cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN KONSEP REGENERATIF PADA PERANCANGAN TEMPAT PRODUKSI BATU BATA KERANG HIJAU DI CILINCING, JAKARTA UTARA Tanesa, Wenni; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35591

Abstract

Cilincing is an area in North Jakarta that borders directly on the sea. Despite having great potential for marine wealth, especially in the green mussel peeling industry, Cilincing is now a dense and slum area. The waters in the Cilincing area are relatively fertile due to the high population of phytoplankton, which is the main food source for green mussels. Local fishermen harvest green mussels, then process and sell the meat to markets or other areas. However, the remaining mussel shell waste is often dumped carelessly around residential areas or directly into the sea. This disposal has the potential to damage the marine ecosystem and pollute the waters. Therefore, solutions are needed, one of them is through the application of the concept of regenerative architecture. To explore more deeply the application of this concept, a qualitative descriptive approach was carried out that examined how the principles of regenerative architecture can be applied to production centre that aim to solve these environmental problems. The brick production centre from mussel shell waste was designed by prioritizing system integration, an ecological approach, and spatial experience, so that it not only solves the problem of waste accumulation, but also makes a positive contribution back to nature. Keywords: brick production centre; green mussel processing; regenerative architecture Abstrak Cilincing merupakan kawasan di Jakarta Utara yang langsung berbatasan dengan laut. Meskipun memiliki potensi kekayaan laut yang besar, terutama dalam industri pengupasan kerang hijau, Cilincing kini justru menjadi area permukiman yang padat dan kumuh. Perairan di wilayah Cilincing tergolong subur karena tingginya populasi fitoplankton, yang menjadi sumber makanan utama bagi kerang hijau. Para nelayan setempat memanen kerang hijau, kemudian mengolah dan menjual dagingnya ke pasar atau daerah lain. Namun, limbah cangkang kerang yang tersisa sering kali dibuang secara sembarangan di sekitar permukiman atau langsung ke laut. Pembuangan ini berpotensi merusak ekosistem laut dan mencemari perairan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya penanggulangan yang tepat, salah satunya melalui penerapan konsep arsitektur regeneratif. Untuk menggali lebih dalam mengenai penerapan konsep ini, dilakukan pendekatan deskriptif kualitatif yang meneliti bagaimana prinsip-prinsip arsitektur regeneratif dapat diterapkan pada tempat produksi yang bertujuan memecahkan permasalahan lingkungan tersebut. Fasilitas produksi bata dari limbah cangkang kerang dirancang dengan mengedepankan integrasi sistem, pendekatan ekologi, dan pengalaman ruang, sehingga tidak hanya menyelesaikan masalah penumpukan limbah, tetapi juga memberikan kontribusi positif kembali kepada alam.
PENANGANAN DEGRADASI LAHAN GAMBUT MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF DI PONTIANAK Horis, Ivonne Nelvina; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35594

Abstract

Peatlands are critical ecosystems with a strategic role in carbon storage and global climate balance. However, the condition of peatlands in Pontianak, West Kalimantan, has suffered serious degradation due to fires and improper land management, threatening their ecological functions and the socio-economic well-being of local communities. This study aims to formulate a regenerative architectural approach that can restore the ecological functions of peatland ecosystems while also addressing the need for adaptive and sustainable spaces. The literature review refers to regenerative design theory, which goes beyond sustainable and restorative design by emphasizing the synergy between humans and nature to create healthy and productive ecological systems. The methods used include literature studies, analysis of peatland characteristics, and conceptual design based on regenerative principles, including efficient water management and the use of lightweight materials and construction techniques responsive to peat conditions. The results indicate that regenerative architectural design can minimize ecological damage by maintaining groundwater levels, supporting biodiversity recovery, and creating educational spaces for communities to understand the importance of peatland conservation. This approach allows for a balanced integration of environmental, social, and economic needs in the sustainable development of degraded peatland areas. Keywords: land degradation; peatland; pontianak; regenerative architecture Abstrak Lahan gambut merupakan ekosistem penting dengan peran strategis dalam penyimpanan karbon dan keseimbangan iklim global, namun kondisi lahan gambut di Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami degradasi serius akibat kebakaran dan pengelolaan yang tidak sesuai, yang mengancam fungsi ekologis dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan merumuskan pendekatan arsitektur regeneratif yang mampu mengembalikan fungsi ekosistem lahan gambut sekaligus memenuhi kebutuhan ruang yang adaptif dan berkelanjutan. Kajian literatur mengacu pada teori desain regeneratif yang melampaui desain berkelanjutan dan restoratif, menekankan pada sinergi antara manusia dan alam untuk menciptakan sistem ekologi yang sehat dan produktif. Metode yang digunakan adalah studi literatur, analisis karakteristik lahan gambut, dan perancangan konseptual dengan prinsip regeneratif, termasuk pengelolaan air yang efisien dan penggunaan material serta teknik bangunan yang ringan dan responsif terhadap kondisi gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain arsitektur regeneratif diharapkan dapat meminimalkan kerusakan ekologis dengan mempertahankan kadar air tanah, mendukung pemulihan biodiversitas, dan menciptakan ruang edukatif bagi masyarakat tentang pentingnya konservasi gambut. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan gambut yang terdegradasi.
PENERAPAN KONSEP EDU-TOURISM SEBAGAI SOLUSI ARSITEKTUR REGENERATIF PADA LAHAN PASCATAMBANG TIMAH DI BANGKA Sanjaya, Joanne Valencia; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35595

Abstract

The widespread exploitation of tin mining in the Bangka Belitung region has led to severe environmental degradation. One of the main causes is the lack of reclamation of post-mining land, leaving behind abandoned mining residues such as tailings and water-filled pits (kolong). These areas are often utilized as tourist spots by local communities,  yet they provide little to no contribution to actual environmental restoration. This research aims to explore how post-tin mining land in Bangka can be designed using a regenerative architectural approach combined with the concept of edu-tourism, functioning both as an educational facility and a means of ecosystem recovery. The methods used is literature studies, site observations, precedent studies, and analysis of the socio-ecological needs of local communities to identify programmatic needs as the basis for designing the proposed facilities. The analytical process was carried out in three stages: (1) identifying the existing site conditions of the post-mining land and surrounding community activities; (2) assessing the regenerative potential of the land and the educational value of environmentally-based tourism; and (3) formulating a program that supports ecological, educational, and social functions. The findings indicate that integrating these concepts can help restore the ecosystem, regenerate degraded mining areas into productive spaces, and utilize tailings as economic and social resources for local communities. Furthermore, this approach presents a potential model for sustainable post-mining land management in similar regions. The novelty of this research lies in the integration of regenerative architecture and edu-tourism to transform former mining lands into ecologically productive and socially beneficial spaces. Keywords:  edu-tourism; kolong; post-mining land; regenerative architecture; tailing Abstrak Maraknya eksploitasi tambang timah yang terjadi di wilayah Bangka Belitung telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Salah satu penyebab utamanya adalah lahan pascatambang timah yang tidak direklamasi, sehingga meninggalkan jejak tambang berupa tailing dan kolong yang terbengkalai. Area-area ini kerap kali dimanfaatkan sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar, namun belum memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana lahan pascatambang timah di Bangka dapat dirancang dengan pendekatan arsitektur regeneratif dan konsep edu-tourism, sehingga mampu berfungsi sebagai sarana edukasi sekaligus mendukung pemulihan ekosistem. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, studi preseden, dan analisis kebutuhan sosial-ekologis masyarakat lokal, untuk mengidentifikasi kebutuhan program sebagai dasar dari fasilitas perancangan. Proses analisis dilakukan melalui tiga tahap: (1) identifikasi kondisi eksisting lahan pascatambang dan aktivitas masyarakat sekitar, (2) potensi regeneratif lahan serta nilai edukatif dari tempat wisata berbasis lingkungan, serta (3) perumusan program ruang yang mendukung fungsi ekologis, edukatif, dan sosial. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penggabungan konsep ini mampu membantu memulihkan ekosistem, meregenerasi lahan tambang menjadi ruang produktif, serta memanfaatkan tailing sebagai potensi ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal. Selain itu, pendekatan ini dapat menjadi contoh pengelolaan lahan pascatambang untuk wilayah yang serupa. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi arsitektur regeneratif dan edu-tourism untuk mentransformasi lahan eks tambang menjadi ruang yang produktif secara ekologis dan bermanfaat secara sosial.
INTEGRASI PANTI SOSIAL, RUMAH SUSUN DAN BUDIDAYA JAMUR SEBAGAI SOLUSI ARSITEKTUR REGENERATIF KAMPUNG KUMUH DAN TUNAWISMA DI JAKARTA Japoetro, Shevia Florentia; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35596

Abstract

The increasing number of homeless individuals and the emergence of informal settlements in Jakarta reflect the complex interconnection between social and environmental issues. Despite the government’s efforts to provide solutions through social shelters and low-cost rental housing (Rusunawa), many individuals continue to live in illegal and inadequate dwellings due to limited access to employment, skills training, and basic life-supporting facilities. Informal settlements not only highlight social vulnerability but also contribute to environmental degradation—particularly along riverbanks, which are often polluted and poorly managed. This study explores the potential to redevelop these settlements into creative vertical housing and social shelters that not only provide decent living spaces but also integrate economic empowerment and ecological regeneration through the incorporation of a mushroom cultivation center. Mushrooms were selected for several reasons: they are commonly found in humid environments such as informal settlements, they are a widely favored food source, and they are well-suited to urban areas with limited space. Moreover, mushrooms have economic value and support organic waste processing systems. The specific mushroom types used in the project—straw mushrooms, oyster mushrooms, reishi, and eucalyptus mushrooms—were chosen based on site conditions, user needs, and the limited human resources available among future residents. The methodology includes literature review, precedent studies, and analysis of site conditions and the socio-ecological needs of users. The design process follows four key stages: (1) identifying the needs of marginalized communities in informal areas, (2) analyzing the potential of mushrooms as social and ecological agents, (3) integrating regenerative functions into the spatial program, and (4) formulating a creative housing concept rooted in regenerative, educational, and recreational architecture. Through this study, it becomes evident that regenerative architecture offers a promising approach to addressing homelessness by integrating it with mushroom cultivation systems. Beyond serving as a food and waste solution, mushroom cultivation presents broader opportunities for empowering homeless communities and improving local ecosystems. The outcomes of this study provide a conceptual foundation and design reference for developing socio-ecological-architectural programs as effective solutions for ensuring sustainability in Jakarta’s marginal urban areas. Keywords: homeless; jakarta; mushroom; regenerative; social housing Abstrak Fenomena meningkatnya jumlah tunawisma dan munculnya permukiman kumuh di Jakarta mencerminkan kompleksitas permasalahan sosial dan lingkungan yang saling berkaitan. Meski pemerintah telah mengupayakan solusi melalui panti sosial maupun penyediaan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), banyak individu tetap tinggal di hunian ilegal dan tidak layak karena keterbatasan akses pekerjaan, keterampilan, dan fasilitas pendukung kehidupan. Permukiman kumuh tidak hanya memperlihatkan sisi kerentanan sosial, tetapi juga memperburuk kualitas lingkungan, terutama di area bantaran sungai yang rawan tercemar dan tidak tertata. Studi ini menyoroti potensi pengembangan ulang kawasan kumuh menjadi rusun dan panti sosial kreatif yang tidak hanya menyediakan hunian layak, tetapi juga fungsi pemberdayaan ekonomi dan regenerasi ekologis melalui integrasi pusat budidaya jamur. Budidaya jamur dipilih karena jamur beberapa alasan seperti jamur dapat dijumpai setiap hari khususnya pada Kawasan lembab seperti permukiman kumuh; jamur merupakansalah satu bahan makanan yang disukai dan cocok diterapkan di area perkotaan dengan lahan terbatas, bernilai ekonomi, serta mendukung sistem pengolahan limbah organik. Jenis jamur yang digunakan secara spesifik adalah jamur merang, jamur tiram, jamur reishi dan jamur kayu putih berdasarkan kriteria konteks tapak dan kebutuhan serta batasan sumber daya manusia yang akan menghuni proyek. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, serta analisis tapak dan kebutuhan sosial-ekologis pengguna. Proses pengumpulan data analisis dan hasil jurnal dilakukan melalui empat tahap: (1) identifikasi kebutuhan masyarakat marjinal di kawasan kumuh, (2) kajian potensi jamur sebagai agen sosial dan ekologis, (3) integrasi fungsi regeneratif ke dalam program ruang, dan (4) penyusunan konsep rusun kreatif berbasis arsitektur regeneratif, edukatif, dan rekreatif. Melalui kajian tersebut akan ditemukan bahwa solusi regeneratif arsitektur dapat membantu menyelesaikan permasalahan tunawisma yang diintegtrasikan dengan pusat mengembangan jamur. Budidaya jamur tidak hanya dapat mengatasi limbah dan sumber pangan tetapi dapat memberikan potensi besar bagi tunawisma dan ekosistem secara luas. Hasil kajian dapat inspirasi serta dasar pemikiran untuk mengembangkan program ruang sosial-ekologis-arsitektural sebagai solusi efektif demi keberlanjutan ekosistem di kawasan urban marjinal Jakarta.
STRATEGI DESAIN BANGUNAN SEHAT UNTUK AKTIVITAS KERJA DAN SOSIAL DI KAWASAN BISNIS JENDERAL SUDIRMAN BERBASIS PENYARING UDARA MANDIRI Hasim, Sonia; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35597

Abstract

The worsening air quality in densely populated urban areas such as Jenderal Sudirman, Central Jakarta, has a direct impact on public health and the comfort of everyday activity spaces. This area experiences a significant increase in pollution due to traffic congestion and intensive commercial activity. These conditions demand architectural solutions that are not only functional but also responsive to ecological issues. This study aims to design a healthy building that supports work and social activities through the integration of an independent air filtration system using regenerative and biophilic design approaches. The selected site is a vacant plot in a highly polluted area, enabling the design strategy to be implemented from the early planning stage. This research uses a qualitative approach through literature review and case studies. The literature review builds a theoretical foundation regarding air filtration technologies and indoor air quality standards, while case studies analyze architectural projects that have applied similar approaches. The study includes systems such as Pureti-coated Neolith panels, Chlorella-based microalgae (PhotoSynthetica™), and high-standard HVAC integrated with vegetation and open spaces. The results show that integrating air filtration systems into architectural elements can improve air quality while enhancing the spatial experience. This design is expected to serve as a reference and inspiration for developing prototype healthy buildings in highly polluted urban areas. Keywords: air; biophilic; office; pollution; regenerative Abstrak Kualitas udara yang memburuk di kawasan urban padat seperti Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kenyamanan ruang aktivitas sehari-hari. Kawasan ini mengalami peningkatan polusi yang signifikan akibat kepadatan lalu lintas dan aktivitas komersial intensif. Kondisi ini menuntut solusi desain arsitektur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga adaptif terhadap isu ekologis. Penelitian ini bertujuan merancang bangunan sehat yang mendukung aktivitas kerja dan sosial melalui integrasi sistem penyaring udara mandiri dengan pendekatan regeneratif dan desain biophilic. Tapak yang dipilih merupakan lahan kosong di kawasan dengan tingkat polusi tinggi, memungkinkan strategi desain diterapkan sejak tahap awal perancangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan studi kasus. Kajian literatur dilakukan untuk membangun dasar teori mengenai teknologi penyaring udara dan standar kualitas udara dalam ruang, sedangkan studi kasus digunakan untuk menganalisis proyek-proyek relevan yang telah menerapkan pendekatan serupa dalam konteks arsitektural. Studi mencakup sistem seperti panel Neolith berlapis Pureti, mikroalga Chlorella (PhotoSynthetica™), serta sistem HVAC berstandar tinggi yang terintegrasi dengan vegetasi dan ruang terbuka. Hasil studi menunjukkan bahwa integrasi sistem penyaring udara dalam elemen arsitektural dapat meningkatkan kualitas udara sekaligus memperkaya pengalaman ruang. Desain ini diharapkan menjadi referensi dan inspirasi bagi pengembangan prototipe bangunan sehat di kawasan urban dengan tekanan polusi tinggi.
PENGEMBANGAN DESA PANTAI BAHAGIA: INTEGRASI KONSERVASI MANGROVE DAN PERIKANAN BERBASIS EKOWISATA BUDAYA BAHARI DI MUARA CITARUM Novafioni, Fanny; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35598

Abstract

Pantai Bahagia Village is a coastal village in Muara Citarum, Bekasi Regency, where the majority of the population makes a living as fishermen. However, this coastal area is experiencing an ecological crisis due to abrasion, flash floods, and pollution from the upper reaches of the Citarum River, which causes mangrove degradation and a decrease in fishermen's catches. This research is focused on the coastal area of Pantai Bahagia Village which has the highest level of damage and is the main location of traditional fishermen's activities. The purpose of this research is to formulate a regenerative coastal area development strategy by integrating mangrove conservation and fisheries cultivation based on marine cultural ecotourism. The research method uses a qualitative-descriptive approach with literature studies and field observations that include ecological, social, and spatial conditions of coastal areas. The results of the study show that the regenerative approach is able to create a spatial system that synergistically unites ecological, economic, and social functions. The strategies prepared include mangrove rehabilitation, the implementation of silvofishery, rainwater harvesting systems, the use of maggots as circular economy innovations, and the development of participatory ecotourism. This study concludes that regenerative coastal development can be an integrated solution to restore the environment while improving the welfare of coastal communities. These findings are expected to serve as a reference for the development of similar strategies in other coastal areas. Keywords: regenerative architecture; ecotourism; mangrove; shore; silvofishery Abstrak Desa Pantai Bahagia merupakan desa pesisir di Muara Citarum, Kabupaten Bekasi, yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, kawasan pesisir ini tengah mengalami krisis ekologis akibat abrasi, banjir rob, dan pencemaran dari hulu Sungai Citarum, yang menyebabkan degradasi mangrove dan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Penelitian ini difokuskan pada kawasan pesisir Desa Pantai Bahagia yang memiliki tingkat kerusakan tertinggi dan merupakan lokasi utama aktivitas nelayan tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan strategi pengembangan kawasan pesisir secara regeneratif dengan mengintegrasikan konservasi mangrove dan budidaya perikanan berbasis ekowisata budaya bahari. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan studi literatur serta observasi lapangan yang mencakup kondisi ekologis, sosial, dan spasial kawasan pesisir. Hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan regeneratif mampu menciptakan sistem spasial yang menyatukan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial secara sinergis. Strategi yang disusun meliputi rehabilitasi mangrove, penerapan silvofishery, sistem pemanenan air hujan, pemanfaatan maggot sebagai inovasi ekonomi sirkular, serta pengembangan ekowisata partisipatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan kawasan pesisir secara regeneratif dapat menjadi solusi terpadu untuk memulihkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.Temuan ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan strategi serupa di wilayah pesisir lainnya.
BIOCLIMATIC SANCTUARY : KONSERVASI DAN WISATA SERANGGA DI RAGUNAN JAKARTA SELATAN Nabila, Nabila; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35599

Abstract

Climate change has had a serious impact on the balance of the ecosystem in Jakarta, especially for pollinating insects such as bees, butterflies, and beetles. Data from BMKG shows that Indonesia's average temperature increased to 27.0°C in 2021, higher than the average temperature for the 1981–2010 period of 26.6°C. In the Jakarta area, the dominance of built-up land causes an increase in surface temperature of 2–5°C, exacerbated by erratic rainfall patterns and increasing frequency of extreme rain. This condition causes pollinating insects to lose their natural habitat, triggering insect urbanization characterized by forced migration or drastic population decline. To address this problem, the Bioclimatic Sanctuary project was designed to provide comfortable and sustainable microhabitats for pollinating insects in urban areas. The design of this project refers to a literature review of bioclimatic principles and applies a regenerative architecture approach that focuses on ecosystem restoration. The Bioclimatic Sanctuary design combines a HEPA ventilation system, vertical gardens, water ponds, energy-efficient lighting, rainwater harvesting, and flowering plants as natural food sources. Shade spaces and vegetation zones are designed to create a stable microclimate. Overall, the Bioclimatic Sanctuary functions as a conservation, education, and regeneration space that supports the preservation of biodiversity, builds ecological awareness in the community, and strengthens food security through the protection of pollinating insects amidst the challenges of climate change. Keywords: bioclimatic; ecosystem; green open space development; insects; regenerative Abstrak Perubahan iklim telah memberikan dampak serius terhadap keseimbangan ekosistem di Jakarta, terutama bagi serangga penyerbuk seperti lebah, kupu-kupu, dan kumbang. Data dari BMKG menunjukkan bahwa suhu rata-rata Indonesia meningkat menjadi 27,0°C pada tahun 2021, lebih tinggi dibandingkan suhu rata-rata periode 1981–2010 sebesar 26,6°C. Di wilayah Jakarta, dominasi lahan terbangun menyebabkan peningkatan suhu permukaan sebesar 2–5°C, diperparah oleh pola curah hujan yang tidak menentu dan meningkatnya frekuensi hujan ekstrem. Kondisi ini menyebabkan serangga penyerbuk kehilangan habitat alaminya, memicu urbanisasi serangga yang ditandai dengan migrasi paksa atau penurunan populasi yang drastis. Untuk mengatasi masalah ini, proyek Suaka Bioklimatik dirancang dengan tujuan menyediakan mikrohabitat yang nyaman dan berkelanjutan bagi serangga penyerbuk di wilayah perkotaan. Perancangan proyek ini mengacu pada kajian pustaka prinsip-prinsip bioklimatik dan menerapkan pendekatan arsitektur regeneratif yang berfokus pada pemulihan ekosistem. Desain Suaka Bioklimatik menggabungkan sistem ventilasi HEPA, taman vertikal, kolam air, pencahayaan hemat energi, pemanenan air hujan, dan tanaman berbunga sebagai sumber makanan alami. Ruang teduh dan zona vegetasi dirancang untuk menciptakan iklim mikro yang stabil. Secara keseluruhan, Suaka Bioklimatik berfungsi sebagai ruang konservasi, pendidikan, dan regenerasi yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, membangun kesadaran ekologis di masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan melalui perlindungan serangga penyerbuk di tengah tantangan perubahan iklim.
MERAJUT JARINGAN EKOSISTEM PERIKANAN MUARA ANGKE: STRATEGI PENATAAN INFRASTRUKTUR PERIKANAN DAN BUDIDAYA IKAN BERKELANJUTAN MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF Igianto, Edrick; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35600

Abstract

Muara Angke, as one of the main fisheries industrial centers in Jakarta, is currently facing ecosystem fragmentation that disrupts the balance between marine and terrestrial environments. The lack of integration in land-based fisheries infrastructure has not only intensified environmental pollution but also hindered the efficiency of seafood distribution. On the other hand, the degradation of marine ecosystems due to habitat loss and excessive fishing has led to a significant decline in fish populations. This study aims to apply the principles of regenerative architecture as a design approach to restore the ecological balance of coastal fisheries ecosystems, and to develop a spatial system that integrates fisheries activities, waste management, and spatial quality in a sustainable manner to promote ecological and social regeneration. A qualitative research method was used, including literature review, case studies of comparable coastal areas, field surveys in Muara Angke, and interviews with industry actors and local communities. The results indicate that reconfiguring existing infrastructure and implementing sustainable aquaculture systems can effectively restore the balance between marine and terrestrial ecosystems. The findings highlight the importance of creating spatial nodes that reconnect previously fragmented fisheries activities into a unified and cohesive system. The novelty of this research lies in the application of regenerative architecture within the context of the fisheries industry, uniting artificial and natural ecosystems into an integrated spatial framework that simultaneously supports environmental and social sustainability. Keywords:  ecosystem; fishery; integration; muara angke; regenerative architecture Abstrak Muara Angke sebagai salah satu pusat industri perikanan utama di Jakarta kini menghadapi permasalahan fragmentasi ekosistem yang menyebabkan ketidakseimbangan antara wilayah laut dan darat. Ketidakterpaduan infrastruktur perikanan di darat tidak hanya memperburuk pencemaran lingkungan, tetapi juga menghambat efisiensi distribusi hasil laut. Di sisi lain, kerusakan ekosistem laut akibat degradasi habitat dan aktivitas penangkapan ikan yang berlebihan telah menurunkan populasi ikan secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan prinsip arsitektur regeneratif sebagai pendekatan perancangan yang mampu memulihkan keseimbangan ekosistem perikanan secara menyeluruh, serta merancang sistem ruang yang mengintegrasikan aktivitas perikanan, pengelolaan limbah, dan kualitas ruang secara berkelanjutan guna mendorong regenerasi kawasan pesisir dari aspek ekologis maupun sosial. Metode yang digunakan bersifat kualitatif, dengan pendekatan studi literatur, studi kasus pada kawasan pesisir serupa, survei lapangan di Muara Angke, serta wawancara dengan pelaku industri dan masyarakat lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penataan ulang infrastruktur eksisting serta penerapan sistem budidaya ikan berkelanjutan dapat mengembalikan keseimbangan antara ekosistem laut dan darat. Temuan utama menyoroti pentingnya penciptaan titik simpul ruang yang mampu merajut kembali aktivitas perikanan yang sebelumnya terfragmentasi ke dalam satu sistem terpadu. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penerapan arsitektur regeneratif dalam konteks industri perikanan, yang menyatukan ekosistem buatan dan alami ke dalam satu kesatuan ruang yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan sosial secara bersamaan.
PUSAT MEDITASI REGENERATIF BERBASIS ALAM DI SENTUL: INTEGRASI PEMULIHAN MENTAL DAN KETERHUBUNGAN EKOLOGIS Trimarsela, Amanda; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35601

Abstract

The rapid development of urban environments has led to various negative impacts on human well-being, particularly in the form of sensory overstimulation that contributes to a decline in quality of life. Individuals experiencing mental health issues such as stress, anxiety, and depression are increasingly vulnerable to dense, noisy urban settings that lack green spaces. This background highlights the need for an architectural approach that responds holistically to these challenges. This study aims to design a nature-based meditation center in the Sentul area using a regenerative architectural approach that is ecologically integrated. The main objective is to create a space for mental healing that also functions as a living, adaptive, and sustainable ecological system. The research adopts a qualitative-descriptive method, including literature review, site observation, and site analysis. The theoretical foundation encompasses regenerative architecture principles, bioclimatic design strategies, and psychological approaches related to nature-based therapy and meditation practices. The design focuses on incorporating natural elements such as sunlight, cross ventilation, organic materials, local vegetation, and contemplative circulation flows. The design outcome presents a meditation center that facilitates a calming multisensory experience through the integration of natural elements. The resulting space not only supports personal mental recovery but also functions as part of a regenerative ecological system, strengthening the relationship between humans and nature in a sustainable manner. Keywords: ecological; meditation; mental health; nature; regenerative Abstrak Perkembangan lingkungan urban yang pesat telah menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kesejahteraan manusia, khususnya dalam bentuk overstimulasi sensorik yang berujung pada penurunan kualitas hidup. Individu yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin rentan terhadap kondisi lingkungan perkotaan yang padat, bising, dan minim ruang hijau. Latar belakang ini mendorong perlunya pendekatan arsitektur yang mampu merespons tantangan tersebut secara holistik. Penelitian ini bertujuan merancang sebuah pusat meditasi berbasis alam di kawasan Sentul dengan pendekatan arsitektur regeneratif yang terintegrasi secara ekologis. Tujuan utama dari perancangan ini adalah menciptakan ruang pemulihan mental yang sekaligus menjadi bagian dari sistem ekologis yang hidup, adaptif, dan berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif, yang mencakup studi literatur, observasi lapangan, dan analisis tapak. Landasan teoritis yang digunakan meliputi prinsip arsitektur regeneratif, desain bioklimatik, serta pendekatan psikologis dalam terapi berbasis alam dan praktik meditasi. Strategi desain difokuskan pada pemanfaatan elemen alami seperti pencahayaan matahari, ventilasi silang, material organik, vegetasi lokal, dan perancangan sirkulasi yang mendukung kontemplasi. Hasil perancangan menghasilkan sebuah pusat meditasi yang memfasilitasi pengalaman multisensorik yang menenangkan melalui integrasi elemen-elemen alami. Ruang yang dihasilkan tidak hanya mendukung pemulihan mental secara personal, tetapi juga berfungsi sebagai sistem ekologis yang regeneratif, memperkuat keterhubungan antara manusia dan alam secara berkelanjutan.
INTEGRASI RUANG LITERASI LINGKUNGAN DAN WISATA PERTANIAN MINA PADI SEBAGAI STRATEGI REGENERASI RUANG HIJAU DI PLUIT Salim, Wilbert; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35602

Abstract

North Jakarta, a city originally known for its swamps, fish ponds, and green spaces, is experiencing massive development. Along with it, the loss of green space and the increase in groundwater use have been occurring. By 2025, the existing green space in Jakarta has only reached 5.3% of the 30% target set by Law No. 26/2007. 30.4% of Jakartans still rely on groundwater as a water source without understanding the risks of flooding and land subsidence. This research aims to address the needs of public green spaces and environmental literacy through regenerative architecture, envisioning a harmonious integration of urban development and nature. The study was conducted qualitatively through data collection techniques that combined observation and secondary references from journals, map publications, statistics, and books. This process was followed with a precedent study of regenerative systems, rice fish, and similar projects as a basis for biophilic design. The results of this study suggest that rice-fish farming offers a viable path to regenerate green spaces. This green space regeneration strategy was driven by its strong alignment with Pluit's historical context, economic feasibility, and community needs. This initiative also integrates rice-fish-based literacy and tourism, which features a net-positive wastewater treatment system. The combination forms a holistic architectural solution regarding the environmental, social, and economic aspects. Keywords: biophilic; literacy; regenerative;rice-fish; tourism Abstrak Pluit, daerah dataran rendah yang dulunya dipenuhi rawa, tambak ikan, dan ruang hijau kini mengalami pembangunan masif. Seiring dengan itu, terjadi penutupan ruang hijau dan penggunaan air tanah secara ekstrem. Hingga 2025, ruang hijau yang ada di Jakarta baru mencapai 5,3 % dari target 30% yang dicanangkan UU No. 26 Tahun 2007. Sebanyak 30,4% masyarakat Jakarta juga masih mengandalkan air tanah sebagai sumber air tanpa memliki pengetahuan soal risiko tindakannya, yakni banjir dan penurunan muka tanah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyikapi kondisi fisik Pluit dan kesadaran literasi lingkungan dengan arsitektur regeneratif. Dengan begitu, visi pembangunan dan suasana alam yang selaras dapat tergambarkan. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang mengombinasikan observasi dan referensi sekunder seperti jurnal, publikasi peta, statistik, dan buku. Proses ini dilanjutkan dengan studi preseden sistem regeneratif, mina padi, dan bangunan sejenis sebagai landasan rancangan yang memanfaatkan pendekatan biofilik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ruang hijau yang hilang dapat diwujudkan kembali dengan pertanian mina padi. Pemilihan opsi tersebut sebagai bentuk regenerasi ruang hijau disesuaikan dengan sejarah, kebutuhan kawasan Pluit, dan kelayakan secara ekonomi. Hal ini didukung dengan ruang literasi dan wisata berbasis mina padi yang dioperasikan dengan sistem pengolahan limbah air yang bernilai positif. Kombinasi tersebut membentuk solusi arsitektur yang holistik terkait lingkungan, sosial, dan ekonomi.