cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG KERJA DAN RELAKSASI BIOFILIK MASA DEPAN DI TUGU UTARA Yoseph Michael Chandra; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10776

Abstract

In dwelling, humans will always adapt to all changes that occur to stay alive and exist. With the COVID-19 pandemic, there have been many changes, one of which is in the way we work. Responding from WFH (Work From Home) to the COVID-19 Pandemic and Future Work Trends (remote working) which cause various problems (anxiety, loss of restroom, etc.) and the need to work, there is a need for projects that can accommodate Work Near Home, Relaxation, Social Interaction, and Connection to Nature. The Project consists of two programs, namely active and passive leisure programs, and co-working. The project also responds primarily to the millennial generation and Gen Z workers. Where it is hoped that these two programs can maintain a work-life balance and balance between the realm, natural, and digital world. For the applied design concept, the project has a cluster typology. Each cluster consists of several masses, varied programs, and each space becomes its mass. The Biophilic concept is also applied to design. The first aspect is Visual & Non-visual Connection to Nature, by presenting vegetation elements around the site and around the mass of the building, which aims to create a new work experience and relaxation. The second aspect is Biomorphic Form & Pattern, where the patterns formed are representations of living things. The building masses is inspired by the leaves of the lotus plant which influence the shape, size, and placement of the masses. The water element is added to create a floating impression like a lotus. So that with the creation of this project, it can fulfill dwelling in work and relaxation. Keywords: Bio-Philic; Cluster; COVID-19; Work Near Home Abstrak Dalam ber-dwelling, manusia akan selalu beradaptasi terhadap segala perubahan yang terjadi agar dapat tetap hidup dan ada (exist). Dengan adanya Pandemi COVID-19, menciptakan banyak perubahan, salah satunya terhadap cara kita bekerja. Merespon dari WFH (Work From Home) akan Pandemi COVID-19 dan Trend Bekerja Masa Depan (remote working) yang menimbulkan berbagai masalah (anxiety, kehilangan ruang istirahat, dll) dan kebutuhan akan bekerja, maka muncul kebutuhan akan proyek yang dapat mewadahi Work Near Home Relaksasi, Interaksi Sosial serta Koneksi Ke Alam. Proyek ini terdiri atas dua program yaitu program Leisure aktif dan pasif serta Co-working. Proyek pun merespon terutama terhadap pekerja generasi milenial dan gen Z. Kedua program tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan work life balance serta keseimbangan antara dunia realita, alam dan digital. Untuk konsep desain yang diterapkan, proyek memiliki tipologi kluster. Setiap kluster terdiri atas beberapa massa, program yang bervariasi dan setiap ruang menjadi massa sendiri. Konsep Biofilik juga diterapkan pada rancangan. Aspek pertama adalah Visual & Non visual Connection to Nature, dengan menghadirkan elemen vegetasi pada sekeliling tapak dan sekitar massa bangunan, yang bertujuan menciptakan pengalaman kerja dan relaksasi baru. Aspek kedua adalah Biomorphic Form & Pattern, melalui pola-pola yang terbentuk sebagai representasi dari makhluk hidup. Massa Bangunan terinspirasi dari daun tanaman teratai yang mempengaruhi bentuk, ukuran dan peletakan massa. Elemen air pun ditambahkan untuk menciptakan kesan mengambang layaknya teratai. Sehingga dengan terciptanya proyek ini, dapat memenuhi dwelling dalam bekerja dan relaksasi.
PUSAT PERTUNJUKAN DAN HIBURAN ANAK DI JAKARTA GARDEN CITY Beatrix Adeline
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3981

Abstract

Maraknya isu muatan media yang tidak mendidik bagi anak-anak menginspirasi laporan akhir perancangan “Pusat Pertunjukan Anak dan Hiburan di Jakarta Garden City”. Penelitian menggunakan metode pengamatan langsung dan tidak langsung untuk mengumpulkan data yang kemudian diolah dengan metode deduktif. Penulis merasa bahwa solusi tepat untuk menangani permasalahan tersebut adalah membangun wisata hiburan bagi keluarga dengan mengusung konsep atraksi arsitektur (Architectural Tourism), yakni penggunaan desain arsitek sebagai daya tarik wisata. Rancangan harus memiliki faktor atraksi, aksesibilitas, dan fasilitas untuk menciptakan lingkungan nyaman bagi pengunjung. Pemilihan lokasi jatuh pada Jakarta Garden City, Cakung (Jakarta Timur). Rancangan “Children’s Perfomance & Entertaiment Center” dirancang sebagai pusat rekreasi keluarga yang menyajikan konsep bermain sambil belajar bagi anak-anak dalam bidang seni musik dan tari dengan kisaran usia 6-12 tahun. Penelitian berfokus pada fitur alam lokasi, desain akustika, jenis kegiatan dan pertunjukan yang digelar, serta memberi perhatian khusus pada pola perilaku anak usia dini yang dapat diakomodasi rancangan arsitektur. Pusat pertunjukan ini diharapkan dapat menjadi pusat wisata dan rekreasi Jakarta, baik bagi warga sekitar maupun wisatawan. Dampak yang diharapkan adalah atraksi arsitektur ini mengurangi kecenderungan anak usia 6-12 tahun untuk mengonsumsi tayangan negatif di media.
TEMPAT KETIGA BERKONSEP RUANG TAMU BAGI KAWASAN PENJARINGAN DENGAN EKSTENSI SKYWALK SEBAGAI PRASARANA PENDUKUNG MOBILITAS PEDESTRIAN PADA SKALA LINGKUNGAN Daniel Yohanes; Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8625

Abstract

A third place functions as a meeting platform for people outside their daily routine in homes, working places, and can enhance the life quality of urban society, especially during the increasingly individualist era due to the growth of technology. Penjaringan District has one of the busiest nodes in Jakarta City, and consists of housing (first place) and offices (second place) with relatively large and equal percentage, and with the positions which allows permeability. The design site which is located between Pluit and Penjaringan Subdistricts, is chosen based on the performed district investigation. Nearby facilities have the potential to be improved, such as Putra Putri Park, Penjaringan Busway Station, and Pluit Junction Mall.  A skywalk is introduced to connect the facilites by acting as a platform to bring mobility from and to Penjaringan Busway Station to vitalize Pluit Junction Mall and Putra Putri Park which in their existing condition did not function as intended. The designed third place which is connected with the skywalk becomes one with the formed connectivity. Music is the chosen theme for the third place as a binder of the people with their differing backgrounds. The proxemics approach and the Pattern Language method are used to shape the spaces to encourage social interaction. The vision is to make the third place to be “a large living room” for Penjaringan District. The third place which provides a freedom of expression and encourages visitors to bring and play music instruments is hoped to act as an interaction and activity platform for both the locals and outsiders. Keywords: freedom of expression; living room; music; skywalk; third place AbstrakThird place berperan sebagai wadah berkumpulnya warga di luar keseharian mereka tinggal dan bekerja, dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat perkotaan, terutama di dalam era yang semakin individualis sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Kawasan Penjaringan memiliki salah satu noda teramai di Kota Jakarta, dan terdiri dari perumahan (tempat pertama) dan perkantoran (tempat kedua) dengan presentase yang relatif besar dan seimbang, dengan posisi yang memungkinkan adanya permeabilitas di antara keduanya. Tapak perancangan yang terletak di perbatasan Kelurahan Pluit dan Kelurahan Penjaringan, terpilih berdasarkan investigasi kawasan yang dilakukan. Beberapa  fasilitas terdekat memiliki potensi peningkatan kualitas, diantaranya Taman Putra Putri, Halte Transjakarta Penjaringan, dan Mal Pluit Junction. Sebuah skywalk dihadirkan untuk mengkoneksikan fasilitas-fasilitas tersebut dengan menjadi wadah yang membawa pergerakan dari dan menuju ke Halte Transjakarta Penjaringan untuk menghidupkan Mal Pluit Junction serta Taman Putra Putri yang pada kondisi eksisting tidak berfungsi secara maksimal. Tempat ketiga yang dirancang terhubung dengan skywalk ini dan menjadi sebuah kesatuan bagi konektivitas yang terbentuk. Musik merupakan tema terpilih sebagai pengikat orang-orang yang beragam latar belakangnya. Teori proksemik dan metode Bahasa Pola digunakan untuk menciptakan keruangan yang mendorong terjadinya interaksi sosial. Visi proyek ini adalah untuk menjadikan tempat ketiga ini “sebuah ruang tamu besar” bagi Kawasan Penjaringan. Tempat ketiga yang memberikan kebebasan ekspresi dan mengundang pengunjung untuk membawa dan memainkan instrumen musik ini diharapkan dapat berperan sebagai wadah interaksi dan kegiatan bagi warga lokal ataupun pengunjung dari luar kawasan. 
PENATAAN KAWASAN WISATA PANTAI PANGUMBAHAN DENGAN KONSEP EKOWISATA Stanley Waworuntu; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4600

Abstract

Pangumbahan Beach is one of the beaches located in the south of Java Island, precisely in Pangumbahan Village, Ciracap District, Sukabumi Regency, West Java Province. This beach is the area of planning and development of marine tourism within RIPPARDA (Master Plan for Regional Tourism Development) based on District Regulation. Sukabumi No. 10 of 2010 article 49 and has a uniqueness that is not necessarily owned by other beaches such as attraction to release hatchlings, the character of waves that are suitable for surfing, wave character at some beach points suitable for surfing, good coral ecosystems, activities of the local community in Pangumbahan Village namely livestock, agriculture and fisheries with the majority as fishermen because of the extensive coastline that connects directly to the Indian Ocean. However, the potential and attractiveness of Pangumbahan sea turtle beach also needs the provision of facilities and accommodation to support the ecotourism area so that if it is laid out it will become an area with more attraction. The author conducts several analyzes such as policy analysis, location analysis, site analysis, geopark and ecotourism component analysis, best practice analysis, analysis of tourism activities, perception and preference analysis and space requirements analysis to produce a proposal or plan for Pangumbahan Beach Tourism Area with Ecotourism Concept. AbstrakPantai Pangumbahan merupakan salah satu pantai yang terletak di selatan Pulau Jawa,, tepatnya di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pantai ini merupakan wilayah perencanaan dan pembangunan wisata bahari di dalam RIPPARDA (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah) berdasarkan Perda Kab. Sukabumi No. 10 Tahun 2010 pasal 49 serta memiliki keunikan yang belum tentu dimiliki oleh pantai lain seperti atraksi pelepasan tukik, karakter ombak yang sesuai dengan olahraga surfing, Karakter ombak di beberapa titik pantai sesuai untuk olahraga Surfing, ekosistem terumbu karang yang baik, kegiatan masyarakat lokal Desa Pangumbahan yakni kegiatan peternakan, pertanian dan perikanan dengan mayoritas sebagai nelayan karena garis pantai yang luas yang menghubungkan langsung ke Samudra Hindia. Namun potensi dan daya tarik yang dimiliki pantai penyu Pangumbahan ini juga perlu adanya penyediaan fasilitas dan akomodasi penunjang kawasan ekowisata sehingga jika ditata akan menjadi kawasan dengan daya tarik lebih. Penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis kebijakan, analisis lokasi, analisis tapak, analisis komponen geopark dan ekowisata, analisis best practice, analisis kegiatan wisata, analisis persepsi dan preferensi dan analisis kebutuhan ruang sehingga menghasilkan usulan atau rencana penataan Kawasan Wisata Pantai Pangumbahan Dengan Konsep Ekowisata.
KOPERASI PEKERJA FILM INDONESIA SEBAGAI WADAH KERJA SAMA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DAN PELUANG INDUSTRI PERFILMAN INDONESIA DI ERA MILENIAL Angela Angela; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4428

Abstract

These past four years marks an era of escalation for the Indonesian film industry because of milenials’ consumptive behaviour toward entertainment. Even though this industry has steady growth and a lot of potential to evolve, Indonesian film industry still faces challenges and of course, opportunities at the same time. The challenges and opportunities faced by this industry need to then be facilitated with cooperatives that compatible with the characteristics of Indonesian milenials; confident, creative, and connected. Indonesian Film Workers Cooperative enable activities that support the education, production, distribution and film exhibition. This is translated into the form of cooperative office, gallery, library, seminar room, classrooms, multi-function hall, amphitheater, souvenir shops and café & bar. Uniting Indonesia film makers by equipping them with knowledge and expertise, and opening opportunities for cooperation are the main focuses. All this is agreed upon and supervised concurrently; all capital, profits and losses become shared responsibilities. The design method used for this project is typology. The problem of circulation between pedestrians and vehicles is answered through the concept of permeability. Presenting activities that embrace the public are presented along the flow of public circulation. The chosen site, Taman Ismail Marzuki, is a 6,525m2 land space with a total building area of 18,332m2 located in Cikini, Central Jakarta. The presence of Indonesian Film Workers Cooperative brews hope that the film industry in Indonesia will succeed throughout the nation by upholding cooperation and togetherness. AbstrakEra kebangkitan industri perfilman Indonesia empat tahun belakangan digerakkan oleh prilaku konsumtif milenial terhadap hiburan. Sekalipun industri ini memiliki konsistensi pertumbuhan dan potensi berkembang yang sangat besar ke depannya, tantangan dan peluang tetap mewarnai perjalanan industri perfilman Indonesia. Tantangan dan peluang yang dihadapi oleh industri ini perlu difasilitasi dengan wadah kerjasama berupa koperasi yang cocok dengan sifat milenial Indonesia yaitu confidence, creative, dan connected. Dalam menjalani kegiatan berkoperasi, Koperasi Pekerja Film Indonesia mewadahi, memfasilitasi, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan aspek pendidikan, produksi, distribusi, dan eksibisi film. Hal ini diterjemahkan ke dalam program ruang berupa kantor koperasi, galeri, perpustakaan, ruang seminar, kelas, multi-function hall, amphiteater, toko souvenir dan café & bar. Memadukan derap para film makers se-Indonesia dengan memperlengkapi mereka dengan pengetahuan dan keahlian yang mumpuni dan membuka peluang kerjasama sebesar-besarnya menjadi fokus utama. Segala kegiatan disepakati dan diawasi bersama. Segala modal, keuntungan dan kerugian pun menjadi tanggung jawab bersama. Metode perancangan yang digunakan adalah tipologi. Lokasi tapak terpilih adalah: Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Permasalahan crossing sirkulasi antara pejalan kaki dan kendaraan dijawab melalui konsep permeabilitas. Menghadirkan aktivitas yang merangkul masyarakat umum pun turut dihadirkan di sepanjang alur sirkulasi publik yang ada di bangunan. Total luas lahan adalah 6,525m² dan total luas bangunan adalah 18,332m². Dengan keberadaan Koperasi Pekerja Film Indonesia, diharapkan terwujud industri perfilman Indonesia yang berjaya di negara sendiri dengan menjunjung kerjasama dan kebersamaan.
RENCANA PENATAAN KAWASAN DESTINASI WISATA PANTAI LASIANA KOTA KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Misella Maria Fransiska Dampung; Suryono Herlambang; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8867

Abstract

Lasiana Beach is one of the beaches in Lasiana Sub-district, Kelapa Lima District, Kupang City, East Nusa Tenggara Province. The selection of the Lasiana Beach area is because this area is a tourist area that has become an icon of Kupang City with natural beauty (sea and beach) and agro-tourism (palm trees). As a superior beach, the needs of supporting tourist activities do not match the needs and desires of visitors. This study aims to plan the arrangement of tourist areas that are in accordance with the physical, social and cultural, and economic potential, as well as the needs and desires of visitors. The method used in this research is quantitative and qualitative methods. Has 5 (five) planning concepts, namely first: disaster mitigation (prone to tsunamis and tidal waves), second: environmental preservation (agro-tourism: palm trees and mangroves), third: coastal tourism development (division of coastal and cultural tourism zones), fourth: integration and connectivity within the area (circulation of vehicles and visitors), and fifth: the development of strategic coastal tourism areas on the north coast of Kupang City. With the arrangement will produce a better form of Lasiana Beach. Some of the analyzes conducted are policy / regulatory analysis, environmental carrying capacity analysis, location analysis, site analysis, competitiveness analysis, visitor perception analysis, best practice analysis, analysis of the attractiveness of cultural tourism in the city of Kupang, and analysis of space requirements. Keywords: beach tourism area; beach sports activities and cultural art festival/event; planning AbstrakPantai Lasiana adalah salah satu pantai di Kelurahan Lasiana, kecamatan Kelapa Lima, kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemilihan kawasan Pantai Lasiana dikarenakan kawasan ini merupakan kawasan wisata yang menjadi icon Kota Kupang dengan keindahan alam (laut dan pantai) dan agrowisata (pohon lontar). Sebagai pantai unggulan, kebutuhan penunjang aktivitas wisata belum sesuai kebutuhan dan keinginan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk perencanaan penataan kawasan wisata yang sesuai dengan potensi secara fisik, sosial dan budaya, dan ekonomi, serta kebutuhan dan keinginan pengunjung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Memiliki 5(lima) konsep perencanaan yaitu pertama: mitigasi bencana ( rawan bencana tsunami dan gelombang pasang), kedua: pelestarian lingkungan (agrowisata: pohon lontar dan mangrove), ketiga: pengembangan pariwisata pantai (pembagian zona wisata pantai dan budaya), keempat: integrasi dan konektivitas dalam kawasan (sirkulasi kendaraan dan pengunjung), dan kelima: pengembangan kawasan strategis wisata pantai di pesisir Utara Kota Kupang. Dengan adanya penataan akan menghasilkan wujud Pantai Lasiana yang lebih baik. Beberapa analisis yang dilakukan yaitu analisis kebijakan/regulasi, analisis daya dukung lingkungan, analisis lokasi, analisis tapak, analisis competitiveness, analisis persepsi pengunjung, analisis best practice, analisis daya tarik wisata budaya di Kota Kupang, dan analisis kebutuhan ruang.
TAMAN VERTIKAL DI MATRAMAN Octaviani Morgalita; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6850

Abstract

With the rising of number of population and its business, transportation and mobility also rises. Jakarta has the highest number of vehicles and the most polluted metropolitan , as the main problem for Jakarta is the degradation of the environment quality caused by air pollution. Beside poor air quality also affects the physical quality and the population’s psychic which are lung problems, and chronic stress. So, an in-between space is needed as a neutralizer with the purpose of balancing the thinking patters and human health. This neutralizer could be achieved with Matraman Vertical Park. With a total area of about 5.000 m², this place gives humans to “Stop” and “Think” and react positively about the surrounding environment. The site is located between the borders of Jakarta Pusat and Jakarta Timur, specifically, at the intersection of Jl. Salemba Raya and Jl. Pramuka Raya. Matraman Vertical Park is an botanical–garden-integrated public and social space which reacts to the degradation of environment quality in Jakarta. Matraman Vertical Park applies the concept of Third Place which gives human the space to socialize and provide an entertainment that contribute positively to the city environment. The program of this building is open to public and with a purpose for the development of human and the environment. An Interaction space is presented with the concept of morphosis environment to the building’s spaction for visitors. Abstrak Aktivitas transportasi dan mobilitas terus bertambah seiring dengan meningkatnya kesibukan dan pertumbuhan penduduk di kota Jakarta. Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah kendaraan dan polusi udara yang tinggi, sehingga permasalahan utama yang timbul adalah penurunan degradasi kualitas lingkungan akibat pencemaran udara. Selain kualitas udara yang buruk juga berdampak pada kualitas fisik dan psikis penduduk yaitu berdampak pada gangguan paru – paru dan chronic stress. Maka dibutuhkannya sebuah ruang antara yang menjadi penetralisir dengan tujuan menyeimbangkan pola pikir dan kesehatan jasmani bagi manusia. Hal tersebut direalisasikan dengan dibuatnya bangunan “Matraman Vertical Park”, dengan luas ± 5.000 m² yang memberikan wadah bagi manusia untuk “Stop” dan “Think”, serta memberikan reaksi positif terhadap lingkungan sekitar. Lokasi bangunan berada di perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang terletak di persimpangan Jalan Salemba Raya dan Jalan Pramuka Raya. Matraman Vertical Park merupakan ruang publik dan sosial berintegrasi dengan botanical garden yang menjawab dan memperbaiki isu penuruan kualitas lingkungan di kota Jakarta. Matraman Vertical Park menggunakan konsep Third Place yang menyediakan ruang bagi manusia untuk bersosialisasi dan memberikan penghiburan yang berkontribusi positif terhadap lingkungan perkotaan. Di dalam bangunan ini terdapat program yang cenderung ditujukan untuk public dan perkembangan bagi manusia maupun lingkungan, dengan konsep morphosis environment pada tata ruang yang menghadirkan interaction space bagi pengunjung kepada lingkungan sekitar.
SANTA.Y - SEBUAH PASAR TRADISIONAL BARU Amanda Ineza Gandasasmita; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10828

Abstract

The Covid-19 pandemic case, which until now has no solution, causes us to live in the new normal era. But this new normal era has not completely prevented the spread of Covid-19. Many areas are feared to become new clusters of deployment and one of them is traditional markets. For millions of people in Indonesia, traditional markets are on average the first place to shop for daily necessities, apart from being more affordable than supermarkets, there is an opportunity to bargain on prices. Since the outbreak of the Covid-19 case, the income of traders has decreased because people are afraid to shop at traditional markets for reasons that health and hygiene are not guaranteed. Many new policies in the new normal era have not helped to restore the economy of traders and are also exacerbated by a lack of public understanding Covid-19. Santa modern market is one of the thematic markets which is quite well known, but over time, Santa modern market is starting to be abandoned. Then it is also exacerbated by the influx of pandemic which causes economic losses to its traders. So, this project is trying to make a new face about traditional markets in Indonesia and also presents a solution for the traditional market of the future. With a green concept in buildings and implementing a cross-ventilation system to prevent the spread of Covid-19, this project goals is to “Santa modern market” able to dwell during a pandemic to the future. Keywords: Covid-19; Dwelling; New Normal; Traditional Market Abstrak Kasus pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum ada solusinya menyebabkan kita harus hidup di era new normal. Tetapi era ini belum sepenuhnya dapat mencegah penyebaran Covid-19. Banyak area yang dikhawatirkan akan menjadi cluster baru penyebaran dan salah satunya adalah pasar tradisional. Untuk jutaan orang di Indonesia, pasar tradisional rata-rata menjadi tempat pertama untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, selain karena harganya yang lebih terjangkau dibanding pasar swalayan, ada keesmpatan untuk tawar menawar harga. Semenjak maraknya kasus Covid-19, pendapatan pedagang menurun karena masyarakat takut untuk berbelanja ke pasar tradisional dengan alasan kesehatan dan kebersihan yang belum terjamin. Banyak kebijakan baru di era new normal yang ternyata tidak membantu untuk mengembalikan ekonomi para pedagang dan juga diperparah dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang bahaya Covid-19. Pasar Santa merupakan salah satu pasar tematik yang cukup terkenal tetapi seiring berjalannya waktu, pasar Santa mulai ditinggalkan. Kemudian hal ini juga diperparah dengan masuknya pandemi yang menyebabkan kerugian ekonomi para pedagangnya. Sehingga proyek ini berusaha untuk membuat suatu wajah baru tentang pasar tradisional di Indonesia dan juga menghadirkan suatu solusi untuk pasar tradisional di masa depan. Dengan konsep hijau di dalam bangunan dan menerapkan sistem cross-ventilation­ untuk mencegah penyebaran Covid-19 bertujuan untuk menjadikan pasar Santa untuk dapat ber-dwelling di tengah pandemi hingga masa depan.
TEATER DAN PUSAT INFORMASI WISATA Marisha Nelwan; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3951

Abstract

Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia dan dapat pula menjadi destinasi wisata  bagi turis lokal maupun interlokal. Tempat wisata yang paling diminati oleh turis adalah kota tua. Kota tua memiliki sejarah yang menarik dan bangunan-bangunan tua yang indah. Oleh karena itu Mentri Pariwisata menjadikan kota tua sebagiai pusat wisata bagi kota Jakarta. Untuk menunjang program ini diharapkan tidak hanya terjadi di kota Jakarta saja mengingat Indonesia berupa Negara maritim yang memiliki kawasan-kawasan wisata yang menarik sebagi defisa negara. Untuk itu mendirikan suatu proyek yang menyajikan pertunjukan secara visual dan pengetahuan dalam galeri serta beraneka ragam kuliner dan aksesoris. Untuk mencapai tujuan, maka dirikan sebuah proyek teater dan  pusat informasi wisata di kota tua, yang diharapkan memudahkan turis-turis untuk memperoleh informasi secara luas.
RUANG KEBUGARAN DI PLUIT Jonea Kane Darmanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6857

Abstract

Urban where life is full of busyness, forcing people to choose to do everything instantly. Problems that arise include the absence of a social life and lifestyle that does not support the quality of public health. According to a Zipjet Company survey, Jakarta is categorized as the most stressful city and has an impact on deteriorating health and quality of life. Open Architecture is an architectural proposal that discusses The Third place or an intermediate space that is expected to serve the needs of modern urban society. Pluit, North Jakarta one of the areas that has a third place character. The location directly adjacent to the first place and second place in PLuit is one of the reasons for site selection, so presenting a third place project here is expected to be a solution to the regional problem. Projects that provide a platform for the community to be able to come entertain themselves for a moment from the busyness or problems they face. Prioritizing sports programs with the intention of increasing interest in health, with the concept of wellness that is also adjusted to the needs of the surrounding community. So that this project becomes a place of fatigue that also supports the improvement of quality of life. With sports, an activity which in its development can be carried out as an entertaining and enjoyable activity, individuals between individuals can also meet and have the same motivation so that it can also create a community that further strengthens social life among surrounding communities. Abstrak Perkotaan dimana kehidupan di penuh kesibukan, memaksa masyarakat memilih untuk melakukan semua hal dengan instan. Permasalahan yang muncul antara lain adalah tidak adanya kehidupan bersosialisasi dan  pola hidup yang kurang mendukung kualitas kesehatan masyarakat. Menurut sebuah survey Perusahaan Zipjet (2017), Jakarta masuk dalam kategori kota paling stres dan berdampak pada kemerosotan kesehatan serta kualitas hidup. Open Architecture adalah sebuah proposal arsitektur yang membahasa mengenai The Third place atau ruang antara yang diharapkan mampu melayani kebutuhan masyarakat kota modern. Pluit, Jakarta Utara salah satu daerah yang memiliki karakter third place. Lokasi  yang berbatasan langsung dengan first place dan second place di PLuit ini menjadi salah satu alasan pemilihan tapak, Sehingga menghadirkan proyek third place disini diharapkan menjadi solusi permasalahan kawasan. Proyek yang memberi wadah bagi masyarakat untuk  bisa datang  menghibur diri sejenak dari kesibukan atau masalah yang di hadapinya. Mengutamakan program olahraga dengan maksud meningkatkan minat terhadap kesehatan, dengan konsep wellness yang di sesuaikan juga dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Sehingga proyek ini menjadi sebuah tempat pelepas penat yang sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup. Dengan adanya olahraga, sebuah kegiatan yang dalam perkembanganya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur dan menyenangkan, individu antar individu juga dapat bertemu dan  memiliki motivasi yang sama sehingga dapat pula tercipta sebuah komunitas yang semakin mempererat kehidupan sosial antar masyarakat sekitar.

Page 12 of 134 | Total Record : 1332