cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 46 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2025)" : 46 Documents clear
ERA DIGITAL: MAMPUKAH GURU MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN? Zaskia, Adisty; Rahmawati, Tri Diah; Aljanah , Okta Hanifah; Abdurrahmansyah , Abdurrahmansyah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4657

Abstract

This study aims to evaluate the role of teachers in shaping the future generation in the digital era through a qualitative literature study approach. The digital era has transformed education, providing broad access to information and giving rise to new challenges such as the digital divide and data security. Teachers, as the main agents of change, are required not only to transfer knowledge, but also to equip students with 21st-century skills, including digital literacy, technology ethics, and social-emotional skills. This article was chosen because of its relevance in discussing the crucial role of teachers in the digital era. The results of the study indicate that teachers must be able to adapt to technology, act as learning facilitators, and instill ethical values ??in the use of technology. Improving the quality of education in the digital era requires the integration of technology ethics in learning and collaboration between teachers, students, and other stakeholders. With the wise and responsible use of technology, education in the digital era has the potential to produce a competent and characterful generation, ready to face future challenges. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran guru dalam membentuk generasi masa depan di era digital melalui pendekatan studi pustaka kualitatif. Era digital telah mentransformasi pendidikan, memberikan akses informasi yang luas serta memunculkan tantangan baru seperti kesenjangan digital dan keamanan data. Guru, sebagai agen utama perubahan, dituntut tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21, termasuk literasi digital, etika teknologi, dan keterampilan sosial-emosional. Artikel ini dipilih karena relevansinya dalam membahas peran krusial guru di era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi, bertindak sebagai fasilitator pembelajaran, dan menanamkan nilai-nilai etika dalam pemanfaatan teknologi. Peningkatan kualitas pendidikan di era digital memerlukan integrasi etika teknologi dalam pembelajaran serta kolaborasi antara guru, siswa, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak dan bertanggung jawab, pendidikan di era digital berpotensi menghasilkan generasi yang kompeten dan berkarakter, siap menghadapi tantangan masa depan.
PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI TERHADAP PERILAKU PROAKTIF PENELITIAN (STUDI KASUS PADA DOSEN DI POLITEKNIK LP3I JAKARTA): PENDEKATAN TEORI DETERMINASI DIRI Nibras, Hanifah Fauziyah; Widianto, Sunu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.3051

Abstract

The large number of lecturers and universities does not necessarily result in high research publications because Indonesian research publications are still low at the international level. This study aims to determine work motivation and perceptions of organizational support for proactive research behavior (case study of lecturers at the LP3I Jakarta Polytechnic): a self-determination theory approach. This study uses quantitative research with a sample of 99 lecturers at the LP3I Jakarta Polytechnic. The results show that work motivation, both intrinsic and extrinsic, significantly encourages proactive behavior. Motivated lecturers tend to be more initiative and oriented towards improving performance. In addition, perceptions of organizational support also have a positive effect; lecturers who feel supported tend to be more proactive. Simultaneously, these two variables explain 64% of the variance in proactive behavior, underlining the importance of internal and external factors. The implication is that the LP3I Jakarta Polytechnic needs to apply a holistic approach, combining the development of lecturers' work motivation (through training, recognition, etc.) with the creation of a supportive environment (constructive feedback, resources, etc.). This integrated strategy will foster proactive behavior, which ultimately improves the quality of the institution. ABSTRAKBanyaknya dosen dan perguruan tinggi tidak serta merta menjadikan publikasi hasil penelitian menjadi tinggi karena  publikasi hasil penelitian Indonesia masih rendah di tingkat internasional.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi kerja dan persepsi dukungan organisasi terhadap perilaku proaktif penelitian (studi kasus pada dosen di politeknik LP3I Jakarta): pendekatan teori determinasi diri. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan sampel dalam penelitian ini adalah dosen Politeknik LP3I Jakarta sejumlah 99 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa motivasi kerja, baik intrinsik maupun ekstrinsik, secara signifikan mendorong perilaku proaktif. Dosen yang termotivasi cenderung lebih inisiatif dan berorientasi pada peningkatan kinerja. Selain itu, persepsi dukungan organisasi juga berpengaruh positif; dosen yang merasa didukung cenderung lebih proaktif. Secara simultan, kedua variabel ini menjelaskan 64% varians perilaku proaktif, menggarisbawahi pentingnya faktor internal dan eksternal. Implikasinya, Politeknik LP3I Jakarta perlu menerapkan pendekatan holistik, memadukan pengembangan motivasi kerja dosen (melalui pelatihan, pengakuan, dll.) dengan penciptaan lingkungan yang mendukung (umpan balik konstruktif, sumber daya, dll.). Strategi terintegrasi ini akan menumbuhkan perilaku proaktif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas institusi.
PERAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBANGUN BUDAYA INKLUSIF DI SEKOLAH DASAR HANAN, ANNIDA LIHASANATI; PUJASMARA, DESTIANA EKA; SOPIAH, ROHAETI NINING; TOSAINI, SALSABILA PUTRI; SYAHIDAH, SHOFIYYAH MUNA; PRIHANTINI, PRIHANTINI
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4216

Abstract

Education is an important part of shaping the skills and morals of individuals. In doing so, education must create a learning environment that respects the diversity of students and meets the needs of all individuals, including students with special needs. This study examines the role of principals' competencies in building an inclusive culture in primary schools. It aims to explore the relationship between principals' competencies and improving the quality of inclusive education. Using the literature review method, the study analyzed five dimensions of principals' competencies: personality, managerial, entrepreneurial, supervisory and social. The findings show that these competencies play an important role in inclusive policy making, efficient resource management, teachers' professional development and the establishment of harmonious relationships within the school community. The main obstacles faced are the lack of teacher training and limited facilities, which require visionary and collaborative leadership from principals. In conclusion, strengthening principals' competencies is a priority in creating education that is fair, equitable and responsive to the needs of all students ABSTRAKPendidikan merupakan bagian penting dalam membentuk keterampilan dan moral individu. Dalam pelaksanaanya, pendidikan harus menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman siswa dan memenuhi kebutuhan semua individu, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Studi ini membahas peran kompetensi kepala sekolah dalam membangun budaya inklusif di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara kompetensi kepala sekolah dengan peningkatan kualitas pendidikan inklusif. Dengan menggunakan metode tinjauan literatur, penelitian ini menganalisis lima dimensi kompetensi kepala sekolah: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Temuan memperlihatkan bahwa kompetensi ini berperan penting dalam pembuatan kebijakan inklusif, pengelolaan sumber daya yang efisien, pengembangan profesi guru, dan pembentukan hubungan yang harmonis dalam komunitas sekolah. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pelatihan guru dan terbatasnya fasilitas, yang membutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang visioner dan kolaboratif. Kesimpulannya, penguatan kompetensi kepala sekolah merupakan prioritas dalam menciptakan pendidikan yang adil, merata, dan responsif terhadap kebutuhan semua siswa.
EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (Hylocereus ipolyrhizus) SEBAGAI PENGGANTI EOSIN PADA PEWARNAAN SEDIAAN SITOLOGI EPITEL MUKOSA MULUT BALQIS, PUTRI; JUMADEWI, ASRI; SYARIEF, SYARIFAH WAHYUNI AL; DARMAWATI, DARMAWATI
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4413

Abstract

Epithelial tissue is a protective tissue or barrier for the body, this tissue covers the surface of the body from the outside (epithelium) or covers the body from the inside (endothelium). It acts as a protector against other tissues underneath, a place for selective transfer of molecules, and cell respiration. Oral mucosa epithelial preparations are smears that are easily obtained in learning cytohistotechnology courses. The dyes that are often used are synthetic dyes, but natural dyes can be used as temporary dyes to replace eosin staining. Natural dyes are easily decomposed, do not produce hazardous waste and are safe to use in the laboratory because they are not flammable. This study aims to determine the microscopic picture of oral mucosa epithelial cytology preparations with red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) staining as a substitute for eosin in diff-quick staining. The research method is an experiment with the manufacture of red dragon fruit extraction at dilutions of 20%, 10% and 5%, this study was conducted in the pathology laboratory of TLM Poltekkes Kemenkes Aceh. The results of the study showed that the quality of the preparation of natural dyes from dragon fruit extract was good in coloring and could be absorbed by the cytoplasm, thus concluding that red dragon fruit extract (Hylocereus polyrhizus) at concentrations of 20%, 10% and 5% could color oral mucosal epithelial preparations. ABSTRAKJaringan epitel adalah jaringan pelindung atau barier bagi tubuh, jaringan ini melapisi permukaan tubuh dari luar (epithelium) ataupun melapisi bagian tubuh dari dalam (endothelium). Berperan sebagai pelindung terhadap jaringan lain yang berada di bawahnya, tempat pemindahan molekul secara selektif, dan respirasi sel. Sediaan epitel mukosa mulut merupakan apusan yang diperoleh secara mudah dalam pembelajaran mata kuliah sitohistoteknologi. Zat warna yang sering digunakan adalah pewarnaan sintetis, namun pewarnaan alami dapat dijadikan pewarnaan sementara untuk menggantikan pewarnaan eosin. Pewarnaan alami bersifat mudah terurai, tidak menimbulkan limbah berbahaya dan aman digunakan di laboratorium karena tidak mudah terbakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mikroskopis sediaan sitologi epitel mukosa mulut dengan pewarnaan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai pengganti eosin pada pengecatan diff-quick. Metode penelitian adalah eksperimen dengan pembuatan ekstraksi buah naga merah pada pengenceran 20%, 10% dan 5%, penelitian ini dilakukan di laboratorium patologi TLM Poltekkes Kemenkes Aceh. Hasil penelitian menunjukkan kualitas sediaan dari pewarnaan alami ekstrak buah naga baik dalam mewarnai dan dapat diserap oleh sitoplasma, sehingga menyimpulkan bahwa ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) pada kosentrasi 20%, 10% dan 5% dapat mewarnai sediaan epitel mukosa mulut.
BERPIKIR INDUKTIF SEBAGAI DASAR KOMPETENSI SIKAP KRITIS BAGI PESERTA DIDIK GENERASI MILLENIAL ABAD 21 SALSABILA, AISYAH RAYA; RAMADHANI, CHINTYA; FAIZIN, MOH.
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4465

Abstract

The inductive thinking model, developed based on Hilda Taba's study of learning, teaches students to draw conclusions from data through observation, testing and generalization. It encourages the development of critical, logical, systematic and creative thinking skills, which are essential in modern learning. The inductive thinking process involves three main stages: learning thinking skills through practice, active interaction between individuals and data, and mastery of skills based on logical sequences. In learning, the case study method is often applied to actively engage students in real-life situations, helping them to collect data, identify patterns and create evidence-based solutions. Teachers act as facilitators, helping students organize information, build concepts, and provide direction to support active learning. Inductive thinking can be applied in a number of subjects, such as science, math and history, to support students in improving their analytical skills and logical inference. However, challenges such as difficulty finding patterns, lack of motivation and limited abstract thinking can hold students back. Solutions involve teacher support through concrete explanations, group discussions and positive feedback, as well as collaboration between students to expand understanding. Inductive thinking shapes important cognitive skills such as analysis, evaluation and decision-making. These skills not only support academic success but also equip students to tackle the challenges of higher education, careers and everyday life. With the right approach, inductive thinking enhances students' independence, confidence and ability to understand concepts holistically. ABSTRAKModel berpikir induktif, yang dikembangkan berdasarkan kajian belajar Hilda Taba, mengajarkan siswa untuk menarik kesimpulan dari data melalui pengamatan, pengujian, dan generalisasi. Model ini mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, logis, sistematis, serta kreatif, yang penting dalam pembelajaran modern. Proses berpikir induktif melibatkan tiga tahapan utama: pembelajaran keterampilan berpikir melalui latihan, interaksi aktif antara individu dan data, serta penguasaan keterampilan berdasarkan urutan logis. Dalam pembelajaran, metode studi kasus sering diterapkan agar siswa secara aktif terlibat pada situasi nyata, membantu mereka mengumpulkan data, mengidentifikasi pola, dan membuat solusi berdasarkan bukti. Guru bertindak selaku fasilitator, memfasilitasi siswa mengorganisasi informasi, membangun konsep, serta memberikan arahan untuk mendukung proses belajar aktif. Berpikir induktif bisa diaplikasikan di sejumlah mata pelajaran, seperti sains, matematika, dan sejarah, dalam mendukung siswa meningkatkan kemampuan analitis dan inferensi logika. Namun, tantangan seperti kesulitan menemukan pola, kurangnya motivasi, dan keterbatasan berpikir abstrak dapat menghambat siswa. Solusi melibatkan dukungan guru melalui penjelasan yang konkret, diskusi kelompok, dan umpan balik yang positif, serta kolaborasi antar siswa untuk memperluas pemahaman. Berpikir induktif membentuk keterampilan kognitif penting seperti analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan. Keterampilan ini tidak hanya mendukung keberhasilan akademik tetapi juga membekali para siswa dalam mengatasi tantangan pendidikan tinggi, karier serta kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang tepat, berpikir induktif meningkatkan kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan siswa untuk memahami konsep secara holistik.
PENERAPAN BLENDED LEARNING DALAM UJIAN SERTIFIKASI BARANG/JASA LEVEL-1 DI BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR Winarto, Juli; Bramantyo, Bramantyo; Adisuyanto, Biasworo
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4554

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Blended Learning in the Level-1 Goods/Services Certification Examination at the Human Resources Development Agency (BPSDM) of the East Java Provincial Government. Using qualitative methods, this study was conducted from September to December 2024 involving 11 informants, consisting of test participants, instructors, and organizers. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation studies, then analyzed using the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. To ensure the validity of the data, source and method triangulation techniques were used. The results of the study indicate that Blended Learning implemented through synchronous, asynchronous, and face-to-face learning can increase the pass rate of participants. Flexibility in time and place provides comfort in learning, while face-to-face sessions help overcome gaps in understanding and provide more effective exam strategies. From a heutagogical perspective, the main factors that drive participant success are autonomy and motivation, with internal factors such as learning satisfaction and personal motivation playing a more dominant role than external factors. The effectiveness of Blended Learning is also influenced by individual motivation, learning quality, infrastructure, facilitators, and cooperation between participants. By optimizing these factors, the Blended Learning model can improve the quality and effectiveness of goods/services certification exams in government environments. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Blended Learning yang berbasis teori heutagogi Ujian Sertifikasi Barang/Jasa Level-1 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini dilakukan dari September hingga Desember 2024 dengan melibatkan 11 informan, terdiri dari peserta ujian, instruktur, dan penyelenggara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Blended Learning yang diterapkan melalui pembelajaran sinkronus, asinkronus, dan tatap muka mampu meningkatkan tingkat kelulusan peserta. Fleksibilitas waktu dan tempat memberikan kenyamanan dalam belajar, sementara sesi tatap muka membantu mengatasi kesenjangan pemahaman dan memberikan strategi ujian yang lebih efektif. Dalam perspektif heutagogi, faktor utama yang mendorong keberhasilan peserta adalah otonomi dan motivasi, dengan faktor internal seperti kepuasan belajar dan motivasi pribadi berperan lebih dominan dibanding faktor eksternal. Efektivitas Blended Learning juga dipengaruhi oleh motivasi individu, kualitas pembelajaran, infrastruktur, fasilitator, dan kerja sama antar peserta. Dengan optimalisasi faktor-faktor ini, model Blended Learning dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas ujian sertifikasi barang/jasa di lingkungan pemerintah.