cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENGOLAHAN SAMPAH BERBASIS ENERGI TERBARUKAN DAN PENERAPAN SAMPAH DAUR ULANG PADA MATERIAL BANGUNAN DI TPST BANTARGEBANG Helen Agnesia; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12492

Abstract

The waste in the integrated waste treatment place (TPST) Bantargebang has been piling up, and a lack of action in the waste processing system. As a result of the garbage causing unpleasant odors, groundwater contamination, and disease for the surrounding environment, so to solve this problem, a waste management site is designed. This project aims to reduce waste and pollution and wants to utilize/recycle waste into a valuable thing. The research methods through literature studies and applying the 5R principle (Reduce, Reuse, Recycle, Resell, and Reshare) in the building can help reduce waste and pollution. Waste processing is processed through technology that produces renewable energy, namely RDF (Refuse Derived Fuel), a fuel substitute for coal. Then, recycled waste is used for building materials in a project, such as plastic bottles and glass bottles. Hopefully, this project can benefit the surrounding environment and provide an example that waste is not a worthless item, but many benefits can be done in recycling waste. Keywords: Renewable energy; Waste processing; Recycled waste materials; Refuse Derived Fuel; TPST Bantargebang.AbstrakSaat ini, sampah di Tempat Pembuangan Sampah Tepadu (TPST) Bantargebang mengalami menumpukkan sampah yang telah menggunung dan kurangnya tindakan dalam sistem pengolahan sampahnya. Akibat dari sampah tersebut menimbulkan bau tak sedap, air tanah tercemar dan adanya penyakit bagi lingkungan sekitar. Untuk mengatasi hal tersebut, dirancang sebuah tempat pengolahan sampah. Tujuan dari proyek ini yaitu untuk mengurangi sampah serta pencemarannya dan ingin memanfaatkan/mendaur ulang sampah menjadi barang yang bernilai. Dengan melakukan metode penelitian melalui studi literatur dan menerapakan prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Resell dan Reshare) pada bangunan sehingga dapat mengurangi sampah serta pencemaran yang telah terjadi. Pengolahan sampah akan diolah melalui teknologi yang menghasilkan energi terbarukan yaitu RDF (Refuse Derived Fuel), bahan bakar pengganti batu bara. Kemudian, sampah daur ulang akan dimanfaatkan untuk material bangunan pada proyek seperti sampah botol plastik dan botol kaca. Diharapkan proyek ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya dan dapat memberikan contoh kepada masyarakat bahwa sampah bukan barang yang tidak bernilai tetapi banyak manfaat yang dapat dilakukan dalam mendaur ulang sampah.
PUSAT REKREASI DAN EDUKASI PEMBUDIDAYAAN MANGROVE Tjan Venny Epilia; Budi A Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12376

Abstract

Ecology is formed by the reciprocal relationship between living things and their environment forming an orderly system.Changes in one system will surely affect the others and disturbing the whole systems. Architecture seeks to minimize such a disturbance by building spatial quality with ecology in mind. The case of mangroves existence is taken due to its number of  benefits, especially for coastal communities as well as mangrove forests being a home for all living things that stay and breed there. Sadly, not all mangroves are in good condition. Number of mangroves in Indonesia that are damaged, threatened, and neglected is increasing every year. The main cause of such destruction is conversion of land into settlements, agriculture, and industry.  All of them give an impact on increasing abrasion, hence causing the land to decrease, flooding the residentials, and threating them to drown. There is an urgent need for mangrove restoration and management to prevent reduction of mangrove area. One way to do it is by providing education for the communities in concerned to increase their knowledge on the important role of mangroves so that they can be more care for such a kind of environment, being able to manage, protect and preserve its ecosystem so as to ensure its sustainability while increasing public awareness of the environment. The educational activities, on the other hand, can be collaborated with recreational activities that support nature conservation and maintain existing mangroves.  With such facilities, it is hoped that mangroves can be preserved. Keywords: Education; Mangrove; Recreation AbstrakEkologi terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya membentuk suatu sistem yang teratur. Jika sistem tersebut mengalami perubahan akan mempengaruhi ekosistem lainnya dan membuat ekosistem terganggu. Arsitektur mengupayakan memperkecil gangguan yang terjadi pada ekosistem tersebut dengan membangun kualitas spasial dengan pemikiran ekologis. Keberadaan mangrove memiliki sejumlah manfaat terutama bagi masyarakat pesisir pantai. Tidak hanya masyarakat pesisir saja tetapi hutan mangrove menjadi ‘rumah’ bagi semua makhluk hidup yang hidup dan berkembangbiak disana. Namun tidak semua mangrove dalam kondisi baik, saat ini jumlah mangrove di Indonesia yang dalam kondisi rusak, terancam, dan terabaikan semakin bertambah tiap tahunnya. Penyebab utama terjadinya kerusakan hutan mangrove adalah konversi lahan yang beralihfungsi menjadi pemukiman, pertambakan, dan industri yang berdampak meningkatnya abrasi yang menyebabkan daratan semakin berkurang, rumah penduduk tergenang air, dan terancam tenggelam. Perlunya pemulihan dan pengelolaan mangrove sebagai antisipasi yang dapat dilakukan mencegah berkurangnya luasan mangrove. Salah satu cara melestarikan mangrove dengan memberikan edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan akan pentingnya peranan mangrove sehingga masyarakat dapat lebih peka dan peduli lingkungan. Dengan demikian masyarakat dapat mengelola mangrove dengan baik, menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove untuk menjamin keberlanjutannya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Kegiatan edukasi dapat dikolaborasikan dengan kegiatan rekreasi yang mendukung konservasi alam dan mempertahankan mangrove yang ada saat ini. Dengan adanya sarana berupa pusat rekreasi dan edukasi pembudidayaan mangrove diharapkan dapat membantu menyelamatkan kerusakan mangrove sehingga dapat terlestarikan. 
METODE INSINERASI PADA FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI JAKARTA TIMUR Rizka Yuniar; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12400

Abstract

DKI Jakarta produces 7500 tons of waste per day. The volume of waste from East Jakarta is the largest, reaching 587 thousand tons or 21.5% of the total waste in DKI Jakarta per day. Over time, the level of consumption of household needs is increasing. The accumulation of waste can cause adverse impacts ranging from air, water, soil pollution, and can also cause various health problems. In an effort to reduce the burden of TPA and TPS on waste accumulation, the Incineration method can be one solution. Besides being able to reduce the volume of waste, the energy generated from waste incineration can also be used as electrical energy. The potential for utilizing municipal waste for power generation is relatively large, with a national total of 1,879.59 MW. This benefits East Jakarta with its large waste production. Until now, East Jakarta has not been effective in overcoming the waste problem because it only has 4 TPS facilitated by Reduce, Reuse & Recycle. This number is less than other areas of Jakarta. Therefore, the authors propose a waste processing facility, a power plant powered by waste burning using incineration technology so that waste does not accumulate for years, is faster in reducing waste at the source and is also more environmentally friendly than burning in the open air as is generally done by the surrounding community. It is hoped that this waste processing facility can be useful in reducing waste problems in East Jakarta. This waste treatment facility is designed provocatively, not following the surrounding typological norms that lead to square-shaped industrial buildings in general so that they have aesthetic value and change the negative views of the community regarding waste. The tourism-educational function can also be an advantage of this waste processing facility. Keywords:  garbage pollution; incineration; waste treatment facilitiesAbstrakDKI Jakarta memproduksi sampah mencapai 7500 ton per hari. Volume sampah dari Jakarta Timur merupakan yang terbanyak yaitu mencapai 587 ribu ton atau 21,5% dari total sampah DKI Jakarta per hari. Seiring berjalannya waktu, tingkat konsumsi kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Penumpukan sampah dapat menimbulkan dampak merugikan mulai dari pencemaran udara, air, tanah, juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Dalam upaya mengurangi beban TPA maupun TPS terhadap penumpukan sampah, metode Insinerasi dapat menjadi salah satu solusi. Selain bisa mengurangi volume sampah, energi yang dihasilkan dari insinerasi sampah juga dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik. Potensi pemanfaatan sampah kota untuk pembangkit listrik relative besar, dengan total nasional 1.879,59 MW. Hal ini menguntungkan Jakarta timur dengan produksi sampahnya yang besar. Hingga saat ini Jakarta timur belum efektif mengatasi permasalahan sampah karena hanya memiliki 4 TPS yang difasilitasi dengan Reduce, Reuse & Recycle. Jumlah ini lebih sedikit dari daerah Jakarta lainnya. Oleh karena itu penulis mencanangkan fasilitas pengolahan sampah, pembangkit listrik bertenaga pembakaran sampah menggunakan teknologi insinerasi agar sampah tidak menumpuk selama bertahun-tahun, lebih cepat dalam mengurangi sampah disumber dan juga lebih ramah lingkungan daripada pembakaran di udara terbuka seperti yang umumnya dilakukan masyarakat sekitar. Diharapkan fasilitas pengolahan sampah ini dapat bermanfaat mengurangi permasalahan sampah di Jakarta Timur. Fasilitas pengolahan sampah ini didesain secara provokatif, tidak mengikuti norma tipologi di sekitarnya yang mengarah pada bangunan industrial berbentuk persegi pada umumnya sehingga memiliki nilai estetika serta perubahan pandangan negative masyarakat terkait sampah. Fungsi wisata-edukasi juga dapat menjadi keunggulan dari fasilitas pengolahan sampah ini.
RUMAH WISATA BATIK MANGROVE: KEMBALI KE AWAL (MEMPERKENALKAN BATIK MANGROVE SEBAGAI WARISAN BUDAYA) Karina Adelia; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12781

Abstract

Batik is one of the heritages of the Indonesian nation and its existence has now become our identity. But over time, batik is only considered as formal clothing that is only used at certain times. The lack of use of batik in everyday life makes it increasingly forgotten and less attractive to the younger generation. The rise of the fast fashion industry which is considered more trendy makes batik no longer known as everyday wear. In fact, the fast fashion industry has more or less had an impact on natural damage due to the use of clothing raw materials that are less environmentally friendly. This development in the fashion sector also has an impact on the production of batik which is less environmentally friendly where the dyes and fabrics use materials that are less environmentally friendly. In 2013 the mangrove batik community emerged with the aim of bringing back environmentally friendly batik and at the same time helping the mangrove forest ecosystem. This mangrove batik uses mangrove waste such as stems, roots, and leaves which are processed in such a way that it can be used as a substitute for synthetic dyes that are not environmentally friendly. This mangrove batik tourism house project is expected to be a forum for the mangrove batik community to return to exist in the community. One way is to provide a place for workshops so that people can get to know mangrove batik and directly experience the practice of batik. Furthermore, this mangrove batik tourism house presents a recycling area to support providing improvements and enhancements to the quality of the surrounding environment. Keywords: batik; mangrove batik; fast fashion industry AbstrakBatik merupakan salah satu warisan Bangsa Indonesia dan keberadaannya kini telah menjadi identitas kita. Namun seiring berjalannya waktu, batik hanya dianggap sebagai pakaian resmi yang hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu saaj. Minimnya penggunaan batik dalam kehidupan sehari-hari menjadikannya kian dilupakan dan kurang diminati oleh generasi muda. Maraknya industri fast fashion yang dianggap lebih trendi menjadikan batik tidak lagi dikenal sebagai pakaian sehari-hari. Padahal, industri fast fashion ini kurang lebih telah membawa dampak pada kerusakan alam akibat penggunaan bahan baku sandang yang kurang ramah lingkungan. Perkembangan di bidang fashion ini juga membawa pengaruh pada produksi batik yang kurang ramah lingkungan di mana bahan pewarna maupun kainnya menggunakan bahan yang kurang ramah lingkungan.Pada tahun 2013 muncul komunitas batik mangrove yang bertujuan menghadirkan kembali batik yang ramah lingkungan sekaligus dapat membantu ekosistem hutan mangrove. Batik mangrove ini menggunakan limbah mangrove seperti batang, akar, serta daunnya yang diproses sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pewarna pengganti pewarna sintetis yang tidak ramah lingkungan. Proyek rumah wisata batik mangrove ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi komunitas pembatik mengrove untuk kembali eksis di kalangan masyarakat. Salah satu caranya ialah dengan menyediakan tempat workshop agar masyarakat dapat mengenal kembali batik mangrove dan langsung merasakan praktik membatik. Lebih jauh dari itu, rumah wisata batik mangrove ini menghadirkan area daur ulang untuk mendukung memberikan perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan di sekitarnya.
RUMAH RAMAH BANJIR DI KAMPUNG PEJATEN TIMUR Angie Abigail Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12303

Abstract

Floods in Jakarta occur almost every year. Some areas even experienced floods which were quite severe and worrying, while the conditions for the evacuation were still not sufficient. Based on the data obtained, the largest flood point in Jakarta is in the South Jakarta area with 39 flood points and one of the areas experiencing the worst flooding in Jakarta is Kampung Pejaten Timur. East Pejaten Village has a low land contour. As a result, flooding in East Pejaten Village can reach 2-3 meters. Floods in Jakarta occurred because the principle of the city is still against the flood. Thus, the principle of a suitable building is a building that resists flooding and must be able to live with floods, because Jakarta floods are unavoidable. Several things need to be considered when designing buildings, including the residents' needs during the flood, the residents' activities during and during the flood, and the materials used in the project to support flood-resistant buildings. For this reason, the method used in designing is to adapt the activities of residents when it is flooded or not flooded into the building. To build a flood-friendly building, this project was designed as an amphibious building that can adapt to flooding by floating, and become a stilt house when it is not flooded. Thus, the residents who live in it no longer need to evacuate and their homes are also safe when floods come. Keywords:  Flood, Pejaten Timur, Residential AbstrakBanjir di Jakarta terjadi hampir setiap tahunnya. Beberapa daerah bahkan mengalami banjir yang cukup parah dan mengkhawatirkan, sedangkan kondisi pengungsian juga masih belum memadai. Berdasarkan data yang diperoleh, titik banjir terbanyak di Jakarta berada di daerah Jakarta Selatan dengan 39 titik banjir dan salah satu daerah yang mengalami banjir terparah di Jakarta adalah Kampung Pejaten Timur. Kampung Pejaten Timur memiliki kontur tanah yang rendah. Akibatnya, banjir di Kampung Pejaten Timur dapat mencapai 2-3 meter. Banjir di Jakarta ini terjadi karena prinsip kotanya yang masih melawan air. Maka, prinsip bangunan yang cocok adalah bangunan yang tidak melawan banjir dan harus mampu hidup berdampingan dengan banjir, karena banjir Jakarta tidak dapat dihindari. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mendesain bangunan, antara lain; kebutuhan warga ketika banjir, aktivitas warga setempat baik ketika banjir maupun tidak banjir, serta bahan dan material yang digunakan dalam proyek untuk memungkinkan bangunan tahan terhadap banjir. Untuk itu metode yang digunakan dalam mendesain adalah dengan mengadaptasikan aktivitas warga ketika banjir ataupun tidak banjir kedalam bangunan. Dalam upaya membangun bangunan ramah banjir, proyek ini dibuat sebagai bangunan amfibi yang mampu beradaptasi, dengan dapat mengapung ketika banjir dan menjadi rumah panggung ketika tidak banjir. Dengan demikian, warga yang tinggal didalamnya tidak perlu lagi mengungsi dan rumah mereka juga aman ketika banjir datang.
PENERAPAN PROGRAM KOTAKU DALAM MENGATASI KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI KAMPUNG RAWA BARAT, KELURAHAN KEBON JERUK, KOTA JAKARTA BARAT Tika Amelia Karina; Parino Rahardjo; Jo Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12870

Abstract

KOTAKU is government’s strategic program which intended to increase to basic infrastructure and service in slum areas. Kampung Rawa Barat is one of the towns which gets the priority in the implementation of KOTAKU program and the TORA location priority for Agrarian Reform Activities There are 3.7 hectares of slum area in Kampung Rawa Barat with various problems such as the condition of facilities and infrastructure, with indications of various problems besides that there are also 32 houses in Kampung Rawa Barat whose buildings stand on the banks of rivers. The problems that exist in slum areas are indicated by the existing conditions of basic facilities and infrastructure that have not been fully served and adequate. The purpose of this study was to analyze the respondents, the physical condition of housing and the community, the level of slums, the area, and the participation of the people living in this tourist area. The analytical method used is using a quantitative approach. The data sources used consist of 2 types, namely primary and secondary data. The number of research respondents was 88 respondents from a total of 2 RT (RT15/16). The results of this study indicate that the majority of the population living in slum areas are young men, working street vendors and earning an average of less than 1 million rupiah, and the majority of the population is dominated by natives. In addition, the physical condition of slum areas shows that there are residential buildings that are not suitable for habitation, settlements whose environmental roads do not meet technical standards, waste is still disposed of carelessly at several points, and there are still many houses that have not been served by septic pipes or septic tanks. The level of slums in the slum area in Kampung Rawa Barat is at the level of light slums. Meanwhile, the level of participation in the implementation of the KOTAKU program in Kampung Rawa Barat is at a moderate level of participation. Keywords: KOTAKU Program; Level of Dinginess; People’s Participation. Abstrak Program KOTAKU adalah program strategis pemerintah yang memiliki tujuan untuk meningkatkan infrastruktur dan pelayanan dasar pada kawasan permukiman kumuh perkotaan. Kampung Rawa Barat merupakan salah satu kampung kota yang mendapat prioritas pelaksanaan program KOTAKU, hal ini ditunjukkan pada daftar Kampung Kumuh dan juga Lokasi TORA Prioritas Kegiatan Reforma Agraria Provinsi DKI Jakarta. Terdapat 3,7 hektar kawasan kumuh di Kampung Rawa Barat dengan berbagai macam permasalahan. Permasalahan yang ada di dalam kawasan kumuh ditunjukkan dengan kondisi eksisting sarana dan prasarana dasar yang belum sepenuhnya terlayani serta memadai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik masyarakat responden, kondisi fisik perumahan dan permukiman kumuh, tingkat kekumuhan kawasan permukiman dan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggal pada kawasan permukiman kumuh. Metode analisis yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif. Sumber data yang digunakan terdiri dari 2 jenis yaitu data primer dan sekunder. Jumlah responden penelitian sebanyak 88 responden dari total 2 RT (RT15/16). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penduduk yang tinggal di kawasan permukiman kumuh mayoritas berjenis kelamin laki-laki golongan usia muda, dengan pekerjaan PKL serta berpenghasilan rata-rata dibawah 1 juta rupiah, dan mayoritas penduduk lebih didominasi oleh penduduk asli. Selain itu untuk kondisi fisik kawasan permukiman kumuh menunjukkan adanya bangunan hunian yang tidak layak huni, permukiman yang jalan lingkungannya belum sesuai standar teknis, sampah masih dibunag secara sembarangan di beberapa titik, dan masih banyak rumah yang belum terlayani saluran pipa septik atau tanki septiktank. Tingkat kekumuhan pada Kampung Rawa Barat berada pada tingkat kekumuhan Ringan. Sementara tingkat partisipasi dalam penyelenggaraan program KOTAKU di Kampung Rawa Barat berada pada tingkat partisipasi Sedang.
RENCANA PENATAAN KAWASAN WISATA TELAGA BIRU CISOKA, KABUPATEN TANGERANG Sahda Salsabila; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12832

Abstract

The Telaga Biru Cisoka Tourism Area is a post-sand excavation area that is a tourist destination, which has 3 (three) lakes with different colors and 1 (one) lake as a Retention Basion. The Telaga Biru Cisoka Tourism Area has tourism potential based on agro-tourism and sports. The existence of tourist attractions such as Telaga Biru Cisoka can make an attraction to meet the needs of local residents and increase regional economic income. The purpose and objective of this research is to propose a structuring plan for the Telaga Biru Cisoka Tourism Area and get the results in the form of a Telaga Biru Cisoka Tourism Area master plan. This is in order to optimize the potential of the Telaga Biru Cisoka Tourism Area and to realize it as an agro-tourism and sports area then become input or recommendations to stakeholders who play a role in planning. Based on the results of the analysis, the Telaga Biru Cisoka Tourism Area has 3 (three) zoning in its arrangement plan, namely the water zone, agricultural zone, and service zone. Where from each zoning there are functions of cultivation, research and education, and recreation. Not only that, the Cisoka Blue Lake Tourism Area was also analyzed based on its natural conditions, like based on topographical analysis and hydrological analysis. Where the analysis aims to obtain the functions and concepts that will be planned in accordance with the natural conditions in the Cisoka Blue Lake Tourism Area.Keywords : setup plan/ physical plan; the function of cultivation; the function of recreation; topography and hidrology AbstrakKawasan Wisata Telaga Biru Cisoka merupakan lahan pasca galian pasir yang menjadi tujuan destinasi wisata, yang memiliki 3 (tiga) danau dengan warna berbeda dan 1 (satu) danau sebagai Retention Basin. Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka memiliki potensi wisata yang berbasis agrowisata dan olahraga. Adanya tempat wisata seperti Telaga Biru Cisoka dapat menjadikan suatu daya tarik untuk memenuhi kebutuhan penduduk lokal dan menambahkan pendapatan ekonomi daerah. Maksud dan tujuan pada penelian di wisata ini yakni mengusulkan rencana penataan pada Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka dan mendapatkan hasil berupa masterplan Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka. Hal tersebut guna mengoptimalkan potensi Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka dan mewujudkan sebagai kawasan agrowisata dan olahraga. Kemudian menjadi masukan atau rekomendasi kepada para stakeholder yang berperan dalam perencanaan. Berdasarkan hasil analisis, Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka memiliki 3 (tiga) zonasi dalam rencana penataannya yakni zona air, zona pertanian, dan zona pendukung. Dimana dari masing-masing zonasi terdapat fungsi budidaya, penelitian dan edukasi, serta rekreasi. Tak hanya itu, Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka juga dianalisis berdasarkan kondisi alamnya, yakni berdasarkan analisis topografi dan analisis hidrologi. Dimana analisis tersebut bertujuan untuk mendapatkan fungsi dan konsep yang akan direncanakan yang sesuai dengan kondisi alam pada Kawasan Wisata Telaga Biru Cisoka.
VERTICAL FARMING SEBAGAI UPAYA KONSERVASI EKOLOGI BUMI Darren Ariel Yeremia; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12316

Abstract

Food has always been a staple need for humans.  And humans always have so many ways to keep producing food in larger quantities and better qualities with a lot of variety. The activity of producing food always has a strong connection to the ecosystem condition of where the human population resided. One of the most contributing elements to food production for the human population is the agricultural industry. As one of the most contributor to human food production, technological advancement in the agricultural industry has always been the main topic of researches related to food. But recently these advancements have affected the ecology. For example, the use of pesticide and other chemicals becomes pollution for rivers and lakes around farms. Conventional agriculture requires a lot of area to sustain human food needs. These areas are taken from many natural ecologies like rainforests or other bio-spheres, the damages done to nature will affect the natural food chain and eventually affects humanity itself. The use of vertical spaces of human cities can be used as an alternative to the ever expanding needs of space for the food industry. This concept is called “Vertical Farming”. this effort can be the solution for humans who now live mostly in cities to provide for their own, without damaging the ecology more. Ragunan Stack Farm : Producing Food From City for The City is an architectural effort to move food industry activities back to cities, using sustainable development approach and energies as an approach to go beyond ecology. Keywords : Agriculture; Beyond Ecology;  Consumption; Population;  Stack Farming; Vertical Farming AbstrakMakanan adalah kebutuhan pokok manusia. Manusia memiliki berbagai macam cara untuk terus menghasilkan makanan dengan jumlah yang semakin banyak dan kualitas yang bervariasi. Kegiatan untuk produksi makanan ini selalu memiliki koneksi yang erat dengan keadaan ekosistem dimana populasi manusia itu berada. Industri pertanian merupakan salah satu kontributor terbesar produksi makanan. Sebagai sumber utama bahan baku makanan manusia, kemajuan teknologi industri pertanian menjadi fokus utama riset pangan. Kemajuan ini banyak mempengaruhi ekologi. Penggunaan pestisida dan zat kimia dalam industri pertanian mengakibatkan polusi air bagi sungai dan danau di sekitar lahan pertanian. Pertanian konvensional membutuhkan area yang sangat luas untuk menopang kebutuhan pangan manusia. Dengan memanfaatkan ekosistem alami seperti hutan hujan dan jenis bio-sphere lainnya, rusaknya keadaan alam juga menghancurkan rantai makanan alami yang lambat laun akan mempengaruhi manusia itu sendiri. Pemanfaatan ruang-ruang vertikal kota dapat menjadi salah satu solusi alternatif dari industri makanan yang selalu harus bertumbuh. Konsep ini biasa disebut sebagai program “Vertical Farming”. Upaya ini dapat menjadi solusi bagi manusia yang sekarang banyak tinggal di kota untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus merusak keadaan ekologi lebih jauh lagi. Tani Tumpuk Ragunan; Produksi Makanan dari Kota Untuk Kota merupakan upaya desain secara arsitektural untuk mengembalikan kegiatan produksi makanan ke dalam kota dengan memanfaatkan tenaga-tenaga terbarukan sebagai bentuk pendekatan melampaui ekologi.
PERANCANGAN RUSUNAWA SEBAGAI HUNIAN SEHAT DAN BERKELANJUTAN BAGI MBR DI KAPUK, JAKARTA BARAT Robby Indrajaya; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12385

Abstract

The human population in the world continues to grow rapidly. In Indonesia, especially DKI Jakarta is the most densely populated province in Indonesia with a total population of more than 10 million people. This causes residents in DKI Jakarta to be vulnerable to forming slums in various corners of the city because many residents cannot buy decent houses so that the presence of slums will affect the health of residents and the city itself. Therefore, this project aims to design an alternative healthy and decent housing in the middle of the city as a form of resilience for the City of Jakarta against its growing population, and efforts to implement environmentally friendly building systems such as the use of solar energy as an alternative to needs. electricity, reuse of rainwater for the clean water needs of its residents, as well as increasing the green area of the city both in the design site and from the land of former slums. The target of this project is Low-Income Communities (MBR) in DKI Jakarta, especially in the Kapuk area which is the most populous urban village in DKI Jakarta. This flat is designed by prioritizing health, the efficiency of space requirements, adaptation to population density, and environmental friendliness. The method used is descriptive-qualitative with a typology study approach, both from the basic form of the dwelling, the floor composition, as well as case studies from various dwellings in Jakarta. Thus, this project can provide comfort and decent housing for Low-Income People. Key words: Healthy Housing; Low Income People (MBR); Rusunawa; Sustainable Housing  AbstrakPopulasi manusia di dunia terus bertambah dengan pesat. Di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, merupakan provinsi paling padat di Indonesia dengan total populasi mencapai 10 juta lebih penduduk. Hal ini menyebabkan penduduk di DKI Jakarta rentan membentuk permukiman kumuh di berbagai sudut kota karena banyak warga yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli rumah yang layak sehingga dengan hadirnya permukiman kumuh tersebut akan mempengaruhi kesehatan penghuni dan wilayah kota itu sendiri.   Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk merancang sebuah alternatif hunian sehat dan layak di tengah kota sebagai suatu bentuk ketahanan (resilience) Kota Jakarta terhadap populasi penduduknya yang terus bertambah banyak, dan upaya untuk menerapkan sistem bangunan ramah lingkungan seperti penggunaan energi surya sebagai alternatif kebutuhan listrik, penggunaan kembali air hujan  untuk kebutuhan air bersih penghuninya, serta memperbanyak lahan hijau kota baik di dalam tapak perancangan maupun dari lahan eks permukiman kumuh. Target dari proyek ini adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di DKI Jakarta, terutama di wilayah Kapuk yang merupakan kelurahan penduduk terbanyak di DKI Jakarta. Rumah susun ini dirancang dengan mengedepankan kesehatan, efisiensi kebutuhan ruang, adaptasi dengan kepadatan penduduk, dan ramah lingkungan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi tipologi, baik dari bentuk dasar hunian, penyusun lantainya, serta studi kasus dari berbagai hunian yang ada di Jakarta. Dengan demikian, proyek ini dapat memberikan kenyamanan dan hunian yang layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).           
GALERI EDUKASI PLASTIK DENGAN PENDEKATAN METODE PERANCANGAN PLASTIS Wandy Halim; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12297

Abstract

In human life, waste is a problem that will inevitably become, and will never end. This waste problem is caused by high human consumptive behavior. Plastic waste is one of the waste problems that need serious attention because the problem of plastic waste has become a global environmental problem. To be able to overcome this large plastic waste, it takes speed in absorbing plastic waste and its use in the field of processing because plastic waste is waste that is very difficult to decompose. In Indonesia, public awareness and knowledge of plastic waste are still very lacking, so that the processing of plastic waste is still not optimal. RE-Plastic Gallery is a plastic educational gallery facility that applies the plastis design method. This plastis design method takes the nature of the plastic itself, namely plastis which means it is easy to form. With this plastis nature, plastis forms, plastis spaces, and plastis activities will be applied to the design of educational galleries. People's view of plastic waste will be changed through interactive exhibition activities, ranging from exhibitions on what plastic is, the impact of plastic on the environment, plastic artworks, plastic products, to research results on plastics aimed at fighting plastic waste. That way, people who initially dispose of plastic waste will hunt for plastic waste because they are aware that plastic is useful, valuable, profitable, and also fun.Keywords: educational gallery; plastic; plastis design method AbstrakDalam kehidupan manusia di dunia, permasalahan sampah merupakan permasalahan yang pasti akan dialami, dan tidak akan pernah ada habisnya. Permasalahan sampah ini disebabkan oleh tingginya perilaku konsumtif manusia. Sampah plastik merupakan salah satu masalah sampah yang perlu mendapat perhatian yang serius karena masalah sampah plastik ini sudah menjadi masalah lingkungan skala global. Untuk dapat mengatasi sampah plastik yang besar ini, dibutuhkan kecepatan dalam menyerap sampah plastik dan pemanfaatannya dalam bidang pengolahan karena sampah plastik merupakan sampah yang sangat sulit untuk terurai. Di Indonesia, kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan sampah plastik masih sangatlah kurang, sehingga pengolahan sampah plastik ini masih belum maksimal. RE-Plastic Gallery merupakan fasilitas galeri edukasi plastik yang menerapkan metode perancangan plastis. Metode perancangan plastis ini mengambil sifat dari plastik itu sendiri yaitu plastis yang berarti mudah untuk dibentuk. Dengan sifat plastis ini, akan diterapkan bentuk yang plastis, ruang yang plastis, dan kegiatan yang plastis pada desain galeri edukasi. Pandangan masyarakat mengenai sampah plastik akan diubah melalui kegiatan pameran yang interaktif, mulai dari pameran mengenai apa itu plastik, dampak plastik ke lingkungan, karya-karya seni plastik, produk-produk plastik, hingga hasil-hasil penelitian mengenai plastik yang bertujuan untuk memerangi sampah plastik. Dengan begitu masyarakat yang pada awalnya membuang sampah plastik akan memburu sampah plastik, karena tersadarkan bahwa plastik itu sebenarnya bermanfaat, berharga, menguntungkan, dan juga menyenangkan.

Page 64 of 134 | Total Record : 1332