cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG KREATIF CIPINANG Bagus Putra Wicaksono; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6817

Abstract

Stress is an adaptive response, through individual characteristics and / or psychological processes directly to the actions, situations and external events concerned. Stress is also a dynamic condition where an individual is faced with opportunities, limitations or demands that are not in accordance with the expectations to be achieved in important and uncertain conditions (Febriandini, et al. 2016). Job stress is generally triggered by individual factors and environmental factors. Indonesia is listed as a stressed population where the stress level can increase if not addressed. The existence of stress factors from low income, and high standard of living. Therefore there needs to be space as a place of interaction for all social classes of society and can establish a good community economy. AbstrakStres adalah suatu respon adaptif, melalui karakteristik individu dan atau proses psikologis secara langsung terhadap tindakan, situasi dan kejadian eksternal yang bersangkutan. Stres juga merupakan kondisi dinamis dimana seorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan yang tidak sesuai dengan harapan yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu (Febriandini, et al. 2016). Stres kerja pada umumnya dipicu oleh faktor individu dan faktor lingkungan. Indonesia tercatat sebagai penduduk yang mengalami stres dimana tingkat stres tersebut dapat meningkat jika tidak diatasi. Adanya faktor stres dari penghasilan yang rendah, dan taraf kehidupan yang tinggi. Oleh sebab itu perlu ada ruang sebagai tempat interaksi bagi seluruh kelas sosial masyarakat dan dapat menjalin perekonomian masyarakat yang baik.
PENGEMBANGAN HUNIAN DAN PERTANIAN VERTIKAL DI BOGOR DENGAN PENDEKATAN DESAIN BERBASIS PERILAKU Dionisius Nathanael Arif; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10908

Abstract

Future Farmer’s Dwelling in Bogor is a new typology which is the result of unification of two main program activity. The project which is located in Bogor, is a new kind of typology in the field of agriculture. The agricultural sector in Indonesia still use the traditional methods although there have been many developments that have occurred in agriculture field, but those advancements have not been implemented yet. As designing this project, the design method used is behavior-based architecture where the method is aimed to understand the behavioral habits of building users. As for  the design strategies such as implementation of the newest  methods and technology in agriculture like the efficiency of  land area with the use of vertical farming methods, to save the amounts of water being used through hydroponic techniques which are also assisted by technology such as automatic regulation of water use which can be timed through a device. It is hoped that from the combination of all the methods can make an improvement for farmers productivity. Keywords: Farmers dwelling; Vertical Farming; Behavior; Hydroponic; Agriculture TechnologyAbstrakHunian Petani Massa Depan di Bogor merupakan sebuah bentuk tipologi baru yang berasal dari penggabungan dua buah program kegiatan utama. Proyek yang berlokasi di Bogor ini merupakan sebuah hal yang baru dalam bidang hunian dan agrikultur. Bidang agrikultur di Indonesia mayoritas masih menggunakan metode dan cara tradisional dalam prakteknya walaupun sudah banyak perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi  dalam bidang tersebut namun kemajuan ini masih belum fasih diterapkan di seluruh Indonesia. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur berdasar perilaku dimana dengan metode tersebut ditujukan untuk memahami kebiasaan perilaku dari calon pengguna bangunan. Adanya strategi desain berupa penerapan perkembangan metode dan teknologi di bidang agrikultur seperti penggunaan luas lahan yang efisien dengan metode pertanian vertikal, penggunaan jumlah air yang efisien melalui teknik hidroponik yang juga dibantu teknologi seperti pengaturan otomatis penggunaan air yang dapat diautur waktunya melalui sebuah perangkat. Diharapkan agar perpaduan tersebut dapat meningkatkan produktivitas dari para petani yang menggunakan fasilitas pada proyek ini.
KEMANG CRE.ACTIVE : WADAH EDUKASI DAN KREATIVITAS DI KEMANG Putri Aprillia; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6744

Abstract

The routine which is carried out between home and the workplace, school or campus every day could trigger stress which caused by the burden of thoughts and workloads. This could also make the individual traits get higher and reduce social interactions because of their respective activities. Therefore, the third place is present as a neutral public space to be able to accommodate the need for social interaction to exchange ideas, release the burden of thoughts and also emphasize the tightness of activities in schools, campus, workplace, etc without feeling awkward for doing interaction among people who have different backgrounds. These problems will be answered through architectural product as a space for education and creativity which is equipped with playing facilities, gatherings, and also leisure facilities to maintain the quality of individual’s life. Kemang, South Jakarta, is selected as the area for designing a third place because Kemang is close to housing complex, office buildings, and schools. In addition, Kemang is also a trajectory for many people who travel from home to workplace, school or campus and vice versa. The program will raise art and sports as the design theme which will be supported by some supporting programs which are still related to the design theme as the answer of the problems and to strengthen the identity of Kemang. Moreover, art and sports are close to third place. This project will be designed by John Zeisel’s re-image method and will be supported by Erica M. Bartels’s transparency theory by giving priority to the permeable as part of the design concept and also paying attention to the existing factors of authenticity. AbstrakRutinitas yang dilakukan antara rumah dan tempat kerja, sekolah atau kampus hampir setiap hari dapat memicu stres dan penat akibat beban pikiran dan juga beban kerja. Hal ini juga dapat menjadikan sifat individualisme semakin tinggi dan berkurangnya interaksi sosial antar individu dikarenakan kesibukan masing – masing. Oleh karena itu, ruang ketiga hadir sebagai ruang publik yang bersifat netral agar mampu mewadahi dan menjawab kebutuhan akan interaksi sosial untuk bertukar pikiran, melepas beban pikiran dan juga stres akibat padatnya aktivitas di sekolah, kampus, tempat kerja, dan lain-lain tanpa merasa canggung untuk berinteraksi meskipun berbeda latar belakang. Permasalahan ini akan dijawab melalui produk arsitektur berupa penciptaan wadah untuk edukasi dan kreativitas yang dilengkapi dengan sarana bermain, berkumpul, dan juga bersantai guna menjaga kualitas hidup individu. Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dipilih sebagai kawasan untuk perancangan ruang ketiga karena Kemang merupakan kawasan yang dekat dengan perumahan, perkantoran, dan sekolah. Selain itu, Kemang juga menjadi lintasan banyak orang bepergian dari rumah ke tempat kerja, sekolah, atau kampus dan sebaliknya. Program akan mengangkat tema seputar seni dan olahraga yang kemudian akan didukung dengan beberapa program penunjang yang masih berkaitan dengan tema tersebut sebagai bentuk jawaban dari permasalahan dan pengangkatan identitas kawasan Kemang. Selain karena hal tersebut, seni dan olahraga juga memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan ruang ketiga. Proyek ini akan dirancangan menggunakan metode re-image oleh John Zeisel yang kemudian akan didukung dengan teori transparency oleh Erica M.Bartels dengan mengutamakan sifat mudah ditembus sebagai bagian dari konsep perancangan dan juga memperhatikan faktor kesejaman yang ada.
HUNIAN VERTIKAL MONODUALISME (INDIVIDUALISME-KOLEKTIVISME) Hidayatul Reza; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10890

Abstract

The conflict between the two social understandings between individualism and collectivism does not need to be clashed, but instead it needs to be managed according to values, morals and ethics. So that it can become a social force for social life. In this issue, architects can play a role in cultivating a 'space' that is fit to the problem of individualism-collectivism. The research method used is a comparative and synergistic method. Literature in the form of journals and books on the phenomenon of individualism-collectivism is used as a reference and comparison. To be able to change a person's attitude, it is necessary to have an environmental role that creates events and events that occur repeatedly and continuously, gradually being absorbed into the individual and influencing the formation of an attitude. In order for this approach to be applied easily, this approach must be applied to basic human needs. In basic human needs there is a hierarchy of the most basic, namely physiological needs, the most basic needs to be fulfilled because they include things that are vital for survival, namely, clothing, food, and shelter. So in order to answer this issue, the vertical housing function is fixed. In addition, vertical housing is considered important because it responds to limited land and the increasing human population. Vertical housing with a collaborative space in grouped dwelling unit concept, because offers many possibilities, from people who live together sharing physical space to communities that share values, interests and philosophies of life. Grouping system is also be an important value and in community prefer to live in small community amount 4-10 members with various background. Consisted by good quality personal space and supporting facilities to develop self-potential as self-actualization. Keywords:  collaborative; collectivism; individualism; monodualism; self actualization Abstrak Konflik dua paham sosial antara individualisme dengan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai, moral, dan etika, sehingga dapat menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Dalam isu ini, arsitek dapat berperan dalam mengolah ‘ruang’ yang fit terhadap permasalahan individualisme-kolektivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode komparatif dan sinergis. Literatur berupa jurnal dan buku tentang fenomena individualisme-kolektivisme, dijadikan sebagai acuan dan pembanding. Untuk dapat mengubah sikap seseorang diperlukan peran lingkungan untuk menciptakan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan memengaruhi terbentuknya suatu sikap. Agar pendekatan ini dapat diterapkan dengan mudah maka pendekatan ini harus diterapkan pada kebutuhan dasar manusia. Pada kebutuhan dasar manusia terdapat hierarki yang paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan yang paling dasar untuk dipenuhi karena meliputi hal-hal yang vital bagi kelangsungan hidup yaitu, sandang, pangan, dan papan. Sehingga untuk menjawab isu ini, ditetapkan fungsi hunian vertikal. Selain itu, hunian vertikal dinilai penting karena untuk mejawab keterbatasan lahan dan semakin tingginya populasi manusia. Hunian vertikal dengan mengusung konsep ruang kolaboratif pada setiap unit hunian yang dikelompokkan, karena menawarkan banyak kemungkinan, mulai dari orang-orang yang tinggal bersama dengan berbagi ruang fisik hingga komunitas yang juga berbagi nilai, minat, dan filosofi hidup. Sistem pengelompokan penghuni juga menjadi nilai penting dan dalam komunitas lebih menyukai jumlah yang sedikit 4-10 orang dengan latar belakang yang berbeda. Ditunjang dengan kualitas ruang pribadi yang baik dan fasilitas penunjang yang dapat mengembangkan potensi sebagai bentuk aktualisai diri.
GALERI SENI MUSIK TRADISIONAL TIONGHOA Febrianto Candra; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4009

Abstract

Jakarta merupakan ibukota dan juga salah satu kota metropolis yang ada di Indonesia, yang memiliki berbagai macam budaya seni. Budaya seni di Jakarta seperti budaya seni Betawi terbentuk dikarenakan adanya pengaruh kebudayaan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Salah satu budaya yang memberikan pengaruh pada budaya Betawi adalah seni musik tradisional Tionghoa yang melahirkan seni musik Betawi, Gambang Kromong. Dari sejarah ini dapat dikatakan bahwa keberagaman dan toleransi menjadi salah satu poin penting yang mendukung kekayaan kebudayaan Indonesia. Dengan adanya pengetahuan mengenai sejarah budaya Tionghoa terhadap budaya Betawi di Jakarta bertujuan untuk memberikan sebuah ruang pendekatan masyarakat agar dapat menciptakan toleransi antar masyarakat di Jakarta dan juga memberikan pengetahuan mengenai budaya seni musik tradisional Tionghoa kepada masyarakat lokal hingga mancanegara. Perancangan dari Wisata Galeri Seni Musik Tradisional Tionghoa ini dilakukan dengan melakukan pencarian data dengan melakukan survei di kawasan Pintu Besar Selatan, Kota Tua serta mengkaji literatur. Berdasarkan hasil survei dan wawancara, lokasi pintu besar selatan sering digelar pagelaran seni musik tradisional yang berlokasi di jalan yang mengakibatkan penutupan jalan. Sehingga program wisata yang direncanakan tidak hanya menyajikan wisata galeri seni musik tradisional Tionghoa. Tetapi juga turut ikut serta dalam menyajikan ruang publik yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitar dalam melakukan pagelaran seni musik tradisional dengan menggunakan alat musik tradisional baik Tionghoa maupun alat musik lainnya. Dengan adanya bangunan ini, diharapkan tidak hanya memberikan edukasi tetapi juga dapat menciptakan rasa toleransi antar masyarakat Tionghoa dengan masyarakat lokal.
TEMPAT KETIGA KOTATUA JAKARTA SEBAGAI GERBANG INTEROGATIF TERHADAP KEMAJUAN KOTATUA Ferel Putra; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8573

Abstract

Kotatua Jakarta is a very crowded place visited by many visitors from many diverse areas. Other than that, Kotatua is also a home for some people, a place where they build their lives. This makes Kotatua becomes a high diversity place. Therefore, it is necessary to make a third place that unites people from different backgrounds for the sake of good Indonesian society growth by providing an interrogative place where people can meet, socialize, and interrogate their own lives by seeing other people’s lives. In addition, the project also has another goal, which is to improve the quality of Kotatua as a tourism area by building an information center that is useful for visitors, as well a community center that is useful for tourism workers there. Kotatua Jakarta Interrogative Gate talks about interrogative space for human growth that focuses on the provision of spaces that trigger social interaction that results in interrogation between human beings so they can become more open minded, of course while conveying information on both Kotatua and Jakarta tourism and preserving and enhancing the economy of pre-existing communities, as a gate that is opened for everybody. Keywords:  diversity; interrogate; open minded AbstrakKotatua Jakarta merupakan tempat yang sangat ramai dikunjungi banyak pengunjung dari daerah yang beraneka ragam. Disamping itu Kotatua merupakan sebuah tempat yang juga memiliki penduduk asli dalam jumlah yang sedikit. Hal ini membuat Kotatua menjadi sebuah tempat yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Maka, perlu dibuatlah sebuah tempat ke-3 yang bersifat mempersatukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, agar terjadilah interogasi yang mendewasakan yang dapat menjadi cikal bakal pertumbuhan masyarakat Indonesia yang baik. Proyek ini juga memiliki tujuan lain untuk meningkatkan kualitas Kotatua sebagai kawasan turisme dengan membangun sebuah pusat informasi yang berguna bagi pengunjung, dan pusat komunitas yang berguna bagi para pekerja turisme disana. Gerbang Interogatif Kotatua Jakarta berbicara tentang ruang interogatif yang membuat manusia bertumbuh yang berfokus dalam pengadaan ruang-ruang yang memicu adanya interaksi sosial yang berujung pada interogasi antar manusia yang mendewasakan, tentunya sambil menyampaikan informasi turisme Kotatua maupun Jakarta pada umumnya, dan melestarikan serta meningkatkan ekonomi komunitas yang sudah ada sebelumnya.
BALAI KAMPUNG KOTA KREATIF DI KOTA TUA JAKARTA UTARA Angy Chasia; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4470

Abstract

Along with the current development to the Millennial Generation Era, Kampung Kota also developed into more modern habitations. Residents of Kampung Kota have also begun to recognize electronic devices such as gadgets and smartphones. The main problem that occurs is not only the fulfillment of the need for a place to live, but how to make it possible for the living environment to grow and improve the standard of living of its people. Consequently , the needs that urge to be fulfilled are job (livelihoods) and public space (greening and recreation). Meanwhile, the Old City Tourism area in Jakarta, whose growth since the colonial era was inseparable from the influence of the Kampung Kota, began to develop towards more advanced tourist areas. Kampung Kota directly and indirectly also becomes a supporting area for tourism activities in the Old City. Therefore, Balai Kampung Kota Kreatif was designed with the aim of accommodating creative economic activities and training for Kampung Kota Residents and also for a tourist attraction for Old City Tourists. Using the Cross-Dis Programming Method, the building was designed by combining two main programs, namely the Community Activity Zone and the Tourism Zone. The result of the design showed that  the community activity Zone which is needed is a Creative Economic Production Program in the fields of wood, crafts, clothing, and plants, along with  additional programs namely Shared Space, Business Units, Creative Corridors and Knowledge areas. Whereas for the Tourist Zones needed are Galleries, Theaters, and Tourist Centers. The program which could combine between two targets (Kampung Kota Residents and Tourist) is the outdoor in the form of Market Place and Ampy Theater. The conclusions obtained from the design of the Balai Kampung Kota Kreatif is a building which could contain a combination of two programs with different targets at once by accommodating the space requirements for both equally. Abstrak Seiring dengan perkembangan zaman ke Era Generasi Milenial. Kampung kota juga turut berkembang menjadi permukiman yang lebih modern. Warga kampung kota juga sudah mulai mengenal alat elektronik seperti gadget dan smartphone. Permasalahan utama yang terjadi bukanlah hanya pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal, namun bagaimana agar lingkungan tempat tinggal dapat berkembang dan menaikan taraf hidup masyarakatnya. Kebutuhan yang perlu dipenuhi adalah penyediaan lahan pekerjaan (mata pencaharian) dan ruang publik (penghijauan dan rekreasi). Sementara itu kawasan Wisata Kota Tua di Jakarta Utara, yang pertumbuhannya sejak Jaman Kolonial tidak lepas dari pengaruh Kampung Kota, mulai berkembang kearah kawasan wisata yang lebih maju. Kampung Kota secara langsung dan tidak langsung juga menjadi daerah penunjang kegiatan wisata di Kota Tua tersebut. Oleh karena itu, Balai Kampung Kota Kreatif dirancang dengan tujuan untuk mewadahi kegiatan ekonomi kreatif beserta pelatihannya bagi warga kampung kota dan juga sekaligus menjadi tempat wisata bagi turis yang mengunjungi Kawasan Wisata Kota Tua. Menggunakan Metode Cross-DisProgramming, bangunan dirancang dengan menggabungkan dua program utama yaitu zona kegiatan komunitas dan zona wisata. Hasil perancangan yang didapatkan bahwa zona kegiatan komunitas yang dibutuhkan adalah program produksi ekonomi kreatif dalam bidang kayu, kriya, pakaian, dan tanaman, serta program tambahan yaitu ruang bersama, unit usaha, selasar kreatif dan area pengetahuan. Sedangkan untuk zona wisata yang dibutuhkan adalah galeri, teater, dan pusat turis. Program yang dapat menggabungkan antara dua sasaran (warga kampung kota dan turis) adalah ruang luar yang berupa Market Place dan Ampy Theater. Kesimpulan yang didapat pada perancangan Balai Kampung Kota Kreatif adalah keseimbangan antara kegiatan warga kampung kota dan wisatawan Kota Tua Jakarta dapat tercapai dengan dengan cara mewadahi kebutuhan ruang untuk keduanya secara seimbang melalu program-program yang dipilah untuk digabungkan atau didekatkan.
PENATAAN KAWASAN SEKITAR STASIUN SUDIMARA DENGAN KONSEP TOD (TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT) Bisma Wikanthyasa Irawan; Liong Ju Tjung; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8855

Abstract

South Tangerang has become one of the residential choices for commuters. Mayor of the city of South Tangerang said that more than 50% of its residents work in Special Capital Region of Jakarta. The transportation that commuters use for their daily activities is the KRL Commuter Line. Sudimara Train Station, located in South Tangerang, is the second highest station in the KRL Commuter Line in passenger acquisition, totaling 7.623.530 passengers in 2018. Based on Perda No. 9 of 2019 Concerning Regional Spatial Plans of 2011 – 2031, Sudimara Station is one of the stations designated to be developed into the TOD area. The proliferation of residential developments in South Tangerang makes the distance between the dwelling and transit points far apart, private vehicles are one way to the transit point, causing traffic congestion due to inadequate road capacity and the number of side obstacles. The lack of integration between available modes of transportation exacerbates this situation. Therefore, an arrangement will be made in the area around Sudimara Station by using the TOD concept. This is intended to achieve harmony between the station as a transit point and the residential area and its facilities. Before doing this, will first be done searching for potentials and problems that will arise from the plan. The research method that I use is quantitative and qualitative. This research will provide results in the form of a regional arrangement master plan with the TOD concept. Keywords: Integration; Residential; Sudimara; Transit Oriented Development (TOD) AbstrakKota Tangerang Selatan menjadi salah satu kota pilihan hunian bagi para komuter. Walikota Tangerang Selatan mengatakan bahwa lebih dari 50% warganya bekerja di DKI Jakarta. Transportasi yang digunakan para komuter untuk beraktivitas sehari-hari adalah KRL Commuter Line. Stasiun Sudimara yang terletak di Kota Tangerang Selatan merupakan stasiun tertinggi kedua pada sistem KRL Commuter Line di Jalur Rangkasbitung dalam perolehan penumpang, sebanyak 7.623.530 penumpang pada tahun 2018. Berdasarkan Perda No. 9 Tahun 2019 Tentang RTRW Tahun 2011 – 2031, Stasiun Sudimara menjadi salah satu stasiun yang ditunjuk untuk dikembangkan menjadi kawasan TOD (Transit Oriented Development). Menjamurnya pengembangan hunian di Kota Tangerang Selatan membuat jarak antara hunian dengan titik simpul transit berjauhan, kendaraan pribadi merupakan salah satu cara menuju titik transit, sehingga menyebabkan kepadatan lalu lintas akibat kapasitas jalan yang kurang memadai dan banyaknya hambatan samping. Tidak terintegrasinya antar moda transportasi yang tersedia memperparah keadaan ini. Oleh sebab itu, akan dilakukan penataan pada area sekitar Stasiun Sudimara dengan memakai konsep TOD. Hal ini dimaksudkan agar tercapainya keharmonisan antara stasiun sebagai titik transit dan kawasan hunian beserta fasilitasnya. Sebelum melakukan hal tersebut, dilakukan terlebih dahulu pencarian potensi serta masalah yang akan ditimbulkan dari rencana tersebut. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini akan memberikan hasil berupa rencana induk penataan kawasan dengan konsep TOD.
STRATEGI PENGELOLAAN COWORKING SPACE UNTUK MENGHADAPI PERSAINGAN BISNIS (OBJEK STUDI: CONCLAVE WIJAYA, KELURAHAN PETOGONGAN. KECAMATAN KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN) Sinta Setiani; Suryono Herlambang; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8881

Abstract

Conclave Wijaya has been established since 2013 and was inaugurated in 2014, Conclave Wijaya is not only focused on one type of function space but in addition to coworking space there is also built office space, meeting rooms, event spaces, auditoriums and class rooms. The identification of problems stems from the rapid development of startups and micro and small businesses, especially in Jakarta. But often times there are many new breakthroughs about the concept and function of coworking space that suits consumers' needs and of course at affordable prices. Although Conclave Wijaya cooperates with Comma, Conclave itself does not follow in the footsteps of Comma, which only has one function, namely as coworking space. This is the purpose of the study, first to prove that Conclave Wijaya is able to cover and accommodate its function as a place to work and relax, second to study the Conclave Wijaya facility as a container that is able to attract and attract users, and third to see strengths, weaknesses, opportunities and threats on Conclave Wijaya. In order to achieve the objectives of the method used with a qualitative approach can describe the conditions that exist in the Conclave Wijaya and identify aspects that affect the existence of the Conclave Wijaya. The final results achieved indicate the strategy of Conclave Wijaya in its existence that continues to survive amid competition in the coworking space business. Keywords: Analysis; Coworking Space; User; Strategy AbstrakConclave Wijaya sudah berdiri sejak tahun 2013 dan diresmikan ditahun 2014, Conclave Wijaya tidak hanya berfokus pada satu tipe fungsi ruang tetapi selain adanya coworking space disana juga dibangun office space, meeting room, event space, auditorium, dan class room. Identifikasi masalah bermula dari pesatnya perkembangan startup dan usaha mikro kecil dan menengah khususnya di Jakarta. Namun seringnya waktu banyak terobosan baru mengenai konsep dan fungsi dari coworking space yang sesuai kebutuhan konsumen dan tentunya dengan harga terjangkau. Walaupun Conclave Wijaya bekerja sama dengan pihak Comma namun Conclave sendiri tidak mengikuti jejak Comma yang hanya memiliki satu fungsi yakni sebagai coworking space. Hal ini yang menjadi tujuan studi dilakukan, pertama untuk membuktikan Conclave Wijaya mampu mencakup dan mewadahi fungsinya sebagai tempat bekerja dan bersantai, kedua untuk mengkaji fasilitas Conclave Wijaya sebagai  wadah  yang  mampu diminati  dan  menarik pengguna, dan ketiga untuk melihat  kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada Conclave Wijaya. Agar tercapainya tujuan metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif dapat mendeskripsikan kondisi yang ada pada Conclave Wijaya serta mengindentifikasi aspek yang mempengaruhi keberadaan Conclave Wijaya. Hasil akhir yang dicapai menunjukkan strategi Conclave Wijaya dalam eksistensinya yang terus bertahan ditengah persaingan bisnis coworking space.
RUANG AKTIVITAS MASYARAKAT PULOMAS William Adiputra Dharmawan; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7044

Abstract

Modern people have a demanding and busy life. Jakarta is not an exception. Whose people is growing rapidly in terms of socio economic standing into middle class.This class requires different types and patterns of usage of space. They prefer to live in suburubia, spends time in malls instead of local places, and usually have 9-5 jobs.The mall’s role as a public space is problematic as it can siphon away public life that could’ve happen in local place which can shape a strong sense of place and character. Other than that, malls also requires a significant energy commitment to get to it, doesn’t create community around it, exclusive to lower class people, etc. A local third place is proposed as a solution. To pull back public life into the suburbia. Something smaller in scale, making the visitors into people not mere consumer. A personal place, A place that forms communities, a palce that is local so people don’t have to spend a lot of energy going to the place. A place that is open to all. A Third place. In this final project, the chosen site is right in the middle of a housing complex in Pulomas. Local residents would only have to walk no more than 5 minutes to visit the place. It provides public spaces that are in demand by local residents, such as food hall, gym, study space, archery hall, eventspace, etc in smaller scale. Public life that is stolen from the mall is taken back into the local place, creating a sense of place and community. AbstrakMasyarakat modern memiliki tuntutan kehidupan yang sibuk dan padat. Tidak terkecuali penduduk Jakarta. Yang strata sosio-ekonominya bertumbuh secara cepat menjadi kalangan menengah ke atas. Kalangan ini memiliki kebutuhan ruang dan pola penggunaan ruang yang berbeda. Mereka memilih untuk tinggal di perumahan, menghabiskan waktu di mall dibanding di tempat yang lokal, dan umumnya memiliki pekerjaan 9-5. Penggunaan mall sebagai tempat publik berpotensi menjadi masalah, ketika kehidupan publik yang bisa menjadi karakter suatu tempat di alihkan ke tempat yang anonim seperti  mall. Kurangnya kehidupan publik mengikis sense of place dan social capital yang dimiliki sebuah tempat. Selain itu mall juga membutuhkan komitmen energi yang besar untuk mencapai mall, pengunjung yang tidak menjalin komunitas, ekslusifitas terhadap kalangan menengah kebawah, dlsb. Third place yang lokal di usulkan sebagai solusi, untuk menarik kembali kehidupan publik di perumahan. Sebuah tempat yang mempunyai skala lebih kecil, menjadikan pengunjungnya sesama manusia, personal, membentuk komunitas, lokal sehingga kita tidak perlu banyak energi untuk mengunjungi tempat itu, dan terbuka bagi semua, sebuah third place. Di proyek tugas akhir ini, dipilih site tepat di tengah perumahan, di Pulomas. Warga lokal hanya tinggal jalan kaki tidak lebih dari 5 menit untuk mencapai site. Menyediakan tempat publik skala kecil yang dibutuhkan oleh warga lokal seperti food hall, gym, ruang studi, lapangan panahan, eventspace, lounge, dll. Kehidupan publik yang sebelumnya dicuri oleh mall dan tempat lain dilokalisasikan, menciptakan sebuah sense of place, dan sense of community.

Page 34 of 134 | Total Record : 1332