cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUMAH KEBERSAMAAN ANTARA HEWAN DAN MANUSIA Benedikta Jennifer Christanto; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6745

Abstract

People are social beings who need each other. People as social beings cannot live alone and need other living beings to survive. The city is characterized as a place where people live and work and are the center of the economy. Heterogeneous cities and majority of non-agrarian communities cause the community to be individualist. People begin to forget about the true socialization meaning and start building walls with each other. This research aims to reduce the level of individualism in the city community through the role of architectural space as well as pet media for dogs, cats and rabbits. The methods of this study include: first, conducting literary studies, surveying and observing the location and environment surrounding the site and region; The second learns the needs of the surrounding community and the reason society becomes individualist; All three programs that suit the needs of the community with the activity collection so that the objective of the project will be achieved. Through observation, experimentation and based on precedent, it is hoped that we can obtain the criteria of architectural design to suit the needs of the surrounding community, with the main objective of unifying and interpreting the surrounding community so that Fading the sense of individualism by interacting well with the media of the same pet or hobby or craze. AbstrakManusia merupakan mahkhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Manusia sebagai mahkhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan mahkhluk hidup lainnya untuk bertahan hidup. Kota ditandai sebagai  tempat dimana masyarakat tinggal dan bekerja serta merupakan pusat perekonomian. Masyarakat kota yang heterogen dan mayoritas penduduknya bekerja non-agraris menyebabkan masyarakat bersifat individualis. Masyarakat mulai melupakan arti sosialisasi yang sesungguhnya dan mulai membangun dinding antara satu dengan yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi tingkat individualis dalam masyarakat kota melalui peran ruang arsitektur serta media hewan peliharaan baik anjing, kucing maupun kelinci. Metode dari penelitian ini, antara lain: pertama, melakukan studi literatur, survei dan melakukan observasi terhadap lokasi dan lingkungan sekitar tapak dan kawasan. Kedua mempelajari kebutuhan dari masyarakat sekitar dan alasan masyarakat menjadi individualis. Ketiga menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan pendataan aktivitas sehingga diharapkan tujuan dari proyek akan tercapai. Melalui observasi, eksperimen serta berlandaskan dari preseden, diharapkan dapat memperoleh kriteria rancangan arsitektur yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar, dengan tujuan utama untuk menyatukan dan menyetarakan masyarakat sekitar sehingga memudarkan rasa individualis dengan cara berinteraksi baik dengan media berupa hewan peliharaan maupun hobi atau kegemaran yang sama.
PUSAT KULINER BERKELANJUTAN DI PANTAI INDAH KAPUK Giacinta Fabiola; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4455

Abstract

The most fundamental changes in human behavioral pattern is caused by food. These changes happened since Hunter Gatherer period and evolve through Agricultural Revolution period, Industrial Revolution period, and it is still happening now. The main subject of this research is Millennials and it focuses on “How do Millenials Treat Their Food?” issue. This project is located at Pantai Indah Kapuk (PIK) Boulevard, North Jakarta which is an iconic place that serves as a culinary center for all generations. Project site is located between office complex, housing, and commercial area that has high mobility of pedestrians. The purpose of this project is to participate in giving the town the facility that it needs especially the area surrounding project site as linkage between other buildings functions and encouraging a change in Millennials’ eating habits that supports Sustainable Development Goals regarding Zero Hunger, also to preserve local ecological quality through food and plastic waste reduction. This research use Tipology, Pattern Language, Phenomenology and Field Survey research methodologies. The result of this research is designing a building as “Sustainable Food Hub at Pantai Indah Kapuk”. This project consists of 4 main programs which is Restaurant & Café, Growing Field Area, Education Platform, and Sustainable Food Utensils Shop that has a purpose of improving Millennials’ Eating Habits. It also serves as a linkage around project site as a form of project’s contribution and response to the town need for pedestrian lane. AbstrakPerubahan pola perilaku manusia yang paling fundamental disebabkan oleh makanan. Hal tersebut sudah terjadi semenjak masa Hunter Gatherer, Agricultural Revolution, Industrial Revolution dan masa kini. Millennial menjadi subyek utama bahasan dari penelitian ini. Maka fokus isu yang diangkat adalah “Bagaimana Millennial Memperlakukan Makanan?”. Lokasi proyek berada di Jl. Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara yang sudah menjadi ikon sebagai daerah pusat kuliner dari segala kalangan generasi. Lokasi tapak berada di antara perkantoran, perumahan dan komersil yang memiliki pergerakan mobilitas pedestrian yang tinggi setiap harinya. Tujuan dari proyek ini adalah ingin ikut serta dalam memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh kota terutama sekitar tapak proyek sebagai linkage di antara fungsi bangunan lainnya dan mencoba mengubah eating habits generasi Millennial yang lebih mendukung gerakan Sustainable Development Goals perihal Zero Hunger serta dapat menjaga kualitas ekologi setempat dengan cara mengurangi sampah makanan dan plastik. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Tipology, Pattern Language, Phenomenology dan Survey Lapangan. Hasil penelitian yang didapatkan adalah mendesain bangunan sebagai “Pusat Kuliner Berkelanjutan di Pantai Indah Kapuk/ Sustainable Food Hub at Pantai Indah Kapuk”. Proyek ini memiliki 4 program utama yaitu Restaurant & Café, Growing Field Area, Education Platform, & Sustainable Food Utensils Shop yang bertujuan memperbaiki Millennial’s eating habits serta Linkage sebagai bentuk tanggapan proyek terhadap kebutuhan akan jalur pedestrian di sekitar tapak sehingga proyek bisa memberikan kontribusi bagi kota.
PENDEKATAN MUSICARIUM SEBAGAI RUANG PENGHUBUNG KOMUNITAS MUSIK DAN RUANG KOMUNAL DENGAN PENDEKATAN THIRD PLACE Rommy Gunawan; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6854

Abstract

Jakarta as the capital has its own charm so that many migrants from outside the area come for various activities. This causes the density of the city to be one threat to city life. The number of activities makes the city spaces become narrow and also very severe congestion makes the stress level of city residents become high. The routine of the inhabitants of the capital becomes very monotonous, that is, they only carry out work activities, then after that, they immediately return to their homes. This makes humans who were previously social creatures into personal beings because they are in the same environment over and over again, meeting the same people continuously so that the population's monotony is high and stress levels are also increasing. The program carried out is the result of data and field analysis, where the need for recreation in leisure is indispensable, namely a hangout. The type of project that was decided to be designed was a hangout place with a third place approach based on community and the provision of communal spaces as meeting rooms with new people so that the motives would disappear. After research and data searching, the Tanjung Duren area was found to be the location of the 'Musicarium: Connecting Space for Music Communities' as a place for musical entertainment and also a culinary place by presenting communal spaces. The concept of this project is to present spaces that are open to be transparent so that this project becomes an architecture that is comfortable for all people. AbstrakJakarta  sebagai ibukota memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak pendatang dari luar daerah yang datang untuk berbagai aktivitas. Hal ini menyebabkan kepadatan kota menjadi salah satu ancaman bagi kehidupan kota. Banyaknya aktivitas membuat ruang dalam kota menjadi sempit dan juga kemacetan yang sangat parah membuat tingkat stress penduduk kota menjadi tinggi. Rutinitas penduduk ibukota menjadi sangat monoton yaitu hanya melakukan kegiatan kerja kemudian setelah itu maka mereka langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Hal ini membuat manusia yang tadinya sebagai makhluk sosial menjadi makluk yang personal karena berada dilingkup yang sama terus menerus, bertemu orang yang sama terus menerus sehingga kemonotonan penduduk menjadi tinggi dan tingkat stress juga meningkat. Program yang diusung merupakan hasil dari analisis data dan lapangan, dimana kebutuhan akan rekreasi dalam leisure itu sangat diperlukan yaitu tempat berkumpul. Jenis proyek yang diputuskan untuk didesain adalah tempat berkumpul dengan pendekatan third place untuk komunitas serta pengadaan ruang-ruang komunal sebagai ruang pertemuan dengan orang baru sehingga kemonotonan akan hilang. Setelah dilakukan penelitian dan pencarian data, didapati kawasan Tanjung Duren menjadi lokasi ‘Musicarium: Ruang Penghubung Komunitas Musik’ sebagai suatu wadah hiburan musik dan juga tempat kuliner dengan menghadirkan ruang-ruang komunal. Konsep proyek ini adalah menghadirkan ruang-ruang yang sifatnya terbuka agar transparan sehingga proyek ini menjadi sebuah arsitektur yang nyaman bagi semua kalangan.
HOTEL RESOR DI PANTAI MAJU SEBAGAI WATERFRONT ARCHITECTURE DENGAN PENDEKATAN METAPHORE Danang Widiatmoko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10267

Abstract

Pantai Maju is one of the islands on the north coast of Jakarta as a result of sea reclamation, so that the land in Pantai Maju is surrounded by marine waters, which architecturally represent an interesting natural potential. Designing a resort hotel on Pantai Maju will be interesting by applying waterfront architecture concept, especially on sites that are on the water side or sea side. A metaphorical approach needs to be done in architectural design, because with the location on the waterfront, it is very interesting if the figure of the resort hotel building has a strong form identity. The design method used is a series of design stages, starting from site potential analysis; analysis of design concepts; space program analysis; circulation analysis; analysis of the building mass. The conclusion of the design is a resort hotel in Pantai Maju which applies the concept of waterfront architecture and architecture metaphore. Keywords: hotel; metaphore; reclamation; resort; waterfrontAbstrakPantai Maju adalah salah satu pulau di pantai utara Jakarta sebagai hasil dari reklamasi laut, sehingga daratan di Pantai Maju dikelilingi oleh perairan laut, yang secara arsitektur merupakan potensi alam yang menarik. Perancangan Hotel Resor di pantai Maju sangat tepat apabila menerapkan konsep waterfront, terutama pada tapak yang berada di tepi perairan. Pendekatan metafora perlu dilakukan dalam perancangan arsitekturnya, sebab dengan lokasi tapak yang berada di tepi perairan, sangat menarik apabila sosok bangunan (figure) hotel resor tersebut mempunyai identitas bentuk yang kuat. Metode perancangan yang digunakan adalah; a) Segmen Kawasan Pantai Indah Kapuk; b) Diagram Isu Kawasan dan Konsep Penyelesaian Isu; c) Analisis Konsep Perancangan; d) Analisis Pemilihan Tapak dan Tapak Terpilih; e) Analisis Tapak; f) Konsep Massa Bangunan; g) Konsep Metafora; h) Zoning dan Program Ruang; i) Façade, Eksterior dan Interior. Kesimpulan dari perancangan adalah Hotel resort di Pantai Maju yang menerapkan konsep waterfront architecture, dan architecture metaphore.
MUSEUM PINISI INDONESIA Calvin De Candra; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3949

Abstract

Indonesia sebagai negara maritim memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang sangat kental didalamnya, kegiatan maritim sendiri merupakan budaya penting yang membentuk Indonesia sejak dulu. Nilai dari budaya maritim tersebut menjadi nilai penting yang perlu di jaga dan di kembangkan yang memiliki potensi dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Kegiatan pariwisata sendiri sudah menjadi pemasukan devisa negara yang cukup siknifikan. Kebudayaan maritim sendiri memiliki nilai pariwisata, dengan tujuan untuk menjaga kebudayaan atau kearifan lokal masyarakan Indonesia dan menjadikan wisata yang bertemakan sejarah dan edukasi sekaligus menjadi daya tarik wisata baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Museum Pinsi merupakan karya arsitektur yang bertujuan untuk memberikan wisata dengan perpaduan penyampaian teknologi dan koleksi sebagai sarananya. Nilai kebudayaan dalam bidang kelautan dan maritim dicerminkan dengan berbagai media seperi program kegiatan yang diadakan didalam museum, untuk memperdalam aspek tersebut pembentukkan fasad bangunan yang diambil dari filosofi pembuatan kapal itu sendiri yang dipadu dengan penggunaan material fibre cement yang membuat bangunan terlihat kuat, namun tetap memiliki nilai estetik yang terlihat.
RUMAH SENI RUANG TERAPI Herman Suyudhi; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8592

Abstract

Stress and Depression are problems that often occur in people's lives. One of the causes is one’s habit in spending most of their time working and resting at home and without social activities that can be done every day with other individual, furthermore with the existence of social media that makes humans able to communicate with electronic devices and not meeting directly. The main issue is "Open Architecture as a Third Place" which discusses how to create a place that can become a Third Place as a gathering place for communities to socialize and as an informal public place. Another issue raised is the Art of Therapy as an Access to mental changes in society which increases stress levels differently by using images in form, combining thoughts with one another, struggling alone through an object, movements that can be united with images can be made into an art performance space. The project location is on Jalan RS. Fatmawati Raya in South Jakarta, West Cilandak, which is known as one of the areas that are dominated by offices with high levels of stress and depression. The aim of this project is to create a Third Place that can be a gathering place for the community to provide comments and interaction space using seniors. The research methods used in this research are Field Survey, Literature Study and Precedent Study. The research results obtained are the design of the building as "House of Art Space Theraphy". The main programs in this project are Planting, Lounge, Drawing Art in Sand, FoodCourt, 3D Installation, Chalkzone Wall, Free Drawing Workshop, Acrylic Art Exploration, Floor Drawing and Art Gallery, Listening Pictures and Self-Recognition Reflections that want to be shown to seniors who are all what humans do arising from feelings of life and moving beautifully so as to divert human feelings to improve themselves. Keywords: art; community; mental; stress; third placeAbstrakStress dan Depresi merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh salah satunya kebiasaan manusia dalam menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dan beristirahat di rumah dan tanpa adanya kegiatan sosial yang dapat rutin dilakukan setiap hari dengan sesamanya, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat manusia dapat berkomunikasi hanya dengan perangkat elektronik dan tidak bertemu secara langsung. Isu utama yang diangkat adalah “Open Architecture sebagai Third Place” yang membahas tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang dapat menjadi Third Place sebagai tempat berkumpulnya komunitas masyarakat untuk bersosialisasi dan sebagai tempat publik informal. Isu lain yang di angkat adalah Seni Terapi sebagai Akses perubahan mental masyarakat yang mengalami tingkat stress berbeda dengan menggunakan seni dalam bentuk gambar, membagikan pikiran satu sama lain, menyadari diri melalui suatu objek, gerakan yang dapat disatukan dengan gambar dapat di jadikan ruang pentas seni. Lokasi proyek berada di Jalan RS. Fatmawati Raya di Jakarta Selatan, Cilandak Barat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan yang di dominasi dengan perkantoran dengan tingkat stress dan depresi yang tinggi. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah Third Place yang dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkomunitas dan ruang interaksi dengan menggunakan seni secara primer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Lapangan, Studi Literatur dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai “Rumah Seni Ruang Terapi”. Program utama dalam proyek ini yaitu Planting, Relaxing Space, Drawingin Sand, FoodCourt, Instalation 3D, Chalkzone Wall, Free Drawing Workshop, Exploration Art Acrylic, Floor Drawing dan Art Gallery, Listening Drawing and Reflection Get to Know Self yang bertujuan untuk menghadirkan seni yang merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia untuk memperbaiki diri.
GERBANG TRANSIT TAMAN TEBET Indra Aristyanto; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6863

Abstract

The life of Jakarta’s people who are very dynamic in their routine sometimes makes them forget the importance of socializing and resting for a while. The need for a third place, in addition to home and workplace, could be a solution to provide space that is able to make people forget their main activities and relieve fatigue from their routine in order to have a better quality of life. Tebet as one of the densely populated residential areas in Jakarta certainly needs this third place so that its people can have a better quality of life. The existence of many kinds of public transportation in Tebet such as electric trains, Transjakarta buses and LRT (which are still in the development stage) makes the flow of the movement of people who are the users become very dynamic. The space between the house and the transportation points is needed as a third place that becomes a transit point and can accommodate activities that can make them comfortable after / before their routine. In addition, Tebet Park as the largest form of public space in the Tebet area needs to be encouraged to better accommodate the activities of its people. From the various potentials and problems, project designed close to Taman Tebet that able to accommodate the activities of the Tebet community as a gate between home and work place with programs such as shops, restaurants, sports facilities, parking facilities and a place to gather and relax to accommodate their activities and needs. AbstrakKehidupan masyarakat Jakarta yang sangat dinamis dalam rutinitasnya kadang membuat mereka lupa akan pentingnya bersosialisasi dan beristirahat sejenak. Kebutuhan akan ruang ketiga, selain rumah dan tempat kerja, dapat menjadi solusi untuk memberikan ruang yang mampu membuat masyarakat melupakan kegiatan dan melepas penat dari rutinitasnya agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Kawasan Tebet sebagai salah satu kawasan permukiman yang padat di Jakarta tentu membutuhkan ruang ketiga ini agar masyarakatnya dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Keberadaan transportasi publik yang beragam di kawasan ini seperti kereta listrik, bus Transjakarta serta LRT yang masih dalam tahap pembangunan membuat alur pergerakan masyarakat yang menjadi pengguna menjadi sangat dinamis. Ruang antara rumah dan titik-titik transportasi tersebut diperlukan sebagai ruang ketiga yang menjadi titik transit dan mampu mewadahi aktivitas yang bisa membuat mereka nyaman setelah/sebelum beraktivitas. Selain itu, Taman Tebet sebagai bentuk ruang publik terbesar yang ada di kawasan Tebet perlu didorong untuk lebih mewadahi aktivitas masyarakatnya dengan lebih baik. Dari beragam potensi dan masalah tersebut, dirancanglah proyek yang berada dekat dengan Taman Tebet dan mampu mengakomodasi aktivitas masyarakat Tebet sebagai gerbang di antara tempat tinggal dan tempat kerja dengan program seperti pertokoan, tempat makan, sarana olahraga, fasilitas parkir dan tempat berkumpul dan bersantai untuk mewadahi aktivitas dan kebutuhan mereka.
PUSAT PENYEMBUHAN ORANG STRES DI CIKINI Patricia Setiadi; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4324

Abstract

Millennials (Gen Y) are the generation born between the year of 1981-1994 and currently become the biggest productive age group population. Advance technology turns lifestyle into fast paced and instant. Development of modernization and globalization alters social community from complex society to multi complex society with fast paced life. For millennials, the issue of health inequality is also ranked second most important. With the increase of middle income population also comes the increasing demand of necessity resulting in changes of consumption behavior in Indonesia. Millennials switch their expense from traditional category Fast Moving Consumer Good (FCMG) such as foods and beverages to various secondary categories. Millennial generations feel that stress level in daily life keep increasing until they feel the need to escape from the stressful conditions. By presenting an architecture that functions as a place and medium for health specializing in mental health for millennials with psychological, recreational, and entertaining methods is expected to help relieving stress in their daily basis. With an approach in pattern language by Christopher Alexander mixed with healing architecture and questionnaire distribution, the design will emphasizes in connectivity between buildings and including natural elements as a merge between natural and artificial environments to have a different result in spatial experience. There is a healing park functioning as public area for natural therapy and is planted with various herbal plants that can help healing psychologically and are expected to be able to relieve everyday exhaustion. AbstrakGenerasi Milenial (Gen Y) merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981 – 1994 dan menjadi populasi usia produktif terbanyak saat ini. Dengan perkembangan teknologi mengubah gaya hidup menjadi serba cepat dan instan. Dengan perkembangan modernisasi dan globalisasi mengubah kehidupan sosial dari masyarakat kompleks menjadi multi kompleks dengan gaya hidup serba cepat. Isu mengenai ketimpangan kesehatan juga menempati peringkat kedua terpenting bagi generasi milenial berdasarkan Vision Critical (2016). Dengan populasi penduduk berpendapatan menengah semakin meningkat, maka kebutuhan juga semakin meningkat dan mengakibatkan perubahan perilaku konsumsi di Indonesia. Generasi milenial ini mengalihkan pengeluarannya dari kategori Fast Moving Consumer Good (FMCG) tradisional seperti makanan dan minuman ke berbagai kategori yang bersifat sekunder. Generasi milenial merasa bahwa tingkat stres dalam kehidupan sehari – hari semakin meningkat sehingga muncul kebutuhan untuk melarikan diri dari kondisi stres. Dengan menghadirkan sebuah arsitektur yang berfungsi sebagai wadah sarana kesehatan khusus kejiwaan bagi generasi milenial dengan metode psikologis, rekreasi, dan bersifat menghibur diharapkan dapat membantu meredakan kepenatan sehari – hari. Dengan menggunakan pendekatan pattern language oleh Christopher Alexander dipadukan dengan healing architecture dan penyebaran kuesioner, desain akan menekankan pada konektivitas antar bangunan dengan ruang transisi dan memasukkan kembali unsur alam sebagai penyatuan lingkungan alami dan buatan ke dalam bangunan sehingga memberikan pengalaman ruang yang berbeda. Terdapat healing park yang difungsikan sebagai daerah pubik untuk terapi secara alamiah dan ditanami beberapa jenis tanaman herbal yang dapat membantu menyembuhkan secara psikologis dan diharapkan dapat menghilangkan kepenatan sehari – hari.
RUANG BELAJAR MASA DEPAN : SEBUAH TIPOLOGI BARU BANGUNAN PENDIDIKAN Sebastian Michael Kwee; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4469

Abstract

School is an institution for educating children in the supervisor of their teachers. School facilities are always evolving to follow the times due to technological developments and changes in behavior of users. Indonesia is still experiencing problems in poor classroom conditions around 65% of the condition of classrooms in Indonesia is still experiencing damage, especially in the Elementary School level. Primary schools in the Jakarta area generally still use a conventional system where teachers are still teaching in one direction, and classrooms that use desk systems are lined up, and lack communal spaces for different ways of learning. This indicates that there is no relevance between the school and its users, where millennials have begun to dominate the world of education to become teachers with more innovative methods, and students who already have different learning methods, especially with the availability of technology and more varied trends. The proposed program, which is the future learning space, is a learning facility that fits the context of the needs of Jakarta residents, where the millennial generation can use a more varied and flexible teaching method, which causes Z generation onwards to learn in their own style. As well as supporting programs such as shared work spaces, sports facilities that can support millennial activities in the Cakung area, East Jakarta and surrounding areas.AbstrakSekolah adalah suatu lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk mendidik siswa/ murid dalam pengawasan pengajar atau guru. Fasilitas sekolah selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman dikarenakan adanya perkembangan teknologi serta perubahan perilaku dari penggunanya. Indonesia masih mengalami masalah dalam kondisi ruang kelas yang buruk sekitar 65% kondisi ruang kelas di Indonesia masih mengalami kerusakan, khususnya dalam taraf Sekolah Dasar. Sekolah Dasar di daerah Jakarta pada umumnya masih menggunakan sistem konvensional dimana guru masih mengajar secara satu arah, dan ruang kelas yang menggunakan sistem meja berderet, serta kurangnya ruang- ruang komunal untuk cara belajar yang berbeda. Hal ini menandakan sudah tidak ada relevansi antara sekolah dengan penggunanya, dimana milenial sudah mulai mendominasi dunia pendidikan menjadi pengajar dengan metode yang lebih inovatif, serta murid- murid yang sudah memiliki cara pembelajaran yang berbeda, terutama dengana adanya bentuan teknologi dan tren yang lebih variatif. Program yang diusulkan, yaitu ruang belajar masa depan adalah fasilitas belajar yang sesuai dengan konteks keperluan warga Jakarta dimana generasi milenial dapat menggunakan metode mengajar yang lebih variatif dan fleksibel, yang menyebabkan generasi Z serta seterusnya dapat belajar dengan gaya mereka sendiri. Serta adanya program pendukung seperti ruang kerja bersama, fasilitas olahraga yang dapat mendukung kegiatan milenial yang ada di daerah Cakung, Jakarta Timur dan sekitarnya. 
PENGGUNAAN KONSEP REDESAIN TERHADAP GELANGGANG REMAJA SEBAGAI TEMPAT KETIGA DI KAWASAN BULUNGAN, JAKARTA SELATAN I Dewa Nyoman Artha Wijaya; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8517

Abstract

Bulungan Area, South Jakarta is a very busy area that is always crowd with young people everyday. There are commercial buildings and schools which are a source of crowd in Bulungan area. At night, Beef Curry Rice at Junction (Gultik) become one of the strong characters who create crowds in Bulungan area. Bulungan Youth Arena (GRB) has the potential to become a Third Place, but the existing GRB’s design does not accommodate the requirement to become a third place for young people now. The layout of GRB’s public space makes an exclusive impression because GRB seems to accommodate only arts and sports youth activities. Redesign GRB needs to be done to become the Third Place that has the characteristics of the times and young people from different circle can interact comfortably. The use of the redesign concept is used with the aim of preserving the old memory of GRB, because GRB is a historic building as the first Youth Arena in Indonesia and has a strong relationship with the community that has existed since the 80s, the community is Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ). Performing arts activities, the existence of cafes, relocation of Beef Curry Rice at Junction (gultik) into the site will be inviting more people to come in . The existence of a grand ramp  make circulation be easier and interesting space experiences are expected to increase the interest of young people in exploring GRB.  Keywords:  Beef Curry Rice, Bulungan Youth Arena; Redesign AbstrakKawasan Bulungan, Jakarta Selatan merupakan kawasan yang sangat ramai dan dipenuhi oleh anak muda setiap harinya. Keberadaan bangunan-bangunan komersial dan sekolah menjadi sumber keramaian di kawasan Bulungan. Pada malam hari, pedagang Gulai Tikungan menjadi salah satu karakter kuat yang menjadi pemikat keramaian di kawasan ini dan kawasan ini dapat menjadi sebuah Third Place bagi masyarakat. Gelanggang Remaja Bulungan (GRB) memiliki potensi dijadikan sebuah Third Place, tetapi desain eksisting GRB kurang mewadahi kebutuhan untuk menjadi third place bagi anak-anak muda saat ini. Tata letak bangunan dan ruang publiknya membuat kesan ekslusif karena seolah hanya mewadahi aktivitas kelompok remaja tertentu di bidang seni dan olahraga. Redesain GRB perlu dilakukan agar sesuai sebagai Third Place yang memiliki ciri anak muda dari semua kalangan saat ini. Penggunaan konsep redesain digunakan dengan tujuan mempertahankan memori akan bangunan lama, karena GRB merupakan bangunan yang bersejarah sebagai Gelanggang Remaja pertama di Indonesia dan memiliki hubungan kuat dengan komunitas yang sudah ada sejak tahun 80an yakni Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ). Kegiatan pentas seni, keberadaan kafe, relokasi gulai tikungan (gultik) ke dalam tapak akan menjadi pemikat. Sirkulasi yang mudah dengan keberadaaan grand ramp serta pengalaman ruang menarik diharapkan dapat meningkatkan minat anak muda dalam mengeksplor tempat ini.

Page 14 of 134 | Total Record : 1332