cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PERANCANGAN ARSITEKTUR RUANG LIMINAL ANTARA SEBUAH DUALISME (BERTANI DAN MELAUT) Michael Gideon Josian; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10770

Abstract

The future of dwelling has a very board context and will continue to be discussed, it is possible that the discussions about “dwelling” is come from the environment of farming and fishing. Things that are not much cared for but still have a role in the survival of the world. Therefore this matter will be discussed using the role of architecture as space, to be able to create an ideal system by paying attention to the quality of farming and fishing for the future, and leaving a trace or memory to be able to carry messages for the future. Talking about the future of an interaction that occurs between the general public and farmers and fishermen, especially considering that farmers and fishermen themselves can be compared to two different poles, a liminal space is needed, which may already exist indirectly in the environment. By letting go of individual egos and emphasizing ego to the point of view of farmers and fishermen. To present a common space, or a place that contains a special character of a city that contains a message for the future. Keywords:  dualism; hope; liminal; trace;  Abstrak Masa depan cara berhuni memiliki konteks yang sangat luas dan akan terus diperbincangkan. Tidak menutup kemungkinan datang dari pembahasan mengenai cara berhuni dengan bertani dan melaut. Hal yang tidak banyak dipedulikan tetapi tetap memiliki peran dalam kelangsungan dunia. Oleh karena itu, masa depan berhuni ini akan dibahas dengan menggunakan peran arsitektur sebagai ruang, untuk dapat menciptakan sistem yang ideal dengan memperhatikan kualitas bertani dan melaut bagi masa depan, dan meninggalkan sebuah jejak atau kenangan untuk dapat membawa pesan bagi masa depan. Berbicara mengenai masa depan dari sebuah interaksi yang terjadi antara masyarakat umum dengan para petani dan nelayan, apalagi mengingat para petani dan nelayan itu sendiri dapat diibaratkan berada pada kedua kutub yang berbeda, maka dibutuhkanlah sebuah ruang liminal, yang mungkin sudah hadir secara tidak langsung pada lingkungan masyarakat. Dengan cara melepaskan ego individual dan menekankan ego kepada sudut pandang para petani dan nelayan. Untuk menghadirkan sebuah ruang bersama, atau sebuah tempat yang mengandung sebuah karakter tersendiri dari sebuah kota yang berisi pesan bagi masa depan.
TEATER MUSIKAL JAKARTA David Guntur Putra; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3995

Abstract

Pada era modern ini kegiatan wisata merupakan salah satu kebutuhan bagi masyarakat untuk melepas stress dan mencari suasana baru. Kegiatan wisata sendiri adalah kegiatan mencari hal baru yang berbeda dari kegiatan sehari hari yang sifatnya menyenangkan. Dalam konteks wisata kota, kegiatan wisata tidak dapat dilepaskan dari arsitektur. Kota pada umumnya sedikit memiliki sumber daya alam untuk mendukung kegiatan wisata, sehingga diperlukan campur tangan manusia untuk mewujudkanya. salah satu contoh sukses campurtangan arisitektur dalam wisata adalah pada museum Guggenheim di Bilbao. Museum Guggenheim di Bilbao yang sukses membangkitkan kota melalui wisata menjadi contoh peran arsitektur dalam wisata. Kota jakarta sebagai kota metropolis dan ibu kota negara indonesia memiliki beragam potensi wisata, dari banyaknya suku dan budaya yang berkumpul. Kota Jakarta sendiri dapat diibaratkan sebagai miniatur dari Indonesia karena keberagamanya. Banyaknya budaya yang dapat dipertunjukan ini memerlukan wadah yang cukup untuk menampilkanya. Pada kota jakarta sendiri sebagai kota metropolis juga belum memiliki wadah yang cukup untuk menampung potensi wisata kebudayaan ini. Berangkat dari kisah kesuksesan musium Guggenheim dan besarnya potensi buadaya jakarta maka hendaklah dibuat wadah wisata yang dapat menampung dan mempertunjukan keragaman budaya kota Jakarta. 
GELANGGANG DIA.LO.GUE, DI KELURAHAN MERUYA UTARA Kevin Hartanto; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8599

Abstract

The issue on the North Meruya Urban Area is the visible splitting of 2 urban housing areas of Taman Aries and Taman Meruya. The visible splitting was due to an old problem that has changed the perception of both people living in those areas. Because it is an old problem that most people had forgotten, the resentment still follows on to the next generation, creating a never ending splitting issue due to hate. I have a dream that one day, this project maybe able to help reunite those two urban housing areas and live together as a big North Meruya Family. Taking concept from Roman and Greek Forums, a Forum is a Large open area surronded by a couple of buildings, and could be use as an area for small to big meetings, open theaters, music performance, generally a place where people can gather and interact socially, and exchange thoughts. The main focus of this project is to make a “Forum” for the people of North Meruya to voice their opinion, communicate, and solve problems together instead of saving resentment, a place where the people of North Meruya can showcase art, a place for a majority of North Meruya people (consisting of 40% students and increasing) to work together. And become a comfortable thirdplace for the people of North Meruya. Keywords:  communication, forum, reunite, splitting  AbstrakPada kelurahan meruya ada sebuah masalah yakni perpecahan antara warga Taman Aries dan Taman Meruya yang susah diselsaikan karena kurangnya kesadaran akan warga masyarakat sehingga kejadian konflik yang di teruskan dan di sebarluaskan hanya kebencian, kurangnya interaksi sosial secara fisik dan lainya, saya bermimpi dan memiliki sebuah kerinduan untuk merangkul dan membantu mempersatukan kembali kedua belah pihak warga. Mengambil konsep dari Forum Romawi dan Yunani, pada jamannya kerajaan Romawi dan Yunani memiliki sebuah area terbuka dan diapit beberapa bangunan, yang di gunakan untuk rapat antar kepala keluarga, rapat antar kepala desa, bahkan rapat untuk perang. Tetapi saat tidak digunakan untuk perang tempat itu merupakan tempat berkumpul para warga untuk berinteraksi sosial, bertukar pikiran, menampilkan karya seni, hingga menyediakan beragam makanan. Yang akan menjadi tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menciptakan “forum” untuk warga agar dapat menyuarakan pendapat, bermusyawarah bertukar pikiran dan pendapat. Tujuan lainnya adalah untuk menampung kegiatan warga yang sekarang tidak pada tempatnya. Menyediakan tempat bekerja untuk mayoritas penduduk untuk mengerjakan tugas (40% siswa dan mahasiswa, dan terus bertambah tiap tahunnya). Dan dibuatkan third place yang nyaman bagi warga masyarakat Meruya Utara.
WADAH KERJA MILENIAL DAN BALAI BOGA Andy Lois
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4413

Abstract

The Co-working space and Food Hall in jakarta is a facility that designed based on the needs and development of creative economy business that growing rapidly but there are no adequate facilities and support at this time. So the main design problem is how to create space that can convey identity and become an icon of the development of creative economy in Jakarta. Besides the needs for business developers to work productively, this project also raises special design issues, namely how to create social space and green space to support more productivity of users. The design approach used is a general approach and a symbolyc approach using intangible metaphor, taking from the main nature of business startup developers namely innovation. Then, the deepening of space characters is chosen  to look at the completion of the needs from different workspaces according to users needs. This facility is different from the workspace in general because it prioritizes intercation space (interaction sapce) and also green space, but does not ignore the privacy needed by each user. Office and Co-working space designs are also supported by facilities such as cafetaria, gathering room, meeting room, and retail. AbstrakRuang Kerja Bersama dan Balai Boga di Jakarta merupakan fasilitas yang didesain didasari oleh kebutuhan serta perkembangan bisnis ekonomi kreatif yang kian pesat namun belum ada fasilitas yang memadai dan mendukungnya saat ini. Sehingga masalah desain utama adalah bagaimana menciptakan ruang yang dapat menyampaikan identitas dan menjadi ikon perkembangan ekonomi kreatif di Jakarta. Selain itu adanya kebutuhan para pengembang bisnis untuk bekerja secara produktif, maka proyek ini juga mengangkat masalah desain khusus yaitu bagaimana menciptakan ruang sosial dan ruang hijau untuk mendukung produktivitas lebih dari user. Pendekatan desain yang digunakan adalah pendekatan umum dan pendekatan simbolik dengan menggunakan intangible metaphore, mengambil dari sifat utama para pengembang bisnis pemula yakni Inovasi. Kemudian, pendalaman karakter ruang dipilih untuk mencermati penyelesaian kebutuhan ruang-ruang kerja yang berbeda sesuai dengan kebutuhan pengguna. Fasilitas ini berbeda dengan ruang kerja pada umumnya karena mengutamakan ruang interaksi (interaction space) dan juga ruang hijau, namun tidak mengabaikan privasi yang dibutuhkan setiap pengguna. Desain kantor dan ruang kerja bersama juga didukung dengan fasilitas seperti cafetaria, ruang berkumpul, ruang rapat, dan juga retail.
RENCANA PENGELOLAAN PARTISIPATIF OBJEK GEOWISATA TEBING KOJA (STUDI KASUS: TEBING KOJA, DESA CIKUYA, KECAMATAN SOLEAR, KABUPATEN TANGERANG) Sandra Soraya; Parino Rahardjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8862

Abstract

Tebing Koja tourism object has a geotourism attraction that attracts tourists and can give someone's curiosity because it has another designation that is "Cage Godzilla" and is located in the countryside in Tangerang Regency. Tebing Koja has its own uniqueness, namely the form of the towering cliffs separately as if bent on ancient times as a result of the results of sand / lime mining which was carried out before it was opened to the public for this tourism. Tebing Koja becomes very important that can be an economic support for the surrounding community who want to develop these attractions. However, participation by the community or community groups is only those who live around Tebing Koja. Other communities and the community of Cikuya Village are still indifferent to the existence of the Tebing Koja tourism object that can provide benefits in their economy. Based on the description, the researcher aims to describe the participatory form in the community or group in managing the Tebing Koja tourism object in Cikuya Village to make tourism sustainable. The concept of sustainable tourism is applied in planning for management so that it is always sustainable in the future by utilizing existing resources. This study uses a qualitative approach with a descriptive analysis method that uses participatory description in the management of the Tebing Koja tourism object. Researchers use various data sources to be studied, describe and explain comprehensively from various aspects of individuals, groups, organizations, events systematically. Data collection techniques used by researchers are observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this study show the role of the community in managing tourist objects, the concept of community-based management or Community Based Tourism (CBT) and the inhibiting factors. Keywords:  Community Based Tourism (CBT) Management; Stakeholders Partnership; Geopark Tourism Planning; Koja Cliff Park AbstrakObjek wisata Tebing Koja memiliki daya tarik geowisata yang memikat wisatawan dan dapat memberikan rasa ingin tahu seseorang karena memiliki sebutan lain yaitu “Kandang Godzilla” dan letaknya berada di dalam perdesaan di Kabupaten Tangerang. Tebing Koja memiliki keunikan tersendiri, yaitu bentuk tebingnya yang menjulang tinggi secara terpisah seperti bentukkan pada zaman purba akibat dari hasil penambangan pasir/kapur yang dilakukan sebelum dibukanya untuk umum pariwisata ini. Tebing Koja menjadi sangat penting yang dapat menjadi penunjang ekonomi bagi masyarakat sekitar yang ingin mengembangkan objek wisata tersebut. Namun, partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok masyarakat hanyalah mereka yang tinggal di sekitaran Tebing Koja. Masyarakat lain maupun masyarakat Desa Cikuya masih acuh tak acuh terhadap adanya objek wisata Tebing Koja yang dapat memberikan keuntungan dalam perekonomian mereka. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk partisipatif pada masyarakat atau kelompok dalam pengelolaan objek wisata Tebing Koja di Desa Cikuya agar menjadikan pariwisata berkelanjutan. Konsep pariwisata berkelanjutan diterapkan dalam perencanaan pengelolaannya agar selalu berkesinambungan di kemudian hari dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis yang menggunakan pendeksripsian partisipatif dalam pengelolaan objek wisata Tebing Koja. Peneliti menggunakan berbagai sumber data untuk diteliti, menguraikan dan menjelaskannya secara komperhensif dari berbagai aspek dari individu, kelompok, organisasi, peristiwa secara sistematik. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, in-depth interview, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata, konsep pengelolaan berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT) dan faktor-faktor penghambatnya. 
PERENCANAAN KAWASAN WISATA GUNUNG CABE, KABUPATEN BOGOR Muhamad Shidqi Shadiqin; Suryono Herlambang; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8879

Abstract

Gunung Cabe Tourism Area is one of the tourism areas owned by Perhutani KPH Bogor and managed by LMDH Bina Lestari. Gunung Cabe Tourism Area is located in Cikuda Village, Parungpanjang District, Bogor Regency, and has an area of 14 ha. This tourist area has a characteristic that is the natural scenery from the top of Mount Chili with rock view so that many visitors come to the Mount Cabe Tourism Area, besides that many visitors come to this tourist area to practice motocross. This Mount Cabe Tourism Area has the potential of its natural beauty, and the area has the potential for motocross communities to do the exercises. But in this tourist area is still lacking of facilities, infrastructure, and tourist facilities so that the potential that exists in the area of this area becomes less visible. The author conducted several analyzes such as site and site analysis, tourist attraction analysis, tourism concept analysis, best practice analysis, and analysis of spatial requirements so as to produce proposals and Planning for the Gunung Cabe Tourism Area planned with the concept of geotourism. Keywords: Geotourism; Gunung Cabe Tourism Area; Planning; Tourism Potential Abstrak Kawasan Wisata Gunung Cabe merupakan salah satu kawasan wisata yang dimiliki oleh Perhutani KPH Bogor dan dikelola oleh LMDH Bina Lestari. Kawasan Wisata Gunung Cabe terletak di Desa Cikuda, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, dan memilik luas 14 ha. Kawasan wisata ini memiliki ciri khas yaitu pemandangan alam dari atas Puncak Gunung Cabe dengan view bebatuan sehingga pengunjung banyak yang mendatangi Kawasan Wisata Gunung Cabe, selain itu banyak pengunjung yang datang ke kawasan wisata ini untuk berlatih motocross. Kawasan Wisata Gunung Cabe ini memiliki potensi keindahan alamnya, dan kawasan memiliki potensi untuk para komunitas motocross untuk melakukan latihan. Namun pada kawasan wisata ini masih kekurangan dari sarana, prasrana, dan fasilitas wisata sehingga potensi yang ada di area kawasan ini menjadi kurang terlihat. penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis lokasi dan tapak, analisis daya tarik wisata, analisis konsep wisata, analisis best practice, dan analisis kebutuhan ruang sehingga menghasilkan usulan dan Perencanaan Kawasan Wisata Gunung Cabe yang direncanakan dengan konsep geowisata.  
TAMAN SELUNCUR INTERAKTIF SETIABUDI Stefanny Makmur
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6853

Abstract

Duncan M. Laren and Julian Agyeman stated in their writings on 'sociocultural' which is a human nature that occurs everywhere but now society is gradually divided when it comes to public commercial knowledge and the rapidly developing economic as well as technological aspects. Various trends related to commercial matters are slowly creating destabilization and fragmentation of identity in some societies, as there are class classifications formed among them. Of the various opportunities that exist in a city, sometimes misuse that focuses on economic interest, as a result the interests of the community are ruled out because the available spaces are intended to be commercial interests that privatize public services and utilize land values by means of gentrification. A Third Place that provides a series of activities is one of the architectural responses in the development of an open society. Through the high appreciation of the community for sports and culinary as an attraction that is in accordance with the characteristics of the area, the program offered is the incorporation and development of basic activities. This project is expected to support the cultivation of skateboarding activities and similar activities such as cycling, rollerblading, and basic types of sports that can be followed by everyone, taking from the category of skating, this project promotes a dry ski program, where this program has potential in the region. Restraining the methodology of activity typology and trans-programming as well as the source of the concepts presented by Edward T. White, the project with flexible layout design creates removable dry skiing which is a dominant part of the third place program to build active communities in locations with high potential with a strong TOD system.Abstrak Duncan M. Laren dan Julian Agyeman mengatakan dalam karya penulisannya mengenai ‘sosiokultural’ yang merupakan sifat dasar manusia terjadi di mana saja namun kini semakin lama masyarakat mengalami perpecahan ketika mengenal komersial publik dan aspek ekonomi serta teknologi yang berkembang pesat. Berbagai tren yang terkait dengan hal-hal komersial perlahan menciptakan destabilisasi dan fragmentasi akan identitas pada sebagian masyarakat, maka terdapat klasifikasi kelas yang terbentuk diantaranya. Dari berbagai kesempatan yang ada dalam sebuah kota, terkadang terjadinya kesalahgunaan yang berfokuskan pada ketertarikan ekonomi, alhasil kepentingan masyarakat dikesampingkan akibat ruang-ruang yang tersedia diperuntukan menjadi commercial interest yang memprivatisasi layanan publik dan memanfaatkan value tanah dengan cara gentrifikasi. Sebuah Third place yang menyediakan serangkaian aktivitas merupakan salah satu tanggapan arsitektural dalam pembangunan masyarakat yang terbuka. Melalui apresiasi warga yang tinggi terhadap olah raga dan kuliner sebagai daya tarik yang sesuai dengan karakteristik kawasan, program yang ditawarkan ialah penggabungan dan pengembangan kegiatan dasar. Proyek ini diharapkan mendukung pembudidayaan akan kegiatan skateboard dan aktivitas serupa seperti bersepeda, sepatu roda, serta jenis olah raga basic yang dapat diikuti oleh semua orang, mengambil dari kategori olah raga seluncur, proyek ini mengangkat program dry ski, di mana program ini memiliki potensi dalam kawasan tersebut. Mengendalkan metode tipologi kegiatan dan trans-programming serta sumber konsep yang dekemukakan oleh Edward T. White, proyek dengan desain layout flexible menciptakan removable Dry ski yang menjadi bagian dominan dalam program third place untuk membangun masyarakat aktif pada lokasi yang sangat berpotensi dengan sistem TOD yang kuat. 
PONDOK PEDULI ANAK JALANAN Lavia Lavia; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10902

Abstract

The condition of a child who does not have parents or a guide in life will be difficult to develop and grow well. It takes the right place for children to study together regardless of race, economy, and other problems. A place that becomes a home for children to learn and play together with the right people and understand very well about children's problems. Even parents always hope that their children can grow up to be children who have good and healthy personalities. But of course parents themselves are not perfect creatures who can teach it all. Because humans have their own skills and talents. Respectively Even having parents, there is no guarantee that parents really understand the child's condition. Very often parents do not understand or even pay less attention which of course affects the child's growth and development. Because humans naturally need other people to be role models or examples in their life. One solution that can address this problem is by designing a halfway house for street children that has appropriate facilities for child development, is environmentally friendly, and is located close to where street children are. Street children generally earn money on streets close to public transportation locations. some street children have been handled by an orphanage. However, the facilities and the number of orphanages are not proportional to the number of street children. So that not all street children can be handled properly. Designs are made not only for theoretical learning but also for developing other types of children's intelligence. The process of form and space is made according to the needs that will be needed by children in terms of health, hobby distribution, social interaction, and education. So that children can feel learning is not just a theory but can also be channeled into other forms of activity. Keywords: develop and grow well; house for street children; personalitites AbstrakKondisi anak yang tidak memiliki orangtua maupun penuntun dalam hidupnya akan sulit untuk berkembang dan tumbuh dengan baik. Diperlukan tempat yang tepat untuk anak dapat belajar bersama tanpa memandang ras, ekonomi, dan masalah lainnya. Tempat yang menjadi rumah untuk anak belajar dan bermain bersama dengan orang yang tepat dan paham betul tentang persoalan anak.  Orangtua sekalipun selalu berharap anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian baik dan sehat. Tetapi tentunya orangtua sendiri bukan mahkluk sempuran yang dapat mengajarkan itu semua. Karena manusia memiliki keahlian dan bakat masing – masing. Bahkan memiliki orangtua sekalipun tidak ada jaminan orangtua mengerti betul tentang kondisi anak. Sering sekali orangtua kurang memahami atau bahkan kurang memberikan perhatian yang tentu saja berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Karena sewajarnya manusia memerlukan orang lain untuk menjadi panutan atau contoh dalam hidupnya. Salah satu solusi yang dapat menangani masalah tersebut dengan merancang rumah singgah untuk anak jalanan yang memiliki fasilitas yang sesuai untuk perkembangan anak ,ramah lingkungaan, serta letaknya dekat dengan dimana anak jalanan berada. Anak jalanan pada umumnya mencari uang dijalan berdekatan dengan lokasi transpotasi umum. beberapa anak jalanan sudah di tangani oleh panti asuhan. Akan tetapi, fasilitas serta jumlah panti asuhan tidak sebanding dengan jumlah anak jalanan. Sehingga tidak semua anak jalanan dapat tertangani dengan baik. Rancangan dibuat tidak hanya untuk belajar secara teori melainkan mengembangkan jenis kecerdasaaan anak lainnya. Proses bentuk dan ruang dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan yang  akan dibutuhkan anak dari segi kesehatan, penyaluran hobi, interaksi sosial, dan edukasi.  Sehingga anak dapat merasakan belajar tidak hanya sekedar teori akan tetapi juga dapat disalurkan dalam bentuk aktivitas lainnya. 
GALERI SENI TIPOGRAFI Tan Hendry Tanamas; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3956

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman, seni menjadi sebuah hal yang semakin dibutuhkan kehadirannya dalam kehidupan masyarakat. Di zaman sekarang ini, penggunaan seni dalam kehidupan sehari-hari seperti pada iklan, film, dan lainnya semakin nyata. Salah satu seni yang berkembang dengan pesat di Kota Jakarta dan Indonesia adalah seni typography. Perkembangan komunitas typography yang semakin luas dan tidak adanya wadah beraktivitas bagi komunitas ini menjadi aspek yang harus dipenuhi oleh sebuah kota Jakarta sebagai kota metropolis. Saat ini belum ada bangunan arsitektur yang bertemekan typography  di Jakarta dan bahkan di dunia. Dengan melihat minat typography yang terus berkembang pesat maka ini menjadi kesempatan bagi Jakarta untuk menyediakan sebuah ruang wisata typography bertemakan Architourism yang dapat menjadi pendongkrak kepariwisataan Jakarta dan Indonesia tidak hanya dalam skala dalam negeri tapi juga internasional.
FASILITAS REKREASI INTERAKTIF TANAMAN HIAS DI KEDOYA UTARA Matthew Alexander
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8527

Abstract

Urban life especially Jakarta is inseparable from daily activities such as work, school, etc. Routines that are carried out repeatedly cause people to become bored and stressed which  affects their performance, therefore it is important to have activities like entertainment to relieve fatigue, and stress. In North Kedoya interaction between neighbors is very lacking because of reluctance and feel strange, lack of joint activities and places to interact causing contact between people become less, on the other hand kedoya district has potential that many ornamental plants sold and traded and cultivated, these plants become a special attraction in the area so Interactive Ornamental Plants Facility Project  proposed to be able to accommodate the needs of local residents, and become a place for all people to meet and interact with each other by playing together while reviving the identity of ornamental plants in the region. Project programs such as multipurpose room, gallery of ornamental plants, ornamental plant installations, ornamental plant gardens, board games and tables games, dining areas integrated with ornamental plants, and virtual park. The design process uses phenomenological methods and biophilic design concepts by using 3 biophilic main principles Nature In Space, Natural Analogue, and Nature Of Space and using ornamental plants as its elements. It is hoped that this project can become a node to meet and interact not only with others but also with nature which can have a positive impact on health, comfort and provide entertainment for the residents of North Kedoya. Keywords: ornamental plants;  interaction;  interactive; north kedoya; recreation Abstrak Kehidupan perkotaan khususnya Jakarta tidak lepas dari kegiatan sehari - hari seperti bekerja, bersekolah, dan lain - lain. Rutinitas yang dilakukan berulang kali menyebabkan orang merasa jenuh dan stress yang kemudian berpengaruh bagi kinerja seseorang, maka dari itu penting adanya aktivitas yang bersifat hiburan untuk melepas penat, dan stress. Di Kedoya Utara interaksi antar sesama tetangga sangatlah kurang dikarenakan rasa enggan dan asing, kurang adanya aktivitas bersama dan tempat untuk berinteraksi menyebabkan kontak antar sesama menjadi kurang, di satu sisi kawasan kedoya ini sendiri memiliki potensi yaitu banyaknya tanaman hias yang di perjual belikan dan dibudidayakan, tanaman – tanaman ini menjadi daya tarik tersendiri di kedoya sehingga diusulkan Proyek Fasilitas Rekreasi Interaktif Tanaman Hias menjadi tempat untuk dapat mewadahi kebutuhan warga setempat khususnya yang bersifat hiburan dan menjadi tempat bagi semua kalangan untuk bertemu dan saling berinteraksi dengan bermain bersama sekaligus menghidupkan identitas tanaman hias pada kawasan. Program proyek berupa ruang serba guna, gallery tanaman hias kering, instalasi tanaman hias, taman tanaman hias, area permainan papan dan meja, tempat makan yang terintegrasi dengan tanaman hias, dan taman virtual. Proses perancangan menggunakan metode fenomenologi dan konsep desain biofilik dengan mengambil 3 prinsip utamanya yaitu Nature In Space, Natural Analogue, dan Nature Of Space dan menggunakan tanaman hias sebagai elemennya. Diharapkan proyek ini dapat menjadi titik simpul untuk bertemu dan berinteraksi tidak hanya dengan sesama namun juga dengan alam yang dapat berdampak positif bagi kesehatan, kenyamanan dan memberikan hiburan bagi warga Kedoya Utara.

Page 13 of 134 | Total Record : 1332