cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENATAAN KAWASAN PARIWISATA AIR TERJUN HUMOGO Ivo Era-Era Zalukhu; Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7285

Abstract

The Humogo Waterfall Tourism Area is one of the waterfall tours located on Nias Island, Fadoro Village, Gunungsitoli Idanoi Subdistrict, Gunungsitoli City, North Sumatra Province. The plan for structuring the Humogo Waterfall Tourism Area is planned based on the Regional Work Plan of the Gunungsitoli City Tourism and Culture Office in 2018, where the arrangement is aimed at adding facilities and infrastructure to support tourism in the Humogo Waterfall Tourism Area and the preparation of the Humogo Waterfall Tourism Area Master Plan, Gunungsitoli city. The Humogo Waterfall area is located in Fadoro Village with an area of 15.5 ha with most of the area still dominated by forests and plantations. The Humogo Waterfall Tourism Area is one of the leading tourist destinations in Gunungsitoli City, which was only opened to the public at the end of 2018. This waterfall has a distinctive characteristic of a multilevel waterfall so it is very interesting to be explored by tourists and has very natural conditions that are still very natural surrounded by trees such as coconut trees, rubber trees and so on. However, this tourism area still has shortcomings in the form of supporting tourism facilities and infrastructure so it is necessary to propose facilities and infrastructure in order to increase the tourist attraction of Humogo Waterfall. The analysis carried out is a policy analysis, site and site analysis, best practice analysis, tourist attraction analysis, perceptions and preferences analysis and analysis of spatial requirements so as to produce proposals and the Humogo Waterfall Tourism Area Planning Plan which is laid out with the concept of ecotourism Keywords: ecotourism; nature tourism; tourist zoning; waterfall tourism region AbstrakKawasan Pariwisata Air Terjun Humogo merupakan salah salah satu wisata air terjun yang terletak di Pulau Nias, tepatnya di Desa Fadoro, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Provinsi Sumatera Utara. Rencana penataan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo direncanakan berdasarkan Rencana Kerja Perangkat Daerah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Gunungsitoli Tahun 2018, dimana penataan yang dilakukan bertujuan untuk menambah fasilitas dan prasarana yang mendukung pariwisata di Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo dan penyusunan Masterplan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo, Kota Gunungsitoli. Kawasan Air Terjun Humogo terletak di Desa Fadoro dengan luas 15,5 ha dengan sebagian besar kawasan masih didominasi oleh hutan dan perkebunan. Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Gunungsitoli yang baru dibuka untuk umum pada akhir tahun 2018. Air terjun ini memiliki ciri khas yaitu air terjun yang bertingkat sehingga sangat menarik untuk dijelajahi oleh wisatawan serta memiliki kondisi alam yang masih sangat alami yang dikelilingi oleh pepohonan seperti pohon kelapa, pohon karet dan lain sebagainya. Namun area wisata ini masih memiliki kekurangan berupa sarana dan prasarana penunjang wisata sehingga diperlukan usulan fasilitas dan prasarana agar dapat meningkatkan daya tarik wisata Air Terjun Humogo. Analisis yang dilakukan adalah analisis kebijakan, analisis lokasi dan tapak, analisis best practice, analisis daya tarik wisata, analisis persepsi dan preferensi serta analisis kebutuhan ruang sehingga menghasilkan usulan dan Rencana Penataan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo yang ditata dengan konsep ekowisata.
LOKA LOAK KEBAYORAN LAMA Rinardy Tanuwijaya; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8530

Abstract

The existence of transit hubs is a prominent feature of urban life that hold human movement and interaction, which raises the growth of new places for communities, and a third place that was formed naturally. Kebayoran Lama Utara, which located close to a train station, is not spared by this phenomenon. The place becomes unique by flea markets that sprawls among the hub, forming an image for the site, which unfortunately placed where it should not be. It becomes an irony, where a distinctive feature of a place is so potential to be developed, but also becomes the ‘parasite’ of the area itself. Especially with the fact that the site is located in the negative point of the city, but with a lot of human activities. Loka Loak Kebayoran Lama, with urban retrofitting method, aims to develop the area, both within the site, as well as the surrounding and the communities in one system, to fulfill the functions both socially and economically, but also environmentally sustainable. The project also inspired and maximized the surrounding situation, with the use of an abandoned shophouse as a base structure, and the approaches to the urban patterns. Project is designed to be context to the surroundings, but also dynamic. So, the existence of the project doesn’t become the ‘alien’ of the area, but the catalyst, and improves the image of the region. Activities on the project are maximized to be enjoyed by four main groups which are; the merchants, vendees, the locals, and the commuters. Commercial area to gather the buying and selling activities, combined with the education and entertainment programs, which also linked to the supporting functions for the transit activities. These programs make the project can be a place with diverse activities, and also a new public space at a negative point in an active urban area. Keywords: flea market; loka-loak Kebayoran Lama;  third place; transit hub; urban retrofitting  AbstrakKeberadaan suatu pusat transit sebagai tempat perpindahan memunculkan titik-titik baru berkumpulnya masyarakat, yang secara tidak langsung dan spontan menjadi third place baru. Kebayoran Lama Utara, yang terletak erat dengan stasiun kereta api tidak luput oleh fenomena tersebut. Tempat penjualan barang loak yang unik dan membentuk citra menjadi marak di sekitar tapak, yang sayangnya tidak di tempat yang seharusnya. Sehingga ironi, dimana sebuah potensi yang dapat mengembangkan, menjadi sesuatu yang tidak seharusnya. Terlebih tapak merupakan titik negatif yang kurang efektif, namun ramai oleh aktivitas masyarakat. Loka Loak Kebayoran Lama, dengan metode urban retrofitting, bertujuan untuk mengembangkan area tersebut, baik di dalam tapak, lingkungan sekitar, serta masyarakatnya dalam satu sistem memenuhi fungsi baik sosial, ekonomi, maupun lingkungan berkelanjutan. Proyek terinspirasi dan memaksimalkan situasi sekitar, dengan pemanfaatan struktur ruko terbengkalai, serta pendekatan urban pattern sekitar. Bentukan konteks dan teratur, namun dinamis. Sehingga keberadaan proyek dapat menjadi katalis, serta meningkatkan citra kawasan. Kegiatan dimaksimalkan untuk empat kelompok utama yaitu; pedagang, pembeli, warga, dan komuter. Kesimpulan perancangan, adalah Loka Loak Kebayoran Lama, dengan area pasar loak sebagai titik kegiatan jual beli, berpadu dengan fungsi edukasi serta entertainment, yang bertautan dengan fungsi pendukung kegiatan transit. Aktivitas tidak hanya sebatas jual beli, namun juga edukasi dan hiburan. Proyek dapat menjadi tempat kegiatan yang beragam, dan ruang publik baru di titik negatif dalam kawasan urban yang aktif.
KAJIAN HUNIAN FLEKSIBEL KOTA BAGI GENERASI MILLENNIAL Andrew Andrew
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4399

Abstract

Millenials, generation of people who was born between 1980 to 2000, age ranged from 20 to 39 years, are now preparing to fulfill one of the most important need in life: housing. Social and culture changes in millenials life style will affect millenials housing needs and type. It is known that millenials nowadays require a type of housing with high flexibility that can adjust well with their needs and wants rather than typical housing nowadays that is static and conventional. Changes in resident number and housing pricet can also affect unit changes This project will be using Flexible Architecture method which can provide flexible space to provide the millennials, whether in the flexibility of one modul unit (the flexibility of change in one modul unit by flexible furniture) or between modul units (the probability of expansion more than one modul unit by prefabricated flexible building envelope etc ) that can be adjusted  according to the catalog (according to residents basic needs and resident number). Hopefully flexible housing can fulfill millenials needs and budget when they search for housing to overcome the cause of over population and the ever-rising housing price, especially in Jabodetabek area. AbstrakGenerasi Millennial,  generasi kelahiran tahun 1980 hingga tahun 2000 saat ini telah memasuki usia 20-49 tahun, mulai memenuhi kebutuhan pokok yaitu hunian. Perubahan sosial dan budaya generasi Millennial dalam kegiatan berhuni diperkirakan akan mengubah kebutuhan dan tipe hunian yang dibutuhkan bagi generasi millennial  dari yang bersifat statis atau konvensional menuju ke arah yang lebih dinamis. Seperti diketahui generasi millennial saat ini membutuhkan ruang yang dapat berubah-ubah disesuaikan dnegan kebutuhan generasi millennial  yang berubah-ubah keinginannya. Selain itu perbuahan jumlah penghuni hunian, serta harga hunian yang terus meningkat juga dapat mempengaruhi perubahan unit. Metode flexible architecture digunakna dalam perancangan ini dengan tujuan agar menciptakan ruang yang dapat fleksibel baik, fleksibel dalam modul unit ( dapat dilakukan fleksibel dalam ruang 1 modul unit dibantu dengan furnitur fleksibel ) maupun antara modul unit ( kemungkinan ekspansi modul unit menjadi 2 modul unit maupun 3 modul unit dengan perubahan pembatas antar unit, dll ) yang disesuaikan dengan katalog yang disediakan ( sesuai dengan kebutuhan dasar penghuni dan jumlah penghuni ), sehinggga kebutuhan ruang generasi millennial dapat terpenuhi melalui rancangan hunian fleksibel. Selain itu kepadatan penduduk yang semakin tinggi khususnya di daerah Jabodetabek serta harga hunian yang semakin meningkat menjadi tantangan tersendiri sehingga hunian fleksibel diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menampung generasi millennial serta mendukung daya beli generasi millennial.
FASILITAS KEGIATAN INTERAKTIF WARGA SEMANAN Inez Tjahyana; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8553

Abstract

Semanan Interactive Space Facility is the third place created with a background to improve the characteristics and daily lives of citizens as an inspiration for this project program. The livelihoods of the majority of the population are uncertain, many do not even work, while the area has socioeconomic potential such as the Flora Fauna Center and Tempe Village, many factories with workers living around the Semanan area, with high levels of stress being one of the most important needs to be concerned about. The vision of this project is to improve the skills, abilities and creativity and productivity of citizens. The programs offered in this project are education, entertainment and interaction. The method used in writing is descriptive, explanatory and quantitative by utilizing primary and secondary data collection in the selected area. From the results of data collection and literature, an analysis is carried out which results in the design concept and third place project program. From the whole process, a third place that needed by the residents, is Semanan Interactive Space Facility. Keywords:  programs; Semanan; third place AbstrakFasilitas Kegiatan Interaktif Warga Semanan merupakan sebuah third place yang dibuat dengan latar belakang mengangkat karakteristik dan keseharian warga sebagai inspirasi dari program proyek ini. Mata pencaharian warga yang kebanyakan belum menentu, bahkan banyak yang tidak bekerja, padahal kawasan memiliki potensi sosial ekonomi sebagai kawasan Sentra Flora Fauna dan Perkampungan Tempe, banyaknya pabrik-pabrik dengan pekerja yang tinggal disekitar kawasan Semanan, dengan tingkat stress yang tinggi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Visi dari proyek  adalah  meningkatkan keterampilan, kemampuan dan kreatifitas serta produktifitas warga. Program yang ditawarkan didalam proyek adalah edukasi, entertainment dan interaksi. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah diskriptif, eksplanatoris dan kuantitatif dengan memanfaatkan pengumpulan data primer dan sekunder terhadap kawasan terpilih. Dari hasil pengumpulan data dan literatur dilakukan analisis yang menghasilkan konsep desain dan program dari proyek third place. Dari seluruh proses maka didapatkanlah wadah third place yang dibutuhkan oleh warga yaitu Fasilitas Kegiatan Interaktif Warga Semanan.
WADAH PERTUNJUKAN SENI DI BEKASI Vicosta Christy; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6737

Abstract

Bekasi is referred to commuter city. A commuter is someone who travels to a city to work and returns to his hometown every day, usually from a place that is quite far from where he works. There is nothing interesting to invite travelers to this city. The city is home to millions of residents who mostly work in the capital city of Jakarta. The reason is because Jakarta is already overcrowded and the price of a residential unit in Jakarta has escalated. Bekasi society has high mobility. They departed from morning and returned when it was dark. The house is only used as a rest. There is no cultural trend in Bekasi as well as a shared space for residents to communicate with each other and express interest in their talents. There needs to be a forum to embrace the polarity of the city with nature to coexist in order to produce a more attractive environment and accommodate the city of Bekasi as an educational recreation area, combining the value of sociability and relaxation. The third place becomes a role that can contribute to the overall lifestyle of the community. For this reason, people need to realize that the third space is an undisputable asset. The concept of this third space is quite unique for the process of developing a place, because the third space breaks through a generation with a much better deal than the characteristics of other places. This project uses the trans programming method for the program in the project and the building typology method which will analyze several aspects of the performing arts buildings from the past to the present. The main concept of this project prioritizes the flexibility of space so that it can be used for several different activities. AbstrakKota Bekasi sering disebut dengan kota komuter. Komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya. Tidak ada hal yang menarik untuk mengajak para pelancong ke kota ini. Kota ini adalah rumah bagi jutaan penduduk yang sebagian besar bekerja di ibukota Jakarta. Alasannya mudah, karena Jakarta sudah sesak dan harga satu unit tempat tinggal di Jakarta sudah meroket. Masyarakat Bekasi memiliki mobilitas yang tinggi. Mereka berangkat dari pagi dan kembali saat hari sudah gelap. Rumah hanya dijadikan untuk beristirahat saja. Tidak terdapat tren kebudayaan di Bekasi sekaligus ruang bersama untuk warga saling berkomunikasi dan menuangkan minat bakatnya. Perlu adanya sebuah wadah untuk merangkul polaritas kota dengan alam untuk hidup berdampingan supaya menghasilkan lingkungan yang lebih menarik dan mengakomodasi kota Bekasi menjadi tempat rekreasi edukatif, menggabungkan nilai sosiabilitas dan relaksasi. Ruang ketiga menjadi peran yang bisa berkontribusi dengan keseluruhan gaya hidup masyarakat. Untuk itu masyarakat perlu menyadari bahwa, ruang ketiga menjadi aset yang tidak dapat diperdebatkan. Konsep ruang ketiga ini cukup unik untuk proses perkembangan sebuah tempat, karena ruang ketiga menerobos sebuah generasi dengan kesepakatan yang jauh lebih baik daripada karakteristik tempat lain.  Proyek ini menggunakan metode trans programming untuk program di dalam proyek dan metode tipologi bangunan dimana akan menganalisa beberapa aspek pada bangunan - bangunan ruang pertunjukan dari terdahulu hingga kekinian. Konsep utama bangunan ini mengutamakan fleksibilitas ruang sehingga bisa digunakan untuk beberapa kegiatan yang berbeda.
PENERAPAN METODE DESAIN ARSITEKTUR BERDASARKAN PERILAKU PADA PROYEK RUMAH EDUKASI-BERMAIN ANAK DI PLUIT Elvia Valentine Sofyan; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10907

Abstract

Childhood is an important period in a human’s life because it is a time of rapid development and change. Therefore, early childhood education (ECE) facility is crucial in order to support children’s growth and development. Children Edu-Play House project is a vision for ECE facilities in the future. One of the methods that are applied in designing this facility is architecture based on behaviour method, especially behaviorology that focuses on children’s behaviour. This approach aims to create designs that suits the needs of children, so that the resulting design can encourage their development and growth. Through collecting data and observations of children’s behaviour through case studies, important points emerge. This points are applied in the forms of open and flexible spaces for exploration, easy access to green open spaces, spaces that suits the ergonomics of children, special corners that invoke children’s sense of place, the use of natural colours and curved spaces, and the use of soft materials and gardening to stimulate children’s sense of touch. With the designs that are implemented into the building, it is hoped that children’s development process can be conducted to its fullest inside this ECE project.    Keywords:  Earyl Childhood; Early Childhood Education (ECE); Architecture Based on Behaviour Abstrak Masa kanak-kanak merupakan masa yang penting dalam kehidupan seorang manusia karena masa ini merupakan masa terjadinya perkembangan dan perubahan secara pesat. Oleh karena itu, fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan hal yang krusial dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Proyek Rumah Edukasi-Bermain Anak merupakan sebuah visi akan fasilitas PAUD masa depan. Salah satu metode yang diterapkan untuk mendesain fasilitas ini adalah metode desain arsitektur berdasarkan perilaku, khususnya behaviorology yang befokus pada perilaku anak. Pendekatan perancangan ini bertujuan untuk menciptakan desain yang sesuai dengan kebutuhan sang anak, sehingga desain yang dihasilkan dapat mendorong perkembangan dan pertumbuhan mereka. Melalui pengumpulan data dan observasi perilaku anak melalui studi kasus, muncullah beberapa poin penting dalam proses bermain dan belajar anak. Poin-poin ini muncul dalam bentuk ruang yang terbuka dan fleksibel untuk eksplorasi, akses yang mudah menuju ruang terbuka hijau, ruang-ruang yang sesuai dengan ergonomi anak, sudut-sudut yang spesial untuk memberikan sebuah rasa kepemilikan akan ruang, penggunaan warna natural dan bentuk yang melengkung, serta penggunaan material yang lembut dan program berkebun untuk menstimulasi sentuhan anak. Melalui desain-desain yang diimplementasikan ke dalam bangunan, diharapkan proses perkembangan anak dapat berjalan secara maksimal pada proyek PAUD ini.
WADAH PENCAK SILAT DI JAKARTA Felicia Kawi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3811

Abstract

Dewasa ini banyak cabang olahraga yang sudah masuk dalam program-program pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga mempunyai wadah yang cukup untuk pengembangannya. Kebutuhan masyarakat akan sebuah sarana olahraga merupakan suatu kendala sosial yang dewasa ini banyak mendapat perhatian, khususnya bagi golongan masyarakat pecinta olahraga yang merasakan secara langsung kurangnya fasilitas-fasilitas olahraga tersebut. Perkembangan olahraga di indonesia dapat dikatakan sedang pada puncaknya, tetapi wadah yang menampung pelatihan pencak silat tidak seimbang dengan tingginya minat belajar masyarakat terhadap pencak silat. Maksud dari perancangan proyek ini adalah menyediakan sebuah wadah pertunjukan kesenian pencak silat maupun wadah aktivitas pelatihan olahraga pencak silat ; pelatihan berupa workshop ; dan pameran kebudayaan pencak silat. Menciptakan suatu cultural venue pencak silat yang dominan dengan unsur alam, konteks dengan lingkungan, dan mampu memperlihatkan ciri khas Nusantara agar bisa digunakan juga sebagai destinasi wisatawan pariwisata yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pencak silat, sebagai wadah aktivitas bela diri pencak silat dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang sebagai jawaban tuntutan perkembangan informasi dan komunikasi sekarang ini.Metode yang digunakan adalah deskriptif dan kualitatif. Metode deskriptif dilakukan dengan memberikan definisi mengenai pencak silat dan minat masyarakat terhadap pencak silat. Metode kualitatif dilakukan dengan survey keadaan eksisting serta analisa kawasan.
TEMPAT RETRET KOTA Vincent Tan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4407

Abstract

This world has created major changes, this is considered as the impact of the current globalization that cannot be stopped anymore. This stream of globalization has caused stress for the millennial generation. Millennials are those that are affected by this current, the largest - with their birth in 1981-2000. They are also people of productive age. Research from the Mental Health Foundation (MHF, 2018) found millennials were more stressed than other older age groups such as generation X. This attracted attention to mental and physical health, especially spiritual issues to overcome this. The purpose of this project is to introduce a new type of place of spirituality in the millennial generation, to open new understandings and thoughts about spirituality in architecture, to produce architectural works that support new changes in the millennial generation, and to increase awareness in the millennial pre-post architectural direction future spirituality. Theoretical study that underlies this design project is taken from Suzan Caroll's book entitled Seven Steps to Soul and the method used is Thematic Narrative Architecture. Thematic Approach Narrative Architecture is a design approach by telling a process that considers the application of themes as elements in a building. This approach is supported by other sub-methods, namely Spatial Gestalts, Experiential Archetypes and Reference. This design project brings users into a spiritual experience that aims to become a place of self-release for all people, especially millennials.   Abstrak Dunia ini telah menciptakan perubahan besar, hal ini dianggap sebagai dampak dari arus globalisasi yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Arus globalisasi ini mengakibatkan stress bagi generasi milennial. Milennial adalah mereka yang terkena dampak arus ini terbesar -dengan kelahirannya pada tahun 1981-2000. Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif. Penelitian dari Mental Health Foundation (MHF, 2018) menemukan generasi milenial lebih stres dibandingkan kelompok usia lain yang lebih tua seperti generasi X. Hal ini menarik perhatian akan hal kesehatan mental serta fisik khususnya spiritual untuk menanggulangi ini. Adapun tujuan dari proyek ini yaitu  mengenalkan tipe baru tempat spiritualitas pada jaman generasi milennial, membuka pengertian dan pemikiran baru tentang spiritualitas dalam arsitektur, menghasilkan karya arsitektur yang mendukung perubahan baru pada jaman generasi milennial, dan meningkatkan awareness pada generasi sebelum-sesudah millennial akan arahan arsitektur spiritualitas kedepan. Kajian Teori yang mendasari proyek desain ini diambil dari buku Suzan Caroll yang berjudul Seven Steps to Soul dan metode yang digunakan adalah Thematic Narrative Architecture.Pendekatan Thematic Narrative Architecture adalah pendekatan desain dengan menceritakan sebuah proses yang memperhatikan penerapan tema sebagai unsur-unsur pada bangunan. Pendekatan ini didukung oleh sub-metode lainnya yaitu Spatial Gestalts, Experiential Archetypes dan Reference. Proyek rancangan ini membawa pengguna kedalam sebuah pengalaman spiritual yang bertujuan untuk menjadi tempat pelepasan diri bagi semua orang khususnya millennial. 
PENGHADIRAN BALAI DAN REKREASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING SEBAGAI TEMPAT KETIGA ATAS SOLUSI MASALAH SOSIAL Ciputra Tri Sutomi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8649

Abstract

North Jakarta is one of the administrative city from Special Capital Region of Jakarta with all its northern parts limited by the waters of the Java Sea, has great maritime economic potential which certainly does not escape the destination of rapid urbanization. The rich potential of the marine economy which is mostly in the form of ports, warehousing, fisheries, and tourism invites migrants to quickly fill the regions in North Jakarta. Urbanization that is not followed with settlement support facilities results in slums and unorganized areas of community settlements. This phenomenon also occurs in the Cilincing Fishermen Village. This situation contributes to the community's inability to cope with poverty and social conflict. Therefore, Cilincing Fisherman Village Hall and Recreation is presented as a third place that can accommodate various activities of the surrounding community with the aim of helping in solving economic and social problems in the Cilincing Fisherman Village. Provision of the third place as a public space is carried out by the analysis-synthesis method so that the resulting problems and solutions are suitable with the needs of the local community in the hope that it can improve the image of the region and the quality of life of the community through design programs that involve interaction between the local people and outside visitors. a more ideal community is created. Keywords: poverty; public space; social conflict; village hallAbstrakKota Jakarta Utara yang merupakan kota administrasi DKI Jakarta dengan seluruh bagian utaranya dibatasi oleh perairan Laut Jawa, mempunyai potensi ekonomi secara kemaritiman yang besar tentu tidak luput dari tujuan urbanisasi yang pesat. Kekayaan potensi ekonomi kelautan yang sebagian besar berupa pelabuhan, pergudangan, perikanan, dan pariwisata mengundang para migran untuk dengan cepat memenuhi daerah-daerah di Jakarta Utara. Urbanisasi yang tidak diimbangi dengan fasilitas pendukung permukiman menghasilkan daerah-daerah permukiman masyarakat yang kumuh dan tidak teratur. Fenomena ini juga yang terjadi di Kampung Nelayan Cilincing. Keadaan ini menyumbang peran dalam ketidakmampuan masyarakat dari himpitan kemiskinan dan konflik sosial. Maka dari itu, dihadirkan Balai dan Rekreasi Kampung Nelayan Cilincing sebagai sebuah tempat ketiga yang dapat mewadahi berbagai kegiatan masyarakat sekitar dengan tujuan membantu dalam menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial di Kampung Nelayan Cilincing. Penyediaan tempat ketiga sebagai ruang publik ini dilakukan dengan metode analisis-sintesis sehingga permasalahan dan solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal dengan harapan dapat meningkatkan citra kawasan dan kualitas hidup masyarakat melalui program-program rancangan yang melibatkan interaksi antara orang sekitar dan pengunjung dari luar agar tercipta suatu komunitas masyarakat yang lebih ideal.
REDESAIN STASIUN BLOK-M Andy Putra; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4388

Abstract

The millennial generation is one of the generations that supports in the advancement of Indonesian economy through the utilization of their creativity, in order to achieve the targeted proportion of creative economy as a whole. Jakarta is a city that is dominated by many spaces that support the development of individual talents, showcase their own creativity as well as to influence the general public through innovative products. To achieve it, many commuters enter Jakarta everyday to open themselves up to possibilities of self-improvement and self-development in many different ways: working, having internship, studying and many more to develop their individual potency. The redesign of Blok M bus station provides a new contemporary space for commuters that travel to Jakarta as well as a series of spaces that helps in driving the millennials toward creative possibilities through interactive and collaborative methods (both visually and communicatively). The addition of new functions to meet the bus station quality and fulfillment that surrounds it such as the addition of bus waiting rooms, reading rooms, and areas of creativity and building façade concept showcases different zoning for creativity that is applied, whilst the curvilinear form reflects endless creativity.  AbstrakKalangan milenial merupakan salah satu kalangan yang mendorong perekonomian Indonesia dengan kreatifitasnya, untuk menuju ekonomi yang berbasis kepada ekonomi kreatif. Kota Jakarta merupakan kota yang didominasi oleh banyaknya tempat untuk mengembangkan talentanya, tempat untuk menunjukkan kreatifitas serta tempat untuk menyebarkan atau mempengaruhi sekitarnya berupa produk yang bersifat inovatif. Oleh karena itu, banyaknya penduduk komuter atau luar kota datang ke Jakarta untuk mempelajari serta mengembangkan kegemarannya dengan cara yang berbeda-beda, ada yang bekerja, magang, belajar, dan sebagainya untuk mengembangkan potensinya. Pembaharuan stasiun bus Blok-M memberikan ruang untuk membantu komuter untuk dapat berdatangan ke Jakarta serta menyediakan wadah didalamnya dalam hal-hal baru yang memiliki penerapan dalam hal pengembangan kreatifitas serta perekonomian kreatif yang bersifat interaktif dan kolaboratif dengan memadukan konsep berbagi (bersifat visual maupun komunikatif). Adapun  penambahan fungsi baru untuk memenuhi kualitas stasiun bus serta pemenuhan yang melingkupi sekitarnya seperti adanya penambahan ruang tunggu bus, ruang baca, dan area kreatifitas serta konsep fasad bangunan yang memperlihatkan pembagian zona perpindahan dengan kreatiftitas yang diterapkan dengan adanya alur likukan-likukan mencerminkan kreatifitasan tanpa batas.

Page 30 of 134 | Total Record : 1332