cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT INFORMASI TURIS DI KAMPUNG BATIK BABAGAN LASEM BERBASIS ECO-BATIK Natalia Lie Leonard; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12468

Abstract

This article examines the provision of tourism development facilities in Babagan Batik Village as a tourist information center. Ecological issues are the focus of this research. Kampung Batik Babagan is a home-based batik industry center with scattered batik production houses. This area does not yet have an information center as a forum for tourists to get complete information about the Babagan area. The Babagan Lasem Batik Village Tourist Information Center is designed as an ecological architectural solution in creating an eco-batik ecosystem and as a forum to accommodate and educate tourists and the public regarding information on the historical and cultural values of the Babagan area that are in accordance with the local environmental context. It is hoped that this project can improve the economy of local communities whose main livelihood is from batik by taking into account the impact on the environment. The literature studies used include ecological architecture, eco-batik, textile dyes, and the batik process in Lasem. The research method used is exploratory descriptive method, location and site analysis. From the results of the analysis, the building in the site is divided into two masses according to the function of the activities in it. The roof of the building uses a jurai roof as an adjustment to the tropical climate. The interior of the building is designed to allow interaction between visitors and the exterior is decorated with ornaments that characterize Babagan Batik Village. Keywords:  batik; ecolgy; education; information.AbstrakArtikel ini meneliti tentang penyediaan fasilitas pengembangan pariwisata di Kampung Batik Babagan sebagai pusat informasi turis. Isu ekologis menjadi konsentrasi dalam penelitian ini. Kampung Batik Babagan merupakan sebuah pusat industri batik rumahan dengan letak rumah produksi batik yang tersebar. Di kawasan ini belum memiliki pusat informasi sebagai wadah bagi turis untuk mendapatkan informasi yang lengkap tentang kawasan Babagan. Pusat Informasi Turis Kampung Batik Babagan Lasem dirancang sebagai solusi arsitektur ekologis dalam menciptakan ekosistem eco-batik dan menjadi wadah untuk mengakomodasi serta mengedukasi turis dan masyarakat mengenai informasi nilai sejarah dan budaya dari kawasan Babagan yang sesuai dengan konteks lingkungan setempat. Diharapkan proyek ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Kajian literatur yang digunakan meliputi, arsitektur ekologis, eco-batik, zat pewarna tekstil, dan proses pembatikan di Lasem. Metode penelitian yang digunakan, yaitu metode deskriptif eksploratif, analisis lokasi dan tapak. Dari hasil analisis tersebut, bangunan dalam tapak dibagi menjadi dua massa sesuai dengan fungsi kegiatan di dalamnya. Atap bangunan menggunakan atap jurai sebagai penyesuaian dengan iklim tropis. Bagian interior bangunan didesain agar terjadi interaksi antar pengunjung dan pada eksterior diberi ornamen yang mencirikan Kampung Batik Babagan.
PERLUASAN HUTAN KOTA DAN EXPLORATORIUM ALAM DI PAMULANG Fila Ferari; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12345

Abstract

Earth is home to all living things in it which consists of various kinds of forming elements such as water, air, soil, temperature, light, humidity, humans, flora, fauna, and others. Life is the result of the interaction between fellow living things with their environment, which is called ecology. Architecture exists as a place, habitat, and niche for all living things to develop and grow. Cities are evidence of human evolution in which they can meet all the needs of life, and without realizing this development has led to the overpopulation phenomenon. This goes hand in hand with the land crisis and the loss of urban forest (green open space) as a result of this phenomenon. This project aims to re-elevate and enhance the essence of urban forests and become green generators in cities experiencing green open space crises, in order to maintain the balance of ecosystems and the environment. This will be achieved by going beyond the role played by urban forests and humans in general to create a greater impact on life. This is facilitated by habitats for plants and animals, sports activities, study rooms, playgrounds, fishing, and etc. Keywords: environment;  exploratorium; green open space crisis; habitat; urban forestAbstrak Bumi merupakan rumah bagi semua makhluk hidup di dalamnya yang terdiri dari berbagai macam unsur pembentuk seperti air, udara, tanah, suhu, cahaya, kelembaban, manusia, flora, fauna, dan lain-lain. Kehidupan yang terjadi merupakan wujud hasil dari hubungan interaksi antara sesama makhluk hidup maupun dengan lingkungannya, yang disebut dengan ekologi. Arsitektur hadir sebagai wadah, habitat dan relung bagi semua makhluk hidup untuk berkembang dan bertumbuh. Kota merupakan bukti dari evolusi manusia yang di dalamnya dapat memenuhi semua kebutuhan kehidupan, dan tanpa disadari perkembangan ini mendorong terjadinya fenomena over population. Hal tersebut berjalan seiring dengan krisis lahan dan hilangnya hutan kota (RTH) akibat dari fenomena yang terjadi. Proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali dan meningkatkan esensi hutan kota, serta menjadi generator hijau di kota yang mengalami krisis RTH demi menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup. Hal ini dicapai dengan melampaui peran yang dimiliki oleh hutan kota dan manusia pada umumnya untuk menciptakan dampak yang lebih besar bagi kehidupan. Hal ini difasilitasi dengan habitat bagi tumbuhan dan hewan, kegiatan berolahraga, ruang belajar, bermain, memancing, dan sebagainya. 
NEO-KAJANG: SEBUAH TIPOLOGI BARU PEMUKIMAN EKOLOGIS BAGI KOMUNITAS SUKU LAUT Octaviany Octaviany; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12415

Abstract

The development of the city today is not all in a positive direction. urban growth that is too fast and unplanned, it can cause changes to lifestyle, knowledge, locality, identity, etc. The Sea Nomad is a community that is known to live on a canoe called a kajang. However, since the 1990s, the Sea Nomad has been placed in a marginal position and also does not know civilization and modernity, so it is categorized as an isolated Nomad. Therefore, the Sea Nomad became a target in the government's agenda, namely by limiting their access to the sea and building settlements for them. This forces the Sea Nomad to live a different lifestyle from the one they used to live, bringing themselves to a new awareness of "awareness as a landed Sea Nomad" and causing the emergence of new values, changes in spatial behavior (livehood, social organization, etc.). ). This project uses a hybrid method with parameters, namely the Symbiosis Philosophy of Sea Nomad and Beyond Ecology which are applied in the design. “Neo-Kajang” means “Beyond-Kajang”, Kajang is the term for where the Sea Nomad live, while “New typology of marine tribal ecological settlements” means adapting the journey and way of life of the Sea Nomad into a new typology to answer the challenges of the times. This project is also expected to be able to elevate the way of life of the Sea Nomad in the face of changing times where in fact the Sea Nomad is a real example of the philosophy of living efficiently and at peace with the environment, especially the maritime area.Keywords: beyond ecology; modernity; new typology; sea tribes.Abstrak Perkembangan kota sekarang ini tidak segalanya mengarah kearah positif. Karena pertumbuhan kota yang terlalu cepat dan tidak terencana dapat menimbulkan perubahan terhadap pola hidup, pengetahuan, lokalitas, identitas, dll. Suku Laut merupakan masyarakat yang dikenal biasa hidup di atas sampan yang dinamakan kajang. Namun sejak tahun 1990-an, Suku Laut ditempatkan pada posisi yang marjinal dan juga tidak mengenal peradaban dan modernitas, sehingga dikategorikan sebagai suku terasing. Oleh sebab itu, Suku Laut menjadi sasaran dalam agenda pemerintah, yaitu dengan membatasi akses mereka terhadap laut dan membuatkan pemukiman untuk mereka. Hal itu memaksa Suku Laut untuk menjalani pola hidup yang berbeda dengan yang dulu biasa mereka jalani, membawa diri mereka kepada kesadaran baru “kesadaran sebagai Suku Laut yang mendarat” dan menyebabkan munculnya nilai-nilai baru, perubahan spatial behavior (livehood, organisasi sosial, dll). Proyek ini menggunakan metode hibrida dengan parameternya, yaitu Filosofi Simbiosis Suku Laut dan Beyond Ecology yang diterapkan didalam perancangan. “Neo-Kajang” artinya “Melampaui-Kajang”, Kajang merupakan istilah dari tempat tinggal Suku Laut, Sedangkan “Tipologi Baru Pemukiman Ekologis Suku Laut”, berarti mengadaptasi perjalanan dan cara hidup Suku Laut ke dalam tipologi yang baru untuk menjawab tantangan zaman. Proyek ini juga diharapkan mampu mengangkat cara hidup Suku Laut dalam menghadapi perubahan zaman dimana sejatinya. Suku Laut merupakan salah satu contoh nyata tentang filosofi hidup effisien dan berdamai dengan lingkungan, khususnya wilayah kemaritiman.  
ARSITEKTUR PERKEBUNAN VERTIKAL SEBAGAI SOLUSI DARI PERMASALAHAN PANGAN DAERAH PERKOTAAN Alexander Yusuf Yogie
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12322

Abstract

As population growth continues to increase from time to time, the existing ecology becomes unbalanced caused by human exploitation of existing resources. Architecture that is present in the form of buildings or spaces designed to accommodate human activities is also the reason for the ecological damage that exists on this earth. Architecture that is in favor of ecology is needed to inhibit or even prevent the destruction of nature which will result in the extinction of life in this world. Advanced technology is expected to synergize with architecture. The high demand for food in urban areas and the lack of productive land for food production will become a ticking time bomb that can worsen the situation on earth. Land and water that continue to be exploited to produce food for humans, as well as the carbon footprint that continues to be generated from the production process to the distribution of human food needs in urban areas. The theme beyond ecology (Beyond Ecology) is expected to be the basis for overcoming the problem of food needs in big cities that have minimal productive land. With technology, and the designer's alignment with ecological sustainability can have an impact on food security and reduce the carbon footprint resulting from the distribution and production of food needs in the future. Keywords: Carbon Footprint; Food; Future; Population Growth; Vertical Farming.ABSTRAKSeiring pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari waktu ke waktu membuat ekologi yang ada menjadi tidak seimbang yang disebabkan oleh eksploitasi manusia terhadap sumberdaya yang ada. Arsitektur yang hadir dalam bentuk bangunan atau ruang yang dirancang untuk mewadahi kegiatan beraktivitas manusia turut menjadi alasan kerusakan ekologi yang ada di bumi ini. Arsitektur yang memiliki keberpihakan terhadap ekologi sangat dibutuhkan untuk menghambat atau bahkan mencegah kehancuran alam yang berakibat akan punahnya kehidupan di dunia ini. Teknologi yang maju diharapkan dapat bersinergi dengan arsitektur. Kebutuhan pangan yang tinggi di daerah perkotaan serta minimnya lahan produktif penghasil pangan akan menjadi bom waktu yang dapat memperburuk situasi di muka bumi ini. Tanah dan air yang terus dieksploitasi untuk menghasilkan makanan untuk manusia, serta jejak karbon yang terus dihasilkan dari proses produksi hingga distribusi kebutuhan pangan manusia di perkotaan. Tema melampaui ekologi (Beyond Ecology) ini diharapkan bisa menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kebutuhan pangan di kota besar yang memiliki minim lahan produktif. Dengan teknologi, dan keberpihakan perancang terhadap keberlangsungan ekologi dapat berdampak pada ketahanan pangan serta menurunnya jejak karbon hasil dari distribusi dan produksi kebutuhan pangan di masa depan.
HABITAT KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PUSAT JAJANAN SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI Bobby Febrian; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12480

Abstract

The Covid-19 phenomenon makes humans stimulates their relationship with ecosystems, thereby accelerating ecological awareness, that there are other entities must be considered besides humans. Anthropocentrism is the understanding that humans are the most powerful species than other creatures, the discussed one anthropocentrism activity are about the massive development of business areas in the middle of Jakarta. The purpose of this project is to evaluate massive development by adding development policies that pay attention to spaces for creatures other than humans, namely animals and plants. This kind of thinking is called ecosophy, which means wise in ecological living. Hypothetically, the green open space applied to the design can be used as a habitat for living things and can also be used as a power plant using biogas and biocathode processes. Biogas is natural gas that is processed anaerobically or without oxygen, the raw material comes from food scraps contained in the food court program in the form of organic material substrates. Biocathode is the process of absorbing electrons that produced by microbes from photosynthesis process that uses electrodes to absorb electrons. Both processes produce energy that comes from nature or known as bioenergy, which is used to generate electricity on an environmental scale. Therefore, the project focuses on design that is not only sustainable but also regenerating the surrounding environment. The results about the project are to present a building with an ecosophy thinking that puts forward ecological policies in designing, it has a mutualistic relationship in the form of a biodiversity habitat that supplies organic material substrates to be used by humans to obtain electricity generated from bioenergy. Keywords:  anthropocentricism; bioenergy; biogas; biocathode; ecosophy.AbstrakFenomena Covid-19 membuat manusia merefleksikan kembali hubungannya dengan ekosistem sehingga mempercepat kesadaran ekologis, bahwa ada entitas lain yang harus diperhatikan selain manusia. Antroposentrisme adalah paham bahwa manusia adalah spesies paling berkuasa daripada makhluk lainnya, kegiatan antroposentrisme yang di angkat adalah pembangunan masif kawasan-kawasan bisnis ditengah kota Jakarta. Tujuan proyek ini bertujuan mengevaluasi pembangunan masif dengan menambahkan kebijakan pembangunan yang memperhatikan ruang untuk makhluk selain manusia yaitu hewan dan tumbuhan. Pemikiran seperti ini disebut dengan ecosophy, yang berarti bijak dalam kehidupan ekologis. Secara hipotesa ruang terbuka hijau yang diterapkan pada perancangan dapat dimanfaatkan sebagai habitat makhluk hidup dan dapat dimanfaatkan juga sebagai pembangkit listrik menggunakan proses biogas dan biokatoda. Biogas adalah gas alam yang terproses secara anaerobik atau tanpa oksigen, bahan bakunya berasal dari sisa makanan yang terdapat pada program pusat jajanan dalam bentuk substrat bahan organik. Biokatoda adalah proses penyerapan elektron yang dihasilkan mikroba dari hasil fotosintesis yang menggunakan alat elektroda untuk menyerap elektron. Kedua proses tersebut menghasilan energi yang berasal dari alam atau disebut dengan bioenergi, yang digunakan sebagai pembangkit listrik untuk skala lingkungan. Dengan cara ini didapatkan bahwa proyek ini berfokus kepada perancangan yang bukan hanya berkelanjutan tetapi juga memperbarui lingkungan sekitarnya. Hasil yang di dapat pada proyek ini adalah menghadirkan sebuah bangunan dengan pemahaman ecosophy yang mengedepankan kebijakan ekologis dalam merancang, mempunyai hubungan mutualisme dalam bentuk habitat keanekaragaman hayati yang menyuplai substrat bahan organik untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia mendapatkan listrik yang dihasilkan dari bioenergi. 
KOMUNITAS SWASEMBADA BEBAS POLUSI KARBON DI RUSUN TANGERANG SELATAN Hansen Jeremy Rahardjo; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12341

Abstract

Earth's ecologies are getting worse every year, our earth's temperature has reached 1.2 degrees Celsius hotter than the pre-industrial times, the rapid development of humans seems to have "sacrificed" the ecological balance of earth. Global warming is one of the biggest problems that all inhabitants of the earth must help solve, we can feel its impact on especially the following 3 factors, namely food security (scarcity of food, etc.), water security (scarcity of clean water, etc.) and our health (change of climate, temperature, etc.). Small things such as our daily activities also play a big role global warming, where in fact the building and residential sector contributes up to 6% of this total problem, starting from the use of electrical energy, gas, to the waste that we produce from our homes every day. The problem is that along with times, of course, the number of people will continue to grow, residential needs in the future will be higher than ever before. Through this project, the author tries to change the residential concept that currently exists, integrating environmentally sustainable technology in residents, especially for the Jakarta area as the capital city of Indonesia, which is growing very fast (about 1% per year) and has now reached 10 million people (15 million is estimated by 2030). The existing eco-friendly technology will be applied into an architectural integration that also creates a self-sustaining life for its residents (generating their own needs), which is not only environmentally friendly but also reduces the daily living costs of the residents. In hope that it can be a pioneer of future residential trends in the future. Keywords: global warming; Jakarta; residential; sustainable.AbstrakEkologi bumi kian tahun kian memburuk, Suhu bumi telah meningkat 1,2 derajat celcius dari masa pra-industri. Perkembangan pesat manusia seakan-akan “mengorbankan” keseimbangan ekologi bumi ini. Pemanasan Global adalah salah satu masalah terbesar yang seluruh penghuni bumi harus turut bantu selesaikan bersama, tanpa solusi yang jitu dampaknya akan terasa pada 3 faktor berikut, yaitu food security (kelangkaan makanan, dll), water security (kelangkaan air bersih, dll) dan kesehatan kita (perubahan iklim, suhu, dll). Kegiatan terkecil kita sehari-hari pun berperan dalam permasalahan global warming ini. Faktanya sektor bangunan dan residensial berkontribusi hingga 6% dari keseluruhan permasalahan ini, mulai dari penggunaan energi listrik, gas, hingga limbah yang kita hasilkan dari rumah setiap harinya berdampak besar bagi dunia. Masalahnya, kebutuhan residensial kedepannya akan lebih tinggi daripada sebelumnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Melalui proyek ini, penulis mencoba mengubah konsep residensial yang saat ini ada, mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan pada residensial, khususnya bagi lingkungan provinsi Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat (sekitar 1% per tahun) saat ini sudah mencapai angka 10 juta penduduk (15 juta diperkirakan pada tahun 2030). Teknologi ramah lingkungan yang sudah ada diterapkan kedalam sebuah integrasi arsitektural yang juga menciptakan self-sustaining life bagi penghuninya (menghasilkan kebutuhan sendiri), dimana tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mengurangi biaya hidup sehari-hari penghuninya. Diharapkan agar bisa menjadi pelopor tren residensial masa depan kedepannya.
[RE]IMAJI GLODOK MELALUI ECHOLOGY Vito Wijaya; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12306

Abstract

An Architecture can be a memory store from a time. Many buildings or areas that have historical value are now abandoned, disintegrated, eroded by modern developments. In line with the development of the city, there are many dark histories and political issues that afflict Chinese culture and society in Indonesia. With the revocation of Presidential Instruction No. 14/1967 concerning Chinese Religion, Belief, and Customs during the Reformation period, it was replaced by the issuance of Presidential Decree (Keppres) No. 6/2000 on January 17, 2000, bringing Chinese culture back to life, then how can an Architecture and a Chinatown be able to adapt to the conditions of today and for the future without losing its identity and historical value. This project is a new embodiment for an area that includes various elements such as history, culture, economy, utilities, and education. All these aspects are formed collectively and in a community with a narrative method and connect existing elements into the concept of Echology. [RE]Image Glodok produces a project that reimagines the Chinatown area of Glodok where historical, cultural, and economic aspects can be reflected and build a new Glodok image by considering various elements that exist in the area and designing it for the sake of sustainability in the present and the future through Echology. Keywords:  Chinatown; Glodok; Image AbstrakSebuah Arsitektur dapat menjadi penyimpan memori dari suatu masa. Banyaknya bangunan atau kawasan yang memiliki nilai historis kini terbengkalai, terdisintegrasi, tergerus perkembangan moderen. Sejalan dengan perkembangan kota, banyak nya sejarah kelam dan isu-isu politik yang menimpa budaya serta masyarakat Tionghua di Indonesia. Dengan dicabutnya Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina pada masa Reformasi digantikan dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000 membuat budaya Tionghua kembali hidup, kemudian bagaimana sebuah Arsitektur dan sebuah kawasan Pecinan mampu menyesuaikan dengan kondisi pada zaman ini dan untuk masa depan tanpa kehilangan jati diri serta nilai sejarahnya. Proyek ini merupakan perwujudan baru bagi sebuah kawasan yang mencakup berbagai unsur seperti sejarah, budaya, ekonomi, utilitas, serta edukasi. Semua aspek tersebut dibentuk secara kolektif dan berkomunitas dengan metode naratif serta mengkoneksikan elemen-elemen yang sudah ada menjadi konsep Echology. [RE]Imaji Glodok menghasilkan sebuah proyek yang mereimajikan kawasan pecinan Glodok dimana aspek sejarah, budaya dan ekonomi dapat tercerminkan dan membangun imaji Glodok yang baru dengan mempertimbangkan berbagai elemen yang ada pada kawasan serta merancangnya demi keberlangsungan di masa kini maupun masa depan melalui Echology.
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DAN PERKEBUNAN KOTA DI KELURAHAN PONDOK BAMBU Giorgio Jivanka; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12325

Abstract

The rate of population growth in big cities, such as Jakarta, which is not followed by good quality human resources has an impact on the birth of other social problems, namely poverty. These problems can lead to conversion of agricultural land to non-agricultural land so that it has an impact on ecological changes that lead to land degradation. Rusunawa (Simple Rental Flats) is one solution to solve the problem of land degradation in urban areas. Rusunawa only solves the problem of land degradation, therefore, the presence of a program that is able to support the economic aspects of its inhabitants is also needed, such as urban plantations. On the other hand, there are social needs that residents need when changing places of residence called social adaptation. This study is intended to analyze the application of the hybrid concept in this residential project, the need for social adaptation, and determine the area of planting land needed to meet the needs of the residents of the apartment. This residential project will be guided by the hybrid concept which will be used as design criteria. The application of the hybrid concept in work-based residential buildings can be achieved through several criteria such as project scale, urban area density, function diversity, function scale, function integration, flexibility, vertical connections (that promote integration), and integrated public gathering space. Keywords: Flats; Hybrid Concept; Urban Farming; Social Adaptation AbstrakLaju pertumbuhan penduduk di kota-kota besar, seperti Jakarta yang tidak diikuti dengan kualitas SDM yang baik berdampak pada terlahirnya masalah sosial lainnya, yaitu kemiskinan. Masalah tersebut dapat menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian sehingga berdampak pada perubahan ekologis yang mengarah ke degradasi lahan. Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah degradasi lahan di perkotaan. Rusunawa hanya memecahkan masalah degradasi lahan saja, oleh karena itu, kehadiran program yang mampu menunjang aspek ekonomi penghuninya juga diperlukan, seperti perkebunan kota. Di lain sisi, terdapat kebutuhan sosial yang dibutuhkan warga saat berpindah tempat tinggal yang disebut adaptasi sosial.  Kajian ini dimaksudkan untuk menganalisis penerapan konsep hybrid pada proyek hunian ini, kebutuhan atas adaptasi sosial, dan menentukan luasan lahan tanam yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penghuni rumah susun. Proyek hunian ini akan berpedoman pada konsep hybrid yang akan dijadikan kriteria desain. Penerapan konsep hybrid pada bangunan hunian berbasis pekerjaan dapat dicapaimelalui beberapa kriteria seperti project scale, urban area density, function diversity, fuction scale, function integration, flexibility, vertical connections (that promote integration), dan integrated public gathering space.
PENATAAN RUANG PUBLIK TEPI SUNGAI UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI FUNGSI SUNGAI KOTA JAKARTA Jessica Wijaya; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12384

Abstract

Since humans first started living a sedentary lifestyle, river has played a significant role in people's lives and in the development of settlements. The role of river in urban life has also changed several times. Starting from the function as defense, trade routes, fisheries, logistics, to recreation. However, with the modernization of the city of Jakarta, a destructive view of river has emerged and has diminished the appreciation of the citizen for river. The city river has also long been abandoned and is located behind the building. The citizen cannot enjoy the river because there is no access that connects the river water with the mainland for the community. The project site is located in Kelurahan Pejagalan between Kali Angke and Kanal Banjir Barat. The project is designed as a cultural center with facilities for community activities on the riverfront. The project will be a public space for the community to interact, have recreation, and engage in sports, commercial and artistic activities. The writing method used is a qualitative approach through elaboration with descriptive methods with data collection techniques through field surveys and data search related to the object of study in the form of data from government agencies, literature studies, books, journals, and information from the internet. The design method used is an everydayness method.Keywords: City River;  Cultural Center; Ecology; Waterfront AbstrakSejak pertama manusia mulai menjalani gaya hidup menetap, sungai memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan masyarakat dan dalam perkembangan permukiman. Peran sungai untuk kehidupan masyarakat kota juga telah berubah beberapa kali. Mulai dari fungsi sebagai pertahanan, jalur perdagangan, perikanan, logistik, hingga rekreasi. Namun dengan semakin modernnya kota Jakarta muncul pandangan bersifat destruktif terhadap sungai dan menghilangkan apresiasi masyarakat kota terhadap sungai. Sungai kota juga telah lama ditinggalkan dan diletakan dibelakang bangunan. Masyarakat kota tidak dapat menikmati sungainya karena tidak adanya akses yang menghubungkan perairan sungai dengan daratan bagi masyarakat. Lokasi proyek terletak di Kelurahan Pejagalan di antara Kali Angke dan Kanal Banjir Barat. Proyek didesain sebagai pusat kebudayaan dengan fasilitas yang mewadahi kegiatan masyarakat di tepian sungai. Proyek akan menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk berinteraksi, berekreasi, dan melakukan kegiatan olahraga, komersial, dan seni. Metode penulisan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui penjabaran dengan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survey lapangan dan pencarian data terkait objek studi berupa data dari instansi pemerintah, studi literatur, buku, jurnal, dan informasi dari internet. Metode perancangan yang digunakan adalah metode pendekatan keseharian yang dijadikan sebagai program pada proyek.  
PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN PADA FASILITAS KONSERVASI AIR DI BALIGE, DANAU TOBA Anri Samuel Pulungan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12350

Abstract

Environmental problems have now become a serious problem in the Indonesian environment. The survival of the natural environment is currently starting to be damaged and very threatened due to natural changes, including natural factors or human factors themselves. For example, water pollution due to fish farming activities with floating net cages, such as the material used, the rest of the fish feed and fish waste that continues to accumulate in the waters. Most of these problems do not have a solution to overcome them. This causes ongoing damage to nature and the environment and threatens this earth. So it is important to increase public awareness in protecting and preserving the environment, especially in the fields of architecture and the environment. The application of environmentally friendly architectural principles in this building project is intended to protect and conserve natural and surrounding resources, save energy use, use environmentally friendly materials, minimize environmental damage, create relationships with ecosystems that are harmonious and friendly to nature and produce various innovations and design concepts. energy efficient architecture. This architectural project combines the concept of water conservation facilities and floating buildings on Lake Toba as a means of education, education and entertainment, as well as creating a forum for the community to do business, work and get to know the ecosystem that is there, accommodate it, build better public awareness and foster a sense of care. high regard for protecting nature and the surrounding environment Keywords: environmental damage; environmentally friendly principles; fish farming with floating net cages; floating buildings; water conservation facilities; water pollution. Abstrak Permasalahan lingkungan hidup saat ini sudah menjadi masalah yang serius di lingkungan Indonesia. Kelangsungan hidup lingkungan alam saat ini mulai banyak yang rusak dan sangat terancam akibat dari perubahan alam, termasuk faktor alam atau faktor dari manusianya itu sendiri. Contohnya seperti pencemaran air akibat aktivitas budidaya ikan dengan keramba jaring apung, seperti material yang digunakan, sisa sisa pakan ikan dan kotoran ikan tersebut yang terus menumpuk pada bagian perairan. Kebanyakan dari permasalahan ini belum memiliki solusi dalam mengatasinya. Sehingga menyebabkan kerusakan alam dan lingkungan yang terus berlanjut dan mengancam bumi ini. Jadi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, terlebih di bidang arsitektur dan lingkungan. Penerapan prinsip arsitektur ramah lingkungan pada proyek bangunan ini dimaksudkan untuk melindungi dan melestarikan sumber daya alam dan sekitarnya, menghemat penggunaan energi, penggunaan material ramah lingkungan, meminimalisir kerusakan lingkungan, menciptakan hubungan dengan ekosistem yang selaras dan ramah terhadap alam dan menghasilkan berbagai inovasi dan konsep perancangan arsitektur yang hemat energi. Proyek  arsitektur ini  menggabungkan konsep fasilitas konservasi air dan  bangunan terapung diatas Danau Toba sebagai sarana edukasi , pendidikan dan hiburan, serta terciptanya wadah bagi masyarakat untuk berusaha, bekerja dan  mengenal ekosistem yang terdapat disana, mewadahinya, membangun kesadaran masyarakat yang lebih baik dan menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap menjaga alam dan lingkungan sekitarnya. 

Page 63 of 134 | Total Record : 1332