUTT network at GI Manisrejo towards Caruban were calculated for both towers. The results showed that tower 176 had an average emissivity value per phase ranging from 0.4771 to 0.4937, while tower 175 had an average emissivity value per phase ranging from 0.4655 to 0.4937. The emissivity calculations and temperature differences indicated that both towers were in good condition as they remained within the established standard limits. The follow-up action taken was a routine inspection every six months. Thus, based on the thermographic measurements, emissivity calculations, and temperature differences, it can be concluded that the tested SUTT network is in good condition and complies with the applicable standards
EVALUASI INTENSITAS PENCAHAYAAN GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH OTANAHA KOTA GORONTALO Kamil Amali , Lanto Mohamad; Palakua, Hendra; Mohamad , Yasin; Ntobuo, Nova Elysia
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.21077

Abstract

RSUD Otanaha merupakan salah satu rumah sakit di Kota Gorontalo yang mengalami permasalahan pencahayaan ruangan yang belum memenuhi standar. Standar pencahayaan sangat penting untuk dipatuhi guna memastikan lingkungan yang aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi intensitas pencahayaan pada gedung RSUD Otanaha Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode observasi serta pengukuran langsung terhadap objek yang akan diukur, seperti luas ruangan dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 36 ruangan yang belum memenuhi standar intensitas pencahayaan sesuai dengan Permenkes RI No. 40 Tahun 2022 tentang persyaratan teknis bangunan, prasarana, dan peralatan kesehatan rumah sakit. Agar intensitas pencahayaan sesuai dengan standar, diperlukan penambahan jumlah titik lampu yang bervariasi di setiap ruangan. Selain itu, kebutuhan pencahayaan untuk berbagai waktu penggunaan ruangan—pagi, siang, sore, dan malam—dapat dipenuhi dengan pengaturan penyalaan jumlah titik lampu sesuai rekomendasi. Berdasarkan standar SNI 6197:2011 tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan, spesifikasi lampu yang direkomendasikan adalah lampu 13 watt dengan intensitas cahaya 1200 lumen.  RSUD Otanaha is a hospital in Gorontalo City that faces issues with inadequate room lighting, which does not meet the required standards. Compliance with lighting standards is essential to ensure a safe, comfortable environment that meets user needs. Therefore, this study aims to evaluate the lighting intensity in the RSUD Otanaha building. This research employs observation methods and direct measurements of room dimensions and light intensity. The results indicate that 36 rooms do not meet the lighting intensity standards set by Minister of Health Regulation (Permenkes) No. 40 of 2022 concerning technical requirements for hospital buildings, infrastructure, and medical equipment. To achieve the required lighting intensity, additional light points with varying numbers are needed in each room. Furthermore, lighting requirements for different times of the day—morning, afternoon, evening, and night—can be fulfilled by adjusting the number of activated light points as recommended. According to SNI 6197:2011 on Energy Conservation in Lighting Systems, the recommended specification is a 13-watt lamp with a luminous intensity of 1200 lumens.
PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA ROOFTOP MENGGUNAKAN SAM GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Ishak, Nasrun; Ilham, Jumiati; Hasan Harun, Ervan
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.21204

Abstract

Masalah kelistrikan di Indonesia yaitu kebutuhan listrik meningkat lebih pesat dibandingkan pemenuhan pasokan listrik. Kebijakan Energi Nasional (KEN) menargetkan bahwa rasio elektrifikasi mendekati 100% pada tahun 2025. Dalam Grand Strategi Energi Nasional, telah dipetakan rencana penambahan kapasitas EBT sebesar 38 Giga Watt (GW) sampai dengan 2035. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah memprioritaskan pengembangan energi surya karena biaya investasi yang rendah dan waktu pelaksanaan yang singkat. Wilayah Gorontalo yang berada di dekat garis khatulistiwa memiliki suhu udara 23,30-33,40 kondisi ini memungkinkan energi terbarukan yang bersumber dari tenaga surya dapat dilaksanakan di provinsi Gorontalo. Penelitian membutuhkan data seperti luas area atap, potensi radiasi lokasi, kemiringan dan orientasi. Hasil simulasi menunjukkan energi AC tahunan pada tahun pertama adalah 335,844 kWh, atap bagian selatan 420m2 menampung modul surya sebanyak 136, atap bagian utara 323,8m2 menampung 100 modul surya, untuk atap bagian barat 592,9m2 menampung 244 modul surya. Modul surya berkapasitas 400wp berjumlah 480 dan membutuhkan 4 inverter yang berkapasitas 40 kWac dengan kapasitas yang dapat dihasilkan PLTS sebesar 192,4 kWp. Setelah memasang PLTS konsumsi energi listrik gedung Fakultas Teknik dapat menghemat penggunaan energi listrik menjadi 585193 kWh/tahun atau 1603,26 kWh/hari. Indonesia's electricity problem is that electricity needs increase faster than electricity supply fulfillment. The National Energy Policy (KEN) targets that the electrification ratio is close to 100% by 2025. In the National Energy Strategy Grand, there has been a plan to add an EBT capacity of 38 Giga Watt (GW) until 2035. To achieve this target, the government prioritizes the development of solar energy due to low investment costs and short implementation time. The Gorontalo region near the equator has an air temperature of 23.30-33.40 allowing renewable energy sourced from solar power to be carried out in Gorontalo province. Research requires data such as roof area, site radiation potential, tilt and orientation. Simulation results show the annual AC energy in the first year was 335.844 kWh, the southern roof 420m2 accommodating 136, the northern roof 323.8m2 accommodating 100 solar modules, for the western roof 592.9m2 accommodating 244 solar modules. The 400wp solar module has a capacity of 480 and requires 4 inverters with a 40 kWac capacity with a PLTS-generating capacity of 192.4 kWp. The Faculty of Engineering building can save electric energy use to 585193 kWh/year or 1603.26 kWh/day after installing PLTS.
STUDI PERANCANGAN SISTEM PLTS ON-GRID PADA KAWASAN PLTD SETAJAM Nur Hidayat, Sonny; Widihastuti, Ida
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.22037

Abstract

Penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia semakin menjadi fokus utama dalam rangka memenuhi ketahanan energi nasional. Perancangan sistem PLTS yang terhubung secara On-grid dengan sistem PLTD, memiliki kelebihan tidak perlu adanya penambahan baterai pada sistem PLTS. Salah satu upaya untuk mewujudkan transformasi menuju penggunaan energi ramah lingkungan, PLN ULP Dabo Singkep mencanangkan penggunaan sistem PLTS on grid sebagai supplay pendukung PLTD untuk menggurangi emisi gas karbon. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah perencanaan melalui aplikasi Homer Pro, software ini mampu melakukan perhitungan dan analisis terkait keadaan sumber energi terbarukan suatu daerah, sehingga membantu menganalisis berbagai skenario konfigurasi sistem energi terbarukan dan sistem kelistrikan. Hasil penelitian ini menunjukan kawasan PLTD Setajam optimal dilakukan pemasangan sistem PLTS On-grid, hal ini ditunjukan dengan nilai iradiasi matahari sebesar 4,636 kWh/m2/d. PLTD Setajam memilki beban rata-rata pelanggan 4,024 MW, dengan menggunakan aplikasi Homer Pro didapat konfigurasi sistem terbaik yaitu kombinasi sistem PLTS On-grid dengan PLTD, dimana sistem PLTS berkontribusi untuk mensuplai sistem sebesar 10,9% dengan total produksi listrik tahunan sebesar 198.8520 kWh/tahun, sedangkan sistem PLTD mampu mensuplai sistem sebesar 89,1% dengan total produksi listrik tahunan sebesar 36.082.440 kWh/tahun. Kombinasi PLTS On-grid dengan sistem PLTD menghasilkan biaya operating cost sebesar Rp 17.600.000.000/tahun. The use of new renewable energy in Indonesia is increasingly becoming a major focus in order to meet national energy security. The design of a PLTS system that is connected on-grid to the PLTD system has the advantage of not needing to add batteries to the PLTS system. One of the efforts to realize the transformation towards the use of environmentally friendly energy, PLN ULP Dabo Singkep has launched the use of an on-grid PLTS system as a supporting supply for PLTD to reduce carbon gas emissions. The method used in the research is planning through the Homer Pro application, this software is able to perform calculations and analysis related to the state of renewable energy sources in an area, thus helping to analyze various configuration scenarios of renewable energy systems and electrical systems. The results of this study indicate that the Setajam PLTD area is optimal for the installation of the On-grid PLTS system, this is indicated by the solar irradiation value of 4.636 kWh/m2/d. Setajam PLTD has an average customer load of 4.024 MW, using the Homer Pro application, the best system configuration is a combination of the On-grid PLTS system with PLTD, where the PLTS system contributes to supplying the system by 10.9% with a total annual electricity production of 198,8520 kWh/year, while the PLTD system is able to supply the system by 89.1% with a total annual electricity production of 36,082,440 kWh/year. The combination of On-grid PLTS with the PLTD system results in an operating cost of Rp. 17,600,000,000/year
Analisa Indeks Keandalan distribusi 20 KV PT PLN(Persero) pada penyulang nglames menggunakan metode RIA Ardiansyah, Yovie Eri; Tri Yuniahastuti, Irna
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v5i2.20795

Abstract

Sistem Distribusi tenaga listrik merupakan proses penyaluran energi listrik dari pembangkit ke konsumen. Tenaga listrik dapat dilihat dari seberapa sering terjadinya pemadaman dan lamanya pemadaman yang terjadi dalam satu waktu tertentu. Indeks keandalan merupakan satu cara dalam mengetahui tingkat keandalan suatu sistem distribusi yang dinyatakan dalam probabilitas. SAIFI, SAIDI merupakan 2 indeks keandalan yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat keandalan suatu sistem Distribusi Tenaga Listrik. Metode Reliability Index Assessment (RIA) digunakan untuk mengetahui tingkat keandalan sistem distribusi 20 KV di PT. PLN (Persero) UP3 Madiun Kota pada penyulang  Nglames. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem distribusi memiliki tingkat keandalan yang relatif tinggi, dengan nilai SAIDI sebesar 83,96892 Jam/Pelanggan/Tahun, SAIFI sebesar 8,396892 Kali/Pelanggan/Tahun. Tingkat keandalan ini memenuhi standar SPLN dan dapat diterima sebagai sistem yang handal.
PENENTUAN SETTING DAN KOORDINASI SISTEM PROTEKSI RELAY JARAK PADA SALURAN TRANSMISI 150 KV ANGGREK-TOLINGGULA MENGGUNAKANAPLIKASI DIGSILENT POWER FACTORY 15.1 Hamidjun, Ikbal; amali, kamil
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v6i1.22289

Abstract

Untuk meningkatkan kinerja pada sistem kelistrikan SULUTGO khususnya di wilayah Gorontalo Utara, PT. PLN (Persero) sedang membangun Gardu Induk (GI) Tolinggula. Gardu Induk ini nantinya akan terhubung ke gardu induk anggrek pada sub-sistem Gorontalo. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menentukan setting dan koordinasi pada proteksi relay jarak di gardu induk Tolinggula. Metode penelitian dilakukan dengan mengukur tegangan dan arus gangguan pada titik relay di setiap zona. Dengan membagi tegangan dan arus yang diukur, relai dapat menentukan impedansi hingga titik gangguan. Zona 1 di setting 80-90% dari panjang saluran transmisi yang diamankan dengan waktu tunda 0 detik (instan), zona 2 di setting dengan panjang impedansi mencapai 120-150% dari panjang saluran yang di amankan dengan waktu tunda 0.4 - 0.8 detik, zona 3 di setting lebih luas yaitu mencakup 225% dari panjang saluran yang diamankan dengan waktu tunda 1.2 – 1.6 detik. Hasil penelitian membuktikan pengaturan zona 1, zona 2 dan zona 3 pada masing-masing induk induk sudah sesui hal ini di buktikan dengan tabel hasil perhitungan bahwa impedansi pada Zona 1 lebih kecil dari Zona 2, begitupun dengan nilai impedansi pada Zona 2 yang berubah lebih kecil dari Zona 3. Hal ini disebabkan oleh jarak penghantar yang mempengaruhi besar kecilnya nilai impedansi. Sesuai dengan teori sebelumnya bahwa Zona 1 disetel pada titik 90% dari panjang penghantar dan seterusnya ke zona lain. Serta untuk koordinasi jarak relay di setiap gardu sudah tepat hal ini di buktikan dengan kurva di tiap zona pada setiap GI tidak melewati belakang busbar GI tersebut.
ANALISA SUSUT TEKNIS PENYULANG 20 KV SENIPAH-4 ULP SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KERTANEGARA DENGAN MENGGUNAKAN ETAP 12.6 irwanto, Hendri; Widihastuti, Ida
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v6i1.22498

Abstract

Dalam proses pendistribusian energi listrik dari pembangkit hingga ke konsumen, terjadi susut daya yang menyebabkan penurunan kualitas energi. Permasalahan susut daya berdampak langsung terhadap efisiensi operasional dan kerugian finansial perusahaan penyedia tenaga listrik seperti PT PLN (Persero). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi besarnya susut teknis pada Penyulang 20 kV Senipah-4 yang merupakan bagian dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) Samboja. Penyulang ini merupakan salah satu penyulang utama yang disuplai oleh Gardu Induk Senipah. Berdasarkan data neraca energi tahun 2024, diketahui bahwa total susut energi pada ULP Samboja mencapai 8,05%, dengan susut teknis sebesar 6,56% dan susut non-teknis sebesar 1,49%. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perhitungan manual (I²R) dan simulasi jaringan distribusi menggunakan software ETAP 12.6. Simulasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran sistematis terhadap kondisi jaringan, analisis aliran daya, drop tegangan, dan titik-titik kritis pada penyulang.  Dari hasil simulasi ETAP diperoleh besar Losses  yang terjadi adalah 719,8 kW sekitar 2,8%. Pada analisis loadflow terdapat beberapa Gardu yang mengalami Overload yaitu MJW011, MJW022, MJW026, MJW027, MJW031, SBJ148, SBJ157, SBJ159, SBJ166, SBJ177, dan SBJ180. Salah satu indikator utama yang ditampilkan ETAP adalah nilai % Loading, dimana nilai lebih dari 100% menandakan adanya kelebihan beban. Setelah dilakukan optimasi, didapatkan nilai Losses  sebesar 439,9 kW atau sekitar 1,72%. Sedangkan pada Gardu yang mengalami overload, didapatkan selisih losses sebesar 12,31445 kW dan selisih drop voltage sebesar 16,368018% sehingga didapatkan hasil saving kW dan kondisi persentase drop voltage setelah optimasi sebesar 436,1452 kW dan 9,97%. Hasil optimasi tersebut menunjukan hasil yang lebih baik dari hasil sebelumnya.    In the process of distributing electrical energy from the generator to the consumer, there is a power losses that causes a decrease in energy quality. The problem of power losses has a direct impact on operational efficiency and financial losses of electricity providers such as PT PLN (Persero). This study aims to analyze and evaluate the amount of technical losses in the 20 kV Senipah-4 Feeder which is part of the Samboja Customer Service Unit (ULP). This feeder is one of the main feeders supplied by the Senipah Main Substation. Based on the 2024 energy balance data, it is known that the total energy losses in the Samboja ULP reached 8.05%, with technical losses of 6.56% and non-technical losses of 1.49%.The methodology used in this study is manual calculation (I²R) and distribution network simulation using ETAP 12.6 software. The simulation was carried out to obtain a systematic picture of network conditions, power flow analysis, voltage drop, and critical points on the feeder. From the results of the ETAP simulation, the amount of losses that occurred was 719.8 kW, around 2.8%. In the loadflow analysis, there are several substations that experience Overload, namely MJW011, MJW022, MJW026, MJW027, MJW031, SBJ148, SBJ157, SBJ159, SBJ166, SBJ177, and SBJ180. One of the main indicators displayed by ETAP is the % Loading value, where a value of more than 100% indicates an overload. After optimization, the Losses value was obtained at 439.9 kW or around 1.72%. While in the substation that experienced overload, the difference in losses was 12.31445 kW and the difference in voltage drop was 16.368018% so that the results of saving kW and the percentage of voltage drop after optimization were 436.1452 kW and 9.97%. The optimization results showed better results than the previous results.
ANALISIS PEMECAHAN BEBAN PENYULANG PINUS TERHADAP SUSUT TEKNIS JARINGAN DENGAN SIMULASI ETAP 19.0.1 DI PT PLN (PERSERO) ULP DOLOK SANGGUL Putro, Dimas Sihno; Ida Widihastuti
ELECTRA : Electrical Engineering Articles Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/electra.v6i1.23023

Abstract

Penyulang Pinus adalah penyulang yang melayani pelanggan PT PLN (Persero) ULP Dolok Sanggul memiliki beban 86 A dan panjang penyulang yang terlampau panjang yaitu sebesar ± 420,71 kms dan, maka dari itu dilakukan pemecahan beban penyulang dengan pembangunan SKTM ± 11 kms untuk memperpendek layanan penyulang dan dapat menurunkan susut daya teknis serta perbaikan tegangan ujung Jaringan Tegangan Menengah (JTM), dalam pelaksanaannya dilakukan analisa menggunakan pemodelan di aplikasi ETAP versi 19.0.1 dengan skema sebelum dan sesudah pemecahan beban. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sebelum dilakukan pemecahan beban, susut daya teknis pada Penyulang Pinus sebesar 0,111 MW. Setelah dilakukan pemecahan beban, susut daya teknis menurun menjadi 0,093 MW, sehingga terjadi penurunan sebesar 0,018 MW. dan menghasilkan penghematan energi sebesar 432 kWh per hari, yang jika dikonversi ke dalam nilai ekonomi mencapai Rp604.800 per hari. Selain itu, pemecahan beban juga berdampak terhadap peningkatan tegangan pada JTM. Tegangan ujung meningkat dari 19,29 kV ke 19,41 kV di Desa Hauagong dan di Simarigung dari 19,97 kV ke 20,24 kV. Selisih tegangan antara simulasi dan pengukuran lapangan sangat kecil, yaitu 0,04 kV (0,2%) dan 0,01 kV (0,05%) sehingga simulasi dianggap representative