cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
BANGUNAN KANTOR MULTIFUNGSI DI TANAH ABANG Annissa Nur Sofura; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4481

Abstract

Millennials is still a very hot topic to discuss. The many problems in this generation make most people research and find ways to overcome these things. On this occasion, the millennial generation problem that will be chosen to be solved with architectural products is the productive age. This productive age is the background of the main activity of the millennial generation, which is working. Many studies also say that this work is the cause of the highest level of stress occurring in this generation. After being examined more deeply, not because it has to work which is the main reason for the stress level to occur in millennials, but the conditions and work systems that are not in accordance with the criteria of that generation. Therefore, the "office" program will be the solution. The office to be created will be divided into two types, namely the rental office built in the form of a high-rise building with a per-floor rental system, and a co-working space built in the form of a low-rise building with a per-room rental system. To support the main program in the form of an office, supporting programs will also be proposed. This project will be made using a typology method, where the process will go through an analysis phase on several aspects used by the previous office buildings and see how it will develop to office buildings until 2019. The main concept of this building will be "icon" or monumental , and is expected to show the shape of millennial buildings. AbstrakGenerasi milenial masih menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan. Banyaknya permasalahan pada generasi ini menjadikan sebagian besar manusia meneliti dan mencari cara untuk mengatasi hal-hal tersebut. Pada kesempatan kali ini, permasalahan dari generasi milenial yang akan akan dipilih untuk diselesaikan dengan produk arsitektur yaitu berupa usia produktif. Usia produktif tersebut melatarbelakangi aktivitas utama generasi milenial berupa bekerja. Banyak juga penelitian yang mengatakan bahwa pekerjaan tersebut menjadi penyebab terjadinya tingkat stress tertinggi terjadi pada generasi ini. Setelah di teliti lebih dalam, bukan karena harus bekerja yang menjadi alasan utama tingkat stress terjadi pada milenial, melainkan kondisi dan sistem kerja yang tidak sesuai dengan kriteria generasi tersebut. Oleh karena itu, program “kantor” akan menjadi jalan keluarnya. Kantor yang akan dibuat akan dibagi menjadi dua tipe, yaitu kantor sewa yang dibangun dengan bentuk bangunan tinggi dengan sistem penyewaan per-lantai, dan co-working space yang dibangun dengan bentuk bangunan rendah dengan sistem penyewaan per-ruang. Untuk mendukung program utama berupa kantor maka akan diusulkan pula program penunjang. Proyek ini akan dibuat dengan metode tipologi, dimana prosesnya akan melalui tahap analisa pada beberapa aspek yang digunakan oleh bangunan – bangunan kantor terdahulu dan dilihat bagaimana perkembangannya terhadap bangunan kantor hingga tahun 2019. Konsep utama bangunan ini akan mengarah pada “icon” atau bisa disebut monumental, dan diharapkan dapat memperlihatkan bentuk bangunan milenial.
RUMAH AMAN UNTUK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL Alda Rahmawati Hidayat; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10750

Abstract

A lot of sexual violence happened lately remind us there's emergency situation for some people that experienced it and need comprehensive legal protection to push the sexual violence. In the same time and another side, the shield couldn't protect was postponed until 2021 National Legislative Program (Prolegnas). This thing had a big impact to the victim because one of content from RUU-PKS draft has the policy to push the sexual violence and until now it has not been legalized. Until now they have not received their right and at the same time, they have to experienced the heavy impact, trauma. Facilities are 60% defective and a lot of problems shows up such as threat, coercion, etc to the victim and family. This research is the concept of a safe house that aims to protect and accommodate victims of sexual violence. It is hoped that it can become a boost for the government to facilitate victims who have been taboo to help them to help them rise up through a positive environment. This project is experimental, not only for the victims, but also for the surrounding community itself. Through the film 27 Steps of May, this project has a narrative way of transforming the victim's process of healing into an architecture that understands the victim. Keywords:  Architecture; Facilities; Sexual Violence; Sexual Violence Eradication Bill; Victim AbstrakBanyaknya kasus kekerasan seksual yang terungkap akhir-akhir ini mengingatkan kembali bahwa adanya situasi darurat yang dialami beberapa orang dan membutuhkan payung hukum yang komperehensif bagi masyarakat untuk menekan kekerasan seksual. Di waktu yang bersamaan pula, RUU PKS (Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) dinyatakan dilempar pada Porlegnas (Program Legislasi Nasional) 2021. Hal ini berdampak besar bagi para korban dikarenakan isi RUU PKS yang memiliki kebijakan atau sistem yang memadai untuk pencegahan kekerasan seksual dan sistem yang memadai untuk pemulihan korban sampai sekarang pun belum di sah-kan. Akibatnya, korban pun sampai sekarang belum mendapatkan hak sepenuhnya disaat itu pula korban juga mengalami dampak yang berat yaitu trauma. Fasilitas yang seharusnya bisa didapatkan oleh korban nyatanya 60% rusak sehingga menimbulkan masalah baru sampai adanya ancaman ke korban maupun orang-orang sekitarnya. Penelitian ini merupakan konsep sebuah rumah aman yang bertujuan untuk melindungi dan menampung para korban kekerasan seksual diharapkan bisa menjadi suatu dongkrak-an bagi pemerintah untuk memfasilitasi para korban yang selama ini masih tabu untuk dibantu hingga membantu mereka bangkit melalui lingkungan positif.  Proyek ini bersifat eksperimental, tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk masyarakat sekitarnya sendiri. Melalui film 27 Steps of May, proyek ini mempunyai cara untuk bernarasi untuk menggubah proses korban untuk sembuh menjadi arsitektur yang memahami korban.
SARANG TERSEMBUNYI, HUTAN MENGKATIP Lorenzo Alberto; J.M.Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10737

Abstract

Forests have an important role in meeting the needs of human life, but due to lack of education and irresponsible parties, forest area is now undergone massive exploitation all around the world. In Indonesia, forest cover has been reduced by a lot, Kalimantan is one of the areas that are most affected by deforestation. According to research results in 2015, approximately 74 million ha of forest cover has been reduced to 55% and deforestation rates in Kalimantan continue to increase. Mengkatip Forest, Hidden Nest is present for people that is involved in deforestation cases in Kalimantan, and from the result of the data that has been obtained a spatial gradation method is made in which this approach involves all elements of society in it. The project itself aims to create a mutualism relationship between the community and the living beings who live in it. The programs created in this project is an effort to prevent further damage in the forest and restore the damaged areas while maintaining the forest environment based on the concept of the 'Anthroposmotic' Dayak tribe.Keywords:  Anthroposmotic;Deforestation;Mutualism Abstrak Hutan memiliki peranan yang penting dalam  memenuhi kebutuhan hidup manusia  , namun karena kurangnya pendidikan serta banyaknya pihak yang tidak bertanggung jawab, kawasan hutan justru mengalami eksploitasi besar-besaran di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tutupan lahan hutan sudah banyak berkurang, Kalimantan merupakan salah satu daerah yang paling terdampak dari deforestasi. Menurut hasil Riset pada tahun 2015 sekitar 74 juta Ha tutupan hutan telah berkurang menjadi 55% serta angka deforestasi yang terjadi di Kalimantan terus meningkat. Mengkatip Forest,Hidden Nest hadir sebagai wadah bagi masyarakat yang terlibat dalam kasus deforestasi di Kalimantan,dan dari hasil data yang telah diperoleh dibuatlah pendekatan dengan metode gradasi spasial dimana pendekatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat didalamnya. Proyek ini sendiri bertujuan untuk menciptakan hubungan mutualisme antara masyarakat serta mahluk hidup yang tinggal didalamnya. Program-program yang dibuat pada kawasan proyek ini menjadi sebuah upaya untuk mencegah kerusakan hutan yang lebih lanjut dan memulihkan kembali kawasan hutan yang rusak serta menjaga lingkungan hutan berdasarkan konsep   ‘Antroposmotic’ suku Dayak.
SARANA OLAHRAGA HIBURAN KEMANG Stevanny Stevanny; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3806

Abstract

Pariwisata di Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung roda perekonomian Negara. Salah satu wisata yang sedang dikembangkan adalah Wisata Olahraga yang merupakan penggabungan antara kegiatan olahraga dan wisata. Melalui penyelenggaraan acara wisata olahraga ini, Indonesia dapat mempromosikan area wisata di berbagai daerah. Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2015, kurang dari satu per tiga penduduk Indonesia rutin berolahraga, sehingga angka partisipasi olahraga di Indonesia masih sangat rendah. Jakarta merupakan kota metropolis dan Ibukota Indonesia yang memiliki akses dan trasnportasi yang lebih lengkap dan mudah dijangkau dibandingkan daerah lainnya. Jakarta Selatan yang merupakan kota administrasi paling kaya dibandingkan wilayah lainnya dengan kondisi lingkungan yang hijau, tenang dan teduh yang merupakan karakteristik penting untuk destinasi wisata olahraga. Pada 2016, BPS menganalisis keberhasilan pembangunan manusia melalui indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Jakarta Selatan merupakan yang tertinggi, tetapi berdasarkan data Riskesdas pada 2013, 42.1% warga Jakarta Selatan mengalami obesitas, sehingga Jakarta Selatan dijadikan sebagai lokasi pengamatan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi architourism dengan tema olahraga. Mampang Prapatan menjadi daerah terpilih dikarenakan banyaknya usia produktif dan area yang tidak terlalu luas sehingga jangkauan olahraga menjadi lebih mudah. Proyek yang diusulkan berupa bangunan Sportainment yang bertujuan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan olahraga, menjadi tempat hiburan untuk melepaskan penat, tempat untuk bersantai dan menghilangkan stress, dan ruang terbuka publik.
FASILITAS PEMBELAJARAN DAN RUANG KOMUNITAS DIGITAL Henry Halim; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4579

Abstract

Today, generation of millennials is a topic that is quite warm among the people, starting from the aspect of education, technology and morals and culture. Millennials or sometimes also called generation Y are a group of people born after Generation X, namely people born in the 1980s and 2000s. Generation of millennials has a characteristic that is, they are very creative in the field of digital technology. Today the development of the creative economy is very rapid. The contribution of the creative economy to the national economy is increasingly evident. The added value generated by the creative economy also increases every year. The growth of the creative economy sector is around 5.76%. This means that it is above the growth of the electricity, gas and clean water sector, mining and quarrying, agriculture, livestock, forestry and fisheries, services and processing industries. Creative Economy is the Pillar of the Nation's Economy. Especially in the field of video blogging, video blogs are mostly asked by generations of millennials and jobs as video blogs, and are also suitable for generations of millennials because of their creative nature and flexible ways of working. The problem is that many generations of millennials are lacking in the knowledge of making interesting content. Thus the Digital Community Learning and Space Facilities project was created which can realize the ideals of the millennials generation that lack creativity in the field. With the method of field survey, shape grammar, and green architecture, this project can be a useful project for the surrounding environment and can be a useful forum for millennials to be able to find and analyze problems that occur in the development of information technology and the development of creative economics in the field of blogs video. Abstrak Dewasa ini, generasi millennials menjadi topik yang cukup hangat di kalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral dan budaya. Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Generasi millennials memiliki ciri khas yaitu, mereka sangat kreatif di bidang teknologi digital. Dewasa ini perkembangan terhadap ekonomi kreatif sangatlah pesat. Kontribusi ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan ekonomi kreatif juga mengalami peningkatan setiap tahun. Pertumbuhan sektor ekonomi kreatif sekitar 5,76 %. Artinya berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. Ekonomi Kreatif adalah Pilar Perekonomian Bangsa. Terlebih di bidang Blog video, blog video banyak diminati oleh generasi millennials dan pekerjaan sebagai blog video, dan juga cocok bagi generasi millennials karena sifat mereka yang kreatif dan cara kerja yang bersifat fleksibel. Permasalahannya adalah banyak generasi millennials yang minim dengan ilmu tentang membuat sebuah konten yang menarik. Dengan demikian dibuatlah proyek Fasilitas Pembelajaran Dan Ruang Komunitas Digital yang dapat mewujudkan cita-cita generasi millennials yang minim akan kreatifitas di bidang tersebut. Dengan metode Survey lapangan, shape grammar, dan green architecture, proyek ini dapat menjadi proyek yang berguna bagi lingkungan sekitarnya dan dapat menjadi wadah yang bermanfaat bagi generasi millennials agar mampu menemukan dan menganalisa permasalahan yang terjadi pada perkembangan teknologi informasi dan perkembangan ekonomi kreatif di bidang blog video.
RUANG KERAGAMAN BERBASIS SOSIOKULTURAL, KAWASAN MUARA BARU Jennifer Jennifer; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8608

Abstract

Muara Baru is one of the largest slums area in Jakarta. At first, this area wasn’t full of houses. But since late 1980s, development of industrial area in Muara Baru increase rapidly, the number of urbanizations has gone up. And the density in this area became very high. This has a huge impact on society in their daily lives, and this will create exclusion social between individuals. One of the ways to eliminate the exclusion social is increase the socio- culture asset, because there’s needs for investation development of peoples in Muara Baru. So the project that will be built is aiming the people of the Muara Baru area can improve the quality of individual performance The method of research used in this project is descriptive method and comparative method. The result of this research is “Diversity Socioculture Space, Muara Baru”. The main program in this project is social and education with socioculture concept, like having weekly culture bazzar. So the results of this design are aimed at the community, so that they can eliminate the sense of social exclusivity between individuals, and from the formation of productive individuals, so they will improve Muara Baru area. Keywords:  open architecture; slums; sociocultural; social exclusion AbstrakMuara Baru merupakan salah kawasan terkumuh di Jakarta, padahal awalnya kawasan ini belum dipenuhi oleh permukiman. Namun semenjak terjadinya perkembangan pada kawasan industri pada akhir tahun 1980-an di Muara Baru, tingkat urbanisasi menjadi meningkat, sehingga kepadatan pada kawasan ini juga menjadi sangat tinggi. Hal ini sangat berdampak kepada masyarakat dalam aktivitas sehari-harinya, yaitu terciptanya eksklusi sosial antar masyarakat. Salah satu untuk menghilangkan rasa eksklusi sosial masyarakat Muara Baru adalah dengan cara meningkatkan modal sosiokulturalnya, karena itu perlu adanya investasi sosiokultural dalam pengembangan masyarakat Muara Baru. Sehingga perancangan bertujuan agar masyarakat kawasan Muara Baru dapat meningkatkan kualitas performa individu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskritif dan Metode Komparatif. Dari hasil penelitian ini, hasil yang diusulkan adalah “Ruang Keragaman Berbasis Sosiokultural”, Kawasan Muara Baru. Program utamanya adalah sosial dan edukasi dalam basis sosiokultural, seperti adanya bazar kebudayaan mingguan. Hasil perancangan ini ditujukan untuk masyarakat, agar mereka dapat menghilangkan rasa eksklusi sosial, sehingga terbentuknya individu yang lebih produktif,dan perlahan mereka akan meningkatkan kawasan Muara Baru).
PUSAT PENANGANAN OBESITAS BERBASIS KARAKTER INDIVIDUAL Chessa Chrysantha; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4434

Abstract

Obesity is one of the world's pandemic problems for which it's cure is still underestimated. With the increasing amount of people with obesity, and the evolving of time, a facility to handle obesity problems according to the behaviour and attitude of present generations is needed. According to the American Psychological Association, a person's behaviour and character could have an influence on their weight. Nowadays, treatment of obesity is mostly about physical treatment only. It causes a patient's treatment to not be effective for long-term weight loss. Because of that, a facility that focuses on both physical and psychological treatment for patients is needed, so that the result can be maximal and lasts longer. The intended facility design prioritize patients psychological condition without putting physical condition aside. The design use Lewis Goldberg’s Five Factor Model mostly for the main programs, especially the personalities that has been verified as a cause of obesity. Each personalities would be translated as treatment rooms. Public facilities was also included in the design process for patient’s interaction and social therapy. Other main goal of the project is to raising people’s concern about obesity and the dangerous effects of it. AbstrakObesitas merupakan salah satu problem pandemik dalam dunia yang pengobatannya masih dipandang sebelah mata. Dengan jumlah penderita yang terus bertambah, dan jaman yang semakin berkembang, untuk itu diperlukan sebuah fasilitas untuk menangani masalah obesitas seiring dengan perilaku dan sikap generasi sekarang. Menurut American Psychological Association, sikap dan karakter seseorang dapat mempengaruhi berat badannya. Saat ini, penanganan obesitas hanya terpaku pada penanganan fisik saja. Hal itu menyebabkan pengobatan yang dilakukan pasien akan menjadi tidak efektif untuk penurunan berat badan jangka panjang. Karena itu, dibutuhkan sebuah fasilitas yang memfokuskan kepada pengobatan fisik dan psikologis pasien, sehingga hasil pengobatan dapat menjadi lebih maksimal dan berjangka panjang. Fasilitas penanganan obesitas yang dimaksud berupa perancangan sebuah fasilitas yang memprioritaskan hanya kepada para penderita obesitas dan berfokus kepada psikologis pasien tanpa mengesampingkan kondisi fisik pasien. Rancangan fasilitas ini menggunakan metode pengelompokkan kepribadian manusia menurut Lewis Goldberg, kemudian masing-masing kepribadian yang cocok dengan penyebab meningkatnya jaringan adiposa tubuh akan diterjemahkan menjadi ruang-ruang pengobatan dan kebutuhan pasien. Ruang-ruang publik juga ditambahkan dalam proses desain dengan harapan agar para penderita dan publik dapat berinteraksi sekaligus sebagai salah satu sarana terapi sosial. Dengan adanya pusat pengobatan yang berfokus kepada obesitas, diharapkan tingkat kewaspadaan masyarakat meningkat terhadap bahaya obesitas dan para penderita obesitas tidak merasa tersingkirkan.
STRATEGI MENINGKATKAN JUMLAH PENGUNJUNG WISATA TAMAN BUAYA TANJUNG PASIR Antonius Dwinarendra; Parino Rahardjo; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8875

Abstract

 Crocodile Tourism Park has a land area of 5 hectares. This crocodile park is located in Tanjung Pasir tourist area, as a tourist destination in and around Kabupaten Tangerang. This crocodile park has been operating since 2005 owned by Lukman Arifin. This crocodile park is the only theme park of fauna and breeding, especially crocodile in Tangerang. This crocodile park is expected to be one of the new icons in Tanjung Pasir tourism area and become an educative amusement park. At the moment there are more than 400 crocodiles of new age hatch up to 70 years and in this crocodile park has a rare collection of albino crocodiles. In addition to seeing crocodiles in this crocodile park can also feed crocodiles. Once this crocodile park has various performances of crocodile, selling the knacks, but now stopped because of the visitors. This research aims to determine the potential and problems of the Tanjung Pasir Crocodile Park, which has an impact on visitors. Data collection is done by field survey, questionnaire scatter, interview, documentation and literature study. From analysis results conducted such as site and site analysis, benchmark analysis, visitor perception analysis and policy, resulted in strategy proposals such as from the start of physical repair, improvement of management, and proposed promotion of tourist parks. So visitors feel interested to visit. Keywords: crocodile park; strategy; visitors AbstrakTaman Wisata Buaya Tanjung Pasir memiliki luas lahan 5 hektare. Taman buaya ini berada di Kawasan Wisata Tanjung Pasir, sebagai destinasi wisata di Kabupaten Tangerang dan sekitarnya. Taman Buaya ini telah beroperasi sejak 2005 yang dimiliki oleh Lukman Arifin. Taman buaya ini merupakan satu – satunya taman hiburan fauna dan penangkaran khususnya buaya yang ada di Tangerang. Taman buaya ini diharapkan menjadi salah satu ikon baru di Kawasan Wisata Tanjung Pasir dan menjadi taman hiburan yang edukatif. Pada saat ini terdapat lebih dari 400 ekor buaya dari usia baru menetas sampai 70 tahun dan di taman buaya ini memiliki koleksi buaya albino yang terbilang langka. Selain melihat buaya di taman buaya ini juga dapat memberi makan buaya. Dahulu taman buaya ini memiliki berbagai pertunjukan pawang buaya, menjual pernak – pernik buaya, namun kini sudah berhenti karena sepinya pengunjung. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada di Taman Buaya Tanjung Pasir yang berdampak pada sepinya pengunjung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey lapangan, sebar kuisioner, wawancara, dokumentasi dan studi literature. Dari hasil analisis yang dilakukan seperti analisis lokasi dan tapak, analisis benchmark, analisis persepsi pengunjung dan kebijakan, dihasilkan usulan strategi seperti dari mulai perbaikan fisik, perbaikan menejemen, dan usulan promosi taman wisata. Sehingga pengunjung merasa tertarik untuk berkunjung. 
DISTRIK FESYEN NUSANTARA Yanni Nursalim; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6870

Abstract

Innovation and creativity are prioritized in various aspects to create a new breakthrough. This phenomenon is the result from creative individuals that keeps innovating. Inspired by fashion industry fond by many people and functioning as verbal communicator from person to person, create the need of place to exchange ideas, creativity and to socialize. Pasar Baru is an area that have a chance to be a place where fashion designers can meet and gather, because as many people know Pasar Baru is known as textile industry for so long. Beside that, this area is starting to lose fame because people think it is old style and unorganized. In result, a project is designed so that it can be a place where many fashion communities and can as well functioned as leisure open area a. In this project, methaphor method is used by applying Benji Chinesse batik pattern in building shape by intangible and the using of the batik pattern on the building facade by tangible. On the ground floor, quite programs such as public and leisure areas, parks, courtyars, angkringan, exhibition, and workshop are applied. In the upper floors, programs such as fashion studios, seminar room, drapping room that is  mean to people who likes fashion are applied that is more regulated than first floor. The facilities are made, in hope that Pasar Baru will be fashion center that can influence people to talk more about local trends compared to trends outside Indonesia. Abstrak Inovasi dan kreativitas merupakan hal yang diprioritaskan saat ini dalam berbagai aspek untuk menghasilkan suatu terobosan baru. Fenomena ini tentu tidak terlepas dari peran individu ataupun kelompok di dalam industri kreatif yang terus berinovasi. Dilatarbelakangi oleh dunia fesyen yang semakin digemari oleh berbagai kalangan dan merupakan alat komunikasi non verbal antar individu, maka diperlukan sebuah tempat bagi para pecinta fesyen untuk bertukar pikiran, bersosialisasi, dan berkreativitas. Pasar Baru merupakan salah satu kawasan yang berpeluang untuk dijadikan kawasan berkumpulnya para fashion designer, karena seperti yang banyak orang ketahui Pasar Baru merupakan pusat perbelanjaan tekstil yang terkenal sejak lama. Selain darpada itu, kawasan ini juga sudah mulai ditinggalkan oleh pengunjung karena dianggap membosankan dan tidak teratur. Maka dirancang sebuah proyek yang dapat menjadi tempat komunitas fesyen dan juga sebagai kawasan hiburan yang lebih terbuka dan bersifat “leisure”. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah metafora dengan menerapkan motif batik cina benji pada bentuk bangunan secara tidak langsung (intangible) dan penerapan motif batik tersebut pada fasad bangunan (tangible). Di bagian lantai dasar diisi dengan program yang lebih bersifat publik dan leisure  seperti taman, courtyard, angkringan, pameran, dan workshop. Sedangkan dilantai atas lebih yang bersifat regulated seperti studio fashion, r. seminar, r. Drapping yang ditujukan bagi para fashion designer ataupun orang – orang yang menggemari dunia fashion. Dengan adanya fasilitas – fasilitas tersebut diharapkan ke depannya Pasar Baru akan menjadi pusat fashion yang mempengaruhi masyarakat untuk lebih banyak membincangkan tren lokal dibandingkan tren luar negeri.
PENERAPAN TIPOLOGI KANTOR, ARSITEKTUR DAN PERILAKU MILENIAL PADA PERANCANGAN STUDIO ANTAR-KREATIF DI TEBET Kristel Karina Lestari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4383

Abstract

Technologicaly advancements have facilitated work, both directly and indirectly. This has changed the lifestyle of the people, especially the millennial generation in Jakarta. Not a few generations often changing jobs, which are not closed in the current generation according to their individual needs. Millennial generation approved balance as one of the things seen in the agreement of life. Inter-Creative Studio is a space that provides a more interactive, creative and flexible work space in the creative economy in the multimedia sub-sector to enhance creativity and economy. Inter-Creative Studio is designed with the aim of providing a place to work independently for the millennial generation by paying attention to the life balance of workers. Through trans-programming that combines creative work and entertainment programs as a whole in the design creates the same space with the integration of changing usage times. The existence of the facade concept gives expression to architecture with a combination of melody and rhythm and the concept of height differences in design as creativity and spatial space in architecture with lighting, materials to building form.AbstrakKemajuan teknologi telah mempermudah pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini telah merubah gaya hidup masyarakat, khususnya generasi millenial di Jakarta. Tidak sedikit generasi milenial berpindah – pindah pekerjaan, yang tidak menutup kemungkinan bahwa generasi milenial berjalan sesuai dengan kebutuhan masing – masing. Generasi millenial mendefinisikan keseimbangan sebagai salah satu hal yang dilihat dalam menjalani kehidupan. Studio Antar – Kreatif merupakan sebuah wadah yang menyediakan ruang bekerja menjadi lebih interaktif, kreatif dan fleksibel dalam bidang ekonomi kreatif di sub-sektor multimedia untuk meningkatkan kreativitas dan perekonomian. Studio Antar – Kreatif didesain dengan tujuan menyediakan wadah bekerja mandiri bagi generasi milenial dengan memperhatikan keseimbangan hidup kaum pekerja. Melalui trans-programming yang memadukan program bekerja kreatif dan hiburan sebagai satu kesatuan didalam sebuah desain menciptakan sebuah ruang yang sama dengan intensitas waktu penggunaan yang bergantian. Adanya konsep fasad memberikan ekspresi terhadap arsitektur dengan kombinasi melodi dan ritme serta konsep perbedaan ketinggian lantai dalam desain sebagai gambaran kreativitas dan spasialitas ruang dalam arsitektur dengan pencahayaan, material hingga bentuk.

Page 9 of 134 | Total Record : 1332