cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
BANGUNAN UNTUK BERNAFAS SOLUSI POLUSI UDARA DI JAKARTA Kenzo Therin; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12442

Abstract

This Breathing Building Project which is located on Jl. The pioneer, Mega Kuningan, is a project that is expected to be able to solve the problem of air pollution in the area architecturally. This project is a building that implements a natural air exchange system using plant media to absorb carbon dioxide gas produced by motor vehicle emissions. This building also aims as a pioneer project in Jakarta to be an inspiration and reference for future designers in solving air problems from an architectural perspective. The problem that I think is happening in the city of Jakarta at this time is that there are no projects that aim to reduce the level of air pollution in Jakarta. This can be seen from the minimal number of environmentally friendly facilities that can be used in general. It can also be seen from the buildings in Jakarta which are "deadly" because there is very little greenery in buildings because the designers are still only concerned with efficiency over nature conservation. Therefore, my project with the title "Building for Breathing Air Pollution Solutions in Jakarta" is needed to provide breath in the form of fresh oxygen gas to the community and residents around the building.Keywords: breathing building; air pollution; sustainabilityAbstrakProyek Bangunan untuk bernafas ini yang berada di Jl. Perintis, Mega Kuningan, merupakan proyek yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan polusi udara di area tersebut secara arsitektur. Proyek ini merupakan bangunan yang menerapkan sistem pertukaran udara secara alami menggunakan media tanaman untuk menyerap gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh gas emisi kendaraan bermotor. Bangunan ini juga bertujuan sebagai proyek pionir di Jakarta untuk menjadi inspirasi dan referensi perancang-perancang pada masa mendatang dalam menyelesaikan permasalahan udara dari sisi Arsitektur. Masalah yang menurut saya terjadi saat ini di kota Jakarta saat ini adalah belum adanya proyek yang memiliki tujuan untuk mengurangi tingkat polusi udara di Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari minimnya jumah fasilitas-fasilitas ramah lingkungan yang dapat digunakan secara umum. Dapat dilihat juga dari bangunan-bangunan di jakarta yang “mematikan” karena sangat minim penghijauan pada bangunan karena perancang-perancang masih hanya mementingkan efisiensi dibandingkan pelestarian alam. Maka dari itu proyek saya ini dengan judul “Bangunan untuk Bernafas Solusi Polusi Udara di Jakarta” ini diperlukan untuk memberikan nafas berupa gas oksigen segar kepada masyarakat dan penduduk sekitar bangunan.
PENERAPAN METODE PROGRAMMING FRAMEWORK PADA PUSAT PENGOLAHAN DAN PENELITIAN KERANG DI KAMPUNG KERANG IJO Kevin Gumilang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12489

Abstract

Waste pollution is a global phenomenon that has recently become a problem for cities, one of the wastes that has a considerable impact on the environment is waste in Jakarta Bay. One of the locations that directly felt the impact was Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Pluit, North Jakarta. An interesting phenomenon in Kampung Kerang Ijo is that most of the people work as Shellfish Fishermen and Shellfish Peelers whose meat is sold in the market. Then a problem arose in this area, namely the accumulation of seashell waste. If this continues to happen, then this condition will worsen the local ecological conditions to a more macro ecology. Through the Programming Framework method and various studies, it is possible to design buildings that cultivate, cultivate, and utilize shellfish to reduce the adverse ecological impact on the area. Continuous processing of seashells so that they can be utilized optimally, and minimize their waste on the environment. With this adaptation, it is certainly able to reduce the negative impact on the ecology of the area. Keywords: Processing Shellfish, Shellfish waste, Kampung Kerang Ijo, Ecology. Abstrak Pencemaran limbah merupakan fenomena global yang belakangan ini menjadi permasalahan bagi perkotaan, salah satu limbah yang memberikan dampak cukup besar terhadap lingkungan adalah limbah yang berada di Teluk Jakarta. Salah satu lokasi yang merasakan langsung dampak tersebut adalah Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara. Fenomena yang menarik di Kampung Kerang Ijo adalah Sebagian besar masyrakatnya berprofesi sebagai Nelayan Kerang dan Pengupas Kerang yang dagingnya dijual di pasaran. Lalu muncul masalah di kawasan ini yaitu Limbah Kulit Kerang yang menumpuk. Jika Hal ini terus terjadi, maka kondisi ini akan memperburuk kondisi ekologi setempat hingga ke ekologi yang lebih makro. Melalui metode Programming Framework dan berbagai penelitian, memungkinkan untuk mendesain bangunan yang membudidayakan, mengolah, dan memanfaatkan kerang untuk mengurangi dampak buruk ekologi pada kawasan tersebut. Pengolahan berkelanjutan Kulit Kerang agar dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan meminimalkan limbahnya terhadap lingkungan. Dengan adaptasi tersebut, tentu mampu mengurangi dampak buruk terhadap Ekologi di kawasan tersebut. 
SEMERBAK HARUM SANG KUSUMA: WADAH PELESTARIAN SENI DAN BUDAYA SUKU TENGGER DI PUNCAK BROMO Junita Delphin; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12290

Abstract

The Tengger tribe is an indigenous tribe that lives in the area around Mount Bromo, bound by culture and tradition. The Tengger tribe have a belief that Mount Bromo is the place where the gods and their ancestors live, so this belief becomes their guide in protecting and respecting the nature around Mount Bromo. However, with the challenges of globalization that continue to advance and Mount Bromo has become a tourist destination, the indigenous culture and traditions of the Tengger tribe are increasingly affected by modernization and are slowly fading away. It is feared that this cultural fading will reduce the spirit of the Tengger tribe in protecting and respecting nature which is the cores in their culture. The method used in the application of several steps such as location data, site analysis, program analysis, design concept and methods, to produce new ideas in answering the problems faced by the Tengger tribe. The conclusion is a place for art and culture preservation to maintain traditional culture as well as respond to the challenges of modernization through the use of technology to achieve harmony between the two cultures for the Tengger tribe, especially for the future generations. With a Critical Regionalism approach and the application of the Kidung Tengger peom which was translated into six schemes and combined with elements of Majapahit architecture by strengthening natural elements such as sun, water, flower, fog, rain, and mountain rocks. The program related to the characteristics of the Tengger tribe such as sarong crafts, Edelweis flower garden, platforms, bathhouse, and Tengger tribe memory room are also presented.Keywords: Critical Regionalism; Cultural Preservation; Mount Bromo; Tengger Tribe AbstrakSuku Tengger merupakan suku asli  yang tinggal di area sekitar Gunung Bromo yang juga terikat secara budaya dan tradisi. Suku Tengger memiliki kepercayaan bahwa Gunung Bromo adalah tempat para dewa dan leluhur mereka tinggal sehingga kepercayaan ini yang menjadi pedoman mereka dalam menjaga dan menghormati alam sekitar Gunung bromo. Namun dengan adanya tantangan globalisasi yang terus maju dan adanya wisatawan yang terus berdatangan setelah Gunung Bromo dijadikan destinasi wisata, budaya dan tradisi asli Suku Tengger semakin terpengaruh modernisasi dan perlahan-lahan mulai luntur. Lunturnya budaya ini dikhawatirkan akan menurunkan semangat Suku Tengger dalam menjaga dan menghormati alam yang menjadi pedoman dalam budaya mereka. Metode yang digunakan adalah dengan penerapan beberapa langkah seperti data lokasi, analisis tapak, analisis program, serta konsep dan metode desain untuk menghasilkan gagasan baru dalam menjawab persoalan yang dihadapi Suku Tengger. Kesimpulan berupa wadah pelestarian seni dan budaya dengan tujuan untuk mempertahankan budaya tradisional sekaligus menjawab tantangan modernisasi melalui pemakaian teknologi sehingga tercapai keharmonisan antar kedua budaya untuk Suku Tengger khususnya untuk generasi muda dan membentuk suatu ekologi yang seimbang.  Dengan pendekatan Regionalisme Kritis dan penerapan puisi Kidung Tengger yang diterjemahkan kedalam enam skema, dihasilkan arsitektur dengan unsur arsitektur Majapahit dan didukung dengan unsur alam seperti matahari, air, bunga, kabut, hujan, serta bebatuan pegunungan. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ciri khas Suku Tengger seperti kerajinan sarung, taman bunga Edelweis, plataran, pemadian air panas, dan ruang memori Suku Tengger juga dihadirkan. 
RENCANA ADAPTASI PADA WILAYAH RAWAN PENURUNAN TANAH, KECAMATAN CENGKARENG, JAKARTA BARAT Siti Wahyuningtyas Maulidiny; Parino Rahardjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12876

Abstract

Land subsidence is one of the natural phenomena that occurs in the city of Jakarta, one of which is in Cengkareng District. Land subsidence is caused by several factors such as natural factors, groundwater extraction factors, and building mass factors. This land subsidence usually occurs slowly over a long period of time so that there is a lack of awareness of the impact of land subsidence that can interfere with the welfare of the population. This study was conducted to determine the characteristics of the population, the relationship between land subsidence and existing conditions, the government's plan in the Detailed Spatial Planning (RDTR), and a comparison of the conditions and government management in land subsidence areas using descriptive, comparative, overlay, and questionnaire analysis methods. To achieve these objectives, population analysis, land subsidence analysis on the existing condition, analysis of detailed spatial plans, and analysis of best practices are carried out. With this it can be produced adaptation suggestions in areas prone to land subsidence for residents, developers, and the government so that they can play a role in inhibiting the rate of land subsidence. This study produces conclusions and suggestions for adaptation to land subsidence carried out by residents, government, and developers. Keywords: Adaptation; Cengkareng District; LandsubsidenceAbstrakPenurunan muka tanah merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi di Kota Jakarta salah satu yaitu pada Kecamatan Cengkareng. Penurunan muka tanah disebabkan oleh beberapa faktor seperti, faktor alami, faktor pengambilan air tanah, dan faktor massa bangunan. Penurunan tanah ini biasanya terjadi perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama sehingga kurangnya kesadaaran terhadap dampak dari penurunan tanah yang dapat menggangu kesejahteraan penduduk. Studi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penduduk, keterkaitan antara penurunan tanah dengan kondisi eksisting, rencana pemerintah dalam Rencana Detail Tata  Ruang (RDTR), dan  perbandingan kondisi dan penaganan pemerintah pada wilayah penurunan tanah dengan menggunakan metode analisisi deskriptif, komparatif, overlay, dan kuesioner. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis kependudukan, analisis penurunan tanah terhadap kondisi eksiting, analisis rencana detail tata ruang, dan analisis best practices. Dengan ini maka dapat dihasilkan saran adaptasi pada wilayah rawan penurunan tanah bagi penduduk, pengembang, dan pemerintahan agar dapat ikut berperan dalam menghambat laju penurunan tanah. Studi ini menghasilkan kesimpulan dan saran adaptasi penurunan tanah yang dilakukan oleh penduduk, pemerintahan, dan pengembang. 
PERANCANGAN APARTEMEN SOHO DI SAAT DAN SETELAH PANDEMI COVID 19 Serine Elisputri; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12440

Abstract

The rapid spread of Covid-19 in Indonesia has prompted the government to issue policies for PSBB and work from home (WFH). For employees who have far access to their homes and offices, WFH is ideal for maintaining productivity because there is a significant reduction in transportation costs and time. WFH also has obstacles, such as the community's mindset that the house is a place to rest and the office is a place to work, causing mental conflict and decreasing employee productivity. The suggestion to work from home will have a big impact on how we work during and after the pandemic, because WFH teaches that we can do tasks remotely. This problem has prompted the building to be designed to accommodate the needs of the community caused by changes in human life during the pandemic that provides a comfortable home and workplace for the needs of residents after the COVID-19 pandemic. Small Office Home Office (SOHO) concept is a concept that places office activities in an integrated manner. Offices tend to be open to the public are applied to residential spaces that are more private but separate, so that family privacy is still maintained. The target of residents are millennials who work as independent entrepreneurs, MSME entrepreneurs, office workers, freelancers, and online sellers. The method used in this design is in the form of hybrid working which is thinking about the room occupants who work and live simultaneously with the use of current technology. the concepts used are biophilic architecture and green building, which aim to save energy through air, water, and sunlight, such as; the use of voids and split systems on floors with glass roofs in residential corridor areas. Use of a green balcony, open wide windows. On the other hand, increasing green open space as communal space and absorption of water into the soil. The building also uses rain water harvesting and photovoltaic systems to provide energy for the building.Keywords: biophilic architecture; ; green building;  residence; work space; work from home  AbstrakPenyebaran yang cepat dari Covid-19 di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk PSBB dan work from home (WFH). Bagi pegawai yang akses tempat tinggal dan kantornya jauh, WFH sangat ideal untuk menjaga produktivitas karena dengan WFH terdapat pengurangan biaya dan waktu transportasi yang cukup signifikan. Tentunya WFH juga terdapat kendala seperti adanya pola pikir masyarakat bahwa rumah tinggal merupakan tempat istirahat dan kantor merupakan tempat bekerja sehingga menimbulkan konflik dan menurunnya produktifitas pegawai. Anjuran untuk work from home akan berpengaruh besar pada cara kerja saat dan setelah pandemi, karena WFH mengajarkan bahwa kita bisa melakukan tugas secara jarak jauh. Permasalahan ini mendorong bangunan dirancang untuk mewadahi kebutuhan masyarakat yang disebabkan perubahan kehidupan manusia saat pandemi yang menyediakan sebuah rumah tinggal dan tempat kerja yang nyaman bagi kebutuhan penghuni setelah terjadinya pandemi covid 19. Konsep Small Office Home Office (SOHO) merupakan konsep yang menempatkan kegiatan kantor secara fisik pada ruang hunian, Kantor yang sifatnya sosial dan cenderung terbuka untuk publik diterapkan pada ruang hunian yang lebih bersifat privat tetapi terpisah sehingga privasi keluarga masih terjaga. Sasaran penghuni merupakan kaum milenial yang bekerja sebagai pengusaha mandiri, pengusaha UMKM , pekerja kantor, freelancer, dan online seller. Metode yang digunakan  dalam rancangan ini berupa hybrid working yaitu, memikirkan ruangan penghuni yang bekerja dan berhuni secara bersamaan dengan pemakaian teknologi saat ini. konsep yang digunakan berupa arsitektur biofilik dan green building yaitu bertujuan untuk menghemat energi melalui udara, air, dan cahaya matahari, seperti; penggunaan void dan split system pada lantai dengan atap kaca di area koridor hunian. Penggunaan green balcony, membuka jendela yang lebar. Disisi lain, memperbanyak ruang terbuka hijau sebagai ruang komunal dan penyerapan air kedalam tanah. Bangunan juga menggunakan rain water harvesting dan photovoltaic system untuk menyediakan energi bagi bangunan.
SUDIRMAN ONLINE TRANSPORT HUB Abi Rafi Pratama; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12313

Abstract

The advancement of the Transportation system goes hand in hand with the advancement of Technology. The ease of the need for public transportation can be easily accessed through smartphones, anywhere, and anytime so as to bring up the term Online Transportation. Online transportation is an internet-based transportation service in every transaction activity, ranging from booking, monitoring lines, payment, and assessment of the service. The impact of the progress of online-based public transportation can be both positive and negative. The positive impact is the ease of accessing public transportation anywhere and anytime. Another positive impact of online transportation is a fairly good level of comfort compared to conventional public transportation in terms of personal tracking, to help users in moving quickly. The negative impacts in the advancement of online-based public transportation are congestion caused by the buildup of online vehicles, friction between online pengemudi Transportasi onlines and conventional pengemudi Transportasi onlines and the use of the shoulder of the road that is used as points of customer waiting areas that cause the volume of roads to be limited and create congestion. Therefore, Sudirman Online Transportation Hub is present to organize their space or gathering points to be more organized and more organized movement and monitoring. Transport hub facility for online-based public transportation is a project created so that transportation, especially online-based ones no longer use the shoulder of the road for the gathering area, user waiting area and so on, so that the pengemudi Transportasi online and the user both have decent facilities to wait, pick up, and also rest. The facility also features many other supporting functions that are specially created so that they can be accessed using applications specifically designed for the project. Keywords: congestion; moving quickly; Transport hub facility; Online transportation AbstrakKemajuan sistem Transportasi berjalan beriringan dengan kemajuan Teknologi. Kemudahan kebutuhan akan transpotasi publik dapat dengan mudah di akses melalui smartphone, dimanapun, dan kapanpun sehingga memunculkan istilah Transportasi Online. Transportasi online adalah pelayanan jasa transportasi yang berbasis internet dalam setiap kegiatan transaksinya,mulai dari pemesanan,pemantauan jalur, pembayaran dan penilaian terhadap pelayanan jasa itu sendiri.  Dampak dari kemajuan Transportasi publik berbasis online dapat bersifat positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah kemudahan dalam mengakses transportasi publik dimana pun dan kapan pun. Dampak Positif lain dari Transportasi online adalah tingkat kenyamanan yang cukup baik dibanding dengan transportasi publik konvensional dalam hal personal tracking, sehingga mampu membantu pengguna dalam berpindah tempat dengan cepat. Dampak negatif dalam kemajuan transportasi publik berbasis online adalah kemacetan yang disebabkan penumpukan kendaraan online, pergesekan antara pengemudi transportasi online dengan pengemudi Transportasi konvensional dan penggunaan bahu jalan yang dijadikan titik-titik area menunggu customer yang menyebabkan volume jalan menjadi terbatas dan membuat kemacetan. Untuk itu Sudirman Online Transport Hub hadir untuk mengatur ruang atau titik-titik berkumpul mereka supaya lebih tertata dan lebih teratur pergerakan dan pemantauannya. Fasilitas (Transport hub) untuk transportasi publik berbasis online ini merupakan  sebuah proyek yang dibuat agar transportasi khususnya yang berbasis online tidak lagi menggunakan bahu jalan untuk area berkumpul,area menunggu pengguna dan sebagainya, sehingga antara pengemudi dengan pengguna sama-sama memiliki fasilitas yang layak untuk menunggu, menjemput dan juga beristirahat. Fasilitas ini juga dilengkapi banyak fungsi pendukung lain yang dibuat khusus supaya dapat diakses menggunakan aplikasi yang dirancang khusus untuk proyek ini.
STUDI FLEKSIBILITAS PADA WADAH KOMUNITAS TANGGAP BENCANA BANJIR DI JAKARTA TIMUR Revina Howin Ciafudi; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12427

Abstract

Flood disaster is a natural phenomenon, namely the overflow of water that drowns the land due to the increased volume of water. Due to this flood disaster, residents were required to evacuate to a refugee camp or evacuate to the 2nd floor of their house. In addition to hampering activities and places to live, residents also lack clean water and suffer severe losses. In addition, the refugee camps provided by the government are also inadequate. The Resilience Project of Slums Affected by Flood Communities is a project that aims to build a community consisting of slum communities so that they can survive when a flood disaster occurs. The construction of a facility for the community in East Jakarta, precisely in a flood-prone area, is useful as a refuge during a disaster and can also be used by residents for daily activities during a disaster situation. In the design, flexibility and adaptability methods are used considering the function of the building to be functioned in 2 conditions, namely the situation during a disaster and the situation when it is normal. This causes a change in the use of a space based on the situation faced by the user where a space can be used as a place for daily activities and as a place of refuge. It is hoped that this facility can be used as much as possible in various circumstances. Keywords: Community; Disaster; Flood; Resilience; Slum Communities AbstrakBencana banjir adalah sebuah fenomena alam yaitu luapan air yang menenggelamkan daratan dikarenakan volume air yang meningkat. Dikarenakan bencana banjir ini, warga diharuskan untuk mengungsi ke tempat pengungsian atau mengungsi ke lantai 2 rumah mereka. Selain menghambat aktivitas dan tempat berhuni, warga juga kekurangan air bersih dan mengalami kerugian yang cukup parah. Selain itu tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah juga kurang layak. Proyek Resilience Komunitas Permukiman Kumuh Terdampak Banjir ini merupakan proyek yang memiliki tujuan untuk membangun sebuah komunitas yang terdiri atas masyarakat permukiman kumuh agar dapat bertahan ketika bencana banjir terjadi. Dibangunnya sebuah fasilitas untuk komunitas di Jakarta Timur tepatnya di kawasan rawan banjir ini berguna sebagai tempat pengungsian ketika bencana dan juga dapat digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari ketika situasi bencana. Dalam perancangannya digunakan metode fleksibilitas dan adaptibilitas mengingat fungsi bangunan yang akan difungsikan dalam 2 kondisi yaitu situasi ketika bencana dan situasi ketika normal. Hal ini menyebabkan adanya perubahan penggunaan sebuah ruang berdasarkan situasi yang dihadapi pengguna dimana sebuah ruang dapat digunakan sebagai tempat berkegiatan sehari-hari dan sebagai tempat pengungsian. Diharapkan fasilitas ini dapat digunakan semaksimal mungkin dalam berbagai keadaan.
PENATAAN FISIK KAWASAN WISATA TANGGO RAJO, KOTA JAMBI SEBAGAI KAWASAN WISATA BERKONSEP WATERFRONT Bondan Wira Wicaksana; Parino Rahadjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12873

Abstract

Tanggo Rajo Tourism Area is a tourist area and public open space located in Pasar Jambi District, Jambi City. This area has an area of approximately 7 hectares, the main attraction is enjoying local food treats sold by street vendors from the outskirts of the Batanghari River and enjoying the atmosphere of the old city in the Sebrang area of Jambi City and the Gentala Throne Tower area. Seeing from the large percentage of visitors who are quite busy every day, the researchers see that some of the existing tourism potential can be developed with a touch of good tourist area arrangement. For this reason, the researcher aims to formulate a plan for structuring the Tanggo Rajo Tourism Area into the concept of waterfront development, seeing the existence of this area which is on the edge of the river so that it fits the concept. In addition, this study uses a qualitative approach with descriptive analysis. Some analyzes such as policy analysis, location, site, tourism, benchmarks, and space requirements. And this research will be shown to the local government as a recommendation for an ideal tourist area arrangement plan. Keywords: Regional Planning; Tanggo Rajo Area; Waterfront Development AbstrakKawasan Wisata Tanggo Rajo merupakan area wisata dan ruang terbuka publik yang berada di Kecamatan Pasar Jambi, Kota Jambi. Kawasan ini memiliki luas kurang lebih 7 Ha, daya tarik utamanya adalah menikmati suguhan makanan lokal yang dijual oleh PKL dari pingiran Sungai Batanghari dan menikmati suasana kota lama pada Kawasan Sebrang Kota Jambi serta Kawasan Menara Gentala Arasy. Melihat dari banyaknya persentase pengunjung yang cukup ramai setiap hari, peniliti melihat beberapa potensi wisata yang ada dapat dikembangkan dengan dengan sentuhan penataan kawasan wisata yang baik. Untuk itu peneliti bertujuan untuk merumuskan rencana penataan Kawasan Wisata Tanggo Rajo kedalam konsep waterfront development, melihat keberadaan kawasan ini yang berada di pinggir sungai sehingga cocok dengan konsep tersebut. Selain itu penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Beberapa analisis seperti analisis kebijakan, lokasi, tapak, wisata, benchmark, dan kebutuhan ruang. Dan penelitian ini akan ditunjukan kepada Pemerintah setempat sebagai sebuah rekomenasi rencana penataan kawasan wisata yang ideal. Kata kunci: Kawasan Tanggo Rajo; Kawasan Tepi Air; Penataan Kawasan
SOCIO-ECOLOGY HOUSING : KAMPUNG VERTIKAL SEBAGAI RUMAH SUSUN DI PERMUKIMAN KUMUH MUARA BARU Owen Sebastian; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12454

Abstract

The urbanization of people towards the city center in search of employment and a better life was one of the initial factors that led to the emergence of slum areas in urban areas. Communities who come lack in preparing skills / knowledge so that their economic situation is not able to have a place to live in urban areas. Housing which is one of the urgent basic needs of people who are less able to build simple housing without the provision of adequate facilities and utilities, thus giving rise to slum settlements. The Muara Baru area is one of the slum areas located in Penjaringan Village, North Jakarta. Slum areas that are not well organized have a negative effect on the environment where the slums are located.. This vertical village is one solution to improve the quality of human life by organizing slum settlements. This vertical village design aims to answer the ecological problems caused by slum settlements, especially in the Muara Baru area. So, with the aim of improving the quality of life of residents and restoring good environmental quality, through daily concepts and ecological principles, this Vertical Village is present as a recovery space. Optimizing natural elements, involving the daily activities of residents in slums, and implementing efficient and beneficial space programs for residents and nature are expected to restore the social ecology and environment of slums. Keywords: localities; Muara Baru; slums;  vertical villagesAbstrakUrbanisasi masyarakat menuju pusat kota untuk mencari lahan pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak menjadi salah satu faktor awal memunculkan area kumuh di perkotaan. Masyarakat yang datang kurang dalam mempersiapkan keahlian / ilmu pengetahuan sehingga keadaan ekonomi mereka tidak mampu memiliki tempat tinggal yang ada di perkotaan. Tempat tinggal yang merupakan salah satu kebutuhan pokok, mendesak masyarak yang kurang mampu mendirikan tempat tinggal sederhana tanpa penyediaan fasilitas dan utilitas yang memadai, sehingga memunculkan permukiman kumuh. Daerah Muara Baru merupakan salah satu daerah kumuh yang terletak di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Daerah kumuh yang tidak tertata dengan baik ini memberikan efek negatif bagi lingkungan dimana daerah kumuh itu berada. Kampung vertikal ini merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menata permukiman kumuh. Desain kampung vertikal ini bertujuan untuk menjawab masalah ekologi yang ditimbulkan oleh permukiman kumuh terutama di daerah Muara Baru. Maka, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup warga dan mengembalikan kualitas lingkungan yang baik, melalui konsep keseharian dan prinsip ekologi, Kampung Vertikal ini hadir sebagai ruang pemulihan. Mengoptimalkan unsur alam, melibatkan aktivitas sehari-hari warga di permukiman kumuh, dan penerapan program ruang yang efisien dan bermanfaat untuk penghuni dan alam diharapkan dapat memulihkan kembali ekologi sosial dan lingkungan permukiman kumuh.
PERAN AKTIF ARSITEKTUR DALAM MEMBENTUK POLA PERILAKU MASYARAKAT YANG SADAR LINGKUNGAN MELALUI PERSEPSI RUANG Chelsea Taurusia Chandra; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12291

Abstract

Eventually, whether consciouslly or not, we humans keep ignoring nature and the environment as if they’re not more impactable than us. Meanwhile, the products we consumed are mostly made/created from natural sources. In this case, it is necessary to give a proper understanding of nature-aware.  Architecture as part of our daily life has an active role in creating a character with environmental consciousness. Approaching AQAL’s four quadrants of consciousness and trans-theoretical model expressed in spatial perception, hopefully, this project could develop human’s natural consideration on behaving which also affects those around them. Each quadrant’s unique psychological character is translated to supporting activities. Some motoric-stimulatic activites provokes social interaction between visitors, which is suitable to be put at open areas. The activities implied can be integrated with schools’ extracurricular programs, work as research objects, and refreshment recreational attractions in this crowded city area. This project is targetting primary ages with the hope that they can show a positive character and develop better ones later. Keywords:  behavioral architecture; environmental consciousness; spatial perceptionAbstrakDalam menjalankan kehidupan, secara sadar ataupun tidak, kerap kali lingkungan menjadi pihak yang dirugikan oleh perilaku manusia. Sedangkan, produk-produk yang dikonsumsi manusia bersumber dari alam. Dalam hal ini, perlu adanya masukkan pemahaman kepada masyarakat untuk semakin sadar akan lingkungan di sekitarnya. Arsitektur, sebagai wadah kegiatan, dapat berperan aktif dalam membentuk karakter masyarakat yang sadar akan lingkungan. Dengan pendekatan empat kuadran AQAL (All Quadrants All Levels) dan model transteoritikal, proyek ini diharapkan dapat menumbuhkan cinta kasih terhadap lingkungan melalui permainan persepsi ruang. Kombinasi karakter setiap kuadran yang menunjukkan sisi psikologis individu diterjemahkan menjadi jenis aktivitas dengan sifat yang mendukung. Aktivitas motorik yang dapat menjadi stimulus interaksi sosial menjadi perantara antarkegiatan. Program proyek dapat diintegrasikan dengan ekstrakurikuler sekolah dasar, menjadi objek penelitian, serta tujuan rekreasi dan bersantai.

Page 61 of 134 | Total Record : 1332