cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL" : 28 Documents clear
PRESERVASI BUDAYA OTOMOTIF MELALUI MUSEUM SEJARAH DI KEMAYORAN, JAKARTA Putra, Samuel Losan; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33928

Abstract

The Kemayoran area has a unique history and culture. The automotive culture, with its history in Kemayoran, is a hidden aspect that has left a significant impression on automotive enthusiasts in this century, which is gradually being forgotten as interest in automotive activities among the residents of Kemayoran declines. This journal aims to explore how architectural science can be used to preserve and potentially revive automotive culture and interest in Kemayoran. With the understanding of the phrase "Placeless Place," it can be seen that Kemayoran is starting to lose its significance as an ideal area for automotive-themed activities. By employing placemaking methods and examining the history of the Kemayoran area while focusing on the present, a review of how to preserve historical elements through architecture emerges. Through these methods and in-depth studies, iconic points of Kemayoran automotive history and ideal forms of historical preservation were obtained. An architectural design in the form of a historical museum building with complementary facilities in the form of entertainment and commercial, can help maintain and give birth to automotive interests that are starting to fade for residents of the Kemayoran area. The history of Kemayoran automotive culture can be preserved through architecture. Keywords:  automotive culture; history museum; interest; placeless place; preservation Abstrak Wilayah Kemayoran memiliki berbagai sejarah dan budaya yang cukup unik. Budaya otomotif dengan sejarahnya di daerah Kemayoran merupakan sebuah aspek tersembunyi yang cukup berkesan abad ini bagi para penggemar automotif, yang secara perlahan dilupakan dengan berkurangnya minat kegiatan otomotif penduduk Kemayoran. Jurnal ini bertujuan untuk meneliti cara ilmu arsitektur bisa digunakan untuk menjaga dan kemungkinan membangkitkan budaya dan minat otomotif di Kemayoran. Dengan pemahaman kalimat “Placeless Place”, dapat dilihat bahwa Kemayoran mulai kehilangan makna sebagai kawasan ideal untuk kegiatan bertema otomotif. Dengan metode placemaking, melihat sejarah kawasan Kemayoran dan memfokuskan pada masa sekarang, maka muncul sebuah ulasan cara preservasi bagian sejarah melalui arsitektur. Melalui metode dan pendalaman tersebut, dipetik poin-poin ikonis sejarah otomotif kemayoran dan bentuk preservasi sejarah yang ideal. Sebuah perancangan arsitektur berupa bangunan fungsi museum sejarah dengan fasilitas pelengkap berupa hiburan dan komersil, bisa membantu menjaga dan melahirkan minat otomotif yang mulai pudar bagi para penduduk wilayah Kemayoran. Sejarah budaya otomotif Kemayoran dapat dipreservasi melalui arsitektur.
PERANCANGAN ESCAPE HEALING PADA GEDUNG NITOUR DI KAWASAN HARMONI SEBAGAI THIRD PLACE DENGAN PENDEKATAN INFILL Theana, Biancha; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33930

Abstract

One of the icons in the Harmoni area of Central Jakarta is the Nitour Building, which was originally known as the Oger Freres Building in 1810. It served as a tailor shop for glamorous Dutch women's attire before parties at the Societeit De Harmonie building. The strength of Harmoni’s sense of place at that time lay in its role as the center of social and cultural activity in Batavia. The name "Nitour" derived from Netherlands-Indische Touristen Bureau (Dutch Travel Agency), in 1926, and recognized as the first travel agency in Indonesia. Over time, the Nitour Building has declining in  function and significance, as well disconnection from its surrounding environment. While maintaining its remaining colonial architectural character and historical value, the Nitour Building is now being proposed as a Cultural Heritage Building. Changes in the functions of buildings around the Harmoni area have led to a loss of the district’s identity. Based on these findings, a redesign proposal for the Nitour Building is needed, incorporating the concept of a Third Place and Infill Building as a way to restore meaning and identity to the building and its surroundings. The new design of the Nitour Building aims to become a comfortable place for leisure, blending the Third Place concept while preserving the original structure and adding new spaces for workshops. The goal is to revitalize the Harmoni area and position the Nitour Building as a hub for social activity. Keywords:  architecture third place; harmoni area; nitour building; placelessness Abstrak Salah satu ikon di kawasan Harmoni Jakarta Pusat adalah Gedung Nitour yang pada tahun 1810 bernama Gedung Oger Freres sebagai tempat menjahit busana glamor perempuan Belanda sebelum pesta di Gedung Societeit De Harmonie.  Kekuatan place kawasan Harmoni saat itu yaitu menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya di Batavia. Nama Nitour diambil dari NetherlandsIndische Touristen Bureau (agen perjalanan Belanda) yang berdiri sejak tahun 1926 dan menjadi agen travel pertama di Indonesia. Dalam perkembangannya, Gedung Nitour mengalami  penurunan fungsi dan peranan serta mengalami diskoneksi dengan lingkungannya. Dengan mempertahankan karakteristik arsitektur kolonial yang masih ada dan nilai sejarah yang dimilikinya, gedung Nitour kini sedang diusulkan untuk dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Perubahan fungsi bangunan di sekitar kawasan Harmoni telah mengakibatkan hilangnya identitas kawasan tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, maka diperlukan usulan perancangan ulang Gedung Nitour dengan konsep Third place dan Infill Building sebagai upaya untuk mengembalikan makna dan identitas pada gedung serta kawasannya. Desain baru Gedung Nitour akan menjadi tempat bersantai yang nyaman, menggabungkan konsep Third Place dan mempertahankan bangunan asli dengan penambahan ruang baru untuk workshop. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali kawasan Harmoni dan menjadikan Gedung Nitour sebagai pusat kegiatan sosial.
OPTIMALISASI DESAIN PERGUDANGAN BERBASIS ROBOTIK DI SUNDA KELAPA UNTUK MENDUKUNG DISTRIBUSI BARANG PADA WILAYAH PELABUHAN Agifta, Devana; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33931

Abstract

Sunda Kelapa Port is the heart of economic activity and many porters and other workers contribute to the logistics process and distribution of goods. From the time of the Tarumanegara Kingdom to the Dutch East Indies, the port of Sunda Kalapa was very active in the spice trade in the country. Many ships from Palembang, Tanjungpura, Malacca, Makassar, and Madura, and traders from India, South China, and Ryukyu (Japan) visited this port. Pepper, nutmeg, rice, and gold were exported from this port. However, since the construction of the Priok Port, the Sunda Kelapa Port has become quiet and the Port's identity as a transporter of spices has been replaced by transporting raw materials, sand, and groceries. As times change, trading activities have become completely digital and online, and now around the Port of Sunda Kelapa, many local expeditions accept goods delivery services with less organized warehousing conditions. Therefore, this project is aimed at accommodating more warehousing and rental office areas. Organized and efficient with several other programs, by providing a rental office area it is hoped that it can help the needs of existing warehouses, by implementing a robotic system in the warehousing area can be an attraction for people to visit and use local expeditions in Sunda Kelapa Currently using the concept of adaptive architecture in design, this research uses qualitative and quantitative methods. Keywords:  expedition; warehouse; logistic; online; robotic Abstrak Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan jantung aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pekerja kuli panggul dan pekerja lainnya yang berkontribusi pada proses logistik dan distribusi barang. Sejak masa Kerajaan Tarumanegara hingga Hindia Belanda, pelabuhan Sunda Kelapa sangat aktif dalam perdagangan rempah-rempah di Tanah Air. Banyak kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar dan Madura, serta pedagang dari India, Cina Selatan dan Ryukyu (Jepang) mengunjungi pelabuhan ini. Lada, pala, beras, dan emas diekspor dari pelabuhan ini. Namun sejak dibangunnya Pelabuhan Priok, Pelabuhan sunda kelapa menjadi sepi dan identitas Pelabuhan sebagai pengangkutan rempah-rempah tergantikan dengan pengangkutan bahan baku, pasir, dan kelontong. Seiring berubahnya zaman, kegiatan perdagangan berubah menjadi serba digital dan daring, dan kini di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa banyak ekspedisi lokal yang menerima jasa pengiriman barang dengan kondisi pergudangan yang kurang tertata, Oleh karena itu proyek ini ditujukan untuk mewadahi area pergudangan dan perkantoran sewa yang lebih tertata dan efisien dengan beberapa program lain, dengan diadakan area kantor sewa diharapkan bisa membantu kebutuhan pergudangan-pergudangan yang ada, dengan diterapkannya sistem robotik pada area pergudangan bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung dan menggunakan ekspedisi lokal di Sunda Kelapa saat ini dengan menggunakan konsep arsitektur adaptif pada desain, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
PUSAT HIBURAN, EDUKASI DAN TEATER SEBAGAI RUANG INTERAKSI SOSIAL DI KAWASAN MANGGA BESAR Tuju, Gilbertus Davy Ryan; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33932

Abstract

Since the Dutch era, Mangga Besar has been the center of entertainment destinations. There was once a park called Prinsen Park. This place became part of the history of theater and film, until it gave birth to the artist village "Tangkiwood". Now the place is gone and few people know about it. Prinsen Park began to be quiet since the era of analog television development. The surrounding environment was not organized and illegal settlements grew. Through rejuvenation, Prinsen Park was rebuilt into the Lokasari People's Entertainment Park (THR Lokasari). Now many shophouses are deserted and no longer operating. Until now, the place is also known negatively as a place of night entertainment for adults. The Mangga Besar Theater with a site location within the Lokasari area will create a positive and useful social interaction space by instilling memories of Prinsen Park through descriptive qualitative research methods. Education about theater arts and its history in Mangga Besar is carried out through schools around the area which are invited in turns to take part in training activities and presenting theater arts on stage. The target user visitors come from tourists to Mangga Besar and also the people of Jakarta who are assisted by adequate transportation such as trains. There is also a museum program and Prinsen Park History gallery, an art house with a recording studio and art workshops. Keywords:  education; entertainment; history; interaction; Lokasari Abstrak Sejak era Belanda, Mangga besar sudah menjadi pusat destinasi hiburan. Pernah terdapat sebuah taman dengan nama Prinsen Park. Tempat ini menjadi bagian dari sejarah teater dan perfilman, hingga melahirkan kampung artis “Tangkiwood”. Kini tempat itu sudah tidak ada dan sedikit yang mengetahuinya.  Prinsen Park mulai sepi semejak era perkembangan televisi analog. Lingkungan sekitarnya pun tidak tertata dan tumbuh pemukiman liar. Melalui peremajaan Prinsen Park diratakan dan dibangun kembali menjadi Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). Kini banyak ditemukan ruko sepi dan juga tidak beroperasi lagi.  Hingga saat ini tempat tersebut juga dikenal negatif sebagai tempat hiburan malam orang-orang dewasa. Teater Mangga Besar dengan lokasi tapak yang berada di lingkup kawasan Lokasari akan menciptakan ruang interaksi sosial yang positif dan bermanfaat dengan menanamkan memori Prinsen Park melalui metode penelitian kualitatif deskriptif. Edukasi mengenai seni teater dan sejarahnya di Mangga Besar dilakukan melalui sekolah-sekolah di sekitar kawasan yang diajak secara bergilir untuk ikut andil dalam aktivitas pelatihan dan menampilkan seni teater diatas panggung. Target user pengunjung berasal dari wisatawan Mangga Besar dan juga masyarakat Jakarta yang dibantu oleh transportasi yang memumpuni seperti Kereta. Terdapat juga program museum dan galeri Sejarah Prinsen Park, rumah seni dengan studio rekaman dan workshop seni.
MENGHIDUPKAN WISMA DELIMA DENGAN MEMADUKAN KONSEP CO-WORKING DAN CAPSULE HOTEL DI JALAN JAKSA Zhafirah, Althaf; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33933

Abstract

Jalan Jaksa is one of the iconic areas in Jakarta, known as an international tourist destination for backpackers. Since the 1960s, this area has been a popular choice for budget-conscious travelers, thanks to its strategic location and affordable accommodation prices. One of the iconic accommodations in the area is Wisma Delima, which has been operating for several decades, offering simple yet comfortable lodging for tourists. However, with shifting tourist interests and the emergence of new competition, the popularity of Wisma Delima and similar accommodations has begun to decline. This research aims to explore the factors behind the decline in Wisma Delima's popularity and the historical development of Jalan Jaksa as a backpacker tourism hub. Additionally, this study focuses on transforming Wisma Delima into more than just a capsule hotel by integrating a co-working space that supports flexible work trends, as well as creating a restaurant and bar to cater to the nighttime tourism scene. Through a re-design approach, it is hoped that Wisma Delima can attract more visitors, including both tourists and office workers, and contribute to the local economic growth of the Jalan Jaksa area. Keywords: capsule hotel; co-working space; redesign; wisma delima Abstrak Jalan Jaksa merupakan salah satu kawasan ikonik di Jakarta yang dikenal sebagai tujuan wisata internasional bagi para backpacker. Sejak tahun 1960-an, kawasan ini telah menjadi pilihan utama bagi wisatawan dengan anggaran terbatas, berkat lokasi yang strategis dan harga penginapan yang terjangkau. Salah satu penginapan ikonik di kawasan ini adalah Wisma Delima, yang beroperasi selama beberapa dekade dan menawarkan akomodasi sederhana yang nyaman bagi wisatawan. Namun, dengan adanya pergeseran minat wisatawan dan munculnya kompetisi baru, popularitas Wisma Delima serta penginapan serupa mulai menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor penyebab penurunan popularitas Wisma Delima dan sejarah perkembangan Jalan Jaksa sebagai pusat wisata backpacker. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada pengembangan Wisma Delima menjadi lebih dari sekadar kapsul hotel dengan mengintegrasikan co-working space yang mendukung tren kerja fleksibel, serta menciptakan restoran dan bar untuk mendukung wisata malam. Dengan pendekatan re-desain, diharapkan Wisma Delima dapat menarik lebih banyak pengunjung, termasuk wisatawan dan pekerja kantoran, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal di kawasan Jalan Jaksa.
PERANCANGAN KEMBALI PADA MAL PLAZA SEMANGGI DENGAN PENDEKATAN RE-ARCHITECTURE GUNA PEREMAJAAN FUNGSI Limima, Rafael; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33934

Abstract

A mall is a place where people can fulfill their needs, from clothing, food, to a daily needs. Moreover, Jakarta is the city with the largest number of malls in Indonesia. As time goes by, the habit of going to the mall has become a culture so it is not surprising that we see new malls always come up. Plaza Semanggi is a shopping center that began operating in 2004. When we compared to surrounding malls, Plaza Semanggi is a mall that targeting the lower middle class and sells many local products. As time went by, Plaza Semanggi increasing until finally it continued to decline and reached its lowest point in the 2019-2024 range. Many factors caused Plaza Semanggi to die. Meanwhile, the surrounding malls have survived and survived to this day, starting from their lack of competition with other malls around them to developer management problems rather than Plaza Semanggi itself. This research aims to restore and revive the shopping center which is right next to the Semanggi interchange by rejuvenating functions that had previously been abandoned into new functions that previously did not exist in the Semanggi Plaza. The Semanggi Plaza area is a very strategic area and is located in the center of Jakarta, filled with offices, business areas and residential areas so it has the potential to become a magnet for the surrounding area. Keywords: decline; rejuvenation; strategic Abstrak Mal merupakan sebuah tempat di mana orang-orang dapat memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari sandang, pangan, hingga kebutuhan papan. Terlebih Jakarta menempati kota dengan jumlah mal terbanyak di Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan pergi ke mal ini sudah membudaya sehingga tidak heran jika kita melihat selalu ada mal baru yang bermunculan. Plaza Semanggi adalah pusat perbelanjaan yang mulai beroperasi di tahun 2004 silam. Jika dibandingkan dengan mal di sekitarnya, Plaza Semanggi adalah mal dengan kelas sasaran menengah ke bawah dan banyak menjual produk-produk lokal. Seiring waktu berjalan Plaza Semanggi mengalami kenaikan sampai akhirnya terus menurun dan sampai di titik terendahnya di rentang tahun 2019-2024. Banyak faktor yang menyebabkan Plaza Semanggi menjadi mati. Sedangkan mal di sekitarnya bisa tetap hidup dan bertahan sampai saat ini, mulai dari kalah bersaingnya dengan mal lain di sekitarnya hingga permasalahan manajemen pengembang daripada Plaza Semanggi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembalikan dan menghidupkan kembali pusat perbelanjaan yang berada tepat di samping simpang susun Semanggi dengan cara melakukan peremajaan fungsi yang sebelumnya sudah ditinggalkan menjadi fungsi baru yang sebelumnya belum ada di Plaza Semanggi tersebut. Area Plaza Semanggi ini adalah area yang sangat strategis dan berada di pusat kota Jakarta, dipenuhi perkantoran, area bisnis, dan pemukiman sehingga sangat berpotensi untuk menjadi magnet bagi area di sekelilingnya.
PENERAPAN LITERASI ADAPTIF DALAM ARSITEKTUR KWITANG EDUKASI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Reynold, Theophilus; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33936

Abstract

Literacy in general is the ability to read and write, and when talking about literacy, it is closely related to books. Books are the windows to the world. That proverb, when applied to the current situation, seems less relevant, considering that books are no longer the only source of literacy used to gain knowledge. Speaking of literacy and books, Kwitang and its surroundings are areas rich in literacy, especially in the form of books. In the 1980s, Kwitang area began to be known as a book-selling district, but the passage of time and technological advancements led to a decline in visitors to Kwitang. Gradually, Kwitang is losing its sense of place as a literacy area. The cause is that physical books, which have been used for literacy and as centers of knowledge for centuries, are slowly being forgotten because interest in literacy through physical books is declining. This research aims to explore how the application of adaptive literacy in the educational architecture of Kwitang can be approached contextually. Adaptive literacy is intended to explore the ability of individuals and communities to access and apply literacy in accordance with the times. The contextual approach is expected to create educational spaces that are not only functional but also responsive to the evolving identity of the community and the changes related to literacy that occur. The desired outcome is the design of a library space and a space that accommodates innovations in literacy media in the form of an export literacy room. The library space that will be designed will continue to preserve books while also accommodating literacy in digital form. Keywords: adaptive; contextual; educational; literacy Abstrak Literasi secara umum merupakan kemampuan untuk dapat menulis dan membaca, ketika berbicara tentang literasi hal ini berkaitan erat dengan buku. Buku merupakan jendela dunia. Pepatah tersebut jika diterapkan pada kondisi sekarang ini nampaknya kurang relevan, mengingat buku pada kondisi sekarang bukan satu-satunya sumber literasi yang digunakan untuk menambah ilmu. Berbicara mengenai literasi maupun buku, Kelurahan Kwitang dan sekitar merupakan kawasan yang kental dengan literasi terutama dalam bentuk buku. Pada tahun 1980-an kawasan Kwitang mulai dikenal sebagai kawasan penjualan buku, tetapi perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat Kwitang mengalami penurunan pengunjung. Secara perlahan Kwitang kehilangan sense of place sebagai kawasan literasi. Penyebabnya adalah buku fisik yang selama berabad-abad dijadikan sebagai bahan literasi dan juga pusat pengetahuan secara perlahan-lahan mulai terlupakan dikarenakan peminat literasi dengan media buku fisik mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan literasi yang bersifat adaptif dalam arsitektur Kwitang edukasi melalui pendekatan kontekstual. Literasi adaptif yang dimaksud untuk menggali kemampuan individu maupun komunitas untuk dapat mengakses dan mengaplikasikan literasi sesuai dengan perkembangan zaman. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat menciptakan ruang edukasi bukan hanya fungsional tetapi juga merespons identitas masyarakat yang berkembang serta perubahan terkait literasi yang terjadi. Hasil yang ingin dicapai yaitu sebuah perancangan ruang perpustakaan dan juga ruang yang mengakomodasi inovasi dalam media literasi berupa ruang literasi export. Ruang perpustakaan yang dirancang nantinya tetap melestarikan buku selain itu juga mengakomodasi literasi dalam bentuk digital.
PENERAPAN KONSEP RUANG FLEKSIBEL DALAM BANGUNAN TINGGI PADA PUSAT KOMUNITAS DI GONDANGDIA Daniel, Daniel; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33937

Abstract

Boplo Market, also known as Gondangdia Market, was built in the 1920s by N.V. de Bouwploeg in the Nieuw-Gondangdia-Menteng area. The name "Boplo" is a local adaptation of "Bouwploeg," meaning "building group." Reconstructed in 2014 after a fire, the market held significant value for residents during the 1960s-1980s. However, rapid globalization and the shift from conventional to digital transactions have caused a decline in buyers and sellers, revealing the need for architecture to adapt to changing demands. This study seeks to redesign Boplo Market, focusing on creating a flexible structure that can accommodate evolving functions. Applying the regenerative approach introduced by Pamela Mang and Bill Reed, the redesign emphasizes revitalizing the natural environment and strengthening the surrounding community. The regenerative concept ensures the building's capacity for continuous renewal, making it future-proof and relevant over time. The design transforms what was once a placeless space—devoid of unique local identity—into an adaptive, contextually harmonious environment that responds to local needs and characteristics. Through a balance of tradition and innovation, the proposed redesign positions the market as a resilient space capable of withstanding the challenges of globalization while fostering a strong connection to its cultural and social context. This approach ensures that the market remains a vital, functional part of the community for years to come. Keywords:  boplo; community; flexible; placeless; regenerative Abstrak Pasar Boplo atau yang dikenal sebagai pasar Gondangdia, merupakan pasar yang dibangun pada tahun 1920-an, oleh N.V de Bouwploeg dan berada di kawasan Nieuw-Gondangdia-Menteng. N.V. Bouwploeg merupakan sebuah biro arsitektur yang bertujuan menata kawasan tersebut menjadi kota taman, dan nama Boplo merupakan pelafalan yang lebih lokal dari kata Bouwploeg oleh warga lokal, yang memiliki arti sebagai ‘kelompok membangun’. Pasar yang pernah mengalami pembangunan ulang pada tahun 2014 akibat kebakaran ini mempunyai arti penting bagi warga lokal pada tahun 1960-1980. Akibat dari globalisasi yang begitu cepat, perubahan kebutuhan dan proses jual-beli barang dan jasa antar manusia dari pembayaran konvensional menjadi pembayaran digital, Pasar Boplo kini mengalami penurunan jumlah pembeli dan penjual. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur perlu fleksibilitas dalam ruangnya, fleksibilitas yang dapat memfasilitasi perubahan fungsi yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang kembali bangunan Pasar Boplo, sehingga dapat lebih fleksibel terhadap perubahan fungsi di masa depan. Pendekatan regeneratif, seperti yang dikemukakan oleh Pamela Mang dan Bill Reed, diterapkan dengan tujuan untuk merevitalisasi lingkungan alam dan komunitas di sekitarnya. Konsep ini memungkinkan bangunan untuk terus-menerus memperbarui dirinya seiring waktu. Dalam pengembangan narasi arsitektur, konsep regeneratif diterapkan pada ruang yang awalnya tidak memiliki identitas lokal (placeless), sehingga mampu menciptakan ruang yang adaptif dan selaras dengan kebutuhan serta karakteristik lokal. Bangunan ini dirancang agar tetap relevan dan bertahan menghadapi tantangan globalisasi.
REVITALISASI GEDUNG MATAHARI DEPARTMENT STORE DIKAWASAN PASAR BARU: ARSITEKTUR INTERAKTIF UNTUK KOMUNITAS DAN BISNIS Carent Chia, Christ; Gandha, Maria Veronicha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33938

Abstract

The phenomenon of "placeless place" in Jakarta's Pasar Baru area, particularly in the Matahari Department Store building, reflects the degradation of spatial function caused by modernization, globalization, and the COVID-19 pandemic. Once an iconic commercial landmark, this building has lost its appeal and requires revitalization through the concept of interactive architecture. This study aims to redesign the building as a community and business hub that fosters social interaction and cultural preservation. The literature review focuses on the concepts of placelessness, revitalization of historic areas, and interactive architecture, which provides solutions through kinetic and digital designs to enhance spatial experience. The research methods include field observation, interviews, and activity mapping analysis to understand existing conditions and user needs. The findings reveal that the application of interactive architecture in mass formation can create spaces that integrate commercial, social, and cultural activities. Design elements such as kinetic facades, circular circulation, and multifunctional open spaces are implemented to support spatial functions. The spatial programs include retail zones, interactive workshops, co-working spaces, and collaborative art areas, all interconnected. This design allows the community to actively participate in space activities, revitalizing the social and economic functions of the area.The revitalization of the Matahari Department Store is expected to act as a catalyst for the resurgence of Pasar Baru as a dynamic urban destination, engaging communities, visitors, and businesses in creating sustainable and meaningful spaces. Keywords: community design; interactive architecture; Pasar Baru; placeless place; revitalization Abstrak Fenomena "placeless place" di kawasan Pasar Baru, Jakarta, terutama pada Gedung Matahari Department Store, mencerminkan degradasi fungsi ruang akibat modernisasi, globalisasi, dan pandemi COVID-19. Gedung ini, yang sebelumnya menjadi ikon komersial kini kehilangan daya tariknya, sehingga memerlukan penanganan berbasis konsep arsitektur interaktif agar dapat menciptakan daya tarik baru untuk menarik minat pengunjung. Penelitian ini bertujuan merancang gedung tersebut sebagai pusat komunitas dan bisnis yang mendukung interaksi sosial serta pelestarian budaya. Kajian literatur berfokus pada konsep placelessness, revitalisasi kawasan bersejarah, dan arsitektur interaktif, yang menawarkan solusi melalui desain kinetik dan digital untuk meningkatkan pengalaman ruang. Metode penelitian melibatkan observasi lapangan, wawancara, dan analisis peta aktivitas kawasan, yang digunakan untuk memahami kondisi eksisting dan kebutuhan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan upaya revitalisasi bangunan dan kawasan. Melalui arsitektur interaktif pada desain dapat menciptakan ruang yang menghubungkan aktivitas komersial, sosial, dan budaya. Elemen desain seperti fasad kinetik, sirkulasi melingkar, dan ruang terbuka multifungsi diterapkan untuk mendukung fungsi ruang. Program ruang mencakup zona retail, workshop interaktif, co-working space, dan area seni kolaboratif yang saling terintegrasi. Desain ini memungkinkan masyarakat menjadi bagian aktif dari aktivitas ruang, sehingga mampu menghidupkan kembali fungsi sosial dan ekonomi kawasan. Revitalisasi Gedung Matahari diharapkan menjadi katalisator bagi kebangkitan Pasar Baru sebagai destinasi urban yang dinamis, melibatkan komunitas, pengunjung, dan bisnis dalam menciptakan ruang yang berkelanjutan dan bermakna.
TRANSFORMASI GRAND THEATER SENEN: PENDEKATAN DESAIN FLEKSIBEL ADAPTIF DALAM MENCIPTAKAN RUANG MULTIFUNGSI Gratiano, Giuseppe; Gandha, Maria Veronicha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33939

Abstract

The development of technology and time has pushed many things to be better, but there are also some things that must be left behind. This forms the phenomenon of the abandonment of old buildings because they have fallen behind the times and have begun to be forgotten, one of which is the Grand Theater Senen. The issue began with the emergence of more modern cinema business competitors, coupled with the absence of maintenance and renewal of the building so that this building was widely used by the community for negative activities such as pickpocketing, the spread of narcotics, and prostitution. Until finally this building experienced functional degradation and lost its identity. In essence, Grand Theater Senen has a strategic location, located in the middle of the intersection of five very busy main roads. Coupled with the proximity of the site to the Transjakarta bus stop and Senen Station. With the high activity of the area that is classified as high raises the problem of abandoned buildings in the middle of the Senen Market Area, its proximity to the untidy market makes the image of the Senen Market Area dirty and shabby. From the problems that arise, space is needed that can be used by the community by feeling ownership of the building and can be adjusted to the needs of visitor activities. The research step was carried out by conducting a study related to the Grand Theater Senen building within the last five years, then continued with direct observation for mapping related to potential points around the site, and continued with the design of the building program, the program includes community space, culinary, offices, museums and galleries.  The application of the flexibility concept aims to provide space to visitors that can be adjusted to the needs of activities for the sustainability of the building. Keywords: degradation; flexibility; history of Grand Theatre Senen Abstrak Perkembangan teknologi dan zaman telah mendorong banyak hal menjadi lebih baik, namun ada beberapa hal juga yang harus tertinggal. Hal ini membentuk fenomena tertinggalnya bangunan tua karena sudah tertinggal zaman dan sudah mulai dilupakan, salah satunya adalah Grand Theater Senen. Isunya dimulai dengan munculnya pesaing bisnis bioskop yang lebih modern, ditambah dengan tidak adanya perawatan maupun pembaruan pada bangunannya sehingga bangunan ini banyak digunakan masyarakat untuk aktivitas negatif seperti pencopetan, penyebaran narkotika, dan prostitusi. Hingga akhirnya bangunan ini mengalami degradasi fungsi dan kehilangan identitasnya. Pada hakikatnya Grand Theater Senen memiliki lokasi yang strategis, letaknya berada di tengah persimpangan lima jalanan utama yang sangat ramai. Ditambah lagi dengan dekatnya tapak dengan halte Transjakarta dan Stasiun Senen. Dengan ramainya aktivitas kawasan yang tergolong tinggi memunculkan masalah adanya bangunan terbengkalai di tengah kawasan Pasar Senen, kedekatannya dengan tidak rapinya pasar membuat citra kawasan Pasar Senen menjadi kotor dan kumuh. Dari permasalahan yang muncul dibutuhkan ruang yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan merasakan kepemilikan terhadap bangunan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas pengunjungnya. Langkah penelitian dilakukan dengan melakukan kajian terkait bangunan Grand Theater Senen dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kemudian dilanjutkan dengan observasi secara langsung untuk mapping terkait titik potensi yang ada di sekitar tapak, dan dilanjutkan dengan perancangan program bangunan, program tersebut meliputi community space, kuliner, perkantoran, museum dan galeri. Penerapan konsep fleksibilitas bertujuan untuk memberikan ruang kepada pengunjung yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas untuk keberlanjutan bangunan.

Page 2 of 3 | Total Record : 28