cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 96 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 4 (2026)" : 96 Documents clear
PENGARUH DRIBBLING CIRCUIT TERHADAP KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PESERTA DIDIK EKSTRAKULIKULER SEPAK BOLA SMPN 6 MARTAPURA Akhmad Julianoor; Ramadhan Arifin; Norma Anggara; Aryadi Rachman
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13195

Abstract

ABSTRACT The low mastery of basic dribbling skills among students in the football extracurricular program at SMPN 6 Martapura is the main problem in this study. This condition is assumed to be influenced by monotonous and less varied training methods, which hinder the development of students’ skills. This study aims to determine the effect of the dribbling circuit training method on dribbling skills among students participating in the football extracurricular program at SMPN 6 Martapura. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design, specifically a One Group Pretest–Posttest Design. The sample consisted of 15 students selected using a saturated sampling technique. The research instrument was adapted from Tantri and Mashud. Data were collected through dribbling skill tests conducted before (pretest) and after (posttest) the treatment. The data were analyzed using a Paired Samples t-test with SPSS version 25. The results showed an improvement in dribbling skills after the implementation of the dribbling circuit training method, indicated by a decrease in the mean time from 22.260 seconds in the pretest to 18.140 seconds in the posttest, with a difference of 4.120 seconds. The hypothesis test revealed a t-value of 13.322 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating that the alternative hypothesis was accepted. Therefore, it can be concluded that the dribbling circuit training method has a significant effect on improving dribbling skills among students in the football extracurricular program at SMPN 6 Martapura. ABSTRAK Rendahnya penguasaan teknik dasar menggiring bola pada peserta didik ekstrakurikuler sepak bola SMPN 6 Martapura menjadi permasalahan utama dalam penelitian ini. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh penggunaan metode latihan yang cenderung monoton dan kurang variatif sehingga menghambat perkembangan keterampilan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode latihan dribbling circuit terhadap keterampilan menggiring bola pada peserta didik ekstrakurikuler sepak bola SMPN 6 Martapura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu melalui rancangan One Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 15 peserta didik yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen penelitian mengacu pada instrumen yang dikembangkan oleh Tantri dan Mashud. Pengumpulan data dilakukan melalui tes keterampilan menggiring bola yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji Paired Samples t-Test dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan menggiring bola setelah diberikan perlakuan metode dribbling circuit. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan rata-rata waktu dari 22,260 detik pada pretest menjadi 18,140 detik pada posttest, dengan selisih sebesar 4,120 detik. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai t hitung sebesar 13,322 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), sehingga hipotesis alternatif diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode latihan dribbling circuit berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan menggiring bola pada peserta didik ekstrakurikuler sepak bola SMPN 6 Martapura.
THE EFFECT OF SCAFFOLDING IN STORY REENACTMENT ON JUNIOR HIGH SCHOOL EFL STUDENTS’ SPEAKING SKILLS Betsi Daputri Rahayu; Agus Sholeh; Rizky Lutviana
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13073

Abstract

Junior high school students in EFL contexts frequently encounter challenges in speaking. These challenges are not primarily caused by insufficient language knowledge, but rather by limited opportunities to use English during communicative classroom activities. Another factor that contributes to students speaking difficulties is high speaking anxiety. This study aimed to examine the effect of scaffolding in story reenactment activities on junior high school students’ speaking skills in EFL contexts. The study employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design involving two eighth grade classes at SMPN 23 Malang. The sample consisted of 54 students who were assigned into an experimental group (n=26) and a control group (n = 28). The data collection process used speaking tests using an analytic scoring rubric covering fluency, grammatical accuracy, vocabulary, pronunciation, and content. The findings showed that the experimental group achieved greater improvement than the control group across all speaking components, particularly grammatical accuracy and fluency. The result of The Mann-Whitney U test showed that the two groups were significantly different (p = .002) with an effect size of .42. The findings indicate that the implementation of scaffolding in story reenactment helped students manage linguistic and cognitive demands during oral production, thereby supporting better speaking performance in junior high school EFL classrooms. ABSTRAK Siswa SMP dalam konteks belajar bahasa inggris sebagai bahasa asing (EFL) kerap menghadapi kesulitan dalam berbicara (speaking). Hal ini terjadi bukan karena kurangnya pengatuhan bahasa yang mereka miliki, melainkan karena minimnya ksesempatan berlatih secara komunikatif di dalam kelas. Kesulitan tersebut juga terjadi karena tingginya kecemasan saat berbicara serta aktitifitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh scaffolding dalam kegiatan story reenactment terhadap kemampuan berbicara siswa SMP dalam konteks EFL. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan metode pretest-posttest yang melibatkan dua kelas VIII di SMPN 23 Malang. Sample berjumlah 54 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen (n=26) dan kelompok kontrol (n=28). Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan berbicara menggunakan rubrik analitik yang mencakup fluency, gramatical accuracy, vocabulary, pronunciation, dan content. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan kemampuan berbicara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol pada seluruh komponen berbicara, terutama gramatical accuracy dan fluency. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p = .002) dengan effect size sebesar .42. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan scaffolding dalam story reenactment membantu siswa mengurangi beban linguistik dan kognitif selama proses produksi lisan sehingga mendukung performa berbicara yang lebih baik dalam pembelajaran EFL tingkat SMP.
EVALUASI PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL CIPP BERBASIS COLLABORATIVE PROJECT BASED LEARNING Afnia Dwi Febriani Afnia; Arief Rahman Yusuf Arief; Sigit Dwi Laksana Sigit
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13150

Abstract

The implementation of Collaborative Project-Based Learning (CPjBL) in vocational education needs to be evaluated to ensure alignment between instructional planning, implementation, and learning outcomes in supporting students' competency achievement. This study aims to evaluate the implementation of Collaborative Project-Based Learning (CPjBL) in the Audio Video Engineering Program at SMKS Brawijaya Ponorogo using the Context, Input, Process, Product (CIPP) evaluation model. The study employed a qualitative descriptive approach involving the principal, the vice principal for curriculum affairs, and vocational teachers as research participants. Data were collected through observations, interviews, and document analysis, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model. The findings indicate that, in terms of the context aspect, the implementation of CPjBL is aligned with the Merdeka Curriculum through project-based learning that integrates technical competencies, collaboration, and problem-solving skills in accordance with workplace demands. Regarding the input aspect, the school is supported by teachers' competencies in designing and facilitating project-based learning, the availability of laboratories and practical equipment, and strong school management support through the provision of facilities, policies, and instructional supervision. In the process aspect, learning is carried out through the stages of project planning, collaborative work, monitoring, reflection, and evaluation, thereby encouraging students' active participation in project completion. In the product aspect, CPjBL enhances students' critical thinking, collaboration, communication, and technical skills, as demonstrated by their successful production of fully functional active speakers and Capacitor Discharge Ignition (CDI) systems that meet the competency standards of the Audio Video Engineering Program. In conclusion, CPjBL has proven to be an effective instructional model and is worthy of further development as a vocational learning approach to strengthen 21st-century competencies and improve students' work readiness. ABSTRAK Implementasi Collaborative Project Based Learning (CPjBL) pada pendidikan kejuruan perlu dievaluasi untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran dalam mendukung pencapaian kompetensi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Collaborative Project Based Learning (CPjBL) pada Program Keahlian Teknik Audio Video di SMKS Brawijaya Ponorogo menggunakan model evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek Wakil Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Bidang Kurikulum, wakil Wakil Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Bidang Kurikulum bidang kurikulum, dan guru produktif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, implementasi CPjBL selaras dengan Kurikulum Merdeka melalui pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan kompetensi teknis, kolaborasi, dan pemecahan masalah sesuai kebutuhan dunia kerja. Pada aspek input, sekolah didukung oleh kompetensi guru dalam merancang dan memfasilitasi pembelajaran berbasis proyek, ketersediaan laboratorium serta peralatan praktik, dan dukungan manajemen sekolah melalui penyediaan sarana, kebijakan, serta supervisi pembelajaran. Pada aspek process, pembelajaran dilaksanakan melalui tahapan perencanaan proyek, kerja kolaboratif, monitoring, refleksi, dan evaluasi sehingga mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam penyelesaian proyek. Pada aspek product, CPjBL meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan keterampilan teknis peserta didik yang ditunjukkan melalui keberhasilan menghasilkan produk speaker active dan Capacitor Discharge Ignition (CDI) yang berfungsi dengan baik serta sesuai dengan kompetensi Program Keahlian Teknik Audio Video. Dengan demikian, CPjBL terbukti efektif dan layak dikembangkan sebagai model pembelajaran vokasi untuk mendukung penguatan kompetensi abad ke-21 dan kesiapan kerja peserta didik.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMKN Mahdania Anggraini Putri; Triesninda Pahlevi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13609

Abstract

This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning learning model on the critical thinking skills of class X students majoring in Office Management and Business Services at SMKN 1 Surabaya. This research is motivated by the learning process that is still dominated by conventional methods so that it does not provide optimal opportunities for students to develop critical thinking skills. Therefore, a student-centered learning model is needed, one of which is Problem Based Learning (PBL).. This study used a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The research sample consisted of class X MP 1 as the control class and class X MP 2 as the experimental class. Data were collected through a critical thinking ability test and analyzed using a normality test, homogeneity test, Independent Samples t-test, and N-Gain test. The results showed that the average posttest score of the experimental class (88.42) was higher than the control class (80.44). The results of the Independent Samples t-test obtained a significance value of 0.000 (p<0.005) which indicates that the Problem Based Learning learning model has a significant effect on students' critical thinking skills. The N-Gain test results showed that the experimental class achieved a high level of critical thinking (71%), while the control class achieved a moderate level (49%). Thus, the Problem-Based Learning model is effective in improving students' critical thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional sehingga belum memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satunya Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X Jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis di SMKN 1 Surabaya. Metode yang digunakan berbasis pada quasi experimental dengan desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian terdiri atas kelas X MP 1 sebagai kelas kontrol dan kelas X MP 2 sebagai kelas eksperimen. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan berpikir kritis dan dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, Independent Samples t-test, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen (88,42) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (80,44). Hasil uji Independent Samples t-test memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,005) yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil uji N-Gain menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen berada pada kategori tinggi (71%), sedangkan kelas kontrol berada pada kategori sedang (49%). Dengan demikian, model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
EFL TEACHER’S AUDIO FEEDBACK IN IMPROVING ENGLISH WRITING SKILLS: SECONDARY STUDENTS’ PERCEPTION AND MOTIVATION Doni Mulia Putra; Uun Muhaji; Ayu Liskinasih
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14193

Abstract

Teacher feedback plays an important role in supporting students' learning, yet both direct and indirect feedback have limitations in helping students understand and apply feedback during revision. In English as a Foreign Language (EFL) classroom, these challenges are associated with unclarity and incomplete feedback delivery. Audio feedback has been proposed as a complementary strategy to address these issues. Although widely investigated, previous studies have mainly focused on tertiary students, while evidence from Indonesian secondary schools remains limited. Therefore, this study examined Indonesian junior secondary EFL students' perceptions of audio feedback in English writing classes in terms of clarity, usefulness, and motivation. This qualitative case study involved six participants to capture the natural process of feedback, including five eighth-grade students as the focus area and one English teacher to provide the instructional viewpoints. Data were collected through reflection journals, writing assignments, teacher audio recordings, and semi-structured interviews. The findings revealed that students perceived audio feedback as insufficient to support feedback clarity due to language inaccessibility and employed a more effective feedback strategy based on students’ linguistic readiness rather than audio form delivery. English proficiency also influenced students’ ability to interpret and apply the feedback to produce useful knowledge. Furthermore, motivation to revise writing was shaped more by students' perceived competence and emotional responses than by the audio delivery mode itself. This study concludes that audio feedback will be more effective when the teacher utilizes accessible language, adjusts to students' proficiency levels, and provides emotionally supportive setting so that students can produce useful knowledge in improving English writing skills. ABSTRAK Umpan balik guru berperan penting dalam mendukung perkembangan belajar siswa, tetapi metode langsung maupun tidak langsung masih memiliki keterbatasan dalam membantu siswa memahami dan menerapkan umpan balik pada proses revisi. Dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a Foreign Language/EFL), kendala tersebut dipengaruhi oleh kemampuan kognitif siswa dan penyampaian umpan balik yang kurang tepat. Audio feedback diusulkan sebagai strategi pelengkap untuk mengatasi permasalahan tersebut. Meskipun telah banyak diteliti, sebagian besar penelitian berfokus pada mahasiswa, sedangkan kajian pada siswa sekolah menengah di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji persepsi siswa EFL sekolah menengah pertama di Indonesia terhadap penggunaan audio feedback dalam pembelajaran menulis berdasarkan aspek kejelasan, kemanfaatan, dan motivasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan enam partisipan untuk mendapatkan gambaran proses alami umpan balik, terdiri atas lima siswa kelas VIII yang mejadi fokus utama dan seorang guru bahasa Inggris untuk memberikan perspektif dari sisi pengajar. Data dikumpulkan melalui jurnal refleksi, tugas menulis, rekaman audio feedback, dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memandang audio feedback membantu memperjelas umpan balik guru apabila bahasanya mudah dipahami dan didukung dengan strategi umpan balik yang lebih efektif, bukan semata-mata karena bentuk medianya. Tingkat kemahiran berbahasa Inggris turut memengaruhi kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan umpan balik untuk mengasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Selain itu, motivasi merevisi tulisan lebih dipengaruhi oleh persepsi terhadap kemampuan diri dan respons emosional dibandingkan dengan penyampaian melalui audio. Penelitian ini menyimpulkan bahwa audio feedback akan lebih efektif apabila guru menggunakan bahasa yang mudah dipahami, disesuaikan dengan tingkat kemahiran siswa, serta mendukung kondisi emosional mereka sehingga dapat menghasilkan ilmu yang bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan menulis Bahasa Inggris.
PENGARUH NILAI MATA PELAJARAN PRODUKTIF DAN EFIKASI DIRI TERHADAP PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) SISWA DPIB Anifa Ulin Nisak; Suprapto Suprapto
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14611

Abstract

The implementation of field work practice is a critical milestone for vocational high school students to integrate academic competence with real industrial demands, yet its success remains shaped by vocational readiness and psychological factors that have rarely been examined together, particularly among Building Modeling and Information Design students. This study analyzes the partial and simultaneous effects of productive subject scores and self-efficacy on field work practice implementation. The novelty of this study lies in the conceptual integration of academic competence, represented by productive subject scores, and psychological factors, represented by self-efficacy. Both aspects are tested simultaneously to explain field work practice implementation among Building Modeling and Information Design students.  A quantitative explanatory survey with an ex post facto design was applied to 54 twelfth-grade students who had completed their field work practice, selected through saturated sampling. Productive subject scores were obtained from report card documentation, while self-efficacy and field work practice implementation were measured through validated Likert-scale questionnaires. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling with SmartPLS 4. Results show that all four productive subject elements positively and significantly affect field work practice implementation (path coefficients of 0,172 to 0,311; p < 0,05). Self-efficacy also has a positive and significant effect (path coefficient of 0,287; p < 0,05). Both variable groups simultaneously contribute 80.8% to field work practice success (R² = 0,808). These findings confirm that successful field work practice results from the combination of solid technical competence and strong self-belief, so schools and teachers are advised to strengthen applied vocational instruction and continuously foster student self-efficacy before industrial placement. ABSTRAK Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan momentum penting bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mengintegrasikan kompetensi akademis dengan tuntutan nyata dunia industri, namun keberhasilannya masih dipengaruhi oleh kesiapan kompetensi kejuruan dan faktor psikologis peserta didik yang belum banyak dikaji secara bersamaan, khususnya pada program keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh nilai mata pelajaran produktif dan efikasi diri, baik secara parsial maupun simultan, terhadap pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) peserta didik Program keahlian DPIB, dengan kebaruan pada integrasi konseptual antara kompetensi akademik berupa nilai mata pelajaran produktif dan faktor psikologis berupa efikasi diri. Kedua aspek tersebut diuji secara simultan untuk menjelaskan pelaksanaan PKL pada peserta didik DPIB. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei eksplanatori dan desain ex post facto pada 54 peserta didik kelas XII DPIB SMK Negeri 1 Sidoarjo yang telah menyelesaikan PKL, dipilih melalui teknik sampling jenuh. Data nilai mata pelajaran produktif dikumpulkan melalui dokumentasi nilai rapor, sedangkan data efikasi diri dan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dikumpulkan melalui angket skala Likert yang telah melalui uji validasi ahli. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat elemen mata pelajaran produktif berpengaruh positif dan signifikan terhadap pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) (koefisien jalur 0,172 - 0,311; p < 0,05), efikasi diri juga berpengaruh positif dan signifikan (koefisien jalur 0,287; p < 0,05), serta kedua kelompok variabel secara simultan berpengaruh signifikan dengan kontribusi sebesar 80,8% (R2 = 0,808). Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan hasil perpaduan antara kompetensi teknis yang solid dan keyakinan diri yang kuat, sehingga sekolah dan guru disarankan memperkuat pembelajaran teori kejuruan secara aplikatif serta membina efikasi diri peserta didik secara berkelanjutan sebelum penerjunan ke industri.
IMPLEMENTASI 5S (SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, DAN SHITSUKE) DALAM PENGUATAN SOFT SKILLS SISWA SMK Taufik Hidayat; Carso Carso; Okke Rosmaladewi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.12351

Abstract

Strengthening vocational students' soft skills and industry work culture is an urgent necessity to bridge the gap between graduate competencies and labor market demands. This study aims to analyze the implementation of 5S management as a strategy for strengthening students’ soft skills at SMK Negeri 2 Banjar. The research focuses on the application of Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, and Shitsuke, their role in shaping students’ work behavior, and the managerial challenges that arise during implementation. This study employed a qualitative approach with a descriptive case study design. The informants consisted of the principal, vice principal, and four students involved in practical learning activities. Data were collected through semi-structured interviews, observation of practical learning areas, and school document review. The data were analyzed using thematic analysis through coding, theme grouping, theme review, and conclusion drawing. The findings show that 5S has been implemented through tool sorting, practical room arrangement, workplace cleanliness, facility-use rules, and discipline habituation. These practices contribute to students’ discipline, responsibility, teamwork, and communication, although implementation has not been fully consistent. The main challenges include students’ consistency, differences in teacher supervision, and incomplete instruments for evaluating 5S and soft skills. These findings indicate that 5S should be managed as a work culture system, not merely as a routine. This study recommends strengthening practical room SOPs, aligning supervision standards, and integrating 5S indicators into practical assessment. ABSTRAK Penguatan soft skills dan budaya kerja industri di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan kebutuhan mendesak untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi manajemen 5S sebagai strategi penguatan soft skills siswa SMK Negeri 2 Banjar. Fokus penelitian mencakup pelaksanaan prinsip Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, perannya dalam pembiasaan perilaku kerja siswa, serta kendala manajerial yang muncul dalam penerapannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Informan terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan empat siswa yang terlibat dalam kegiatan praktik. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lingkungan praktik, dan telaah dokumen sekolah. Analisis data menggunakan analisis tematik melalui tahap pengodean, pengelompokan tema, peninjauan tema, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5S telah diterapkan melalui pemilahan alat, penataan ruang praktik, kebersihan area kerja, aturan penggunaan fasilitas, dan pembiasaan disiplin. Penerapan tersebut berperan dalam membangun disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan komunikasi siswa, meskipun belum fully terintegrasi secara seragam. Kendala utama meliputi konsistensi siswa, perbedaan pengawasan guru, serta belum lengkapnya instrumen evaluasi 5S dan soft skills. Temuan ini menegaskan bahwa 5S perlu dikelola sebagai sistem budaya kerja, bukan sekadar kegiatan kebersihan rutin di ruang praktik sekolah. Penelitian ini merekomendasikan penguatan SOP ruang praktik, penyamaan standar pengawasan, dan integrasi indikator 5S dalam penilaian praktik sekolah secara berkelanjutan.  
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS BACKHAND DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 7 AMBON Tri Juniyanti Zega; Jacob Anaktototy; Johanna Matitaputty
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.12373

Abstract

The low learning outcomes of badminton backhand service among seventh-grade students at SMP Negeri 7 Ambon were caused by conventional teaching methods that failed to promote active student engagement. This study aimed to improve backhand service learning outcomes through Problem Based Learning (PBL). A Classroom Action Research design based on the Kemmis and McTaggart spiral model was applied across two cycles, involving 25 seventh-grade students of SMP Negeri 7 Ambon in the 2025/2026 academic year. Data were collected through performance tests and observation sheets, then analyzed using descriptive quantitative techniques. Results showed an increase in classical learning completeness from 44% in cycle I to 100% in cycle II, with the class average rising from 69 to 83. Improvements were observed across cognitive, psychomotor, and affective domains. The PBL model effectively improves badminton backhand service learning outcomes and is recommended as an innovative instructional model in junior high school physical education. ABSTRAK Rendahnya hasil belajar servis backhand bulutangkis pada siswa kelas VII SMP Negeri 7 Ambon disebabkan oleh metode pembelajaran konvensional yang kurang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar servis backhand bulutangkis melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model spiral Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus dari Januari hingga Februari 2026, dengan subjek penelitian 25 siswa kelas VII₁ SMP Negeri 7 Ambon tahun ajaran 2025/2026. Data dikumpulkan melalui tes unjuk kerja dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari 44% pada Siklus I menjadi 100% pada Siklus II, dengan nilai rata-rata kelas meningkat dari 69 menjadi 83. Peningkatan signifikan terjadi pada aspek kognitif, psikomotor, dan afektif secara bersamaan. Disimpulkan bahwa model PBL efektif meningkatkan hasil belajar servis backhand bulutangkis dan direkomendasikan sebagai model pembelajaran inovatif dalam pendidikan jasmani di tingkat SMP.    
KAJIAN EKOLOGI SASTRA NOVEL KRESEK HITAM KARYA HONEY DEE DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER SMA Alif Rahman Hakim; Umi Faizah; Bagiya Bagiya
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.12422

Abstract

Students' low ecological awareness and social care pose a serious challenge to the sustainability of character education in schools. Environmentally oriented literary works can function as contextual learning media to effectively foster environmental and social care values. This study aims to identify the aspects of natural ecology and cultural ecology in the novel Kresek Hitam by Honey Dee and to describe their implementation in high school character education. This research utilized a qualitative descriptive design with a literary ecology approach. The research data consisted of lingual units such as words, phrases, clauses, and sentences reflecting human-environment interactions in the novel Kresek Hitam. Data collection techniques were carried out through reading and note-taking methods, while data analysis adopted content analysis. The results indicated that the novel Kresek Hitam represents two main aspects of literary ecology: natural ecology, which depicts extreme tropical climate conditions, spatial boundaries, and the geographical landscape of Samarinda City; and cultural ecology, which reflects the shift to digital transportation modes, social mutual assistance norms, and the work ethic of urban communities. These ecological values demonstrate strong relevance as contextual instructional materials for implementing environmental and social care character education for senior high school students. ABSTRAK Rendahnya kesadaran ekologis dan kepedulian sosial di kalangan peserta didik menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pendidikan karakter di sekolah. Karya sastra berorientasi lingkungan dapat difungsikan sebagai media pembelajaran kontekstual untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter peduli lingkungan dan peduli sosial secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek ekologi alam dan ekologi budaya dalam novel Kresek Hitam karya Honey Dee serta mendeskripsikan implementasinya terhadap pendidikan karakter siswa SMA. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekologi sastra. Data penelitian berupa unit lingual seperti kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mencerminkan interaksi manusia dengan lingkungan dalam novel Kresek Hitam. Teknik pengumpulan data dilaksanakan melalui metode simak dan teknik catat, sedangkan teknik analisis data mengadopsi teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Kresek Hitam merepresentasikan dua aspek utama ekologi sastra, yaitu ekologi alam yang menggambarkan kondisi iklim tropis ekstrem, batas wilayah, dan lanskap geografis Kota Samarinda, serta ekologi budaya yang merefleksikan pergeseran moda transportasi digital, norma gotong royong, dan etos kerja masyarakat perkotaan. Nilai-nilai ekologis tersebut memiliki relevansi kuat sebagai bahan ajar kontekstual dalam mengimplementasikan pendidikan karakter peduli lingkungan dan peduli sosial bagi siswa di jenjang SMA.    
COGNITIVE LEVEL ANALYSIS OF ENGLISH TEST ITEMS: A CASE OF A GRADE VII SUMMATIVE TEST Andrean Tirta Wijaya; Diah Kurniati; Fitri Budi Suryani
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.12761

Abstract

Assessment in English learning reflects not only students' language achievement but also the cognitive demands developed through the instructional process. This qualitative descriptive study aims to analyze the distribution of cognitive levels of seventh-grade English summative test items based on the Revised Bloom's Taxonomy and to evaluate the extent to which the items train higher-order thinking skills (HOTS). The research data comes from a final semester summative test instrument that analyzes 45 items, consisting of 35 multiple-choice items, 5 complex multiple-choice items, and 5 essay items. Each item is classified into six cognitive levels through careful analysis of the instrument's checklist. The results show that the test instrument covers all cognitive levels with a distribution of remembering C1 of 4.4 percent (2 items), understanding C2 of 22.2 percent (10 items), applying C3 of 11.1 percent (5 items), analyzing C4 of 44.4 percent (20 items), evaluating C5 of 6.7 percent (3 items), and creating C6 of 11.1 percent (5 items). The HOTS portion (C4–C6) reached 62.2 percent, with the analysis level dominating in reading comprehension and the creation level in the essay section. The main conclusion confirms that this summative test instrument is largely aligned with HOTS principles, but a more balanced distribution of cognitive levels is recommended by increasing the portion of questions at the evaluation level. ABSTRAK Penilaian dalam pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya mencerminkan pencapaian berbahasa siswa tetapi juga tuntutan kognitif yang dikembangkan melalui proses instruksional. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan menganalisis sebaran tingkat kognitif butir soal tes sumatif bahasa Inggris kelas VII berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi serta mengevaluasi sejauh mana soal melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills atau HOTS). Data penelitian bersumber dari instrumen tes sumatif semester akhir yang menganalisis 45 butir soal, terdiri atas 35 pilihan ganda, 5 pilihan ganda kompleks, dan 5 esai. Setiap butir soal diklasifikasikan ke dalam enam tingkat kognitif melalui analisis lembar centang instrumen secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan instrumen tes mencakup seluruh tingkat kognitif dengan sebaran mengingat C1 sebesar 4,4 persen (2 soal), memahami C2 sebesar 22,2 persen (10 soal), menerapkan C3 sebesar 11,1 persen (5 soal), menganalisis C4 sebesar 44,4 persen (20 soal), mengevaluasi C5 sebesar 6,7 persen (3 soal), dan mencipta C6 sebesar 11,1 persen (5 soal). Porsi HOTS (C4–C6) mencapai 62,2 persen dengan dominasi tingkat menganalisis pada pemahaman membaca, serta tingkat mencipta pada bagian esai. Simpulan utama mengonfirmasi bahwa instrumen tes sumatif ini telah sebagian besar selaras dengan prinsip HOTS, namun disarankan adanya distribusi tingkat kognitif yang lebih seimbang melalui penambahan porsi soal pada tingkat mengevaluasi.    

Page 1 of 10 | Total Record : 96