cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN METODE LANDSCAPE-URBANISM DALAM PERANCANGAN RUANG REKREASI KEBUGARAN DI SAWANGAN DEPOK Glenn Geraldi; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12336

Abstract

Inside Out: Sawangan Fitness Recreation Space is a project that aims to improve the quality of nutrition and the importance of healthy living behavior awareness in the midst of urban ecological density. Demographic condition of people entering their productive age (15-64 years) in 2020-2030 encourages the need for this project as part of the 'demographic bonus investment'. The population of urban environment is getting denser due to increasing urbanization. Acceleration of time and space makes  urban environment less conducive to healthy physical activities and people are  more easily exposed to obesogenic environments. Poor nutritional intake and lack of healthy living habits are problems that need to be solved. The concept is a balance between physical needs and mental needs that are obtained from the natural environment itself. This project is designed with landscape-urbanism method with beyond ecology parameter to implement landscape principals into urban environment which is expected to bring good health for urban communities. Keywords: fitness; healthyness; recreation; urban AbstrakInside Out: Ruang Rekreasi Kebugaran Sawangan merupakan proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesadaran pentingnya perilaku hidup sehat di tengah kepadatan ekologi perkotaan. Kondisi demografi masyarakat memasuki usia produktif (15-64 tahun) di tahun 2020-2030 mendorong dibutuhkannya proyek ini sebagai bagian dari ‘investasi bonus demografi. Populasi lingkungan perkotaan semakin padat akibat peningkatan urbanisasi. Percepatan waktu dan ruang membuat lingkungan perkotaan tidak kondusif untuk aktivitas fisik yang menyehatkan dan masyarakat juga lebih mudah terpapar lingkungan obesogenik. Buruknya asupan gizi dan kurangnya perilaku hidup sehat menjadi permasalahan yang perlu diatasi. Konsep yang diusung adalah keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan batin yang diperoleh dari lingkungan alam sendiri. Proyek ini dirancang dengan metode landscape-urbanism dengan parameter beyond ecology untuk mengintegrasikan prinsip lansekap ke dalam lingkungan perkotaan yang diharapkan membawa kebaikan bagi kesehatan masyarakat. 
SWALLOW HABI-TECH : PENANGKARAN DAN GALERI WALET DI KARST CIAMPEA, BOGOR, INDONESIA Maria Stefani; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12353

Abstract

Global warming is a common problem that occurs in all parts of the world that triggers significant climate changes such as temperature increases, humidity changes, natural disasters, and can cause the extinction of flora and fauna, one of which is the swallow in Ciampea Karst, which has been damaged so that uninhabitable. In addition, the exploitation of limestone caves by humans causes swallows to feel uncomfortable and the need for artificial habitats. The goal is that the swallow's need for replacement habitat is fulfilled so that the Ciampea Karst ecosystem is not disturbed. The resulting architectural form is a technology-based captivity that takes swallows as the main subject of the project. The method used begins with the phenomenon and urgency of swallows that occur in Ciampea Karst area. Then analyzed and generated ideas in the form of captivity. However, it is not only limited to captivity, there is also an interaction space for humans in the form of swallow galleries, so that visitors can see the swallow's life. The overall shape of the building is based on an analysis study of the shape of the swallow's flying movement, so that the building adapts many forms of arches that are flexible in accordance with the swallow's daily activities. For the breeding method, it begins by using adaptation techniques first, namely by breeding the seriti bird that takes care of swallow eggs taken from the limestone caves of the Ciampea Karst. In addition to methods in design, the use of technology in building materials, especially in captivity and galleries, also uses natural materials such as natural exposed wood and brick walls. So, to show the side 'beyond ecology', it is not only limited to ecology in the use of materials, but there is an indirect interaction space between humans and swallows that functions to fight against human anthropocentric attitudes, while helping humans to feel the swallow's life in an architectural building. Keywords:  captivity; gallery; habitat; technology; white swallow. AbstrakPemanasan global merupakan permasalahan umum yang terjadi di seluruh belahan dunia yang memicu terjadinya perubahan iklim yang cukup signifikan seperti kenaikan suhu, perubahan kelembaban, bencana alam, dan dapat menyebabkan kepunahan flora dan fauna, salah satunya burung walet di Karst Ciampea, yang sudah mengalami kerusakan sehingga tidak layak huni. Selain itu, eksploitasi gua kapur oleh manusia menyebabkan walet merasa tidak nyaman dan diperlukannya habitat buatan. Tujuannya agar kebutuhan walet akan habitat pengganti terpenuhi sehingga ekosistem Karst Ciampea tidak terganggu. Bentuk arsitektur yang dihasilkan berupa penangkaran berbasis teknologi yang mengambil walet sebagai subjek utama proyek. Metode yang digunakan berawal dari fenomena dan urgensi walet yang terjadi di kawasan Karst Ciampea. Kemudian dianalisa dan dihasilkan ide berupa penangkaran. Tetapi, tidak hanya berbatas pada penangkaran, tersedia juga ruang interaksi untuk menusia yang berupa galeri-galeri walet, sehingga pengunjung dapat memandang kehidupan walet. Bentuk bangunan keseluruhan didasarkan pada studi analisa bentuk gerakan terbang walet, sehingga bangunan mengadaptasi banyak bentuk lengkungan yang leluasa sesuai dengan aktivitas keseharian walet. Untuk metode penangkaran, diawali dengan menggunakan teknik adaptasi terlebih dahulu, yaitu dengan menangkarkan burung seriti yang mengasuh telur walet yang diambil dari gua-gua kapur Karst Ciampea. Selain metode dalam perancangan, penggunaan teknologi pada material bangunan terutama penangkaran dan galeri juga banyak menggunakan bahan alami seperti kayu dan dinding bata ekspos yang bersifat alami. Sehingga, untuk menampilkan sisi ‘melampaui ekologi’, tidak hanya terbatas pada ekologi dalam penggunaan material, tetapi terdapat ruang interaksi yang tidak langsung antara manusia dengan walet berfungsi untuk melawan sikap antroposentris manusia, sekaligus membantu manusia untuk turut merasakan kehidupan walet dalam suatu bangunan arsitektur.
HUNIAN ADAPTIF SEBAGAI REVITALISASI PERMUKIMAN KUMUH KAMPUNG RAWA BENGEK Natasha Jeanette Sapoetra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12339

Abstract

Population growth and rapid urbanization have resulted in the growth of urban village clusters and have increased the urgency for habitable housing in slum settlements. So that a follow-up is needed to modify and restructure slum settlements in order to improve the quality of life of the community and improve the image of the urban village in the urban context. The concept of adaptive living for revitalization is one of the alternative solutions that can be applied by using an landscape urbanism approach to adjust conditions according to the city context and its surroundings as well as social, cultural and habitual adjustments of local residents. Social shelter is a residential concept that is applied in the design so that the intensity of the social activities of the population can be maintained. The application of a modular system in housing developments makes it easy to facilitate the construction process and is sustainable in its surroundings and is expected to spread and be applied to other slum settlements so that slum settlers can feel that they have a place to live according to the standard of habitability. Through the concept of adaptive housing towards future development it can be an alternative solution in dealing with slum settlements in the context of urban villages. Keywords: adaptive housing; revitalization; slum settlements; urban villages AbstrakPertumbuhan penduduk serta urbanisasi yang melesat cepat membuat tumbuhnya klaster-klaster kampung kota dan menyebabkan urgensi tempat tinggal yang layak huni pada permukiman kumuh semakin meningkat. Sehingga dibutuhkan tindak lanjut untuk memodifikasi serta penataan kembali terhadap permukiman kumuh agar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperbaiki citra dari kampung kota dalam konteks urban. Konsep perencanaan hunian adaptif dalam revitalisasi menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat diterapkan dengan menggunakan pendekatan lanskap urban untuk menyesuaikan kondisi sesuai dengan konteks kota dengan sekitarnya serta penyesuaian sosial, budaya dan kebiasaan penduduk setempat. Hunian sosial menjadi konsep berhuni yang diterapkan dalam perancangan sehingga intensitas kegiatan bersosial penduduk tetap dapat terjaga. Penerapan sistem modular pada hunian ditargetkan untuk memudahkan proses konstruksi dan untuk pengembangan berkelanjutan di sekitarnya serta diharapkan dapat menjalar dan diaplikasikan pada permukiman kumuh lainnya sehingga para pemukim kumuh dapat merasakan memiliki tempat tinggal sesuai standart kelayakan dalam berhuni. Melalui revitalisasi berbasis konsep hunian adaptif menuju pengembangan di masa depan dapat menjadi alternatif solusi dalam menghadapi permukiman kumuh dalam konteks kampung kota.
RING OF LIFE : SEBUAH STRATEGI PENYELAMATAN TERUMBU KARANG Fransisca Angeline Joham; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12414

Abstract

Samalona Island in Makassar is one of the famous tourist destinations and is home to its residents, most of whom work as fishermen. Samalona Island experienced an abrasion phenomenon which causes its shape and area to change from year to year so that the island is rumored to be sinking. The cause of abrasion on Samalona Island is the damage to the coral cover around the island which is a natural wave barrier. Damage to coral reefs is caused by irresponsible human activities, such as fishing using bombs and dangerous chemicals, reclamation that causes sea water to be polluted, and earth's temperature rise. Therefore, it is necessary to build a coral reef research and restoration center on Samalona Island. Ring of Life aims to improve the quality of coral cover to good status, identify sources of water pollution, attract tourists to be more concerned with the condition of coral reefs, and prevent the sinking of Samalona Island. This project uses a hybrid symbiosis method that brings together two different elements, namely humans and the sea, evolutionary engineering restoration, and water research. This project consists of research, restoration, tourism, management, and service programs that are outlined in a futuristic building style. Keywords:  architecture; coral reefs; research; restoration; ring of life; sea. AbstrakPulau Samalona  di Makassar merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal dan merupakan rumah bagi penghuninya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Pulau Samalona mengalami fenomena abrasi yang menyebabkan bentuk dan luasaannya berubah-ubah dari tahun ke tahun sehingga pulau ini diisukan akan tenggelam. Penyebab terjadinya abrasi pada Pulau Samalona adalah masalah rusaknya tutupan karang di sekitar pulau yang  merupakan penahan ombak alami. Rusaknya terumbu karang disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti menangkap ikan menggunakan bom dan bahan kimia berbahaya, reklamasi yang menyebabkan air laut tercemar,dan meningkatnya suhu bumi. Oleh sebab itu, perlu dibangun pusat penelitian dan restorasi terumbu karang di Pulau Samalona. Ring of Life bertujuan untuk untuk meningkatkan kualitas tutupan karang menjadi status baik, mengidentifikasi sumber pencemaran air, menarik minat wisatawan untuk lebih peduli dengan kondisi terumbu karang, dan mencegah tenggelamnya Pulau Samalona. Proyek ini menggunakan metode simbiosis hibrid yang menyatukan dua elemen berbeda yaitu manusia dan laut, restorasi rekayasa evolusi, dan penelitian air. Proyek ini terdiri dari program penelitian, restorasi, wisata, pengelola, dan servis yang dituangkan dalam gaya bangunan futuristik.
PUSAT PERAWATAN PSIKOLOGIS UNTUK PEKERJA DI LINGKUNGAN BISING – KAWASAN JABABEKA Juan Vinandy; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12441

Abstract

The increase in industrialization today cannot be separated from the improvement of modern technology. The mechanization of work in various industrial sectors is increasingly advanced and the types of work that use muscle strength have gradually been replaced by machine strength because they can cope with tough work. However, in many industries there has never been a completely automated industry. As a consequence, manual activities are still being carried out in various workplaces side by side with industrial machines. In fact, the acceleration of existing technology is still not balanced with the ability of the workforce to handle it, so the role of Hiperkes and Work Safety is needed in it. Environmental factors such as noise, namely the sound that is not harmonious with the intensity of the incident, is one of the factors that affect workers in doing work so that it will affect work productivity. The impact that affects the use of machines on the health of workers is noise which causes hearing loss (deafness), psychological disorders (feeling uncomfortable), physiological disorders (increased blood pressure and pulse). Architecture should be able to help by presenting a building that functions as health promotion (promotive), disease prevention (preventive), disease healing (curative), and health restoration (rehabilitative). The presence of a program with a bbiophilic design aims to provide assistance to workers, protect workers from health problems arising from work and the work environment, improve health, provide medication and care as well as rehabilitation. Keywords:  factory worker ; mental health ; psychological.AbstrakPeningkatan industrialisasi saat ini tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan teknologi modern. Pemanfaatan teknologi untuk mengatasi pekerjaan berat di berbagai sektor industri semakin maju dan jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan otot berangsur diganti dengan kekuatan mesin. Meskipun demikian pada berbagai industri belum pernah terjadi industri dengan otomasi sempurna (completely automated). Sebagai konsekuensinya adalah kegiatan manual di berbagai tempat kerja berdampingan dengan mesin industri masih banyak dilakukan. Nyatanya percepatan teknologi yang ada masih belum seimbang dengan kemampuan tenaga kerja yang menanganinya, sehingga peran Higiene perusahaan dan Kesehatan kerja (hiperkes) dan Keselamatan kerja sangat diperlukan didalamnya. Faktor lingkungan seperti kebisingan yaitu suara yang tidak harmonis dengan intensitas pada kejadian adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas pekerjaan. Dampak yang berpengaruh dari penggunaan mesin terhadap kesehatan pekerja  adalah kebisingan yang mengakibatkan gangguan pada pendengaran (ketulian),  gangguan psikologis (merasa  tidak  nyaman), gangguan  fisiologis (peningkatan  tekanan darah dan nadi).  Arsitektur seharusnya dapat membantu dengan menghadirkan suatu bangunan yang berfungsi sebagai peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Penghadiran program dengan desain biofilik bertujuan untuk memberi bantuan kepada tenaga kerja, melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan dan lingkungan kerja, meningkatkan kesehatan, memberi pengobatan dan perawatan serta rehabilitas.
PENGOLAHAN LIMBAH SANITASI BERBASIS BIO-ENERGI DALAM PENATAAN KAWASAN HUNIAN KUMUH DI TANJUNG DUREN UTARA, JAKARTA BARAT Kayatsha Mutiara Nasser; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12476

Abstract

Gang Serketaris Tanjung Duren Utara, West Jakarta has been a squatter settlement since before the reform took place and is now one of the settlements with the worst sanitation in the capital. The 124 heads of families coexisted with the smell of sewage from the Secretary River that ran along the alley. The low level of public awareness of cleanliness and environmental pollution makes residents prefer to throw their waste directly into the Sekretaris River. On the other hand, Indonesia is also experiencing an energy crisis. according to Wood Mackenzie Chemical and Energy Company, which records the trend of Indonesia's energy balance in terms of coal, gas (LNG), and oil, stating that Indonesia has experienced an energy deficit since 2007 and continues to increase until it is estimated that in 2040. Seeing the link between the energy crisis and sanitation problems in Indonesia, these two things can indirectly damage the ecological chain but if resolved properly can open up opportunities for the development of renewable energy technologies and solutions to environmental problems. The bioenergy process in the realm of architecture is a solution for handling slum areas to realize sustainable sanitation empowerment. Bioenergy is the development of renewable energy obtained from biomass. The design of the slum area arrangement program at the Gang Secretariat uses a contextual search approach from deep socio-cultural conditions. Creating a sanitation community that is reflected in living, working, and gathering activities. Keywords:  Bio- Energy; Sanitation; Slum Area AbstrakGang Serketaris Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat sudah menjadi pemukiman liar dari sebelum reformasi terjadi dan kini menjadi salah satu pemukiman dengan sanitasi terburuk di ibu kota.  124 kepala keluarga hidup berdampingan dengan bau tinja dari Kali Sekretaris yang membentang di sepanjang gang tersebut. Kesadaran warga yang rendah terhadap kebersihan dan pencemaran lingkungan membuat warga lebih memilih membuang kotorannya langsung ke Kali Sekretaris. Disisi lain, Indonesia juga mengalami krisis energi. menurut Wood Mackenzie Chemical and Energy Company, yang mencatat tren neraca energi Indonesia dari sisi batu bara, gas (LNG), dan minyak bumi, menyatakan Indonesia sudah mengalami defisit energi sejak 2007 dan semakin meningkat hingga perkiraan tahun 2040. Melihat keterkaitan antara permasalahan krisis energi dan permasalahan sanitasi di Indonesia, kedua hal ini secara tidak langsung dapat merusak suatu rantai ekologi namun apabila diselesaikan dengan tepat mampu membuka peluang pada pengembangan teknologi energi terbarukan maupun penyelesaian terhadap isu lingkungan yang terjadi. Proses Bio-energi dalam ranah arsitektur menjadi solusi penanganan Kawasan hunian kumuh untuk mencapai pemberdayaan sanitasi yang berkelanjutan. Bio-energi merupakan  pengembangan energi terbarukan yang diperoleh dari biomassa. Rancangan program penataan kawasan hunian kumuh di Gang Sekretaris menggunakan pendekatan penulusuran kontekstual dari kondisi sosial budaya secara mendalam. Menciptakan sebuah komunitas sanitasi yang tercermin kepada kegiatan berhuni, bekerja, dan berkumpul.
REDESAIN PASAR KOPRO MENJADI PASAR BERBASIS NOL SAMPAH MAKANAN, GROGOL PETAMBURAN Venny Mettasari; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12360

Abstract

Food waste is one of the ecological issues that exist in big cities. In fact, food waste is one of the biggest causes of the greenhouse effect. Food that is thrown away, if stockpiled can produce methane gas which can destroy the ozone layer which can lead to global   warming. According to data from the Ministry of Environment and Forestry's National Waste Management Information System for 2017-2018, the composition of food waste in West Jakarta is the highest among other metropolitan areas with 70% of the composition of waste is food waste. Therefore, the need for handling so that food waste can be processed so that it can be reused. The proposed program aims to create a market cycle based on zero food waste which is expected to reduce environmental issues regarding the amount of food waste that is wasted, especially in the city of Jakarta. The concept used is a sustainable building that uses green architectural design methods so that it can accommodate community activities so that this building is designed to have a semi-open inner space and uses environmentally friendly materials. This market program is also supported by several other programs such as processing and community programs, small kitchens, and dining areas. Activity grouping is made based on zoning and takes into account the privacy of each activity. With this building, it is hoped that it can reduce the increase in food waste which can increase global warming. Keywords:  food waste; global warming, green architecture, zero food waste marketAbstrakSampah makanan adalah salah satu isu ekologi yang terdapat pada kota-kota besar. Nyatanya, sampah makanan merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca terbesar. Makanan yang dibuang, jika ditimbun dapat menghasilkan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon yang dapat mengakibatkan pemanasan global. Menurut data sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK tahun 2017-2018, komposisi sampah sisa makanan di Jakarta Barat merupakan yang tertinggi diantara daerah metropolitan lainnya dengan 70% komposisi dari sampah adalah sampah makanan. Oleh karena itu, diperlukannya penanganan agar sampah makanan dapat diolah agar bisa digunakan kembali. Program yang diusulkan memiliki tujuan untuk menciptakan siklus pasar berbasis nol sampah makanan yang diharapkan dapat mengurangi isu lingkungan tentang banyaknya sampah makanan yang terbuang khususnya di Kota Jakarta. Konsep yang digunakan adalah bangunan berkelanjutan yang menggunakan metode desain arsitektur hijau agar dapat mewadahi kegiatan masyarakat sehingga bangunan ini di desain memiliki ruang dalam yang semi terbuka dan menggunakan material yang ramah lingkungan. Program pasar ini pun didukung dengan beberapa program yang lainnya seperti program pengolahan, dan komunitas, dapur kecil, serta area makan. Pengelompokkan kegiatan dibuat berdasarkan zoning dan memperhatikan privasi dari setiap kegiatan. Dengan  adanya bangunan ini diharapkan dapat mengurangi maraknya sampah makanan yang dapat meningkatkan pemanasan global.
PUSAT PEMANFAATAN DAN KONSERVASI TAILING KUTO PANJI Steffi Setiawan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12387

Abstract

The tin mining in Bangka Belitung Province has been exploited for the past three centuries, this exploitation activity disrupts the landscape and causes environmental impacts. The resulting environmental impact is an increase in temperature and humidity. The landscape in the ex-tin mining area shows two surface forms, namely: tailings and underneath. Tailings are the residue left over from leaching of tin minerals, and underneath are shaped like ponds or small lakes. The structure of the soil layer in the former tin mining area is not like the soil structure in general, the topsoil in the former tin mining area has generally been lost, and the soil fertility is low with high levels of the sand fraction.Areas that have been exploited must be reclaimed and revegetated, so that it is safe to visit. One of the wastes from tin mining activities, namely tailings, has made Bangka Belitung Province a producer of tailings, the tailings can be reused as material for brick making, but before processed into brick material, it is necessary to separate the tailings from hazardous materials using a magnetic separator so that it is safe to become one of the brick-making materials. For further research on other uses of the ex-tin mining area, a conservation area is needed. Other than that, it is a place of recreation and education, in the form of elevated trails that surround the tin mine reclamation area with surrounding areas of former tin mines, shrimp pond that was previously a former tin mining area, and tropical rainforest.The design approach used in this planning is to make the traditional house of the Lom Tribe as a reference for the application of tropical architecture. Through this approach, it produces natural ventilation of the new composition. In addition, this design concept also adds sun shading and courtyard as part of tropical architecture.  Keywords:  ex-mining site; conservation; revegetation; reclamation; the traditional house of Lom TribeAbstrakTambang timah di Provinsi Bangka Belitung sudah sejak tiga abad lalu di eksploitasi, kegiatan eksploitasi ini mengakibatkan terganggunya lanskap dan menimbulkan dampak lingkungan. Dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah peningkatan suhu, dan kelembaban. Lanskap pada area bekas tambang timah memperlihatkan dua bentuk permukaan, yaitu: tailing dan kolong. Tailing merupakan sisa dari pencucian mineral timah dan kolong berbentuk seperti kolam atau danau kecil. Struktur lapisan tanah pada area bekas tambang timah tidak seperti struktur tanah pada umumnya, lapisan tanah bagian atas atau top soil pada area bekas tambang timah umumnya sudah hilang, dan kesuburan tanah menjadi rendah dengan tingginya kadar fraksi pasir.Area yang sudah di eksploitasi harus direklamasi dan direvegetasi agar aman untuk dikunjungi. Salah satu limbah dari kegiatan tambang timah yaitu tailing, maka menjadikan Provinsi Bangka Belitung sebagai produsen hamparan tailing, tailing tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan pembuatan batako, namun sebelum diolah menjadi bahan batako, perlu dilakukan pemisahan tailing dengan bahan yang berbahaya menggunakan magnetic separator sehingga aman untuk menjadi salah satu bahan pembuatan batako. Untuk penelitian lebih lanjut pemanfaatan lain dari area bekas tambang timah, maka diperlukannya tempat konservasi. Selain itu, menjadi tempat rekreasi dan edukasi berupa elevated trails yang mengitari area reklamasi tambang timah dengan sekelilingnya terdapat area bekas tambang timah, tambak udang yang sebelumnya adalah area bekas tambang timah, dan tropical rainforest.Pendekatan desain dalam perencanaan ini adalah dengan menjadikan rumah adat Suku Lom sebagai acuan dari penerapan arsitektur tropis. Melalui pendekatan tersebut menghasilkan pengudaraan alami dari bentuk gubahan baru. Selain itu konsep perancangan ini juga menambahkan sun shading dan courtyard sebagai bagian dari arsitektur tropis.  
PENERAPAN BIOFILIK ARSITEKTUR DAN GEOMETRI FRAKTAL PADA DESAIN FASILITAS KONSERVASI PEMBUDIDAYAAN TERUMBU KARANG DI LABUAN BAJO Nadya Amelia; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12389

Abstract

The Coral Reef Cultivation Conservation Facility is a project located in the Red Beach area, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara. Architectural Biophilic Methods and Fractal Geometry are design methods used as references in this building. The principles and patterns used provide experiences and perspectives to improve coral reef cultivation and maintain the survival of coral reefs based on learning and aquaculture recreation. The principles of Nature In Space, Natural Analogoues and Natural Of The Space are applied in the project which is indicated by the existence of floating building forms, adjacent to natural habitats in the sea and building functions that prioritize coral reef ecosystems. The application of Fractal Geometry can be seen from the application of building facades that are inspired by the form of mass transformation in layers following the layers of coral reefs and coral reef pattern structures and environmentally friendly building technology and systems. The overall project design creates an element of ecological maintenance for marine ecosystems by taking into account the survival of coral reefs. Keywords: biophilic architectural; conservation facility; fractal geometry; marine ecosystemAbstrakFasilitas Konservasi Pembudidayaan Terumbu Karang adalah bangunan yang berada di wilayah Pantai Merah, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Metode Biofilik Arsitektur dan Geometri Fraktal adalah metode desain yang digunakan sebagai acuan dalam bangunan ini. Prinsip-prinsip dan pattern yang digunakan memberikan pengalaman dan pandangan untuk meningkatkan pembudidayaan terumbu karang serta menjaga keberlangsung hidup terumbu karang berbasis rekreasi pembelajaran dan budidaya. Prinsip Nature In Space, Natural Analogoues dan Natural Of The Space diterapkan dalam bangunan yang ditunjukkan dengan adanya bentuk bangunan floating, berdekatan dengan habitat alam di laut dan fungsi bangunan yang mengutamakan ekosistem terumbu karang. Penerapan Geometri Fraktal dapat dilihat dengan adanya penerapan fasad bangunan yang terinspirasi dari bentuk transformasi massa berlapis lapis mengikuti lapisan terumbu karang dan struktur pattern terumbu karang dan teknologi serta sistem bangunan yang ramah lingkungan. Keseluruhan desain bangunan menciptakan unsur pemeliharaan ekologi terhadap ekosistem laut dengan  memperhatikan keberlangsungan hidup terumbu karang.
NORMAL LIVING: ARSITEKTUR BERPERAN SEBAGAI PENGUBAH STIGMA BURUK & DISKRIMINASI ATAS KAUM DIFABEL Jihan Nurmaulida; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12354

Abstract

Built based on the keep-increasing issues of disabilities for those who live in the event of poverty due to discriminations, or for not having the same rights and/or opportunities as others on the community. Though, also reflected from the point of view of architectural that most of the spaces contain physical barriers, which Un purposely happened to create “design apartheid”, where disabilities treated as ones who are ‘excluded’ in the area caused by the inaccessible layout in the space. Normal Living is a project, built and located in Sunter Agung, where disabilities, specifically who are in wheelchairs, are given the opportunities of working in industry such as kebayas, dresses, and suits,. The product’s later will be shown and presented through Wheelchair Dance and Fashion Runway. In daily life they are also given a quite decent life support, such as, a proper living accommodation with the existence of urban farming activities to provide their daily need of food. For moral support, they could do their social-life in the provided community. Normal Living is built with purpose to remove bad stigma of the inabilities of disabilities, which been overly years becoming what the public belief. Not only to remove it from public, but more importantly to remove it from the disabilities themselves. In order to reach it, Normal Living is up to create self confident in each of the disabilities. Therefore we can actually agree that between normal and abnormal are only about perceptions. Normal Living is an architectural projects that implied with Equality campaign, doing such activities (which were used to be considered as the inabilities of disabilities) through entertainment, dancing and fashion. In order to reach the described- above purpose, firstly Normal Living uses the planning method to put the comforts of disabilities as its primer priority and spatial perception to build perception for building users. The second one is to create collective programs, followed by the third which is to emphasize the transparency aspects during the material of proof. Keywords: Disabilities; Decent Living Places; Spatial PerceptionAbstrakBerlatar belakangi isu Difabel yang kian berujung menjadi pengangguran lalu hidup miskin karena terjadinya diskriminasi terhadap mereka, atau tidak mendapatnya hak dan kesempatan yang sama seperti kalangan masyarakat lainnya. Yang bahkan bisa dilihat dari sisi arsitektur pun, sebagian besar sebuah ruang berisi penghalang fisik yang secara tidak sengaja menciptakan “desain apartheid”, di mana penyandang disabilitas dikecualikan dari area karena tata letak ruang yang tidak dapat diakses. Normal Living merupakan sebuah proyek berlokasi di Sunter Agung dimana para Tuna Daksa berkusi roda diberi pekerjaan pada industri kebaya, gaun dan jas, yang nanti nya akan mereka pamerkan melalui wheelchair dance & fashion runway. Mereka diberi penghidupan layak yaitu diberi akomodasi tempat tinggal dengan adanya Farming sebagai Suplai Makanan mereka, dan tentu sebagai tempat mereka mendapatkan moral support lewat hidup berkomunitas. Normal Living ini bertujuan untuk mengubah stigma buruk yang beredar di masyarakat kalau mereka tidak bisa melakukan apa-apa, mengubah dari internal diri mereka sendiri untuk membuat mereka merasa percaya diri bahwa mereka normal, karena bahwasanya, pelabelan normal dan tidak normal hanyalah sebuah persepsi. Sehingga secara implisit, Normal Living bertujuan sebagai produk arsitektural yang berkampanye akan kesetaraan. Melakukan aktivitas yang dianggap mereka tidak bisa lakukan lewat entertainment - menari dan menjadi fashionable. Untuk mencapai tujuan dari proyek ini Metode Perancangan yang digunakan pada Normal Living ini yang pertama yaitu Kenyamanan Mereka Para pengguna kursi roda adalah prioritas Utama, lalu persepsi spasial untuk membentuk persepsi kepada para pengguna bangunan, yang kedua berbentuk program kolektif dan ketiga, menegaskan aspek transpansi pada material untuk pembuktian.

Page 60 of 134 | Total Record : 1332