cover
Contact Name
I Gde Adi Suryawan Wangiyana
Contact Email
jurnalsilvasamalas@gmail.com
Phone
+6281907005728
Journal Mail Official
jurnalsilvasamalas@gmail.com
Editorial Address
Jl Pemuda No. 59A Dasan Agung Baru, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Silva Samalas: Journal of Forestry and Plant Science
ISSN : 26216779     EISSN : 27767175     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Silva Samalas intended as a medium for communication between researchers about their work. This journal accepted scientific papers on various topics including forestry, agriculture, botany, and environmental science. Jurnal Silva Samalas also accepted various types of scientific paper including research paper, systematic reviews, and short communication.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019" : 11 Documents clear
PERAN HUKUM ADAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN ADAT DI DESA BENTENG RAJA KECAMATAN BORONG KABUPATEN MANGGARAI TIMUR PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Risandri Ono Juhadin; Yulia Ratnaningsih
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3653

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hukum adat di desa benteng raja dalam pengelolaan hutan adat. Metode dan analisi data yang digunakan adalah Data di olah dari hasil kuesioner yang akan peneliti sebarkan kepada masyarakat adat kemudian diproses melalui pengolahan data dengan mencari persentase dari tiap jawaban untuk selanjutnya di diskripsikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Hukum Adat di Desa Benteng Raja. Hukum adat yang ada berupa hukum lisan dan tidak tertulis yaitu berupa aturan yang melarang penebangan pohon dan tidak boleh berburu satwa didalam kawasan hutan adat. Dan hanya diperbolehkan mengambil tumbuhan bawah sebagai obat dan berburu babi hutan saja.Stuktur kelembagagaan Adat terdiri dari Tua Golo (Pimpinan Kampung), Tua Teno (Subordinat Dari Tua Golo), Tua Panga (Kepalah Suku), Tua Kilo (Kepala Keluarga) dan Ro`eng (Warga Masyarakat Adat). Tingkat partisipasi masyarakat adat pada penerapan hukum adat dalam pengelolaan hutan adalah sangat tinggi 25% (5 orang), Tinggi 45% (9 orang) dan Rendah 30% (6 orang).
COMPARATION OF DENDROGRAM AND CLADOGRAM TOPOLOGY OF Gyrinops versteegii AND OTHERS GYRINOPS MEMBER FOR POLYPHASIC TAXONOMY I Gde Adi Suryawan Wangiyana
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3673

Abstract

The purpose of this research is to compare topology of dendrogram and cladogram of G. versteegii and others Gyrinops members for polyphasic taxonomy approach. Character of leaf, stem, flower and fruit of Gyrinops member were used for numeric phenetic analysis. On the other hands, trnL-trnF interspacer of chloroplast gene sequence were used for phylogenetic analysis. MVSP 3.1A were used for dendrogram construction using Simple Matching Coefficient and Jaccard’s Coefficient as clustering method. Co-stat cohor 6 were used for cophenetic correlation analysis. Multiple sequence alignment of trnL – trnF was carried by ClustalX 2.1 program. MEGA program was used for reconstruction of cladogram. This cladogram uses two different approach algorithms including: Neighbor Joining and Maximum Likelihood with 1000 bootstrap replication. Sequences similarity matrix analysis were carried by Phydit program with cut off value 99% for each Gyrinops members. Based on result, simple matching dendrogram has the same topology as Jaccard’s dendrogram. Cophenetic correlation analysis also confirm that there is no distortion on clustering analysis of these two dendrograms. On the other hand, Neighbor Joining cladogram has different topology from Maximum Likelihood cladogram. Similarity analysis of trnL-trnF sequence shows that each member of Gyrinops has strong phylogenetic relationship. Comparation of dendrogram and cladogram of G. versteegii with other Gyrinops members confirm that this species has different clustering group on dendrogram and cladogram. It could be concluded that G. versteegii has unique phylogenetic relationship and similarity relationship with others Gyrinops members.
RESPONSE OF TWO VARIETIES OF RED RICE INTERCROPPED WITH SOYBEAN IN AEROBIC IRRIGATION SYSTEM TO ORGANIC FERTILIZATION USING BOKASHI OF CATTLE MANURE Jekson Simarmata; Wayan Wangiyana
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan organik menggunakan bokashi pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil dua genotip padi beras merah yang ditumpangsari dengan kedelai pada sistem irigasi aerobik pada bedeng di lahan sawah entisol. Percobaan ditata menurut Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan (blok) dan 2 faktor perlakuan yang ditata secara faktorial, yaitu varietas padi beras merah (V1= varietas Inpago Unram 1 dan V2= galur Amp-G9), dan pemupukan organik dengan bokashi pupuk kandang sapi (B1= tanpa bokashi hanya NPK dosis anjuran, B2= bokashi 20 ton/ha + NPK dosis anjuran, dan B3= bokashi 20 ton/ha + NPK 50% dosis anjuran). Penanaman padi beras merah dilakukan dengan tugal benih langsung pada bedeng dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi maupun varietas, namun pemupukan bokashi berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan beberapa komponen hasil padi beras merah termasuk hasil gabah per rumpun. Pemupukan organik dengan bokashi pupuk kandang sapi 20 ton/ha disertai pupuk NPK dosis anjuran memberikan hasil gabah tertinggi (41,6 g/rumpun), tetapi jika dosis NPK diturunkan menjadi 50% dosis anjuran terjadi penurunan hasil gabah yang signifikan (27 g/rumpun) dibandingkan dengan hanya menggunakan pupuk NPK dosis anjuran (35,1 g/rumpun), yang mengindikasikan ketergantungan produksi padi di lahan sawah irigasi yang masih tinggi terhadap pupuk NPK.
ANALISIS PENDAPATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU JAMBU MENTE (Anacardium occidentale L.) DILAHAN HUTAN TANAM RAKYAT KELOMPOK TANI DESA KABOL KECAMATAN PRAYA BARAT DAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Isa Ansori; Kemas Usman
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3654

Abstract

Tanarnan jambu mente pada saat ini merupakan salah satu tanaman yang sedang dipacu pengembangannya, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan HHBK Jambu Mente (Anacardium Occidentale L.) serta mengetahui tingkat kelayakan usaha menanam Jambu Mente di Hutan Desa Kabol, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey. Penelitian ini dilakukan pada kelompok tani hutan di Dusun Kending Sampi desa Kabol, Kecamatan Praya Barat Daya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan petani responden adalah seluas 100Ha, maka rata-rata biaya produksi untuk membeli alat dan bahan serta biaya ongkos tenaga kerja yang harus dikeluarkan petani adalah sebesar Rp 3.427.000. Rata-rata penerimaan yang diperoleh petani sebesar Rp. 11.733.00, dan rata-rata pendapatan/keuntungan yang diperoleh masing-masing petani per/1 musim tanam sebesar Rp. 8.302.000, maka R/C ratio diperoleh sebesar 1,82%. Artinya, setiap Rp. 1 yang dikeluarkan oleh petani untuk biaya usaha menanam jambu mente akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1,82%. Karena nilai R/C Ratio lebih besar dari pada 1 (R/C > 1) maka kegiatan dalam usaha menanam jambu mente di hutan Desa Kabol ini layak untuk diusahakan. Untuk meningkatkan pendapatan/keuntungan, maka diharapkan kepada para petani hutan di wilayah penelitian bisa meningkatkan kegiatan pemeliharaan terhadap tanaman tanaman jambu mente dan agar di usahakan bisa menjual hasil produksi dalam bentuk produk sekunder.
PENGARUH PERLAKUAN PENDAHULUAN DAN PERBANDINGAN PARTIKEL TERHADAP SIFAT FISIKA PAPAN SEMEN PELEPAH LONTAR (Borasus flabellifer . Linn) Leni Rusdiani; Febriana Tri Wulandari; Dwi Sukma Rini
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3650

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan pendahuluan, perbandingan partikel dan semen, dan interaksi antara perlakuan pendahuluan dan perbandingan partikel dan semen terhadap sifat fisika papan semen partikel pelepah lontar. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu faktor perlakuan pendahuluan (K) dengan menggunakan dua perlakuan yaitu rendaman dingin dan rendaman panas dan faktor kedua yaitu perbandingan partikel dan semen (P) menggunakan dua perbandingn yaitu P1 (1:5) dan P2 (1:6). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pendahuluan tidak berpengaruh terhadap sifat fisika papan semen partikel pelepah lontar. Sedangkan pada perbandingan partikel dan semen berpengaruh terhadap sifat fisika papan semen partikel pelepah lontar pada nilai kerapatan dan kadar air. Interaksi perlakuan pendahuluan dan perbandingan semen dan partikel tidak berpengaruh nyata terhadap sifat fisika papan semen partikel pelepah lontar. Nilai dari masing-masing pengujian Kerapatan, kadar air, dan pengembangan tebal yang dihasilkan pada penelitian ini berturut-turut berkisar antara 1,16-1,27 g/cm³, 12,77-13,69 %, dan 0,84-1,32%.
UTILIZATION OF FAMILY MEDICINAL PLANT DURING ANTENATAL CARE: A REVIEW I Gusti Agung Ayu Hari Triandini
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3655

Abstract

Family medicinal plants is an traditional medication that has been used by Indonesian people for many years. It also has been used as primary medication on family as first aid medication before medical personel handling. Family medicinal plants consist of plants that are commonly being consumed on daily life of Indonesian people especially on village. This also confirm the safety of this medication for pregnant women. Pregnant women during antenatal care have strict medication option for their illness. The could not consume antibiotic and other synthetic chemical medicine for medical treatment. The use of family medicinal plants on antenatal care could give an alternatif solution for treatment of pregnant women. Thus, this article describe beneficial of using family medicinal plant during antenatal. Since all medication should has side effect, this article also describe the limitation of family medicinal plant utilization. However, analysis of beneficial and limitation of family medicinal plants application could give strong consideration for pregnant women as their alternative medication option.
POTENSI JENIS-JENIS POHON INANG KUTU LAK (Laccifer lacca.Kerr) DI KAWASAN PULAU LOMBOK Febriana Tri Wulandari
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3645

Abstract

Beberapa negara penghasil lak juga memilliki tanaman inang yang berbeda selain kesambi yang berpotensi sebagai inang kutu lak. Misalnya saja India tanaman inang yang baik adalah Butea monosperma (Ploso) dan Zizypus mauritana, dan Thailand menggunakan tanaman jenis Samanea saman yang paling baik untuk inang kutu lak (Green, 1995). Di Sumba timur jenis pohon yang baik untuk inang kutu lak adalah kesambi, bidara, dan beringin (Rochayah dkk, 2012). Berdasarkan hal ini maka sangat menarik untuk dikaji inang alternatif selain kesambi yang dapat menghasilkan lak baik secara kuantitas maupun kualitasnya tinggi yang khas untuk Pulau Lombok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenisjenis pohon inang selain kesambi yang membentuk lak. Metode yang digunakan metode deskriptif. Percobaan akan dilakukan di daerah basis penanaman kesambi yakni di desa Sugian seluas 35 ha dan desa Ledangbatu seluas 150 ha di kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Luas areal contoh yang diambil di desa Sugian seluas 1,5 ha dan di desa Lendangbatu seluas 7,5 ha (5% dari luas areal penanaman kesambi). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat empat jenis pohon yang dapat menjadi inang kutu lak selain pohon kesambi  yaitu : pohon mangga, pohon sengon, pohon sonokeling dan pohon ara.
STUDI PERILAKU INDIVIDU JANTAN ALFA MONYET EKOR PANJANG (Macaca Fascicularis) DI TWA GUNUNG PENGSONG KABUPATEN LOMBOK BARAT Ferry Jawadi; Raden Roro Narwastu Dwi Rita
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3651

Abstract

Monyet ekor panjang merupakan salah satu jenis perimata yang dapat berdiri duduk, berjalan tegak, dan menggunakan tangannya untuk untuk berbagai keperluan. Mereka menggunakan jari-jari tangan untuk menggenggam, menggelantung, mengambil sesuatu, memasukan makanan ke dalam mulut, mengusap, menggaruk, dan melempar sesuatu (Arief, 2011). Pengetahuan tentang Monyet ekor panjang ini sangat penting sebab spesies ini memiliki nilai ekonomi dalam bidang biomedis, namun ia memiliki dampak negatif karna sering menjadi hama dan membahayakan dalam perilaku hariannya. Sebagai upaya berkontribusi pada penelitian perilaku harian monyet ekor panjang di Taman Wisata Alam Gunung Pengsong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana, perilaku harian pada monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang ada di Gunung Pengsong. Metode penelitian yang digunakan adalah Focal Animal Sampling Metode ini lebih berguna untuk mendeteksi perbedaan perilaku antara individu dalam kelompok sosial atau dalam menggambarkan pola interaksi sosial yang terjadi. Hasil penelitian perilaku harian individu jantan alfa monyet ekor panjang (M. Fascicularis) di TWA Gunung Pengsong. Teramati makan (feeding), istirahat (resting), bergerak pindah (moving), sosial (social)yang meliputi (bermain, mencari kutu, agonistik (berkelahi), dan Kawin). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku harian dari individu jantan alfa monyet ekor panjang di TWA Gunung Pengsong. Teramati aktivitas paling sering dilakukan adalah perilaku sosial (social) meliputi perilaku (bermain, mencari kutu, agonistik (berkelahi), kawin) sebanyak 37,93%, untuk perilaku bergerak pindah (moving) sebanyak 27,59%, dan perilaku makan (feeding) sebanyak 22,41% perilaku yang agak jarang yakni perilaku istirahat (resting) dilakukan sebanyak 12,07% dari waktu aktif dan total aktivitas hariannya.
UPAYA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN EKOWISATA TRACKING MANGROVE DI DESA LEMBAR SELATAN KEC. LEMBAR KAB. LOMBOK BARAT Rahmawati Rahmawati; Wahyu Yuniati Nizar
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3646

Abstract

Penelitian dengan judul upaya pelestarian dan pengembangan “ekowisata tracking mangrove” di Desa Lembar Selatan Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat perlu dilakukan, bertujuan untuk mengetahui upaya pelestarian dan upaya pengembangan “ekowisata tracking mangrove”. Sedangkan waktu pelaksanaannya sejak persiapan hingga penyusunan laporan hasil penelitian berlangsung selama 1 (satu) bulan. Tehnik analisis data menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat negatif sampai sangat positif. Upaya pelestarian “ekowisata tracking mangrove” yang sudah dilakukan dikawasan ekowisata yaitu penanaman pohon mangrove sebanyak 14.000 (empat belas ribu) bibit dengan luas kawasan “ekowisata tracking mangrove” sekitar 15 ha, dan adanya lahan budidaya pertambakan di kawasan ekowisata sekitar 2 ha. Adapun jenis pohon penyusun hutan mangrove yang ada di kawasan “ekowisata tracking mangrove” seperti tumbuhan pionir (Sonneratia alba), diikuti oleh komunitas campuran S. Alba, Avisennia spp., Rhizophora apiculata, komunitas campuran Rhizophora-Bruguiera. Upaya pengembangan “ekowisata tracking mangrove” yaitu pengembangan berupa Jembatan tracking sepanjang 500m, 11 (sebelas) unit gazebo, 7 (tujuh) unit  perahu, sebuah rumah apung yang berbahan kayu, spot selfi, lahan parkir, 1 (satu)  toilet dan usaha lapak umkm diatas air dan di darat.
UPAYA KONSERVASI DAN PENGEMBANGAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN RANA LOBA KECAMATAN BORONG KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Robertus Habur; Mareta Karlin Bonita
Jurnal Silva Samalas Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v2i1.3652

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah Untuk Mengidentifikasi kegiatan upaya konservasi yang dilakukan di Kelurahan Rana Loba Manggarai Timur dan untuk mengetahui pengembangan ekowisata yang terdapat di hutan mangrove Kelurahan Rana Loba Manggarai Timur.Penelitian  ini dilaksanakan pada bulaan Januari  sampai Februari  2019Lokasi penelitian ini di Kelurahan Ranan LobaKecematan Borong Kabupaten Manggarai Timur.Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: alat tulis, kamera, laptop dan GPS. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner.  Upaya konsevasi Hutan Mangrove yang di lakukan oleh masyarakat Kelurahan Rana Loba yaitu penanaman pohon mangrove di lakukan dari tahun 2014 sebanyak 500 (lima ratus) bibit,kemudian pada tahun 2015 sebanyak 400 (empat ratus) bibit kemudian pada tahun 2016 sebanyak 300 (tiga ratus) bibit, di tanam oleh pengelolah lapangan dan masyarkat setempat ikut berpartisipasi dalam penanaman mangrove dengan luas kawsan hutan mangrove sekitar 9 Ha.Upaya pengembangan Ekowisata Mangrove, kesedian masyarakat dalam pengembangan ekowisata mangrove Kelurahan Rana Loba yang sangat setuju (30%), setuju (26,66%), netral (21,66%), tidak setuju (11,66%), sangat tidak setuju (10%). Adanya kelompok sadar wisata di Kelurahan Rana Loba yang sangat setuju (53,33%), setuju (13,33%), netral (23,33%). Dukungan pemerintah terhadap ekowisata mangrove yang sangat setuju (30%), setuju (33,33%), netral (26,66%), tidak setuju (3,33%), sangat tidak setuju (6,67).  Ekowisata hutan mangrove membantu perekonomian yang sangat setuju (43,33%), setuju (20%), netral (10%), tidak setuju (20%), sangat tidak setuju (6,66%). Kerusakan yang disebapkan oleh pengunjung ekowisata mangrove yang sangat setuju (36,66%), setuju (40%), netral (10%),  tidak setuju (20%),sangat tidak setuju (6,67%).Keberlanjutan pengembangan ekowisata hutan     mangrove yang sangat setuju (26,66%), setuju  (26,66%), netral (22%), tidak setuju (6,66%), sangat tidak setuju (17,72%).

Page 1 of 2 | Total Record : 11