cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF TERHADAP RUANG KULINER DAN SENI DI JALAN SABANG JAKARTA PUSAT Larissa, Tamara; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35603

Abstract

Jalan Sabang is a legendary area in Jakarta that has undergone various transformations since the colonial era. As part of the cultural corridor connecting Monas to Bundaran HI, this area plays an important role in the city's social and economic interactions. The emergence of the COVID-19 pandemic has caused a decline in activity, resulting in the fading of cultural identity and the weakening of the function of space as a place for community gatherings. The shift in focus on the area has caused the degradation of the area's character as a dynamic community space. The irregularity of spatial planning due to the large number of unorganized street vendors (PKL) has caused various problems, such as narrowing of roads, congestion, decreased visual quality of the area, and reduced comfort for pedestrians. The lack of space for cultural expression, minimal green space, and weak management of the area have also weakened the quality of life and overall attractiveness of the area. This research aims to design culinary facilities combined with street art through a regenerative and adaptive architectural approach. The aim is to revive Jalan Sabang's role as an inclusive, sustainable public space rooted in local identity. The design strategy includes the integration of community space, creative space, a comfortable pedestrian circulation system, and environmentally friendly elements to revive the socio-economic function of the area. The methods used include literature studies, field observations, user interviews, and site analysis. The results of the study show that regenerative architecture principles including the use of local communities, food waste processing, and adaptive design play a role in reviving the socio-economic power of the area, increasing pedestrian comfort, and creating public spaces that are relevant to today's needs. Keywords: adaptive; community; culture; regenerative; sabang Abstrak Jalan Sabang merupakan kawasan legendaris di Jakarta yang telah mengalami berbagai transformasi sejak era kolonial. Sebagai bagian dari koridor budaya yang menghubungkan Monas hingga Bundaran HI, kawasan ini memiliki peran penting dalam interaksi sosial dan ekonomi kota. Timbulnya pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan aktivitas, dan mengakibatkan memudarnya identitas budaya dan melemahnya fungsi ruang sebagai tempat berkumpul komunitas. Pergeseran fokus pada kawasan menyebabkan degradasi karakter kawasan sebagai ruang komunitas yang dinamis. Ketidakteraturan tata ruang akibat banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tidak tertata menimbulkan berbagai masalah, seperti penyempitan jalan, kemacetan, penurunan kualitas visual kawasan, dan berkurangnya kenyamanan bagi pejalan kaki. Kurangnya ruang ekspresi budaya, minimnya ruang hijau, dan lemahnya pengelolaan kawasan turut memperlemah kualitas hidup dan daya tarik kawasan secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas kuliner yang dipadukan dengan seni jalanan melalui pendekatan arsitektur regeneratif dan adaptif. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali peran Jalan Sabang sebagai ruang publik yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada identitas lokal. Strategi perancangan mencakup integrasi ruang komunitas, ruang kreatif, sistem sirkulasi pedestrian yang nyaman, dan elemen ramah lingkungan untuk menghidupkan kembali fungsi sosial-ekonomi kawasan. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna, dan analisis tapak. Hasil dari studi menunjukkan prinsip arsitektur regeneratif meliputi pemanfaatan komunitas lokal, pengolahan limbah makanan, dan desain adaptif berperan dalam menghidupkan kembali daya sosial-ekonomi kawasan, meningkatkan kenyamanan pedestrian, serta menciptakan ruang publik yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS TERHADAP SENTRA HASIL PERIKANAN DI DESA SUNGAI KAKAP, KALIMANTAN BARAT Vivianty, Monica; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35604

Abstract

Sungai Kakap Village is a village located on the banks of the Kakap River and directly adjacent to the Natuna Sea, making Sungai Kakap Village famous for its tourism, especially in terms of seafood cuisine and natural scenery for the people of Pontianak City. The issue of seafood restaurants located in the Sungai Kakap Village pier area does not reprocess food waste (especially fish) by throwing it directly into the river. The auction place and fish market also produce waste from leftover fish pieces which then end up in the river. The river water smells bad due to the decomposition of fish protein. The aim of the project is to design an integration so that the Sungai Kakap Village pier area fulfills its potential to rise. The design method applied is "Symbiosis" in order to create a program that integrates the life cycle and activities in the area around the Sungai Kakap Village pier. The program is related to fish auctions, fish markets, fish waste management as well as educational tourism. Fish waste management as a regenerative system in buildings, where fish waste is reprocessed into fuel for fishing boats, namely biodiesel. The benefits of the project are based on the vision of “From Fish, For Fish” which is the basis of the regenerative system which helps preserve fish life in the river ecosystem and becomes the prosperity of the surrounding community. Keywords: ecosystem; fish; kakap; pier; river Abstrak Desa Sungai Kakap merupakan desa yang terletak di tepian Sungai Kakap dan berbatasan langsung dengan Laut Natuna menjadikan Desa Sungai Kakap terkenal akan wisatanya terutama dalam hal kuliner seafood dan pemandangan alamnya bagi masyarakat Kota Pontianak. Isu rumah makan seafood yang berada di area dermaga Desa Sungai Kakap tidak mengolah kembali limbah sisa makanan (terutama ikan) dengan membuangnya langsung ke sungai. Tempat pelelangan dan pasar ikan juga turut menghasilkan limbah dari sisa potongan ikan yang kemudian, berakhir di sungai. Air sungai berbau tidak sedap akibat dekomposisi protein ikan. Tujuan proyek ialah untuk merancang sebuah integrasi agar area dermaga Desa Sungai Kakap memenuhi potensinya untuk menjulang. Metode perancangan yang diterapkan ialah “Simbiosis” agar tercipta sebuah program yang mengintegrasi siklus kehidupan dan aktivitas di area sekitar dermaga Desa Sungai Kakap. Program terkait dengan pelelangan ikan, pasar ikan, manajemen limbah ikan sekaligus eduwisata. Manajemen limbah ikan sebagai sistem regeneratif dalam bangunan, di mana limbah ikan diolah kembali menjadi bahan bakar untuk kapal nelayan, yakni biodiesel. Manfaat proyek berangkat dari visi “From Fish, For Fish” yang menjadi dasar sistem regeneratif turut melestarikan kehidupan ikan di ekosistem sungai serta menjadi kemakmuran komunitas warga sekitar.
PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOMIMIKRI TERHADAP BALE PRANA DI KELURAHAN KEBON SIRIH Kayan, Laura Fiona; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35605

Abstract

The phenomenon of air pollution in Jakarta has reached a critical point, marked by the city being recorded as having the highest Air Quality Index (AQI) in the world on August 13, 2024. The concentration of fine particulate matter (PM2.5), exceeding the World Health Organization's (WHO) safe threshold, has led to a significant increase in cases of Acute Respiratory Infections (ARI), especially in densely populated urban areas. Unfortunately, architectural responses to this crisis remain limited, particularly in designing spaces that support respiratory health. This research proposes an alternative approach through the integration of biomimicry architecture and the use of betel leaf (Piper betle) and golden pothos (Epipremnum aureum), which are known for their bioactive compounds and natural ability to absorb air pollutants. The study focuses on Bale Prana, a prototype of an urban therapy space that combines betel leaf cultivation, natural ARI remedies, preservation of traditional knowledge, and the strengthening of healthy urban communities. The research methodology adopts a descriptive qualitative approach through literature studies and architectural design exploration based on biomimicry principles. The process includes problem identification, in-depth study of the characteristics of betel plants, and the application of these findings in the design of the building façade. The result of this research is a biomimetic façade concept that functions not only as an aesthetic element but also as an ecological device for filtering air and supporting natural respiratory healing. The findings highlight the potential of transforming plant structures and biological materials into architectural solutions that adapt to the challenges of urban environmental crises. Keywords:  betel; biomimetic; biomimicry; facade Abstrak Fenomena polusi udara di Jakarta telah mencapai titik kritis, ditandai dengan ditetapkannya kota ini sebagai pemilik Indeks Kualitas Udara (AQI) tertinggi di dunia pada 13 Agustus 2024. Kadar partikulat halus (PM2.5) yang melebihi ambang batas aman WHO menyebabkan lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah urban padat penduduk. Sayangnya, respons arsitektural terhadap krisis ini masih minim, terutama dalam merancang ruang yang mendukung kesehatan pernapasan masyarakat. Penelitian ini menawarkan pendekatan alternatif melalui integrasi arsitektur biomimikri dengan pemanfaatan tanaman sirih (Piper betle) dan sirih gading (Epipremnum aureum) yang dikenal memiliki senyawa bioaktif serta kemampuan menyerap polutan udara secara alami. Studi ini berfokus pada Bale Prana, sebuah prototipe ruang terapi urban yang menyatukan pertanian sirih, pengobatan alami ISPA, pelestarian pengetahuan tradisional, dan penguatan komunitas sehat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur serta eksplorasi desain arsitektural berbasis biomimikri. Prosesnya meliputi identifikasi masalah, pengkajian mendalam mengenai karakteristik tanaman sirih, serta penerapan hasil kajian dalam perancangan fasad bangunan. Hasil akhir penelitian ini adalah konsep fasad biomimetik yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga memiliki peran ekologis dalam menyaring udara serta mendukung pemulihan kesehatan pernapasan secara alami. Temuan ini menunjukkan potensi transformasi material hayati dan struktur tanaman menjadi solusi arsitektural yang adaptif terhadap krisis lingkungan urban.
MENDAUR ULANG PLASTIK MENJADI ARISTEKTUR YANG RAMAH ANAK DAN BERKELANJUTAN Tatang, Michael Carlo; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35606

Abstract

Due to its non-biodegradable nature and negative impacts on human health and ecosystems, plastic waste has become one of the most critical environmental challenges in the modern era. In the Muara Baru area of North Jakarta, port and residential activities have exacerbated plastic pollution in both the waters and surrounding settlements. This issue is further worsened by the lack of plastic waste processing facilities and the scarcity of green spaces that are essential for children's growth and development. While recycling plants offer a potential solution, they can also generate secondary waste. Therefore, a regenerative architectural approach is needed—one that is not only sustainable but also capable of restoring the environment and providing social benefits. This study proposes a regenerative architectural solution that integrates the use of recycled plastic with a playful architecture approach to encourage children's creativity. One of its implementations is the construction of a modular playground made from recycled plastic, w          hich not only helps reduce plastic pollution but also provides a child-friendly and educational play space. The research explores the potential of recycled materials—particularly plastic—for use in various architectural elements such as facades, furniture, and play features. The methodology includes literature studies on regenerative architecture and play design, as well as site analysis in Muara Baru to understand the local social and environmental context. Additionally, plastic waste can be processed by the local community into creative products, enhancing both economic value and environmental awareness. Through this approach, the study aims to create educational public spaces that strengthen community participation and promote sustainable urban development. Keywords:  playful architecture; plastic waste processing; regenerative architecture Abstrak Karena sifatnya yang sulit terurai serta memiliki dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, sampah plastik menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di era modern. Di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, aktivitas pelabuhan dan permukiman membuat pencemaran plastik di perairan dan daerah sekitar pemukiman menjadi lebih parah. Hal ini diperburuk oleh kurangnya tempat pengolahan limbah plastic serta daerah ini juga memiliki kekurangan ruang hijau yang penting untuk pertumbuhan anak-anak. Pabrik daur ulang menjadi salah satu solusinya tetapi pabrik ini juga dapat  menghasilkan limbah baru, sehingga dibutuhkan desain arsitektur regeneratif yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga mampu memulihkan lingkungan dan memberi manfaat sosial. Penelitian ini mengusulkan solusi arsitektur regeneratif yang menggabungkan penggunaan plastik daur ulang dengan pendekatan arsitektur bermain untuk mendorong kreativitas anak. Salah satu bentuk implementasinya adalah pembangunan playground modular dari plastik daur ulang yang tidak hanya mengurangi polusi plastik, tetapi juga menyediakan ruang bermain yang ramah anak dan edukatif. Penelitian ini mengeksplorasi potensi material daur ulang, khususnya plastik, untuk diterapkan dalam berbagai elemen arsitektural seperti fasade daur ulang, furnitur, dan elemen bermain. Metode yang digunakan meliputi studi literatur tentang arsitektur regeneratif dan desain bermain, serta analisis tapak di Muara Baru untuk memahami kondisi sosial dan lingkungan setempat. Limbah plastik juga dapat diolah oleh masyarakat menjadi produk kreatif, sehingga meningkatkan nilai ekonomis dan kesadaran lingkungan. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta ruang publik edukatif yang memperkuat partisipasi warga dan mendorong pembangunan berkelanjutan di kawasan urban.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF PADA FASILITAS RISET ORGAN BUATAN DAN PENYIMPANAN JARINGAN DI SALEMBA, JAKARTA PUSAT Hartawidjaja, Elisha; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35607

Abstract

The development of biotechnology and tissue engineering has opened new opportunities in regenerative medicine, particularly in the development of artificial organs and the storage of human body tissues. However, in Indonesia, research and tissue storage facilities remain highly limited. Many tissues from surgeries or amputations are discarded as medical waste due to the lack of adequate storage and processing systems. In fact, these tissues have the potential to be reused as biomaterials, cells, or scaffolds for therapy and tissue engineering. Even can be used as donor tissues if properly sterilized and biologically verified. Therefore, Jakarta, as the national medical referral center in Indonesia, requires a facility that integrates research, innovation, and sustainable tissue management. This project aims to design a research facility that incorporates bioprinting technology, tissue engineering, and tissue storage systems into a cohesive architectural. The research method used is a qualitative descriptive method with a narrative approach. This method is employed to observe and analyze the application of regenerative architectural principles, particularly in spatial design and medical waste management, using data collected through literature studies. The narrative approach is used to explain the urgency of health issues and the need for sustainable research facilities in Jakarta. This facility is expected to not only focus on medical technologies but also implement regenerative principles comprehensively, creating an energy-efficient and environmentally friendly building. Moreover, the facility is envisioned as a collaborative space for scientists, medical professionals, and academics, while also serving as an educational hub for public. Keywords: artificial organs; human tissue; medical waste; regenerative architecture Abstrak Perkembangan bioteknologi dan rekayasa jaringan telah membuka peluang baru dalam ilmu kesehatan regeneratif, khususnya dalam hal pengembangan organ buatan dan penyimpanan jaringan tubuh manusia. Namun, di Indonesia, fasilitas penelitian dan penyimpanan jaringan masih sangat terbatas. Banyak jaringan hasil operasi atau amputasi yang terbuang sebagai limbah medis karena tidak adanya sistem penyimpanan dan pemrosesan yang memadai. Padahal, jaringan-jaringan ini berpotensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai biomaterial, sel, atau scaffold untuk terapi dan rekayasa jaringan, bahkan dapat digunakan sebagai jaringan donor jika telah melalui proses sterilisasi dan verifikasi biologis. Oleh karena itu, Jakarta sebagai pusat rujukan medis nasional membutuhkan fasilitas yang mampu mengintegrasikan riset, inovasi, dan pengelolaan jaringan tubuh secara berkelanjutan. Proyek ini bertujuan untuk merancang sebuah fasilitas riset yang mengintegrasikan teknologi bioprinting, rekayasa jaringan, serta sistem penyimpanan jaringan dalam satu kesatuan arsitektur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan naratif. Metode ini digunakan untuk mengamati dan menganalisis penerapan prinsip arsitektur regeneratif, khususnya dalam aspek desain ruang dan pengelolaan limbah medis dengan data yang diperoleh melalui studi pustaka. Pendekatan naratif membantu menjelaskan urgensi isu kesehatan dan kebutuhan fasilitas riset yang berkelanjutan di Jakarta. Fasilitas ini diharapkan tidak hanya berfokus pada teknologi medis, tetapi juga menerapkan prinsip regeneratif secara menyeluruh, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi ilmuwan, tenaga medis, akademisi, dan media edukasi publik terkait pengelolaan jaringan tubuh yang bertanggung jawab.
PERANCANGAN MENARA PENYARINGAN AIR SEBAGAI MEDIUM PEMULIHAN EKOSISTEM AIR DI DANAU CINCIN, SUNTER Handoyo, Tiffany Yobella; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35608

Abstract

Jakarta, once known as the “Water City,” is now facing a clean water crisis due to massive transformations in the city’s water management system, particularly since the 20th century. Human-centered (anthropocentric) development has replaced canals with roads and eliminated many green spaces and natural reservoirs. One of the most affected areas is North Jakarta, including Danau Cincin (Cincin Lake), which is currently experiencing a decline in water quality, sedimentation, and the degradation of its aquatic ecosystem. The lack of sustainable water management efforts has led to recurring pollution and worsened inequality in access to clean water for local communities. This project responds to these conditions by proposing a regenerative solution in the form of the “Water Restoration Tower,” a multifunctional vertical structure designed as a layered water filtration system aimed at restoring the natural function of Danau Cincin as a clean water reservoir. The system integrates physical, chemical, and biological approaches using biofilters made from native plants to continuously purify the lake water. The methodology includes field surveys, water quality testing, and literature analysis, adopting frameworks such as Water Sensitive Urban Design (WSUD) and Nature-based Solutions (NbS). The project’s main innovation lies in the use of vertical design as a response to limited urban space, while positioning architecture as an ecological and educational element that strengthens the connection between humans and nature. This project aspires to become a prototype of regenerative architecture in dense urban areas, capable of restoring water’s role as a life-giving element and reinforcing the city’s environmental resilience. Keywords: biofiltration; cincin lake; jakarta as water city; regenerative; resilience anthropocentric; water filtration tower Abstrak Jakarta, yang dahulu dikenal sebagai “Kota Air”, kini menghadapi krisis air bersih akibat transformasi besar-besaran pada sistem tata air kota, terutama sejak abad ke-20. Pembangunan yang berfokus pada kepentingan manusia (antroposentris) telah mengubah kanal-kanal menjadi jalan raya dan menghilangkan banyak ruang hijau serta waduk alami. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Jakarta Utara, termasuk Danau Cincin, yang kini mengalami penurunan kualitas air, sedimentasi, serta rusaknya ekosistem perairan. Minimnya upaya pengelolaan air berkelanjutan menyebabkan pencemaran terus berulang dan memperburuk ketimpangan akses air bersih bagi masyarakat. Proyek ini merespons kondisi tersebut dengan menawarkan solusi regeneratif berupa “Menara Restorasi Air”, yaitu struktur vertikal multifungsi yang dirancang bertujuan sebagai sistem penyaringan air berlapis untuk mengembalikan lagi fungsi alami Danau Cincin sebagai resevoir air bersih alami. Sistem ini memadukan pendekatan fisik, kimia, dan biologis menggunakan biofilter dari tanaman lokal untuk membersihkan air waduk secara berkelanjutan. Metode dilakukan melalui survei lapangan, uji kualitas air, serta analisis literatur dengan pendekatan Water Sensitive Urban Design (WSUD) dan Nature-based Solution  (NbS). Inovasi utama dari proyek ini adalah penerapan desain vertikal sebagai solusi ruang terbatas di kota padat, sekaligus menjadikan arsitektur sebagai elemen ekologis dan edukatif yang memperkuat keterhubungan antara manusia dan alam. Diharapkan, proyek ini dapat menjadi prototipe arsitektur regeneratif di kawasan urban yang mampu mengembalikan peran air sebagai elemen kehidupan dan memperkuat ketahanan lingkungan kota.
HUNIAN VERTIKAL EKOLOGIS TERJANGKAU DI MANGGARAI: SOLUSI KOTA PADAT YANG BERKELANJUTAN Ferdinand, Priscillia Angel Ruth Meyoki; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35609

Abstract

Land use in Jakarta has undergone significant transformation due to rapid population growth and urbanization. One of the most extensive land conversions has occurred in green open spaces, which have been turned into residential and commercial areas. As a result, Jakarta faces a range of problems, including reduced water catchment areas, traffic congestion, and environmental degradation caused by biodiversity loss and rising carbon emissions. The Biodiverse Habitat concept is proposed as a regenerative strategy in response to ecological degradation and urban density. It adopts the principles of Transit-Oriented Development (TOD), with a focus on integrating green spaces, promoting ecological sustainability, and optimizing land use within a unified system, which is also designed to provide affordable housing in strategic locations with access to public transit. Many affordable housing options in Jakarta are located far from public transportation access, leading to mobility inequality and a lower quality of life for low-income communities. Through vertical zoning, the design combines ecological and residential functions within the same site. Green open spaces and water catchment areas are placed at ground level, serving as urban parks, public spaces, and habitats for local flora and fauna. Above these, vertical housing and commercial areas are constructed to accommodate dense urban living more efficiently. By placing affordable housing within walkable distance to major transit hubs, the concept promotes more equitable accessibility and reduces reliance on private vehicles. This concept also applies principles of ecological architecture through natural rainwater absorption systems and the use of renewable energy. Implementing the Biodiverse Habitat offers Jakarta the opportunity to move toward more sustainable urban development. In addition to improving residents' quality of life, this approach restores the ecological function of land and supports environmental balance within the dense urban landscape. Manggarai has been selected as the project site due to its characteristics as one of Jakarta’s most densely populated areas, its strategic location, and the presence of major transportation hubs such as train and bus stations—making it highly suitable for TOD-based development. The existing conditions, marked by limited green space and declining function, further emphasize Manggarai’s relevance for an intervention that integrates housing, ecology, and mobility within a cohesive design strategy. Keywords: affordable; ecology;  housing;  vertical Abstrak Fungsi lahan di Jakarta mengalami transformasi yang signifikan akibat pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat. Salah satu bentuk konversi besar-besaran terjadi pada ruang terbuka hijau yang beralih menjadi kawasan permukiman dan komersial. Akibatnya, Jakarta menghadapi berbagai permasalahan, termasuk berkurangnya area resapan air, kemacetan lalu lintas, serta penurunan kualitas lingkungan akibat hilangnya biodiversitas dan meningkatnya emisi karbon. Konsep Biodiverse Habitat diajukan sebagai strategi regeneratif untuk merespons degradasi ekologis dan tingginya kepadatan kota. Konsep ini mengangkat prinsip Transit-Oriented Development (TOD) dengan penekanan pada integrasi ruang hijau, keberlanjutan ekologi, dan optimalisasi fungsi lahan dalam satu sistem terpadu yang juga dirancang untuk menghadirkan hunian terjangkau di lokasi strategis berbasis transportasi publik. Hunian terjangkau yang tersedia di Jakarta tidak memiliki akses langsung dengan transportasi publik, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam mobilitas dan kualitas hidup masyarakat.  Pendekatan desain dilakukan dengan mengombinasikan fungsi ekologis dan fungsi hunian pada satu area lahan melalui sistem zonasi vertikal. Ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air dirancang berada di lantai dasar sebagai taman kota, ruang publik, serta habitat bagi flora dan fauna lokal. Sementara itu, hunian vertikal dan area komersial dibangun di lapisan atasnya untuk menjawab kebutuhan hunian padat secara efisien. Hadirnya hunian terjangkau dalam jarak tempuh berjalan kaki menuju moda transportasi, konsep ini mendorong aksesibilitas yang lebih merata dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Konsep ini juga menerapkan prinsip ecology architecture melalui sistem penyerapan air hujan alami dan pemanfaatan energi terbarukan. Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pendekatan ini juga mengembalikan fungsi ekologis lahan serta menciptakan keseimbangan lingkungan di tengah lanskap urban yang padat. Kawasan Manggarai dipilih sebagai lokasi penerapan karena memiliki karakteristik sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, lokasi strategis, serta keberadaan simpul transportasi utama seperti stasiun dan halte yang menjadikannya sangat potensial untuk pengembangan berbasis TOD. Kondisi eksisting yang mengalami penurunan fungsi dan minim ruang hijau juga menjadikan Manggarai relevan untuk intervensi konsep yang menggabungkan hunian yang efisien, ekologis, dengan mobilitas tinggi.
KAMPUNG TUMBUH DAN PENGOLAHAN LIMBAH KERANG HIJAU: MENATA ULANG KAWASAN PESISIR KAMPUNG KERANG IJO Taneli, Edmund Samuel; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35610

Abstract

Kampung Kerang Ijo, located in the coastal area of Muara Angke, North Jakarta, is a traditional fishing settlement currently facing severe environmental and social crises. Issues such as land subsidence reaching 25 cm per year, water pollution, tidal flooding, and mangrove degradation significantly affect the residents’ quality of life. Additionally, poor infrastructure and spatial segregation further marginalize the community from equitable and sustainable urban development. This study aims to formulate a regenerative architectural strategy that responds to these intertwined challenges through the concepts of incremental kampung development and green mussel waste management. The research applies a qualitative descriptive method involving field observations, in-depth interviews with residents, and spatial-ecological analysis. The findings indicate that modular stilt housing with incremental growth potential effectively addresses the need for flexible living space while remaining adaptive to tidal and ground subsidence threats. Simultaneously, green mussel shell waste—previously considered environmental burden—shows potential as building material and organic fertilizer. These two strategies are integrated into a site plan that links domestic life, productive infrastructure, and restored mangrove zones. This regenerative design approach not only enhances ecological resilience and local economies but also promotes community ownership of space. Ultimately, it offers a replicable model for sustainable coastal housing that is culturally contextual and ecologically restorative. Keywords: coastal; green mussel waste; growing kampung; regenerative; stilt housing Abstrak Kampung Kerang Ijo, yang terletak di kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, merupakan kawasan permukiman nelayan tradisional yang saat ini menghadapi krisis lingkungan dan sosial. Penurunan tanah yang mencapai 25 cm per tahun, pencemaran air, banjir rob, dan degradasi hutan mangrove menjadi ancaman terhadap kualitas hidup masyarakat.  Ditambah dengan buruknya infrastruktur dan segregasi spasial, kampung Kerang Ijo semakin terpinggirkan dari sistem perencanaan kota yang adil dan berkelanjutan di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi arsitektur regeneratif yang dapat merespons kompleksitas berbagai persoalan tersebut melalui pendekatan kampung tumbuh dan pengolahan limbah kerang hijau. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara mendalam dengan warga, serta analisis spasial dan ekologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep rumah panggung modular dengan prinsip rumah tumbuh mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan ruang yang dinamis, sekaligus adaptif terhadap ancaman banjir rob dan penurunan tanah. Di sisi lain, limbah cangkang kerang yang selama ini mencemari lingkungan kampung ternyata memiliki potensi ekonomi dan daur ulang sebagai bahan bangunan dan pupuk organik. Kedua strategi ini diintegrasikan dalam rancangan kawasan yang menghubungkan ruang hidup, sistem produksi, dan zona restorasi mangrove. Pendekatan regeneratif ini diharapkan menjadi sebuah model perumahan pesisir yang tangguh, berkelanjutan, dan kontekstual dengan budaya serta ekologi lokal.
RUANG SEHAT DI TENGAH POLUSI: PENERAPAN PURIFIKASI UDARA BERBASIS AIR PADA COMMUNITY HUB DI CAKUNG Haryono, Bryan; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35611

Abstract

Air pollution is one of the most critical environmental challenges faced by the city of Jakarta, with significant impacts on public health, the economy, and overall quality of life. The largest emissions originate from the transportation sector, followed by industrial activities, construction, and open burning. Vulnerable groups such as children, the elderly, and individuals with respiratory illnesses—especially those living near major roads and industrial zones—are the most affected. This research aims to formulate regenerative architectural design strategies with the goal of creating healthy living environments in response to air pollution. The main focus is directed toward the use of water-based air purification systems as an active solution integrated into building and public space design. The methods used include literature studies, field observations, mapping of high-pollution areas, and design analysis based on air filtration technologies and green open spaces. Expected outcomes include the identification of spatial characteristics of affected areas, the development of architectural design prototypes that function as an air purification media, and contextual design guidelines for dense urban areas in Jakarta. These findings are expected to contribute concretely to addressing the air pollution crisis through the strategic role of architecture in improving the quality of the urban environment. Keywords: air pollution; air purification; health; regenerative Abstrak Polusi udara merupakan salah satu tantangan lingkungan paling kritis yang dihadapi kota Jakarta, dengan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi, dan kualitas hidup. Emisi terbesar berasal dari sektor transportasi, diikuti oleh aktivitas industri, konstruksi, dan pembakaran terbuka. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan, terutama yang tinggal di dekat jalan utama dan kawasan industri, menjadi yang paling terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi desain arsitektur regeneratif dengan target menciptakan ruang hidup yang sehat terhadap polusi udara. Fokus utama diarahkan pada pemanfaatan sistem purifikasi udara berbasis air sebagai solusi aktif yang terintegrasi dalam desain bangunan dan ruang publik. Metode yang digunakan mencakup studi literatur, observasi lapangan, pemetaan kawasan dengan tingkat polusi tinggi, serta analisis desain berbasis teknologi penyaring udara dan ruang terbuka hijau. Hasil yang diharapkan meliputi identifikasi karakter spasial wilayah terdampak, pengembangan prototipe desain arsitektur yang berfungsi sebagai media purifikasi udara, serta panduan desain kontekstual untuk wilayah urban padat di Jakarta. Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam merespons krisis polusi udara melalui peran strategis arsitektur dalam peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.
Cover Jurnal STUPA V7N2 - OKTOBER 2025 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-