cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT REHABILITASI KAUM MILENIAL DEPRESI DI JAGAKARSA Aghnia Lovita; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4458

Abstract

Millenials are this generation’s young adults who are very vulnerable to an anxiety and depression, which if this disorder no immediately treated, it would impact to psychiatric disorders (schizophrenia and even suicide). However, many mild – depressed people doesn’t want to seek treatment immediately because lack of knowledge about depression so there’s negative stigma. There are many assumptions where depression is considered “crazy” so which then that patients don’t seek any help, close themselves, and deny. In fact, a few mental hospital in Indonesia doesn’t even meet the proper standards to be called a recovery center. But, seeing from the side of psychology, environment factor has a huge role in recovery process. Therefore, there is a need for a vessel of support for those people who need help on mental health and realizing a comfortable environment for those who are recovering. And improving the perspective of people on the negative stigma about mental disorder and supporting the realization of a strong, comfortable social relation between people and depression sufferers. By using healing environment method, Sanctuary for Depression aims to respond toward all problems which patients acquire a various of health facilities which are needed accordingly and a broader knowledge about  depression, so that the negative stigma which has been planted for a long time could be corrected. Abstrak Milenial merupakan generasi yang sangat rentan terkena gangguan kecemasan dan depresi dimana bila tidak segera ditangani akan berdampak serius (skizofrenia hingga bunuh diri). Tetapi, banyak penderita depresi ringan atau sedang yang tidak mau langsung berobat dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap depresi sehingga munculnya stigma negatif. Banyaknya asumsi dimana depresi dianggap “gila” sehingga penderita tidak mencari pertolongan, menutup diri, dan menyangkal. Bersamaan dengan itu juga, kurangnya fasilitas dan perhatian serius terhadap masalah  kesehatan mental (depresi) yang ada di Indonesia. Beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia bahkan tidak layak untuk digunakan sebagai tempat pemulihan. Sedangkan dilihat dari sisi psikologis, faktor lingkungan memiliki peran besar dalam proses penyembuhan. Maka dari itu, dibutuhkannya wadah yang memberikan support kepada masyarakat akan kesehatan mentalnya dan mewujudkan lingkungan yang nyaman untuk penderita gangguan mental dalam berobat. Serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperbaiki stigma terhadap gangguan mental sehingga mendukung terjadinya ikatan sosial yang kuat dan nyaman antara masyarakat dan penderita depresi. Dengan menggunakan metode healing environment, maka Pusat Rehabilitasi Kaum Depresi bertujuan untuk menyikapi semua masalah tersebut dimana pasien mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan yang sesuai dibutuhkan dan pengenalan lebih luas mengenai depresi kepada masyarakat sehingga memperbaiki stigma yang sudah tertanam sejak lama.
RENCANA PENATAAN KAMPUNG NELAYAN KAMAL MUARA SEBAGAI KAMPUNG WISATA (OBJEK STUDI: KAMPUNG NELAYAN, KELURAHAN KAMAL MUARA, JAKARTA UTARA) Irma Dela Larasita; Parino Rahardjo; Bambang Deliyanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8873

Abstract

North Jakarta has potential for maritime tourism and ports because of its place on the coastal area. Like Kamal Muara Fishing Village in Penjaringan Subdistrict, North Jakarta is a slum area and densely populated. To change the impression that slum area, Kamal Muara changes the village’s physicality of painting the village into the colors. This village is starting point for crossing into the Pulau Seribu and is famous for markets and fish auctions. Because of this fish market, the conditions around the port are smelly and dirty. Tourists who want to visit become reluctant to come because of these conditions and often get lost to the Angke Pier. Poor access conditions and frequent traffic jams, because the Kapuk Kamal road has a small right of way 9 meters and is located in an industrial environment. The purpose of this fisherman village management plan is to propose a planning for a fishing village as a tourism village that can be sustainable in accordance with the tourism component and provide a list of activities that can improve the quality of life, economy and environment as a tourist village. The method used is descriptive, benchmarking and perception. Therefore, the planning of Kamal Muara fishing village planning is needed for community participation, because sustainable tourism is not only a physical damage to the environment, but also includes social and cultural as well as economic development, so that the quality of life and income of the community can increase. It takes the government and other institutions to help build a tourist village. Formation of community organizations in creating human resources for the development and management of tourist villages. Keywords:  fishing village; Kamal Muara, participation; sustainable tourism AbstrakJakarta Utara memiliki potensi wisata bahari dan pelabuhan karena letaknya yang berada di pesisir. Seperti Kampung Nelayan Kamal Muara yang berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk, untuk menghilangkan kesan kumuh kampung nelayan merubah fisik kampung dengan mengecat kampung menjadi warna-warni. Kampung ini merupakan titik start penyebrangan ke Pulau Seribu dan terkenal dengan pasar serta pelelangan ikannya. Karena pasar ikan inilah kondisi sekitar pelabuhan menjadi bau dan kotor. Wisataan yang ingin berkunjung  menjadi segan untuk datang karena kondisi tersebut dan sering tersesat ke Dermaga Angke. Kondisi akses yang kurang baik dan sering terjadi kepadatan lalu lintas, karena  jalan Kapuk Kamal memiliki ROW yang kecil yaitu 9 meter dan berada dilingkungan industri. Tujuan rencana penataan kampung nelayan ini untuk memberikan usulan perencanaan kampung nelayan sebagai kampung wisata yang dapat berkelanjutan yang sesuai dengan komponen pariwisata dan memberikan usulan kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup, perekonomian serta lingkungan sebagai kampung wisata. Metode yang digunakan secara deskriptif, benchmarking dan persepsi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kampung Nelayan Kamal Muara memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan dengan menggunakan konsep pariwisata yang berkelanjutan dan wisata berbasis community based development. Oleh karena itu, rencana usulan penataan Kampung Nelayan Kamal Muara dibutuhkan partisipasi masyaraka, karena pariwisata berkelanjutan tidak hanya menyangkut fisik lingkungan, tetapi juga menyertakan sosial dan budaya serta pembangunan perekonomian, sehingga kualitas hidup dan pendapatan masyarakat dapat meningka. Dibutuhkan pemerintah dan lembaga lainnya dapat membantu pembangunan kampung wisata. Pembentukan organisasi masyarkat dalam menciptakan sumber daya manusia untuk pembangunan serta pengelolaan kampung wisata.
RUANG INTERAKTIF BEBAS STRES Arif Suhardi Lambong; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6836

Abstract

In this time every person competes to get what is expected both in terms of material and non material, which is where most are obtained in the process of working, so that in addition to spending a lot of time at home, also spending a lot of time mostly at work, in other words the community only spends most of their time either to do activities and interact in both of these places, which has become a daily routine. With this condition, the majority of urban communities, especially the city of Jakarta, have less free time for vacations and socializing outside working hours, so this condition is one of the causes of mental health disorders in urban communities. The problem of mental health disorders in the form of stress is closely related to the community. urban, in addition to the high intensity of working in urban communities that can cause stress, as for urban problems that can trigger it ranging from family problems to congestion.In this condition, this is the task of an architect who can provide an activity room for the community by providing a third space as a solution in the form of healing of people with stress disorders, with the third space presented in the form of a building design with programs or facilities that are appropriate and appropriate to the problem stress by creating a stress relieve interactive space.    AbstrakDi masa sekarang ini setiap orang berlomba lomba untuk mendapatkan apa yang diharapkan baik dari segi materil maupun non materil, yang di mana sebagian besar didapatkan dalam proses bekerja, sehingga selain menghabiskan banyak waktu di tempat tinggal, juga banyak menghabiskan waktu sebagian besar pada tempat kerja, dengan kata lain masyarakat tersebut hanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka baik untuk beraktivitas dan berinteraksi dikedua tempat tersebut, yang dimana ini sudah menjadi rutinitas yang dijalani sehari hari. Dengan adanya kondisi tersebut membuat sebagian besar masyarakat perkotaan khususnya kota Jakarta kurang memiliki waktu luang untuk berlibur dan bersosialisasi di luar jam kerja, sehingga kondisi ini menjadi salah satu penyebab munculnya gangguan kesehatan mental pada masyarakat perkotaan, masalah gangguan kesehatan mental berupa stres ini erat kaitannya dengan masyarakat perkotaan, selain karena tingginya intensitas bekerja masyarakat perkotaan yang dapat menyebabkan munculnya stres, adapun masalah-masalah perkotaan yang dapat memicu hal tersebut mulai dari masalah keluarga hingga kemacetan. Dalam kondisi ini disinilah tugas seorang arsitek yang dimana dapat memberikan ruang aktivitas untuk masyarakat dengan memberikan ruang ketiga sebagai solusi berupa penyembuhan terhadap masyarakat dengan gangguan stres, dengan itu ruang ketiga yang dihadirkan  dalam berupa desain sebuah bangunan dengan program atau fasilitas yang sesuai dan tepat terhadap masalah stres tersebut dengan menciptakan sebuah ruang interaktif bebas stres. 
FASILITAS REKREASI OLAHRAGA BERODA DI GROGOL PERTAMBURAN Daniel Simadiputra; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4016

Abstract

Jakarta menjadi salah satu kota besar yang memiliki tingkat perekonomian yang cukup tinggi. Jakarta memiliki berbagai permasalahan metropolis, baik dari segi komersial dan juga dari sektor kependudukan. Kepadatan penduduk yang ada di Jakarta membuat masyarakat yang ada semakin kehabisan lahan karena lahan digunakan sebagai tempat tinggal tidak terdapat fungsi pendukung yang lain. Selain kepadatan penduduk, terdapat juga permasalahan asap kendaraan bermotor yang menimbulkan polusi sehingga menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat yang tinggal di Jakarta. Salah satu caranya adalah dengan adanya Car Free Day yang bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Selain itu, olahraga juga perlukan sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat. Kawasan Grogol Pertamburan lebih tepatnya di Jl. Daan Mogot memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi. Namun aktivitas tersebut tidak memiliki sarana dalam berolahraga maupun berinteraksi. Dengan menggunakan metode wisata, intervensi arsitektur dapat memperbaiki aktivitas keseharian pengguna di kawasan Grogol Pertamburan. Untuk memberi intervensi yang efektif untuk sebuah kawasan yang padat adalah dengan baiknya membuat sebuah wadah yang menudukung masyarakat tidak menggunakan kendaraan bermotor, sebuah tempat untuk saling berinteraksi, beraktivitas, dan juga dapat berekreasi. Olahraga sebagai komponen yang penting dalam aktivitas manusia, dapat menjadi sebuah fokus dalam intervensi arsitektur. Dengan desain yang memfokuskan olahraga beroda dan masyarakat sekitar supaya dapat menjadi lebih sehat, nyaman, dan juga memberi tempat untuk berinteraksi ke arah yang baik.
RUMAH PELANGI: EVOLUSI PERSEPSI MELALUI HIBURAN Nabila Rahmani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4427

Abstract

As millennials grow in the age of globalisation they are more open minded and have a higher tolerance towards certain issues. This has sparked discussions towards the LGBT community which has greatly increased this past decade. Although it’s widely accepted around the world, it’s still considered taboo in Indonesia. Not many in the country express themselves as part of the community due to the strong opinions towards them, there are quite a handful in Indonesia. This project is aimed to raise awareness and educate the people in Indonesia about the LGBT community. A survey filled by 95 people has shown that a lot of millennials and the young generations have a higher tolerance towards the LGBT community. This project uses the phenomenology method backed with a narrative. With the method being used a design based on the flow of a plot from a narrative, the maze concept was created.AbstrakDengan bertumbuh besar dalam zaman globalisasi, milenial mempunyai tingkat toleransi dan pemikiran terbuka terhadap isu-isu tertentu. Hal ini telah menciptakan diskusi terhadap komunitas LGBT yang telah meningkat dalam dekade terakhir. Walaupun hal tersebut sudah diterima di berbagai negara, di Indonesia masih dianggap tabu dan tidak benar. Tidak banyak dari kaum mereka yang mengekspresikan diri di Indonesia dikarenakan opini masyarakat yang buruk tetapi sudah mulai muncul beberapa dari mereka di Indonesia. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendidik warga negara Indonesia terhadap komunitas LGBT. Sebuah angket yang diisi oleh 95 orang telah menunjukkan bahwa banyak milenial dan generasi muda yang mempunyai tingkat toleransi yang tinggi terhadap komunitas LGBT. Proyek tersebut menggunakan metode perancangan fenomenologi yang dibantu dengan sebuah narasi. Dengan metode desain berdasarkan sebuah alur cerita, konsep labirin telah diciptakan.
TEMPAT INTERAKSI BERBAGAI MACAM KEBUDAYAAN – JL. GEREJA AYAM Andi Wijaya; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8602

Abstract

As the time for the Shopping Center grew Pasar Baru to be abandoned because of the many modern shopping centers that began to appear in Jakarta. This causes shopping centers to compete with visitors in a variety of ways, such as transactions as well as family recreation, entertainment venues, and can become Third Place in big cities like Jakarta. So that makes shopping centers that are old concept become quiet. The decline in visitors in Pasar Baru has an impact on the surrounding area Pasar Baru which makes it not as busy as before and looks like it was left behind. This is contrary to the condition Pasar Baru first. Though Pasar Baru has great potential. If you look around Pasar Baru ethnic diversity there is very thick, there are 3 ethnic groups that are very dominant there namely, Indian, Chinese and Betawi ethnic groups. And ethnic diversity there makes Pasar Baru rich in culture. Therefore the purpose of this research is to create a forum to accommodate cultural activities and be able to attract the interest of visitors Pasar Baru by including various theories such as Third Place, as for the method used, namely conducting studies, observations and distributing questionnaires, as well as studying various needs of the surrounding community and making programs in accordance with the results of the observation survey to adjust the needs of the surrounding community, therefore this program is expected to be a solution to the problem of decreasing visitors Pasar Baru and can be a third place for the community in around the area Pasar Baru. Keywords:  culture, diversity, ethnicity Abstrak Seiring berkembangnya waktu pusat pembelanjaan Pasar Baru ditinggalkan dikarenakan banyaknya pusat perbelanjaan modern yang mulai bermunculan di Jakarta. Hal ini menyebabkan pusat perbelanjaan berlomba-lomba menarik pengunjung dengan berbagai cara, seperti tempat transaksi sekaligus juga sebagai rekreasi keluarga, menjadi tempat hiburan, dan dapat menjadi Third Place di kota-kota besar seperti Jakarta. Sehingga membuat pusat perbelanjaan yang berkonsep lama menjadi sepi. Penurunan pengunjung di Pasar Baru berdampak ke daerah sekitar Pasar Baru yang membuat tidak seramai dahulu dan terlihat seperti di tinggalkan. Hal ini bertolak belakang pada kondisi Pasar Baru dahulu. Padahal Pasar Baru mempunyai potensi besar. Jika dilihat di sekitar Pasar Baru keberagaman etnis di sana sangatlah kental dan terdapat 3 etnis yang sangat dominan yaitu, etnis India, Tionghoa, dan Betawi. kemudian keberagaman etnis di sana membuat Pasar Baru kaya akan kebudayaan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan sebuah wadah untuk menampung kegiatan-kegiatan kebudayaan serta dapat menarik minat pengunjung Pasar Baru dengan memasukan berbagai teori seperti Third Place. Adapun metode yang dipakai yaitu melakukan studi observasi dan penyebaran kuesioner, serta mempelajari berbagai kebutuhan dari masyarakat sekitar dan membuat program-program yang sesuai dengan hasil survei observasi untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat sekitar. Maka dari itu program ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk permasalahan menurunnya pengunjung Pasar Baru serta dapat menjadi Third place bagi masyarakat di sekitar kawasan Pasar Baru.
EVALUASI PROSES KEBIJAKAN PERUMAHAN TIDAK TERTATA (STUDI KASUS: PASAR IKAN PENJARINGAN, JAKARTA UTARA) Fany Namirah Kurnia; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4608

Abstract

The existence of slum area is a phenomenon that is common in urban areas in Indonesia, especially DKI Jakarta. Generally these slums are inhabited by Low-Income Communities (MBR) so that slums appear that are caused by illegal land use. One of the government's efforts in overcoming the problem of illegal occupancy is by implementing a relocation policy. However, in practice, there is often rejection from affected parties. One of the relocation policies that received the rejection was the relocation of residents of the Network Fish Market to Rusunawa. In this research the researcher aims to find out the relocation process in the Penjaringan Fish Market and find out the factors that influence the process seen from how the coordination between the parties involved. This study uses descriptive qualitative methods and from the results obtained it is known that the relocation policy process in the Fish Market is still not good. This was influenced by the absence of clear procedures regarding relocation in Jakarta as well as several other factors such as lack of resources, facilities, and attitudes of the implementers. AbstrakKeberadaaan permukiman kumuh merupakan fenomena yang umum terjadi di kawasan perkotaan di Indonesia khususnya DKI Jakarta. Umumnya permukiman kumuh ini dihuni oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sehingga muncul permukiman kumuh yang disebabkan oleh penggunaan lahan secara ilegal. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan hunian ilegal ini adalah dengan mengeluarkan kebijakan relokasi. Akan tetapi pada praktiknya, sering terjadi penolakan dari pihak terdampak. Salah satu kebijakan relokasi yang mendapat penolakan tersebut adalah relokasi warga Pasar Ikan Pejaringan ke Rusunawa. Pada penilitian ini peneliti bertujuan untuk mengetahui proses relokasi di Pasar Ikan Penjarigan serta mengetahui faktor-faktor yang memepengaruhi proses tersebut dilihat dari bagaimana koordinasi antar pihak yang terlibat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan dari hasil yang didapatkan  diketahui bahwa proses kebijakan relokasi di Pasar Ikan ini masih kurang baik. Hal ini dipegaruhi oleh tidak adanya prosedur yang jelas mengenai relokasi di Jakarta serta beberapa faktor lain seperti kurangnya Sumber Daya, Fasiilitas, dan Sikap dari pelaksana.
KAMPUNG NELAYAN BERKELANJUTAN DI KAMAL MUARA Henry Yonanda; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4467

Abstract

Millennials have been touted as the generation that will do something about global warming. Conversely, some social scientists studying generational differences have found evidence that younger generations are less likely to engage in civic matters like environmental activism. Lack of civic engagement among Millennials may reduce their likelihood of engaging in collective action on global warming. On the other hand, the world is drastically changing. Within the recent years, climate change has become a growing concern worldwide. The various modes of destruction imposed on the environment are targeted to be the catalyst to these changes. According to climate scientists, sea level rise is one of the most important impacts of global climate change. Fishermen as one of the professions that depend their life on the sea, is affected so much by this condition. This condition might destroy their houses on the coastal area. Urban Kampong in Jakarta as the most dense human settlements in urban area has become one of the main economic generator for a city. With all the contradict characteristics and forms, urban kampongs are the part of the city that cannot be separated from one to another. The existence of kampong has become the main embryo of the development of Jakarta. Jakarta is one of the biggest coastal city in the world. The coastline of this city has become the main economic generator for the coty and the nations. The existence of fishermen’s kampong in Jakarta has also become an essential program for the city, in order to fullfill the needs of fresh catch of sea products. Therefore, The project is aimed to create a sustainable and adaptive coastal kampong community, that has the resilience to the rising sea level. By concerning on the kampong’s behaviour, and doing research of the typological transformation of the kampong, the design is also expected to serve as an archetype fot the future development of endagered coastal settlements all across the country. several sustainable approach and behaviourial approach are also injected in this project to create a contextual design that would help the kampong to grow, and adapt to all the conditions, and situation in the future. AbstrakGenerasi milenial dianggap sebagai generasi yang akan melakukan perubahan nyata terkait dengan pemanasan global. Akan tetapi, beberapa studi pun menunjukan bukti bahwa generasi millenial justru memiliki kesadaran serta kepekaan yang tidak lebih tinggi dibandingkan dengan generas-generasi sebelumnya. Pada satu sisi, bumi kian melakukan perubahan yang begitu derastis. Berbagai macam kerusakan pun terjadi dalam berbagai jenis yang menjadi generator dari perubahan iklim yang drastis ini. Nelayan sebagai salah satu profesi yang menggantungkan nasibnya pada lautan, kian terganggu dengan kondisi ini. Hal ini menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah di kawasan pesisir pantai. Kampung kota di Jakarta, sebagai permukiman terpadat di daerah urban menjadi salah satu kenerator utama pada suatu kota. Dengan segala karakteristiknya yang berbanding terbalik dengan perkotaan, kampung kota merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kota. Eksistensi suatu kampung telah menjadi embrio dari perkembangan kota Jakarta. Jakarta merupakan salah satu kota pesisir terbesar di dunia. Daerah pesisir dari kota ini telah menjadi generator ekonomi utama dari kota itu sendiri dan juga nasional. Keberadaan kampung nelayan di Jakarta pun menjadi salah satu program penting yang perlu mendapatkan perhatian. Maka dari itu, proyek ini bertujuan untuk menciptakan suatu komunitas kampung pesisir yang berkelanjutan, adaptif serta memiliki ketahanan terhadap kenaikan permukaan air laut yang terjadi. Metode perancangan pada proyek ini dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu analisis mikro yang membahas mengenai tipe dan perilaku, serta analisis makro yang membahas proyek dari segi perancangan urban. Dengan menitik beratkan pada studi perilaku, dan melakukan riset mendalam terhadap transformasi tipologi yang terjadi pada kampung, desain ini diharapkan dapat menjadi suatu arketipe untuk pengembangan kampung di daerah pesisir di masa depan di seluruh Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dengan adaptasi tipe, perilaku serta sistem berkelanjutan yang sesuai dan tepat, desain dari kampung nelayan berkelanjutan ini dapat menjadi suatu respon yang tepat dalam menjawab permasalahan yang terjadi di kampung-kampung pesisir.
STUDI TRANSFORMASI PENGGUNAAN PASAR PALMERAH (OBJEK STUDI: PASAR PALMERAH, KELURAHAN GELORA, KECAMATAN TANAH ABANG, JAKARTA PUSAT) Amelya Putri Sakie; Parino Rahardjo; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8870

Abstract

Palmerah Market is one of the traditional markets which was established since the time of Batavia and was managed by PD. Pasar Jaya in revitalization in 1999 and the usage period of Palmerah market has run out on July 2019. According to the survey results 10 years lately there is a decline of visitors often felt by traders in Palmerah market. Changes in the function of space affecting the activities and patterns of buying and selling in Palmerah market. The physical condition of market building suffered a lot of decline, causing Palmerah market to lose its existence. Palmerah Market is located in a crowded area with functions as a transfer point of public transportation so PD. Pasar Jaya In response to the right to use Pasar Palmerah and to improve the market image then planned market development in Palmerah market that combined with residential function. The purpose of this research is identified basic principle of re-planning (Redesign) Palmerah market with attention to changes/transformation pattern of buying and selling in Palmerah market and potential market location. A qualitative approach is used to describe the existing market conditions and identify the market aspects that are experiencing transformation. The final result showed a physical change and the transformation of Palmerah market activity in terms of sellers, buyers, and managers but among the stakeholders was not there coordinated in the reply transformation. The plan of changing market concept contradicts with City Planning and not yet there is a market that successfully terrorized the concept in Indonesia but because it is in a strategic location may be a PD plan. Pasar Jaya can be done at Palmerah market. Keywords:  Activity; PD. Pasar Jaya; Revitalization; Traditional market; Transformation AbstrakPasar Palmerah merupakan salah satu Pasar tradisional yang berdiri sejak zaman Batavia dan dikelolah olah PD. Pasar Jaya di revitalisasi pada tahun 1999 dan masa pakai Pasar Palmerah telah habis pada Juli 2019. Menurut hasil survey 10 tahun belakangan ini terjadi penurunan pengunjung yang kerap dirasakan oleh pedagang di Pasar Palmerah. Perubahan fungsi ruang yang terjadi mempengaruhi aktivitas dan pola jual beli di Pasar Palmerah. Kondisi fisik bangunan Pasar mengalami banyak penurunan, menyebabkan Pasar Palmerah semakin kehilangan eksistensinya. Pasar Palmerah berada di kawasan yang ramai dengan fungsi sebagai titik perpindahan moda transportasi umum sehingga PD. Pasar Jaya dalam menanggapi hak pakai Pasar Palmerah yang telah habis dan untuk memperbaiki citra Pasar maka direncanakan pengembangan Pasar di Pasar Palmerah yang dipadukan dengan fungsi hunian. Tujuan dari penelitian ini Teridentifikasi Prinsip Prinsip dasar perencangan kembali (Redesign) Pasar Palmerah dengan memperhatikan perubahan/ transformasi pola jual beli di Pasar Palmerah dan potensi lokasi Pasar. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kondisi eksisting Pasar dan mengidentifikasi aspek pasar yang mengalami transformasi. Hasil akhir menunjukan terjadi perubahan secara fisik serta transformasi aktivitas Pasar Palmerah dari segi penjual , perubahan karakter pembeli , serta pengelola namun antar stakeholder tidak ada terkoordinasi dalam menaggapi transformasi . Rencana perubahan konsep pasar bertentangan dengan RDTR Kota serta belum terdapat pasar yang berhasil menerapaka konsep tersebut di Indonesia namun karena berada di lokasi yang strategis mungkin saja rencana PD.Pasar Jaya dapat dilakukan di Pasar Palmerah.
WADAH SOSIAL : OLAHRAGA DAN KETERAMPILAN Riando Agustian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6766

Abstract

The need for third place increased based on an increase in the number of necessities of life and economic growth which resulted in the community only focusing on finding a higher income than before, which caused an increase in stress levels. This is also made worse by the lack of social facilities that can be used by the community to socialize. Therefore the writer wants to try to make a third place for the community around the chosen location. The chosen location is on Jalan Kayu Putih Raya which is a residential area for most industrial workers in the Pulo Gadung industrial area. The choice of location chosen was also based on the results of the field survey which showed that there was still a lack of means for the community to get free entertainment and a place to gather and socialize among the people. In designing this project, the writer also included macro, mezo, and micro site analysis in the consideration of making this project. So that the resulting project can be in accordance with the surrounding environment. In determining the program, the authors also include the results of the questionnaire as a consideration in determining the right program for the community around the project. In the end this project can be designed by the writer with data collected from around the project location and is expected to be used optimally by the surrounding community.AbstrakKebutuhan akan tempat ketiga (third place) semakin meningkat yang didasari oleh peningkatan angka kebutuhan hidup dan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan masyarakat hanya terfokus untuk mencari pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga menimbulkan tingket stress yang meningkat. Hal ini juga diperburuk dengan sedikitnya sarana sosial yang dapat digunakan oleh masayarakat sebagai wada bersosialisasi.  Oleh sebab itu penulis ingin mencoba untuk menciptakan tempat ketiga (third place) bagi masyarakat disekitar lokasi terpilih. Lokasi yang terpilih adalah di jalan Kayu Putih Raya yang merupakan kawasan perumahan bagi sebagian besar pekerja industri yang ada pada kawasan industri Pulo Gadung. Pemilihan lokasi terpilih juga didasari oleh hasil survei lapangan yang menunjukan masih minimnya sarana bagi masyarakat untuk dapat mendapatkan hiburan yang bersifat tidak berbayar dan tempat untuk berkumpul dan bersosialisasi antar masyarakat. Dalam mendesain proyek ini penulis juga turut serta memasukan analisa tapak secara makro, mezo, dan mikro kedalam pertimbangan pembuatan projek ini. Sehingga projek yang dihasilkan dapat sesuai dengan lingkungan sekitar. Dalam menentukan program penulis juga memasukan hasil kuesioner dalam pertimbangan dalam menentukan program yang tepat bagi masyarakat pada sekitar proyek. Pada akhirnya projek ini dapat didesain oleh penulis dengan data-data yang dikumpulan dari sekitar lokasi proyek dan diharapkan dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. 

Page 11 of 134 | Total Record : 1332