cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
DESAIN SISTEM REGENERATIF PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DENGAN KONSEP ARSITEKTUR PERMAKULTUR DI LEBAK BULUS, JAKARTA SELATAN Nathania, Flavenie; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35560

Abstract

The phenomenon of organic waste processing sites in Indonesia particularly the accumulation of fruit and vegetable peels being transformed into valuable products such as eco-enzymes, compost, animal feed, biogas, and bioplastics has attracted public attention as an effective solution to reduce waste and support environmental sustainability. The issue of organic waste highlights the growing need for processing spaces that are not only practical but also foster harmony between humans and nature. The absence of such spaces that can create this harmony has now become a pressing concern. The aim is to establish an organic waste processing facility through the application of permaculture architecture and fermentation principles to build a regenerative system and encourage community involvement in waste management. This research employs a qualitative approach by conducting literature reviews, survey interviews, and on-site observations. The writing process begins with data collection, followed by analysis to develop the permaculture architecture concept. The findings show that applying permaculture principles such as care for the Earth, care for people, and fair share along with the management of zones zero to five as part of a productive ecosystem, has significant ecological and social impacts. Located in Lebak Bulus, this project serves as a regenerative laboratory that integrates architecture, waste, and community, while reviving the land’s former agricultural function. The program includes educational facilities, community spaces, and productive land that support food security and long-term sustainability. Keywords: community; fermentation; permaculture; regenerative; waste  Abstrak Fenomena tempat pengolahan sampah organik yang menumpuk di Indonesia, terutama kulit buah dan sayur, menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti eco-enzym, kompos, pakan hewan, biogas, dan bioplastik, memikat perhatian masyarakat sebagai solusi efektif untuk mengurangi sampah dan mendukung kelestarian lingkungan. Isu sampah organik mendorong munculnya kebutuhan ruang pengolahan yang tidak hanya praktis, tetapi juga membangun keharmonisan antara manusia dan alam. Ketiadaan tempat pengolahan yang dapat menciptakan keharmonisan antara manusia dan alam ini kini menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Tujuannya adalah menghadirkan tempat pengolahan sampah organik melalui penerapan prinsip arsitektur permakultur dan fermentasi untuk membangun sistem regeneratif serta mendorong keterlibatan komunitas dalam pengelolaan sampah organik. Metode penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif dengan melakukan kajian pustaka, wawancara survei, dan observasi di lokasi. Langkah penulisan dimulai dengan pengumpulan data, kemudian dianalisis untuk mengembangkan konsep arsitektur permakultur. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa penerapan prinsip permakultur seperti kepedulian terhadap bumi, manusia, dan pembagian yang adil, serta pengelolaan dari zona nol hingga lima sebagai bagian dari ekosistem produktif memberikan dampak ekologis dan sosial yang signifikan. Berlokasi di Lebak Bulus, tempat ini berfungsi sebagai laboratorium regeneratif yang mengintegrasikan arsitektur, sampah, dan komunitas serta menghidupkan kembali fungsi lahan perkebunan. Temuan program mencakup fasilitas edukasi, ruang komunitas, dan lahan produktif yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan.
TRANSFORMASI SOSIAL DALAM PARADIGMA TENGGELAM MELALUI RUANG PEMBERDAYAAN KOMUNITAS NELAYAN DI PESISIR MUARA ANGKE Dewabrata, Valentinus Bagas; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35561

Abstract

The city of Jakarta is gradually experiencing geographical and ecological transformation due to land subsidence, sea level rise, and the continuous imbalance of urban development. One of the most significantly affected areas is Muara Angke, a coastal zone in North Jakarta inhabited by fishing communities, yet burdened by dense warehousing, piles of domestic waste, and the pressure of urbanization. Rather than preserving land that is constantly at risk of submersion, this project responds through a regenerative architectural approach—one that accepts the submergence of land as a natural phase, where spatial solutions to coexist with water can be created. The design methodology includes social and ecological observation, site analysis, spatial function mapping, and modeling based on three main phases: the development of adaptive warehouses, the transformation of fishermen's community housing, and the conservation of mangrove areas as a form of rewilding. The massing is composed through a vertical fractal system with abstract tectonics that responds to tidal fluctuations and supports the sustainability of the fishing community. It integrates a fish distribution system, waste management, and circular-based production spaces. The outcome of this design offers a new paradigm: that submersion is not the end, but rather the beginning of ecological and social regeneration. Architecture is no longer a fortress against nature, but a mediator that merges, adapts, and reinforces the continuity of both human and environmental life. Keywords: Angke; coastal; fisherman; mangrove; regenerative Abstrak Kota Jakarta secara perlahan mengalami transformasi geografis dan ekologis akibat penurunan tanah, kenaikan air laut, dan ketidakseimbangan pembangunan yang terus menerus meningkat. Salah satu kawasan yang terdampak signifikan adalah Muara Angke, sebuah zona pesisir Jakarta Utara yang dihuni oleh banyak komunitas nelayan, namun juga dipenuhi oleh area pergudangan, tumpukan limbah sampah domestik, dan tekanan urbanisasi. Daripada mempertahankan kondisi daratan yang terus-menerus terancam tenggelam, proyek ini meresponnya melalui pendekatan arsitektur regeneratif-sebuah metode yang menerima air tergenang di sebuah daratan sebagai fase alami dimana solusi spasial untuk hidup berdampingan dengan air dapat diciptakan. Metodologi perancangan yang dilakukan yaitu melalui observasi sosial dan ekologis, analisis tapak, pemetaan fungsi spasial, dan pemodelan berbasis tiga fase utama: pembangunan gudang adaptif, transformasi hunian komunitas nelayan, dan konservasi kawasan mangrove sebagai bentuk rewilding. Gubahan massa dibentuk dengan sistem fraktal vertikal, dan tektonik abstrak yang menyesuaikan kondisi pasang surut air laut serta mendukung keberlanjutan komunitas nelayan. Di dalamnya terintegrasi sistem distribusi ikan, pengelolaan limbah, serta ruang produksi berbasis sirkular. Hasil dari rancangan ini menawarkan sebuah paradigma baru bahwa tenggelam bukanlah akhir, melainkan awal dari proses regenerasi ekologis dan sosial. Arsitektur hadir bukan sebagai benteng terhadap alam, melainkan sebagai mediator melebur, beradaptasi, dan memperkuat keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan.
LANDMARK WATER WHISPER DI WADUK RIA RIO, PULOMAS DEMI MEREGENERASI KUALITAS AIR Hellery, Patricia; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35562

Abstract

The phenomenon of quality degradation in the Ria Rio Reservoir, Pulomas is an example of negligence arising from the decline in water quality and activities that are continuously ignored. The decline and passivity are the main issues faced. This requires innovative solutions to restore the water ecosystem and raise awareness of the importance of water quality. With the approach of “behavioral architecture”, this study explores the potential integration of "Water Whisper" as a monumental structure that functions dually: a visual representation of the relationship between humans-water-nature and a catalyst for water purification and education. The purpose is to analyze how the architectural design of "Water Whisper" through integrated technology, can increase the understanding and involvement of urban communities towards water quality issues in the Ria Rio Reservoir. The research method involves observation of reservoir conditions, precedent studies and literature studies on regenerative landmark design and natural water purification technology. The analysis includes the potential location of landmarks, integration of purification systems, and projections of impacts on community awareness and behavior. The spatial novelty lies in the application of the interactive landmark concept as a solution to increase awareness and action on the decline in water quality in urban environments. The expected outcome is that the effective “Water Whisper” model not only raises awareness in the Ria Rio Reservoir, but can also be replicated to address similar issues in other urban areas. Keywords:  behavioral architecture; landmark; regenerative; water quality Abstrak Fenomena degradasi kualitas di area Waduk Ria Rio, Pulomas merupakan contoh kelalaian yang timbul dari penurunan kualitas air dan aktivitas yang terus dibiarkan. Berkurangnya serta sikap pasif menjadi isu utama yang dihadapi. Masalah ini memerlukan solusi inovatif untuk memulihkan ekosistem air dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas air. Dengan pendekatan arsitektur perilaku, penelitian ini mengeksplorasi potensi integrasi "Water Whisper" sebagai struktur monumental yang berfungsi ganda: representasi visual keterkaitan manusia-air-alam dan katalisator pemurnian air serta edukasi. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana desain arsitektur "Water Whisper", melalui teknologi terintegrasi, dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat urban terhadap isu kualitas air di Waduk Ria Rio. Metode penelitian melibatkan observasi kondisi waduk, studi preseden dan literatur desain landmark regeneratif serta teknologi pemurnian air alami. Analisis meliputi potensi lokasi landmark, integrasi sistem pemurnian, dan proyeksi dampak terhadap kesadaran serta perilaku masyarakat. Kebaruan keruangan terletak pada penerapan konsep landmark interaktif sebagai solusi peningkatan kesadaran dan tindakan terhadap penurunan kualitas air di lingkungan urban. Hasil yang diharapkan adalah model "Water Whisper" yang efektif tidak hanya meningkatkan kesadaran di Waduk Ria Rio, namun juga dapat direplikasi untuk mengatasi masalah serupa di wilayah perkotaan lainnya.
WATER – ENERGY NEXUS: ARSITEKTUR SISTEM PENGELOLAAN AIR DAN ENERGI ALTERNATIF DI KAMPUNG TELUK GONG – JAKARTA UTARA Salsabila, Annisa Diva; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35563

Abstract

Kampung Teluk Gong in North Jakarta is currently facing a critical shortage of clean water due to waste pollution and inadequate sanitation infrastructure. This paper presents a regenerative architectural solution through the Water–Energy Nexus approach, which integrates rainwater and floodwater treatment systems into clean water sources while utilizing them as an alternative energy supply. The study is focused on a micro-site scale using a community-based design approach, without exploring broader aspects such as policy, macroeconomic considerations, or city-wide utility systems. The scope is limited to: (1) social and site analysis in Kampung Teluk Gong; (2) the application of simple technologies such as water filtration and structure-based micro-hydro systems; and (3) spatial programming that responds to local climate and community habits. The “Oasis of Peace” project serves as a conceptual reference for sustainable water systems, but only as a programmatic inspiration. The design centers on a multifunctional building with three primary zones: sustainable housing, clean water distribution, and social-educational spaces. The findings indicate that a modular stepwell design can contextually address basic water and energy needs. This paper does not include technical simulations or numerical efficiency calculations, thus offering opportunities for future research on structural and technological aspects. Keywords: architecture; clean water; regenerative; residential; village Abstrak Kampung Teluk Gong di Jakarta Utara saat ini menghadapi masalah ketersediaan air bersih akibat pencemaran limbah dan kurangnya infrastruktur sanitasi. Tulisan ini menguraikan solusi arsitektur regeneratif dengan pendekatan Water–Energy Nexus, yang mencakup penggabungan sistem pengolahan air hujan dan banjir menjadi air bersih serta pemanfaatannya sebagai sumber energi alternatif. Penelitian ini berfokus pada skala tapak mikro dengan pendekatan desain yang berbasis komunitas, tanpa mengkaji aspek kebijakan, ekonomi makro, atau sistem utilitas kota secara umum. Pembahasan terbatas pada: (1) analisis sosial dan lokasi di Kampung Teluk Gong; (2) penggunaan teknologi sederhana seperti filtrasi air dan mikrohidro berbasis struktur; serta (3) pengembangan program ruang yang responsif terhadap iklim dan kebiasaan masyarakat. Studi kasus "Oasis of Peace" dijadikan acuan untuk konsep sistem air berkelanjutan, tetapi hanya sebagai sumber inspirasi untuk program. Desain berfokus pada gedung serbaguna dengan tiga area utama: hunian berkelanjutan, penyediaan air bersih, dan tempat sosial untuk pendidikan. Temuan menunjukkan bahwa rancangan stepwell dapat memenuhi kebutuhan mendasar akan air dan energi masyarakat secara kontekstual. Jurnal ini tidak menyertakan simulasi teknis sistem air atau perhitungan efisiensi energi secara numerik, sehingga memberikan peluang penelitian lebih lanjut pada aspek struktural dan teknologi di masa yang akan datang.
DAPUR KOMUNITAS SEBAGAI MEDIUM REGENERATIF SOSIAL DAN LINGKUNGAN DI KAWASAN PERMUKIMAN AIR KAMPUNG APUNG Tantheo, Richard; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35564

Abstract

Kampung Apung is an urban village located in West Jakarta, much of which is now submerged under water. This village was formerly known as Tanah Bengkok, an area that served as a cemetery for Chinese and Malay ethnic communities. In the 1960s, due to the urgent need for housing, local residents began settling along the edges of the cemetery, gradually forming a residential area called Kapuk Teko. Then, in 1979, industrial development led to excessive land filling around the settlement. This land filling created a basin-like depression in the Kapuk Teko area. As a result of continuous flooding and the lack of water drainage from this basin, water has remained stagnant permanently, causing the settlement to become known as Kampung Apung, or the "Floating Village."Due to its hidden location and its unique characteristic of being situated on water, the general public remains largely unaware of the village’s true condition. The lack of communal spaces and clean water in Kampung Apung has become a major issue. The grassy field that once served as a gathering place for the community has now been submerged, leaving residents without a space to come together. The absence of public spaces such as parks, squares, or community centers means that residents have no place to relax, exercise, or hold recreational activities. Furthermore, although it may appear clear, well water in Kampung Apung does not meet clean water standards and cannot be used without treatment.The methods used in this study include descriptive analysis, interviews, and direct observation. The results indicate the urgent need for a community kitchen program that can function as a regenerative hub—reviving communal space, strengthening social resilience, and fostering a healthier micro-ecosystem. Keywords: community; food; kitchen; social; water Abstrak Kampung Apung merupakan sebuah kampung kota di Jakarta Barat yang sebagian besarnya kini tergenang di atas air. Kampung ini dulunya dikenal dengan sebutan Tanah Bengkok yang merupakan area pemakaman etnis Cina dan Melayu. Pada tahun 1960, dikarenakan kebutuhan mendesak akan tempat tinggal, penduduk setempat membangun permukiman di sekitar tepi pemakaman yang secara perlahan membentuk permukiman yang dinamakan Kapuk Teko. Lalu pada tahun 1979, dibangun industri sehingga dilakukannya pengurukan tanah secara berlebihan di sekeliling permukiman. Pengurukan ini mengakibatkan munculnya cekungan pada lahan Kapuk Teko. Kemudian karena terjadinya  banjir secara terus menerus dan tidak adanya aliran air keluar dari cekungan tersebut, mengakibatkan air tergenang secara permanen, membuat permukiman ini dikenal dengan Kampung Apung. Karena lokasi tersembunyi dan ciri khas yang unik dengan berada diatas air, sehingga masyarakat umum tidak terbayangi kondisi kampung ini. Keterbatasan ruang komunitas dan air bersih di Kampung Apung menjadi sebuah permasalahan besar. Warga yang dulunya berkumpul di lapangan rumput untuk berkomunitas, kini sudah hilang tergenang oleh air yang ada. Hal ini menyebabkan warga tidak dapat berkumpul karena tidak mempunyai ruang untuk berkomunitas. Ketiadaan ruang publik seperti taman, alun-alun, atau pusat komunitas menyebabkan warga tidak memiliki tempat untuk bersantai, berolahraga, atau mengadakan kegiatan rekreasi. Selain itu, meskipun tampak jernih, air sumur di Kampung Apung tidak memenuhi standar air bersih, sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan tanpa pengolahan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, wawancara, dan observasi secara langsung. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dibutuhkannya sebuah program yaitu dapur komunitas dapat berfungsi sebagai simpul regeneratif yang mampu mengembalikan fungsi ruang komunal, memperkuat ketahanan sosial, serta mendorong ekosistem mikro yang lebih sehat.
PENERAPAN TIPOLOGI BARU HUNIAN REGENERATIF SEBAGAI SIMBIOSIS EKOLOGIS DALAM URBAN RENEWAL DI KAWASAN BANTARAN SUNGAI CILIWUNG Purba, Beth Gavyn Zoyada; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35565

Abstract

The Ciliwung Riverbank area faces significant challenges due to rapid organic urbanization, which has resulted in environmental degradation, social inequality, and a decline in residents' quality of life. The development of informal settlements along the river reflects the failure of urban planning that lacks a focus on sustainability and spatial justice. This research aims to design a new typology of regenerative housing as a solution to create an ecological symbiosis between humans and the river environment. The literature review encompasses theories of regenerative architecture, symbiotic living spaces, and urban renewal approaches that focus on both ecological and social aspects. This study uses a qualitative method through a case study of the Ciliwung riverbank area, including field observations, spatial and social analysis, and the development of a design based on regenerative principles. The design results show that regenerative housing typologies can build a mutual and beneficial relationship between humans and nature through integrated water management systems, productive green spaces, and adaptive, inclusive communal areas. These typologies are not only places to live but also active elements in ecosystem restoration and social cohesion strengthening. This approach offers a potential design strategy to support more sustainable, inclusive, and ecology-oriented urban renewal. Keywords: ecological symbiosis; regenerative housing; riverbank; urban renewal Abstrak Bantaran Sungai Ciliwung Manggarai menghadapi tantangan besar akibat urbanisasi organik yang berkembang pesat, menyebabkan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan penurunan kualitas hidup masyarakat setempat. Permukiman informal yang terbentuk di sepanjang bantaran sungai mencerminkan kegagalan dalam perencanaan kota yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan dan keadilan spasial. Penelitian ini bertujuan untuk merancang tipologi baru hunian regeneratif yang dapat menjadi solusi untuk menciptakan simbiosis ekologis antara manusia dan lingkungan sungai. Kajian literatur dalam penelitian ini melibatkan berbagai teori terkait arsitektur regeneratif, konsep ruang hidup yang simbiotik, serta pendekatan urban renewal yang berfokus pada aspek ekologi dan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus pada kawasan bantaran Sungai Ciliwung, melalui serangkaian observasi lapangan, analisis kondisi spasial dan sosial, serta pengembangan desain berbasis prinsip regeneratif. Hasil perancangan menunjukkan bahwa tipologi hunian regeneratif dapat menciptakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara manusia dan alam, melalui integrasi sistem pengelolaan air yang efisien, ruang hijau produktif, serta ruang komunal yang adaptif dan inklusif. Tipologi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan menetap, tetapi juga sebagai elemen aktif dalam proses pemulihan ekosistem dan penguatan kohesi sosial. Pendekatan ini menawarkan strategi desain yang dapat mendukung urban renewal yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi ekologi.
MEREGENERASI HABITAT URBAN MELALUI PERANCANGAN ARSITEKTUR REGENERATIF UNTUK LEBAH DI JAKARTA SELATAN Sutrisno, Jennifer; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35566

Abstract

The phenomenon of massive urban expansion in areas such as South Jakarta has led to the issue of habitat degradation and increasing ecological pressure on various pollinator species, particularly bees, which play a vital role in maintaining ecosystem balance. This research stems from the problem of how the characteristics of the built environment in urban areas affect the survival of bees, how architecture can represent the needs of other species, and what can be learned from bees in defining space, ecological relationships, and urban sustainability. The aim of this research is to identify the characteristics of the built environment that impact bee survival, and to explore the potential of regenerative architecture that can represent the needs of other species. Method used is descriptive qualitative analysis using a case study strategy focused on regenerative bee architecture. The research steps include site analysis, literature and case studies, field observation, concept formulation, and design development based on regenerative architectural principles for bees. The research results show that the characteristics of the built environment in South Jakarta—such as green space fragmentation and ecological pressure—negatively affect bee survival. The findings reveal that integrating regenerative architectural principles with the spatial behavior of bees can create adaptive spaces that support ecosystems. The novelty of this study lies in its design approach that positions bees as subjects of design, and in the application of regenerative concepts in the apiary zone, where bee activity cycles and spatial machines allow visitors to experience the product directly. Keywords:  apiary; bees; biophilic; regenerative Abstrak Fenomena ekspansi ruang kota yang masif di kawasan urban seperti Jakarta Selatan telah menyebabkan isu degradasi habitat alami dan tekanan ekologis bagi berbagai spesies polinator, khususnya lebah, yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertolak dari permasalahan: bagaimana karakteristik lingkungan binaan urban mempengaruhi keberlangsungan hidup lebah, serta bagaimana arsitektur dapat merepresentasikan kebutuhan spesies lain, dan apa yang dapat dipelajari dari lebah dalam mendefinisikan ruang, relasi ekologis, dan keberlanjutan kota. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik lingkungan binaan yang berdampak terhadap keberlangsungan hidup lebah, serta mengeksplorasi potensi arsitektur regeneratif yang mampu merepresentasikan kebutuhan spesies lain. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus, yang berfokus pada arsitektur regeneratif untuk lebah. Langkah penelitian meliputi analisis tapak, studi literatur dan kasus, observasi lapangan, perumusan konsep, dan perancangan berbasis prinsip arsitektur regeneratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik lingkungan binaan di Jakarta Selatan, seperti fragmentasi ruang hijau dan tekanan ekologis, berdampak negatif terhadap keberlangsungan lebah. Temuan penelitian mengungkap bahwa integrasi prinsip arsitektur regeneratif dengan perilaku spasial lebah mampu menciptakan ruang yang adaptif dan mendukung ekosistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan desain yang menjadikan lebah sebagai subjek perancangan serta penerapan konsep regeneratif pada zona apiary di mana terdapat siklus aktivitas lebah, serta penerapan spatial machine yang memungkinkan pengunjung merasakan produk secara langsung.
IMPLEMENTASI ARSITEKTUR AMFIBI DAN DESALINASI AIR LAUT SEBAGAI SOLUSI KAWASAN TERDAMPAK ROB AKIBAT PENURUNAN MUKA TANAH DI MUARA BARU Sumadihardja, Angeline Anabelle; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35567

Abstract

Climate change and land subsidence have increased the frequency of tidal flooding issues in coastal areas of Jakarta, especially in Muara Baru, North Jakarta. These floods have caused various environmental problems and led to a decline in the residents' quality of life. Issues include infrastructure damage, building deterioration, and poor groundwater quality. These impacts have resulted in the loss of housing, livelihoods, and daily activities in the area. This paper aims to offer a regenerative architectural solution through the application of amphibious architecture as a strategy for revitalizing areas affected by tidal flooding. The goal is to restore the area's activities and ecosystems across environmental, social, and economic aspects. The literature review covers principles of regenerative architecture, adaptive technologies of amphibious structures, and case studies of floating and amphibious settlements in flood-prone areas. The methodology uses a qualitative approach, including site analysis (macro, meso, and micro scales), bio-morphological studies, and the integration of ecological systems into architectural design. The result is an adaptive solution to climate change and land subsidence that enhances the social and ecological aspects of the area through amphibious architecture. It also identifies the most suitable amphibious structural typology for the Muara Baru site based on bio-morphological studies. Keywords: amphibious; flood; Muara Baru; regenerative; revitalizing Abstrak Perubahan iklim dan penurunan muka tanah menyebabkan peningkatan frekuensi isu banjir rob di kawasan pesisir Jakarta, terutama di Muara Baru, Jakarta Utara. Akibat banjir rob ini menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan dampaknya adalah penurunan kualitas hidup masyarakat di kawasan ini. Berbagai masalah lingkungan yang timbul antara lain adalah kerusakan infrastruktur, rusaknya berbagai bangunan, dan kualitas air tanah yang buruk. Dari masalah tersebut mengakibatkan hilangnya tempat tinggal, mata pencaharian, dan aktivitas pada kawasan ini. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi arsitektur yang regeneratif berupa penggunaan arsitektur amfibi sebagai strategi revitalisasi kawasan terdampak rob. Sehingga dengan ini diharapkan dapat memunculkan kembali aktivitas dan ekosistem pada kawasan ini dari aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kajian literatur mencakup mengenai prinsip arsitektur regeneratif, teknologi adaptif arsitektur amfibi, dan studi preseden bangunan atau pemukiman apung dan amfibi di wilayah rawan banjir. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui analisis tapak (makro, meso, mikro), studi bio-morfologi, dan integrasi sistem ekologis ke dalam desain arsitektur. Hasilnya berupa solusi adaptif terhadap perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang dapat meningkatkan aspek sosial dan ekologis kawasan melalui penggunaan arsitektur amfibi serta menunjukkan jenis struktur amfibi dari studi bio-morfologi yang paling cocok digunakan pada lokasi Muara Baru yang akan dirancang.
PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN Jonathan, Gabriel; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35568

Abstract

Tarumanagara University is a private university in Jakarta that has been established since 1959. Currently, Tarumanagara University has experienced development through the presence of several campuses in various areas, along with an increasing number of students. Based on survey results, the majority of students at Tarumanagara University come from outside the city, which presents an opportunity to establish a student dormitory that can support students from outside the area, especially first-year students. One of the strategic locations for the development of a student dormitory is on Jl. Letjen S. Parman or next to Tarumanagara University Campus 2. The application of a sustainable architecture design approach in planning the student dormitory is considered suitable to improve the comfort of dormitory residents and reduce the building’s operational costs. This research uses a qualitative approach by collecting data through case studies, interviews, observations, questionnaires, and literature studies. This article aims to produce a spatial program proposal and design a student dormitory using a sustainable architecture approach. The final result will be a proposed design for a student dormitory that applies sustainable architectural principles, including both main and supporting facilities. Keywords: student dormitory; sustainable architecture; Tarumanagara University Abstrak Universitas Tarumanagara merupakan perguruan tinggi swasta di Jakarta yang telah berdiri dari tahun 1959. Saat ini, Universitas Tarumanagara telah berkembang dengan beberapa kampus yang terletak di beberapa wilayah begitupun juga dengan jumlah mahasiswa yang semakin meningkat. Berdasarkan hasil survei, sebagian besar mahasiswa Universitas Tarumanagara berasal dari luar kota, hal ini dapat menjadi suatu peluang untuk mendirikan fasilitas asrama mahasiswa yang dapat menunjang mahasiswa yang berasal dari luar kota terutama mahasiswa tingkat pertama. Salah satu lokasi yang strategis untuk mendirikan asrama mahasiswa berada pada JL. Letjen S. Parman atau di sebelah Universitas Tarumanagara Kampus 2. Pendekatan desain sustainable architecture dalam perancangan sebuah asrama mahasiswa menjadi salah satu pendekatan yang cocok untuk meningkatkan kenyamanan penghuni asrama serta meringankan untuk biaya operasional bangunan. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan data melalui studi kasus, wawancara, observasi, Kuesioner dan literatur. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan usulan program ruang, perancangan asrama mahasiswa dengan pendekatan sustainable architecture. Hasil akhir yang dihasilkan merupakan usulan desain asrama mahasiswa dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan berupa pengolahan massa bangunan, penggunaan material ramah lingkungan, pengolahan fasilitas utama berupa unit kamar dan fasilitas penunjang, dan pengolahan ruang luar.
KOEKSISTENSI IMAN DAN ALAM: IMPLEMENTASI BIOMIMETIK PADA REDESAIN MASJID JABAL NUR SENTUL SEBAGAI WADAH RELIGI DAN EDUKASI ISLAM Wahyudi, Ervian Alfath; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35569

Abstract

The discourse surrounding mosque typologies has long been a subject of ongoing debate within the Indonesian Muslim community. This phenomenon has led to societal fixation on specific visual expectations of mosque architecture, contributing to a stagnation in architectural innovation. This study seeks to demonstrate how mosques in Indonesia were historically constructed and explores how architectural knowledge can integrate Indonesia’s cultural heritage with modern technologies to establish a new typology in harmony with nature. The research employs qualitative methods and literature review such as typological comparative analysis; biomimetic design strategies; the use of kinetic tiles for energy generation; water harvesting and distribution systems. These methods serve as the foundation for dialectical reasoning, later applied to case studies to assess the effectiveness of the proposed strategies. The study proofs that vernacular mosques have historically existed outside of imposed visual norms, and that biomimetic approaches can enrich both the spiritual spatial experience and the functional performance of buildings to support a symbiotic relationship with the natural environment.nature. Keywords:  architecture; biomimetic; design strategy; mosque Abstrak Wacana mengenai fenomena tipologi masjid telah menjadi perdebatan panjang di komunitas Muslim Indonesia. Fenomena tersebut menyibukkan dan menyeret komunitas Muslim Indonesia kepada stigma karakter visual sebuah masjid, menghasilkan pertumbuhan pengetahuan arsitektur yang stagnan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bagaimana masjid di Indonesia dibangun secara historis dan bagaimana ilmu arsitektur dapat menggabungkan warisan budaya Indonesia dan teknologi modern untuk mereformasi tipologi baru yang hidup berdampingan dengan alam. Penelitian ini menggunakan metode kajian kualitatif dan literatur berupa studi komparatif tipologis, strategi desain biomimetik, energi ubin kinetik, dan metode pengumpulan dan distribusi air. Metode-metode ini digunakan sebagai dasar argumentasi dialektika, yang kemudian diterapkan pada studi kasus untuk membuktikan validitas strategi desain yang diusulkan. Penelitian ini membuktikan bahwa secara historis masjid vernakular ada di luar stigma itu sendiri, dan strategi desain biomimetik dapat meningkatkan tidak hanya pengalaman spasial kontemplatif tetapi juga kepraktisan sistem bangunan untuk memastikan koeksistensi bangunan dan alam.