cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MENGHIDUPKAN KEMBALI AKTIVITAS PERDAGANGAN DI SENEN JAKARTA PUSAT: DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Shalsabilla, Auliya Ananti; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33919

Abstract

A place is called a place because the place has a strong meaning or identity. A place can be said to be placeless place, which is caused by environmental transformation that damages the character of a place so that it loses its distinctive identity. Senen is an area that has been famous for its trade since 1733. Many traders sell there, ranging from large shops to small traders. A phenomenon that is quite concerning is that many shops around Senen have closed, especially in the Senen market area which has begun to degrade with global changes and many traders who are not neatly arranged who trade around the Senen market. Therefore, steps are needed in the form of architectural strategies that can revive closed shops in the Senen area. By designing a place that facilitates traders, such as providing a place for trader training so that later traders can be trained. The arrangement of the trading location in Senen aims to make this location a more organized place, so that the identity known as a trading area is not lost with the development of the times. In addition, it is also equipped with several other functions that are expected to be interconnected. The method used is contextual architectural methods, the building will integrate with the surrounding environment both in terms of physical, social and historical conditions, so that the character of the designed building does not damage the character of the surrounding area. Keywords: contextual; placeless place; senen; trade; traders Abstrak Suatu tempat dikatakan place karena tempat tersebut memiliki makna atau identitas yang kuat. Sebuah place bisa di katakan placeless place yaitu disebabkan oleh transformasi lingkungan yang merusak karakter sebuah tempat sehingga kehilangan identitas khasnya. Senen merupakan kawasan yang terkenal dengan perdagangannya sejak tahun 1733. Banyaknya pedagang yang berjualan di sana mulai dari toko-toko besar sampai pedagang kecil. Fenomena yang cukup menjadi perhatian yaitu banyak toko-toko di sekitaran Senen yang tutup, terutama pada bagian pasar Senen yang mulai terdegradasi dengan perubahan global dan banyaknya pedagang yang tidak tertata dengan rapih yang berdagang di sekitar pasar Senen. Oleh karena itu diperlukan langkah berupa strategi arsitektural yang dapat menghidupkan kembali toko yang tutup pada kawasan Senen. Dengan mendesain sebuah tempat yang memfasilitasi pedagang, seperti menyediakan tempat pelatihan pedagang agar nantinya pedagang dapat terlatih. Penataan lokasi perdagangan di Senen ini memiliki tujuan untuk membuat lokasi ini menjadi tempat yang lebih tertata, agar identitas  yang dikenal sebagai kawasan perdagangan tidak hilang dengan perkembangan zaman. Selain itu juga di lengkapi dengan beberapa fungsi lainnya yang diharapkan dapat saling berkoneksi. Metode yang dilakukan dengan menggunakan metode kontekstual arsitektur, bangunan akan berintegrasi dengan lingkungan di sekitar baik dari segi fisik, keadaan sosial, sejarah, sehingga karakter bangunan yang dirancang tidak merusak karakter kawasan sekitar.
PERANCANGAN PUSAT REKREASI URBAN BERBASIS KOMUNITAS DI GLODOK DENGAN PENDEKATAN PERILAKU Karuniawan, Adrian; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33920

Abstract

In modern times and the increasing human population, humans need land and space for activities, but on the other hand, the land and open space needed is increasingly limited, which also makes human activities limited. The Glodok area is a dense area, in the corners of the Glodok area there are buildings that are degraded or abandoned and left so that the land cannot be utilized optimally for human activities. Meanwhile, the Kebon Torong field, which is a community space for the Glodok community, is threatened with being evicted to be replaced with health facilities, so that the Glodok community loses its community space for exercise and recreation. Therefore, this project is aimed at re-accommodating the people of Glodok so they can exercise as well as have recreation and become a place of entertainment for the community by rebuilding abandoned or degraded buildings so that the land can be reused. This community space can also be a space for collaboration between generations of each age group so that a sense of togetherness is maintained. By presenting recreation and fitness programs that draw from the habits and behavior of the surrounding community, which includes recreation areas, commercial areas and community areas. This research uses qualitative and quantitative methods. Keywords:  behavior; community; generation; recreation; space Abstrak Di zaman modern serta meningkatnya populasi manusia membuat manusia membutuhkan lahan dan ruang untuk beraktivitas tetapi disisi lain lahan dan ruang terbuka yang dibutuhkan semakin terbatas, itu juga yang membuat aktivitas manusianya menjadi terbatas. Kawasan Glodok merupakan kawasan yang padat, di sudut-sudut kawasan Glodok terdapat bangunan-bangunan yang mengalami degradasi atau terbengkalai yang dibiarkan membuat lahannya tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk aktivitas manusia. Sementara itu lapangan Kebon Torong yang merupakan ruang komunitas bagi komunitas Glodok terancam akan digusur untuk digantikan dengan fasilitas kesehatan, sehingga komunitas Glodok kehilangan ruang komunitasnya untuk berolahraga sekaligus berekreasi. Oleh karena itu proyek ini ditujukan untuk mewadahi kembali masyarakat Glodok agar dapat berolahraga sekaligus berekreasi dan menjadi tempat hiburan bagi komunitas dengan membangun kembali bangunan yang terbengkalai atau mengalami degradasi agar lahannya dapat dimanfaatkan kembali. Ruang komunitas ini juga bisa menjadi ruang kolaborasi antar generasi dari setiap kelompok usia sehingga rasa kebersamaannya tetap terjaga. Dengan menghadirkan program rekreasi dan kebugaran mengambil dari kebiasaan dan perilaku komunitas sekitar, yaitu mencakup area rekreasi, area komersil dan area komunitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
PERANCANGAN AREA KOMERSIAL BERBASIS DIGITAL INTERAKTIF DI GLODOK, JAKARTA BARAT Vincent, Vincent; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33921

Abstract

The emergence of the online store phenomenon that has developed since 2020, especially during the pandemic, has had a significant impact on conventional businesses such as offline stores, markets, and trade centers. The issue arose that spaces in the market area became very quiet, some of them were even forced to close their businesses. This problem is very serious considering the growing trend while the space in the market is static. The purpose of this study is to provide solutions and recommendations for space to create a new atmosphere that can help offline traders survive and compete. The research was conducted with a descriptive and qualitative approach to better understand the impact of this static space. The research method used is to utilize a descriptive and qualitative approach. The research steps began with a literature study, then continued with a survey for sampling which was continued with the distribution of questionnaires to collect customer opinion data regarding the experience of space and comfort in the space. The results of the study on the design of space in the surrounding shophouses show that to create an area that is attractive to the community, the initial step that needs to be taken is only a few shophouses. One way that can be applied is to add space functions, such as integrating an online shop platform. With this platform, sellers will find it easier to make transactions both online and offline, so that it can increase the attraction and visits of the community to the area. The novelty is designing a commercial place for traders with the concept of connectivity architecture andutilizing the shape of the surrounding buildings so as to create harmony between the masses and their surroundings. Keywords: business; market; on line; trader; traditional Abstrak Munculnya fenomena online shop yang berkembang sejak tahun 2020, terutama di masa pandemi, memberikan dampak yang signifikan terhadap bisnis konvensional seperti toko offline, pasar, dan pusat perdagangan. Timbul isu ruang–ruang pada kawasan pasar menjadi sangat sepi, bahkan beberapa di antaranya terpaksa menutup usahanya. Masalah ini menjadi sangat serius dikarenakan tren yang terus berkembang sedangkan ruang pada pasar statik. Tujuan penelitian ini adalah memberikan solusi dan rekomendasi ruang guna menciptakan suasana baru yang dapat membantu pedagang offline bertahan dan bersaing. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif untuk memahami lebih dalam dampak ruang yang statik ini. Metode penilitian yang digunakan yaitu memanfaatkan pendekatan dekriptif dan kualitatif. Langkah penelitian diawali dengan melakukan studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan survei untuk pengambilan sampel yang diteruskan dengan pembagian kuesioner untuk mengumpulkan data opini pelanggan mengenai pengalaman ruang dan kenyamanan dalam ruang. Hasil penelitian mengenai perancangan ruang pada ruko-ruko di sekitar menunjukkan bahwa untuk menciptakan kawasan yang menarik bagi masyarakat, langkah awal yang perlu dilakukan adalah meredesain beberapa ruko . Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah dengan menambah fungsi ruang, seperti mengintegrasikan platform onlineshop. Dengan adanya platform ini, para penjual akan lebih mudah melakukan transaksi baik secara daring maupun luring, sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan kunjungan masyarakat ke kawasan tersebut. Kebaruannya adalah merancang tempat komersial untuk para pedagang dengan konsep arsitektur konektivitas dan memanfaatkan bentuk bangunan sekitar sehingga menimbulkan keselarasan antara massa dan sekitarnya.
UPAYA MEMAKNAI KEMBALI CITRA EKS BANDARA KEMAYORAN MELALUI GALERI EDUKASI AVIASI Santosa, Aaron Pratama; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33923

Abstract

Kemayoran Airport, built in the 1930s and officially operational on July 8, 1940, is a historic airport that played a significant role in the development of aviation in Indonesia. Constructed by the Dutch East Indies government, it featured modern facilities comparable to European airports of its time. After undergoing various significant historical phases, including the Japanese occupation during the Asia-Pacific War and Indonesia's independence revolution, the airport continued to operate and evolve until its closure on March 31, 1985, due to limitations in accommodating rapid advancements in aviation technology, with the rise of wide-body aircraft and rapid population growth near Kemayoran airfield. Kemayoran Airport subsequently fell into neglect and was replaced by new infrastructure. The traces of Kemayoran Airport’s former glory have almost completely disappeared, rendering it a "placeless" area, with the remaining airport relics in a deteriorated condition. This project seeks to revive the image of aviation through placemaking, envisioning creative aviation-themed spaces for both the public and aviation community. Centered on an educational gallery, it offers diverse aviation-related programs accessible to all age groups and skill levels. The initiative aims to restore the identity of the former Kemayoran Airport with a meaningful function, while fostering awareness, appreciation, and public interest in the importance of aviation. Keywords: aviation; educational gallery; former kemayoran airport; history; placemaking Abstrak Bandara Kemayoran, dibangun sejak 1930-an dan resmi beroperasi 8 Juli 1940, merupakan bandara bersejarah dengan peran penting dalam perkembangan penerbangan di Indonesia. Bandara ini dibangun pemerintah Hindia Belanda dengan fasilitas modern setara bandara di Eropa pada masanya. Setelah melewati berbagai fase sejarah penting, termasuk pendudukan Jepang selama Perang Asia Pasifik dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia, bandara ini terus beroperasi dan berkembang hingga akhirnya ditutup pada 31 Maret 1985 karena keterbatasan dalam menampung kemajuan pesat teknologi penerbangan, terutama dengan hadirnya model pesawat berbadan besar yang baru serta meledaknya jumlah populasi penduduk di wilayah sekitar lapangan udara Kemayoran. Bandara Kemayoran kemudian mulai terabaikan dan digantikan oleh infrastruktur baru. Jejak kejayaan Bandara Kemayoran hampir sepenuhnya hilang, menjadikannya sebagai kawasan yang dianggap "placeless", dengan peninggalan bandara yang tersisa dalam kondisi memprihatinkan. Proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali citra aviasi. Melalui metode placemaking akan lahir usulan ruang kreatif berbasis aviasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun masyarakat aviasi. Program utama berupa galeri edukasi akan menyediakan berbagai program terkait aviasi, yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun profesional. Melalui upaya ini, diharapkan citra eks Bandara Kemayoran dapat diangkat kembali dengan fungsi baru yang lebih bermakna, sekaligus meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap pentingnya dunia aviasi.
REDEVELOPMENT TERMINAL GROGOL 2 SEBAGAI UPAYA EFISIENSI MOBILITAS Bima K, Fransiskus; Priyono, J.M. Joko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33924

Abstract

The increase in vehicle and people mobility at Terminal Grogol 2 has brought several negative impacts on the ongoing operational activities in the terminal. The inability of facilities to accommodate the changes that occur at Terminal Grogol 2 is the main problem in terms of quality, operations and terminal capacity. On the other hand, several phenomena occur in the field that arise due to efforts to meet needs, which in fact affect the formation of new types of users and spaces. Things that are expected to receive good impacts from the changes that will occur at Terminal Grogol 2, including the increasing mobility of vehicles, people, terminal capacity, productivity, facilities, economy and environment. The research method used in achieving maximum data is also a direct survey of the latest conditions of Terminal Grogol 2 which is also compared with journals and articles (trusted sources) to determine the possibility of achieving Terminal Grogol 2 in the future. While in achieving the solution to the problem by making a hypothesis from data to find the relationship between each element in Terminal Grogol 2. Changes are driven by increased efficiency by carrying out the quantity of users of enlarged facilities such as the arrival and departure areas, ticketing, and supporting facilities. Likewise, there are additional facilities related to the relationship with environmental activities, namely an area for street vendors, a space for students to channel their routines, connections with educational facilities and other public transportation located around the terminal and finally an increase in the quality of the Grogol 2 Terminal facilities. Keywords : activity; efficiency; phenomenon; mobility; transportation Abstrak Peningkatan mobilitas kendaraan dan orang pada Terminal Grogol 2 membawa beberapa dampak buruk bagi berlangsungnya kegiatan operasional di dalam terminal. Ketidakmampuan fasilitas dalam menampung perubahan yang terjadi di Terminal Grogol 2 ini yang menjadi masalah utama baik secara kualitas, operasional maupun daya tampung terminal. Disisi lain beberapa fenomena terjadi di lapangan yang timbul karena adanya upaya memenuhi kebutuhan, ternyata mempengaruhi terbentuknya jenis pengguna dan ruang baru. Hal yang diharapkan dapat menerima dampak baik dari perubahan yang akan terjadi di Terminal Grogol 2, diantaranya sejalannya peningkatan mobilitas kenadaraan, orang, daya tampung terminal, produktifitas, fasilitas, ekonomi dan lingkungan. Metode penelitian yang digunakan dalam pencapaian data yang maksimal juga dilakukan survey langsung terhadap kondisi terkirini dari Terminal Grogol 2 yang juga di komparasi dengan jurnal dan artikel (sumber terpercaya) untuk mengetahui kemungkinan pencapaian dari Terminal Grogol 2 ke depannya. Sementara dalam pencapaian solusi permasalahannya dengan melakukan hipotesa dari data untuk mencari hubungan setiap unsur yang ada di Terminal Grogol 2. Perubahan terpacu kepada peningkatan efisiensi dengan melakulan pada kuantitas pengguna fasilitas yang diperbesar seperti area kedatangan keberangkatan, tiketing, dan fasilitas penunjang. Demikian pula adanya penambahan fasliitas terkait hubungan dengan aktivitas lingkungan yaitu area bagi pelaku usaha pedagang kaki lima, ruang bagi mahasiswa untuk menyelurkan rutinitasnya, hubungan dengan fasilitas pendidikan dan transportasi umum lainnya yang berada di sekitar terminal dan yang terakhir peningkatan dari kualitas fasilitas Terminal Grogol 2.
KONSERVASI DAN PRESERVASI GUNA MENJAGA EKOLOGI DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE Limmowsen, Frans Hesketh; Priyono, J.M. Joko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33925

Abstract

Many regional developments have now had land use designations revised and some of these revisions are only for business purposes without considering the existing natural habitat. This also happened to the Muara Angke Wildlife Reserve (SMMA), which was previously a very large nature reserve area with various flora and fauna habitats within it, which was destroyed due to the reclamation project. The condition of the Placeless Place area has become a problem in Jakarta Province now, because this area is a green area in the form of the last protected forest in North Jakarta. There must be anticipatory action so as not to worsen the impact in the future. This action takes the form of conservation and preservation actions in the SMMA area which starts from collecting primary data and secondary data using qualitative methods supported by quantitative methods to determine options to simplify the analysis process in carrying out conservation and preservation. Meanwhile, the design method uses the superimpose method with a wild-life design approach. Preservation and conservation is carried out in the form of adding functions related to SMMA conservation and preservation efforts such as research activities, breeding areas and reforestation areas. Then, with conservation and preservation of the research results, it requires profitable spaces to provide continuity of activities in it in the form of tourist areas. In this case, it also does not rule out the need for new innovations that can be continued with further programs as an effort to preserve the nature of the SMMA area. Keywords:  captivity; conservation; preservation Abstrak Perkembangan kawasan sekarang banyak yang telah direvisi peruntukan fungsi lahannya dan beberapa revisi tersebut hanya untuk kepentingan bisnis tanpa memikirkan habitat alam yang ada. Hal tersebut juga terjadi pada Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) yang dahulunya merupakan kawasan cagar alam yang sangat luas dengan beragam habitat flora dan fauna di dalamnya menjadi hancur akibat proyek reklamasi. Kondisi kawasan yang Placeless Place tersebut telah menjadi permasalahan di Provinsi Jakarta sekarang, karena kawasan ini merupakan kawasan hijau yang berupa hutan lindung terakhir yang ada di Jakarta Utara. Harus ada tindakan antisipatif agar tidak memperburuk dampaknya dikemudian hari. Tindakan tersebut berupa tindakan konservasi dan preservasi pada kawasan SMMA yang dimulai dari pengumpulan data primer dan data sekunder dengan metode kualitatif yang didukung dengan metode kuantitatif untuk menentukan pilihan dalam mempermudah proses analisis dalam melaksanakan konservasi dan preservasi. Sedangkan metode perancangan dalam mendesain menggunakan metode superimpose dengan pendekatan design wild-life. Preservasi dan konservasi yang dilakukan berupa menambahkan fungsi-fungsi yang berkaitan dengan upaya konservasi dan preservasi SMMA seperti aktivitas riset, area penangkaran, dan area penghijauan. Kemudian dengan konservasi dan preservasi dari hasil penelitian tersebut membutuhkan ruang-ruang yang bersifat profitable untuk memberikan keberlangsungan aktivitas didalamnya yang berupa area wisata. Dalam hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan untuk membutuhkan inovasi baru yang bisa dilanjutkan dengan program-program selanjutnya sebagai upaya dalam melestarikan alam kawasan SMMA.
PRESERVASI BUDAYA OTOMOTIF MELALUI MUSEUM SEJARAH DI KEMAYORAN, JAKARTA Putra, Samuel Losan; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33928

Abstract

The Kemayoran area has a unique history and culture. The automotive culture, with its history in Kemayoran, is a hidden aspect that has left a significant impression on automotive enthusiasts in this century, which is gradually being forgotten as interest in automotive activities among the residents of Kemayoran declines. This journal aims to explore how architectural science can be used to preserve and potentially revive automotive culture and interest in Kemayoran. With the understanding of the phrase "Placeless Place," it can be seen that Kemayoran is starting to lose its significance as an ideal area for automotive-themed activities. By employing placemaking methods and examining the history of the Kemayoran area while focusing on the present, a review of how to preserve historical elements through architecture emerges. Through these methods and in-depth studies, iconic points of Kemayoran automotive history and ideal forms of historical preservation were obtained. An architectural design in the form of a historical museum building with complementary facilities in the form of entertainment and commercial, can help maintain and give birth to automotive interests that are starting to fade for residents of the Kemayoran area. The history of Kemayoran automotive culture can be preserved through architecture. Keywords:  automotive culture; history museum; interest; placeless place; preservation Abstrak Wilayah Kemayoran memiliki berbagai sejarah dan budaya yang cukup unik. Budaya otomotif dengan sejarahnya di daerah Kemayoran merupakan sebuah aspek tersembunyi yang cukup berkesan abad ini bagi para penggemar automotif, yang secara perlahan dilupakan dengan berkurangnya minat kegiatan otomotif penduduk Kemayoran. Jurnal ini bertujuan untuk meneliti cara ilmu arsitektur bisa digunakan untuk menjaga dan kemungkinan membangkitkan budaya dan minat otomotif di Kemayoran. Dengan pemahaman kalimat “Placeless Place”, dapat dilihat bahwa Kemayoran mulai kehilangan makna sebagai kawasan ideal untuk kegiatan bertema otomotif. Dengan metode placemaking, melihat sejarah kawasan Kemayoran dan memfokuskan pada masa sekarang, maka muncul sebuah ulasan cara preservasi bagian sejarah melalui arsitektur. Melalui metode dan pendalaman tersebut, dipetik poin-poin ikonis sejarah otomotif kemayoran dan bentuk preservasi sejarah yang ideal. Sebuah perancangan arsitektur berupa bangunan fungsi museum sejarah dengan fasilitas pelengkap berupa hiburan dan komersil, bisa membantu menjaga dan melahirkan minat otomotif yang mulai pudar bagi para penduduk wilayah Kemayoran. Sejarah budaya otomotif Kemayoran dapat dipreservasi melalui arsitektur.
PERANCANGAN ESCAPE HEALING PADA GEDUNG NITOUR DI KAWASAN HARMONI SEBAGAI THIRD PLACE DENGAN PENDEKATAN INFILL Theana, Biancha; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33930

Abstract

One of the icons in the Harmoni area of Central Jakarta is the Nitour Building, which was originally known as the Oger Freres Building in 1810. It served as a tailor shop for glamorous Dutch women's attire before parties at the Societeit De Harmonie building. The strength of Harmoni’s sense of place at that time lay in its role as the center of social and cultural activity in Batavia. The name "Nitour" derived from Netherlands-Indische Touristen Bureau (Dutch Travel Agency), in 1926, and recognized as the first travel agency in Indonesia. Over time, the Nitour Building has declining in  function and significance, as well disconnection from its surrounding environment. While maintaining its remaining colonial architectural character and historical value, the Nitour Building is now being proposed as a Cultural Heritage Building. Changes in the functions of buildings around the Harmoni area have led to a loss of the district’s identity. Based on these findings, a redesign proposal for the Nitour Building is needed, incorporating the concept of a Third Place and Infill Building as a way to restore meaning and identity to the building and its surroundings. The new design of the Nitour Building aims to become a comfortable place for leisure, blending the Third Place concept while preserving the original structure and adding new spaces for workshops. The goal is to revitalize the Harmoni area and position the Nitour Building as a hub for social activity. Keywords:  architecture third place; harmoni area; nitour building; placelessness Abstrak Salah satu ikon di kawasan Harmoni Jakarta Pusat adalah Gedung Nitour yang pada tahun 1810 bernama Gedung Oger Freres sebagai tempat menjahit busana glamor perempuan Belanda sebelum pesta di Gedung Societeit De Harmonie.  Kekuatan place kawasan Harmoni saat itu yaitu menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya di Batavia. Nama Nitour diambil dari NetherlandsIndische Touristen Bureau (agen perjalanan Belanda) yang berdiri sejak tahun 1926 dan menjadi agen travel pertama di Indonesia. Dalam perkembangannya, Gedung Nitour mengalami  penurunan fungsi dan peranan serta mengalami diskoneksi dengan lingkungannya. Dengan mempertahankan karakteristik arsitektur kolonial yang masih ada dan nilai sejarah yang dimilikinya, gedung Nitour kini sedang diusulkan untuk dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Perubahan fungsi bangunan di sekitar kawasan Harmoni telah mengakibatkan hilangnya identitas kawasan tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, maka diperlukan usulan perancangan ulang Gedung Nitour dengan konsep Third place dan Infill Building sebagai upaya untuk mengembalikan makna dan identitas pada gedung serta kawasannya. Desain baru Gedung Nitour akan menjadi tempat bersantai yang nyaman, menggabungkan konsep Third Place dan mempertahankan bangunan asli dengan penambahan ruang baru untuk workshop. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali kawasan Harmoni dan menjadikan Gedung Nitour sebagai pusat kegiatan sosial.
OPTIMALISASI DESAIN PERGUDANGAN BERBASIS ROBOTIK DI SUNDA KELAPA UNTUK MENDUKUNG DISTRIBUSI BARANG PADA WILAYAH PELABUHAN Agifta, Devana; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33931

Abstract

Sunda Kelapa Port is the heart of economic activity and many porters and other workers contribute to the logistics process and distribution of goods. From the time of the Tarumanegara Kingdom to the Dutch East Indies, the port of Sunda Kalapa was very active in the spice trade in the country. Many ships from Palembang, Tanjungpura, Malacca, Makassar, and Madura, and traders from India, South China, and Ryukyu (Japan) visited this port. Pepper, nutmeg, rice, and gold were exported from this port. However, since the construction of the Priok Port, the Sunda Kelapa Port has become quiet and the Port's identity as a transporter of spices has been replaced by transporting raw materials, sand, and groceries. As times change, trading activities have become completely digital and online, and now around the Port of Sunda Kelapa, many local expeditions accept goods delivery services with less organized warehousing conditions. Therefore, this project is aimed at accommodating more warehousing and rental office areas. Organized and efficient with several other programs, by providing a rental office area it is hoped that it can help the needs of existing warehouses, by implementing a robotic system in the warehousing area can be an attraction for people to visit and use local expeditions in Sunda Kelapa Currently using the concept of adaptive architecture in design, this research uses qualitative and quantitative methods. Keywords:  expedition; warehouse; logistic; online; robotic Abstrak Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan jantung aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pekerja kuli panggul dan pekerja lainnya yang berkontribusi pada proses logistik dan distribusi barang. Sejak masa Kerajaan Tarumanegara hingga Hindia Belanda, pelabuhan Sunda Kelapa sangat aktif dalam perdagangan rempah-rempah di Tanah Air. Banyak kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar dan Madura, serta pedagang dari India, Cina Selatan dan Ryukyu (Jepang) mengunjungi pelabuhan ini. Lada, pala, beras, dan emas diekspor dari pelabuhan ini. Namun sejak dibangunnya Pelabuhan Priok, Pelabuhan sunda kelapa menjadi sepi dan identitas Pelabuhan sebagai pengangkutan rempah-rempah tergantikan dengan pengangkutan bahan baku, pasir, dan kelontong. Seiring berubahnya zaman, kegiatan perdagangan berubah menjadi serba digital dan daring, dan kini di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa banyak ekspedisi lokal yang menerima jasa pengiriman barang dengan kondisi pergudangan yang kurang tertata, Oleh karena itu proyek ini ditujukan untuk mewadahi area pergudangan dan perkantoran sewa yang lebih tertata dan efisien dengan beberapa program lain, dengan diadakan area kantor sewa diharapkan bisa membantu kebutuhan pergudangan-pergudangan yang ada, dengan diterapkannya sistem robotik pada area pergudangan bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung dan menggunakan ekspedisi lokal di Sunda Kelapa saat ini dengan menggunakan konsep arsitektur adaptif pada desain, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
PUSAT HIBURAN, EDUKASI DAN TEATER SEBAGAI RUANG INTERAKSI SOSIAL DI KAWASAN MANGGA BESAR Tuju, Gilbertus Davy Ryan; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33932

Abstract

Since the Dutch era, Mangga Besar has been the center of entertainment destinations. There was once a park called Prinsen Park. This place became part of the history of theater and film, until it gave birth to the artist village "Tangkiwood". Now the place is gone and few people know about it. Prinsen Park began to be quiet since the era of analog television development. The surrounding environment was not organized and illegal settlements grew. Through rejuvenation, Prinsen Park was rebuilt into the Lokasari People's Entertainment Park (THR Lokasari). Now many shophouses are deserted and no longer operating. Until now, the place is also known negatively as a place of night entertainment for adults. The Mangga Besar Theater with a site location within the Lokasari area will create a positive and useful social interaction space by instilling memories of Prinsen Park through descriptive qualitative research methods. Education about theater arts and its history in Mangga Besar is carried out through schools around the area which are invited in turns to take part in training activities and presenting theater arts on stage. The target user visitors come from tourists to Mangga Besar and also the people of Jakarta who are assisted by adequate transportation such as trains. There is also a museum program and Prinsen Park History gallery, an art house with a recording studio and art workshops. Keywords:  education; entertainment; history; interaction; Lokasari Abstrak Sejak era Belanda, Mangga besar sudah menjadi pusat destinasi hiburan. Pernah terdapat sebuah taman dengan nama Prinsen Park. Tempat ini menjadi bagian dari sejarah teater dan perfilman, hingga melahirkan kampung artis “Tangkiwood”. Kini tempat itu sudah tidak ada dan sedikit yang mengetahuinya.  Prinsen Park mulai sepi semejak era perkembangan televisi analog. Lingkungan sekitarnya pun tidak tertata dan tumbuh pemukiman liar. Melalui peremajaan Prinsen Park diratakan dan dibangun kembali menjadi Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). Kini banyak ditemukan ruko sepi dan juga tidak beroperasi lagi.  Hingga saat ini tempat tersebut juga dikenal negatif sebagai tempat hiburan malam orang-orang dewasa. Teater Mangga Besar dengan lokasi tapak yang berada di lingkup kawasan Lokasari akan menciptakan ruang interaksi sosial yang positif dan bermanfaat dengan menanamkan memori Prinsen Park melalui metode penelitian kualitatif deskriptif. Edukasi mengenai seni teater dan sejarahnya di Mangga Besar dilakukan melalui sekolah-sekolah di sekitar kawasan yang diajak secara bergilir untuk ikut andil dalam aktivitas pelatihan dan menampilkan seni teater diatas panggung. Target user pengunjung berasal dari wisatawan Mangga Besar dan juga masyarakat Jakarta yang dibantu oleh transportasi yang memumpuni seperti Kereta. Terdapat juga program museum dan galeri Sejarah Prinsen Park, rumah seni dengan studio rekaman dan workshop seni.