cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
STUDI PENYEDIAAN FASILITAS DAN PERKEMBANGAN KOTA BARU DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBUTUHAN PENGHUNI (STUDI KASUS : KOTA HARAPAN INDAH, BEKASI) Della Miyono; Sylvie Wirawati; I G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12818

Abstract

Kota Harapan Indah (KHI) is one of the residential areas located on the eastern border of Jakarta that being developed with the concept of a new town. KHI has a total land area of 2.200 Ha and 700 Ha has been developed into a residence equipped with various facilities. Currently, there are 32 residential clusters and 1 non-cluster that are already in operation and will continue to grow given the presence of vertical residential projects in 2019 and an increase in the number of residential clusters in 2020. As a new town, the addition of occupancy that occurred in KHI is important to be balanced with the appropriate number of facilities in order to support ongoing residential activities. However based on the current observations, it is suspected that the number of resident that continues to grow in KHI has not been matched by the number of appropriate facilities. This study aims to see the development of KHI and find out whether the development and provision of facilities carried out at KHI has met the needs of the residents of the area. The methods used in this study are the timeline, comparative, and correlation method. There are four analyzes carried out in this study, namely analysis of the development of KHI, analysis of residential development, analysis of development and provision of facilities and lastly is correlation analysis between residential development and the addition of facilities in KHI. The results of this study show the development of KHI during two development periods, where in the first period it developed towards the south of the KHI area and in the second period it leads to the north, also shows that the provision of facilities at KHI had mostly met the standards of providing city facilities. Keywords: facilities; new town; development; provision; correlationAbstrakKota Harapan Indah (KHI) merupakan salah satu kawasan permukiman berlokasi di perbatasan timur Jakarta yang dikembangan dengan konsep kota baru. KHI memiliki total luas lahan sebesar 2,200 Ha dan sebesar 700 Ha sudah dikembangkan menjadi hunian yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Saat ini terdapat 32 cluster dan 1 non-cluster hunian yang sudah beroperasi dan akan terus bertambah melihat adanya proyek hunian vertikal pada tahun 2019 dan ada penambahan jumlah cluster hunian pada tahun 2020. Sebagai sebuah kota baru, penambahan hunian yang terjadi di KHI penting untuk diimbangi dengan jumlah fasilitas yang sesuai agar dapat mendukung kegiatan hunian yang berlangsung. Namun berdasarkan hasil pengamatan saat ini, diduga jumlah hunian yang terus berkembang di KHI belum diimbangi dengan jumlah fasilitas yang sesuai. Studi ini bertujuan untuk melihat perkembangan KHI dan mengetahui apakah perkembangan juga penyediaan fasilitas yang di lakukan di KHI sudah memenuhi kebutuhan penghuni kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode timeline, metode komparatif, dan metode korelasi. Terdapat empat analisis yang dilakukan dalam studi ini yaitu analisis perkembangan KHI, analisis perkembangan hunian, analisis perkembangan dan penyediaan fasilitas dan analisis hubungan perkembangan hunian dengan penambahan fasilitas di KHI. Hasil dari studi ini memperlihatkan perkembangan KHI selama dua periode pengembangan, dimana pada periode pertama berkembang mengarah ke selatan wilayah KHI dan pada periode kedua mengarah ke utara, juga menunjukan bahwa penyediaan fasilitas di KHI sebagian besar sudah memenuhi standar penyediaan fasilitas kota.  
PENERAPAN ARSITEKTUR EKOLOGIS DAN SUSTAINABLE PADA RUANG DAUR ULANG DAN REKREASI SAMPAH DI DADAP Leah Alifahni; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12375

Abstract

Recycling is the process to turn waste into new materials that can be reused and utilized. The most numerous and difficult types of garbage to decipher one of them is plastic and cans. The building of the Waste Recycling and Recreation Center aims to reduce the waste that is in Dadap then will be recycled (plastic and cans) that have been selected, then used as building materials to be sold and as a new experience in learning, which applies the waste in the form of temporary exhibition like in recreation. And it is expected to prosper people's lives in the economy. The waste management strategy itself consists of 4 main activities, namely, sorting, collection, processing, and distribution (production results) of the main components in recycling as well as the 4R hierarchy (reduce, reuse, recycle, and replace). In addition to recycling and recreation, other supporting programs include education and RTH. The project uses design methods by applying 5 principles of ecological architecture (utilization of climate potential, provision of RTH, local materials (application of 3/4R), water management. Land, and sustainable air and community space). Keywords: Education; Public Space; Recreation; Types of Waste; Waste Recycling;3-4R AbstrakDaur ulang adalah proses mengolah sampah menjadi bahan baru yang bisa digunakan kembali dan dimanfaatkan. Jenis sampah yang paling banyak dan sulit diuraikan salah satunya adalah plastik dan kaleng. Bangunan Daur Ulang dan Rekreasi sampah ini bertujuan untuk mengurangi sampah yang berada di Dadap kemudian akan didaur ulang (plastik dan kaleng) yang sudah dipilih, lalu dijadikan material bangunan yang akan dijual serta sebagai pengalaman baru dalam pembelajaran, yang dimana mengaplikasikan sampah tersebut dalam bentuk temporari exhibition pada rekreasi. Dan diharapkan bisa mensejahterakan kehidupan masyarakat dalam perekonomian. Strategi pengelolaan sampah itu sendiri terdiri atas 4 kegiatan utama yaitu, pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, dan pendistribusian (hasil produksi) komponen utama dalam daur ulang serta hierarki 4R (reduce, reuse, recycle, and replace). Selain daur ulang dan rekreasi, program pendukung lainnya berupa edukasi dan RTH. Proyek ini menggunakan metode perancangan dengan menerapkan 5 prinsip arsitektur ekologis (pemanfaatan potensi iklim, penyediaan RTH, material lokal (penerapan3/4R), pengelolaan air, tanah, dan udara berkelanjutan dan ruang masyarakat). 
CO-LIVING DENGAN KONSEP ECO-BUILDING UNTUK ERA PANDEMI HINGGA PASCA-PANDEMI Nathanael Hizkia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12447

Abstract

The Covid-19 pandemic (corona virus disease) which is still ongoing today has an impact on all aspects and lifestyles of people globally. The changes that have occurred have made a paradigm shift in life, both during the pandemic, or after the pandemic ended. Through this pandemic, people have also learned that home is an important place for life, both with all the advantages and disadvantages in it. This project aims to meet the community's need for a place to live that is flexible and does not give the impression of supporting residents of the pandemic and after the pandemic, while still paying attention to the safety of the residents. The method used is a qualitative method by examining: the theory of resilience; and green building theory. The final conclusion is that this project is available to provide co-living apartments that are safe, comfortable, flexible, responsive to pandemics to post-pandemic, and buildings that implement eco -building. The novelty in this project is to create a residence that can adapt to conditions during the pandemic and after the pandemic with eco-building concept. Keywords: co-living; covid-19; eco-building; resilience; pandemic AbstrakPandemi Covid-19 (coronavirus disease) yang masih berlangsung hingga saat ini sudah berdampak bagi semua aspek dan gaya hidup masyarakat secara global. Perubahan yang terjadi membuat adanya pergantian paradigma kehidupan, baik saat pandemi masih berlangsung, ataupun setelah pandemi berakhir. Melalui pandemi ini, masyarakat juga belajar bahwa rumah merupakan tempat yang penting bagi kehidupan, baik dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalamnya. Proyek ini bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang fleksibel dan tidak memberi kesan mengukung penghuni selama pandemi maupun setelah pandemi, dengan masih memperhatikan keamanan penghuni. Metode yang digunakan adalah dengan metode kualitatif dengan meneliti : teori ketahanan; dan teori eco-building. Kesimpulan akhirnya adalah proyek ini dimaksudkan untuk menyediakan apartemen co-living yang aman, nyaman, fleksibel, tanggap pandemi hingga pasca pandemi, dan bangunan yang menerapkan eco-building. Kebaruan yang ada pada proyek ini adalah menciptakan sebuah hunian yang bisa beradaptasi dengan keadaan saat pandemi maupun setelah pandemi dengan berkonsep eco-building.
STRATEGI PENGELOLAAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN DAYA TARIK PASAR SENI ANCOL Yudhistira Pratama; Sylvie Wirawati; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12891

Abstract

The market is generally known to the public as a place for transactions between sellers and buyers. However, there is a different market than usual, namely the Ancol Art Market which is part of a tourist destination. This art market is a place intended for artists to collaborate and get public appreciation. In addition, it is also intended as a Recreative and Educational Public Open Space for the community to carry out activities and gather. Ancol Art Market was once so popular and attracted local tourists as well as foreign tourists. However, along with technological developments and trends, the way people appreciate art has changed. Until now, arts and cultural activities there are less highlighted and promoted. Therefore, the main objective of this research is to propose a management strategy in increasing the attractiveness, promotion and determination of the appropriate brand image in order to increase public interest in the Ancol Art Market. In addition, the development of this tourist attraction is expected to be able to improve the economy of artists/craftsmen in it and educate the public about art and culture. This research is a descriptive research with a qualitative approach. Qualitative data collection was carried out by conducting field surveys to tourist sites and in-depth interviews with several related sources. This research has obtained results in the form of proposed management strategies that can be used in increasing the attractiveness, promotion and determination of the Ancol Art Market brand image. Keywords : Art market; Attractiveness; Management Strategy; Promotion; Tourism Management AbstrakPasar umumnya dikenal masyarakat sebagai tempat transaksi antara penjual dan pembeli. Namun terdapat pasar yang berbeda dari biasanya, yaitu Pasar Seni Ancol yang merupakan bagian dari destinasi wisata. Pasar seni ini merupakan wadah yang diperuntukan bagi seniman untuk bisa berkolaborasi dan mendapat apresiasi publik. Selain itu, juga ditujukan sebagai Ruang Terbuka Publik yang Rekreatif dan Edukatif bagi masyarakat dalam beraktifitas dan berkumpul.  Pasar Seni Ancol dahulu pernah begitu populer dan menarik minat wisatawan lokal juga wisatawan mancanegara. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan trend, cara masyarakat dalam mengapresiasi seni telah berubah. Hingga saat ini kegiatan seni dan budaya di sana kurang di sorot dan dipromosikan. Oleh sebab itu tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan usulan strategi pengelolaan dalam meningkatkan daya tarik, promosi dan penentuan brandimage yang sesuai guna meningkatkan minat masyarakat terhadap Pasar Seni Ancol. Selain itu, berkembangnya objek wisata ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian seniman/pengrajin di dalamnya dan mengedukasi masyarakat mengenai kesenian dan budaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi wisata dan wawancara mendalam dengan beberapa narasumber terkait. Penelitian ini telah mendapatkan hasil berupa usulan strategi penglelolaan yang dapat digunakan dalam meningkatkan daya tarik, promosi dan penentuan brand image Pasar Seni Ancol.
(STUDI KASUS: TAMAN MENTENG, JAKARTA PUSAT) Rizqi Kusumaningrum Henuhili; Sylvie Wirawati; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12851

Abstract

Taman Menteng is one of the city parks in DKI Jakarta, located on HOS Cokroaminoto street and has an area of 24,546 m2. Taman Menteng is known as the city park that has many facilities. Ranging from sports courts, children's playground, toilets, places of worship, parking lots, to two cultural halls (greenhouses). Unfortunately, menteng park has not been revitalized since it's establishment, in 2007. This may reduce the satisfaction of visitors. As for the purpose of this study, it is (1) to know the role of menteng park on its surroundings,(2) to know the characteristics of visitors, (3) to know the availability of Taman Menteng facilities for visitors' satisfaction, and (4) to know what facilities to add or reduce. This research is using quantitative approach. The number of samples in this study is 160. The Importance Performance Analysis (IPA) method is the method of analysis used for the study. The results of the study shows that Taman Menteng visitors still find little satisfaction in some of the existing facilities - toilets, dumpsters, ramp, children’s playground, pavements, sports courts, and the calisthenics area. Keywords: Facilities; Taman Menteng; Visitor satisfactionAbstrakTaman Menteng yang merupakan salah satu taman kota di DKI Jakarta, terletak di Jalan HOS Cokroaminoto dan memiliki luas sebesar 24.546 m2. Taman Menteng dikenal sebagai taman kota yang memiliki banyak fasilitas. Mulai dari lapangan olahraga, taman bermain anak, toilet, tempat ibadah, gedung parkir, hingga dua ruang serbaguna (rumah kaca). Sayangnya, Taman Menteng belum pernah direvitalisasi sejak pertama dibangun, yaitu tahun 2007. Hal ini bisa saja mengurangi kepuasan pengunjung. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui peran Taman Menteng terhadap lingkungan sekitarnya, (2) mengetahui karakteristik pengunjung, (3) mengetahui pengaruh ketersediaan fasilitas Taman Menteng terhadap kepuasan pengunjung, dan (4) mengetahui fasilitas apa yang harus ditambah atau dikurangi. Penelitian ini menggunakan menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 160 responden. Metode Importance Performance Analysis (IPA) merupakan metode analisis yang digunakan untuk penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah pengunjung Taman Menteng masih kurang puas terhadap beberapa fasilitas yang ada, yaitu toilet, tempat sampah, ramp, area bermain anak, perkerasan, lapangan olahraga, dan area calisthenics.
LIVING MUSEUM MUSTIKA RASA NUSANTARA DI PEKOJAN JAKARTA UTARA Jeremy Vincent; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12472

Abstract

A museum is a place to store, and maintain a collection of objects that have cultural value. The museum has a function as a place to provide information on a culture for public education and research. However, most of the collections of objects in a museum are inanimate objects that only have one-way interaction, so they tend to be less attractive to the public because they feel bored and monotonous. This challenge begin with how the architecture can accommodates all museum activities, but in the live versions. Even if only video documentation is made, the experience of the practical activities will be felt, because only the video itself is a documentation that can only be viewed and interacted in one direction only. Thus, a concept called a living museum was born, a type of museum that invites visitors to interact and feel the events of a two-way cultural period with the objects that are in their collection. Keywords:  culture ; cooking ; diversity ; living museumAbstrak Museum adalah tempat untuk menyimpan, mengamankan, serta merawat koleksi sebuan benda yang memiliki nilai kebudayaan. Sehingga museum memiliki fungsi sebagai tempat menyediakan informasi suatu kebudayaan untuk edukasi dan penelitian masyarakat. Namun kebanyakan koleksi benda di suatu meseum adalah benda mati hanya memiliki interaksi satu arah, sehingga cenderung kurang diminati oleh masyarakat karena terasa bosan dan monoton. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bila ingin membuat museum yang memilih tema kuliner sebagai ekshibisinya, karena kegiatan seperti memasak, penataan makanan, hingga cara memakanya adalah kegiatan praktek yang sulit sekali dibuat lisan. Bahkan bila hanya dibuat dokumentasi video, pengalaman akan kegiatan praktek itu akan sulit dirasakan, karena hanya video sendiri adalah dokumentasi yang hanya bisa dilihat, dan berinteraksi satu arah saja. Sehingga tercetuslah suatu konsep yang bernama living museum/museum hidup, suatu jenis museum yang mengajak pengunjung untuk berinteraksi dan merasakan kejadian suatu periode kebudayaan dua arah dengan benda yang menjadi koleksinya.
BALI - PUSAT FASHION NUSANTARA : MERUANGKAN WARISAN BUDAYA SEBAGAI SLOW FASHION Felix Suanto; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12372

Abstract

Clothing or Fashion is a part of 3 primary human needs which are a requirement for survival. Initially, clothing is an object that is produced to fulfill a human need; produced in a sustainable, eco-friendly, ethical, and green manner. And this phenomenon is called Slow Fashion. But along with the development of the world regarding speed and acceleration (Dromology), in the world of fashion a new phenomenon arises, namely Fast Fashion. Fast Fashion, a mass production of disposable clothes with low prices and quality. This phenomenon changes consumerism in the fashion industry, where at low prices, consumers can keep abreast of trends and buy clothes for just a hobby. And as a result, these two phenomenon develop mutually and have a big impact on the condition of our ecosystem now; ranging from water pollution resulting from production waste, consumption of clean water in very large quantities, the accumulation of waste from old clothes, to deforestation to plant cotton trees. With the benefits and convenience that consumers get from Fast Fashion, the bad effects are ignored. Slow Fashion is not even an option anymore for people who have been influenced by fashion consumerism. As a result, Slow Fashion is increasingly being abandoned, and one of the products from Slow Fashion is; Nusantara Fashion. Then it takes the handling of an unhealthy fashion culture by taking a local approach, lifting cultural heritage values, so as to create a healthy fashion culture in the future. Keywords:  fashion; slow fashion; fast fashion; culture AbstrakPakaian atau Fashion merupakan sebuah bagian dari 3 kebutuhan primer manusia yang merupakan sebuah syarat untuk bertahan hidup. Pada awalnya, pakaian merupakan sebuah objek yang diproduksi untuk memenuhi sebuah kebutuhan manusia; diproduksi secara sustainable, eco-friendly, ethical, dan green. Dan fenomena tersebut dinamakan Slow Fashion. Tetapi seiring perkembangan dunia tentang kecepatan dan percepatan (Dromologi), pada dunia fashion timbul fenomena baru, yakni Fast Fashion. Fast Fashion, sebuah produksi massal pakaian dengan harga murah dan kualitas sekali pakai. Fenomena ini mengubah consumerism dalam fashion industry, dimana dengan harga yang murah, konsumen dapat terus mengikuti perkembangan tren, serta membeli pakaian untuk hanya sekedar hobi. Dan hasilnya, kedua fenomena itu saling berkembang secara mutual dan memberikan dampak besar terhadap kondisi ekosistem kita sekarang; mulai dari polusi air yang dihasilkan dari limbah produksi, konsumsi air bersih dalam jumlah yang sangat besar, akumulasi limbah pakaian yang sudah tidak terpakai, hingga deforestasi untuk menanam pohon kapas. Dengan benefit dan kenyamanan yang didapatkan konsumen pada Fast Fashion, dampak buruknya menjadi tidak dipedulikan. Slow Fashion bahkan bukan pilihan lagi bagi masyarakat yang sudah terpengaruh dengan fashion consumerism. Akibatnya Slow Fashion makin ditinggalkan, dan salah satu produk dari Slow Fashion adalah;  Fashion Nusantara.  Lantas dibutuhkan penanganan terhadap budaya fashion yang tidak sehat dengan mengambil pendekatan lokal, mengangkat nilai warisan budaya, sehingga tercipta budaya fashion yang sehat pada masa depan.
MENGENANG KOTA HILANG. KEMBALINYA HARMONI GLAGAHARUM SIDOARJO Shaellina Alfath Mauludy; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12405

Abstract

The Lapindo Mudflow is an environmental disaster caused by human activities that brings sorrow and misery to the victims and local residents, their story is now starting to be forgotten. Glagaharum village was chosen as the site for this project, because of the residents stories as the “Last Inhabitants” who chose to stay firm in their village alongside with the mud embankment, they chose to survive to preserve the memories of their lives in that village even though their livelihood were lost in the Lapindo Mudflow. This project aims to build awareness of the Lapindo Mudflow disaster as a lesson learned from human activities, remembering the struggle of the disaster victims in fighting for the rights and harmony that they used to get. Using narrative method inspired by R. Giryadi’s “Mengenang Kota Hilang” as the spatial program flow created in the Reminiscing Area. And then, using Social Practice Theory by Pierre-Felix Bourdieu to restore social harmony, that created Economy Area and Socio-Cultural Area as a space for residents to gather, make and sell ceramic art from Lapindo Mudflow which became the new livelihood of local residents. And the provision of mud filtration and clean water that can be used by local residents. This project has 4 out of 6 parameters “Beyond Ecology” namely Adaptation, Resilience, Sustainable Digital, and Context. A project that becomes hope as the final destination of all the problems felt by disaster victims, and as a place where they can always keep their memories.  Keywords:  Beyond Ecology; Lapindo Mudflow; Reminiscing; Sidoarjo; The Lost City. AbstrakLumpur Lapindo merupakan bencana alam akibat ulah manusia yang membawa kesedihan dan keterpurukan bagi korban dan warga sekitar, kisah mereka yang kini semakin hari semakin terlupakan. Desa Glagaharum dipilih karena kisah warganya sebagai “Penghuni Terakhir” yang memilih bertahan pada desanya yang bersebelahan dengan tanggul lumpur, memilih bertahan untuk menjaga kenangan kehidupan mereka yang tumbuh besar di desa ini meski mata pencahariannya hilang dalam Lumpur Lapindo. Proyek ini dibuat untuk membangun kenangan kejadian bencana alam Lumpur Lapindo sebagai pembelajaran akibat ulah manusia, mengenang perjuangan para korban bencana dalam memperjuangkan hak dan keharmonian yang mereka dulu dapatkan. Menggunakan metode narasi yang dilatar belakangi oleh cerita pendek R. Giryadi “Mengenang Kota Hilang” sebagai alur program ruang yang tercipta pada Area Mengenang. Lalu, penggunaan Teori Parktik Sosial oleh Pierre-Felix Bourdieu untuk mengembalikan harmoni sosial, menciptakan Area Ekonomi dan Area Sosial-Budaya sebagai ruang warga untuk berkumpul, membuat dan menjual karya seni keramik dari Lumpur Lapindo yang menjadi mata pencaharian baru warga setempat. Dan adanya penyediaan filtrasi lumpur dan air bersih yang dapat digunakan oleh warga sekitar. Proyek ini memiliki 4 dari 6 parameter “Melampaui Ekologi” yaitu, Adaptation, Resilience, Sustainable Digital, dan Context. Proyek yang menjadi harapan sebagai tempat tujuan akhir dari semua permasalahan yang dirasakan oleh para korban bencana, dan sebagai tempat yang dapat selalu menjaga kenangannya.
PENDEKATAN KARAKTERISTIK TANAMAN DALAM PERANCANGAN ARBORETUM Michael Vincent; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12337

Abstract

Indonesia is rich in various types of diverse flora. However, due to the fact that most of the land that becomes the media and source of livelihood for plants is decreasing due to the interests of humans to build buildings, it threatens the sustainability of plants, especially in big cities and their surroundings (Fabian and Malte 2011). Even though the existence of vegetation has an important role in the balance of nature in its environment. So that damage or loss of a number of vegetation varieties is a threat to organisms in the environment. In today shows that the plant varieties already experiencing scarcity of rare status with low risk (least concern) to extinction (extinct) (IUCN). Conservation efforts are needed for the existence of flora varieties with conservation. Ex-situ conservation facilities in urban areas for plant conservation include preservation, protection, and controlled use resulting in new ecosystems. Botanical preservation also requires awareness from a human point of view. Humans are creatures that have the most influence on natural life. Everyday humans interact with the natural environment, one of which is with plants. From this interaction, humans can have a negative or positive impact on the plant environment. Which means, as a part that has an impact on the plant environment, humans have an important role in determining attitudes to preserve plants according to their capacity in life. By stimulating and understanding the preservation of plants, humans take part in a role that has a big influence on the preservation of botany. Keywords:  Arboretum; Botany; Edutainment; ConservationAbstrakIndonesia kaya akan berbagai jenis flora yang beraneka ragam. Tetapi akibat sebagian besar lahan yang menjadi media dan sumber penghidupan tumbuhan semakin sedikit akibat kepentingan manusia membangun bangunan, sehingga mengancam kelestarian tumbuhan terutama di kota besar dan sekitarnya (Fabian dan Malte 2011). Padahal eksistensi vegetasi memiliki peran penting dalam keseimbangan alam di lingkungannya. Sehingga rusak atau hilangnya sejumlah varietas vegetasi merupakan ancaman bagi organisme di lingkungannya. Di jaman sekarang terlihat bahwa varietas tumbuhan sudah mengalami status kelangkaan dari langka dengan resiko rendah (least concern) sampai punah (extinct) (IUCN). Diperlukannya upaya pelestarian terhadap eksistensi varietas flora dengan adanya konservasi. Fasilitas pelestarian tanaman secara ex-situ mencakup perawatan, perlindungan, dan pemanfaatan yang terkontrol sehingga terjadi ekosistem baru. Pelestarian botani juga membutuhkan kesadaran dari segi manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling berpengaruh terhadap kehidupan alam. Sehari-harinya manusia berinteraksi dengan lingkungan alam, salah satunya dengan tumbuhan. Dari interaksi tersebut, manusia dapat memberikan dampak negatif maupun positif terhadap lingkungan tumbuhan. Yang artinya, sebagai bagian yang memiliki dampak terhadap lingkungan tumbuhan, manusia memiliki peranan penting dalam menentukan sikap untuk melestarikan tumbuhan sesuai kapasitasnya di kehidupan. Dengan stimulasi dan pemahaman mengenai pelestarian tumbuhan, manusia ikut mengambil peran yang memberikan pengaruh besar terhadap kelestarian botani. 
KONSERVASI TERUMBU KARANG SEBAGAI UPAYA MENJAGA EKOSISTEM DI LAUT Jason Wirawan Ruslie; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12309

Abstract

Global warming has been a problem for years, and its impacts are spread around every aspects of life especially to the ecosystems of earth. One of the biggest threat is affecting sea ecosystem, which quality is being gradually downgraded because of ocean accidification. The acidification cause coral reefs to die of coral whitening, making the marine biotas lose their habitat. The coral reef issue also affects social life of people around the world, especially Indonesia, a maritime country. There are already a lot of damaged ecologies because of human behaviours. That being said, a beyond ecology respond is an urgency, along with radical methods. One of the solutions is to conserve the coral reefs in Kepuluan Seribu which  known is having a lot of coral reefs. Repairing the coral reefs will multiply the organisms which also indirectly repairing the impacts of sea accidification. The method used in the design process is biomorphic method, the nature is becoming the base guideline of every design aspects. The aspects included in the guideline are the physical features, behaviours, and also responses of a nature object. Strategic and sustainable coral reef conservation are the baseline used here, for it is the main focus to be solved. From the theoritical baseline used, there are few programs being realized in shapes and forms, which are the coral reefs conservation and education facility. There is also other program such as the seafood market to support people’s economy. The contribution to preserve the sea ecosystem will be done through coral reef conservation in Pari Island, which has a lot of potential because of the wide variety of coral reefs, but is having a problem because of human behaviours. This project of coral reefs conservation facility is not only actively conservate and doing research about coral reefs, but also trying to raise the Indonesians’ awareness about coral reef, which is a valuable asset to tourism aspect of Indonesia. Keywords:  Ecology; Coral reefs; Conservation; Sea ecosystem; Sea acidification AbstrakPemanasan global menjadi masalah yang sudah lama terjadi, dan berdampak pada sangat banyak aspek kehidupan khususnya pada ekosistem-ekosistem yang ada di bumi. Salah satu dampak yang paling besar adalah terhadap ekosistem laut, yang kualitasnya terus semakin menurun dikarenakan pengasaman laut yang terjadi. Pengasaman laut mengakibatkan banyak terumbu karang rusak karena mengalami pemutihan, menjadikannya tidak dapat dihuni oleh biota-biota laut. Kerusakan terumbu karang ini juga mempengaruhi kesejahteraan sosial masyarakat dunia, khususnya Indonesia yang merupakan negara maritim. Ekologi sudah banyak rusak karena campur tangan manusia yang terus menerus, sehingga membutuhkan langkah penyelesaian yang melampaui ekologi, dengan cara-cara yang radikal. Salah satu solusi adalah melakukan konservasi terumbu karang di Kepulauan Seribu yang diketahui masih banyak memiliki terumbu karang. Perbaikan pada terumbu karang akan memperbanyak organisme-organisme yang secara tidak langsung memperbaiki dampak pengasaman laut yang terjadi. Upaya yang dilakukan dengan menggunakan metode perancangan biomorfik, yaitu menjadikan alam sebagai dasar pemikiran setiap proses desain. Aspek-aspek yang tercakup dalam dasar pemikiran tersebut adalah berupa bentuk karakteristik fisik, kebiasaan, dan juga respon suatu objek alam. Konservasi terumbu karang secara strategis dan berkelanjutan adalah dasar pemikiran yang digunakan disini, karena merupakan fokus yang diambil dari permasalahan yang ingin diselesaikan. Dari dasar pemikiran tersebut terdapat beberapa program yang diwujudkan dalam bentuk dan ruang, yaitu berupa fasilitas konservasi terumbu karang dan edukasi terumbu karang. Serta juga program lain seperti pasar hasil laut sebagai pendukung perekonomian masyarakat. Upaya penjagaan ekosistem laut dilakukan melalui konservasi terumbu karang di Pulau Pari, sebuah pulau yang memiliki potensi besar karena terumbu karang yang beragam, tetapi banyak rusak karena kurangnya tanggung jawab manusia. Proyek fasilitas konservasi terumbu karang ini bukan hanya secara aktif mengajak masyarakat melakukan konservasi dan riset mengenai terumbu karang, tetapi juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai terumbu karang, yang merupakan aset yang sangat penting bagi aspek pariwisata Indonesia.

Page 62 of 134 | Total Record : 1332