cover
Contact Name
Yeremias Jena
Contact Email
yeremias.jena@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5708808
Journal Mail Official
ppe@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Pusat Pengembangan Etika Gedung Karol Wojtyla Lt. 12 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Jakarta 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Respons: Jurnal Etika Sosial
ISSN : 08538689     EISSN : 27154769     DOI : https://doi.org/10.25170/respons.v25i02
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles 148 Documents
Tinjauan Etis Terhadap Hoax Dalam Publikasi Artikel Ilmu Sosial Johan Hasan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22 No 02 (2017): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v22i02.456

Abstract

ABSTRAK: Esai ini membahas masalah etis atas skandal artikel ilmiah sosial yang berupa hoax yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal terpercaya yang sudah didukung oleh peer-reviewer. Namun, walau tulisan tidak koheren, penuh istilah absurd atau data yang dikutip sembarangan, ternyata peer-reviewer tidak mampu mengenali itu sebagai hoax dan menerimanya juga sebagai artikel ilmiah. Tulisan ini akan menimbang dari sudut tiga aspek yakni: kejujuran, dampak dari perbuatan tersebut, standar evaluasi tulisan dari institusi jurnal itu sendiri serta menjawab apa yang seharusnya dilakukan menghadapi artikel jurnal hoax seperti ini di kemudian hari.KATA KUNCI: Hoax, Sokal Aff air, Etika Penulisan, Etika Sains, Postmodernisme 
Gen Egois: Karya Richard Dawkins yang Melegenda Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22 No 02 (2017): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v22i02.457

Abstract

Apa yang menonjol dalam buku ini adalah posisi radikal Richard Dawkins yang terus mempertahankan pandangannya bahwa informasi digital di dalam gen selalu bersifat abadi dan harus menjadi unit seleksi yang utama. Tidak ada unit lain yang menunjukkan ketekunan yang luar biasa seperti itu dalam proses evolusi. Bagi Dawkins, unit utama yang menunjukkan ketekunan luar biasa itu bukanlah kromosom, bukan individu, bukan kelompok, juga bukan spesies. Unit-unit yang disebutkan ini juga penting karena merekalah yang menjadi kendaraan bagi gen, mirip seperti perahu dayung yang berfungsi sebagai kendaraan bagi pendayung berbakat. 
Amartya Sen tentang Teori Keadilan John Rawls: Kritik Pendekatan Komparatif atas Pendekatan Institusionalisme Sunaryo Sunaryo
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.464

Abstract

ABSTRAK: Asumsi teoritis John Rawls mengenai keadilan mendapat kritik tajamAmartya Sen. Dengan mengacu pada teori kontrak sosial, Rawls, demikianpenilaian Sen, terjebak dalam institusionalisme. Dalam pendekatan ini, keadilanhanya menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan kedudukan seseorang sebagaiwarga negara. Bahkan, berdasarkan teori tersebut keputusan-keputusan kolektifhanya mempertimbangkan kedudukan kewarganegaraan seseorang. Dengankonsep ini, Sen menilai, Rawls membangun paradigma imparsialitas tertutup.Sebagai gantinya, Sen mengusulkan gagasan imparsialitas terbuka, denganasumsi bahwa keadilan harus mengatasi batas-batas kewarganegaraan. Dengancara ini Sen membangun pendekatan komparatif atas konsep keadilan.KATA KUNCI: Institusionalisme, keadilan komparatif, hal-hal pokok, niti, nyaya.Abstract: Amartya Sen’s criticism to John Rawls’ theory of justice is the message ofthis article. Most of his criticisms is focused on the institutionalism approach whichis embedded in Rawls’ theory of justice. Sen traces out that by following contractariantheories Rawls counts on justice in citizens’ interests. A person deserves justice as far ashe is a citizen. In this perspective, citizens’ interests become the fundamental reasonfor all collective decisions. In such way, Rawls developed closed impartiality ratherthan open impartiality. For Sen, the ground of justice should be much broader andbeyond the limit of citizenship. Th is is he calls the comparative justice. Th e idea ofjustice must count on the life of the people.KEYWORDS: Institusionalism, comparative justice, primary goods, niti, nyaya.
Altruisme Sebagai Dasar Tindakan Etis Menurut Peter Singer Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.466

Abstract

ABSTRAK: Diskusi seputar altruisme sebagai motivasi bagi tindakan moralmenjadi sangat populer sejak abad kedua puluh. Salah satunya terpusat padapemikiran Peter Singer yang memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasibagi tindakan moral. Penulis paper ini mencoba menunjukkan sumbanganPeter Singer dalam memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakanmoral, pertama-tama dengan memosisikan etika sebagai realitas biologis daritindakan manusia. Sumbangan pemikiran Peter Singer yang terpenting dalammendiskusikan tema altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakan moral adalahpembelaannya terhadap kapasitas nalar manusia dalam melampaui dasar biologismoralitas manusia. Dengan cara itu, altruisme mengalami pemurnian oleh akalbudi dan memperluas lingkaran etika sampai melingkupi semua makhluk hidup.KATA KUNCI: Altruisme, altruisme marga, altruisme timbal-balik, Peter Singer,tindakan moral Abstract: The debates on altruism as a motivation for moral action has become verypopular since the twentieth century. One of them focuses on Peter Singer’s thought ofpositioning altruism as the basis and motivation for moral action. Th e author of thispaper tries to show Peter Singer’s contribution in positioning altruism as the basisand motivation of moral action, fi rst by showing the biological basis of moral action.Peter Singer’s most important contribution in discussing the theme of altruism as thebasis and motivation of moral action is his defense of the human reasoning capacityin transcending the biological foundations of human morality. In that way, altruismundergoes purifi cation by reason and extends the ethical circle until it encompasses allsentient beings. KEY WORDS: Altruism, kin altruism, reciprocal altruism, Peter Singer, moral action
Konsep Keadilan Sosial dalam Kebhinekaan Menurut Pemikiran Karen J. Warren Bernadus Wibowo Suliantoro; Caritas Woro Murdiati
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.467

Abstract

ABSTRAK: Keadilan memiliki cakupan yang luas, melampaui sikap dan iktikatbaik seseorang, menyangkut struktur proses politik, ekonomi, sosial maupunbudaya. Inilah inti konsep keadilan sosial. Namun, struktur sering menjadibelenggu sehingga seseorang maupun sekelompok masyarakat tidak memperolehhak yang wajar. Karena itu, Karen J. Warren berpendapat bahwa penyebabketidakadilan sosial terletak pada pemikiran dualistic-hierachy dan dominasi.Sebagai gantinya, Warren meramalkan bahwa harmoni kehidupan masyarakatyang plural akan berlangsung baik apabila setiap manusia mengembangkankerangka kerja konseptual yang menekankan prinsip egalitarian (kesetaraan),keadilan dan kepedulian satu sama lain.KATA KUNCI: Keadilan sosial, kesetaraan, kepedulian Abstract: Social justice is, more than personal attitude and etiquette, caused by thestructure of political, economic, social, and cultural processes. In case that a person anda group of people do not get their natural rights, the fundamental cause must be comefrom the structure. For this reason, Karen J. Warren proposes that dualistic-hierarcicalstructure and domination is the cause of social injustice in many forms. She suggeststhat the harmony of the pluralistic society will be created whenever everybody developsa conceptual framework that emphasizes the principles of equality, justice, and care.KEYWORDS: Social justice, equality, care
Merawat Kemanusiaan Pendekatan Kritis Terhadap Teknologi Modern Antonius Puspo Kuntjoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.468

Abstract

Merawat KemanusiaanPendekatan Kritis Terhadap Teknologi ModernA. Puspo KuntjoroABSTRAK: Berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) telah menjadifenomena yang cukup sering menyebar di dunia maya terutama media sosial.Khususnya dalam periode kontestasi politik di Indonesia, hal ini berkembangmenjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Pengalaman telah menunjukkanbahwa polarisasi dan konfl ik tajam yang diakibatkannya dalam masyarakattelah menggerus rasa persatuan dan persaudaraan bangsa kita yang majemuk.Lebih daripada itu, fenomena ini dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaanIndonesia, kemanusiaan yang ramah, toleran, terbuka, adil dan beradab terhadapsesamanya.Teknologi modern jelas punya andil besar dalam memunculkanpersoalan ini, khususnya teknologi informasi yang berkembang super cepat.Hoax dan hate speech, misalnya, menjadi mudah tersebar luas dan cepat karenadimungkinkan oleh media sosial dan algoritmanya. Sejumlah kajian fi losofi sterhadap teknologi memperlihatkan bahwa teknologi modern bukanlah sekadaralat yang netral. Teknologi modern membentuk dan mengubah cara pandangserta cara hidup manusia di dunia. Di samping pendekatan hukum denganpenerapan Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yangtanpa kompromi, pendekatan yang kritis terhadap teknologi modern diperlukanuntuk melindungi persatuan dan kemanusiaan Indonesia dari potensi-potensinegatif yang menyertai teknologi modern.KATA KUNCI: hoax, hate speech, politik identitas, globalisasi, persatuan,kemanusiaan Indonesia, teknologi modern, enframing, challenging-forth, mediasiteknologi, detox teknologi, moralising technology. Abstract: Hoax and hate speech have become phenomena which often spread incyberspace, especially in social media. Particularly during the period of political contestation in Indonesia, this has developed into something very alarming. Experiencehas shown that the polarization and the sharp confl icts which result from it in societyhave eroded our nation’s sense of unity and brotherhood. Moreover, this phenomenoncan develop into humanity crisis in Indonesia, humanity that is friendly, tolerant,open, just and civilized towards each other. Modern technology clearly has a bigrole in engendering this problem, especially information technology that developssuper fast. Hoax and hate speech, for example, become easily and quickly widespreadbecause they are made possible by social media and its algorithms. A number ofphilosophical studies of technology show that modern technology is not just a neutraltool. Modern technology shapes and changes people’s perspectives and ways of life inthe world. In addition to the legal approach via the uncompromising application ofthe ITE (Electronic Information & Transaction) Law, a critical approach to moderntechnology is needed to protect Indonesia’s unity and humanity from the negativepotential which accompanies modern technology.KEYWORDS: hoax, hate speech, identity politics, globalization, unity, Indonesianhumanity, modern technology, enframing, challenging-forth, technology mediation,technology detox, moralising technology.
Mencari Kemungkinan Solidaritas Tanpa Dasar Universal: Telaah atas Pemikiran Etika Sosial Richard Rorty Fristian Hadinata
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.469

Abstract

ABSTRAK: Pemikiran Richard Rorty mengenai solidaritas tanpa dasar universalmemiliki relevansi yang luas bagi masyarakat plural, di antaranya, terbentuknyakekitaan baru. Pemikiran ini dikritik sebagai usaha untuk mempromosikanetnosentrisme. Tulisan ini menegaskan bahwa solidaritas tidak dapat dibangundi atas fondasi kategoris tentang kemanusiaan universal. Sebaliknya, solidaritasharus mulai dari mana kita berasal, yaitu realitas konkret dan kenyataan hidupyang jadi bagian dari pergulatan kita sehari-hari.KATA KUNCI: Solidaritas, kemanusiaan, keberagaman, kontingenAbstract: Richard Rorty’s ethical thinking solidarity without universal basis hasits large relevance in building pluralistic society, especially in forming the newtogetherness. Th is thought has been criticized as an eff ort to promote ethnocentrism.Th is article is intending to defend that the solidarity cannot be developed under thecategorical foundation concerning the universal humanity. In contrary, it should startfrom which are coming, that is, from our concrete and real life.KEYWORDS: Solidarity, universal humanity, plurality, contingency.
Berwisata di Alam Filsafat Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 01 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i01.482

Abstract

Man cannot live without philosophy, demikian pernyataan JacobNeedleman, yang terpampang dalam ‘Introduction’ dari buku Th e Heart ofPhilosophy. Bagi dia, pernyataan ini bukanlah sebuah kata kiasan, namunsebuah fakta yang sebenar-benarnya. Ada sebuah kerinduan dalam hatimanusia, tulisnya, yang hanya dapat terpuaskan melalui filsafat yang riil.1Filsafat adalah hidup itu sendiri. Tanpa fi lsafat manusia mati.
ASEAN Philosophical Traditions From A Developmental Perspective Rainier A Ibana
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i01.522

Abstract

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar, Indonesia merupakanrumah tradisi intelektual yang menerima, memelihara, dan mengembangkantradisi filsafat Barat yakni, filsafat Plato dan Aristoteles. Kita juga tidak melupakanpedagang Cina yang bekerja keras mempengaruhi perdagangan di Indonesia dan ASEANmemperoleh inspirasinya dari etika Konfusius. Paper ini bertujuan merangkumtradisi-tradisi filsafat besar yang mempengaruhi tradisi filsafat Asia dan bagaimana halitu terbentuk dalam bahasa Melayu-Polinesia untuk menunjukkan bahwa betapa punberbeda ada kesamaan terutama karena semuanya menyumbang bagi perbendaharankebijaksanaan kemanusiaan dan cara berpikir manusia yang menggunakan bahasanyamasing-masing.
Demokrasi, Kedaulatan Rakyat, dan Pemilu Refleksi Atas Hubungan Antara Teori Dan Praksis Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v21i01.524

Abstract

Demokrasi adalah sistem kekuasaan yang didasarkan pada persetujuanrakyat melalui pemilihan umum. Di dalam sistem demokrasi rakyatlah yang berkuasa:pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sistem ini dinilai lebihmanusiawi daripada berbagai sistem pemerintahan lain seperti tirani, monarki, danoligarki Indonesia juga menganut sistem demokrasi, tercermin amat jelas dalamUUD 1945 sebagai hukum dasar (konstitusi) yang dijiwai oleh Pancasila sebagaidasar hukum. Pemimpin pemerintahan dan para wakil rakyat serta perwakilan daerahdipilih melalui pemilihan umum. Tulisan ini menjelaskan bahwa dewasa ini ancamanterhadap demokrasi adalah politik uang. Dengan uang suara rakyat dapat dibelisehingga besaran perolehan suara tidak berbanding lurus dengan besaran persetujuanrakyat. Pencideraan demokrasi melalui jual beli suara menjadikan sistem demokrasipolitik dagang sapi.

Page 7 of 15 | Total Record : 148