cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
BALAI PELAYANAN WARGA David Pratama; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8616

Abstract

As a capital city with high population density, Jakarta is home to people of heterogenous backgrounds. This drives numerous conflicts between the government and the citizens. The author recognises the potential of community service centres in Jakarta to be a channel in improving the relationship between local government and the local residents. Community service centres could be developed into a familiar and well-loved space, if designed with principles of transparency and flexibility according to the Third Place theories. Third Place can be defined as a space where local residents are able to carry out activities comfortably as they would at home.  This project, Balaga, is a project that reimagined the design of community service centre in Sunter Jaya with a Third Place concept approach. The aim of this project is to foster a collaboration between the government and the residents to further develop their local area. Programs that are implemented in this community centre shall adapt to the advancing  technology and will be adjusted to suit the needs of users. The Balaga project which is located across West Sunter Lake naturally presents the lake itself and the local dynamic as the project’s cornerstone. With functions such as city hall, service centre and educational facilities, Balaga serves as a local meeting point as well as a place to accomodate the activities of the local residents.   Keywords:  Balaga; Community centre; Public; Sunter Jaya; Third place AbstrakDKI Jakarta sebagai ibukota dihuni oleh beragam macam masyarakat dari latar belakang yang heterogen. Heterogenitas ini membuat pemerintah DKI sebagai penyelenggara pemerintahan daerah sering tidak sejalan dengan masyarakatnya. Penulis melihat kantor kelurahan di DKI Jakarta memiliki potensi sebagai saluran agar pemerintah dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan masyarakatnya. Kantor kelurahan dapat menjadi wadah yang dicintai dan dekat dengan publik, bila di rancang dengan asas-asas keterbukaan dan fleksibilitas sesuai dengan teori Third Place. Third Place adalah tempat dimana masyarakat dapat beraktivitas bersama secara bebas dan nyaman seperti di rumah.  Proyek Balaga adalah proyek re-design kantor kelurahan Sunter Jaya dengan pendekatan teori Third Place dalam perancangannya. Tujuan dari proyek ini adalah mendorong masyarakat dan pemerintah agar dapat saling berkolaborasi dalam memajukan daerahnya. Program awal kantor kelurahan dikembangkan dengan mengikuti kemajuan teknologi, serta program-program penunjang akan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di kelurahan Sunter Jaya. Proyek Balaga yang terletak di sebrang Danau Sunter Barat menjadikan pendekatan proyek ini mengacu pada danau terserbut, Serta kondisi masyarakat sekitar. Dengan adanya balai warga, pusat pelayanan dan fasilitas edukasi, Balaga menjadi meeting point di Danau Sunter Barat serta mengakomodasi masyarakat yang ingin beraktivitas.
PERHENTIAN KULINER JUANDA Natasha Natasha; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8485

Abstract

Kebon Kelapa sub-district is located in Gambir, Central Jakarta. It is a capital region dominated by offices and commercial buildings. The people there are working as employees and many residents also open small culinary businesses to support surrounding activities. Juanda Station is a catalyst for mobility between the first place and the second place in that area. The location of the site that extends directly facing the station towards neighborhood allow to collect the flow of commuters and provide an opportunity for more exposure to the culinary businesses by the local community of Kebon Kelapa. The chance for a third place as a neutral transit space to gather people in the area. It becomes a meeting point between local community and the station commuters. Through Narrative Architecture (Tshchumi, 1994), Juanda Food Station promote food ingredients and the cycles from production, distribution, cooking process, consumption, and decomposition as unifying activities for the local community and commuter workers passing by every day. The project is also equipped with supporting facilities such as transit hub and playground as bridges between the characters of visitors, allowing permeability from both sides of the site. When the city experiences a process where space and time run independently, humans are no longer experience space due to the demands of high mobility. Cities become merely a place of survival (Armand, 2017). By presenting new space experiences through food as daily primary needs connecting local potential with newcomers, Juanda Food Station becomes an urban kitchen and dining in the middle of the city rush. Keywords:  commuters; food; local community; stationAbstrakKelurahan Kebon Kelapa berada di Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, yaitu kawasan jantung ibukota yang didominasi perkantoran dan komersial. Para warga selain bekerja sebagai karyawan juga banyak yang membuka usaha di bidang kuliner sebagai pendukung kegiatan sekitar. Stasiun Juanda menjadi katalis pergerakan antara tempat pertama dan tempat kedua pada kawasan tersebut. Letak tapak yang memanjang, langsung menghadap stasiun dan menembus ke permukiman dapat menangkap arus komuter dan miningkatkan exposure usaha kuliner warga Kebon Kelapa. Peluang tempat ketiga (third place) sebagai ruang singgah netral untuk berkumpulnya para subjek pada kawasan tersebut menjadi titik temu antara warga sekitar dengan komuter stasiun. Melalui metode Narrative Architecture (Tshchumi, 1994), Perhentian Kuliner Juanda mengangkat bahan makanan serta siklusnya mulai dari produksi, distribusi, pematangan, konsumsi, hingga penguraian menjadi kegiatan pemersatu dan berkumpulnya masyarakat sekitar dengan para pekerja komuter yang berlalu-lalang setiap harinya. Kemudian proyek juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti transit hub dan playground sebagai jembatan antar pengunjung, sehingga memungkinkan permeabilitas dari kedua sisi tapak. Di kala Kota Jakarta mengalami proses di mana ruang dan waktu berjalan sendiri-sendiri, manusia tidak lagi mengalami ruang akibat tuntutan mobilitas tinggi. Kota menjadi sekedar tempat bertahan hidup (Armand, 2017). Dengan menghadirkan pengalaman dan perasaan baru terhadap ruang melalui pangan sebagai kebutuhan primer sehari-hari menghubungkan potensi lokal dengan pendatang, Perhentian Kuliner Juanda menjadi dapur dan ruang makan kota di tengah kesibukan urban.
RENCANA PENATAAN AREA FASILITAS PENUNJANG YANG BERORIENTASI PADA AKTIVITAS BANDAR UDARA Rudi Suhardi; Parino Rahardjo; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4588

Abstract

Soekarno-Hatta Airport is one of the Indonesian International airport located in the city of Tangerang with the top 20 busiest from 2010 to 2017 in the world, the area of facilities supporting the activities of Soekarno Hatta Airport which is set on Plan layout of Tangerang City area and plan Detail layout of urban area airport.The airport support area is an area that has facilities that directly and indirectly support airport activities, such as air aircraft workshop facilities, warehousing, sports, lodging, shops, restaurants, Golf courses, green open spaces, parking, leisure, and offices.But the Area that has been designated as a supporting facility does not work properly and maximally, so it needs to be rearranged to function properly.The authors use 5 methods of analysis, namely policy analysis, best practice, Location & site, market, and the need for space to produce a proposal to plan the arrangement of area facilities supporting Soekarno Hatta Airport with an Airport Oriented approach Activities.AbstrakBandara Soekarno Hatta adalah salah satu Bandara International Indonesia yang terletak di Kota Tangerang dengan peringkat 20 besar tersibuk sejak tahun 2010 hingga 2017 di dunia, area fasilitas penunjang aktivitas Bandara Soekarno Hatta yang ditetapkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang dan Rencana Detail Tata Ruang Bagian Wilayah Perkotaan Bandara. Area fasilitas penunjang bandar udara adalah area yang memiliki fasilitas-fasilitas yang secara langsung dan tidak langsung menunjang kegiatan bandar udara, seperti fasilitas perbengkelan pesawat udara, pergudangan, olah raga, penginapan, toko, restoran, lapangan golf, ruang terbuka hijau, perparkiran, rekreasi, dan perkantoran. Namun Area yang telah ditetapkan sebagai fasilitas penunjang tidak berfungsi dengan seharusnya dan maksimal, sehingga perlu dilakukan penataan kembali agar bisa berfungsi dengan semestinya. Penulis menggunakan 5 metode analisis, yaitu analisis kebijakan, best practice, lokasi & tapak, pasar, dan kebutuhan ruang untuk menghasilkan usulan rencana penataan area fasilitas penunjang Bandara Soekarno Hatta dengan pendekatan Airport Oriented Activities.
KAJIAN PERANCANGAN ARENA OLAHRAGA ELEKTRONIK Thea Amelia; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4502

Abstract

Developing sports is characterized by the emergence of new sports, one of them is esports which also developing every year. The competition has been held at the 2018 Asian Games, however the venue has not been used specifically for esports. Therefore, the design of the esports arena is the answer and also the typical building that is present and marks the millennial generation of its time. Literature studies were conducted on millennial generation, behaviour of millennial, millennial era, building types and esports to find out more about the design of the esports arena. The methods used are data collection method, primary and secondary, quantitative and qualitative descriptive method, interaction method, comparative method, analytical and synthesis method, graphical method, experimental method conducted with theoritical studies, matrix studies, space studies, space characteristics studies, precedent studies, site studies and surveys, and mass compositions studies. The study resulted program area and capacity, site design, concepts, forms of mass composition, and schematic spatial principles (floor plan). Based on the methods and studies conducted, the conclusion is esports arena designed, in accordance with the theme "Dear Millennials, Dialogue between Type and Behavior" and programs in the form of esports arena, esports training rooms, plaza and cafeteria are programs that address spatial relationships between building types, millennial behavior and millenial era, as well as the design and concept of a centralized form, contrast, the existence of a plaza as a central space, technology space experience, and adaptive to the cyber theme responds to the influence of millennial behaviors and challenges. AbstrakOlahraga berkembang ditandai dengan munculnya cabang olahraga baru, salah satunya ialah esports yang juga sedang mengalami perkembangan tiap tahunnya. Kompetisinya pernah diselenggarakan pada Asian Games 2018, namun tempat penyelenggaraannya belum difungsikan secara khusus untuk esports. Oleh karena itu, perancangan esports arena menjadi jawaban dan merupakan bangunan khas milenial yang hadir dan menandai adanya generasi milenial pada zamannya. Kajian literatur dilakukan mengenai generasi milenial, perilaku milenial, nilai kesejamanan (milenial), tipe bangunan, dan esports untuk mengetahui lebih dalam mengenai perancangan esports arena. Metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data, primer maupun sekunder, metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif, metode interaksi, metode komparatif, metode analisis dan sintesis, metode grafis, dan metode eksperimental yang dilakukan dengan studi kajian teori, studi matriks, studi ruang gerak, studi karakteristik ruang, studi preseden, studi dan survei tapak, dan studi gubahan massa. Studi tersebut menghasilkan luasan program dan kapasitasnya, rancangan tapak, konsep, bentuk gubahan massa, dan prinsip skematik keruangan (denah). Berdasarkan metode dan studi yang dilakukan, kesimpulannya ialah Esports Arena yang dirancang di Petojo Selatan, Jakarta Pusat, sesuai dengan tema “Dear Millennials, Dialogue Between Type and Behavior” dan program berupa esports arena, ruang latihan esports, plaza dan cafetaria merupakan program yang menjawab hubungan keruangan antara tipe bangunan, perilaku dan kesejamanan milenial, serta perancangan dan konsep bentuk yang memusat, kontras, adanya plaza sebagai ruang tengah, pengalaman ruang penuh teknologi dan menyesuaikan dengan tema cyber menjawab pengaruh dari perilaku dan tantangan kesejamanan milenial.
STRATEGI BRANDING DESTINASI WISATA PANTAI TANJUNG KELAYANG (OBJEK STUDI: PANTAI TANJUNG KELAYANG, KABUPATEN BELITUNG, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG) Valencia Valencia; Priyendiswara Agustina Bela; Bambang Deliyanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8868

Abstract

Belitung Island is aggressively pushing the tourism sector as a main sector. One of the attractions that many tourists are starting to see in Belitung is Tanjung Kelayang Beach. This beach has become a mass tourism attraction that is routinely visited in Belitung. Tanjung Kelayang Beach is not only known for its clean coastal scenery and clear waters but also as a starting point for island hopping activities. Now, Tanjung Kelayang Beach has to compete with other tourist destinations that have a stronger image and have been known by tourists for a long time. Tanjung Kelayang Beach has great potential to become a beach with a better known brand but there are still limited aspects of tourism support that is still lacking and promotion efforts that have not been effective. This study aims to provide a proposed strategy that refers to the components of destination branding to strengthen the image of the destination and build the competitive side of the tourist destination. The study was conducted using qualitative and quantitative approaches with descriptive analysis methods. The results of the study produced a proposed strategy to strengthen branding from various aspects, namely landscape, infrastructure, stakeholders and city behaviour such as the addition of diversity of new tourist attractions and tourist facilities, increasing the role of community and community participation and service quality as well as proposing promotional efforts in the form of selecting promotional media and types of tourism products. Keywords:  Branding; Strategy; Tourism DestinationAbstrakPulau Belitung sedang gencar mendorong sektor pariwisata sebagai sektor andalan. Salah satu objek wisata yang mulai banyak dilirik wisatawan di Belitung adalah Pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini telah menjadi objek wisata mass tourism yang rutin dikunjungi di Belitung. Pantai Tanjung Kelayang tak hanya dikenal akan pemandangan pantai bersih dan perairan jernihnya saja namun juga sebagai titik start penyeberangan untuk melakukan kegiatan tur pulau. Kini Pantai Tanjung Kelayang harus bersaing dengan destinasi wisata lainnya yang telah memiliki citra yang lebih kuat dan telah dikenal wisatawan sejak lama. Pantai Tanjung Kelayang memiliki potensi yang besar untuk menjadi pantai dengan brand yang lebih dikenal namun masih terdapat keterbatasan aspek penunjang wisata yang masih kurang serta upaya promosi yang belum efektif. Studi ini bertujuan untuk memberikan usulan strategi yang mengacu pada komponen-komponen destination branding untuk memperkuat citra destinasi dan membangun sisi kompetitif destinasi wisata. Studi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif. Hasil studi menghasilkan usulan strategi penguatan branding dari berbagai aspek yaitu lansekap, infrastruktur, stakeholder dan sikap kota seperti penambahan keragaman atraksi wisata baru dan fasilitas wisata, peningkatan peran partisipasi komunitas dan masyarakat dan kualitas pelayanan serta upaya promosi berupa pemilihan media promosi dan jenis produk wisata yang akan dipromosikan.
KAMPUNG KULINER SEHAT DI KEMANG Ferdian Ferdian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6773

Abstract

Unhealthy lifestyles, and the tendency of consumption of unhealthy foods/ junk food are the main causes of obesity. Third Place is the main theme of this research discussion. The issue discussed in this study is "How can a third place support a healthy lifestyle?" The location of the project is on Jl. Kemang raya, South Jakarta which is known for culinary. The site is located near offices, banks, fast food restaurants and furniture stores. The main purpose of this project is to become a place that facilitates the community to living  a healthy lifestyle through healthy food. This project supports the Sustainable Development Goals program regarding good health and well-being. The research method used in this study started by finding facilities / programs aimed at solving problems in an area. Then proceed with the process of designing a facility that will produce an amount scale of space in this project.  The results of this research is designing a building in the form of a “Healthy Culinary Village in Kemang / Healthy Culinary Village in Kemang”. This project have 5 main program in the form of Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym which aims to improve healthy lifestyles and reduce the level of obesity through culinary / healthy food. This project contributing to the environment by providing a Third place as a place to socialize for the community in the project area. Abstrak Pola hidup kurang sehat, serta kecenderungan konsumsi makanan yang tidak sehat/ junk food menjadi penyebab utama terjadinya obesitas. Third Place merupakan tema utama dari bahasan penelitian ini. Maka isu yang dibahas pada penelitian ini yaitu “Bagaimana sebuah Third place dapat mendukung pola hidup sehat?”. Lokasi proyek berada di Jl.Kemang raya, Jakarta Selatan yang merupakan kawasan yang terkenal akan kuliner. Lokasi tapak berada didekat perkantoran, bank, restoran cepat saji, dan toko furniture.Tujuan utama dari proyek ini yaitu menjadi sebuah tempat yang memfasilitasi masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat melalui makanan sehat. Hal ini juga bertujuan mendukung program Sustainable Development Goals perihal kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan menemukan fasilitas/ program yang bertujuan menyelesaikan masalah dari sebuah kawasan. Kemudian dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran ruang dalam proyek ini. Hasil penelitian ini yaitu mendesain bangunan berupa Kampung Kuliner Sehat di Kemang/ Healthy Culinary Village in Kemang. Proyek ini memiliki program utama berupa Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym yang bertujuan meningkatkan pola hidup sehat dan mengurangi tingkat obesitas melalui kuliner/ makanan sehat. Memberi kontribusi kepada lingkungan dengan menyediakan Third place sebagai wadah untuk bersosialisasi bagi masyarakat di kawasan proyek tersebut.
RUANG REKREASI WISATA DAN BUDAYA DI PASAR LAMA Vellicia Gunawan; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10736

Abstract

Moving and stopping are the basic activities for human, the base concept of movement and living for human. When we stop, we do what is called dwelling. The hearth was the birthplace of dwelling, where human gathered for the first time and exchanged stories, interacting with each other. From the hearth then the community was borned of which it kept changing through the age until now. The form always changes, but the essence of dwelling remains the same. The Pasar Lama district is a hearth for the citizens of Kota Tangerang, the heart of a city where it is the crossing point for people to interact socially. With time, a location rich with cultural heritage will slowly lose its existence if not preserved and taken into consideration for future development. This project intends to reenergize the Pasar Lama district by bringing forth a new space for people to interact. Located in one of the most important junctions in Kota Tangerang, this project hopes to return the essence of dwelling in Pasar Lama by creating a space catering to the extension of the culinary destination and the existing market, as well as holding the annual festival being hold in the area. The project utilizes the dragon dance which is an integral local culture for the Chinese etnicity in Tangerang as a red-string to dwelling of Pasar lama, the proyek aims to be a new landmark for the citizen of Kota Tangerang that can lift the image of dwelling in Pasar Lama. Keywords:  architecture; dragon dance; hearth; heritageAbstrakBerjalan dan berhenti merupakan aktivitas dasar bagi manusia, sebuah konsep dasar dari bergerak dan hidup bagi manusia. Ketika berhenti, manusia melakukan apa yang disebut dengan berhuni. Tungku perapian merupakan tempat lahir berhuni, dimana manusia pertama kali berkumpul dan saling bertukar cerita, berinteraksi antar satu sama lain. Dari tungku perapian lahir komunitas yang terus berkembang hingga sekarang. Bentuknya terus berubah, tetapi esensi berhuni di tengah perapian tetap sama. Kawasan Pasar Lama merupakan sebuah tungku perapian bagi masyarakat Kota Tangerang, sebuah jantung kota dimana menjadi titik temu bagi masyarakat untuk berinteraksi sosial. Seiring dengan waktu, sebuah lokasi dengan beragam cagar budaya akan terkikis oleh waktu bila tidak dipertahankan dan dikembangkan untuk kemudian hari. Proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan Pasar Lama dengan menghadirkan sebuah ruang baru bagi masyarakat untuk bersosialisasi. Berlokasi tepat di salah satu simpul terpenting Kota Tangerang, proyek ini berharap untuk mengembalikan esensi berhuni di Pasar Lama dengan mewadahi ekstensi dari wisata kuliner serta kegiatan pasar yang sudah ada, serta mewadahi kegiatan festival yang kerap diselenggarakan di kawasan. Desain proyek mengangkat tarian liong yang merupakan sebuah bentuk kebudayaan lokal yang erat kaitannya dengan etnis Tionghoa di Tangerang sebagai benang merah dari berhuni di Pasar Lama, proyek berperan sebagai sebuah landmark baru bagi masyarakat Kota Tangerang yang dapat mengangkat citra berhuni di Pasar Lama. 
DESAIN MODUL PERTANIAN VERTIKAL KOTA UNTUK PROYEK EDU AGROWISATA Indi Andani; Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3998

Abstract

Sebuah pertanian vertikal mempunyai berbagai macam kebutuhan, salah satunya adalah rak tanaman yang akan diterapkan di dalamnya. Tentu sebuah rak tanaman juga memiliki ukuran yang berbeda – beda tergantung dengan jenisnya. Jika kebutuhan luas ruang rak dan modul bangunan tidak direncanakan terlebih dahulu, maka desain bangunan akan menjadi berantakan. Oleh karena itu, desain modul pertanian vertikal untuk edu agrowisata itu penting. Hal tersebut diawali dengan melakukan analisis jenis tanaman yang akan tanam, lalu menganalisis jenis hidroponik yang cocok digunakan untuk tanaman tersebut, setelah itu mencari tahu rak tanaman apa yang paling efisien untuk digunakan. Rak – rak tanaman tersebut mempunyai ukuran lebar, panjang dan tinggi yang berbeda – beda. Maka dari itu, perlu adanya analisis mengenai besaran rak yang akan diterapkan di dalam bangunan untuk mencapai luasan yang efektif. Setelah mengetahui besaran rak dan kebutuhan – kebutuhannya, terbentuklah luasan desain modul yang diperlukan dalam bangunan pertanian vertikal untuk edu agrowsiata.
WADAH KOMUNITAS EDUTANI DI RAWA BUNGA Pinky Hemnani; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8528

Abstract

According to Rey Oldenburg in the book The Great Good Place (1997) regardless of the first place (residence / house) and second place (place of work), humans need a third place as a space to meet those needs. This need is increasing in line when the social life of the community develops from complex to multi-complex. Meanwhile, Jakarta, which is characterized by metropolitan cities in Indonesia, makes its population have a fast and instant lifestyle. The comprehension of the importance of healthy eating is one of the things that is forgotten. Unhealthy eating patterns cause urban problems with higher mortality rates at 45-50 years old. Therefore, this study aims to produce the concept of designing a third place which, in addition to being a forum for interaction, and education about healthy eating can also improve the economy through strengthening communities in urban agriculture for people in Rawa Bunga and surrounding areas. The design of the third place project uses the disprogramming method of Bernard Tchumi, by combining two different program configurations, namely: edutani program as part of a community program with a commercial program. This disprogramming method then becomes the foundation in composing time compositions, which results in building designs that can meet the characteristics of third place and open architecture; namely; playful, conversation, neutral, leveler, accessibility and accommodation, a low profile and regulars. Keywords:  agriculture education; healthy eating; third placeAbstrakMenurut Rey Oldenburg dalam buku The Great Good Place (1997) terlepas dari first place (tempat tinggal/rumah) dan second place (tempat bekerja), manusia memerlukan third place (tempat ketiga) sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan ini meningkat sejalan dengan kehidupan sosial masyarakat berkembangan dari kompleks menjadi multi kompleks. Sementara itu, Jakarta yang bercirikan kota metropolitan di Indonesia membuat penduduknya memiliki gaya hidup yang serba cepat dan instan. Pemahaman masyarakat akan pentingnya pola makan sehat menjadi salah satu hal yang terlupakan. Pola makan yang tidak sehat menimbulkan permasalahan perkotaan dengan tingkat kematian yang semakin tahun semakin tinggi pada usia 45-50 tahun. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menghasilkan konsep perancangan sebuah third place yang selain dapat menjadi wadah interaksi, dan edukasi tentang pola makan sehat juga dapat meningkatkan perekonomian melalui penguatan komunitas dalam pertanian perkotaan bagi masyarakat di kelurahan Rawa Bunga dan sekitarnya. Perancangan proyek third place ini menggunakan metode disprogramming dari Bernard Tchumi, dengan menggabungkan dua konfigurasi program yang berbeda yaitu: program edutani sebagai bagian dari program komunitas dengan program komersial. Metode disprogramming ini kemudian menjadi landasan dalam menyusun gubahan masa, yang menghasilkan rancangan bangunan yang dapat memenuhi karakter-karakter third place dan open architecture; yaitu playful, conversation, neutral, leveler, accessibility and accommodation, a low profile and regulars.
PENGEMBANGAN WATERFRONT RESORT DI TRANQUIL TANJUNG AAN DI K.E.K MANDALIKA Gatot Yoda Kusumah; Liong Ju Tjung; Priyendiswara A.B. Priyendiswara
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4596

Abstract

Indonesian tourism is an important sector in increasing state revenues. The tourism sector ranks third in terms of foreign exchange earnings. in 2014 The government established tourism as the leading sector in improving the economy to encourage regional development and employment. With the law of the Republic of Indonesia number 39 of 2009 concerning Special Economic Zones, hereinafter referred to as K.E.K is a region with a certain boundary with the jurisdiction of the Unitary State of the Republic of Indonesia which is determined to carry out economic functions and obtain certain facilities. Kab. Central Lombok is one of the places where there is a K.E, namely K.E.K Mandalika. In order to increase the income of the Lombok region where the development of K.E.K Mandalika is 1,175 ha and the author takes 21 ha of land at K.E.K Mandalika to develop a Resort with a waterfront concept in order to increase Lombok tourism. Based on background problems, the main underlyinh problem is the lack of supporting facilities to support activities in the Mandalika Special Economic Zone, therefore the need for accommodation in the Mandalika Special Economic Zone.Abstrak Pariwisata Indonesia menjadi sektor yang penting dalam peningkatan pendapatan Negara. Sektor pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa. Pemerintah pada tahun 2014 menetapkan pariwisata sebagai leading sektor dalam peningkatan perekonomian untuk mendorong pembangunan daerah dan lapangan pekerjaan. Dengan adanya undang-undang Republik Indonesia nomor 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus, yang selanjutnya disebut K.E.K (kawasan ekonomi khusus), adalah Kawasan dengan batas tertentu dengan wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. Kab. Lombok Tengah merupakan salah satu tempat dimana terdapat K.E.K yakni adalah K.E.K Mandalika. Guna dapat meningkatkan pendapatan daerah lombok dimana Pengembangan K.E.K Mandalika seluas 1.175 ha dan Penulis mengambil 21 ha lahan di K.E.K Mandalika untuk dikembangkan Resort dengan konsep waterfront guna dapat meningkatkan pariwisata lombok. Berdasarkan permasalahan latar belakang, permasalahan utama yang mendasar adalah belum adanya fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.

Page 32 of 134 | Total Record : 1332