cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN METODE DESAIN DENGAN KONSEP REGENERATIF DALAM PASAR GROGOL, JAKARTA BARAT Kevin, Kevin AK; Huwae, Stephanus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35581

Abstract

Pasar Grogol in West Jakarta aims to overcome various challenges such as declining visitor numbers, poor building functionality, and lack of innovation in management. The aim of this study is to improve the local economy and restore the role of the market building as an important social area. The project will apply a regenerative design method to revive the market in a sustainable way, with the strategy to be applied is to create a multifunctional space, where the market not only functions as a place to sell, but also as an area, community and open space. This strategy will increase visitor attraction, and engage the local community through active participation. Sustainability is also a key focus, with an effective waste management system, use of renewable energy, and greening of the market area. By combining the principles of community participation and green space technology, Pasar Grogol has the potential to transform into a modern market that maintains traditional values. As a result, Pasar Grogol will not only grow more vibrant, but also benefit the environment. This research explores and applies regenerative design methods in Pasar Grogol. This research uses a qualitative method with data collection through observation. To improve the sustainability of the market, this project will innovate by combining design techniques with regenerative principles. Due to their ability to build a peaceful, mutually beneficial, and sustainable ecology, bees are the model organism from which regenerative ideas are derived. Keywords:  Community; Market; Observation; Regenerative; Sustainability Abstrak Pasar Grogol di Jakarta Barat bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan seperti menurunnya jumlah pengunjung, fungsi bangunan yang kurang baik, dan kurangnya inovasi dalam pengelolaan. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan ekonomi lokal dan mengembalikan peran bangunan pasar sebagai area sosial yang penting. Proyek ini akan menerapkan metode desain dengan konsep regeneratif untuk menghidupkan kembali pasar dengan cara yang berkelanjutan, dengan strategi yang akan diterapkan adalah menciptakan ruang multifungsi, di mana pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, namun juga sebagai area, komunitas dan ruang terbuka. Strategi ini akan meningkatkan daya tarik pengunjung, dan melibatkan masyarakat setempat melalui partisipasi aktif. Dengan keberlanjutan juga menjadi fokus utama, dengan adanya sistem pengelolaan sampah yang efektif, penggunaan energi terbarukan, dan penghijauan area pasar. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip partisipasi masyarakat dan teknologi ruang hijau, Pasar Grogol memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi pasar modern yang mempertahankan nilai-nilai tradisional. Hasilnya, Pasar Grogol tidak hanya akan tumbuh lebih hidup, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan. Penelitian ini mengeksplorasi dan menerapkan metode desain regeneratif di Pasar Grogol. Penelitian ini menggunakan dengan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi. Untuk meningkatkan keberlanjutan pasar, proyek ini akan berinovasi dengan menggabungkan teknik desain dengan prinsip-prinsip regeneratif. Karena kemampuannya untuk membangun ekologi yang damai, saling menguntungkan, dan berkelanjutan, lebah menjadi model organisme yang menjadi sumber gagasan regeneratif.
RUMAH SUSUN BERBASIS ALGA SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN KAMPUNG PULO Jonatan, Jason Darell; Huwae, Stephanus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35582

Abstract

Kampung Pulo, located in Jatinegara District, East Jakarta has various problems that make the environment and life of Kampung Pulo residents less than ideal. The problems found include very dense settlements, poor river water quality, inadequate drainage systems, flooding, lack of green open spaces, and ineffective waste management. These things result in various effects such as health problems, fire that spreads quickly if a fire occurs, unpleasant odors, unsuitable river water, and people who prefer to throw garbage in the river rather than in landfills that are quite far away. This project aims to improve the quality of life of Kampung Pulo residents through the construction of a flat village that carries the theme of algae and regenerative architecture. Literature reviews show that algae are an effective solution, both in improving water and air quality. Meanwhile, regenerative architecture can create buildings that are sustainable, environmentally friendly, and carbon positive. The research method is by conducting interviews with local residents, direct observation in the field, analysis of existing conditions, and literature studies. The result of this project is the construction of a flat village that is not only a residence, but also brings back activities that already exist in existing conditions. The implementation of this design is expected to improve the quality of life, especially the housing of Kampung Pulo residents. Keywords:  algae; regenerative; village Abstrak Kampung Pulo, yang terletak di Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur memiliki berbagai masalah yang membuat lingkungan dan kehidupan Warga Kampung Pulo kurang layak. Masalah yang ditemukan antara lain pemukiman yang sangat padat, kualitas air sungai yang buruk, sistem drainase yang tidak memadai, banjir, tidak adanya ruang terbuka hijau, dan pengelolaan sampah yang kurang efektif. Hal-hal tersebut mengakibatkan berbagai efek seperti masalah kesehatan, api  yang cepat menyebar jika terjadi kebakaran, bau yang tidak sedap, air sungai yang tidak layak pakai, dan masyarakat yang lebih memilih membuang sampah disungai daripada tempat pembuangan sampah yang cukup jauh. Proyek ini bertujuan memperbaiki kualitas hidup Warga Kampung Pulo melalui pembangunan kampung susun yang mengusung tema alga dan arsitektur regeneratif. Kajian literatur menunjukan bahwa alga merupakan solusi yang efektif, baik dalam memperbaiki kualitas air maupun udara. Sementara arsitektur regeneratif dapat menciptakan bangunan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan carbon positif. Metode penelitian yaitu dengan melakukan wawancara pada warga setempat, observasi langsung ke lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi literatur. Hasil dari proyek ini adalah adalah terbangunnya kampung susun yang tidak hanya sebagai hunian, tetapi juga menghadirkan kembali kegiatan-kegiatan yang telah ada pada kondisi eksisting. Implementasi desain ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup terutama hunian Warga Kampung Pulo.
PENDEKATAN TRANSPROGRAMMING BERDASARKAN RUANG KESEHARIAN DALAM REDESAIN PASAR IKAN KAMAL MUARA, JAKARTA UTARA Salim, Justine; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35583

Abstract

Kamal Muara Fish Market, North Jakarta has experienced a decline in quality in terms of the environment and the number of visitors who come to buy seafood. Major problems are scattered throughout the market area, such as seafood waste, wet and dirty road conditions, and periodic flooding. This indicates an irregularity in the spatial program and the flow of activities that take place. This research aims to explore the appropriate architectural design approach in redesigning Kamal Muara Fish Market, to support the sustainability of the building's function and life cycle. Changes are made thoroughly in terms of architecture, but still rooted in the daily patterns and activities of local communities as elements that are maintained and become the basis of design. This research questions the principle of regenerative architecture integrated with the concept of daily life in the comprehensive redesign of Kamal Muara Fish Market. The research method used is a qualitative method with a case study approach, which emphasizes on understanding the strategy to solve the problem of physical degradation of Kamal Muara Fish Market. The research steps include identifying potential and problems, mapping everydayness and activities of residents, and selecting and analyzing relevant case studies. This research reveals that an everydayness-based approach that observes the way humans adapt and interact with their environment can produce designs that are not only functional but also contextual and humanistic. The transprogramming strategy is used as an adaptive and innovative design tool to comprehensively redesign Kamal Muara Fish Market. The addition of new programs rooted in the potential of the environment also strengthens the attractiveness of the area ecologically, socially, and economically. Keywords:  everydayness; Kamal Muara Fish Market; regenerative architecture; transprogramming Abstrak Pasar Ikan Kamal Muara, Jakarta Utara mengalami penurunan kualitas dari segi lingkungan dan jumlah pengunjung yang datang untuk membeli hasil laut. Permasalahan utama tersebar di sepanjang area pasar, seperti limbah hasil laut, kondisi jalan yang basah dan kotor, serta banjir yang terjadi secara berkala. Hal ini menunjukkan adanya ketidakteraturan dalam program ruang dan alur kegiatan yang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan perancangan arsitektural yang tepat dalam melakukan perancangan kembali Pasar Ikan Kamal Muara, guna mendukung keberlanjutan fungsi dan siklus hidup bangunan. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dari segi arsitektural, namun tetap berakar pada pola keseharian dan aktivitas masyarakat lokal sebagai elemen yang dipertahankan dan menjadi dasar perancangan. Penelitian ini mempertanyakan prinsip arsitektur regeneratif yang diintegrasikan dengan konsep keseharian dalam redesain menyeluruh Pasar Ikan Kamal Muara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang menekankan pada pemahaman terhadap strategi untuk memecahkan masalah degradasi fisik Pasar Ikan Kamal Muara. Langkah-langkah penelitian meliputi identifikasi potensi dan permasalahan, pemetaan keseharian (everydayness) dan kegiatan penduduk, pemilihan serta analisis studi kasus relevan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pendekatan berbasis keseharian yang mengamati cara manusia beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dapat menghasilkan rancangan yang tidak hanya fungsional tetapi juga kontekstual dan humanistik. Strategi transprogramming digunakan sebagai alat perancangan adaptif dan inovatif untuk merancang ulang Pasar Ikan Kamal Muara secara komprehensif. Penambahan program baru yang berakar dari potensi lingkungan turut memperkuat daya tarik kawasan secara ekologis, sosial, dan ekonomi.
SISTEM AQUACULTURE DAN LUNAR HARVESTING SEBAGAI PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF PADA PERANCANGAN WISATA KAMPUNG NELAYAN CILINCING Tengganu, Celine; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35584

Abstract

Kampung Nelayan Cilincing experiences significant ecological pressure due to the accumulation of plastic waste from urban activities on the coast of North Jakarta. This plastic waste ends up in the ocean and produces microplastics, plastic particles measuring less than 5mm that endanger the marine ecosystem, food chain, and human health. This study aims to optimize Kampung Nelayan Cilincing with the concept of "regenerative architecture" through tourism design that can have a positive impact on the surrounding environment (especially in terms of ecology). The systems used include aquaculture and lunar harvesting systems. Literature reviews show that aquaculture and lunar harvesting play a role in reducing microplastics and empowering coastal communities through healthy and varied marine cultivation. The tourism design is motivated by the history of nature-based tourism in Kampung Nelayan Cilincing known as Cilincing Palm Beach. The research method is carried out qualitatively and quantitatively. Referring to the book "Notes on the Synthesis of Form" by Christopher Alexander, this study maps the variables of aquaculture, lunar harvesting, and site variables (physical, community, tourism) and analyzes the connections between variables to obtain a synthesis of form. The results of the synthesis research form that the aquaculture variable is physically close to the open sea and swamps, is socially compatible, and can be packaged as tourism. Meanwhile, the lunar harvesting variable is physically close to only the open sea and has similar physical and tourism results. Both of these systems, aquaculture and lunar harvesting are effective in implementing regenerative architecture in the design of the Kampung Nelayan Cilincing tourism. Keywords: aquaculture; Cilincing Fisherman Village; lunar harvesting; microplastic Abstrak Kampung Nelayan Cilincing mengalami tekanan ekologis yang signifikan akibat akumulasi sampah plastik dari aktivitas urban di pesisir Jakarta Utara. Sampah plastik ini bermuara ke lautan dan menghasilkan mikroplastik, sebuah partikel plastik berukuran kurang dari 5mm yang membahayakan ekosistem laut, rantai makanan, dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi Kampung Nelayan Cilincing dengan konsep “regenerative architecture” melalui perancangan wisata yang dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya (khususnya dari segi ekologis). Sistem yang digunakan mencakup sistem aquaculture dan lunar harvesting. Kajian literatur menunjukkan bahwa aquaculture dan lunar harvesting berperan dalam mengurangi mikroplastik dan memberdayakan masyarakat pesisir melalui budidaya laut yang sehat dan variatif. Perancangan wisata dilatarbelakangi oleh histori wisata berbasis alam Kampung Nelayan Cilincing yang dikenal sebagai Cilincing Palm Beach. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Dengan mengacu pada buku “Notes on the Synthesis of Form” karya Christopher Alexander, penelitian ini memetakan variabel aquaculture, lunar harvesting, dan variabel tapak (fisik, masyarakat, wisata) dan melakukan analisis koneksi antar variabel untuk mendapatkan sintesis bentuk. Hasil penelitian sintesis bentuk bahwa variabel aquaculture secara fisik memiliki kedekatan dengan laut lepas dan rawa, secara masyarakat kompatibel, dan dapat dikemas secara wisata. Sementara itu, variabel lunar harvesting secara fisik memiliki kedekatan dengan hanya laut lepas, dan memiliki koneksi masyarakat dan wisata yang serupa. Kedua sistem ini, aquaculture dan lunar harvesting efektif menjadi penerapan arsitektur regeneratif pada perancangan wisata Kampung Nelayan Cilincing.
PENERAPAN KONSEP PERMAKULTUR MELALUI ARSITEKTUR BIOFILIK UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG SEHAT DI RUSUNAWA MARUNDA Hans, Elbert; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35585

Abstract

The lives of residents in Rusunawa Marunda have changed significantly following the development of coal industries around the housing area. Residents are now forced to coexist with the environmental damage caused by coal mining activities. A total of six coal industries have been established near Rusunawa Marunda, resulting in serious issues for the community, with many residents suffering from both physical and internal illnesses. These coal industries have also led to air and water pollution, as well as a decline in soil quality. Numerous plants and animals have died, and building materials have been damaged. This situation is deeply concerning, especially since there has yet to be an architectural effort capable of addressing these issues. Therefore, this study aims to discover regenerative architectural responses that can tackle these problems. The methods used include literature studies, observations, and precedent studies, followed by a design approach incorporating human-centered design, permaculture, and biophilic architecture. This research focuses on identifying various forms of permaculture application through biophilic architecture in the new design of Rusunawa Marunda, ensuring its continued relevance to the lives and activities of its residents. The results of this study are expected to contribute ideas and concepts to address existing coal pollution, improve environmental quality, and foster a healthier way of living through the new architectural design of Rusunawa Marunda. Keywords:  biophilic; permaculture; regenerative architecture; Rusunawa Marunda Abstrak Kehidupan Rusunawa Marunda kini telah berubah setelah adanya pembangunan industri batu bara di sekitar Rusunawa. Para warga Rusunawa diharuskan hidup berdampingan dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tambang batu bara. Sebanyak enam industri batu bara telah dibangun berdekatan dengan Rusunawa Marunda. Hal tersebut menimbulkan masalah yang serius terhadap kehidupan para warga Rusunawa, di mana banyak dari mereka yang sakit luar maupun dalam. Industri batu bara tersebut juga menyebabkan pencemaran udara dan air, serta kualitas tanah yang menurun. Banyak hewan dan tumbuhan yang mati, serta kerusakan material. Hal tersebut menjadi masalah yang cukup memprihatinkan, karena belum dapat ditemukan adanya sebuah upaya dalam segi arsitektur yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan respon arsitektur regeneratif yang dapat mengatasi masalah yang ada. Metode penelitian adalah metode penelitian kualitatif dengan melakukan, observasi terhadap ruang keseharian penghuni Rusunawa Marunda, serta studi literatur dan studi preseden terkait human centered design, permakultur, dan arsitektur biofilik. Penelitian ini berfokus untuk menemukan berbagai wujud aplikasi permakultur melalui arsitektur biofilk terhadap rancangan baru Rusunawa Marunda, yang tetap relevan bagi kehidupan dan aktivitas para warga Rusunawa. . Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai kontribusi ide ataupun gagasan dalam  mengatasi pencemaran batu bara yang ada,  memperbaiki kualitas lingkungan, serta menciptakan kehidupan yang sehat, melalui perancangan Rusunawa Marunda yang baru.
EFISIENSI RUANG SIRKULASI TRUK SAMPAH MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF (STUDI KASUS: TEMPAT PENIMBUNAN SAMPAH RAWA BUAYA) Ningrum, Vanesa Cristiya; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35586

Abstract

The development of cities and the dynamics of their residents' activities demand spatial planning that is responsive to social and environmental changes. In dense urban areas, there is often an overlap between residential functions and logistics activities, which poses unique challenges in managing circulation, comfort, and environmental health. In 2022, Jakarta generated more than 7,500 tons of waste daily, with most of it transported to the Bantargebang Final Disposal Site (TPA). Meanwhile, the problem of poorly managed waste accumulation is becoming an increasingly pressing environmental issue, particularly in urban areas such as Rawa Buaya, West Jakarta. The research site is an area where waste is dumped by recyclers without government involvement and an adequate management system. This has resulted in environmental pollution, decreased air quality, and disrupted the social life of local residents. This situation demonstrates the importance of spatial planning and logistics distribution system management that takes into account the social and physical conditions of informal areas. A regenerative architecture approach is used as a framework to understand the possibility of more holistic and contextual solutions, particularly in terms of distribution channel efficiency, spatial integration with community activities, and environmental sustainability. The findings of this study are expected to strengthen efforts to improve the quality of living space in dense urban areas through an understanding of integrated and adaptive circulation. Keywords: garbage; landfill; Rawa Buaya; regenerative architecture; truck circulation Abstrak Perkembangan kota dan dinamika aktivitas warganya menuntut perencanaan ruang yang responsif terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Di kawasan urban padat, sering terjadi tumpang tindih antara fungsi permukiman dan aktivitas logistik, yang menimbulkan tantangan tersendiri dalam mengatur sirkulasi, kenyamanan, dan kesehatan lingkungan. Pada tahun 2022, Jakarta menghasilkan lebih dari 7.500 ton sampah setiap hari, dengan sebagian besar diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. Sementara itu, permasalahan penumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik menjadi isu lingkungan yang semakin mendesak, terutama di kawasan urban seperti Rawa Buaya, Jakarta Barat. Tapak penelitian merupakan area penimbunan sampah oleh pelaku daur ulang tanpa keterlibatan pemerintah dan sistem pengelolaan yang memadai. Hal ini berdampak pada pencemaran lingkungan, penurunan kualitas udara, serta terganggunya kehidupan sosial warga sekitar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penataan ruang dan pengelolaan sistem distribusi logistik yang mempertimbangkan kondisi sosial dan fisik kawasan informal. Pendekatan arsitektur regeneratif digunakan sebagai kerangka untuk memahami kemungkinan solusi yang lebih holistik dan kontekstual, terutama dalam hal efisiensi jalur distribusi, integrasi ruang dengan aktivitas warga, dan keberlanjutan lingkungan. Temuan dalam studi ini diharapkan dapat memperkuat upaya perbaikan kualitas ruang hidup di kawasan padat kota melalui pemahaman sirkulasi yang terintegrasi dan adaptif.
PUSAT DAUR ULANG KENDARAAN AKHIR MASA PAKAI DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF Chen, Steven; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35587

Abstract

The annual increase in motor vehicle ownership in Jakarta has led to a rise in the number of End-of-Life Vehicles (ELVs), which significantly contribute to environmental degradation, public health concerns, and traffic safety risks. In response, the local government has introduced regulations to limit vehicle age; however, the absence of dedicated, professionally managed ELV processing facilities remains a critical gap. This study aims to formulate a design strategy for an ELV recycling facility using a regenerative architecture approach is an approach that not only addresses the technical challenges of waste management but also generates ecological and social value for urban communities. The literature review includes theories of regenerative design and comparative studies on ELV recycling systems and regulations in Japan, Europe, and China to identify effective design patterns that promote collective responsibility in managing vehicular waste. The research adopts a qualitative method based on contextual analysis of a selected site in Jakarta, synthesized through spatial and programmatic strategies. The resulting design proposes a prototype facility that integrates industrial ELV processing zones with publicly accessible educational spaces, organized in a vertical configuration to optimize land use and maintain visual transparency. This project demonstrates how waste processing infrastructure can also serve as a catalyst for urban regeneration, support circular economy practices, restore environmental quality, and foster active social engagement. The facility acts as a regenerative medium that unites ecology, education, and community within a sustainable architectural framework. Keywords:  circular economy; end-of-life vehicle; Jakarta; regenerative architecture; vehicle recycling Abstrak Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta setiap tahunnya meningkatkan jumlah kendaraan yang mencapai akhir masa pakainya (End-of-Life Vehicle/ELV). Keberadaan ELV berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas lingkungan, kesehatan publik, dan keamanan berkendara. Pemerintah merespons hal ini dengan menerbitkan regulasi pembatasan usia kendaraan, Namun hingga saat ini, belum tersedia fasilitas pengolahan ELV yang dikelola secara profesional dan terintegrasi dalam sistem kota. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi perancangan fasilitas pengolahan ELV dengan pendekatan arsitektur regeneratif yakni pendekatan yang tidak semata-mata menyelesaikan persoalan teknis limbah, melainkan turut merekonstruksi nilai ekologis dan memperkuat kohesi sosial melalui pendekatan spasial regeneratif. Kajian literatur mencakup teori arsitektur regeneratif serta studi sistem dan regulasi daur ulang ELV di Jepang, Eropa, dan China untuk mengidentifikasi pola desain yang dapat mendorong tanggung jawab kolektif terhadap pengelolaan limbah kendaraan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kontekstual terhadap satu tapak di Jakarta, yang kemudian dianalisis melalui sintesis spasial dan programatik. Hasil rancangan menghasilkan prototipe fasilitas yang memadukan zona industri pengolahan ELV dengan ruang publik edukatif dalam konfigurasi vertikal yang efisien dan terbuka secara visual. Proyek ini menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan limbah dapat menjadi instrumen regenerasi kota yang mendukung circular economy, memulihkan kualitas lingkungan, dan menciptakan keterlibatan sosial yang aktif. Bangunan ini berfungsi sebagai medium regeneratif yang menyatukan ekologi, edukasi, dan komunitas dalam satu sistem arsitektur yang adaptif dan berkelanjutan.
PENATAAN RUANG BERBASIS KESEHARIAN MASYARAKAT DI KAMPUNG KERANG IJO, JAKARTA UTARA Enrico, Jeremiah; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35588

Abstract

Kampung Kerang Ijo on the coast of Muara Angke, North Jakarta, is a real example of a spatial crisis caused by river sedimentation, water pollution, and a lack of public space. This area is experiencing environmental degradation that significantly impacts the lives of the fishing community, including the processing of green mussels as the main source of the local economy. Other emerging issues include the lack of adequate infrastructure, high population density, and vulnerability to tidal flooding, which disrupts the relationship between humans and their environment. This research aims to develop spatial planning strategies that regenerate the meaning of living spaces for the community of Kampung Kerang Ijo, based on their daily lives. The goal is to create a space that is adaptive to coastal conditions, supports local economic growth, and strengthens the resilience of the community and surrounding ecosystem. The research methods used include field observations, participatory interviews, and mapping community activities to identify lifestyle patterns, spatial structures, as well as local potentials and challenges. The research results show that the people of Kampung Kerang Ijo utilize green mussel waste as a substitute for soil in house foundations, and have developed housing patterns such as stilt houses and floating houses in response to flooding and land subsidence. The economic activities of the community based on the processing of green mussels face significant challenges due to pollution and the clean water crisis. In addition, the zoning of activities in shared spaces was also found, which shows the dynamics and value of space in community life. This research provides a foundation for regenerative design interventions that integrate the social, ecological needs, and characteristics of coastal communities in facing sustainability challenges. Keywords: everydayness; green mussel, regenerative architecture; sedimentation; village Abstrak Kampung Kerang Ijo di pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, merupakan contoh nyata dari krisis ruang yang diakibatkan oleh sedimentasi sungai, pencemaran air, dan minimnya ruang publik. Kawasan ini mengalami degradasi lingkungan yang berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat nelayan, termasuk aktivitas pengolahan kerang hijau sebagai sumber utama ekonomi lokal. Permasalahan lain yang muncul mencakup belum adanya infrastruktur yang memadai, kepadatan pola hunian, serta kerentanan terhadap banjir rob yang menyebabkan terputusnya hubungan antara manusia dan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi penataan ruang yang meregenerasi makna ruang hidup masyarakat Kampung Kerang Ijo, berdasarkan pada keseharian mereka. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang adaptif terhadap kondisi pesisir, mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, serta memperkuat ketahanan komunitas dan ekosistem sekitar. Metode penelitian yang digunakan mencakup observasi lapangan, wawancara partisipatif, dan pemetaan aktivitas masyarakat untuk mengidentifikasi pola hidup, struktur ruang, serta potensi dan tantangan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Kerang Ijo memanfaatkan limbah kerang hijau sebagai pengganti tanah untuk fondasi rumah, serta mengembangkan pola hunian seperti rumah panggung dan rumah apung sebagai respons terhadap banjir dan penurunan muka tanah. Aktivitas ekonomi masyarakat yang berbasis pada pengolahan kerang hijau menghadapi tantangan besar akibat pencemaran dan krisis air bersih. Selain itu, ditemukan pula adanya zonasi aktivitas dalam ruang bersama yang menunjukkan dinamika dan nilai ruang dalam kehidupan komunitas. Penelitian ini memberikan dasar untuk intervensi desain regeneratif yang menggabungkan kebutuhan sosial, ekologis, dan karakteristik masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan keberlanjutan.
DORMITORY MAHASISWA DENGAN KONSEP SUSTAINABLE ARCHITECTURE Dyandra, Dheka; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35589

Abstract

The surge in the number of students, particularly at Tarumanegara University, has not been matched by the availability of affordable, comfortable, and academically supportive housing. The boarding houses available around the campus tend to be generic, poorly integrated with the specific needs of students, and face issues of cost, comfort, and accessibility. This study aims to design a sustainable student dormitory integrated with UNTAR 2 campus, incorporating sustainable and biophilic architectural concepts. Research methods include on-site observations, literature reviews, and macro, meso, and micro spatial analyses to understand the context of the Grogol Petamburan area. The design results show that the Neighborhood Connect concept applied is capable of creating an inclusive, healthy, and learning-supportive living environment. The facilities provided include private and communal spaces, study areas, and integration of green open spaces. The building is designed with principles of spatial flexibility, natural lighting, good air circulation, and efficient water and waste management systems. In conclusion, this dormitory is not only a place to live but also a healthy and environmentally friendly learning and socialization environment. Implications: This housing model could serve as a prototype for developing similar facilities at other universities, with sustainability and resident well-being as top priorities. Keywords: biophilic; educational housing; student dormitory; sustainable architecture Abstrak Lonjakan jumlah mahasiswa khususnya di Universitas Tarumanegara nyatanya belum diimbangi dengan ketersediaan hunian yang terjangkau, nyaman, dan mendukung proses akademik. Kos-kosan yang tersedia di sekitar kampus cenderung bersifat umum, kurang terintegrasi dengan kebutuhan khas mahasiswa, serta menghadapi isu biaya, kenyamanan, dan aksesibilitas. Studi ini bertujuan untuk merancang asrama mahasiswa berkelanjutan yang terintegrasi dengan kampus UNTAR 2, dengan mengusung konsep arsitektur berkelanjutan dan biofilik. Metode penelitian meliputi observasi langsung di lokasi, studi literatur, dan analisis spasial makro, meso, dan mikro untuk memahami konteks kawasan Grogol Petamburan. Hasil desain menunjukkan bahwa konsep Neighborhood Connect yang diterapkan mampu menciptakan lingkungan tinggal yang inklusif, sehat, dan mendukung produktivitas belajar. Fasilitas yang disediakan mencakup ruang privat dan komunal, area belajar, serta integrasi ruang terbuka hijau. Bangunan dirancang dengan prinsip fleksibilitas ruang, pencahayaan alami, sirkulasi udara baik, serta sistem pengelolaan air dan limbah yang efisien. Kesimpulannya, asrama ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga lingkungan belajar dan sosialisasi yang sehat dan ramah lingkungan. Implikasinya, model hunian ini dapat menjadi prototipe untuk pengembangan fasilitas serupa di perguruan tinggi lain, dengan orientasi keberlanjutan dan kesejahteraan penghuni sebagai prioritas utama.
ARSITEKTUR REGENERATIF DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PERANCANGAN PRODUKSI PELET IKAN DI MUARA ANGKE Patricia, Mischa; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35590

Abstract

Indonesia is an archipelago, so it has great potential in the fisheries sector, which is one of the main livelihoods of coastal communities. Muara Angke, located in North Jakarta, is a center for fish sales. The high level of fish sales in this area means that it produces a considerable amount of fish waste every day. However, the fish waste produced is not properly processed, leading to negative impacts such as environmental pollution, including ocean contamination. Therefore, a solution is needed in the form of a fish waste processing center in Muara Angke. The objective of this study is to formulate how to apply a contextual approach to the design of a fish waste processing facility in Muara Angke to support the regenerative process of the surrounding environment/ecosystem. The method used in this study is a qualitative approach with two methods, namely literature study and environmental observation as the basis for analysis and design concepts. Literature study is used to examine contextual approach methods and principles. Environmental observation was conducted to understand the characteristics of the site and its surroundings, community activity patterns, and design elements that shape the identity of the Muara Angke area. The results of this study indicate that the application of regenerative architecture based on a contextual approach can produce an effective, environmentally friendly design for fish waste processing industrial buildings that aligns with the needs of the local community. Keywords:  contextual architecture; industrial; regenerative architecture Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga memiliki potensi besar dalam sektor perikanan yang menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat pesisir. Muara Angke yang terletak di Jakarta Utara menjadikannya sebagai pusat aktivitas penjualan ikan. Aktivitas penjualan ikan yang tinggi di kawasan ini menjadikannya sebagai kawasan yang menghasilkan limbah ikan yang cukup banyak setiap harinya. Namun limbah-limbah ikan yang dihasilkan tidak diolah dengan benar sehingga memberikan dampak negatif, yaitu tercemarnya lingkungan sekitar, juga termasuk mencemari laut, sehingga solusi dibutuhkan  adalah pusat pengolahan limbah ikan di Muara Angke. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan bagaimana penerapan pendekatan kontekstual pada bangunan industri pengolahan limbah ikan di Muara Angke sehingga dapat mendukung proses regeneratif lingkungan/ekosistem sekitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan dua metode, studi literatur dan observasi lingkungan sebagai landasan analisis dan konsep desain. Studi literatur digunakan untuk mengkaji tentang metode pendekatan kontekstual dan prinsip-prinsipnya. Sedangkan observasi lingkungan dilakukan dengan tujuan untuk memahami bagaimana karakteristik tapak dan lingkungan sekitarnya, pola aktivitas masyarakat, serta elemen-elemen desain yang membentuk identitas kawasan Muara Angke. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa penerapan arsitektur regeneratif berbasis pendekatan kontekstual dapat menghasilkan desain bangunan industri pengolahan limbah ikan yang efektif, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.