cover
Contact Name
Yeremias Jena
Contact Email
yeremias.jena@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5708808
Journal Mail Official
ppe@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Pusat Pengembangan Etika Gedung Karol Wojtyla Lt. 12 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Jakarta 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Respons: Jurnal Etika Sosial
ISSN : 08538689     EISSN : 27154769     DOI : https://doi.org/10.25170/respons.v25i02
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles 143 Documents
Menyoal Perasaan sebagai Dasar Tindakan Moral Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 01 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i01.434

Abstract

Abstrak: Apakah nalar dapat menggerakkan tindakan, termasuk tindakan moral? Tradisi etika klasik sejak Aristoteles mengafrmasi hal ini, bahwa nalar memang dapat menggerakkan tindakan moral. Pengetahuan akan yang baik dan buruk mendorong manusia untuk membiasakan diri melaksanakan apa yang baik dan menghindari halhal yang buruk. Hal ini dilakukan karena manusia mau mencapai kebahagiaan, dan salah satu cara adalah dengan menjadi orang yang bermoral. Posisi moral semacam ini ditolak oleh David Hume. Bagi dia, tindakan moral manusia ditentukan semata-mata oleh perasaan (passion), bahwa tidak ada tujuan tertinggi yang ingin dicapai selain seseorang bertindak mengikuti dorongan perasaannya dalam ruang dan waktu tertentu. Kajian komparatif dengan pemikiran-pemikiran etika semisal etika pengembangan diri atau etika kewajiban akan semakin mengingatkan kita bahwa tindakan moral tidak pernah bisa dilepaskan dari baik perasaan moral maupun pertimbangan nalar. Paper ini akan menegaskan sekali lagi posisi tradisi etika yang disebutkan terakhir tersebut.Kata Kunci: perasaan moral, nalar, kehendak, kebebasan, kausalitas, prinsip moralAbstract: Can human action be driven by reason, including moral action? Ethical tradition since Aristotle indicated that reason can indeed drive moral action. Knowledge of good or bad will encourage people to carry out what is good and avoid doing bad things. Te reason why people do that is that because they want to be happy, and one way to achieve this is to be a moral person. However, this kind of moral position was rejected by David Hume.For him, moral action is determined solely by passion, never by reason. He argued that there is no highest goal to be achieved other than acting aroused by passion in a given time and space. By comparing the thoughts of David Hume to the ethics of self-realization or ethics of duty, we are reminded that moral action can never be separated from passion as well as moral reasoning. Tis position will be defended by this paper.Key words: Moral sense,reason,will, freedom, causality, moral principles, David Hume
Peran dan Fungsi Komisi Etik Penelitian Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 01 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i01.435

Abstract

Abstrak: Tujuan Komisi Etika adalag mengevaluasi proposal, penelitian, dan publikasi agar memenuhi standar etis. Komisi Etika menerbitkan pernyataan laik etik untuk proposal, penelitian, dan publikasi yang bebas dari penyimpangan jika kegiatan-kegiatan tersebut tidak merusak harkat martabat manusia dan makluk hidup pada umumnya. Etika seringkali dikaitkan dengan ranah penelitian sebagai sebuah disiplin yang secara sistematik menguji apakah baik atau buruk jika sebuah penelitian dilakukan. Sebaliknya moralitas seringkali dihubungkan dengan cara sebuah kelompok biasanya bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan itu, apa yang diklaim oleh sebuah kelompok “sesuai moralitas” bermoral harus diuji kehandalannya menurut standar rasionalitas dan keadilan yang umumnya diterima oleh semua pihak.Kata Kuci: Komisi Etika, martabat manusia, laik etik, moralitas, standar raionalAbstract: Te end of an Ethical Commission is to evaluate proposals, researches, and publications to meet ethical standards. Ethical Commission declares ethical clearance for proposals, researches, and publications that are free from violation especially when these activities connect with and may do harm to human beings and living beings in general. Ethics most often refers to a domain of inquiry, a discipline, in which matters of right and wrong, good and evil, virtue and vice, are systematically examined. Morality, by contrast, is most often used to refer not to a discipline but to patterns of thought and action that are actually operative in everyday life. In this sense, what a community claims morally ft must be tested to pass universal standard of reason and justice. Morality is therefore what the discipline of ethics is about.Key Words: Ethical Commission, human dignity, ethical clearance, morality, rational= standards
Kesadaran Akan Identitas Melepaskan Belenggu Eksklusivitas Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 01 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i01.436

Abstract

Catholic Identity In An Age Of Challenge: A Pastoral Letter To Te Clergy, Religious And Laity Of Te Archdiocese Of Washington And All Who Read Tis Letter (pp.1-36)Salah satu tantang yang tidak enteng dihadapi oleh dunia pendidikan adalah menyadarkan orang mengenai identitasnya. Masalah identitas diakui merupakan hal yang sangat rumit sehingga seseorang terkadang mempertanyakan siapakah dirinya.
Krisis Humaniora Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.437

Abstract

Ada berbagai pembicaraan tentang krisis dalam media massa. Krisis yang masih segar dalam ingatan kita adalah krisis fnansial 1997-98 yang telah ikut memicu rontoknya kekuasaan Orde Baru (1966-1998). Ini bukanlah satu-satunya krisis karena sudah mendahului krisis fnansial tersebut adalah krisis religiusitas, krisis masyarakat, krisis bahan bakar minyak (BBM), krisis perumahan bagi rakyat miskin, krisis pendidikan, krisis keluarga, krisis etika, krisis lingkungan hidup dan seterusnya dan seterusnya.
Pendidikan Sebagai Pembelajaran Dan Pemberadaban: Belajar Dari Drijarkara Alois A. Nugroho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.438

Abstract

Character building is the focal point in Driyarkara’s philosophy of education. He has published his thought in various forms of writing and speech. Sukarno did the same thing about education as the process of nation and character building. Both Drijarkara and Sukarno underlined in their thoughts and speeches the wholeness of man in his/her culture which is now facing globalization as “the runaway world”. For this reason, development of a nation-state must be directed to strengthen people’s national identity.Education, character building, nation building, national identity, and integration.Pendidikan watak atau pendidikan kepribadian merupakan fokus pemikiran Drijarkara tentang pendidikan. Ia sudah menampilkan pemikiran tersebut dalam berbagai tulisan dan pembicaraan. Sukarno membicarakan pendidikan watak yang dianggapnya penting untuk membentuk rasa berbangsa dan bernegara. Demikian halnya Drijarkara, ia membicarakan pendidikan watak dengan memberi penekanan pada keutuhan manusia dalam budayanya menghadapi globalisasi. Atas dasar itulah pembangunan negara-bangsa diarahkan kepada penguatan identitas nasional manusia.Pendidikan, pembentukan watak, pembentukan rasa kebangsaan, dan integrasi
Etika Keutamaan dalam Arah Pendidikan Indonesia Kontemporer Johanis Ohoitimur
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.439

Abstract

Virtue ethics as developed by Aristotle focuses on self development in a sense that right or wrong will be measured by the virtue which is needed for the excellence of the human person. Tere are many virtues, but the most fundamental is phronesis. Every body who has phronesis will act according to rational judgement. It is based on what is good and what is right for the development of human beings. Tis article tries to explicate the thesis that the national system of education in elementary school and high school which focuses on the character building is in line with virtue ethics. In this afnity, knowledge and practical skill get their meaning in the frame of character building. As Aristotle convinced that both phronesis and character can be formed through habituation, it suggests that habituation is the only way to enhance the moral and value education.Character, education, phronesis, selft development, virtueEtika keutamaan, seperti yang menjadi pendirian Aristoteles, menekankan pengembangan diri. Manusia yang benar dan baik diukur menurut keutamaan yang dimiliki. Ada banyak keutamaan, tetapi yang terpokok ialah kebijaksanaan dalam arti phronēsis. Orang yang memiliki phronēsis bertindak menurut pertimbangan yang bijaksana dan berorientasi pada apa yang benar dan baik bagi manusia. Artikel ini berusaha melakukan eksplisitasi bahwa arah pendidikan nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menekankan dan fokus pada etika keutamaan, yaitu pembentukan karakter atau watak peserta didik. Pengetahuan (kognitif) dan keterampilan praktis (psikomotorik) mendapatkan coraknya dari karakter. Sama halnya dengan kebijaksanaan praktis (phronēsis) dalam ajaran Aristoteles, karakter hanya bisa dibentuk melalui pembiasaan bertindak atau berperilaku. Dalam konteks ini pendidikan nilai dan pendidikan moral menemukan jalannya.Etika keutamaan, pengembangan diri, phronesis, pendidikan, karakter
“Wasis Lantip Waskita” Tataran Etika Epistemik Jawa: Reinterpretasi dan Relevansi Gagasan Ki Ageng Suryomentaram Achmad Charris Zubair
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.440

Abstract

For Javanese Community truth is not only the problem of reason which is coped with the logical arguments. Ultimately, truth is the problem of rasa or raos/soul. Truth in this sense has a pragmatic meaning as revealed in the statement: Sejating kayu iku kayu jati which means, truth is like the core of teak wood which can be used as stick to help people walk and pursue life.Galih, life, rasa, rasionality, truthUntuk memahami kebenaran, masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan rasionalitas atau sekedar berpikir, tapi rasa atau raos, bahkan penggalih. Dari kata “galih” inti dari kayu. Sejatining kayu iku kayu jati, galih jati itu bagian inti dari sejatining kayu yangkeras dan kuat. Galih Jati sering dipakai untuk membuat teken atau tongkat, alat untuk membantu melangkah dan berjalan. Dengan bertongkatkan kebenaran yang dibantu dan ditemukan dengan cara menggalih, membantu dalam melangkah dan berjalan meniti kehidupan.Galih, kebenaran, kehidupan, rasa, rasionalitas
Pendidikan Moral sebagai Metode dalam Proyek Etika Immanuel Kant A. Puspo Kuntjoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.441

Abstract

Kant’s theory of education is clearly written in Metaphysics of Morals especially in the article of “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue”. Based on the frst principle of the doctrine of virtue Kant developes his ideas on the Doctrine of the Method of Ethics whick consists of ethical teaching and ascetics. According to Kant, ethics is an obligation coming from within. Tis obligation is not ascribed but achieved by the subject who is consistent in following practical reason. Tis is why moral virtue, according to Kant, can be taught.Education, metaphysics, virtue, duty, and natureTeori pendidikan I. Kant secara jelas ditulis dalam Metaphysics of Morals khususnya bagian tentang “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue.” Prinsip pertama doktrin keutamaan, Kant mengembangkan apa yang disebutnya Doctrine of the Method of Ethics yang terdiri dari dua bagian yaitu, pengajaran dan askese etis. Menurut Kant, etika merupakan doktrin mengenai kewajiban moral yang tidak diturunkan dari hukum ataupun peraturan dari luar. Kewajiban tidak bersifat kodrat melainkan pencapaian subjek bertindak mengikuti akal budi. Mengikuti akal budi adalah kewajiban moral dan bukan kecenderungan kodrat. Inilah alasannya mengapa keutamaan moral dapat diajarkan.Pendidikan, metafsika, keutamaan, kewajiban, dan kodrat
Pendekatan Integratif Dalam Pendidikan Karakter Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 02 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i02.442

Abstract

The aim of this paper is to defend a philosophy of education which is based on morality and personality. Rather than learning about morality and personality education should integrate morality and personality into practice that can be universally justifed by ethical principles.Education, morality, personality, practice, and ethical principles. Paper ini dimaksudkan untuk mempertahankan pandangan mengenai pendidikan yang berbasis moralitas dan karakter/ keperibadian. Dewasa ini, pendidikan membutuhkan lebih dari belajar tentang moralitas dan karakter sejatinya adalah pengintegrasioan moralitas dan karakter dalam perilaku yang dapat dibenarkan menurut prinsip-prinsip moral universal. Pendidikan, moralitas, karakter/kepribadian, perilaku, dan prinsipprinsip etika.
Strategi Pendidikan Karakter Dalam Sektor Pendidikan Formal:Telaah Berdasarkan Pandangan Ki Hadjar Dewantara Bartolomeus Samho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22 No 01 (2017): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v22i01.445

Abstract

Abstrak: Berbasiskan perikemanusiaan, pendidikan memiliki tujuan memerdekakanmanusia dari kelemahan lahiriah dan batiniahnya, baik sebagai makhluk individualmaupun sosial. Dalam perspektif itu, praksis pendidikan mesti menumbuhkanminat belajar para peserta didik agar mereka bertumbuh dalam pengetahuan dannilai. Pendidik pun harus menjadi teladan (role model) dalam sikap, perkataan, danperilaku yang bersahaja, bermoral, dan berbudi pekerti luhur. Menelusuri pemikiranKi Hadjar Dewantara, artikel ini ingin menunjukkan bahwa tanpa intensi kepadapembentukan karakter positif para peserta didik, proses pendidikan hanya akanmelahirkan orang pintar, tetapi belum tentu menjadi pribadi yang berkarakterdalam keutamaan-keutamaan moral.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, pendidikan, nilai, karakter, budi pekerti, keteladanan.Abstracts: Philosophically, education has its goal to liberate man from his outer andinner weaknesses, both as individual and social beings. In that perspective, educationalpraxis should cultivate learners’ learning interests to grow in knowledge and value. The educator must also be a role model in attitude, words, and behavior. Tracing out thethought of Ki Hadjar Dewantara, this article wants to show that without the intentionto form the positive character of the learners, the educational process will only give birthto smart people, but not necessarily a good person who lives in moral virtues.KEYWORDS: Education, examplar, good character, Ki Hadjar Dewantara, moral values.

Page 5 of 15 | Total Record : 143