cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PERTUNJUKAN SENI DI LOKASARI Kaleb Yordan Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8594

Abstract

Modern society with many routines and activities with high mobility. This everyday demands them with a fast and practical lifestyle. This lifestyle requires the city community to move to work and activities that are so time-consuming that they forget about other needs (entertainment, family time), including rest. This study aims to answer the needs of the community, most of the people in the Village office Tanki which are one of the centers of Jakarta through the role of architecture in creating space for relaxation and relaxation amid various activities undertaken (Third Place). In this research, the method used is conducting studies, observations and distributing questionnaires as initial data collection. Second, discussing, discussing and discussing the needs of the surrounding community to complete boredom and restore amidst a lot of and dense activities. Third, compile a program in accordance with the results of the survey, observe and answer the needs of the community that are tailored to the problem so that the creation of a Third Place that successfully makes the project objectives will be obtained. The third place of the Performing Arts project provides and provides the space needed for the community in the Tank Village by developing and requiring an old program from a Lokasari, into a program of making a mixture of cultural lamas using the present age to attract all ages and genders. Keywords:  needs; routine; tangki; third place Abstrak Masyarakat kota merupakan masyarakat modern dengan banyak rutinitas dan aktivitas serta mobilitas yang tinggi. Keseharian ini menuntut mereka dengan gaya hidup serba cepat dan praktis. Gaya hidup seperti ini menuntut masyarakat kota untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga membuat mereka lupa akan kebutuhan lainnya (hiburan, waktu bersama keluarga) termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan menjawab kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Kelurahan Tangki yang merupakan salah satu daerah pusat kota Jakarta melalui peran arsitektur dalam menciptakan ruang untuk beristirahat dan relaksasi di tengah kepadatan aktivitas yang dijalani (Third Place). Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah melakukan studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal. Kedua, meneliti, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirahat ditengah aktivitas yang banyak dan padat. Ketiga, menyusun program yang sesuai dengan hasil survei, observasi serta untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang disesuaikan dengan soal agar terciptanya suatu Third Place yang berhasil sehingga tujuan proyek akan tercapai. Proyek third place Pertunjukan Seni ini menunjukkan dan memberikan sebuah wadah yang dibutuhkan bagi masyarakat khususnya di Kelurahan Tangki dengan mengembangkan dan membangkitkan program lama dari sebuah Lokasari, menjadi program campuran dari kebudayaan lama dengan kebudayaan zaman sekarang guna menarik semua umur dan gender.
TEMPAT SINGGAH DUKUH ATAS STEPOVER PLACE Marseno Sanjaya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6736

Abstract

Based on data from PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) the number of KRL passengers throughout 2017 reached 315.8 million passengers, up 12.55% from the previous year and will experience an increase every year. With this amount it is known that commuting has also increased. Areas that have easy access to public and strategic transportation are in the center of Jakarta's business district, Dukuh Atas. Hamlet above is also an area with a large commuter population. Every day commuters in Indonesia spend 2-third of their time just waiting and there is repetition. this causes things such as the individual's lack of attention to health, social world and also a high level of stress. Therefore, with the increasing number of passengers and the appropriate area a third place can be created which is a place between the first place and second place that drives humans to build community, equality, and also routines in terms of something positive. For that, we need a place to stop in order to increase productivity and also eliminate the saturation that arises due to repetition that occurs. Then a place was built that had programs such as a bed, a place to chat and also a green room. This building also had room for ticket information that was integrated directly with the Upper Hamlet Station which facilitated access and information accordingly such as departure hours and also when trains arrived.Abstrak Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) jumlah penumpang KRL sepanjang 2017 mencapai 315,8 juta penumpang naik 12,55% dari sebelumnya dan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan jumlah ini maka diketahui bahwa komuter juga mengalami peningkatan. Daerah yang memiliki akses yang mudah untuk transportasi umum dan strategis berada di pusat bisnis Jakarta yaitu Dukuh Atas. Dukuh atas juga merupakan daerah dengan penduduk commuter yang besar. Setiap hari kaum komuter di Indonesia menghabiskan 2 per 3  dari waktunya hanya untuk menunggu dan ada pengulangan yang terjadi. hal ini menyebabkan hal seperti ketidakperhatian individu terhadap kesehatan, dunia sosial dan juga tingkat stress yang tinggi .Oleh karena itu, dengan adanya jumlah penumpang yang terus meningkat dan kawasan yang sesuai dapat diciptakannya third place yaitu suatu tempat di antara first place dan second place yang mendorong manusia untuk membangun komunitas,kesetaraan,dan juga rutinitas dalam hal yang bersifat positif.Untuk itu, diperlukan sebuah tempat untuk singgah agar dapat meningkatkan produktivitas dan juga menghilangkan rasa jenuh yang timbul akibat pengulangan yang terjadi. Maka itu dibangunlah sebuah tempat yang memiliki program seperti tempat tidur, tempat untuk bercengkrama dan juga ruang hijau.Bangunan ini juga mempunyai ruang untuk informasi tiket yang berintegrasi langsung dengan Stasiun Dukuh Atas yang mempermudah akses dan informasi yang sesuai seperti jam keberangkatan dan juga waktu kereta datang.
RENCANA PENATAAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) PORIS PLAWAD Jason Frederick; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.11234

Abstract

Tangerang City is a city located in Banten Province, its geographical makes Tangerang City a fast growing city. The rapid population growth is also driving the growth of private vehicle use. The number of private vehicles that exceed the road capacity will result in traffic congestion which results in disruption of the productivity of a city. One solution to reducing the dependence of a city on the use of private vehicles is to promote the use of public transportation. The author hopes that the development with the TOD principle can promote the use of public transport. The TOD concept can be defined as a pedestrian-friendly environment, located around a railway transit station and the overall TOD concept is expected to provide a healthy and sustainable lifestyle for its residents. Batu Ceper Station is a station on the Jakarta-Tangerang train line and is a stop station for KRL Commuter Line and Soekarno Hatta Airport Train. Apart from the train station there is also Poris Plawad Bus Terminal. The planning area is 201 ha, which is the area of a circle with a radius of 800 meters from the station center. The research method used is quantitative method and the analysis used by researchers is location analysis, site analysis, typology analysis, property market trend analysis, and space requirements analysis. This research is expected to give results in the form of district development plan that integrates the concept of TOD Keywords:  Redevelopment; Suburban; Transit Oriented Development AbstrakKota Tangerang adalah sebuah kota yang terletak di sebelah barat Kota Jakarta, letaknya menjadikan Kota Tangerang sebagai kota yang tumbuh cepat. Cepatnya pertumbuhan populasi juga mendorong pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi. Jumlah kendaraan pribadi yang melampai kapasitas jalan akan mengakibatkan kepadatan lalu lintas yang mengakibatkan disrupsi bagi produktivitas suatu kota. Salah satu solusi dari mengurangi ketergantungan suatu kota terhadap penggunaan kendaraan pribadi adalah dengan mempromosikan penggunaan angkutan umum. Penulis berharap bahwa pengembangan dengan kaidah TOD dapat mempromosikan penggunaan angkutan umum. konsep TOD dapat didefinisikan sebagai lingkungan yang ramah pejalan kaki, terletak di sekitar stasiun transit kereta api dan keseluruhan konsep TOD diharapkan dapat memberikan gaya hidup sehat dan berkelanjutan bagi penghuninya. Stasiun Batu Ceper merupakan stasiun yang ada di jalur kereta api Jakarta-Tangerang dan merupakan stasiun perhentian untuk layanan KRL Commuter Line dan Kereta Bandara Soekarno Hatta. Selain itu terdapat juga Terminal Bus Poris Plawad, luas wilayah perencanaan adalah sebesar 201 Ha yang merupakan luas dari lingkaran dengan radius 800 meter dari pusat stasiun. Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode kuantitatif dan analisis yang akan digunakan oleh peneliti adalah analisis lokasi, analisis tapak, analisis tipologi, analisis pasar/tren properti, dan analisis kebutuhan ruang. Penelitian ini diharapkan membuahkan hasil dengan bentuk rencana penataan kawasan dengan konsep TOD.
PENERAPAN FOCAL POINT DI JALAN TOL WIYOTO WIYONO PADA JAKARTA AUTOMOBILE MUSEUM William Suwono; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4000

Abstract

Mobil telah menjadi katalis dalam perkembangan pertumbuhan infrastruktur transportasi di Indonesia, sehingga momen bersejarah banyak ditemukan pada perkembangan otomotif di Indonesia. Sampai dengan saat ini, Indonesia belum memiliki museum mobil yang dapat memenuhi hasrat dan aktivitas para penggemar otomotif. Museum Mobil Jakarta menyediakan wadah interaktif bagi masyarakat yang tertarik untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan tentang sejarah otomotif di Indonesia. Konsep dasar dari pembuatan massa bangunan adalah dengan menganalogikan sebuah mobil sport. Pembuatan kaca di bagian depan massa dan serta struktur baja yang di ekspos juga memberikan sebuah identitas bagi bangunan tersebut serta membuat titik fokus pandangan menjadi lebih jelas. Bangunan ini juga ditujukan untuk menjadi ikon dari peninggalan sejarah mobil di Indonesia, dan ikon dari pariwisata Jakarta.
MAKNA AMBATIK – PALMERAH Indra Lesmana; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6845

Abstract

The existence of an open space, is truly important to nowadays urban society. Because basically, community of a city has been bounded to open spaces around that city. The need of a thirdplace in a city, now, is way more than just a regular, it became a lifestyle. This thirdplace phenomena give impacts to the usage of outdoor spaces in the city which used to be indoor spaces, now became outdoor ones (public areas). What used to be a mall and a café that are favorites, now turning into outdoor spaces such as parks, streets (pedestrians), public spaces for children, recreation areas, and so on. Jakarta, especially in Palmerah, open spaces are very rarely  found. In the other side, Palmerah used to be known for its batik, but now it’s already all  gone. Batik as the main program that supports this thirdplace is expected to be able to accommodate the work or activities of local residents. Hold on to Ray Oldenburg’s theory about the third place criteria, batik in this design is intended as a medium for local residents to meet, greet, and interact. With this, batik media is able to accommodate the need of a thirdplace itself. However  still, open spaces in this design has the largest percentage as public spaces for local residents to do some activities and interactions. Batik phases are realized in creating existing spaces; starting from seeing, then feeling, and finally doing. Batik produced by locals can be resold and later become their income. Plots of spaces, materials, wall tears, and batik carvings are also highlighted in this building to create characteristic of this Ambatik building. With Ambatik, all ages, all genders, all types of ethnicity, culture, and race, can be united without any difference.AbstrakKeberadaan ruang luar sangatlah penting bagi masyarakat kota saat ini. Pada dasarnya, masyarakat memiliki keterikatan pada ruang-ruang terbuka kota. Sekarang, Kebutuhan tempat ketiga di dalam suatu kota sudah lebih dari sekedar kebutuhan biasa, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Fenomena tempat ketiga berdampak pada penggunaan ruang luar yang pada awalnya dari penggunaan ruang dalam, mulai beralih ke ruang luar (ruang publik). Yang semula mall dan kafe menjadi ruang favorit, sekarang beralih ke ruang luar publik seperti taman, jalan (pedestrian), RPTRA, tempat rekreasi dan sebagainya. Di Jakarta, tepatnya di Palmerah, ruang-ruang terbuka bagi warga sekitar sangatlah jarang ditemui. Di satu sisi, Palmerah yang dalam sejarah dikenal oleh batiknya, sekarang sudah menghilang. Ambatik hadir untuk menunjang tempat ketiga di kawasan Palmerah, yang diharapkan mampu mewadahi kegiatan ataupun aktivitas dari warga sekitar, sekaligus menghidupkan kembali identitas batik di Palmerah. Dengan teori Ray Oldenburg mengenai kriteria sebuah tempat ketiga, batik dalam rancangan ini dimaksudkan sebagai media bagi warga sekitar untuk bertemu, bersapa dan berinteraksi. Ruang-ruang terbuka dalam rancangan ini juga berguna sebagai ruang publik bagi warga sekitar untuk beraktivitas, berinteraksi untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Fase-fase batik juga diwujudkan dalam menciptakan ruang-ruang yang ada, mulai dari melihat, kemudian merasakan, dan melakukan. Dengan hadirnya Ambatik, diharap mampu meningkatkan relasi antar warga, pemahaman baru tentang batik, dan kesadaran akan tradisi. 
WADAH PERTUKARAN PENGALAMAN RUANG DI MENTENG Muhammad Yumna Helmy; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6900

Abstract

The urban life is not separated from the saturation of the daily routine and activities, which causes the level of stress ratio in major cities such as Jakarta is quite high. During the demands and routine of life, many people looking for entertainment or recreation to take off the fatigue of daily activities. The role of interaction room for the people of Menteng is very important, in addition to the physical layout of the environment, the public space also bears the function and significance of social and cultural very high. However, the rapid growth of the city's demand for urban land demands increased. The privatization of land, either individually, as well as legal entities/institutions, has caused the existence of public space to be increasingly affected. Even in the crowded settlements of residents, people have no more public space adequate to host their activities. People no longer have a shared space to interact with each other, communication between citizens; children no longer have a place to play in the outside space, so that the culture of togetherness and tolerance is increasingly misguided. With the presence of this container during busy and the needs of the surrounding community, it is expected to increase the attitude of tolerance between the community and produce new activities that can increase the productivity and tolerance between the surrounding residents who have a wide impact on the region. Abstrak Kejenuhan akan rutinitas serta aktivitas harian yang serba padat mwarnai kehidupan di perkotaan, hal ini yang mengakibatkan tingkat rasio kemungkinan stress di kota-kota besar seperti Jakarta lumayan besar. Ditengah rutinitas hidup, banyak orang yang mencari hiburan maupun rekreasi untuk semata-mata melepas kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Kedudukan ruang interaksi bagi warga Menteng sangat berarti, tidak hanya menyangkut tata ruang fisik lingkungan, ruang publik juga mengemban peranan dan arti sosial serta kultural yang sangat besar. Tetapi, perkembangan kota yang cepat mengakibatkan tuntutan kebutuhan lahan perkotaan kian bertambah. Privatisasi lahan baik secara individual ataupun badan hukum/lembaga telah menimbulkan eksistensi ruang publik kian terpinggirkan. Apalagi di permukiman-permukiman padat penghuni, warga sudah tidak mempunyai lagi ruang publik yang mencukupi untuk mewadahi aktivitas mereka. Penduduk tidak lagi mempunyai ruang bersama buat silih korelasi, komunikasi antar warga, anak-anak tidak lagi mempunyai tempat bermain yang nyaman di ruang luar, sehingga budaya kebersamaan serta toleransi terus menjadi terkikis. Dengan hadirnya wadah ini di tengah tengah kesibukan dan kebutuhan masyarakat sekitar, diharapkan dapat meningkatkan sikap toleransi antar masyarkat dan menghasilkan kegiatan kegiatan yang baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan toleransi antar warga sekitar yang berdampak luas terhadap kawasan sekitar.
RUANG BUDAYA GLODOK, ANTARA BERHUNI, BUDAYA DAN ADAPTASI Kenny Kenny; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10780

Abstract

Nowadays, culture is a lifestyle that develops in a community group and is passed down from generation to generation. In addition if this culture is already attached to an area, for example Chinatown. Where these popilation and lifestyle are very thick with Chinese culture.As an example of china town that we know, Glodok, which is very attached to Chinese culture, can be seen from the old Chinese building style, the lifestyle of the people that has majority whom work as traders, and many cultural or traditional events that are held in Glodok. But in the mean time these Chinese culture starts to fading even disappearing from it, and this issue is causing the people that lived here with the inherent culture facing a crisis of regional identity and cultural identity that should be the character of Chinatown itself.This proposed project appears in the form of a Cultural Space that can accommodate traditional and cultural activities with the ultimate goal of awakening and preserving Chinese culture for the local community even on a city scale. In addition to generating and preserving, this project aims to provide a new spatial experience as the new face of Chinatown and as a breakthrough Nodes in the region. Keywords:  Chinatown; Chinese; Cultural Space; Nodes; Westernization  ABSTRAKDalam kehidupan sehari-hari budaya merupakan suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat dan diwariskan secara turun menurun. Ditambah lagi jika budaya tersebut sudah melekat dengan sebuah kawasan contohnya, Pecinan dimana penduduk dan gaya hidupnya sangat kental dengan budaya China. Salah satu contoh Pecinan yang kita kenal merupakan Glodok. Kawasan Glodok yang sangat kental dengan budaya China dapat dilihat dari gaya bangunan, pola hidup masyarakatnya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai pedagang, dan banyaknya acara kebudayaan atau tradisi yang dilakukan di kawasan Glodok.Namun seiring dengan berjalannya waktu budaya tersebut semakin memudar bahkan hilang yang menimbulkan masyarakat etnis Tionghoa yang pernah hidup di dalam kekentalan budaya disini menghadapi krisis identitas Kawasan dan identitas budaya yang seharusnya menjadi ciri khas pecinan sendiri.Muncullah usulan proyek berupa cultural space yang dapat mewadahi aktivitas tradisi dan kebudayaan dengan tujuan akhir membangkitkan dan melestarikan budaya China bagi masyarakat setempat bahkan dalam skala kota.Selain untuk membangkitkan dan melestarikan, proyek ini memiliki tujuan untuk memberi pengalaman spasial yang baru sebagai wajah Pecinan yang baru dan sebagai terobosan Nodes baru di kawasan ini.
VIVARIUM: WISATA EKOSISTEM RAWA BUATAN DI JAKARTA Angeline Tjahjadi; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3964

Abstract

DKI Jakarta sebagai ibukota negara terdiri dari 5 wilayah dan 1 kabupaten. Jakarta Utara merupakan salah satu wilayah DKI Jakarta yang terkenal akan rawanya. Ekosistem rawa di Jakarta mengalami banyak sekali perubahan dengan seiring waktu bertumbuhnya kota Jakarta. Sebagian besar area rawa yang merupakan dataran rendah tersebut diubah menjadi kawasan permukiman penduduk sehingga berdampak pada terganggunya keseimbangan ekosistem rawa di Jakarta. Maka untuk menjaga kelestarian ekosistem rawa, masyarakat perlu dikenalkan dan diedukasi mengenai ekosistem rawa serta manfaatnya bagi kehidupan mahluk hidup. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menghadirkan kembali ekosistem rawa dalam bentuk ekosistem buatan (vivarium). Dalam ekosistem buatan ini, masyarakat akan merasakan pengalaman berada dalam ekosistem rawa dan mengenal kehidupan di dalamnya. Dimulai dari flora dan fauna khas rawa hingga kehidupannya. Selain itu, masyarakat dapat mengenal flora dan fauna khas rawa ini dari dekat dan berinteraksi secara langsung. Untuk mewadahi kegiatan-kegiatan tersebut maka dibuatlah proyek Vivarium, wisata ekosistem rawa buatan di Jakarta ini. Dalam proyek ini akan berisi ekosistem rawa buatan serta fasilitas untuk menunjang edukasi masyarakat mengenai ekosistem rawa. Tulisan ini bertujuan menghasilkan suatu konsep dan rancangan proyek vivarium yang dapat mewadahi kegiatan-kegiatan terkait wisata ekosistem rawa buatan di Jakarta, yang  sekaligus dapat menjadi sarana untuk  menunjang edukasi masyarakat agar lebih peduli dan tergerak untuk melestarikan ekosistem rawa. Proyek ini diharapkan dapat menjadi suatu karya architourism yang berdampak positif baik dari sisi pelestarian rawa maupun bagi kesejahteraan masyarakat banyak  terutama di Jakarta Utara.
PASAR HETEROTOPIA: TIPOLOGI BARU SEBUAH PASAR Jasson Jasson; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4498

Abstract

The market, aside from being the place where economic transactions occur, also has an important role as a social network as well as a medium to showcase the existence of self by various parties. Especially to the millennial generation who now tend to enjoy transaction activities virtually. The high rate of digitalization of current economic activities, along with its network expansion to social media, has redefined shopping activities as one of the (commodity) unique experiences that must be experienced and shared by millennials to strengthen their social quality. Millennials view economic-transaction activities as a way of gaining new experiences that deserve to be shared. On the other hand, reflecting on the same tendency in other aspects, the phenomenon of digitalization has helped strengthen millennial individualistic tendencies, isolating themselves from direct contact in the real world. The change in the economic system to digital direction is also possesing new threat to the sustainability of existing conventional economic practices, especially traditional market systems with a very high level of interaction and social participation among its users. Through this project, researchers are trying to offer a new typological form of traditional markets that support the social closeness between their users, intensified, and maintain the essence of traditional markets as a social center of society. The design of the architectural typology offered by researchers is also expected to provide the widest possible opportunity for its users, especially the millennial generation, to explore their various social roles in current economic activities. AbstrakPasar, selain mejadi tempat terjadinya transaksi ekonomi, juga memiliki peran penting sebagai jaringan sosial sekaligus media unjuk eksistensi diri oleh berbagai pihak. Terutama kepada generasi milenial yang sekarang cenderung menikmati kegiatan transaksi secara virtual. Tingginya laju digitalisasi kegiatan ekonomi saat ini, beserta perluasan jaringannya kepada media sosial, telah meredefinisikan kegiatan belanja sebagai salah satu (komoditas) pengalaman unik yang wajib dialami dan dibagikan para milenial untuk memperkuat kualitas sosial dirinya. Generasi milenial memandang kegiatan transaksi-ekonomi sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengalaman baru yang patut dibagikan. Di sisi lain, bercermin kepada tendensi sama di aspek-aspek lain, fenomena digitalisasi ini turut memperkuat kecenderungan individualistis milenial, mengisolasi diri mereka dari kontak langsung di dunia nyata. Perubahan sistem ekonomi ke arah digital ini juga menjadi ancaman baru bagi keberlanjutan praktik-praktik ekonomi konvensional yang ada, terutama sistem pasar tradisional dengan tingkat interaksi dan partisipasi sosial sangat tinggi antar pengunanya. Melalui proyek ini, peneliti berusaha menawarkan bentuk tipologi baru pasar tradisonal yang mendukung kedekatan sosial antar penggunanya terjalin intens, serta mempertahankan esensi pasar tradisional sebagai pusat sosial masyarakat. Rancang tipologi arsitektur yang ditawarkan oleh peneliti juga diharapkan memberi peluang seluas-luasnya bagi para penggunanya, teristimewa generasi milenial, untuk mengekplorasi berbagai peran sosial mereka dalam kegiatan ekonomi saat ini.
BANGUNAN REKREASI BERTEMAKAN ALAM-NATURAL WELLBEING RETREAT Salman Airlangga
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8628

Abstract

Nature Themed Recreational Building-Natural Wellbeing Retreat is designed to help fulfill the daily and dynamic needs of the people through a natural concept focused on wellbeing that is aimed to answer the problems of the Sunter district such as high levels of stress, low amount of green open spaces, and the abundance of the retiree using a Pattern-Based method with the main focus being the space and site. Natural Wellbeing Retreat can be interpreted as an action to return to nature to replenish happiness and health. Humans require recreation and rest from daily routines and business forced upon them. Recreation/rest time can lead to a meeting between creative humans to build a more innovative and productive community. Therefore a wellbeing theme is taken where all the programs will be injected with the primary objective of the project, which is to maintain the mental, physical, and emotional health of its users by also applying natural aspects related to gardens/parks which are useful in creating a happier community which is also by a selected location that lacks green open areas. This natural aspect will be further supported by the background of Lake Sunter as a blue open space. Keywords: Nature; Recreation; Retiree; StressAbstrakBangunan Rekreasi Bertemakan Alam-Natural Wellbeing Retreat hadir untuk membantu kehidupan serta menjawab kebutuhan masyarakat yang dinamis melalui tema yang akan diangkat berupa Natural Wellbeing Retreat yang ditujukan untuk menjawab masalah-masalah utama kawasan Sunter seperti tingginya tingkat stres, kurangnya ruang terbuka hijau, dan banyaknya pensiunan menggunakan metode desain berbasis pola dengan memperhatikan obyektifitas ruang dan tapak. Natural Wellbeing Retreat dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk kembali ke alam agar bahagia dan sehat. Kami membutuhkan suatu rekreasi atau waktu istirahat dari segala rutinitas dan kesibukan yang dituntutkan pada mereka. Waktu rekreasi/istirahat ini bisa mengarah kepada pertemuan antar manusia-manusia kreatif dan membangun komunitas yang lebih inovatif serta produktif. Maka dari itu diambillah tema wellbeing dimana seluruh program akan disuntikan tema ini dengan tujuan utama proyek yaitu menjaga kesehatan mental, fisik, serta emosional para penggunanya dengan juga menerapkan aspek natural yang berkaitan dengan gardens/parks yang efektif untuk menciptakan komunitas yang lebih bahagia dan juga sesuai dengan lokasi terpilh yang kekurangan area terbuka hijau. Faktor alami ini akan terlebih lagi didukung dengan adanya latar belakang Danau Sunter sebagai ruang terbuka biru.

Page 25 of 134 | Total Record : 1332