cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MENGHIDUPKAN WISMA DELIMA DENGAN MEMADUKAN KONSEP CO-WORKING DAN CAPSULE HOTEL DI JALAN JAKSA Zhafirah, Althaf; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33933

Abstract

Jalan Jaksa is one of the iconic areas in Jakarta, known as an international tourist destination for backpackers. Since the 1960s, this area has been a popular choice for budget-conscious travelers, thanks to its strategic location and affordable accommodation prices. One of the iconic accommodations in the area is Wisma Delima, which has been operating for several decades, offering simple yet comfortable lodging for tourists. However, with shifting tourist interests and the emergence of new competition, the popularity of Wisma Delima and similar accommodations has begun to decline. This research aims to explore the factors behind the decline in Wisma Delima's popularity and the historical development of Jalan Jaksa as a backpacker tourism hub. Additionally, this study focuses on transforming Wisma Delima into more than just a capsule hotel by integrating a co-working space that supports flexible work trends, as well as creating a restaurant and bar to cater to the nighttime tourism scene. Through a re-design approach, it is hoped that Wisma Delima can attract more visitors, including both tourists and office workers, and contribute to the local economic growth of the Jalan Jaksa area. Keywords: capsule hotel; co-working space; redesign; wisma delima Abstrak Jalan Jaksa merupakan salah satu kawasan ikonik di Jakarta yang dikenal sebagai tujuan wisata internasional bagi para backpacker. Sejak tahun 1960-an, kawasan ini telah menjadi pilihan utama bagi wisatawan dengan anggaran terbatas, berkat lokasi yang strategis dan harga penginapan yang terjangkau. Salah satu penginapan ikonik di kawasan ini adalah Wisma Delima, yang beroperasi selama beberapa dekade dan menawarkan akomodasi sederhana yang nyaman bagi wisatawan. Namun, dengan adanya pergeseran minat wisatawan dan munculnya kompetisi baru, popularitas Wisma Delima serta penginapan serupa mulai menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor penyebab penurunan popularitas Wisma Delima dan sejarah perkembangan Jalan Jaksa sebagai pusat wisata backpacker. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada pengembangan Wisma Delima menjadi lebih dari sekadar kapsul hotel dengan mengintegrasikan co-working space yang mendukung tren kerja fleksibel, serta menciptakan restoran dan bar untuk mendukung wisata malam. Dengan pendekatan re-desain, diharapkan Wisma Delima dapat menarik lebih banyak pengunjung, termasuk wisatawan dan pekerja kantoran, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal di kawasan Jalan Jaksa.
PERANCANGAN KEMBALI PADA MAL PLAZA SEMANGGI DENGAN PENDEKATAN RE-ARCHITECTURE GUNA PEREMAJAAN FUNGSI Limima, Rafael; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33934

Abstract

A mall is a place where people can fulfill their needs, from clothing, food, to a daily needs. Moreover, Jakarta is the city with the largest number of malls in Indonesia. As time goes by, the habit of going to the mall has become a culture so it is not surprising that we see new malls always come up. Plaza Semanggi is a shopping center that began operating in 2004. When we compared to surrounding malls, Plaza Semanggi is a mall that targeting the lower middle class and sells many local products. As time went by, Plaza Semanggi increasing until finally it continued to decline and reached its lowest point in the 2019-2024 range. Many factors caused Plaza Semanggi to die. Meanwhile, the surrounding malls have survived and survived to this day, starting from their lack of competition with other malls around them to developer management problems rather than Plaza Semanggi itself. This research aims to restore and revive the shopping center which is right next to the Semanggi interchange by rejuvenating functions that had previously been abandoned into new functions that previously did not exist in the Semanggi Plaza. The Semanggi Plaza area is a very strategic area and is located in the center of Jakarta, filled with offices, business areas and residential areas so it has the potential to become a magnet for the surrounding area. Keywords: decline; rejuvenation; strategic Abstrak Mal merupakan sebuah tempat di mana orang-orang dapat memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari sandang, pangan, hingga kebutuhan papan. Terlebih Jakarta menempati kota dengan jumlah mal terbanyak di Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan pergi ke mal ini sudah membudaya sehingga tidak heran jika kita melihat selalu ada mal baru yang bermunculan. Plaza Semanggi adalah pusat perbelanjaan yang mulai beroperasi di tahun 2004 silam. Jika dibandingkan dengan mal di sekitarnya, Plaza Semanggi adalah mal dengan kelas sasaran menengah ke bawah dan banyak menjual produk-produk lokal. Seiring waktu berjalan Plaza Semanggi mengalami kenaikan sampai akhirnya terus menurun dan sampai di titik terendahnya di rentang tahun 2019-2024. Banyak faktor yang menyebabkan Plaza Semanggi menjadi mati. Sedangkan mal di sekitarnya bisa tetap hidup dan bertahan sampai saat ini, mulai dari kalah bersaingnya dengan mal lain di sekitarnya hingga permasalahan manajemen pengembang daripada Plaza Semanggi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembalikan dan menghidupkan kembali pusat perbelanjaan yang berada tepat di samping simpang susun Semanggi dengan cara melakukan peremajaan fungsi yang sebelumnya sudah ditinggalkan menjadi fungsi baru yang sebelumnya belum ada di Plaza Semanggi tersebut. Area Plaza Semanggi ini adalah area yang sangat strategis dan berada di pusat kota Jakarta, dipenuhi perkantoran, area bisnis, dan pemukiman sehingga sangat berpotensi untuk menjadi magnet bagi area di sekelilingnya.
PENERAPAN LITERASI ADAPTIF DALAM ARSITEKTUR KWITANG EDUKASI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Reynold, Theophilus; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33936

Abstract

Literacy in general is the ability to read and write, and when talking about literacy, it is closely related to books. Books are the windows to the world. That proverb, when applied to the current situation, seems less relevant, considering that books are no longer the only source of literacy used to gain knowledge. Speaking of literacy and books, Kwitang and its surroundings are areas rich in literacy, especially in the form of books. In the 1980s, Kwitang area began to be known as a book-selling district, but the passage of time and technological advancements led to a decline in visitors to Kwitang. Gradually, Kwitang is losing its sense of place as a literacy area. The cause is that physical books, which have been used for literacy and as centers of knowledge for centuries, are slowly being forgotten because interest in literacy through physical books is declining. This research aims to explore how the application of adaptive literacy in the educational architecture of Kwitang can be approached contextually. Adaptive literacy is intended to explore the ability of individuals and communities to access and apply literacy in accordance with the times. The contextual approach is expected to create educational spaces that are not only functional but also responsive to the evolving identity of the community and the changes related to literacy that occur. The desired outcome is the design of a library space and a space that accommodates innovations in literacy media in the form of an export literacy room. The library space that will be designed will continue to preserve books while also accommodating literacy in digital form. Keywords: adaptive; contextual; educational; literacy Abstrak Literasi secara umum merupakan kemampuan untuk dapat menulis dan membaca, ketika berbicara tentang literasi hal ini berkaitan erat dengan buku. Buku merupakan jendela dunia. Pepatah tersebut jika diterapkan pada kondisi sekarang ini nampaknya kurang relevan, mengingat buku pada kondisi sekarang bukan satu-satunya sumber literasi yang digunakan untuk menambah ilmu. Berbicara mengenai literasi maupun buku, Kelurahan Kwitang dan sekitar merupakan kawasan yang kental dengan literasi terutama dalam bentuk buku. Pada tahun 1980-an kawasan Kwitang mulai dikenal sebagai kawasan penjualan buku, tetapi perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat Kwitang mengalami penurunan pengunjung. Secara perlahan Kwitang kehilangan sense of place sebagai kawasan literasi. Penyebabnya adalah buku fisik yang selama berabad-abad dijadikan sebagai bahan literasi dan juga pusat pengetahuan secara perlahan-lahan mulai terlupakan dikarenakan peminat literasi dengan media buku fisik mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan literasi yang bersifat adaptif dalam arsitektur Kwitang edukasi melalui pendekatan kontekstual. Literasi adaptif yang dimaksud untuk menggali kemampuan individu maupun komunitas untuk dapat mengakses dan mengaplikasikan literasi sesuai dengan perkembangan zaman. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat menciptakan ruang edukasi bukan hanya fungsional tetapi juga merespons identitas masyarakat yang berkembang serta perubahan terkait literasi yang terjadi. Hasil yang ingin dicapai yaitu sebuah perancangan ruang perpustakaan dan juga ruang yang mengakomodasi inovasi dalam media literasi berupa ruang literasi export. Ruang perpustakaan yang dirancang nantinya tetap melestarikan buku selain itu juga mengakomodasi literasi dalam bentuk digital.
PENERAPAN KONSEP RUANG FLEKSIBEL DALAM BANGUNAN TINGGI PADA PUSAT KOMUNITAS DI GONDANGDIA Daniel, Daniel; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33937

Abstract

Boplo Market, also known as Gondangdia Market, was built in the 1920s by N.V. de Bouwploeg in the Nieuw-Gondangdia-Menteng area. The name "Boplo" is a local adaptation of "Bouwploeg," meaning "building group." Reconstructed in 2014 after a fire, the market held significant value for residents during the 1960s-1980s. However, rapid globalization and the shift from conventional to digital transactions have caused a decline in buyers and sellers, revealing the need for architecture to adapt to changing demands. This study seeks to redesign Boplo Market, focusing on creating a flexible structure that can accommodate evolving functions. Applying the regenerative approach introduced by Pamela Mang and Bill Reed, the redesign emphasizes revitalizing the natural environment and strengthening the surrounding community. The regenerative concept ensures the building's capacity for continuous renewal, making it future-proof and relevant over time. The design transforms what was once a placeless space—devoid of unique local identity—into an adaptive, contextually harmonious environment that responds to local needs and characteristics. Through a balance of tradition and innovation, the proposed redesign positions the market as a resilient space capable of withstanding the challenges of globalization while fostering a strong connection to its cultural and social context. This approach ensures that the market remains a vital, functional part of the community for years to come. Keywords:  boplo; community; flexible; placeless; regenerative Abstrak Pasar Boplo atau yang dikenal sebagai pasar Gondangdia, merupakan pasar yang dibangun pada tahun 1920-an, oleh N.V de Bouwploeg dan berada di kawasan Nieuw-Gondangdia-Menteng. N.V. Bouwploeg merupakan sebuah biro arsitektur yang bertujuan menata kawasan tersebut menjadi kota taman, dan nama Boplo merupakan pelafalan yang lebih lokal dari kata Bouwploeg oleh warga lokal, yang memiliki arti sebagai ‘kelompok membangun’. Pasar yang pernah mengalami pembangunan ulang pada tahun 2014 akibat kebakaran ini mempunyai arti penting bagi warga lokal pada tahun 1960-1980. Akibat dari globalisasi yang begitu cepat, perubahan kebutuhan dan proses jual-beli barang dan jasa antar manusia dari pembayaran konvensional menjadi pembayaran digital, Pasar Boplo kini mengalami penurunan jumlah pembeli dan penjual. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur perlu fleksibilitas dalam ruangnya, fleksibilitas yang dapat memfasilitasi perubahan fungsi yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang kembali bangunan Pasar Boplo, sehingga dapat lebih fleksibel terhadap perubahan fungsi di masa depan. Pendekatan regeneratif, seperti yang dikemukakan oleh Pamela Mang dan Bill Reed, diterapkan dengan tujuan untuk merevitalisasi lingkungan alam dan komunitas di sekitarnya. Konsep ini memungkinkan bangunan untuk terus-menerus memperbarui dirinya seiring waktu. Dalam pengembangan narasi arsitektur, konsep regeneratif diterapkan pada ruang yang awalnya tidak memiliki identitas lokal (placeless), sehingga mampu menciptakan ruang yang adaptif dan selaras dengan kebutuhan serta karakteristik lokal. Bangunan ini dirancang agar tetap relevan dan bertahan menghadapi tantangan globalisasi.
REVITALISASI GEDUNG MATAHARI DEPARTMENT STORE DIKAWASAN PASAR BARU: ARSITEKTUR INTERAKTIF UNTUK KOMUNITAS DAN BISNIS Carent Chia, Christ; Gandha, Maria Veronicha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33938

Abstract

The phenomenon of "placeless place" in Jakarta's Pasar Baru area, particularly in the Matahari Department Store building, reflects the degradation of spatial function caused by modernization, globalization, and the COVID-19 pandemic. Once an iconic commercial landmark, this building has lost its appeal and requires revitalization through the concept of interactive architecture. This study aims to redesign the building as a community and business hub that fosters social interaction and cultural preservation. The literature review focuses on the concepts of placelessness, revitalization of historic areas, and interactive architecture, which provides solutions through kinetic and digital designs to enhance spatial experience. The research methods include field observation, interviews, and activity mapping analysis to understand existing conditions and user needs. The findings reveal that the application of interactive architecture in mass formation can create spaces that integrate commercial, social, and cultural activities. Design elements such as kinetic facades, circular circulation, and multifunctional open spaces are implemented to support spatial functions. The spatial programs include retail zones, interactive workshops, co-working spaces, and collaborative art areas, all interconnected. This design allows the community to actively participate in space activities, revitalizing the social and economic functions of the area.The revitalization of the Matahari Department Store is expected to act as a catalyst for the resurgence of Pasar Baru as a dynamic urban destination, engaging communities, visitors, and businesses in creating sustainable and meaningful spaces. Keywords: community design; interactive architecture; Pasar Baru; placeless place; revitalization Abstrak Fenomena "placeless place" di kawasan Pasar Baru, Jakarta, terutama pada Gedung Matahari Department Store, mencerminkan degradasi fungsi ruang akibat modernisasi, globalisasi, dan pandemi COVID-19. Gedung ini, yang sebelumnya menjadi ikon komersial kini kehilangan daya tariknya, sehingga memerlukan penanganan berbasis konsep arsitektur interaktif agar dapat menciptakan daya tarik baru untuk menarik minat pengunjung. Penelitian ini bertujuan merancang gedung tersebut sebagai pusat komunitas dan bisnis yang mendukung interaksi sosial serta pelestarian budaya. Kajian literatur berfokus pada konsep placelessness, revitalisasi kawasan bersejarah, dan arsitektur interaktif, yang menawarkan solusi melalui desain kinetik dan digital untuk meningkatkan pengalaman ruang. Metode penelitian melibatkan observasi lapangan, wawancara, dan analisis peta aktivitas kawasan, yang digunakan untuk memahami kondisi eksisting dan kebutuhan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan upaya revitalisasi bangunan dan kawasan. Melalui arsitektur interaktif pada desain dapat menciptakan ruang yang menghubungkan aktivitas komersial, sosial, dan budaya. Elemen desain seperti fasad kinetik, sirkulasi melingkar, dan ruang terbuka multifungsi diterapkan untuk mendukung fungsi ruang. Program ruang mencakup zona retail, workshop interaktif, co-working space, dan area seni kolaboratif yang saling terintegrasi. Desain ini memungkinkan masyarakat menjadi bagian aktif dari aktivitas ruang, sehingga mampu menghidupkan kembali fungsi sosial dan ekonomi kawasan. Revitalisasi Gedung Matahari diharapkan menjadi katalisator bagi kebangkitan Pasar Baru sebagai destinasi urban yang dinamis, melibatkan komunitas, pengunjung, dan bisnis dalam menciptakan ruang yang berkelanjutan dan bermakna.
TRANSFORMASI GRAND THEATER SENEN: PENDEKATAN DESAIN FLEKSIBEL ADAPTIF DALAM MENCIPTAKAN RUANG MULTIFUNGSI Gratiano, Giuseppe; Gandha, Maria Veronicha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33939

Abstract

The development of technology and time has pushed many things to be better, but there are also some things that must be left behind. This forms the phenomenon of the abandonment of old buildings because they have fallen behind the times and have begun to be forgotten, one of which is the Grand Theater Senen. The issue began with the emergence of more modern cinema business competitors, coupled with the absence of maintenance and renewal of the building so that this building was widely used by the community for negative activities such as pickpocketing, the spread of narcotics, and prostitution. Until finally this building experienced functional degradation and lost its identity. In essence, Grand Theater Senen has a strategic location, located in the middle of the intersection of five very busy main roads. Coupled with the proximity of the site to the Transjakarta bus stop and Senen Station. With the high activity of the area that is classified as high raises the problem of abandoned buildings in the middle of the Senen Market Area, its proximity to the untidy market makes the image of the Senen Market Area dirty and shabby. From the problems that arise, space is needed that can be used by the community by feeling ownership of the building and can be adjusted to the needs of visitor activities. The research step was carried out by conducting a study related to the Grand Theater Senen building within the last five years, then continued with direct observation for mapping related to potential points around the site, and continued with the design of the building program, the program includes community space, culinary, offices, museums and galleries.  The application of the flexibility concept aims to provide space to visitors that can be adjusted to the needs of activities for the sustainability of the building. Keywords: degradation; flexibility; history of Grand Theatre Senen Abstrak Perkembangan teknologi dan zaman telah mendorong banyak hal menjadi lebih baik, namun ada beberapa hal juga yang harus tertinggal. Hal ini membentuk fenomena tertinggalnya bangunan tua karena sudah tertinggal zaman dan sudah mulai dilupakan, salah satunya adalah Grand Theater Senen. Isunya dimulai dengan munculnya pesaing bisnis bioskop yang lebih modern, ditambah dengan tidak adanya perawatan maupun pembaruan pada bangunannya sehingga bangunan ini banyak digunakan masyarakat untuk aktivitas negatif seperti pencopetan, penyebaran narkotika, dan prostitusi. Hingga akhirnya bangunan ini mengalami degradasi fungsi dan kehilangan identitasnya. Pada hakikatnya Grand Theater Senen memiliki lokasi yang strategis, letaknya berada di tengah persimpangan lima jalanan utama yang sangat ramai. Ditambah lagi dengan dekatnya tapak dengan halte Transjakarta dan Stasiun Senen. Dengan ramainya aktivitas kawasan yang tergolong tinggi memunculkan masalah adanya bangunan terbengkalai di tengah kawasan Pasar Senen, kedekatannya dengan tidak rapinya pasar membuat citra kawasan Pasar Senen menjadi kotor dan kumuh. Dari permasalahan yang muncul dibutuhkan ruang yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan merasakan kepemilikan terhadap bangunan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas pengunjungnya. Langkah penelitian dilakukan dengan melakukan kajian terkait bangunan Grand Theater Senen dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kemudian dilanjutkan dengan observasi secara langsung untuk mapping terkait titik potensi yang ada di sekitar tapak, dan dilanjutkan dengan perancangan program bangunan, program tersebut meliputi community space, kuliner, perkantoran, museum dan galeri. Penerapan konsep fleksibilitas bertujuan untuk memberikan ruang kepada pengunjung yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas untuk keberlanjutan bangunan.
IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN DI SEKITAR MUARA KALI MARO KAWASAN KONDAP-CIKOMBONG, KELAPA LIMA, KOTA MERAUKE Balagaize, Elisabeth Ella S.; Herlambang, Suryono; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33940

Abstract

Merauke City is the capital of South Papua Province which is located in the easternmost part of Indonesia and was inaugurated by President Joko Widodo in 2022. The area of ​​Merauke City is 45,013.35 km2 and borders directly with the State of Papua New Guinea. In line with its status as the Provincial Capital, the Merauke City Region is the center of economic activities, education, and more adequate living facilities, making it an attraction for people to migrate and can lead to an increase in population. One of the essences is that the need for organizational infrastructure and facilities continues to increase, resulting in a decrease in the carrying capacity of organizational environmental infrastructure and facilities in the Merauke City area. The plains of the city of Merauke are areas bordered by water areas in the form of swamps, the sea, and the Maro River Estuary, which are the icons of Merauke City. The aim of this research is to determine the level of slums and directions for structuring settlements around Muara Kali Maro in the Kondap - Cikombong area, Kelapa Lima Village, Merauke City. There are four analyses used in this research, namely Policy Analysis, River Border Line Analysis, Land Status Analysis, and Slum Level Analysis with Scoring calculations to determine the level of slums and recommend structuring directions at the location of the study object. Based on the results of the analysis of the location of the Kondap-Cikombong slum organization in Merauke City, which is located on a land area of ​​9.12 hectares, it is in the level of heavy slum with a score of 73, so there is a need for improvements and arrangements in housing conditions and infrastructure as an effort to increase the level of quality of life of the community in inside it. Keywords: Area; City; Merauke; Settlement; Slum; Structuring Abstrak Kota Merauke merupakan Ibu Kota Provinsi Papua Selatan yang terletak di bagian Paling Timur Indonesia dan baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2022 silam. Luas Wilayah Kota Merauke adalah  45.013,35 km2  serta berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea. Sejalan dengan statusnya sebagai Ibu Kota Provinsi Kawasan Kota Merauke merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, pendidikan, serta fasilitas kehidupan yang lebih memadai, sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk melakukan migrasi dan dapat menyebabkan peningkatan jumlah penduduk. Salah satu implikasinya adalah kebutuhan prasarana dan sarana permukiman terus meningkat,  sehingga mengakibatkan penurunan daya dukung prasarana dan sarana lingkungan permukiman pada daerah Kota Merauke. Dataran kota merauke merupakan daerah yang dibatasi dengan daerah perairan berupa rawa, Laut dan Muara Kali Maro yang menjadi iconic Kota Merauke. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kekumuhan dan arahan penataan Permukiman di Sekitar Muara Kali Maro, Kawasan Kondap - Cikombong, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Merauke. Terdapat empat analisis yang digunakan pada penelitian ini, yaitu Analisis Kebijakan, Analisis Garis Sempadan Sungai, Analisis Status Lahan dan Analisis Tingkat Kekumuhan dengan menghitung Scoring untuk mengetahui tingkat kekumuhan dan merekomendasikan arahan penataan pada lokasi objek studi. Berdasarkan hasil analisis lokasi permukiman kumuh Kondap-Cikombong kota Merauke yang berdiri di tanah seluas 9,12 ha ini ada dalam tingkat kekumuhan berat dengan skor 73, sehingga perlu adanya perbaikan dan penataan pada kondisi perumahan dan infrastruktur sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat kualitas hidup masyarakat di dalamnya.
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK 4 SEGMEN KORIDOR JALAN UTAMA KOTA TANGERANG SELATAN (JL. PAHLAWAN SERIBU, JL. KAPTEN SOEBIANTO DJOJOHADIKUSUMO, JL. RAYA RAWABUNTU, DAN JL. BUARAN) Andini, Finella; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33941

Abstract

A good road corridor is one that pays attention to functionality, quality, and aesthetics, all optimized to meet road corridor planning standards. The profile of physical conditions in this study aims to determine the existing conditions regarding road user comfort, visual quality, and whether they can support the functions along the corridor. Since the road in the corridor of the research object functions as the main access road, it is a crucial route for road users traveling from both outside and within the city to reach areas around the corridor. This research was conducted in South Tangerang City, Serpong District, specifically in the corridor of Jalan Pahlawan Seribu, Jalan Kapten Soebianto Djojohadikusumo, Jalan Raya Rawabuntu, and Jalan Raya Buaran. In its existing condition, the road corridor is divided into four segments based on the intersections separating the four roads. This study examines the physical anatomy of the corridor, which includes roads, pedestrian paths, and building types, along with access and circulation, complementary elements of the corridor such as parking and public transportation stops, landscape elements including vegetation and street furniture, and finally, the supporting activities along the corridor. The method used is descriptive, reflecting on road corridor planning standards and ITDP, to evaluate the physical condition of the corridor. The results showed that understanding the existing conditions of the corridor can provide suggestions for improving its quality. Keywords: Functionality; ITDP; Street Corridor; Visual Quality Abstrak Koridor jalan yang sempurna adalah koridor jalan yang memperhatikan fungsionalitas, kualitas, dan estetika secara optimal terhadap standar perencanaan koridor jalan. Profil terhadap kondisi fisik pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting mengenai kenyamanan pengguna jalan, kualitas visual, dan dapat mendukung fungsi yang terdapat di sepanjang koridor. Mengingat bahwa jalan yang berada di koridor objek penelitian difungsikan sebagai jalan utama yang menjadi akses penting bagi pengguna jalan yang berasal dari luar kota maupun dalam kota untuk mencapai kawasan di sekitar koridor. Penelitian ini dilakukan di Kota Tangerang Selatan, Kecamatan Serpong, yaitu pada koridor Jalan Pahlawan Seribu, Jalan Kapten Soebianto Djojohadikusumo, Jalan Raya Rawabuntu, dan Jalan Raya Buaran. Pada kondisi eksisting, koridor jalan dibagi menjadi empat segmen berdasarkan persimpangan yang memisahkan keempat jalan tersebut. Kajian ini membahas tentang anatomi fisik koridor meliputi jalan, jalur pejalan kaki, dan tipe bangunan, kemudian akses dan sirkulasi, elemen pelengkap koridor meliputi parkir dan titik pemberhentian transportasi umum, kemudian lanskap meliputi vegetasi dan furnitur jalan, dan yang terakhir yaitu aktivitas pendukung pada koridor. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang berkaca berdasarkan standar perencanaan koridor jalan dan ITDP, untuk membahas kondisi fisik koridor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mengetahui kondisi eksisting yang terdapat pada koridor Jalan Pahlawan Seribu, Jalan Kapten Soebianto Djojohadikusumo, Jalan Raya Buaran, dan Jalan Buaran Raya dapat memberikan saran dalam meningkatkan kualitas dan keselamatan pada koridor yang lebih baik.
ANALISIS KONEKTIVITAS SIMPANG TEMU LEBAK BULUS DALAM MENGHUBUNGKAN STASIUN MRT LEBAK BULUS TERHADAP JUMLAH PENGUNJUNG MALL POINS Putri, Michelle; Bella, Priyendiswara Agustina; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33942

Abstract

Jakarta, as one of the largest metropolitan cities in Indonesia, continues to improve its public transportation system to support the growing mobility needs of its population. One of the key initiatives in this effort is the construction of Simpang Temu Lebak Bulus, which serves as a connector between Lebak Bulus MRT Station and Poins Mall. This project is a collaboration between PT MRT Jakarta, as the MRT operator, and PT Menara Prambanan, the developer of Poins Mall. The strategic location of Poins Mall, near the transit-oriented area of Lebak Bulus, makes it a vital point in the existing public transportation network. Simpang Temu Lebak Bulus is designed to provide convenient pedestrian access, featuring a safe and comfortable pedestrian bridge. This infrastructure is expected not only to enhance the convenience of public transportation users but also to drive local economic growth by attracting more visitors to Poins Mall. This research aims to analyze the impact of Simpang Temu Lebak Bulus on the number of visitors to Poins Mall. Traffic flow analysis methods will be used to measure the percentage of pedestrians passing through and their destinations, as well as to evaluate the effectiveness of the built infrastructure. The results of this study are expected to provide valuable recommendations for stakeholders, including the government and developers, in efforts to increase the number of visitors to Poins Mall and improve public transportation infrastructure in Jakarta. Therefore, Simpang Temu Lebak Bulus can significantly contribute to improving the quality of life of the community and the development of the surrounding area. Keywords:  Connectivity; Lebak Bulus MRT Station; Pedestrian Flow; Poins Mall; Simpang Temu Lebak Bulus Abstrak Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, terus berupaya meningkatkan sistem transportasi publiknya untuk mendukung mobilitas masyarakat yang semakin meningkat. Salah satu inisiatif penting dalam hal ini adalah pembangunan Simpang Temu Lebak Bulus, yang berfungsi sebagai penghubung antara Stasiun MRT Lebak Bulus dan Mal Poins. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara PT MRT Jakarta, sebagai pengelola MRT, dan PT Menara Prambanan, yang bertindak sebagai pengembang Mal Poins. Lokasi Mal Poins yang strategis, dekat dengan kawasan berorientasi transit Lebak Bulus, menjadikannya titik penting dalam jaringan transportasi publik yang ada. Simpang Temu Lebak Bulus dirancang untuk memberikan kemudahan akses bagi pejalan kaki, dengan menyediakan jembatan penyeberangan yang aman dan nyaman. Infrastruktur ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi publik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menarik lebih banyak pengunjung ke Mal Poins. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar pengaruh Simpang Temu Lebak Bulus terhadap jumlah pengunjung Mal Poins. Metode penghitungan arus lalu lintas akan digunakan untuk mengukur persentase pejalan kaki yang melintas dan tujuan mereka, serta untuk mengevaluasi efektivitas infrastruktur yang telah dibangun. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang berguna bagi pihak terkait, termasuk pemerintah dan pengembang, dalam upaya meningkatkan jumlah pengunjung Mal Poins dan memperbaiki infrastruktur transportasi publik di Jakarta. Dengan demikian, Simpang Temu Lebak Bulus dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pengembangan kawasan sekitarnya.
IDENTIFIKASI KONDISI PASCA PENATAAN KAWASAN KULINER PASAR LAMA TANGERANG Tannuwijaya, Wilsen; Suryadjaja, Regina; Herlambang, Suryono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33943

Abstract

Pasar Lama Culinary Area is one of the famous and historical icons in Tangerang City that reflects, especially, the development of social, economic, and cultural aspects. Pasar Lama Culinary Area is now a culinary destination that offers authentic traditional snacks, so that many visitors come, including from outside Tangerang City. At the end of 2022, Pasar Lama Culinary Area was reorganized to overcome various problems that appeared. Realignment is defined as an effort to increase the value of land/area through redevelopment in an area that can improve the function of the previous area. Reorganization is not something that is only oriented towards completing physical beauty, but must also be complemented by improving the community’s economy and recognizing existing culture. This research aims to identify the condition of Pasar Lama Culinary Area after the realignment. This research uses descriptive methods, namely by describing conditions related to data related to Pasar Lama Culinary Area and comparisons, namely by describing conditions before and after structuring. The data collection techniques used were observation, interview, and documentation. The results of the study showed a positive impact after the arrangement of the Pasar Lama Culinary Area. This finding indicates that the arrangement carried out has had a good impact and added to the tourist attraction in Pasar Lama Culinary Area. Keywords:  Culinary Destinations; Icon;  Realignment Abstrak Kawasan Kuliner Pasar Lama merupakan salah satu ikon terkenal dan bersejarah yang berada di Kota Tangerang yang mencerminkan khususnya perkembangan dari segi sosial, ekonomi, dan budaya. Kawasan Kuliner Pasar Lama kini merupakan destinasi kuliner yang menawarkan jajanan tradisional yang otentik sehingga banyak pengunjung yang datang termasuk dari luar Kota Tangerang. Pada akhir tahun 2022, Kawasan Kuliner Pasar Lama dilakukan penataan ulang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul. Penataan kembali diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai lahan/kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya. Penataan kembali bukan sesuatu yang hanya berorientasi pada penyelesaian keindahan fisik saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan peningkatan ekonomi masyarakat serta pengenalan budaya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang pasca dilakukannya penataan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu dengan menggambarkan kondisi yang berhubungan dengan data terkait Kawasan Kuliner Pasar Lama dan komparasi yaitu dengan menggambarkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukannya penataan ulang. Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah dengan melalui pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya dampak positif setelah dilakukannya penataan pada Kawasan Kuliner Pasar Lama. Temuan ini mengindikasikan bahwa penataan yang dilakukan sudah berdampak baik dan menambah daya tarik wisata pada Kawasan Kuliner Pasar Lama.