cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RENEWAL: STADION TERBENGKALAI KAMAL MUARA DENGAN PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR REGENERATIF Limantana, Adhitya; Santoso, Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35549

Abstract

Kamal Muara Stadium, which has been a center for sports and social activities since 1980, is now neglected due to physical damage and recurring tidal flooding. This condition hinders the growth of local soccer and eliminates interaction spaces for the community. Regenerating the stadium is important to revive the socio-ecological function of the area and encourage inclusive and sustainable community development. This study employs qualitative methods through field observations, interviews, documentation, and literature reviews. Using a regenerative architecture approach, the research addresses the impacts of tidal flooding that have degraded the stadium’s functions. The design focuses on tidal flood mitigation through ecology-based water retention and control systems, while restoring the stadium’s social role. The steps taken include analyzing existing conditions, mapping problems and potentials, case studies, and community participation. The expected outcome is the regeneration of the stadium's functions and capacity into a multifunctional public space capable of restoring the coastal ecosystem, absorbing tidal floodwater, and providing an inclusive and resilient green space against tidal floods, while also serving as a center for social interaction, sports, education, and local ecotourism. A resilient architectural design concept is applied as the primary approach in the project's design. The revitalization of Kamal Muara Stadium offers a comprehensive architectural solution to the social, ecological, and technical challenges faced by Jakarta's coastal areas. Keywords:  Degradation; flooding; regenerative; resilient; stadium Abstrak Stadion Kamal Muara yang sejak 1980 menjadi pusat aktivitas olahraga dan sosial kini terbengkalai akibat kerusakan fisik dan banjir rob yang berulang. Kondisi ini menghambat pertumbuhan sepak bola lokal serta menghilangkan ruang interaksi bagi masyarakat. Regenerasi stadion menjadi penting untuk menghidupkan kembali fungsi sosial-ekologis kawasan serta mendorong pembangunan komunitas yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan metode komparatif untuk mencapai kehidupan dari fungsi sosial ekologis. Pendekatan arsitektur regeneratif digunakan untuk merespons dampak banjir rob dengan menggunakan sistem polder. Perancangan diarahkan pada mitigasi rob melalui sistem penampungan dan pengendalian air berbasis ekologi, sembari mengembalikan peran sosial stadion. Langkah-langkah yang dilakukan mencakup analisis kondisi eksisting, pemetaan masalah dan potensi, studi kasus, serta pelibatan partisipasi masyarakat. Hasil yang diharapkan adalah regenerasi fungsi dan kapasitas stadion mampu menjadi ruang publik multifungsi yang merestorasi ekosistem pesisir, menyerap air rob, serta menyediakan ruang hijau yang inklusif dan tangguh terhadap banjir rob, sekaligus menjadi pusat interaksi sosial, olahraga, edukasi, dan ekowisata lokal. Konsep desain arsitektur resilien diterapkan sebagai pendekatan utama dalam perancangan proyek ini. Revitalisasi Stadion Kamal Muara menawarkan solusi arsitektural yang menyeluruh terhadap permasalahan sosial, ekologis, dan teknis yang dihadapi kawasan pesisir Jakarta.
HARMONISASI PROGRAM RUANG PANTI WREDA: STRATEGI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN LANSIA Buntarman, Caren; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35550

Abstract

The global phenomenon of an increasing elderly population has given rise to issues regarding the lack of facilities that comprehensively accommodate the physical and psychological needs of the elderly. In Indonesia, the primary problem is the limited availability of nursing homes (panti wreda) that offer optimal services for elderly well-being, particularly in terms of mental health, which is often neglected. The objective of this design project is to create a regenerative architecture-based nursing home with a well-being approach to holistically improve the quality of life for the elderly. The method employed is a symbiotic approach combined with holistic architectural design, focusing on creating mutually beneficial relationships between humans, space, and the environment by integrating natural elements that support ecosystem balance and elderly well-being. The design steps include selecting a site in Cadas Ngampar that supports tranquility and accessibility, developing a spatial program based on elderly needs, and integrating the concept of therapeutic gardening through regenerative hydroponics as a meaningful activity. The result is a nursing home design that provides housing tailored to elderly conditions, spaces for physical and psychological therapy, an educational sensory gallery, and herbal hydroponic gardening areas. The findings indicate that spaces designed with a regenerative approach can effectively address mental health issues and enhance elderly social interaction. The spatial novelty lies in the integration of healing functions, public education, and elderly engagement in regenerative activities, which also strengthen intergenerational relationships and raise awareness about life in old age. Keywords:  harmony, hydroponics, regenerative, senior care home, well-being Abstrak Fenomena meningkatnya populasi lansia secara global melahirkan isu tentang kurangnya fasilitas yang mampu mengakomodasi kebutuhan lansia secara fisik dan psikologis secara menyeluruh. Masalah yang muncul di Indonesia adalah minimnya panti wreda yang memberikan pelayanan optimal terhadap kesejahteraan lansia, terutama dalam aspek kesehatan mental yang kerap terabaikan. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan panti wreda berbasis arsitektur regeneratif dengan pendekatan well-being untuk meningkatkan kualitas hidup lansia secara holistik. Metode yang digunakan adalah simbiosis dengan pendekatan perancangan arsitektur holistik yang diterapkan untuk menciptakan program ruang yang mampu merespons kebutuhan landia secara melalui hubungan yang harmonis dan simbiosis. Langkah perancangan meliputi pemilihan tapak di Cadas Ngampar yang mendukung ketenangan dan aksesibilitas, perumusan program ruang berdasarkan kebutuhan lansia, serta integrasi konsep therapeutic gardening dengan hidroponik regeneratif sebagai aktivitas bermakna. Hasil dari perancangan ini adalah rancangan panti wreda yang menyediakan hunian sesuai kondisi lansia, ruang terapi fisik dan psikologis, galeri sensori edukatif, serta area berkebun hidroponik herbal. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ruang yang dirancang dengan pendekatan regeneratif mampu menangani permasalahan kesehatan mental dan meningkatkan interaksi sosial lansia. Kebaruan dari keruangan yang diangkat terletak pada integrasi antara fungsi penyembuhan, edukasi publik, dan keterlibatan lansia dalam aktivitas regeneratif yang juga memperkuat hubungan antargenerasi dan kesadaran akan kehidupan di masa tua.
URBAN AGRICULTURE BERBASIS THIRD PLACE DI BENDUNGAN HILIR, JAKARTA PUSAT Meidiana, Jessica; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35551

Abstract

According to data from the Central Bureau of Statistics (BPS) in 2023, Indonesia is facing a decline in food supply due to a crisis in the regeneration of young farmers. This issue is driven by the negative stigma towards agriculture, which is often considered dirty, high-risk, and less prestigious. As a result, many young people are more attracted to urbanisation. Therefore, efforts are needed to revive the interest of the younger generation in farming activities by developing the third place concept based on locality, which can be described as the informal space between home and work where people can relax. This agricultural project invites visitors to practice and observe the entire farming process from start to finish. Supported by a programme that utilizes the concept itself, such as Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. By utilising the everydayness approaches, this urban farming project encourages the community to carry out routine activities such as planting seeds, harvesting, and carrying the crops to plant them at home. As a result, this project is expected to serve as a temporary gathering place (third place) for the community, especially young people, to enjoy traditional farming activities and incorporate modern techniques such as hydroponics, aquaponics, and aeroponics to create a new lifestyle for achieving food security district. Thus, this project acts as a locus to secure the food system but also to increase the quality of third place in the community’s everydayness through social interaction and improving well-being. Keywords: urban agriculture; locality; third place; everydayness; regenerative; locus Abstrak Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik di tahun 2023, Indonesia sedang menghadapi permasalahan penurunan pasokan pangan. Hal ini disebabkan oleh krisis regenerasi petani muda yang didorong dengan munculnya stigma negatif akan dunia pertanian yang dianggap kotor, tinggi resiko, dan kurang bergengsi sehingga kaum muda lebih tertarik untuk melakukan gerakan urbanisasi. Oleh karena ini diperlukannya upaya untuk memunculkan kembali minat bagi kaum generasi muda dalam kegiatan bertani melalui pengembangan konsep Third Place berbasis lokalitas yang diartikan sebagai ruang sosial informal antara rumah dan pekerjaan yang dimana orang-orang bisa bersantai. Proyek agrikultur ini mengajak pengunjung untuk mempraktekkan dan melihat prosesi pertanian dari awal hingga akhir. Dengan hadirnya program penunjang yang menciptakan interaksi sosial berupa Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. Dengan memanfaatkan pendekatan everydayness, proyek Urban Agriculture ini mendorong munculnya budaya akan aktivitas masyarakat yang baru seperti menanam bibit, memanen hasil dan merawat hasilnya. Dengan itu, diharapkan proyek ini bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi untuk masyarakat khususnya kaum muda untuk menikmati kegiatan bertani yang tidak hanya tradisional, namun juga ada teknik hidroponik, akuaponik, dan juga aeroponik guna membentuk gaya hidup baru untuk mencipatakan kawasan yang mandiri pangan. Sehingga, proyek berperan sebagai locus segi ketahanan pangan tapi juga memperkuat kualitas third place dalam keseharian masyarakat melalui interaksi sosial melalui komunitas dan peningkatan kualitas hidup.
STUDI BENTUK PUSAT EDUKASI DAN PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DI KAWASAN MUARA ANGKE Vanessa, Vanessa; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35552

Abstract

Muara Angke, a central port and fisheries area on the northern coast of Jakarta, holds significant economic and social value. However, this area faces the problem of plastic waste pollution originating from ship activities, port operations, drainage systems, and community practices of indiscriminately disposing of waste. The plastic waste ultimately contaminates the waters, disrupting marine ecosystem balance, threatening public health, and jeopardizing the livelihoods that depend on marine resources. To address these issues, solutions are needed through the integration of technology and architectural design. This study responds to these problems by developing a design for a center dedicated to plastic waste education and processing, applying a regenerative architectural approach that not only focuses on environmental restoration but also strengthens the relationship between the community and its environment. The form-generation method used integrates the results of experiments on the characteristics of plastic waste types such as HDPE, PS, and PET, based on their processing methods. Plastic materials are not only processed functionally but also explored for their potential to shape architectural mass. The outcomes of these experiments will then be translated into the form and spatial composition of the building, illustrating the transition from waste to a new resource. This approach aims to create spaces that are educational and participatory, supporting comprehensive regeneration of the area. Thus, the building will demonstrate that plastic waste management is not only about solving pollution problems but can also shape the identity of the education and processing center itself. Keywords: education; plastic; processing; regenerative; waste Abstrak Muara Angke, kawasan pusat pelabuhan dan perikanan di pesisir Jakarta Utara memiliki nilai ekonomi dan sosial yang penting. Namun, di kawasan ini terdapat permasalahan pencemaran sampah plastik berasal dari aktivitas kapal, pelabuhan, drainase, dan aktivitas masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan. Sampah plastik akhirnya mencemari perairan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut, kesehatan masyarakat dan mata pencaharian yang bergantung pada hasil laut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan solusi melalui pendekatan teknologi dan desain arsitektur. Studi ini merespons permasalahan tersebut melalui pembentukan bentuk untuk pusat edukasi dan pengolahan sampah plastik dengan pendekatan arsitektur regeneratif yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan lingkungan tetapi juga pada hubungan antara masyarakat dan lingkungan. Metode pembentukan bentuk yang digunakan adalah intergrasi dari hasil eksperimen terhadap karakteristik sampah plastik seperti tipe HDPE, PS, dan PET yang berdasar dari proses pengolahan sampah plastik. Material plastik tidak hanya diolah secara fungsional, tetapi juga dieksplorasi potensi dalam membentuk massa secara arsitektural. Hasil eksperimen tersebut kemudian akan diterjemahkan ke dalam pengolahan bentuk dan susunan massa bangunan yang menunjukan proses transisi dari limbah menjadi sumber daya baru dan menjadikannya massa yang memiliki fungsi edukatif dan partisipatif, yang mendorong regenerasi kawasan secara menyeluruh. Dengan demikian, bangunan nantinya akan menunjukkan bahwa pengolahan plastik tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga dapat membentuk identitasi dari pusat edukasi dan pengolahan sampah plastik itu sendiri.
DESAIN BANGUNAN PEMURNI UDARA BERBASIS MESIN ELECTROSTATIC PRECIPITATOR DI PURI KEMBANGAN Lukardi, Kelvin; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35553

Abstract

Jakarta is facing increasingly serious environmental challenges, especially related to the issue of deteriorating air quality and the Urban Heat Island (UHI) phenomenon. Based on recent data, the concentration of PM 2.5 air pollutant particles in the Jakarta area has reached 50 μg/m³, far exceeding the safe threshold set by the World Health Organization (WHO), which is 5 μg/m³. In addition, the UHI phenomenon has also worsened environmental conditions, especially in the Puri Kembangan area, West Jakarta. In this area, the surface temperature during the day reaches 34°C. This condition not only impacts public health, but also demands environmental design interventions that are able to adapt to these challenges. The research method used is qualitative-descriptive, by recording and analyzing air quality and wind speed in the Puri Kembangan area, and simulating it in Computational Fluid Dynamics (CFD) to study air movement in depth, while the design method used is to combine Cross Ventilation, Double Skin, and Windcatcher techniques to create energy-efficient buildings. This research aims to find a responsive solution through the development of an air purifying building. This concept combines the use of technology in the form of an Electrostatic Precipitator Machine, as well as a biological system in the form of an Algae Tubular Photobioreactor. The final result is a building design that functions as an air filtration system capable of processing dirty air into clean air independently. Keywords: Algae; Electrostatic Precipitator; Pollution; Purification Abstrak Jakarta tengah menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius, terutama terkait dengan isu kualitas udara yang memburuk serta Fenomena Urban Heat Island (UHI). Berdasarkan data terkini, konsentrasi partikel polutan udara PM 2.5 di Wilayah Jakarta telah mencapai angka 50 μg/m³, jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), yaitu sebesar 5 μg/m³. Selain itu, fenomena UHI turut memperburuk kondisi lingkungan, terutama di Kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Di area ini, suhu permukaan pada siang hari mencapai 34°C. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menuntut intervensi desain lingkungan yang mampu beradaptasi terhadap tantangan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif, dengan cara mendata dan menganalisis kualitas udara serta kecepatan angin di Kawasan Puri Kembangan, dan mensimulasikannya di Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk mengkaji pergerakan udara secara mendalam, sedangkan untuk metode perancangan yang digunakan adalah dengan menggabungkan teknik Cross Ventilation, Double Skin, dan Windcatcher untuk menciptakan bangunan yang hemat energi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi yang responsif melalui pengembangan bangunan pemurni udara. Konsep ini memadukan penggunaan teknologi berupa Mesin Electrostatic Precipitator, serta sistem biologis berupa Algae Tubular Photobioreactor. Hasil akhir berupa desain bangunan yang berfungsi sebagai sistem penyaringan udara yang mampu mengelolah udara kotor menjadi udara bersih secara mandiri.
FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK BERBASIS ENERGI TERBARUKAN DENGAN DESAIN BIOFILIK DI BANTARGEBANG Huvito, Nathan; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35554

Abstract

The waste problem in Indonesia remains a significant challenge, exacerbated by the country's increasing population and rising public consumption. Data from the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) indicate that Indonesia generates more than 60 million tons of waste annually. DKI Jakarta's daily waste production is around 7,500 to 8,000 tons per day. Around 7,500 tons of waste from DKI Jakarta are sent to the Bantargebang TPST every day, resulting in waste accumulation of up to tens of meters. 53% of the waste is organic waste. The accumulation and decomposition of organic waste causes air, soil, water pollution, and becomes a source of disease. This study aims to create an organic waste processing facility to reduce pollution and the burden of the Bantargebang TPST, increase greenery and food production, and regenerate organic waste into renewable energy. The research method used is a case study method of a biogas-based waste processing building similar to the biogas and compost facilities at Kompostwerk Hellefelder Höhe GmbH Sundern, Germany. Waste processing will be processed through Dry fermentation or solid-state anaerobic digestion (SSAD), then into biogas, fertilizer and compost. The results of compost and fertilizer can be used for plantation and agricultural production, creating a regenerative biocycle, namely regenerating organic waste into a source of electrical energy and a source of food energy. Some of the fertilizer and compost are used for vertical farms and botanical gardens. Some of the biomethane gas is used to provide a public kitchen with free gas for the surrounding community. Keywords:  Bantar Gebang; biogas; regenerative; waste processing Abstrak Permasalahan sampah di Indonesia terus menjadi tantangan besar seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan konsumsi masyarakat. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahunnya. Produksi sampah harian DKI Jakarta sendiri sekitar 7.500 hingga 8.000 ton setiap hari. Kisaran 7.500 ton sampah dari DKI Jakarta dikirim ke TPST Bantargebang setiap hari yang mengakibatkan penumpukan sampah hingga puluhan meter. 53% dari sampah merupakan sampah organik. Penumpukan dan pembusukan sampah organik mengakibatkan pencemaran udara, tanah, air, dan menjadi sumber penyakit. Penelitian ini bertujuan menciptakan fasilitas pengolahan sampah organik untuk mengurangi pencemaran dan beban TPST Bantargebang, menambah penghijauan dan produksi pangan serta meregenerasi sampah organik menjadi energi terbarukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus bangunan pengolahan sampah berbasis biogas serupa seperti fasilitas biogas dan kompos di Kompostwerk Hellefelder Höhe GmbH Sundern, Jerman. Pengolahan sampah akan diolah melalui Fermentasi kering atau solid-state anaerobic digestion (SSAD), kemudian menjadi biogas, pupuk dan kompos. Hasil kompos dan pupuk dapat digunakan untuk produksi perkebunan dan pertanian menciptakan siklus regeneratif biocycle, yakni meregenerasi sampah organik menjadi sumber energi listrik dan sumber energi pangan. Sebagian pupuk dan kompos digunakan vertical farm dan botanical garden. Sebagian gas biometana digunakan untuk menyediakan dapur umum dengan gas gratis untuk masyarakat sekitar.
WADAH PELATIHAN EMPATI EKOLOGIS DENGAN KONSEP DESAIN BIOFILIK DI JAKARTA Anggrica, Kelly; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35555

Abstract

According to BPS predictions, by 2035, 66.67% of Indonesia's population is estimated to live in urban areas. Increasing urbanization has negative impacts, one of which is environmental damage. The lack of public awareness of the problem exacerbates this. The lack of public awareness occurs due to the absence of ecological empathy in the community, which has an impact on public awareness of the problem. The design of this training forum aims to raise public awareness of environmental issues that occur by creating human experiences and interactions with the environment. The method employed in this study is a case study approach, utilizing a design strategy that integrates regenerative architecture and biophilic design. The research stages include conducting a literature review on regenerative architecture, biophilic design, ecological empathy, and the continuity of biophilic design and ecological empathy, as well as identifying relevant project case studies. Furthermore, the data is analyzed to identify the influence of biophilic design in increasing ecological empathy. The result of this design is an environmental care training forum that incorporates the concept of urban forests as an approach to regenerative architecture and biophilic design in buildings, aiming to increase community ecological empathy. Design will bring positive impacts to living things and the surrounding environment. Designing training containers with biophilic concepts can raise public awareness of environmental issues by incorporating several biophilic design approaches and urban forest concepts into the design, thereby improving human connection with nature both visually and systemically. Keywords:  biophilic; ecological; empathy; environment; training Abstrak Menurut prediksi BPS, pada tahun 2035, sebesar 66,67% populasi di Indonesia diperkiraan akan tinggal di wilayah perkotaan. Urbanisasi yang terus meningkat menimbulkan dampak negatif, salah satunya kerusakan lingkungan. Hal ini diperburuk dengan kurangnya kepedulian masyarakat akan  masalah tersebut. Kurang nya kepedulian masyarakat terjadi dikarenakan tidak adanya empati ekologis pada masyarakat yang berdampak kepada kesadaran masyarakat akan masalah tersebut. Perancangan wadah pelatihan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan isu lingkungan yang terjadi dengan menciptakan pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dan metode perancangan menggunakan pendekatan melalui arsitektur regeneratif dan desain biofilik. Tahapan penelitian meliputi melakukan kajian literatur mengenai arsitektur regeneratif, desain biofilik, empati ekologis, serta kesinambungan desain biofilik dan empati ekologis dan mencari studi kasus proyek yang relevan. Selanjutnya data tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi pengaruh desain biofilik dalam meningkatkan empati ekologis. Hasil perancangan ini adalah wadah pelatihan peduli lingkungan dengan konsep hutan kota sebagai pendekatan arsitektur regeneratif dan desain biofilik pada bangunan untuk meningkatkan empati ekologis masyarakat. Melalui perancangan akan membawa dampak positif makhluk hidup  dan lingkungan sekitarnya. Perancangan wadah pelatihan dengan konsep biofilik dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan isu lingkungan dengan menerapkan beberapa pendekatan desain biofilik dan konsep hutan kota pada perancangan untuk meningkatkan koneksi manusia dengan alam baik secara visual maupun secara sistem.
ANALISIS PEMROGRAMAN RUANG PADA ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA Isnan, Abdul Salam; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35556

Abstract

The increasing number of university students in urban areas, particularly in Jakarta, has led to a growing demand for safe, comfortable, and affordable temporary housing. As one of the major private universities in West Jakarta, Tarumanagara University faces the challenge of providing dormitory facilities that are not only functional but also support students’ academic and social activities. This research aims to analyze spatial programming in the design of a student dormitory that responds to its urban context and incorporates the principles of sustainable architecture. The study adopts a descriptive qualitative approach supported by quantitative data through site observation and questionnaires distributed to active students of Tarumanagara University. The findings indicate that students require living spaces that support personal comfort, study activities, and social interaction. The dormitory design includes three room types based on occupancy (1, 2, and 4 persons) and integrates communal facilities such as reading rooms, discussion areas, pantries, sports facilities, and green open spaces. Sustainable design strategies are applied through cross ventilation, natural lighting, environmentally friendly local materials, as well as rainwater harvesting and solar energy systems. Bio­philic design elements and communal terraces are incorporated to enhance social interaction and support mental well-being. In conclusion, effective spatial programming serves as the foundation for designing vertical dormitories that are responsive to urban challenges while improving students’ quality of life in terms of functionality, social connectivity, and environmental sustainability.  Keywords: sustainable architecture; student dormitory; vertical housing Abstrak Penelitian ini membahas pemrograman ruang pada perancangan asrama mahasiswa Universitas Tarumanagara sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan hunian di kawasan urban dengan keterbatasan lahan. Tujuan utama dari proyek ini adalah menciptakan hunian vertikal yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa, tetapi juga mengintegrasikan prinsip arsitektur berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, didukung data kuantitatif yang diperoleh melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa membutuhkan ruang pribadi yang nyaman, fasilitas belajar yang mendukung, serta ruang komunal yang mendorong interaksi sosial. Berdasarkan analisis tersebut, dirancang tiga tipe kamar: tunggal (3×4 m), ganda (4×6 m), dan bersama empat orang (4×6 m dengan ranjang tingkat), yang secara total mampu menampung hingga 1.568 mahasiswa. Desain bangunan mengusung pendekatan vertikal dengan pemisahan gender antar tower, serta integrasi zona sirkulasi dan ruang bersama seperti ruang baca, diskusi, teras hijau, dan area olahraga. Strategi keberlanjutan diterapkan melalui ventilasi silang, pencahayaan alami, penggunaan energi surya, dan pemanfaatan air hujan. Material lokal dan daur ulang juga digunakan untuk menekan dampak lingkungan. Kesimpulannya, pemrograman ruang yang tepat mampu menghasilkan desain asrama yang adaptif, fungsional, dan mendukung gaya hidup berkelanjutan di lingkungan kampus urban.
PENERAPAN KONSEP RUANG PEMULIHAN PADA FASILITAS TERAPI DAN EDUKASI BIPOLAR Edbert, Edbert; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35557

Abstract

Bipolar disorder is a type of mental illness that is increasingly in need of attention, especially in big cities like Jakarta where the number of sufferers continues to increase. However, current mental health services still focus more on inpatient care compared to outpatient care, so the capacity of outpatient services for bipolar patients is very limited. In addition, the lack of utilization of natural elements in therapeutic facilities and the strong negative stigma in society towards people with mental disorders also exacerbate this condition. This research aims to apply the right space concept to bipolar therapy and education facilities that are able to regenerate mental health in harmony with nature. The methods used in this research include literature study, field survey, and interviews with related parties. The result of this research is that regenerative architecture with a biophilic design approach and recovery space concept is able to create an optimal recovery space and balance the recovery process with nature. This approach allows the creation of a balance between the recovery needs of patients, social, and nature. Keywords: bipolar; nature; recovery; therapy Abstrak Gangguan bipolar merupakan salah satu jenis penyakit mental yang semakin membutuhkan perhatian, khususnya di kota besar seperti Jakarta yang menunjukkan angka penderita yang terus meningkat namun, layanan kesehatan mental saat ini masih lebih berfokus pada perawatan inap dibandingkan dengan perawatan jalan, sehingga kapasitas layanan rawat jalan bagi penderita bipolar menjadi sangat terbatas. Selain itu, kurangnya pemanfaatan unsur alam dalam fasilitas terapi serta masih kuatnya stigma negatif di masyarakat terhadap penderita gangguan mental turut memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konsep ruang yang tepat pada fasilitas terapi dan edukasi bipolar yang mampu meregenerasi kesehatan mental selaras dengan alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi studi literatur, survei lapangan, dan wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian ini adalah arsitektur regeneratif dengan pendekatan desain biofilik dan konsep ruang pemulihan mampu menciptakan ruang pemulihan yang optimal dan menyeimbangkan proses pemulihan dengan alam. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan pemulihan pasien, sosial, dan alam.
PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DALAM PERANCANGAN DORMITORI MAHASISWA DI UNIVERSITAS TARUMANAGARA Angelo, Jevan; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35559

Abstract

The increasing number of out-of-town students at Tarumanagara University (UNTAR) has intensified the need for adequate, comfortable, and sustainable student housing. Most students currently live in boarding houses or apartments that lack thermal comfort, energy efficiency, and support for social and academic activities. This study investigates key issues in these living environments, such as poor ventilation, limited communal spaces, and low spatial efficiency. The research methods include questionnaires, literature review, field observations, and precedent studies. The design process adopts a sustainable and tropical architectural approach, integrated with the AKARASA philosophy as a conceptual framework, where spatial functions grow organically, much like a tree, from roots to fruit, creating a layered, adaptive, and holistic living environment. The proposed dormitory addresses the specific needs of interdisciplinary students in a tropical urban context, offering adaptive design strategies that optimize natural resources such as daylight and cross ventilation. Beyond providing shelter, the dormitory fosters a vibrant learning and living environment that promotes students’ physical, mental, and social well-being. It serves as a contextual and sustainable model of future tropical student housing that is both efficient and holistically responsive to user needs and environmental challenges. Keywords: comfort; dormitory; student; sustainable architecture; tropical Abstrak Kebutuhan akan hunian mahasiswa yang layak, nyaman, dan efisien semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa luar kota di Universitas Tarumanagara (UNTAR). Sebagian besar mahasiswa memilih tinggal di kos atau apartemen yang umumnya belum memperhatikan aspek kenyamanan termal, efisiensi energi, serta kurang mendukung aktivitas sosial dan akademik secara menyeluruh. Penelitian ini menggali berbagai permasalahan yang dihadapi mahasiswa selama tinggal di kos atau apartemen, seperti ventilasi yang buruk, kurangnya ruang komunal, hingga efisiensi ruang yang rendah. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui kuesioner, studi literatur, observasi lapangan, dan analisis studi preseden. Proses perancangan dilakukan melalui pendekatan arsitektur berkelanjutan dan tropis yang dikombinasikan dengan filosofi AKARASA sebagai kerangka konseptual, di mana fungsi ruang dikembangkan secara organik layaknya pertumbuhan pohon dari akar hingga buah guna menciptakan ruang hidup yang berlapis, adaptif, dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep sustainable dormitory yang dirancang khusus untuk konteks tropis dan kebutuhan mahasiswa lintas disiplin ilmu di lingkungan kampus UNTAR. Hasil temuan digunakan sebagai dasar dalam merumuskan desain dormitori yang adaptif, hemat energi, serta mampu mengoptimalkan sumber daya alam seperti pencahayaan dan penghawaan alami. Proyek ini tidak hanya bertujuan menciptakan tempat tinggal, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar dan hidup yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial mahasiswa. Rancangan dormitori ini diharapkan dapat menjadi model hunian mahasiswa yang nyaman, efisien, dan kontekstual terhadap kebutuhan pengguna. Dormitori ini sebagai hunian tropis adaptif yang mampu merespons tantangan iklim dan kebutuhan pengguna secara kontekstual dan berkelanjutan, serta menjadi contoh pengembangan hunian mahasiswa masa depan yang holistik.