cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PERANCANGAN KANTOR BISNIS RINTISAN MILENIAL DI KRAMAT PELA Reynaldo Reynaldo; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4460

Abstract

In this era where millennials increasingly dominating the world, especially in the world of works, the boundaries between working with other activities are increasingly fading too. But because of their characters whose tend to be flexible in everything, millennials also prefer to work anywhere as long as there is an internet connection and electricity sources. For example, a coffee shop or cafe is a popular place for millennials to work with their laptops. Some of them are startup entrepreneurs where mostly they don’t have enough money to rent an office space, so that a startup business office is needed to suit with millennial behaviors and preferences. Therefore, there are 2 main objectives of the design of this startup business office; 1) to determine the startup office typology efficiently and precisely balancing the behavior of the millennial generation in starting and running a startup business; 2) to apply the results from the pattern language method that is appropriate for the design of this startup business office. In order for the design to be carried out properly and systematically, the compilers used the pattern language method to determine the zoning of human activities in the building area so that proper and clear in and out grooves are formed. The final results of the design are expected to increase the productivity of the millennial startup business supported by the typology of the appropriate startup business office. AbstrakDi era dimana generasi milenial semakin mendominasi dunia terutama di dalam dunia pekerjaan, batasan antara aktivitas bekerja dengan aktivitas-aktivitas lainnya semakin memudar. Namun karena karakteristik mereka yang cenderung fleksibel dalam segala hal, milenial juga cenderung lebih memilih untuk bekerja dimana saja selama ada koneksi internet dan stop kontak.  Sebagai contoh, coffee shop atau kafe menjadi tempat yang popular untuk orang-orang milenial untuk bekerja di depan laptopnya. Sebagian dari mereka adalah merupakan startup entrepenur yang dimana mereka masih belum memiliki biaya untuk menyewa sebuah area kantor, sehingga dibutuhkan sebuah kantor bisnis rintisan yang sesuai dengan perilaku dan kesejamanan milenial.  Oleh karena itu, terdapat 2 tujuan utama dari perancangan kantor bisnis rintisan ini; 1) menentukan dan mengkaji tipologi kantor startup yang secara efisien dan tepat untuk menyelaraskan perilaku generasi millennial dalam memulai dan menjalankan bisnis rintisan; 2) menerapkan hasil dari metode pattern language yang sesuai pada perancangan kantor bisnis rintisan ini. Agar perancangan kantor bisnis rintisan ini dapat dijalankan dengan baik dan sistematis, maka penyusun menggunakan metode pattern language menentukan zoning aktivitas manusia di area bangunan sehingga terbentuk alur-alur masuk dan keluar yang tepat dan jelas.  Hasil akhir dari perancangan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pebisnis rintisan milenial yang di dukung oleh tipologi kantor bisnis rintisan yang tepat.
WISATA EDUKASI IKAN SEBAGAI TEMPAT RUANG KETIGA Winanta Winanta; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8514

Abstract

AbstrakKehidupan pada daerah Jakarta utara penuh dengan aktivitas dan rutinitas keseharian dengan laut, karena sebagian besar masyarakat disana bekerja sebagai nelayan dan juga menjual hasil tangkapan dari laut. Jenis aktifitas wisata yang dapat dilakukan di Jakarta, lebih tepatnya di Jakarta utara yaitu wisata perairan antara lain yaitu renang, pemancingan, dayung perahu, olahraga air, dan perikanan wisata. Perikanan wisata adalah suatu pemanfaatan usaha perikanan sebagai obyek kunjungan wisata. Kegiatan perikanan wisata dapat berupa penangkapan ikan sebagai hobi (game fishing), pemancingan ikan sebagai hobi (sport fishing), berkunjung ke lokasi budidaya ikan hias yang dilengkapi dengan objek wisata berupa “display” ikan hias (ornamental fish). Tujuan proyek ini untuk mengedukasi masyarakat mengenai ikan dan meningkatkan kualitas sosial masyarakat. Program utama yang ditawarkan pada proyek ini terdapat area display aquarium sebagai edukasi ikan, dan juga penangkaran ikan untuk memberi perkembangbiakkan mengenai ikan, terdapat ruang santap terbuka untuk ruang makan yang disertai suasana ikan, serta dapat juga memancing ikan, dan area penunjang yaitu ruang auditorium sebagai edukasi dan juga tempat sosial bagi masyarakat untuk mengadakan acara maupun aktivitas sosial.Kata Kunci : arsitektur ; edukasi ; ikan ; sosial ; wisataAbstract Life in the North Jakarta area is full of activities and daily routines with the sea, because most of the people there work as fishermen and also sell their catch from the sea. Types of tourism activities that can be carried out in Jakarta, more precisely in North Jakarta, are water tourism, including swimming, fishing, rowing boats, water sports, and fishing tourism. Tourism fisheries are utilization of fishery business as an object of tourist visit. Tourism fishing activities can be in the form of fishing as a hobby (game fishing), fishing as a hobby (sport fishing), visit to an ornamental fish culture location that is equipped with an attraction in the form of "display" (ornamental fish). The aim of this project is to educate the public about fish and improve the social quality of the community. The main program offered in this project is the aquarium display area for fish education, and also fish breeding to provide reproduction about fish, there is an open dining room accompanied by the atmosphere of the fish, and can also fish fishing, and other supporting areas, is the auditorium as education and also a social place for the community to hold events and social activities. Keywords : architecture ; education ; fish ; social ; tourism
WADAH KREATIVITAS-BERBASIS-PLASTIK Putri Odelia; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6879

Abstract

Jakarta ranks as the highest as the city that produces the most waste after China. Jakarta produces around seven thousand tons of waste every day. However, only six thousand tons of garbage can be transported to the Bantar Gebang Final Disposal Site per day. Some of the waste that is not transported then piles up on empty land and waterways, such as rivers and streams. Plus the habits of people who are still less concerned about the environment by littering, including in rivers or streams, make this plastic waste pollution increasing. Waste that is not transported then flows to the sea. At the sea, neglected plastic rubbish will not be decomposed in a short time. This accumulation of garbage then disrupts the life of marine life. In the process of environmental improvement and maintenance, the role of the surrounding community is an important factor. The community must take part in living their daily lives, such as: reducing the use of disposable plastics, sorting out trash before disposal, recycling waste into new valuable objects, and so on. Therefore this building design aims as a means for the community to learn and participate in handling issues that occur in this region. Architectural building, as a place that accommodates community activities, uses the principles of plasticity as the basis for forming mass and space. Abstrak Jakarta menduduki peringkat tertinggi kedua sebagai kota yang menghasilkan sampah paling banyak. Kota Jakarta menghasilkan sekitar tujuh ribu ton sampah setiap harinya. Namun, hanya sebanyak enam ribu ton sampah yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang per hari. Sebagian sisa sampah yang tidak terangkut ini kemudian menumpuk pada lahan kosong dan jalur air, seperti sungai dan kali. Ditambah lagi kebiasaan masyarakat yang masih kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai atau kali, membuat pencemaran sampah plastik ini semakin meningkat. Sampah yang tidak terangkut ini kemudian mengalir sampai ke laut. Di laut, sampah plastik yang diabaikan, tidak akan teurai dalam waktu singkat. Penumpukan sampah ini kemudian mengganggu kehidupan biota laut. Dalam proses perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, peran masyarakat di sekitarnya merupakan faktor penting. Masyarakat harus ambil bagian dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sebelum dibuang, mendaur ulang sampah menjadi benda baru yang bernilai, dan sebagainya. Oleh karena itu desain bangunan ini bertujuan sebagai sarana masyarakat untuk belajar dan ikut serta dalam penanganan isu yang terjadi di kawasan ini. Bangunan arsitektural, sebagai tempat yang mewadahi kegiatan masyarakat ini menggunakan prinsip-prinsip plastisitas sebagai dasar membentuk massa dan ruang.
RUMAH KOPI Henny Angkasa; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4002

Abstract

Kopi sebagai salah satu komoditas utama Indonesia berada di urutan ke sepuluh statistik komoditas ekspor utama Indonesia edisi tanggal 15 Januari 2019, dikutip dari Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Namun, kopi selain sebagai komoditas ekspor, masih memiliki banyak potensi. Salah satunya adalah pada sektor pariwisata dimana negara seperti Kolombia telah berhasil menarik lima juta pengunjung pada tahun 2009 dengan Taman Nasional Kopi miliknya. Indonesia sebagai negara keempat produksi kopi terbesar di dunia dengan 18 karakter biji yang tersebar dari sabang sampai merauke dapat mengadopsi kekayaan kopi tersebut sebagai identitas negara dan sebagai destinasi wisata. Berdasarkan ini, Rumah Kopi pun dirancang dengan tujuan untuk membangun ikon kopi di Indonesia. Dengan sentuhan fantasi, Rumah Kopi akan membawa pengunjung menjelajahi sejarah kopi dari pertama kali ia ditemukan sampai dengan sekarang. Perjalanan ini kemudian diklasifikasikan berdasarkan empat era yang dimulai secara berurutan dari zaman klasik, abad pertengahan, zaman renaissance, dan yang terakhir adalah zaman kontemporer.
PLATARAN REMPUG RAWA BELONG Christabella Nadia Angela; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8492

Abstract

Rawa Belong is one of the village in Jakarta’s density. Then this village was filled by social interactions that give a life to the city. A public space that everyone can relax and leisure also express themselves freely. With a cultural background and plants, Rawa Belong began to be seen as something special. Various communities and people with a different background are in it. Freedom that should be in a public space is not happen here, because of the density both in the interaction between people and their environment. This project is based on “Everyday Urbanism” method to observe and analysis the urban life in Rawa Belong. Then this project was created to resolve what people in Rawa Belong needs such as a place to recreation and leisure where will be seen as a connection between lost spaces also to create a space that combine all the people and community that should be in a public space.   Keywords:  community; cultural; plants; public space; social interactioAbstrakRawa Belong merupakan salah satu kelurahan ditengah kepadatan kota Jakarta. Suatu kelurahan yang diisi oleh interaksi social yang memberi kehidupan bagi kota. Sebuah wadah dan ruang public dimana setiap orang dapat melakukan aktivitas rekreasi dan mengekspresikan dirinya secara bebas. Dengan latar belakang sejarah budaya betawi dan juga tanaman hias, daerah Rawa Belong dipandang sebagai sesuatu yang khas dan istimewa. Berbagai macam komunitas dengan berbagai latar belakang ada di dalamnya, kebebasan yang seharusnya ada dalam sebuah ruang public tidak terlihat di daerah ini karena begitu padatnya satu dengan yang lainnya baik dalam interaksi antar manusia maupun interaksi dengan lingkungannya. Proyek ini didasari  menggunakan metode “Everyday Urbanism” untuk melakukan pengamatan dan analisa terhadap kehidupan di Rawa Belong. Kemudian proyek ini diciptakan untuk menjawab kebutuhan wadah rekreasi yang ada, dimana wadah ini akan dilihat sebagai sebuah koneksi antar ruang-ruang yang hilang dan menggabungkan semua komunitas dan masyarakat yang seharusnya ada dalam sebuah ruang terbuka.
TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY DAN KONSEP KONTEKSTUAL PERANCANGAN WISATA PERMAINAN TRADISIONAL DI KOTA TUA Hugo Herlando; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4014

Abstract

Negara Indonesia memiliki beragam jenis wisata budaya yang menarik dan menghibur, salah satunya yang bersifat kegiatan aktif atau interaktif adalah permainan tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman terutama bidang teknologi seperti penggunaan internet, gawai, dan komputer, permainan tradisional yang termasuk budaya itu sudah mulai kehilangan relevansi dan tidak dipraktikan terutama di kota metropolitan seperti Jakarta. Dengan menganalisis unsur permainan tradisional yang populer sebagai dasar untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat, serta melihat perkembangan teknologi hiburan modern sebagai katalis pengenalan program, muncul ide untuk menggabungkan unsur tradisional dan modern tersebut dalam proyek wisata hiburan. Teknologi Augmented Reality dimanfaatkan untuk memberi pengamalan baru dalam bermain permainan tradisional. Tapak terletak di daerah Kota Tua sebagai kawasan pariwisata terencana yang kondusif, didukung atmosfer kuno yang kuat dan potensi pariwisata serta fotografinya, untuk menarik pengunjung semua usia. Proyek ini juga berinteraksi dengan sekitarnya sebagai tempat yang nyaman dengan ruang terbuka untuk mempraktikan permainan tradisional secara langsung. Program didukung dengan galeri permainan tradisional, toko, workshop, dan ruang digital edukasi. Proyek ini diharapkan dapat memperkenalkan kembali permainan tradisional dan memenuhi tujuan pariwisata kota metropolitan yang sustainable.
PENERAPAN KONSEP BATIK SEBAGAI REKREASI DI PALMERAH Chyntia Permata Sari; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8557

Abstract

Batik Recreation Place in Palmerah is a project located in Palmerah District, West Jakarta. This project is motivated by the Palmerah neighborhood which is filled with offices, commercial shops, traditional markets, and housing. The density of Palmerah makes this area also filled with a variety of activities that make saturation for workers and residents of Palmerah. Along with the development of offices and the increasing economy of Palmerah, the population has increasingly left the existing Batik tradition where Palmerah was once one of the major batik-producing areas in Jakarta. Therefore, the Palmerah Batik Recreation exists as a place to unwind the workers and residents of Palmerah. To reach this goal, interviews and surveys were conducted to find out the activities carried out by workers and residents to fill their free time. These activities become a reference for analyzing the programs needed by workers and residents of Palmerah. As a third place, the project is a place that accommodates the activities of workers and residents of Palmerah. Through recreation, this place wants to revive the existing Batik traditions so that Batik can be better known by residents of Palmerah and the wider community.Keywords: Batik; Palmerah; Recreation Place AbstrakRekreasi Batik Palmerah merupakan suatu proyek yang berada di Kelurahan Palmerah, Jakarta Barat. Proyek ini dilatarbelakangi oleh lingkungan Palmerah yang dipadati dengan perkantoran, toko-toko komersial, pasar-pasar tradisional, dan perumahan penduduk. Padatnya Palmerah membuat daerah ini juga dipadati dengan beragam aktivitas yang membuat kejenuhan bagi pekerja dan penduduk Palmerah. Seiring perkembangan perkantoran dan meningkatnya ekonomi Palmerah, penduduk pun semakin meninggalkan tradisi Batik yang ada dimana dulunya Palmerah merupakan salah satu daerah penghasil Batik besar di Jakarta. Oleh karena itu, Rekreasi Batik Palmerah pun hadir sebagai tempat untuk melepas penat pekerja dan penduduk Palmerah. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan wawancara dan survei untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pekerja dan penduduk untuk mengisi waktu luang mereka. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi acuan untuk menganalisis progam yang di dibutuhkan oleh pekerja dan penduduk Palmerah. Sebagai tempat ketiga, proyek menjadi tempat yang menampung kegiatan dari pekerja dan penduduk Palmerah. Melalui sarana rekreasi, tempat ini ingin menghidupkan kembali tradisi Batik yang ada supaya Batik dapat lebih dikenal oleh penduduk Palmerah dan masyarakat luas.
MUSIUM INTERAKTIF SENI DAN DESAIN Melanie Regina; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4473

Abstract

Point of view for looking artworks is not passsive anymore. Techonolgy development changed the museum paradigm. Those contemporaneity give huge impact for designing museum. The biggest critic of the museum well known about historical which contain educative value in it, currently that’s changing are passive to active, closeness to openess. Pattern of human interaction consubstantiate one each other, that’s added with nature reformation which has been invented a artwork. Art is not just about visualization, it is about a point of view which reflects among human, object, and nature. Museum of interactive art and design reveals about a meaning of interaction, this museum is going to locate in urban which have a high density and high urbanization. Community is formed from similarities and differences perception about places. Interaction approach will be able to deliver a content of human perseptiveness. “Five Senses of Human” as tools in this museum. These tools will be lead the visitor to have awareness about artworks (that contain five senses of human”. Design equips with a lot of nature experiences, it is will be able to dissociate urban complexity and the design will be able to contemplate citizens from rushed activities. The design contain functions to boost urban productivity and provide positive environment to be 24-hours city. Museum of Interactive art and design presents sustainable environment, to provide the citizens to have awareness about nature and support productivity as a needs in the future. Abstrak Perilaku manusia melihat karya seni bukanlah menjadi hal yang pasif. Perkembangan teknologi mengubah paradigma sebuah objek (karya seni) dalam museum.  Kesejamanan tersebut memberikan dampak yang besar di dalam desain perancangan museum. Museum yang kita kenal sebagai bangunan yang penuh dengan nilai historikal dengan nilai edukatif didalamnya menjadi berubah, yang bersifat pasif menjadi aktif, yang tertutup menjadi terbuka. Pola interaksi manusia dan objek melebur satu sama lain ditambah dengan sebuah reformasi alam yang menjadi representasi dari terciptanya sebuah karya seni. Seni bukanlah soal karya yang terlihat, tetapi seni adalah sebuah pandangan yang tercermin antara manusia, obyek dan alam. Museum Interaktif seni dan desain bercerita tentang sebuah makna interaksi, desain ini terletak di konteks perkotaan yang sangat padat. Komunitas yang tercipta karna adanya sebuah kesamaan maupun perbedaan persepsi dengan pengalaman sebuah ruang. Pendekatan akan interaksi tersebut melahirkan sebuah konten yang mengarah kepada kepekaan manusia akan pancaindra. “Lima Pancaindra Manusia” menjadi sebuah alat dari museum interaktif seni dan desain ini. Konten yang akan menggiring pengunjung untuk lebih peka terhadap karya seni yang sangat erat dengan pancaindra. Desain perancangan dilengkapi dengan pengalaman-pengalaman akan representasi alam, menghilangkan sebuah kepenatan dari hiruk pikuk kota dan menjadi tempat untuk manusia berkontemplasi dari kesibukan perkotaan. Desain dilengkapi dengan fungsi yang menunjang produktifitas kota dan menghadirkan lingkungan yang positif untuk menjadikan kota yang hidup selama 24 jam.  Museum interaktif seni dan desain hadir untuk lingkungan yang berkelanjutan, mewadahi masyarakatnya untuk semakin peka akan sebuah lingkungan dan menunjang produktifitas yang menjadi sebuah kebutuhan di masa yang akan datang.
HOME FOR ELDERLY PEOPLE – FASILITAS KESEHATAN DAN REKREASI LANSIA DI PULOGEBANG Charlotte Sacharissa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10856

Abstract

We, basically, as an individual, human beings cannot live in silence, but must travel or wander to get learning about life and the essence of dwelling. However, when humans enter old age, not all things can be done as freely as when they were young, and it causes some elderly individuals to become frustrated with their physical condition which leads to frustration and results in health and psychological problems. Home for Elderly People is a healthcare and recreation facility for the elderly in Pulogebang, where Pulogebang is an area where the largest number of elderly individuals are in East Jakarta and also the existence of middle to lower economic conditions that cause the health of an elderly person to be neglected. Home for Elderly People comes with three main activities, namely, treatment areas, productive areas, and healing areas with ramps, gardens, and age-friendly methods as the main concept in this project. With this project, it is hoped that it can help the elderly to become healthier and more active individuals in the future. Keywords:  age-friendly; dwelling; elderly; healthcare; recreation Abstrak Kita pada dasarnya sebagai individu manusia tidak dapat hidup hanya dengan berdiam diri, melainkan harus berpetualang atau berkelana untuk mendapatkan pembelajaran mengenai hidup dan esensi berhuni. Namun ketika manusia memasuki usia tua, tidak semua hal dapat dilakukan dengan bebas sebagaimana ketika berusia muda dan mengakibatkan beberapa individu tua menjadi frustasi akan kondisi fisik mereka yang berujung frustasi dan mengakibatkan gangguan kesehatan dan psikologis. Home for Elderly People merupakan fasilitas kesehatan dan rekreasi bagi lansia di kelurahan Pulogebang, dimana Pulogebang merupakan kawasan yang terdapat keberadaan individu lansia dengan jumlah terbanyak di Jakarta Timur dan juga keberadaan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang menyebabkan kesehatan seorang lansia tidak begitu diperhatikan. Home for Elderly People hadir dengan tiga aktivitas utama yaitu, treatment area, productive area, dan healing area dengan ramp, taman, dan metode ramah usia sebagai konsep utama dalam proyek ini. Dengan kehadiran proyek ini diharapkan dapat membantu lansia untuk menjadi individu yang lebih sehat dan aktif di masa depan.
GOR GROGOL SEBAGAI RUANG KETIGA KOTA Gianto Purnomo; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6923

Abstract

Grogol sports center is a public facility provided by the government as a form of support for the government's concern for public health and as a place to score achievements in the field of sports. over time the GOR has unwittingly begun to be forgotten because of the declining function of the building. To revive the function of the Grogol multi sports center especially it can be utilized by the surrounding population there needs to be a new thought or concept. This sports center can be a place of social interaction for the surrounding population in addition to exercising this thought is based on the Grogol environment which is dominated by working-age population, college students and student groups. The need for open public spaces as a place of interaction for the community as well as attractive sports venues will be an attraction and a form of a new and healthy lifestyle for residents around the Grogol village. AbstrakGelanggang olahraga grogol merupakan fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah sebagai bentuk dukungan terhadap kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat dan sebagai tempat untuk mencetak prestasi di bidang olahraga. seiring berlalunya waktu tanpa disadari GOR sudah mulai dilupakan karena fungsi gedung yang sudah menurun. Untuk menghidupkan kembali fungsi GOR terutama dapat dimanfaatkan oleh penduduk disekitarnya perlu ada pemikiran atau konsep baru. GOR ini dapat dijadikan tempat interaksi sosial bagi penduduk disekitarnya selain untuk berolahraga pemikiran ini didasari dari lingkungan grogol yang didominasi oleh penduduk usia kerja, mahasiswa mahasiswi maupun golongan pelajar. Kebutuhan ruang publik yang  terbuka sebagai wadah berinteraksi bagi masyarakat serta tempat olahraga yang menarik akan menjadi daya tarik dan bentuk gaya hidup yang baru dan sehat bagi penduduk disekitar kelurahan Grogol.

Page 27 of 134 | Total Record : 1332