cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
EVALUASI TAMAN LANSIA DI KOTA BANDUNG DENGAN KONSEP PLACE-KEEPING Utama, Heidi Surya; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33944

Abstract

Thematic parks, including green open spaces (GOS), play a strategic role in enhancing urban residents' quality of life through their ecological, economic, social, and aesthetic functions. This study focuses on Taman Lansia (Elderly Park) in Bandung City, which, despite its high potential, currently experiences functional decline due to poor post-pandemic management. Using the place-keeping framework, this research aims to analyze the park's potential and challenges while providing sustainable management recommendations. Primary data were collected through field surveys, interviews, documentation, and questionnaires, while secondary data were obtained from literature sources. The analysis employed descriptive, crosstab, and comparative methods to evaluate the park's existing conditions based on the four main functions of GOS. The findings reveal significant challenges in Taman Lansia, such as deteriorated physical conditions, lack of community engagement, and insufficient elderly-friendly facilities. However, the park still holds substantial potential, especially with the integration of ecological and social functions. Recommendations include infrastructure improvements, provision of senior-friendly facilities, and strengthening collaborations with local communities to support the place-keeping concept. This study underscores the importance of sustainable management to enhance the functionality of urban GOS, particularly in Bandung City, as part of efforts to create a more comfortable, inclusive, and sustainable urban environment. Keywords:  elderly park; green open space; place-keeping ; sustainable management ; thematic parks Abstrak Taman tematik, termasuk ruang terbuka hijau (RTH), memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan melalui fungsi ekologis, ekonomi, sosial, dan estetika. Penelitian ini berfokus pada Taman Lansia di Kota Bandung, yang meskipun memiliki potensi tinggi, saat ini mengalami penurunan fungsi akibat kurangnya pengelolaan pasca-pandemi. Berdasarkan kerangka place-keeping, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan permasalahan yang dihadapi taman ini serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang berkelanjutan. Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner, sementara data sekunder diperoleh dari berbagai sumber literatur. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif, crosstab, dan komparatif untuk mengevaluasi kondisi eksisting taman berdasarkan empat fungsi utama RTH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Lansia memiliki berbagai tantangan, seperti kondisi fisik yang tidak layak, kurangnya aktivitas komunitas, serta minimnya fasilitas yang mendukung kebutuhan lansia. Namun, potensi taman ini tetap besar, terutama jika mempertimbangkan integrasi fungsi ekologis dan sosial. Rekomendasi meliputi perbaikan infrastruktur, penyediaan fasilitas lansia yang ramah, dan penguatan kolaborasi dengan komunitas setempat untuk mendukung konsep place-keeping. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan berkelanjutan untuk meningkatkan fungsi RTH di perkotaan, khususnya di Kota Bandung, sebagai bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih nyaman, inklusif, dan berkelanjutan.
Cover Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025
Redaksi Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025
Daftar Isi Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Jurnal STUPA V7N1 - APRIL 2025
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR BIOPHILIC PADA FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DI KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA Tandjung, Michael Emmanuel; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35542

Abstract

Environmental problems caused by the accumulation of organic waste, particularly in traditional market areas, have become a crucial issue that requires sustainable solutions. A significant increase in organic waste production has occurred in the Kebayoran Lama Market area due to the high level of activity in the area, which generates large amounts of organic waste every day. Most organic waste is disposed of directly without undergoing effective processing, thereby increasing the environmental burden. This study examines the application of biophilic architecture concepts in organic waste processing facilities in the Kebayoran Lama Market area as an effort to create processing spaces that are not only functional but also have a positive impact on the environment and the quality of life of the surrounding community. The objective of this study is to provide organic waste treatment facilities that produce environmentally friendly products by applying the biophilic concept, thereby helping to reduce environmental pollution caused by improperly managed waste. The methods used in this research include a qualitative-descriptive approach through literature review, field observation, and site analysis. The results of the study indicate that the integration of biophilic elements such as natural lighting, cross ventilation, vegetation, and visual connections with nature can enhance user comfort and strengthen ecological awareness. Thus, the design of organic waste processing facilities that apply biophilic architectural principles has the potential to become an environmentally friendly and sustainable architectural solution in densely populated urban areas such as Pasar Kebayoran Lama. Keywords: Biophilic architecture; Kebayoran Lama; organic waste treatment; sustainable design; traditional market Abstrak Permasalahan lingkungan akibat penumpukan limbah organik, khususnya di kawasan pasar tradisional, menjadi isu krusial yang memerlukan solusi berkelanjutan. Peningkatan produksi limbah organik yang sangat signifikan terjadi di kawasan Pasar Kebayoran Lama dikarenakan kawasan padat aktivitas yang menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya. Limbah organik sebagian besar disalurkan ke pembuangan akhir tanpa melewati proses yang efektif sehingga menambah beban lingkungan. Penelitian ini mengkaji penerapan konsep arsitektur biophilic pada fasilitas pengolahan limbah organik di kawasan Pasar Kebayoran Lama sebagai upaya menciptakan ruang pengolahan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Studi ini bertujuan untuk adalah dengan menyediakan fasilitas pengolahan limbah organik yang akan menghasilkan produk ramah lingkungan dengan menerapkan konsep biophilic, untuk membantu mengurangi pencemaran pada lingkungan yang disebabkan oleh limbah yang tidak dikelola dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi elemen-elemen biophilic seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi, serta hubungan visual dengan alam dapat meningkatkan kenyamanan pengguna dan memperkuat kesadaran ekologis. Dengan demikian, desain fasilitas pengolahan limbah organik yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur biophilic berpotensi menjadi solusi arsitektural yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di kawasan urban padat seperti Pasar Kebayoran Lama.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF BERBASIS SISTEM POLDER DAN MATERIAL BIODEGRADABLE DI KAWASAN KUMUH PESISIR PENJARINGAN, JAKARTA UTARA Horison, Muhammad Kenzie; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35543

Abstract

Coastal slums such as Penjaringan Urban Village, North Jakarta, face environmental pressures from tidal flooding, sewage pollution and uncontrolled urbanisation. The lack of public awareness of the importance of water management and the use of environmentally friendly materials exacerbates the degradation of coastal ecosystems. This research aims to develop a regenerative architectural design based on polder system and biodegradable materials that can address the environmental and social issues in the area. The design is expected to improve environmental resilience through effective flood control and the use of biodegradable natural building materials. The methods used were literature review and case study and supplemented by field interviews with affected residents in RT 014, 015, and 017. The results show that the integration of polder systems with retention ponds and closed drainage can significantly reduce flooding, while the use of materials such as bamboo and clay provide adaptive and low-carbon building solutions. These findings contribute to the development of resilient and sustainable coastal architecture. The research also emphasises the importance of community participation and nature-based design approaches to create regenerative environments in coastal slums that previously overlooked. This approach shows the potential of transforming slum neighbourhoods into inclusive residential areas. Keywords: Architecture; biodegradable; polder; regenerative; slum Abstrak Permukiman kumuh pesisir seperti Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi masalah lingkungan dari banjir rob, pencemaran limbah, dan urbanisasi yang tidak terkendali. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air dan penggunaan material ramah lingkungan memperburuk degradasi ekosistem pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain arsitektur regeneratif berbasis sistem polder dan material biodegradable yang dapat mengatasi masalah lingkungan dan sosial di area tersebut. Desain ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan lingkungan melalui pengendalian banjir yang efektif dan penggunaan material bangunan alami biodegradable. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara melakukan studi literatur dan studi kasus, dan dilengkapi dengan wawancara lapangan dengan warga yang terkena dampak di RT 014, 015, dan 017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sistem polder dengan kolam retensi dan drainase tertutup dapat secara signifikan mengurangi banjir, sementara penggunaan material seperti bambu dan tanah liat memberikan solusi bangunan yang adaptif dan rendah karbon. Temuan-temuan ini berkontribusi pada pengembangan arsitektur pesisir yang tangguh dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan pendekatan desain berbasis alam untuk menciptakan lingkungan regeneratif di daerah kumuh pesisir yang sebelumnya terabaikan. Pendekatan ini menunjukkan potensi mengubah lingkungan kumuh menjadi area hunian yang inklusif.
PENATAAN RUANG BERBASIS DESAIN KONTEKSTUAL UNTUK MENGEMBALIKAN FUNGSI PEMUKIMAN PULAU PRAMUKA Phang, Kevin; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35544

Abstract

On Pramuka Island, Kepulauan Seribu, development pressure from the tourism sector and a lack of usable land have created a serious problem of land degradation. When residential spaces are converted into commercial spaces such as hotels and restaurants, the social life of the neighborhood is disrupted and the quality of the environment degrades. Using a contextual design approach that is sensitive to the local environment, social dynamics, and cultural norms, this research seeks to restore Pramuka Island as a sustainable residential environment. The importance of architectural design as a directed effort to reimagine space holistically, taking into account the harmony between humans and nature, is also emphasized in this research. The research utilized a qualitative methodology that included field observations, interviews, literature analysis, and examination of related architectural precedents. The Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, and Oceanix City are examples of precedent studies that offer ideas for flexible and modular solutions to aquatic environmental problems. The findings suggest that by combining ideas of modularity, sustainability and hybrid symbiosis, contextual design-based spatialplanning techniques can overcome land limitations and conflicts of spatial functions. Adaptive zoning based on community activities, the use of coral concrete as a material that benefits the marine ecosystem, and a design approach that considers local culture and climate are some of the suggested answers. These strategies can help the residential area of Pulau Pramuka return to its original function while still taking into account the economic and tourism characteristics of the island. In addition, this study can also serve as a basis for designs that can be applied in other coastal areas facing similar problems. In addition, the application of this approach is expected to create a built environment that is innovative, robust, and able to improve the welfare of the community in a sustainable manner. Keywords:  Commercial; contextual; degradation; settlement Abstrak Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tekanan pembangunan dari sektor pariwisata dan kurangnya lahan yang dapat digunakan menimbulkan masalah serius berupa degradasi lahan. Ketika ruang-ruang hunian dikonversi menjadi ruang-ruang komersial seperti hotel dan restoran, kehidupan sosial di lingkungan tersebut terganggu dan kualitas lingkungan menurun. Dengan menggunakan pendekatan desain kontekstual yang peka terhadap lingkungan lokal, dinamika sosial, dan norma-norma budaya, penelitian ini berupaya mengembalikan Pulau Pramuka sebagai lingkungan hunian yang berkelanjutan. Pentingnya desain arsitektur sebagai upaya terarah untuk menata ulang ruang secara holistik, dengan mempertimbangkan keselarasan antara manusia dan alam, juga ditekankan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang mencakup observasi lapangan, wawancara, analisis literatur, dan pemeriksaan preseden arsitektur terkait. Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, dan Oceanix City merupakan contoh studi preseden yang menawarkan ide untuk solusi yang fleksibel dan modular untuk masalah lingkungan akuatik. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan menggabungkan ide-ide modularitas, keberlanjutan, dan simbiosis hibrida, teknik perencanaan tata ruang berbasis desain kontekstual dapat mengatasi keterbatasan lahan dan konflik fungsi ruang.  Zonasi adaptif berdasarkan aktivitas masyarakat, penggunaan beton koral sebagai material yang bermanfaat bagi ekosistem laut, dan pendekatan desain yang mempertimbangkan budaya dan iklim lokal adalah beberapa jawaban yang disarankan. Strategi ini dapat membantu area permukiman Pulau Pramuka kembali ke fungsi awalnya dengan tetap memperhatikan karakteristik ekonomi dan pariwisata pulau tersebut. Selain itu, studi ini juga dapat menjadi dasar bagi desain yang dapat diaplikasikan di wilayah pesisir lain yang menghadapi masalah serupa. Selain itu, penerapan pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan binaan yang inovatif, kuat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
KONSEP EKOWISATA BERBASIS PERIKANAN SEBAGAI STRATEGI TRANSFORMASI ADAPTASI DESA MUARA TELUK NAGA Matthew, Matthew; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35546

Abstract

The rapid expansion of the Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) area in Teluk Naga, Tangerang Regency, Indonesia, has led to significant environmental degradation and socio-economic pressure on surrounding villages, including Muara Teluk Naga Village. This village is a coastal tourism area focused on nature and fisheries, where most residents work as fishing pond owners, fishermen, and mangrove tourism managers. The development pressure and lack of competitiveness have resulted in reduced income, limited access to education, and the collapse of local businesses. This study aims to empower the Muara community and restore the degraded mangrove ecosystem through a regenerative architectural approach that integrates development with environmental rehabilitation. The design envisions a spatial framework that fosters a symbiotic relationship between environmental sustainability and local economic activity, positioning Muara Village as a strategic connector between mainland areas and surrounding islands. The research adopts a qualitative method involving observation and interviews to formulate an architectural program based on local needs and potentials. The final outcome is a spatial planning proposal that integrates ecological restoration, local economic sustainability, and community well-being. Keywords: Assimilation; balanced ecosystem; bio-centered; empowerment; regenerative architecture Abstrak Ekspansi pesat kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) di Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Indonesia, telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan serta memberikan tekanan sosial-ekonomi terhadap desa-desa di sekitarnya, termasuk Desa Muara Teluk Naga. Desa ini merupakan kawasan wisata pesisir yang berfokus pada alam dan perikanan, di mana mayoritas penduduknya bekerja sebagai pemilik pemancingan, nelayan, serta pengelola wisata mangrove. Tekanan akibat perkembangan kawasan dan ketimpangan daya saing telah berdampak pada menurunnya penghasilan warga, rendahnya akses pendidikan, hingga kebangkrutan usaha lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Muara sekaligus merehabilitasi ekosistem hutan mangrove yang mengalami degradasi, melalui pendekatan arsitektur regeneratif yang menggabungkan aspek pengembangan dan pelestarian. Desain kawasan dirancang untuk menciptakan hubungan simbiosis antara keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi lokal, serta menjadikan Desa Muara sebagai titik penghubung antara wilayah daratan dan kepulauan sekitarnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara untuk merumuskan program arsitektur yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Hasil akhir berupa perencanaan program ruang yang mampu mengintegrasikan restorasi ekologi, keberlanjutan ekonomi lokal, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
STRATEGI PERANCANGAN REGENERATIF UNTUK PUSAT EDUKASI DAN KONSERVASI HABITAT SERANGGA PENYERBUK DI KAWASAN PENJARINGAN Davita, Angela; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35547

Abstract

The development of urban areas often overlooks the sustainability of local ecosystems, particularly in providing space for biodiversity. The increasing conversion of land use, the scarcity of ecologically functional green open spaces, and the growing pressure on environmental quality have become significant challenges in architectural practice within densely populated cities like Jakarta. Specifically, the Penjaringan area is facing ecological stress due to intensive development, poor-quality green spaces, and the lack of ecological connectivity, which disrupts the natural cycles between vegetation and local fauna. This article addresses how to design a space that not only meets human activity needs but also rehabilitates and revives the ecological functions of the area through a Regenerative Approach. The main objective of this project is to create a conservation and ecological education center that functions as a habitat for pollinator insects while serving as an environmentally conscious tourism destination integrated with the local landscape and community. Through biomimicry design strategies and the use of modular dome structures, the project accommodates human needs such as education, research, and recreation, while also establishing ecological space for insects. The findings of this project include the formulation of a design scenario for sustainable coexistence between humans and pollinator species within an urban environment. Thus, this project offers a new approach to ecological architecture, that is not environmentally neutral but actively regenerates and educates. Keywords: Bees; biodiversity; habitat; pollinator; tourism Abstrak Perkembangan kawasan perkotaan sering kali mengabaikan keberlanjutan ekosistem lokal, terutama dalam penyediaan ruang bagi keanekaragaman hayati. Fenomena meningkatnya alih fungsi lahan, minimnya ruang terbuka hijau yang berfungsi ekologis, serta tekanan terhadap kualitas lingkungan telah menjadi tantangan besar dalam konteks arsitektur di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta. Secara khusus, kawasan Penjaringan mengalami tekanan ekologis akibat intensitas pembangunan, rendahnya kualitas ruang hijau, serta minimnya konektivitas ekologis yang mengakibatkan terputusnya siklus alami antara vegetasi dan fauna lokal. Adapun isu pada artikel ini berfokus pada cara merancang suatu ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan aktivitas manusia, namun juga mampu merehabilitasi dan menghidupkan kembali fungsi ekologis kawasan melalui Pendekatan Regeneratif. Tujuan utama proyek ini adalah menciptakan sebuah pusat konservasi dan edukasi ekologis yang berfungsi sebagai habitat serangga penyerbuk sekaligus destinasi wisata berwawasan lingkungan yang terintegrasi dengan lanskap dan komunitas lokal. Melalui strategi desain biomimikri dan penggunaan struktur dome modular, proyek ini tidak hanya mengakomodasi kebutuhan manusia seperti edukasi, penelitian, dan rekreasi, tetapi juga menciptakan ruang ekologis bagi serangga. Temuan dari proyek ini adalah perumusan skenario desain untuk kehidupan secara berdampingan antara manusia dan spesies penyerbuk di dalam kawasan perkotaan secara berkelanjutan. Dengan begitu, proyek ini menawarkan pendekatan baru dalam merancang arsitektur ekologis yang tidak bersifat netral terhadap lingkungan, melainkan aktif dalam meregenerasi, dan mengedukasi.
PERANCANGAN FASILITAS TEMPAT TINGGAL SEWA UNTUK MAHASISWA UNTAR Aswata, Muhammad Febrian; Santosa, Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35548

Abstract

The growing number of students in the Grogol Petamburan area, especially Tarumanagara 2 University, has led to a high demand for comfortable, healthy, and affordable temporary housing. Unfortunately, campus dormitory facilities in this area are still very limited, while available boarding house rental prices are quite high and do not always meet comfort or sustainability standards. This research aims to design a student dormitory building with a biophilic architecture approach that prioritizes the integration of natural elements into the living space. Research using this descriptive method focuses on collecting actual and factual data to provide a systematic, accurate, and objective picture. qualitative through distributing questionnaires and direct observation. The observation results show that students really need housing with natural lighting, cross ventilation, vegetation, and green open spaces that support comfort and mental health. Biophilic-based dormitories are proven to be able to create a more comfortable living environment, and improve the quality of life of students in dense urban environments. The biophilic concept produces open spaces on every 2 floors. The conclusion is that biophilic can create green open spaces in student dormitories. The downside is that if there are too many open spaces, it will result in a lot of wasted interior space. Keywords:  Biophilic architecture; mental health; mixed methods; student dormitory Abstrak Pertumbuhan jumlah mahasiswa dari luar kota dan pulau di kawasan Grogol Petamburan, khususnya Universitas Tarumanagara 2, menyebabkan tingginya kebutuhan akan hunian sementara yang nyaman, sehat, dan terjangkau. Sayangnya, fasilitas dormitory kampus di area ini masih sangat terbatas, sementara harga sewa kos yang tersedia cukup tinggi dan tidak selalu memenuhi standar kenyamanan atau keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangunan asrama mahasiswa dengan pendekatan arsitektur biofilik yang mengutamakan integrasi elemen alam ke dalam ruang tinggal. Penelitian menggunakan metode deskiptif ini fokus pada pengumpulan data yang aktual dan faktual untuk memberikan gambaran yang sistematis, akurat, dan objektif. kualitatif melalui penyebaran kuisioner dan observasi langsung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mahasiswa sangat membutuhkan hunian dengan pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi, serta ruang terbuka hijau yang mendukung kenyamanan dan kesehatan mental. Dormitory berbasis biofilik terbukti mampu menciptakan lingkungan tinggal yang lebih nyaman, serta meningkatkan kualitas hidup mahasiswa di lingkungan urban padat. Konsep biofilik menghasilkan ruang-ruang terbuka pada setiap 2 lantai. Kesimpulannya bahwa biofilik dapat menciptakan ruang-ruang terbuka hijau pada dormitory mahasiswa. Kelemahannya jika terlalu banyak ruang terbuka maka akan berdampak pada banyaknya ruang dalam yang terbuang.