cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT EDUKASI SAINS TUBUH DAN TEKNOLOGI Yohanes Terzagi; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4475

Abstract

Millennial generation born in the era of technological revival is very influential on the attitude and nature of society. These influences make basic human needs also change functionally. One human need is learning, a way of learning that is different from the previous generation. Learning in this millennial era has used sophisticated and not monotonous technology. The system of delivering knowledge is starting to be more interesting and easier to understand by the millennial generation. The method used in this project is the metaphor of the concept of artificial body manufacture, which replaces the human body with technology or robots that are applied in the design of project buildings. One interesting science for the use of this technology is life & sciences, about the body and human technology. Creating a fun education based on sophisticated systems and technology and introducing people to new and modern science. Edutainment is a place that is sophisticatedly designed, and provides an atmosphere like learning for the future. AbstrakGenerasi millenial yang lahir pada era kebangkitan teknologi ini sangat berpengaruh sekali terhadap sikap dan sifat dari masyarakat. Pengaruh tersebut membuat kebutuhan dasar manusia juga berubah secara fungsional. Salah satu kebutuhan manusia adalah belajar, cara belajar yang sudah berbeda dengan dengan generasi yang sebelumnya. Belajar pada era millenial ini sudah menggunakan teknologi yang canggih dan tidak monoton. Sistem penyampaian ilmu yang diberikan mulai lebih menarik dan lebih mudah untuk dipahami oleh generasi milenial. Metode yang digunakan dalam proyek ini adalah metafora konsep artificial body manufacture, dimana mengantikan body manusia dengan teknologi atau robot yang di aplikasikan di dalam perancangan bangunan proyek. Salah satu ilmu pengetahuan yang menarik untuk penggunaan teknologi ini adalah life & sciences, tentang tubuh dan teknologi manusia. Menciptakan sebuah edukasi yang menyenangkan yang berbasiskan sistem dan teknologi yang canggih serta mengenalkan kepada masyarakan tentang ilmu pengetahuan sains yang baru dan modern. Edutainment merupakan tempat yang di desain secara canggih, serta memberikan suasana seperti belajar untuk masa depan.
FASILITAS INTERAKSI LANSIA DAN MILENIAL Aiko Putri Marui; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8575

Abstract

Third Place is an additional requirement needed by the people of South Meruya. Millennial and elderly population in South Meruya is the highest population there. Therefore this project is prioritized for them. And there are also problems with the relationship between the elderly and tenancy that are tenuous, due to differences in mindset and habits. Therefore the project which is located on Jalan Meruya Utara aims to provide various facilities that they can use together and can re-create a close relationship between them but this project also not only accepts millennials and the elderly but also all people from various social and age. In addition to being a gathering place, this project also provides various workshops or classes so that they can carry out activities together and communication can be formed because of the activity of chatting or exchanging ideas. It also provided a place for them to exercise for the benefit of elderly and millennial health. The method used in this paper is to study the Regions, Library. Based on the results of field surveys and literature, the similarities in the activities of the elderly and millennials are expected to be their joint activities. The results of the study were analyzed and synthesized in the form of designing an elderly and millennial interaction facility in South Meruya. Keywords:  elderly; millennials; third place Abstrak Third Place merupakan sebuah kebutuhan tambahan yang dibutuhkan masyarakat Meruya Selatan. Penduduk milenial dan lansia di Meruya Selatan merupakan jumlah penduduk yang tertinggi disana. Maka dari itu proyek ini diutamakan untuk mereka. Dan juga terdapat permasalahan hubungan antara lansia dan milenial yang renggang, karena perbedaan pola pikir dan kebiasaan. Maka dari itu proyek yang berada di Jalan Meruya Utara ini bertujuan untuk menyediakan berbagai fasilitas yang dapat mereka gunakan bersama-sama dan dapat menciptakan kembali hubungan yang erat antara mereka selain itu juga proyek ini tidak hanya menerima kaum milenial dan lansia tapi juga semua orang dari berbagai golongan sosial dan umur. Selain menjadi tempat berkumpul juga proyek ini menyediakan berbagai workshop atau kelas-kelas agar mereka dapat melakukan aktivitas-aktivitas bersama-sama dan dapat terbentuk komunikasi karena terjadinya aktivitas mengobrol ataupun bertukar pikiran. Selain itu juga disediakan tempat untuk mereka dapat berolahraga untuk kepentingan Kesehatan lansia maupun milenial. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan melakukan studi Kawasan, Pustaka. Berdasarkan hasil survei lapangan dan literatur dihasilkan kesamaan-kesamaan aktivitas kaum lansia dan milenial yang diharapkan dapat menjadi aktivitas bersama mereka. Hasil kajian tersebut dianalisis dan disintesiskan dalam wujud perancangan fasilitas interaksi kaum lansia dan milenial di Meruya Selatan.
WADAH KOMUNITAS SEPEDA MOTOR DI KOTAMATSUM III - MEDAN Erwin Andrianto; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6800

Abstract

In this study aims to discuss about the third place in the motorcycle community at Kotamatsum III in the city of Medan. The purpose of this study is to propose a design urban planning in the form of both physical and non-physical needs needed in the Kotamatsum III area of Medan by designing a motorcycle community place in the area, as a suitable third place in accordance with the program that has been prepared and to support the Masjid Raya Al-Mashun area as a place of worship and tourism that is comfortable, safe and creative, which is realized in the design of architectural designs that benefit all parties and on target. Third place as a public space in a neutral place, where people can gather and interact. Unlike the first place (home) and the second place (work), the third place allows people to put aside their worries and just enjoy the company and the conversation around them. The third place “holds individual, regular, voluntary, informal meetings and are happily anticipated outside the realm of home and work.”. These spaces promote social justice by enhancing guest status, providing background for grassroots politics, creating public association habits, and offering psychological support to individuals and society. The design methods used in this study are the concept of a metaphor. Second function follows  form. The results of the study produce designs that are expected to meet the needs of the motorcycle community in the area both in design, function and program. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menulusuri tentang tempat ketiga, dimana merupakan lingkungan sosial yang terpisah dari dua lingkungan sosial lainnya. Penelitian ini membahas tentang tempat ketiga yakni wadah komunitas motor di kawasan Kotamatsum III di kota Medan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan usul perencanaan urban desain berupa kebutuhan–kebutuhan fisik maupun non fisik yang diperlukan pada kawasan Kotamatsum III – Medan, sebagai tempat ketiga yang layak sesuai dengan program yang telah disusun serta untuk mendukung kawasan Mesjid Raya Al – Mashun sebagai tempat ibadah dan parawisata yang nyaman, aman dan rekreatif yang diwujudkan dalam perancangan desain arsitektur yang menguntungkan semua pihak dan tepat sasaran. Tempat ketiga sebagai ruang publik di tempat netral, tempat orang dapat berkumpul dan berinteraksi. Berbeda dengan tempat pertama (rumah) dan tempat kedua (bekerja), tempat ketiga memungkinkan orang untuk mengesampingkan kekhawatiran mereka dan hanya menikmati suasana dan percakapan di sekitar mereka. Tempat ketiga "menyelenggarakan pertemuan individu, reguler, sukarela, informal, dan yang dengan gembira diantisipasi di luar ranah rumah dan pekerjaan." Oldenburg menjelaskan bahwa taman , jalan-jalan utama, pub, kafe, kedai kopi, kantor pos, dan tempat ketiga lainnya adalah jantung dari vitalitas sosial komunitas. Tempat ketiga yang berfungsi mempromosikan keadilan sosial dengan meningkatkan status tamu, menyediakan latar bagi politik akar rumput, menciptakan kebiasaan asosiasi publik, dan menawarkan dukungan psikologis kepada individu dan masyarakat. Metode perancangan yang digunakan dalam penilitian ini adalakonsep metafor. Kedua, menggunakan konsep fungsi mengikuti bentuk. Hasil penelitian menghasilkan desain yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan komunitas sepeda motor di Kawasan tersebut baik dalam desain, fungsi maupun program.
KAJIAN PEMANFAATAN SISTEM PANGAN Michelle Rahardja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4462

Abstract

Increasing healthier food demand and trend in consumption are causing the failure towards reaching food security. In response to current food crisis, the project proposed to shorten current food chain to transform local food system where the producer meets the consumer. This project aims to be a model to educate people through grow – distribution – cons umption – recycle to create food security for the community. Response to site is use as design method where the response results from the environment and site. Green and sustainable architecture are use as design approach to ensure the sustainability of the program and building. This project intend to be the hub for community and acts as a contribution to green space for the city and community. Constructions and materials design to adapt sustainable concept using renewable energy such as solar energy and by recycling food waste efficiently, in addition to minimize the use of artificial lights and air conditioner resulting to the façade designed to maximize natural ventilation throughout the building. Dynamic building designs are expected to increase visitors as education and culinary destination also as a community center for Rawa Belong community, consistent with the proposed program on this project such as the workshop area for learning, the restaurant and cafe area as a culinary attraction, and a multifunctional area for community activities.AbstrakPada generasi milenial banyak faktor yang mempengaruhi gagalnya mencapai keseimbangan pangan, seperti perubahan permintaan dan tren konsumsi. Dalam upaya merespon kondisi krisis pangan global secara lokal, proyek mengusulkan transformasi sistem pangan dimana rantai makanan disingkat menjadi produsen bertemu secara langsung dengan konsumen. Proyek ini diharapkan mampu menjadi contoh dan mengedukasi masyarakat melalui fungsi tanam - distribusi - konsumsi - daur ulang untuk mewujudkan keseimbangan pangan masyarakat. Metode perancangan adalah respon terhadap tapak, dimana hasil rancangan yang dihasilkan berasal dari kebutuhan kawasan dan tapak itu sendiri. Sistem hijau dan bekerlanjutan dipilih sebagai pendekatan secara arsitektur untuk mewujudkan keberlanjutan proyek dan bangunan. Rancangan pada tapak adalah menjadikan proyek sebagai wadah kegiatan masyarakat dan kontribusi Ruang Terbuka Hijau bagi kota dan komunitas masyarakat Rawa Belong. Konstruksi dan penggunaan material dirancang sesuai dengan konsep keberlanjutan dengan memperhatikan efisiensi dan daur ulang energi terbarukan seperti cahaya matahari dan limbah pangan serta minim penggunaan penerangan artifisial dan penyejuk udara sehingga dinding fasad dibuat agar bisa memberikan ventilasi alami pada seluruh ruangan. Rancangan bangunan yang bersifat dinamis diharapkan mampu meningkatkan pengunjung sebagai tujuan edukasi dan wisata kuliner serta kegiatan masyarakat di Rawa Belong dan sekitarnya, sesuai dengan program yang diusulkan pada proyek seperti area lokakarya untuk belajar, area restoran dan kafe sebagai daya tarik kuliner, dan area multifungsi untuk kegiatan masyarakat.
JELAMBAR BARU RECREATION AND ENTERPRENEURSHIP SPACE Givin Natan Lie; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8476

Abstract

Gaps within citizens is a problem that runs amok inside a city, so as in Jelambar Baru, that is one of the densest districts in Jakarta, Jelambar Baru also has a gap between its citizens. A unique environment in an urban area where a separation between the elites and the lower middle class happens, that indirectly affects the actions and behaviors of the citizens. Adding on the lacking public facilities to accommodate both of the society groups, so enter the project Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space. In accommodating various activities that can bridge the gap in Jelambar Baru’s citizens, Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space has a vision to unite both the elites of society and the lower middle class, with various social activities that is done together. Apart from that, Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space can also be a gathering place for all citizens and communities in Jelambar Baru as a third place in society. Interacting with the people of Jelambar Baru, doing observations, surveys, and analysis, produces an optimal program to attract and unite both of Jelambar Baru’s citizen class, so this Open Architecture project can become an activity space with variety, and a public space for all class of society. Keywords:  gap; social activities; unite AbstrakKesenjangan masyarakat dalam sebuah kota merupakan sebuah masalah yang merajalela, begitu pula pada kelurahan Jelambar Baru, yang merupakan salah satu kelurahan terpadat di Jakarta. Suasana yang unik pada daerah urban dimana terjadi separasi antara masyarakat golongan atas dengan golongan menengah kebawah, yang secara tidak langsung mempengaruhi tindakan dan perilaku masyarakat tersebut. Ditambah dengan kurangnya berbagai fasilitas umum untuk mewadahi kedua golongan masyarakat tersebut, maka masuklah proyek ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru. Dengan mewadahi berbagai aktivitas yang dapat menjembatani kesenjangan dalam masyarakat Jelambar Baru, ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru memiliki visi untuk mempersatukan kedua golongan masyarakat atas dan menengah kebawah, dengan berbagai aktivitas sosial yang dapat dilakukan bersama. Selain itu, ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru juga dapat menjadi sebuah tempat berkumpul bagi seluruh masyarakat kelurahan Jelambar Baru sebagai sebuah Third Place dalam masyarakat. Berinteraksi dengan masyarakat Jelambar Baru, melakukan observasi, survey, dan analisis, dapat diambil sebuah program yang optimal untuk menarik dan mempersatukan kedua golongan masyarakat Jelambar Baru, sehingga proyek Open Architecture dapat menjadi tempat kegiatan yang beragam, dan juga ruang publik bagi seluruh golongan masyarakat.
PUSAT OLAHRAGA KEMBANGAN SELATAN Adi Subrata; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4550

Abstract

Higher mobility in an area with technological developments that continue to increase in the future, to eliminate stress is carried out by a variety of activities, one of which is sports. Apart from maintaining fitness, exercise can also be used as a stress reliever. Sports that are of interest to millennials are now one of the liberating sports. Millennial characters taken by individuals that have an impact on the type of sport being played. Buildings are designed to suit millennial needs for the type of exercise, focusing on selected exercise programs can help relieve stress in millennials, as well as helping and helping others in carrying out activities. Apart from that a new type of sport in the building that can provide a new face from the public Sports Facility in the community. Space is designed from contextual results and site analysis produces a form of space that effectively increases chemicals with the region.AbstrakMobilitas yang tinggi dalam suatu kawasan serta perkembangan teknologi yang terus terjadi secara pesat dinilai mempengaruhi kondisi stress pada milenial. Untuk menghilangkan stress tersebut dapat dilakukan berbagai macam kegiatan salah satunya adalah olahraga. Selain sebagai penjaga kebugaran tubuh, olahraga juga dapat digunakan sebagai penghilang stress. Olahraga yang diminati kaum millenial sekarang salah satunya adalah olahraga yang bersifat hiburan. Karakter milenial yang cenderung individual tentunya berdampak terhadap jenis olahraga yang dimainkan. Proyek Pusat Olahraga Kembangan Selatan didesain dengan kesesuaian kebutuhan millenial terhadap jenis olahraga, pemfokusan terhadap program olahraga yang dipilih dapat membantu menghilangkan stress pada millenial, serta dapat sebagai hiburan dan tidak memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas. Jenis olahraga baru dalam bangunan diharapkan dapat memberikan wajah baru dari sebuah fasilitas olahraga umum di masyarakat.
RANCANGAN RUMAH BELAJAR DALAM KONSEP KESEHARIAN DI KAWASAN PADEMANGAN BARAT Yessica Fransisca; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10739

Abstract

Every human wants to pursue their goal of life that is reflected in their daily activities. How humans can survive with their existence is called dwelling. An architect plays some roles in building and designing places or buildings for accommodating human activities as the term of dwelling. As the economics and employment getting worse and the high standard of living being added in Jakarta, also the increasing values of necessities causing the number of mendicant people in Jakarta getting more in numbers. Education development is a priority because the development of the nation can be seen from the development of education. Everydayness is used as a design approach method. This direction is to produce a work in a more humane architecture. Where an architect designs an architectural work by analyzing how everyday life is and what human needs are needed. As an area that lacks educational facilities, especially educational facilities for underprivileged children. The provision of Rumah Belajar in non-formal education programs is intended for underprivileged children who are experiencing poverty conditions in the West Pademangan area. Rumah Belajar becomes a second home for children, where they spend their daily time and also as a place to serve some purposes in a child's life. In this place, children have the opportunity to find a place for their world through the attainments of living things related to dwelling. The concept of the Rumah Belajar is to establish a sustainable life as a system. So that users in this Rumah Belajar can carry out the purpose of dwelling, in the form of building in the architecture context. The architecture will determine as a sustainable system and materials, which can help the future of life. Keywords:  dwelling; future; life; rumah belajar AbstrakManusia tidak terlepas dari kegiatan ataupun aktivitas kesehariannya untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupannya. Bagaimana manusia dapat bertahan hidup dengan eksistensinya yang disebut berhuni. Dalam hal berhuni, arsitek berperan dalam membangun dan merancang suatu tempat atau bangunan untuk mewadahi kegiatan manusia tersebut. Semakin sulitnya perekonomian dan lapangan kerja ditambah lagi dengan tingginya taraf hidup di Jakarta, serta naiknya harga berbagai kebutuhan pokok mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin di Jakarta. Pembangunan pendidikan seharusnya diutamakan karena suatu kemajuan bangsa dapat dilihat dari kemajuan pendidikan. Metode perancangan arahan yang digunakan adalah everydayness. Arahan ini adalah menghasilkan sebuah karya dalam arsitektur yang lebih manusiawi. Di mana seorang arsitek mendesain sebuah karya arsitektur dengan menganalisa bagaimana kehidupan keseharian dan juga kebutuhan apa yang diperlukan bagi manusia tersebut. Pademangan Barat merupakan salah satu kawasan yang masih kurangnya fasilitas pendidikan khususnya bagi anak-anak yang kurang mampu. Penyediaan Rumah Belajar dalam cangkupan pendidikan non-formal ini diperuntukkan untuk anak-anak yang kurang mampu yang mengalami kondisi kemiskinan di kawasan Pademangan Barat. Rumah Belajar menjadi rumah kedua bagi anak-anak, di mana mereka menghabiskan keseharian waktunya dan juga sebagai tempat untuk melayani sejumlah tujuan dalam kehidupan seorang anak. Dalam Rumah Belajar ini anak-anak berpeluang untuk menemukan tempat mereka di dunia ini melalui pencapain makhluk hidup terkait dengan berhuni. Konsep dari Rumah Belajar ini adalah menetapkan kehidupan dan sistem yang berkelanjutan, sehingga pengguna dalam Rumah Belajar ini dengan menjalankan tujuan dalam berhuni, namun pada bangunan dalam konteks arsitektur menetapkan sistem dan penggunaan material yang berkelanjutan, yang nantinya dapat membantu untuk kehidupan di masa depan.
PAWON JELAMBAR SEBAGAI TEMPAT KULINER DAN THIRD PLACE DI JELAMBAR DENGAN PENDEKATAN PERANCANGAN GREEN CONTEMPORARY DESIGN Charles Darwin; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8529

Abstract

Jelambar, Grogol Petamburan, with Jelambar Baru and Wijaya Kusuma, are one united district with a high density of residential population, that have hobby and habit on culinary business, that form many culinary centers and spread unevenly until Jelambar that caused Jelambar to have no culinary center like other districts have. Pawon Jelambar is designed to resolve issues of Jelambar that has no third place that needed by the district with a high density of population; also the low intensity of culinary. However, there are so many neglected small culinary businesses, because of many factors, one of them is a less strategic location. Pawon Jelambar wants to realize Jelambar’s unconsciously need of forming a place of culinary that integrated and has a clarity, by substitute all the small culinary businesses with Pawon Jelambar, with the purpose to increase culinary needs quality of Jelambar. This project is designed through designing stages as a method of design, such as understanding the district segment of Grogol Petamburan; arranging a diagram of issues of Jelambar and issues solving concept; design concept as the result of questionnaire answers analysis; zoning and space programs; analysis of project’s site determination; site analysis. All these analyses form building mass concepts; exterior and interior design; architectural details. The design result is Pawon Jelambar that uses the design concepts, such as green contemporary design, form and function runs together, and contextualism in responding site; with variants of culinary, mini market, culinary workshops, temporary exhibition, and food gallery, as the main architectural programs. Keywords: Architecture; Culinary; Jelambar; Pawon Jelambar; Third place AbstrakJelambar, Grogol Petamburan, bersama Jelambar Baru dan Wijaya Kusuma adalah satu-kesatuan kawasan padat penduduk hunian yang memiliki hobi dan kebiasaan berdagang kuliner, sehingga muncul beberapa pusat-pusat kuliner, namun penyebarannya tidak merata sampai Jelambar, sehingga Jelambar tidak memiliki sebuah pusat kuliner layaknya di titik kawasan lain. Proyek Pawon Jelambar dirancang untuk mengatasi isu-isu yang diangkat, yaitu tidak adanya third place yang menjadi kebutuhan padat penduduk Jelambar; dan intensitas rendah kuliner, namun banyak usaha kuliner kecil yang dibangun warga, tetapi banyak yang mati karena faktor tertentu, seperti lokasi yang kurang strategis. Pawon Jelambar ingin mengwujudkan keinginan tidak sadar Jelambar dalam membentuk sebuah tempat kuliner yang terintegrasi dan jelas, salah satunya dengan cara mensubstitusikan usaha-usaha kecil kuliner tersebut dengan Pawon Jelambar, yaitu untuk meningkatkan kualitas kebutuhan kuliner di kawasannya. Metode perancangan menggunakan serangkaian tahapan perancangan, yaitu pemahaman segmen kawasan Grogol Petamburan; penyusunan diagram isu kawasan dan konsep penyelesaian isu; konsep perancangan hasil analisis jawaban kuisioner; zoning dan program ruang; analisis pemilihan tapak; analisis tapak; menghasilkan konsep massa bangunan; desain eksterior, interior, dan detail arsitektur. Kesimpulan hasil perancangan adalah Pawon Jelambar yang menerapkan konsep green contemporary building design (sustainable architecture), form and function runs together, dan contextualism in responding site; dengan program utama tempat varian kuliner, mini market, pelatihan kuliner, eksibisi temporer dan food gallery.
SENTRA UMKM MODE Agatha Lavinia; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10717

Abstract

Dwelling is a human respond for tha changes, but not all humans are ready for it. Humans who are not compatible enough will unable to compete with who are ready to take advantages for the changes especialy techologhy related. Likewise with the problem that accured in Tanah Sereal, Tambora, West Jakarta. Tanah Sereal has has many problem, one of wich isdie to the scattered location of the production house conduce limited opportunity for the buyers to determine existing production house. Apart from that, the pandemic effect the sales rate to decrease in Tanah Sereal. This leads manya production houses to change to online trading. Online Trading creates new problem for buyers because of the items are personalized they need to be tried on. To respond of these problem, it is necessary to agglomerate the production houses to make it easier for the prospective buyer to choose existing sellers. It also provide opportunities for buyers to try the purchased item so that fashion MSME center are creates. The choses theory is in the form of study of dwelling according to Christian Norbrg-Schulz, job training, MSMEs, and MSME centers. Desain method that is used is analysis-synthesis method based on region data and community activity patterns in Tanah Sereal. With fashion MSME center, it is hoped to solve the distribution location of production houses, provide conectivitu between visitors and production hoises to improve the image of Tanah Sereal. Keywords: Convection; Dwelling; Fashion MSME Center; Tanah Sereal AbstrakBerhuni merupakan cara manusia untuk merespon perubahan yang ada, namun tidak semua manusia siap akan adanya perubahan tersebut. Manusia yang tidak siap beradaptasi dengan kecanggihan teknologi akan kalah bersaing dengan manusia yang siap memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Demikian halnya dengan permasalahan yang terjadi di daerah Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat. Tanah Sereal memiliki banyak permasalahan salah satunya adalah dikarenakan lokasi rumah produksi yang tersebar menyebabkan membatasi kesempatan pembeli menentukan rumah produksi yang ada. Selain dari itu, pandemi mempengaruhi tingkat penjualan konveksi di tanah sereal hingga menurun. Hal ini menyebabkan banyak pedagang beralih ke perdagangan online. Perdagangan online menimbulkan masalah baru bagi bara pembeli karena barang yang dibeli bersifat personal sehingga butuh dicoba. Dalam merespon kedua permasalahan tersebut dibutuhkan pengelompokan rumah produksi untuk memudahkan pembeli memilih penjual yang ada dan memberikan kesempatan bagi pembeli mencoba barang yang dibeli sehingga sentra UKM mode tercipta. Kajian teori yang dipilih berupa kajian mengenai terori dwelling menururt Chistian Norberg-Schulz, teori everydayness, pelatihan kerja, UMKM, dan sentra UMKM. Metode perancangan yang dilakukan menggunakan metode analisis-sintesis berdasarkan data kawasan dan pola kegiatan masyarakat di Tanah Sereal. Dengan adanya sentra UMKM mode diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebarnya rumah produksi, memberikan konektivitas antar pengunjung dengan rumah produksi sehingga dapat meningkatkan citra kawasan Tanah Sereal.
ARENA OLAHRAGA BULUTANGKIS CENGKARENG Ratna Chandra; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3813

Abstract

Olahraga bulutangkis Indonesia kini sedang menjadi sorotan berbagai pihak.Prestasinya yang menurun membuat peminat bulutangkis tanah air berkurang. Padahal olahraga bulutangkis merupakan olahraga andalan Indonesia. Dengan menurunnya peminat bulutangkis ini menyebabkan regenerasi atlet menjadi lambat sehingga menambah keterpurukan bulutangkis Indonesia. Proyek ini memiliiki tujuan agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas di kemudian hari.Berikut tujuan pembangunan proyek Arena pertandingan bulutangkis adalah Memberikan fasilitas pertandingan dan latihan bulutangkis ,Sebagai wadah klub klub bulutangkis yang tidak mempunyai fasilitas,Membantu mengajak anak anak usia ideal untuk lebih mengenal olahraga bulutangkis. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang menjelaskan dan memaparkan data – data yang telah dikumpulkan,berdasarkan fakta fakta yang ada kemudian dianalisis dan menghasilkan kesimpulan.Data yang diperlukan dalam perencanaan arena bulutangkis adalah data primer dan data sekunder.Konsep saling menindih diterapkan pada bentuk bangunan yang di ambil dari bentuk shuttercock, Stadium terbagi dalam 3 area , yaitu area asrama,area publik dan area pertandingan sehingga tidak mengganggu antar aktifitas. Adanya pengklasifikasian pengunjung dan atlet juga membawa kenyamanan bagi masing masing pihak.Proyek ini menampung 3500 penonton , dengan area pertandingan dengan standart nasional. Untukmemacu dan membangkitkan antusiasme masyarakat terhadap olahraga bulutangkis.

Page 41 of 134 | Total Record : 1332