cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 65 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL" : 65 Documents clear
KONSEP DIGITAL HYBRID PADA RANCANGAN UNIT KIOS DI PASAR GROGOL - JAKARTA BARAT Elise, Angela Czarina; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27450

Abstract

In the era of digital e-commerce, traditional market vendors face challenges in adapting to changes in consumer preferences and technological advancements. These vendors, who have long relied on face-to-face transactions and local customers, are now compelled to establish an online presence. Building trust with online customers is another key aspect of adaptation in this digital era. Adapting to the digital age also involves addressing logistical challenges. With changing shopping trends and evolving consumer preferences, there's a strong push to alter the capacity of kiosk units. Many markets have adopted a more flexible approach by offering customizable and modular kiosk units. This transformation brings traditional markets into a more modern and adaptive era, enabling vendors to be more responsive to changes in market demand and providing space for innovation and business growth. In conclusion, traditional market vendors must undergo a complex transition into the digital e-commerce era. They face challenges related to technology integration, product diversification, pricing strategies, customer trust, and logistics. Success in this ever-changing landscape depends on their ability to adapt, embrace technology, and strategically position themselves in the online market. Adapting to the digital age is not only crucial for the survival of traditional market vendors but also provides them with opportunities to access a larger market share. Keywords:  Electronic trading; Hybrid Market; traditional market; Trader Abstrak Dalam era digital e-commerce, pedagang pasar tradisional menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen dan kemajuan teknologi. Pedagang pasar tradisional, yang selama ini bergantung pada transaksi tatap muka dan pelanggan lokal, kini terpaksa untuk mendirikan kehadiran online. Di era digital ini, membangun kepercayaan dengan pelanggan online adalah aspek kunci lain dari adaptasi. Beradaptasi dengan era digital juga melibatkan penanganan tantangan logistik. Dengan adanya perubahan tren belanja dan preferensi konsumen yang semakin berubah, terdapat dorongan kuat untuk mengubah kapasitas unit kios. Banyak pasar telah mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dengan menawarkan unit kios yang dapat disesuaikan dan lebih modular. Transformasi ini membawa pasar tradisional ke dalam era yang lebih modern dan adaptif, memungkinkan pedagang untuk lebih responsif terhadap perubahan permintaan pasar serta memberikan ruang bagi inovasi dan pertumbuhan usaha. Sebagai kesimpulan, pedagang pasar tradisional harus menjalani transisi yang kompleks ke dalam era digital e-commerce. Mereka menghadapi tantangan terkait integrasi teknologi, diversifikasi produk, strategi penetapan harga, kepercayaan pelanggan, dan logistik. Keberhasilan dalam lanskap yang terus berubah ini bergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi, merangkul teknologi, dan menempatkan diri secara strategis dalam pasar online. Beradaptasi dengan era digital bukan hanya penting untuk kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk mengakses pangsa pasar yang lebih luas dan tetap relevan dalam ekonomi global yang semakin terhubung.
PENDEKATAN ARSITEKTUR AUTISME DALAM PERANCANGAN MUSEUM EDUKASI Stefanie, Marcella; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27451

Abstract

Autism has received global attention due to communication limitations, social interaction difficulties, and repetitive behavior. Comprehensive understanding reduces stigma and discrimination, allows people to be more empathetic and provide better support. Knowledge about autism also supports early help and community understanding through architectural interventions. This research explores the factors of therapy methods, the importance of understanding autism through architecture, and the integration of autism architecture in educational design. Understanding autism strengthens community support, improves resources and services, encourages better education and treatment programs, and promotes inclusivity and welcoming communities. Therefore, understanding autism is not only the task of health professionals or educators, but also the responsibility of the general public. An educational museum was created to depict the characteristics of autism through supporting installations, providing in-depth insight into the experiences of children with autism. Keywords: Describe; Disease; Stigmatism Abstrak Autisme mendapat perhatian global karena keterbatasan komunikasi, kesulitan interaksi sosial, dan perilaku repetitif. Pemahaman menyeluruh mengurangi stigma dan diskriminasi, memungkinkan masyarakat lebih empatik dan memberikan dukungan lebih baik. Pengetahuan tentang autisme juga mendukung bantuan dini dan pemahaman masyarakat melalui intervensi arsitektural. Penelitian ini mengeksplorasi faktor metode terapi, pentingnya pemahaman autisme melalui arsitektur, dan integrasi arsitektur autisme dalam desain edukasi. Pemahaman tentang autisme memperkuat dukungan masyarakat, meningkatkan sumber daya dan layanan, mendorong program pendidikan dan perawatan yang lebih baik, serta mempromosikan inklusivitas dan masyarakat yang ramah. Oleh karena itu, memahami autisme bukan hanya tugas profesional kesehatan atau pendidik, tetapi juga tanggung jawab masyarakat umum. Sebuah museum edukasi didirikan untuk menggambarkan karakteristik autisme melalui instalasi-instalasi pendukung, memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman anak-anak dengan autisme.
EKSPLORASI PENGARUH DESAIN BANGUNAN TERHADAP KESEJAHTERAAN MENTAL DAN PENANGGULANGAN DEPRESI Ramadhan, Rizqi; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27452

Abstract

This research delves into the significant role of architectural design in advancing mental well-being and its potential to address depression. In the midst of an era filled with pressure and stress, understanding the interconnection between the physical environment and mental health becomes increasingly vital. The research aims to identify architectural design principles that positively impact individual psychological aspects, encompassing elements such as natural lighting, spatial arrangement, access to nature, and art integration. The findings of this research indicate that architecturally responsive design to psychological needs has the potential to be a key factor in addressing the challenges of depression. By providing an environment that supports mental recovery, architectural design can play a crucial role in enhancing the overall well-being of society. The practical implications of this research provide impetus for architects, urban planners, and policymakers to create built spaces that are not only visually appealing but also contribute to individual psychological well-being. In summary, this research emphasizes that incorporating the dimension of mental well-being into built environment design has a significant positive impact in creating a holistically healthier society. Keywords: Architecture; Depression; Mental disorders; Mental recovery Abstrak Penelitian ini menyelidiki peran yang signifikan dari desain arsitektur dalam memajukan kesejahteraan mental dan potensinya untuk mengatasi depresi. Di tengah-tengah era yang dipenuhi tekanan dan stres, pemahaman akan keterkaitan antara lingkungan fisik dan kesehatan mental menjadi semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip desain arsitektur yang memiliki dampak positif pada aspek psikologis individu, mencakup elemen-elemen seperti pencahayaan alami, pengaturan ruang, akses ke alam, dan integrasi seni. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa desain arsitektur yang responsif terhadap kebutuhan psikologis memiliki potensi menjadi faktor kunci dalam menghadapi tantangan depresi. Dengan menyediakan lingkungan yang mendukung pemulihan mental, desain arsitektur dapat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Implikasi praktis dari penelitian ini memberikan dorongan kepada arsitek, perencana kota, dan pembuat kebijakan untuk menciptakan ruang binaan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan psikologis individu. Secara singkat, penelitian ini menegaskan bahwa memasukkan dimensi kesejahteraan mental dalam perancangan lingkungan binaan memiliki dampak positif signifikan untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara holistik.
RUANG KESEJAHTERAAN BERSAMA ANTARA MANUSIA-ANJING DALAM KONTEKS TERAPI PTSD Amanda, Vania; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27453

Abstract

The phenomenon of Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) in the film To be of Service is a documentary film about several military veterans with various physical and psychological injuries. This becomes an issue how this disorder not only affects themselves but also the people around them. This film also shows that the main character is often considered a strange and unstable person by the people around him. This problem reflects that the negative stigma towards PTSD sufferers greatly affects a person's psychological condition. Recent studies on dog therapy prove that interacting with dogs can reduce anxiety. The aim of this research is to create a space of shared well-being including social support, a sense of bonding, and feelings of trust that are built between PTSD sufferers and dogs. In an architectural context, this research is not just about physical design, but also includes creating holistic well-being by focusing on empathetic spaces for dogs and PTSD sufferers. This research uses descriptive research methods with a qualitative approach. In this case, architecture is about designing life and this research is an effort to design spaces that can strengthen the relationship between humans and dogs. Keywords: dog; ptsd; space Abstrak Fenomena Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dalam Film To be of Service merupakan film dokumenter kisah beberapa veteran militer dengan berbagai luka fisik dan psikologis. Hal ini menjadi sebuah isu bagaimana gangguan ini tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Film ini juga menunjukan bahwa karakter utama sering dianggap sebagai orang yang aneh dan tidak stabil oleh orang-orang di sekitarnya. Masalah ini mencerminkan bahwa stigma negatif terhadap penderita PTSD sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Adanya studi terbaru mengenai dog therapy membuktikan bahwa berinteraksi dengan anjing dapat menurunkan kecemasan.  Tujuan riset ini adalah untuk membentuk ruang kesejahteraan bersama termasuk dukungan sosial, rasa ikatan, dan perasaan kepercayaan yang terbangun antara penderita PTSD dan anjing. Dalam konteks arsitektur, penelitian ini bukan hanya sekedar desain fisik, tetapi juga mencakup penciptaan kesejahteraan yang menyeluruh dengan memfokuskan ruang empati bagi anjing dan penderita PTSD. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini, arsitektur adalah tentang merancang kehidupan dan riset ini menjadi upaya untuk merancang ruang yang dapat mempererat hubungan manusia dan anjing.
MEDALI RELASI ANTARGENERASI Susanto, Meilisa Christiani; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27454

Abstract

Intergeneration relationships have a distance that is created unconsciously from everyday life. Identical to the existence of different views, there is a clash that results in an intergeneration gap. Often referred to as the generation gap, it is a condition created due to differences in experiences and attitudes between generations, which ultimately results in a gap or distance. A bridge is needed to unify intergeneration perceptions, making each generation cherish each other and coexist. Play is then considered to be one of the ways that can bridge the intergeneration gap that has been created to date. In a game there are various goals, victory being the most commonly encountered goal. Trophies or medals are identical as a form of appreciation for winning a competition or game. Like playing, it is hoped that there will be a game of definition from the appreciation for victory. No longer in the form of physical things like medals but in the form of intergeneration relationships. Qualitative and comparative data collection methods from a collection of journals and books. The target of this research is to show the positive side of playing together between generations, in order to strengthen intergeneration relationships. Keywords:  Cherish; Coexist; Intergeneration; Playing; Strengthen Abstrak Hubungan antargenerasi memiliki jarak yang tercipta tanpa disadari dari kehidupan sehari-hari. Identik dengan adanya perbedaan pandangan, terjadi benturan yang mengakibatkan kesenjangan antargenerasi. Sering disebut dengan kesenjangan generasi atau generation gap yang merupakan suatu kondisi yang tercipta karena adanya perbedaan pengalaman dan sikap antargenerasi, sehingga pada akhirnya menghasilkan kesenjangan atau jarak. Diperlukan jembatan untuk menyatukan persepsi antargenerasi, menjadikan setiap generasi saling menghargai dan hidup berdampingan. Bermain kemudian dianggap menjadi salah satu cara yang mampu menjembatani kesenjangan antargenerasi yang telah tercipta hingga saat ini. Dalam sebuah permainan ada berbagai tujuan, kemenangan menjadi tujuan yang paling sering ditemui. Piala ataupun medali identik sebagai bentuk apresiasi akan kemenangan atas suatu perlombaan atau permainan. Layaknya bermain, diharapkan terjadi permainan definisi dari bentuk apresiasi kemenangan. Tak lagi berupa hal fisik layaknya medali namun berwujud atas terjalinnya hubungan relasi antargenerasi. Metode pengumpulan data kualitatif dan komparatif dari kumpulan jurnal dan buku. Target penelitian ini agar dapat menunjukkan sisi positif dari bermain bersama antargenerasi, demi mempererat hubungan antargenerasi.
PEMANFAATAN AIR LIMBAH SEBAGAI SUMBER DAYA KAMPUNG APUNG Adeline, Pricillia; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27455

Abstract

Kampung Apung is a slum located in Kapuk, West Jakarta. This place was formerly a Chinese and Malay ethnic cemetery known as Tanah Bengkok. Due to urgent housing needs in 1960, The locals built settlements at the edges of the cemetery, forming a settlement called Kapuk Teko.mKapuk Teko filled with rice fields and greenery. In 1979,  excessive land reclamation was carried out due to the establishment of warehouses and industrial facilities, resulting in a reduction in land elevation. The continuous flood occurred due to the low lying terrain, leading wastewater from the slum and industries to fill the lower land permanently, and afterwards the slum is known as Kampung Apung. The floods faced a various problems, such as disrupted food chain ecosystem, physical degradation, and the residents’ quality of life. Algaes and water hyscinths began to appear on the wastewater surface as the result.Nevertheless, the “disaster” for the locals can be utilized as a resource for Kampung Apung. The methods used are descriptive, interviews, and direct observation. The program presented is a support community program with the aim of balancing the ecosystem and increasing the quality of life, and addressing physical degradation in Kampung Apung. Keywords:  Ecosystem; Physical degradation; Slums; Wastewater Abstrak Kampung Apung merupakan kampung kota yang berlokasi di Kapuk, Jakarta Barat. Wilayah kampung ini dulunya merupakan area pemakaman etnis Cina dan Melayu yang dikenal dengan sebutan Tanah Bengkok. Dikarenakan kebutuhan mendesak akan tempat tinggal, pada tahun 1960, penduduk setempat membangun pemukiman di sekitar tepi pemakaman, yang secara perlahan membentuk pemukiman yang dinamakan Kapuk Teko. Kapuk Teko mempunyai ciri khas kampung yang kaya akan persawahan dan penghijauan. Pada tahun 1979, dilakukan pengurukan tanah secara berlebihan disekeliling pemukiman untuk kebutuhan pembangunan pergudangan dan industri. Pengurukan tersebut menciptakan cekungan pada lahan Kapuk Teko. Karena terjadinya banjir terus menerus dan pembuangan limbah air dari rumah tinggal dan industri, mengakibatkan tergenangnya air secara permanen, membuat pemukiman tersebut menjadi dikenal dengan Kampung Apung. Genangan permanen tersebut menyebabkan ketidakseimbangan dalam ekosistem, memicu degradasi fisik rumah tinggal, dan menurunkan kualitas hidup warga. Alga dan eceng gondok mulai bermunculan di permukaan air sebagai dampak genangan air limbah. Meskipun demikian, “bencana” bagi warga sekitar ternyata dapat dimanfaatkan bagi sumber daya Kampung Apung. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif, wawancara, dan observasi secara langsung. Program yang dihadirkan merupakan program pendamping warga yang dibuat dengan harapan agar dapat membantu mengembalikan keseimbangan ekosistem, meningkatkan kualitas hidup warga, serta degradasi fisik di Kampung Apung.
MEMADUKAN DUNIA ANAK- ANAK MELALUI ARSITEKTUR BERMAIN: MERANCANG RUANG EDUKASI BERFOKUS SEJARAH PERMAINAN INDONESIA Karim, Fernando Janvier; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27456

Abstract

In the face of rapid technological development, children's games have undergone significant transformation, leading to a decline in the physicality of play and the loss of the essence of play as a crucial aspect of child development. This study combines the Montessori approach, emphasizing the importance of play in developing sensory, motor, and social skills, with the concept of empathetic architecture. The focus is on redesigning playgrounds in two different locations: Cluster PIK2 and Kampung Lumpang. Through case studies, observations, and identification of children's needs, we have created design guidelines that integrate Indonesia's play heritage and empathetic architecture principles. The design program includes the redesign of playgrounds, art installations, and mural projects. Considering the needs of children in the local context, such as accessibility and the loss of the essence of street play, this design aims to rebuild physical, sensory, and social engagement through play. Through modularity and adaptation to the context of each location, this research unites the diversity of play spaces while respecting and preserving the history of Indonesian children's games, creating spaces that celebrate joy and the values of play in child development. The ultimate achievement of this design is the realization of a redesigned playground in a holistic and sustainable manner. Children in Kampung Lumpang and Cluster PIK2 can enjoy games that support the development of their sensory, motor, and social skills, while experiencing the joy and pride of Indonesia's play heritage. By involving them in the design process, this design also achieves the accomplishment of a shared sense of ownership within the community, creating strong social bonds and bringing together two potentially separate worlds. Keywords: architecture empathy; montessori approach; play; playground Abstrak Dalam menghadapi era perkembangan teknologi yang pesat, permainan anak-anak mengalami transformasi yang signifikan, mengakibatkan penurunan fisikalitas permainan dan kehilangan esensi permainan sebagai aspek utama perkembangan anak-anak. Studi ini menggabungkan pendekatan Montessori, yang menekankan pentingnya permainan dalam pengembangan sensorik, motorik, dan keterampilan sosial, dengan konsep arsitektur empati. Fokusnya adalah merancang kembali taman bermain di dua lokasi berbeda: Cluster PIK2 dan Kampung Lumpang. Melalui studi kasus, observasi, dan identifikasi kebutuhan anak-anak, kami menciptakan panduan desain yang mengintegrasikan warisan bermain Indonesia dan prinsip-prinsip arsitektur empati. Program desain mencakup redesain taman bermain, instalasi seni, dan proyek mural. Dengan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak dalam konteks lokal, seperti aksesibilitas dan kehilangan esensi bermain di jalanan, desain ini bertujuan untuk membangun kembali keterlibatan fisik, sensorik, dan interaksi sosial melalui permainan. Melalui modularitas dan adaptasi terhadap konteks setiap lokasi, penelitian ini menyatukan keberagaman ruang bermain dengan menghormati dan memelihara sejarah permainan anak-anak Indonesia, menciptakan ruang yang merayakan kegembiraan dan nilai-nilai bermain dalam perkembangan anak-anak. Pencapaian akhir dari desain ini adalah terwujudnya taman bermain yang dirancang ulang secara holistik dan berkesinambungan. Anak-anak di Kampung Lumpang dan Cluster PIK2 dapat menikmati permainan yang mendukung perkembangan sensorik, motorik, dan keterampilan sosial mereka, sambil merasakan kegembiraan dan kebanggaan akan warisan bermain Indonesia. Dengan melibatkan mereka dalam proses perancangan, desain ini juga mencapai pencapaian berupa rasa kepemilikan bersama dari komunitas, menciptakan ikatan sosial yang kuat dan menyatukan dua dunia yang mungkin terpisah.
PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU DALAM DESAIN RUMAH SINGGAH KREATIF ANAK JALANAN Ryandi, Eric Nicholas; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27458

Abstract

The spread of street children in public spaces is still a very common problem faced in Indonesia, which is mainly caused by the increasing level of living welfare that is not matched by balanced employment opportunities. Children who go down to work on the streets are certainly influenced by the surrounding environment which has a high poverty rate so that they are vulnerable to dropping out of school because they have to work by force or self- sacrifice which reduces the interest in developing the academic or non-academic potential of the child. Street children usually have a mental and psychological condition that is still childish plus academic, motor skills, along with immature emotional intelligence due to lack of interaction from peers so that if they live in a bad environment there is a possibility that their thoughts are easily influenced if they are not given education. As part of the future of the nation's development, street children must be given proper living facilities that can provide them with a feeling of security and comfort but not forgetting interactive learning facilities that can equip their skill development so that they can grow into critical and productive individuals. Therefore, the creative boarding house is an alternative to combining residential space and creative learning space for street children used to develop their knowledge, hobbies, and skills according to their abilities. In order for the creative halfway house to be interactive with street children, the application of the applied design must follow the personality and life behavior of street children who prioritize flexibility and a sense of communal ownership Keywords: communal ownership; creative boarding house; flexibility; living environment; street children Abstrak Penyebaran anak jalanan di ruang publik masih menjadi masalah yang sangat umum dihadapi di Indonesia yang utamanya disebabkan oleh semakin meningkatnya taraf kesejahteraan hidup yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang seiimbang. Anak turun yang turun bekerja di jalan tentunya dipengaruhi oleh lingkungan hidup di sekitarnya yang memiliki angka kemiskinan yang tinggi sehingga mereka rentan dengan aksi putus sekolah karena harus bekerja secara paksaan atau pengorbanan diri sendiri yang menurunkan minat untuk mengembangkan potensi akademis ataupun non-akademis yang dimiliki anak tersebut. Anak jalanan biasanya memiliki kondisi mental dan psikis yang masih kekanak-kanakan ditambah lagi kemampuan akademik ,motorik, beserta kecerdasan emosional yang belum matang karena kurangnya interaksi dari teman sebaya sehingga bila ia hidup di lingkungan yang buruk ada besar kemungkinan pemikiran mereka mudah di pengaruhi bila tidak diberi pendidikan. Sebagai bagian dari masa depan pembangunan bangsa anak jalanan harus diberikan fasilitas hidup yang layak yang dapat memberikan mereka perasaan aman dan nyaman namun tidak melupakan fasilitas pembelajaran yang interaktif dapat membekali perkembangan skill mereka agar mereka dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi yang kritis dan produktif. Oleh karena itu, rumah singgah kreatif menjadi salah satu alternatif penggabungan ruang hunian dan ruang aksi pembelajaran kreatif anak jalanan yang digunakan untuk mengembangkan ilmu, hobi, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kemampuan mereka. Agar rumah singgah kreatif bisa mendapat interaktif dengan anak jalanan maka penerapan desain yang diterapkan harus mengikuti kepribadian dan perilaku hidup anak jalanan yang mengedepankan fleksibilitas maupun adanya rasa kepemilikan komunal.
PROGRAM REGENERASI TERHADAP DEGRADASI BUDAYA CINA BENTENG DI KOTA TANGERANG Ronaldo, Ronaldo; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27464

Abstract

Cina Benteng are ethnic Chinese who dominate the Tangerang area. Regeneration activities in improving the quality of cultural elements to deal with the problem of cultural degradation have become the focal point for architectural program development. The problem of cultural degradation from modernization factors increasingly makes the value of a culture less visible and diminished by developments over time. The regeneration program is a development that maintains cultural heritage, traditions, and activities passed down from generation to generation, becoming a combination of programs in one complete space. Program conditions that have been supported by the surrounding social context which has been well acculturated support the program. With the regeneration program, it is hoped that it can become an important reference as a form of returning the memories that form the active interaction patterns of Cina Benteng, in order to maintain traditions passed down from generation to generation. The method of this research uses qualitative methods, through direct observation of existing buildings that have become icons for preserving the Cina Benteng cultural heritage. Analysis from Cina Benteng people in maintaining traditions becomes a reference for selected "regeneration" programs and activities, namely popular, potential, and ritual programs with spatial elements. The results of this research develop the adaptation of the activities of Cina Benteng community into a proposed regeneration program that is felt by users, the "Bakti" program which can be used as a design development, while also fighting cultural degradation. Keywords: activities; cultural; cina benteng; degradation; regeneration Abstrak Cina Benteng merupakan etnis Tionghoa yang mendominasi kawasan Tangerang. Aktivitas regenerasi dalam meningkatkan kualitas elemen budaya untuk menghadapi masalah degradasi budaya, menjadi titik fokus pengembangan program secara arsitektur. Masalah Degradasi budaya dari faktor modernisasi, semakin membuat nilai suatu kebudayaan semakin kurang terlihat dan tergilis oleh perkembangan zaman. Program regenerasi menjadi pengembangan yang menjaga warisan budaya, tradisi, serta aktivitas turun-temurun, menjadi gabungan program dalam suatu ruang yang utuh. Kondisi program yang sudah didukung dari konteks sosial sekitar yang sudah terakulturasi dengan baik, mendukung program. Dengan adanya program regenerasi, diharapkan dapat menjadi acuan penting sebagai bentuk pengembalian memori-memori yang membentuk pola interaksi aktif user Cina Benteng, dalam menjaga tradisi turun-menurun. Metode dari penelitian ini menggunakan metode kualitatif, melalui pengamatan langsung ke eksisting bangunan yang sudah menjadi ikon menjaga warisan kebudayaan Cina Benteng. Analisis dari sudut pandang Cina Benteng dalam menjaga tradisi, menjadi acuan untuk program dan aktivitas “regenerasi” terpilih, yaitu program populer, potensial, dan ritual dengan elemen spasial. Hasil Penelitian ini mengembangkan adaptasi aktivitas masyarakat Cina Benteng menjadi usulan program regenerasi yang dirasakan oleh user, program “Bakti” yang dapat dijadikan pengembangan desain, sekaligus melawan degradasi budaya.
PENERAPAN ELEMEN ARSITEKTUR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP LANSIA PADA RUANG PUBLIK Sariputra, Jefferson; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27465

Abstract

Over time, older people experience physical and cognitive changes, such as: hearing, vision and physical strength impairment, which affect their well-being. Suitable mobile equipment should be considered. Seniors need a quiet space, good sleep, and social interaction. Elderly is synonymous with age and age, if discussed in general terms, life expectancy in Indonesia is quite low compared to other countries. One of the problems that occurs is due to higher levels of air pollution and a lack of implementing a healthy lifestyle. With the hope of improving the quality of life of the elderly and also the life expectancy of the elderly, we will implement several architectural elements that prioritize safety and comfort for the elderly. The problems that occur focus on the welfare of the elderly in Indonesia. The method of this research uses an architectural approach, which uses methods to analyze and design an architectural design object effectively. The results of this research develop the application of architectural elements which can later be applied to the use of building designs for the elderly. Architectural elements will be implemented based on the basic needs of the elderly. Keywords: architectural elements; elderly; life expectancy Abstrak Seiring waktu, orang lanjut usia mengalami perubahan fisik dan kognitif, seperti:  gangguan pendengaran, penglihatan dan kekuatan fisik, yang mempengaruhi kesejahteraan mereka. Peralatan bergerak yang sesuai harus dipertimbangkan. Lansia membutuhkan ruang yang tenang, tidur yang nyenyak, dan interaksi sosial. Lansia identik dengan umur maupun usia, jika dibahas scara umum, angka Usia harapan hidup di Indonesia tergolong cukup rendah dibandingkan negara – negara lain. Salah satu masalah yang terjadi dikarenakan tingkat polusi udara yang lebih tinggi dan kurangnya penerapan pola hidup sehat. Dengan memiliki harapan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dan juga angka usia harapan hidup lansia, akan melakukan penerapan beberapa elemen arsitektur yang mementingkan keamanan serta kenyamanan bagi lansia. Masalah yang terjadi berfokus kepada kesejahteraan lansia di Indonesia. Metode dari penelitian ini menggunakan pendekatan arsitektur, yang dimana penggunaan metode untuk menganalisis dan merancang suatu objek rancangan arsitektur secara efektif. Hasil penelitian ini mengembangkan penerapan elemen arsitektur yang nantinya dapat diterapkan ke dalam penggunaan desain bangunan untuk lansia. Elemen arsitektur nantinya akan diterapkan berdasarkan kebutuhan dasar para lansia.