cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN EVERYDAYNESS DALAM PERANCANGAN HUNIAN PERTANIAN Jonathan Marcelino Alexander; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10771

Abstract

The food crisis is one of the issues that is currently being discussed and is predicted to occur in the future, even though Indonesia itself is an agricultural country, the food crisis cannot be avoided if it is not addressed from now on. The development and population growth of the Indonesian population, especially Jabodetabek, has made the need for food to continue to increase while the availability of land is decreasing. As a result of population growth, the need for land for housing and other activities is getting higher so that land for agriculture is increasingly displaced and away from cities. The farmer profession is also under threat due to the slow development of technology in the food sector. The future of Dwelling discusses the human lifestyle, which is affected by many factors that exist in the present. Cilincing Agro Residence is here as The Future of Dwelling and a solution to the problems of land, food, and the farmer profession itself. The lifestyle changes that have occurred in cities due to Covid-19 has shown people's interest in the process of farming. Technology helps greatly to work as a farmer so that he can now do the process of farming in the middle of the city. This project aims to bring the food supply process closer to urban areas so that it is closer to consumers, and the process is faster and more efficient. Located in the Cilincing area with the existing industrial area, warehousing, and rice fields that will develop into the Marunda economic center and residential area. This project exists as an example of modern agriculture in economic centers and settlements to achieve food security on an environmental to the urban scale. Keywords: Dwelling; Food crisis; Food security; House farming AbstrakKrisis pangan menjadi salah satu isu yang ramai dibahas saat ini dan diprediksi akan terus terjadi di masa mendatang. Walaupun Indonesia merupakan negara agraris, krisis pangan tidak dapat dihindari jika tidak ditanggapi dari sekarang. Perkembangan dan pertumbuhan populasi penduduk Indonesia khususnya Jabodetabek, membuat kebutuhan pangan terus meningkat sementara ketersediaan lahan semakin sedikit. Akibat dari pertumbuhan populasi, kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan aktivitas lainnya semakin tinggi sehingga lahan untuk pertanian semakin tergeser dan jauh dari kota. Profesi petani juga terancam karena lambatnya perkembangan teknologi di sektor pangan. Masa depan berhuni membahas mengenai gaya hidup manusia, yang terdampak oleh banyak faktor yang ada di masa sekarang. Cilincing Agro Residence hadir sebagai masa depan berhuni dan solusi dari masalah lahan, pangan, dan profesi petani itu sendiri. Perubahan gaya hidup yang terjadi di perkotaan akibat Covid-19 memperlihatkan ketertarikan masyarakat dalam proses bercocok tanam. Pekerjaan sebagai petani sangat terbantu dengan teknologi sehingga kini dapat melakukan proses bercocok tanam di tengah kota. Proyek ini bertujuan untuk mendekatkan proses penyediaan bahan pangan ke area perkotaan, sehingga lebih dekat kepada konsumen, prosesnya pun lebih cepat dan efisien. Berlokasi di kawasan Cilincing yang merupakan kawasan industri, pergudangan dan persawahan akan berkembang menjadi pusat ekonomi Marunda dan daerah permukiman. Proyek ini hadir sebagai contoh pertanian modern di pusat ekonomi dan permukiman untuk mencapai sekuritas pangan dalam skala lingkungan hingga kota.
STUDI PERKEMBANGAN IMPLEMENTASI PERATURAN TATA RUANG KAWASAN SENTRA PRIMER BARAT PURI INDAH SEBAGAI PUSAT KOTA BARU Andi Saputra; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4582

Abstract

Growth activities are concentrated in the golden triangle, but in recent years development has actually been growing in the western and eastern regions of Jakarta, known as the West Primary Center and East Primary Center. The plan to develop the West Primary Center was initially seen in the DKI Jakarta Regional Regulation, where the existing development aims to achieve the balance of ecosystems and economic equality in Jakarta and make the West Primary Center as the center of primary activities in West Jakarta City. There are several aspects that are the focus of planning, road network, land use, building intensity, and public transportation. The West Primary Center is located in the Puri Indah area which covers an area of 135 ha. Through this research a study was conducted on the development of the implementation of spatial regulations in West Primary Center Puri Indah as a new city center to find out whether the existing conditions of the West Primary Center have fulfilled and are in accordance with their planning as the primary activity center. The analysis carried out were policy, position, spatial, property development, and the informal sector. The tools used in this research are timeline analysis, ArcGIS mapping, and qualitative descriptive. The result of this research is the existing condition of the West Primary Center hasn’t  fulfilled with its planning as a center for primary activities in West Jakara City which is seen based on several aspects. AbstrakAktivitas pertumbuhan terkonsentrasi di dalam kawasan segitiga emas yakni koridor Thamrin-Sudirman-Kuningan, namun dalam beberapa tahun terakhir ini, pengembangan justru sedang bertumbuh di kawasan barat dan timur Jakarta atau yang lebih dikenal sebagai Kawasan Sentra Primer Barat dan Kawasan Sentra Primer Timur. Rencana pengembangan Kawasan Sentra Primer Barat pada awalnya dapat dilihat pada Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 6 Tahun 1999, dimana pengembangan yang ada bertujuan agar tercapainya keseimbangan ekosistem dan pemerataan ekonomi yang ada di Jakarta serta menjadikan Kawasan Sentra Primer Barat sebagai pusat kegiatan primer yang ada di Kota Jakarta Barat. Terdapat beberapa aspek yang menjadi fokus perencanaan yaitu jaringan jalan, penggunaan lahan, intensitas bangunan, sampai dengan perencanaan transportasi umum. Kawasan Sentra Primer Barat berada pada Kawasan Puri Indah yang mencakup area seluas 135 ha. Melalui penelitian ini dilakukan studi mengenai perkembangan implementasi peraturan tata ruang di Kawasan Sentra Primer Barat Puri Indah sebagai pusat kota baru untuk mengetahui apakah kondisi eksisting Kawasan Sentra Primer Barat sudah memenuhi dan sesuai dengan perencanaannya sebagai pusat kegiatan primer. Analisis yang dilakukan adalah analisis kebijakan, analisis kedudukan, analisis spasial, analisis perkembangan properti, dan analisis sektor informal. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adlaah analisis timeline, mapping ArcGIS, dan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah kondisi eksisting Kawasan Sentra Primer Barat belum memenuhi dan sesuai dengan perencanaannya sebagai pusat kegiatan primer yang ada di Kota Jakarta Barat yang dilihat berdasarkan beberapa aspek yaitu jumlah penduduk, perkembangan kawasan, infrastruktur jalan, dan transportasi umum.
GAYA HIDUP BERKELANJUTAN DI ATAS PULAU APUNG DI PULAU UNTUNG JAWA Samuel Prinardi Suteja; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10795

Abstract

Humans had been living side by side with threats that are affecting human life, such threat in the future is the rising sea level. Mainly caused by global warming that results in several phenomenon which affects the increasing water volume on earth, this gives land dwellers a threat of being submerged especially island dwellers that had less land area. This causes great loss for the dwellers such as losing a home and source of livelihood. Therefore the function that is correct is a floating island that adapts with the rising sea levels and sustainable with purpose of fulfilling the needs of this floating island without harming the environment and maintaining tourism aspect by designing main function of the island as a tourism island and floating residence. Keyword: future; floating island; residence; sea level; submerged; tourismAbstrakManusia hidup berdampingan dengan ancaman yang mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia, salah satunya di masa depan adalah meningkatnya permukaan air laut. Dilatar belakangi pemanasan global yang menyebabkan beberapa fenomena alam dan berdampak pada meningkatnya volume air pada bumi, sehingga masyarakat penghuni daratan memiliki ancaman berupa tenggelamnya daratan khususnya penghuni pulau yang memiliki luas daratan lebih kecil. Ancaman ini mengakibatkan kerugian yang besar bagi penghuni yang dapat kehilangan tempat berhuni serta sumber mata pencaharian utama. Oleh karena itu fungsi yang tepat adalah sebuah proyek pulau apung yang beradaptasi dengan ketinggian permukaan air laut serta mengadaptasi konsep sustainable sehingga dapat memenuhi kebutuhan pulau tersebut tanpa merusak lingkungan serta mempertahankan aspek pariwisata dengan menjadikan fungsi utama pulau sebagai pulau pariwisata dan hunian mengapung.
GALERI SENI BARANG DAUR ULANG Geoffrey Gregorio; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8603

Abstract

Tambora area is the most populous area in Jakarta, the majority of the population is middle-low. This is indicated by the majority of the houses in this area classified as small to medium and the quality of life in Tambora. In the midst of this dense area there is no open area which is a place for them to interact among themselves.This causes many of the peoples spent their spare time out of their house to interact and socialize with others, but it makes traffic jam and noises. This problem will be answered with architectural products in the form of a container that becomes a place for them to interact and carry out  various activities without distinguishing any groups and open to the public free of charge. In this building, a number of programs will be included such as exhibitions, recycling classes, food and other entertainment areas, which are determined based on the characteristics of the Tambora region.This building also has commercial area like souvenier and material store. This project is designed based on John Zeisel's re-image design method, analysis and personal research that focuses on the function and mass of the building in order to have a positive impact on the environment of the Tambora Area. Keywords: Exhibition; Open area; RecycleAbstrakKawasan Tambora merupakan kawasan terpadat di Jakarta, yang mayoritas penduduknya menengah kebawah.Hal ini ditunjukan dengan sebagian besar rumah-rumah yang ada dikawasan ini tergolong kecil ke sedang dan juga kualitas kehidupan masyarakat di Tambora . Ditengah padatnya wilayah ini tidak ada area terbuka yang menjadi wadah bagi mereka untuk berinsteraksi antar sesama.Akibatnya banyak sekali penduduk yang menghabiskan waktu luangnya diluar rumah untuk berinteraksi dan bersosialisasi, namun hal ini menyebabkan kemacetan dan juga kebisingan yang cukup mengganggu warga lainnya. Permasalahan ini akan dijawab dengan produk arsitektur berupa wadah yang menjadi tempat bagi mereka untuk berinteraksi,melepas penat dan stress, menghabiskan waktu luangnya dan melakukan berbagai kegiatan tanpa membedakan golongan manapun dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Di dalam bangunan ini nantinya akan dimasukkan beberapa program seperti pameran, kelas daur ulang, area makanan, dan hiburan lainnya, yang ditentukan berdasarkan karakteristik dari wilayah Tambora ini.Bangunan ini juga mempunyai area komersil seperti toko retail sovenir dan toko material. Proyek ini di design berdasarkan metode perancangan re-image oleh John Zeisel, analisis dan riset pribadi yang berfokus pada fungsi dan massa bangunan agar bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan Kawasan Tambora.
PENERAPAN METODE DESAIN HIBRID BANGUNAN LAMA DAN BARU DALAM PERANCANGAN BANGUNAN EDU-REKREATIF KISARAN William William
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4492

Abstract

The urban routine which is not in accordance with the value of millennials in terms of recreation and socialization makes the imbalance between the city of Kisaran and its millennial generation. Millennials feel that the value in the city barely develop. Therefore, the solution is created more positive relationship between the aspects of the city and millennials. According to the issue, the Edu-Recreative Space will be established with numbers of mass areas respectively while functioning to fulfill recreational and educational facilities that are not free from socializing. The building will be formed by Hybrid method and Adaptive Re-used of the former building of swallow’s house which is a symbol of the urban trail and aspects of the city. By Hybrid method, between used buildings and new buildings where, used buildings are rearranged effectively so that they become galleries and areas for socializing with a combination of light, material and flexible space typology forms likely according to millennial characters. While, new buildings derived from a combination of contextual sites, namely ecological elements around the site and the city will be designed based on circulation typologies, given that circulation is an important aspect in maximizing educational recreational experiences and producing programs such as ecological conservation areas, galleries and other recreational areas, where the final design of the buildings which will be injected locality theme, by the morphology of the swallow nest itself. The combination of mass forms and contextual programs produces a building with a different but harmonious concept to positively and symbolically change the current perspective of the city.AbstrakRutinitas keadaan perkotaan yang tidak sesuai dengan nilai kesejamanan millenial dalam hal rekreasi dan bersosialisasi menjadikan ketidak-seimbangan antara kota Kisaran dan generasi milenialnya. Generasi milenial merasa nilai kesejamanan di kota tidak berkembang. Oleh karena itu, solusinya adalah untuk menciptakan hubungan yang lebih positif antara aspek kota dan millenial. Dengan ini, Ruang Edu-rekreatif Kisaran didirikan dengan dibekali beberapa area massa yang masing-masing berfungsi untuk memenuhi sarana rekreatif dan edukatif yang tidak luput dari hal bersosialisasi. Bangunan dibentuk dengan metode hibrid dan sistem pemakaian kembali bangunan bekas rumah burung walet yang merupakan simbol jejak urban dan aspek kota. Dengan cara hibrid antara bangunan bekas dan bangunan  baru dimana, bangunan bekas ditata ulang secara efektif agar dijadikan galeri dan area untuk bersosialisasi dengan kombinasi antara cahaya, material dan bentuk tipologi ruang berundak fleksibel sesuai karakter milenial. Bangunan baru yang berasal dari kombinasi kontekstual tapak yaitu elemen ekologis sekitar tapak dan kota didesain berbasis tipologi sirkulasi, mengingat  sirkulasi merupakan salah satu aspek penting dalam memaksimalkan pengalaman yang rekreatif edukatif dan menghasilkan program seperti area konservasi ekologis, galeri dan area rekreatif lainnya dimana design akhir bangunan disuntikan lokalitas tema yaitu morfologi sarang walet itu sendiri. Kombinasi antara bentuk massa dan program yang kontekstual menghasilkan suatu bangunan dengan konsep yang berbeda namun harmonis agar secara positif dan simbolis mengubah pandangan kota saat ini.
STRATEGI PENGELOLAAN DAN PROMOSI MUSEUM (OBJEK STUDI : MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK, KELURAHAN PINANGSIA, KECAMATAN TAMAN SARI, JAKARTA BARAT) Christine Atania; Parino Rahardjo; B.Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8872

Abstract

Apart from being a tourist attraction, museums also have a function as a place for us as a society to learn and get to know about history. So that the museum has an important role in society. Lack of museum management has made public interest in the museum lessened. People generally visit museums with the aim of being curious and wanting to get benefits. However, in reality the management of this museum cannot meet the needs of the community, and makes the museum unable to carry out its role as a public and social facility in providing services to the community. The purpose of this writing is to determine the performance of museum management, to determine the weaknesses of the museum, and to make a management strategy proposal for the Museum of Fine Arts and Ceramics to increase public interest. The author examines the existing literature in relation to management, promotion, and museums. The data used consisted of primary data (the existing condition of the museum, interviews, and questionnaires) and secondary data consisting of MSRK documentation, comparative museum documentation, and others. By using five analysis tools and five analysis methods. To find out how the management strategy can be applied, the writer uses analysis (location, physical condition of the museum, management performance, best practices, and perceptions and preferences). The results of the author's research are in the form of strategic proposals for the management and promotion of the Fine Arts and Ceramics Museum. Keywords:  Management; Museum of Fine Arts and Ceramics; PromotionAbstrakMuseum selain sebagai objek wisata juga memiliki fungsi sebagai tempat kita sebagai masyarakat belajar dan mengenal tentang sejarah. Sehingga museum memiliki peran penting dalam masyarakat. Kurangnya pengelolaan museum membuat ketertarikan masyarakat pada museum berkurang. Masyarakat pada umumnya berkunjung ke museum memiliki tujuan dari rasa keingintahuan dan ingin mendapatkan manfaat. Namun pada kenyataan pengelolaan museum ini tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, serta membuat museum tidak dapat melaksanakan peran sebagai fasilitas umum dan sosial dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Tujuan penulisan tersebut ialah mengetahui kinerja pengelolaan museum, mengetahui faktor kelemahan museum, dan membuat usulan strategi pengelolaan untuk Museum Seni Rupa dan Keramik guna meningkatkan minat masyarakat. Penulis mengkaji literatur yang ada berkolerasi dengan pengelolaan, promosi, dan museum. Data yang digunakan terdiri dari data primer (kondisi eksisting museum, wawancara, dan kuesioner) serta data sekunder yang terdiri dari dokumentasi MSRK, dokumentasi museum pembanding, dan lainnya. Dengan menggunakan lima alat analisis dan lima metode analisis. Untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan dapat diterapkan penulis menggunakan analisis (lokasi, kondisi fisik museum, kinerja pengelolaan, best practices, serta persepsi dan preferensi). Hasil penelitian penulis yaitu berupa usulan strategi terhadap kegiatan pengelolaan dan promosi Museum Seni Rupa dan Keramik.
PENATAAN ULANG PASAR TRADISIONAL MUARA KARANG Cynthia Halim; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6837

Abstract

With the ongoing advancements, human as social beings require a renowned ‘third place’ as a space for social interaction. The presence of third place acts as a space for creating assorted communities that rise in various sizes according to the scale of the surrounding. Muara Karang district is an organized and planned housing district that is filled with landed houses and a single centralized Muara Karang traditional market that make up for fulfilling the basic needs of residents for a place to buy fresh produces and various household items. As time goes by, Muara Karang traditional market is not only a market, but a meeting point for surrounding citizens – so called third place. With the initial design adhering only as a functional stacks of commercial space, this market does not provide any more space for community activities. Therefore, the reprogramming of Muara Karang traditional market is deemed necessary, creating contemporary social market without abandoning the existing traditional seller-to-consumer system that is rooted into the everyday life of the market itself. Through deep interviews with the consumers, the reprogramming of this market is made possible with space additions according to their current and future needs. Whilst opting for a more organized commercial space, this market also offers additional facilities that support communal activities. As a low profile open space for everyone (third place criteria), the design process follows the existing urban fabric to recreate a contextual design that fits into the surrounding. AbstrakSesuai dengan perkembangan zaman, manusia selaku makhluk sosial membutuhkan third place sebagai sebuah tempat untuk bersosialisasi. Kehadiran third place berperan sebagai wadah untuk membangun komunitas-komunitas kecil yang akan terbentuk sesuai skala lingkungannya. Kawasan Muara Karang merupakan kawasan yang dibangun secara terorganisir dengan dipenuhi hunian-hunian dan sebuah pasar tradisional sebagai penunjang kebutuhan di sekitarnya yaitu Pasar Muara Karang. Pasar Muara Karang seiring perkembangan zamannya tidak hanya melayani jual beli barang seperti layaknya pasar tradisional tapi pasar sekarang sudah menjadi sebuah titik temu bagi masyarakat sekitarnya atau yang disebut third place. Namun karena tidak dirancang dari awal untuk menjadi third place, bangunan pasar tidak dapat mewadahi kegiatan komunitas-komunitas yang ada sehingga tidak terasa nyaman. Maka dari itu diusulkan untuk penataan ulang Pasar Muara Karang menjadi pasar yang lebih moderen namun tetap menggunakan sistem tradisional karena itu merupakan ciri khasnya. Melalui metode penelitian, dilakukan wawancara kepada masyarakat apa yang mereka inginkan mengingat keberhasilan sebuah third place berdasarkan kebutuhan masyarakat yang ada dan memfasilitasinya. Selain penataan yang lebih tertata, pasar juga digabungkan dengan fasilitas lainnya yang dapat mendukung kegiatan komunitas. Sesuai dengan karakteristik third place yang low profile, dimana bangunan tidak terlihat sangat megah atau mewah, proses perancangan bangunan baru mengikuti urban fabric agar tetap kontekstual dengan sekitarnya.  
GROW: RUSUNAWA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL SEMENTARA UNTUK MBR TUMBUH DAN BERKEMBANG Sulina Limin; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10816

Abstract

Health is an utmost priority, especially in the year 2020, where there is COVID-19. We do various things from staying at home, reducing contacts with people outside the house to consuming nourishments that increase immunity. However, for low income people taking care of health is not as important as working for income as even fulfilling physiological needs (food, shelter, clothing) is still a challenge. As stated in Maslow's Hierarchy of Needs’ theory, only when the first level of needs are fairly well satiated (physiological needs), that the next level of needs (safety needs) can arise to be fulfilled. Rusunawa Grow aims to help fulfilling the basic physiological needs of low income people by providing a temporary living space equipped with the program of entrepreneurial training along with waste management, hoping that this may urge low income people to grow as skilled individuals and thus, they are able to fulfill their basic needs and survive in society. Descriptive analysis is used as a design method in the process of designing with the approach of everdayness, where this project is designed with the thought of efficiency and minimizing costs in mind, thus results in the usage of dry container both 20 feet and 40 feet as the residential units. Keywords:  basic needs; container; low income people; needs; surviveAbstrakMenjaga kesehatan menjadi semakin penting di tahun 2020 ini, yaitu tahun di mana pandemi COVID-19 melanda. Berbagai hal yang kita lakukan, seperti mengurangi bepergian ke luar rumah, mengurangi kontak dengan orang luar rumah, hingga meningkatkan konsumsi makanan/minuman yang meningkatkan daya tahan tubuh. Namun bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR), menjaga kesehatan seperti menjaga jarak dan mengurangi bepergian tidak sepenting mencari nafkah untuk bertahan hidup, karena memenuhi kebutuhan fisiologis (sandang pangan papan) masih menjadi tantangan. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow mengatakan bahwa hanya saat kebutuhan di tingkat pertama (kebutuhan fisiologis) terpenuhi, barulah kebutuhan selanjutnya (kebutuhan keamanan) dapat muncul untuk dipenuhi. Rusunawa Grow bermaksud untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar MBR dengan menyediakan tempat tinggal sementara yang dilengkapi program pelatihan kewirarusahaan serta pengelolaan sampah, dengan harapan dapat mendorong MBR untuk berkembang menjadi individu yang lebih terampil sehingga kemudian mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar dan bertahan hidup dalam masyarakat. Proses perancangan dibantu dengan metode perancangan deskriptif analisis berpendekatan everydayness, dimana proyek ini didesain mementingkan efisiensi dan minimnya biaya, sehingga kemudian proses ini menghasilkan rusunawa yang menggunakan dry container 20 feet dan 40 feet sebagai unit huniannya.
AULA SKATE Boston Edison; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3974

Abstract

Skateboard adalah salah satu olahraga ekstrim yang cukup digemari saat ini. Olahraga ini merupakan olahraga yang memacu adrenalin dan membutuhkan keberanian untuk melakukan trik (style) dan olahraga ini juga memiliki resiko tinggi karena olahraga ini diiringi dengan kecepatan serta ketinggian. Di luar negeri banyak sekali peminat skateboard dari berbagai kalangan baik dari remaja hingga orang dewasa. Di Indonesia, khususnya Jakarta, olahraga skateboard pun cukup digemari. Hal ini dapat terlihat dari mulai munculnya area skate di Jakarta dan banyaknya pengunjung yang datang untuk bermain skate di area skate tersebut (skatepark). Sayangnya fasilitas untuk skateboard yang tersedia masih tidak mencukupi untuk mewadahi penggemar olahraga skateboard itu sendiri. Padahal, cukup banyak atlet yang sudah menorehkan prestasi baik di kompetisi lokal maupun internasional. Karena minimnya fasilitas, banyak penggemar dan atlit olahraga skateboard ini yang menggunakan badan jalan dan lapangan kosong yang diisi rintangan yang seadanya untuk bermain atau berlatih skateboard. Hal ini dapat membahayakan pemain skateboard karena resiko dari olahraga ekstrim ini cukup besar dan juga membahayakan pengguna jalan yang lain. Oleh karena itu dibutuhkan fasilitas Skatepark. Skatepark adalah suatu wadah yang dibuat untuk permainan skateboard atau taman bermain untuk skateboard dan umumnya ditata dengan tangga, pagar, bangku, dan berbagai rintangan-rintangan seperti half-pipes, quarter pipes, handrails, banked ramps, dll. Selain sebagai wadah permainan skateboard, skatepark juga dapat berfungsi sebagai ruang interaksi dan tempat rekreasi warga kota. 
JAKARTA GADGET TREND CENTER Gio Timotius; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4415

Abstract

It is commonly known that in this present days technology has been heavily linked with daily life with various affects. These influences has made basic human needs also changed functionally. For example the existence of smartphone has become one of the most crucial thing on supporting daily life activities. Smartphones are only 1 of the various types of gadgets (devices) that have specific functions for users for the sake of facilitating their activities. The existence of gadgets slowly over time began to change into one of the primary needs of millennial society today. A concrete example that we can see is the ease of transportation, transactions, and interacting with the help of smartphone usage. Not only in terms of practical functions, gadget technology also has functions of entertainment & hobbies such as digital cameras, drones, game consoles, 3D printing, etc. Based on concrete statements and phenomena of human civilization now, the existence of the gadget trend center is considered important. And also based on a design method that discusses data and analysis of weaknesses and strength of site locations and approved programs, the Jakarta Gadget Trend Center is produced. This project is designed to have the maximum level of space efficiency and has a contextual response to the style and topography of the area in the form of mass, interior, and facade. AbstrakSudah diketahui secara umum bahwa di masa kini teknologi sudah melekat dengan kehidupan sehari - hari masyarakat umum dengan pengaruh yang beragam. Pengaruh tersebut membuat kebutuhan dasar manusia juga berubah secara fungsional. Contohnya keberadaan smartphone atau ponsel pintar menjadi benda paling krusial dalam mendukung kemudahan dan kelancaran beraktivitas sehari - hari. Smartphone hanya 1 dari sekian jenis gadget (gawai) yang memiliki fungsi tertentu bagi penggunanya untuk kepentingan yang memudahkan kegiatan mereka. Keberadaan gadget perlahan seiring berjalannya waktu mulai berubah menjadi salah satu kebutuhan primer masyarakat milenial kini. Contoh konkrit yang dapat kita lihat fenomenanya adalah kemudahan bertransportasi, bertransaksi, dan berinteraksi dengan penggunaan smartphone. Bukan hanya dari segi fungsi praktis, teknologi gadget juga memiliki fungsi entertainment & hobby seperti kamera digital, drone, game console, 3D printing, dsb. Berdasarkan pernyataan dan fenomena konkrit dari peradaban manusia kini, keberadaan pusat tren gawai dirasa penting. Dengan berbasis metode perancangan yang mengacu pada data dan analisis mengenai kelemahan dan kelebihan lokasi tapak maupun program yang disarankan, maka dihasilkanlah Jakarta Gadget Trend Center. Proyek ini didesain untuk memiliki tingkat efisiensi ruang semaksimal mungkin dan memiliki respons kontekstual terhadap langgam serta topografi kawasan dalam bentukan massa, interior, maupun fasad.

Page 31 of 134 | Total Record : 1332