cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENATAAN KAWASAN WISATA AIR TERJUN LEUWI HEJO BERBASIS EKOWISATA Bagus Febryan; B. Irwan Wipranata; I G Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12930

Abstract

The tourist area of Leuwi Hejo Waterfall is one of the tourist areas in Cibadak Village, Sukamakmur District, Bogor Regency. Leuwi Hejo Waterfall Tourism is owned by Perhutani KPH Bogor and LMDH Wana Sejahtera and LMDH Badak Lestari. Leuwi Hejo Waterfall Tourism has an area of 14 hectares. This tourist area has the potential to attract beautiful natural scenery supported by clear waterfalls with rocks, enjoying water by swimming, photo spots, cliff jumping, beautiful atmosphere and natural coolness felt by tourists for vacation. However, a significant problem is the lack of facilities, infrastructure, and tourist facilities so that the potential in this area becomes less visible. The research looks at several tourism potentials that are quite good if they are developed with a touch of structuring the Leuwi Hejo Waterfall tourist area with the concept of ecotourism. Data collection methods made by researchers include interviews, observations, documentation, and secondary data in the form of data from relevant agencies that refer to the tourist area plan. the author performs several analyzes such as location and site analysis, tourist attraction analysis, tourism concept analysis, best price analysis, and space requirements analysis so as to produce a proposed arrangement of the Leuwi Hejo Waterfall Tourism Area which is planned with the concept of Ecotourism. Keywords:  Ecotourism; Area planning; Air Terjun Leuwi HejoAbstrakKawasan obyek Wisata Air Terjun Leuwi Hejo merupakan salah satu kawasan wisata yang berada di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Wisata Air Terjun Leuwi Hejo dimiliki oleh Perhutani KPH Bogor dan LMDH Wana Sejahtera dan LMDH Badak Lestari. Wisata Air Terjun Leuwi Hejo memiliki luas 14 Ha. Kawasan wisata ini memiliki potensi dengan daya tarik indahnya pemandangan alam yang di dukung dengan jernihnya air terjun dengan adanya bebatuan, Menikmati air dengan Berenang, spot foto, Lompat Tebing, suasana yang asri dan kesejukan alam yang di rasakan oleh wisatawan untuk berlibur. Namun adapun masalah yang cukup signifikan iyalah kurang sarana, prasarana, dan fasilitas wisata sehingga potensi yang ada di area kawasan ini menjadi kurang terlihat. penelitian melihat beberapa potensi wisata yang cukup baik apabila dikembangkan dengan sentuhan penataan kawasan wisata Air Terjun Leuwi Hejo dengan konsep ekowisata. metode pengumpulan data yang dibuat peneliti diantaranya yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, serta data sekunder berupada data dari instansi terkait yang merujuk rencana kawasan wisata. penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis lokasi dan tapak, analisis daya tarik wisata, analisis konsep wisata, analisis best price, dan analisis kebutuhan ruang sehingga dapat menghasilkan usulan penataan Kawasan Wisata Air Terjun Leuwi Hejo yang direncanakan dengan konsep Ekowisata. Pada Konsep ekowisata kondisi eksisting Kawasan Wisata Air Terjun Leuwi Hejo khususnya air terjunnya itu meruapak kawasan konservasi dan sudah memiliki daya tarik yaitu jernihnya air terjun. 
MARINE AGRO-RESEARCH & EDUCATION CENTER Theodorus Margareth Milenia; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12485

Abstract

As a maritime country, most of Indonesia's territory is vast waters, with a sea territorial area wider than its land territory, namely the archipelago 2/3 of the territory in Indonesia is ocean and 1/3 is land. This makes Indonesia one of the countries that has great potential in the marine sector. Indonesia has a wealth of abundant marine natural resources. For several centuries, the centers of economic growth and civilization in the territory of Indonesia have had political and economic power based on marine resources. However, along with the large potential of the sea, various problems also arise, one of which is the problem of plastic waste in the ocean. Therefore, a solution is needed to reduce the accumulation of plastic waste in the sea and the need for optimal processing and utilization of marine resources so that Indonesia becomes a strong maritime country. The program in the Marine Life Agro- Research & Education Center (MAREC) focuses on research & seaweed cultivation for the manufacture of bio-degradable plastics and recreational education that aims to reduce the use of conventional plastics to prevent the accumulation of plastic waste in the sea and maintain marine ecosystem populations, while education The center is a tourist place that serves to attract visitors to the project. This project is integrated and is supporting the Oceanographic Research Center by the Indonesian Institute of Sciences. Keywords : Bio Degradable; Livelihoods; Maritime; Natural Resources; Plastic Waste; Processing; Research; Seaweed; Tourism; Water AbstrakSebagai negara maritim, sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang luas, dengan daerah teritorial lautnya lebih luas daripada daerah teritorial daratnya, yaitu kepulauan 2/3 wilayah di Indonesia berupa lautan dan 1/3 nya berupa daratan. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki potensi besar di bidang kelautan. Selama beberapa abad, pusat - pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban di wilayah Indonesia memiliki kekuatan politik dan ekonomi dengan berbasis sumber daya laut. Tetapi, seiring dengan besarnya potensi laut juga timbul berbagai permasalahan, salah satunya masalah sampah plastik yang terdapat di lautan. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengurangi penumpukan limbah plastik di laut serta perlunya pengolahan dan pemanfaatan sumber daya laut secara optimal agar Indonesia menjadi negara maritim yang kuat. Program dalam Marine Life Agro-Research & Education Center (MAREC) berfokus pada kegiatan riset & budidaya rumput laut untuk pembuatan plastik bio degradable dan edukasi rekreatif yang bertujuan mengurangi penggunaan plastik konvensional untuk mencegah menumpuknya sampah plastik di laut dan menjaga populasi ekosistem laut, sedangkan education center merupakan tempat wisata yang berfungsi untuk menarik pengunjung ke proyek. Proyek ini terintegrasi dan bersifat supporting terhadap Pusat Penelitian Oseanografi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
PENERAPAN EKOLOGI, SIMBIOSIS, DAN BIOFILIK PADA RUANG PEMULIHAN DEPRESI PASCAPANDEMI Santika, Editha; Trisno, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12461

Abstract

Good mental health is a condition when our mind is in a calm and calm state, so we can enjoy everyday life and appreciate other people around us. Depression is a mental illness with biggest cases in Indonesia that causes problems in everyday life, not only can damage interactions or relationships with other people but can also reduce achievement at school and work productivity. The purpose of this project is to provide adequate and appropriate healing facilities for patients with health problems in Jakarta with buildings that have been adapted to the pandemic era with innovations in mental health recovery through an ecological approach. The methods used to support this project are Heinz Frick's ecological building principles, Kisho Kurokawa's symbiotic method, assisted by a biophilic and healing architecture. The conclusion of this project is to create a space (building and environment) that can help with mental health healing that can be a bridge between humans and the environment and connect them as closely as possible and create a new atmosphere in this pandemic era. Keywords:  biophilic; ecology; healing depression; post-pandemic; symbiosis  Abstrak Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga dapat menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Depresi adalah penyakit dengan pengidap paling banyak di Indonesia yang menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memberikan fasilitas penyembuhan yang memadai dan layak bagi pasien gangguan kesehatan di Jakarta dengan bangunan yang telah disesuaikan pada masa pandemi dengan inovasi dalam pemulihan kesehatan mental melalui pendekatan ekologi. Metode yang digunakan untuk mendukung proyek ini adalah prinsip bangunan ekologis dari Heinz Frick, metode simbiosis dari Kisho Kurokawa, dibantu pula dengan biofilik dan healing architecture. Kesimpulan dari proyek ini adalah untuk menciptakan wadah (bangunan dan lingkungan) yang dapat membantu pemulihan kesehatan mental yang dapat menjadi jembatan antara manusia dan lingkungan dan menghubungkannya sedekat mungkin dan menciptakan suasana baru di masa pandemi ini. 
PENATAAN KAWASAN WISATA PANTAI GESING KECAMATAN PANGGANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Hana Grace Yosephine; Irwan Wipranata; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12892

Abstract

The Gesing Beach tourist area is one of the tourist destinations in Gunungkidul Regency and is managed by the Gunungkidul Regency Tourism Office. The Gesing Beach tourist area was inaugurated in 2017, Gesing Beach is a beach with a landscape shape in the form of white sand beaches, hills and beaches. This tourist area is unique in its small waves and soft and light cream colored beach sand. The existing condition of the Gesing Beach Tourism Area which has natural scenery and good natural conditions, as well as its own uniqueness. However, the available potential cannot be utilized optimally because it does not yet have the facilities, facilities and infrastructure that support existing activities and potentials. In addition, the manager of the Gesing Beach tourist area has not promoted this tourist area so that there are still many visitors who do not know this tourist area, besides the lack of information makes this tourist area not widely known to people. The Gesing Beach tourist area still does not have adequate facilities, facilities and infrastructure such as trash cans, gazebos, souvenir shops, guest houses, directional signs, street lights, telecommunications networks, clean water, etc. existing facilities, build the required facilities and infrastructure. Keywords: Facilities; Facilities and Infrastructure; Promotion; Coastal Planning AbstrakKawasan wisata Pantai Gesing merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Kabupaten Gunungkidul  dan dikelolah oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Kawasan wisata Pantai Gesing diresmikan pada tahun 2017, Pantai Gesing adalah pantai dengan bentuk bentang alam berupa pantai pasir putih, bukit dan pantai kawasan wisata ini memiliki keunikan pada ombak yang kecil dan pasir pantai yang halus serta berwarna krem terang. Kondisi eksisting dari Kawasan Wisata Pantai Gesing yang memiliki pemandangan alam dan kondisi alam yang baik, serta keunikan tersendiri. Namun, potensi yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena belum memiliki fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan dan potensi yang ada. Selain itu, pengelola kawasan wisata Pantai Gesing belum melakukan promosi untuk kawasn wisata ini sehingga masih banyak pengunjung yang tidak mengetahui kawsan wisata ini, selain itu minimnya informasi semakin membuat kawasan wisata ini tidak banyak diketahui pengunjung. Kawasan wisata Pantai Gesing masih belum memiliki fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai seperti tempat sampah, gazebo, kios souvenir, guest house, rambu petunjuk arah, lampu jalan, jaringan telekomunikasi, air bersih dll sehingga kawasan wisata Pantai Gesing memerlukan penataan untuk menata dan memperbaiki fasilitas yang telah ada, membangun fasilitas serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
PENERAPAN METODE BIOFILIK PADA TRANSFORMASI GUBAHAN MASSA RUANG INTERAKTIF BERBASIS EKOLOGIS SEBAGAI BANGUNAN BEYOND ECOLOGY DI KEMANGGISAN William Japardy; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12396

Abstract

Beyond Ecology means beyond just the reciprocal relationship between living things and the surrounding environment. The ecological crisis began to be voiced in the 1960s, where most people began to rethink their relationship to nature when human actions began to threaten the balance of nature and alienate humans from life other than themselves. With the world experiencing this acceleration, there are concerns about the sustainability of an ecosystem. Much of the damage to ecosystems caused by human behavior such as hunting for animals, dumping waste, and forest fires that reached their peak in 2019 is caused by human indifference. According to Bintarto, this often happens in large urban areas with high density, causing humans to be indifferent to their environment. The presence of an interactive space based on an ecological design is the answer to the existing problems. As for Jakarta, which is the largest metropolitan city in Indonesia, it is the target in this design, precisely in the Kemanggisan area. Judging from the character of the area, it is dominated by formal education facilities, office areas, and is located around the shopping area. The Stack method from Benjamin Bratton and the biophilic design are the references in this design as an effort to foster a sense of empathy and care for the community towards the environment. The program is in the form of educational institutions and offices as a form of supporting the activities of residents, which are dominated by employees and students. Open areas and stages are a strategy to create an area that does not only focus on community forums and learning but as an area for recreation that does not forget about ecology itself. Keywords:  Activity Spaces; Architectural Biophilic; Recreation; Social Crisis Abstrak Beyond Ecology berarti melampaui dari hanya sekedar hubungan timbal balik antar mahkluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Krisis ekologi mulai disuarakan sejak tahun 1960-an, dimana sebagian besar orang mulai memikirkan kembali relasi mereka terhadap alam ketika tindakan manusia mulai mengancam keseimbangan alam dan mengasingkan manusia dengan kehidupan selain dirinya. Dengan dunia yang mengalami percepatan ini dikhawatirkan  dengan keberlangsungan suatu ekosistem. Banyak kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh tingkah manusia seperti pemburuan hewan, pembuangan limbah, dan kebakaran hutan yang mencapai puncaknya pada tahun 2019 yang disebabkan oleh sikap ketidakpedulian manusia. Menurut Bintarto, Hal ini sering terjadi di daerah perkotaan besar dengan kepadatan yang tinggi menimbulkan sifat acuh tak acuh manusia dengan lingkungannya. Hadirnya ruang interaktif yang didasarkan pada desain yang ekologis menjadi jawaban dari permasalahan yang ada. Adapun Jakarta yang merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia sehingga menjadi sasaran dalam perancangan kali ini tepatnya di daerah Kemanggisan. Melihat dari karakter kawasannya didominasi oleh fasilitas Pendidikan formal ,area perkantoran, dan berada di sekitar area perbelanjaan. Metode Stack dari Bejamin Bratton serta biofilik desain merupakan acuan pada perancangan ini sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa empati dan peduli masyarakat terhadap lingkungannya. Adapun program yang berupa wadah pendidikan dan perkantoran sebagai bentuk pendukung aktivitas warga sekitar yang didominasi oleh karyawan dan pelajar. Area terbuka dan stage menjadi strategi terciptanya kawasan yang tidak hanya berfokus pada wadah dan pembelajaran masyarakat melainkan sebagai kawasan untuk berekreasi yang tidak lupa dari ekologi itu sendiri.
KABONG KAENG: TIPOLOGI BARU HUNIAN EKOLOGIS SUKU ASMAT Stenlie Dharma Putra; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12310

Abstract

Climate change is a global phenomenon that has recently become a common concern, which has an impact on increasing air temperatures. The Jayawijaya Mountains, which are known for their eternal snow, have changed and have an impact on the drastic increase in humidity in the area. This unique phenomenon in Papua, especially the Asmat tribe, which is rich in natural products, but on the one hand is experiencing a clean water crisis. Many diseases are caused by poor water conditions, because some people use river water without being treated first. The problem of water crisis is a major problem because the Asmat tribe is very dependent on nature, starting from their food needs, toilets, to their traditions and arts. If nature is getting more and more damaged, how will the Asmat tribe survive and adapt in the future? The architectural approach taken is the typology method, which analyzes the characteristics of the life of the Asmat Tribe, to then be applied to the project. In addition to overcoming existing problems, this project also raises the way of life of the Asmat Tribe which is closely related to sculpture and traditions in the realm of their ancestors. Through various research, it is possible to use humidity and rainwater as a source of water in the future. In terms of energy, it is said to be sustainable because of the high rainfall in Papua. The impact on the ecosystem is not negative because it comes from nature. This water source can be used by the Asmat tribe to adapt to their way of life and utilize this water source for the sustainability and preservation of their civilization in the future. Keywords: Ecohydrology Architecture; Dwelling; Clean Water Crisis; Asmat Tribe; Typology AbstrakPerubahan iklim merupakan fenomena global yang belakangan ini menjadi perhatian bersama, dimana berdampak terhadap peningkatan suhu udara. Pegunungan Jayawijaya yang dikenal dengan salju abadinya menjadi berubah dan berdampak terhadap peningkatan kelembaban udara drastis di kawasan tersebut. Fenomena unik di Papua, khususnya Suku Asmat yang kaya dengan hasil alamnya namun disatu sisi mengalami krisis air bersih. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh kondisi air yang buruk, karena sebagian masyarakat menggunakan air sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Masalah krisis air menjadi permasalahan pokok karena Suku Asmat sangat bergantung dengan alam, mulai dari kebutuhan pangan, MCK, hingga tradisi dan keseniannya. Jika alam semakin rusak, bagaimana cara Suku Asmat bertahan hidup dan beradaptasi kedepannya? Pendekatan arsitektur yang dilakukan adalah metode tipologi, dimana menganalisis karakteristik kehidupan Suku Asmat, untuk kemudian diterapkan terhadap proyek. Selain mengatasi permasalahan yang ada, proyek ini juga mengangkat cara hidup Suku Asmat yang erat dengan kesenian pahat dan tradisi di alam nenek moyangnya. Melalui berbagai riset, bahwa memungkinkan untuk memanfaatkan kelembaban dan air hujan sebagai sumber air di masa depan. Dari sisi energi, dikatakan sustainable karena curah hujan tinggi di alam Papua. Dampaknya terhadap ekosistem tidak negatif karena berasal dari alam. Sumber air ini dapat dimanfaatkan Suku Asmat untuk beradaptasi cara hidup dan memanfaatkan sumber air tersebut untuk keberlanjutan dan pelestarian peradaban mereka di masa mendatang.
RENCANA PENGELOLAAN TAMAN HUTAN KOTA PENJARINGAN, JAKARTA UTARA Merrilin Lauren; Sylvie Wirawati; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12853

Abstract

The procurement of green open space is one of the important things for the balance of the ecosystem for urban residents. One of the green open spaces in Jakarta which also has a function as a water catchment area in the northern part of Jakarta is the Penjaringan City Forest Park. However, the utilization of the Penjaringan City Forest Park has not been optimal with various management problems that exist in the park, so this research was conducted to identify the physical conditions and potentials and problems in the park by using location analysis, attractiveness analysis, facilities and infrastructure analysis, best practices analysis, as well as using the visitor's point of view, namely the perception and preference of visitors to management in evaluating management at the Penjaringan City Forest Park. From the results of the evaluation, a management plan was prepared which was used as a proposed management plan for the manager of the Penjaringan City Forest Park, North Jakarta. Keywords: Management; Planning; Urban Forest Park.AbstrakPengadaan ruang terbuka hijau menjadi salah satu hal yang penting bagi keseimbangan ekosistem bagi warga perkotaan. Salah satu ruang terbuka hijau di jakarta yang juga memiliki fungsi sebagai ruang resapan air di bagian utara jakarta yaitu Taman Hutan Kota Penjaringan. Namun pemanfaatan Taman Hutan Kota Penjaringan belum optimal dengan masih dapat dijumpai berbagai permasalahan pengelolaan yang ada pada taman tersebut sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik serta potensi dan masalah pada taman dengan menggunakan analisis lokasi, analis daya tarik, analisis sarana dan prasarana, analisis best practices, serta menggunakan sudut pandang pengunjung yaitu persepsi dan preferensi pengunjung terhadap pengelolaan dalam melakukan evaluasi pengelolaan di Taman Hutan Kota Penjaringan. Dari hasil evaluasi yang ada dilakukan penyusunan rencana pengelolaan yang dijadikan usulan rencana pengelolaan bagi pengelola Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara. 
FASILITAS PEMULIHAN ENERGI PLASTIK DENGAN KONTEKS PERKOTAAN DAN KOMUNITAS Marcellus Lucky Tanong; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12433

Abstract

The plastic energy recovery facility is an industrial facility that has a function in processing plastic waste into energy in the form of fuel oil. The word energy recovery itself initially did not only discuss material waste, but also an operating system that minimizes the amount of energy wasted in a process. This system is often used in the form of technology to reduce the amount of wasted energy waste and the waste can be in the form of plastic as well. However, in the process of processing plastic waste into energy, it is important to know that energy is needed which will eventually be wasted. The wasted energy can be in the form of heat, light, electricity, water, and air. This wasted energy creates a problem where the plastic waste treatment facility itself also ends up generating too much energy waste in its system. If left unchecked, this energy waste will make plastic processing facilities useless because how much energies are wasted in processing plastic waste. Therefore, in the design, a design method in the form of energy recovery is applied in the building system. This energy recovery is broadly implemented in three ways, namely applying a recycle system to the energy used, energy conservation, and through energy harvesting from nature by harvesting energy from nature and conserving energy, it means that energy consumption in buildings can be done more sustainably and efficiently. Energy use in buildings can not only depend on the energy supply system from the management sector but can also utilize the energy that exists in nature. Thus, the design of the plastic energy recovery facility can work in a more sustainable and environmentally sensitive system. Keywords:  energy conservation; energy harvesting; energy recovery; plastic energy recovery; recycle energy; waste  AbstrakFasilitas pemulihan energi plastik merupakan sebuah fasilitas industri yang memiliki fungsi dalam mengolah limbah plastik menjadi energi berupa minyak bahan bakar. Kata pemulihan energi sendiri awalnya tidak hanya membahas mengenai limbah material saja, tapi juga sebuah sistem operasi yang meminimalisir jumlah energi yang terbuang dalam suatu proses. Sistem ini seringkali digunakan dalam bentuk teknologi untuk mengurangi jumlah limbah energi yang terbuang dan limbah tersebut dapat berupa plastik juga. Namun di dalam proses fasilitas pengolahan limbah plastik menjadi energi, perlu diketahui bahwa diperlukan energi yang akhirnya akan terbuang. Energi yang terbuang itu bisa berupa panas, cahaya, listrik, air, dan udara. Terbuangnya energi tersebut memunculkan masalah dimana fasilitas pengolahan limbah plastik sendiri akhirnya juga menghasilkan limbah energi dalam sistemnya. Jika dibiarkan, limbah energi ini akan membuat fasilitas pengolahan plastik menjadi hal yang sia-sia dikarenakan banyaknya jumlah energi yang dibuang untuk memproses limbah plastik. Oleh karena itu dalam perancangan, diterapkan metode perancangan berupa pemulihan energi yang diterapkan dalam sistem bangunan. Pemulihan energi ini secara garis besar diterapkan dalam tiga cara, yaitu menerapkan sistem daur ulang pada energi yang dipakai, konservasi energi, dan melalui pemanenan energi dari alam. Dengan pemanenan energi dari alam dan konservasi energi, berarti konsumsi energi pada bangunan bisa dilakukan dengan lebih berkelanjutan dan efisien. Penggunaan energi pada bangunan bisa tidak hanya bergantung dari sistem pasokan energi dari sektor pengelola tapi juga bisa memanfaatkan energi yang ada di alam. Dengan demikian, rancangan fasilitas pemulihan energi plastik dapat bekerja dalam sistem yang lebih berkelanjutan dan peka terhadap lingkungan.
AKUATORIUM: MENUJU ALTERNATIF KREMASI YANG LEBIH HIJAU Jeremy Edbert Jingga; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12567

Abstract

Masyarakat Indonesia sangat heterogen sehingga masyarakat Indonesia mengenal berbagai jenis adat istiadat dan tradisi, tidak terkecuali prosesi pemakaman. Indonesia mengenal 6 agama sehingga ada 2 jenis prosesi pemakaman di Indonesia, yaitu kremasi dan penguburan. Namun, semakin berkurangnya lahan di kota Bandung untuk pemakaman, menimbulkan isu keterbatasan lahan pemakaman. Selain itu, kremasi konvensional juga sangat tidak ramah lingkungan karena menghasilkan berbagai polusi udara, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sudah dikembangkan teknik akuamasi yang memanfaatkan air sebagai alternatif kremasi yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini juga harus memiliki nilai simbolik yang universal dan dalam sehingga tidak mengurangi aspek sakral dari prosesi pemakaman jenazah. Maka dari itu, nilai simbolik universal ini akan dituangkan melalui tema arsitektur sakral yang dicapai menggunakan metode fenomenologis dan arsitektur paradoks jukstaposisi. Dengan menggunakan metode tersebut, proyek ini dapat memenuhi nilai simbolik universal dari pemakaman, serta akuamasi dapat menjadi alternatif kremasi konvensional sebagai pemenuhan dari “Beyond Ecology”, sehingga permasalahan lingkungan dapat terselesaikan. Kata kunci: Akuatorium; Fenomenologi; Kuburan; Jukstaposisi; Rumah Abu.AbstrakMasyarakat Indonesia sangat heterogen sehingga masyarakat Indonesia mengenal berbagai jenis adat istiadat dan tradisi, tidak terkecuali prosesi pemakaman. Indonesia mengenal 6 agama sehingga ada 2 jenis prosesi pemakaman di Indonesia, yaitu kremasi dan penguburan. Namun, semakin berkurangnya lahan di kota Bandung untuk pemakaman, menimbulkan isu keterbatasan lahan pemakaman. Selain itu, kremasi konvensional juga sangat tidak ramah lingkungan karena menghasilkan berbagai polusi udara, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sudah dikembangkan teknik akuamasi yang memanfaatkan air sebagai alternatif kremasi yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini juga harus memiliki nilai simbolik yang universal dan dalam sehingga tidak mengurangi aspek sakral dari prosesi pemakaman jenazah. Maka dari itu, nilai simbolik universal ini akan dituangkan melalui tema arsitektur sakral yang dicapai menggunakan metode fenomenologis dan arsitektur paradoks jukstaposisi. Dengan menggunakan metode tersebut, proyek ini dapat memenuhi nilai simbolik universal dari pemakaman, serta akuamasi dapat menjadi alternatif kremasi konvensional sebagai pemenuhan dari “Beyond Ecology”, sehingga permasalahan lingkungan dapat terselesaikan.
PENDEKATAN KONSEP BIOPHILIC DESIGN DALAM PERANCANGAN TEMPAT PUBLIK Josua Keneth; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12817

Abstract

Many things have happened in our daily lives as humans who have a tendency to be depressed, stressed and this has a huge impact on humans themselves, especially during the COVID-19 pandemic. Stress occurs due to stressors in our lives, stressors are conditions or situations that cause stress or things that make our brains release stress hormones / cortisol hormones. This hormone is very influential and can cause physiological changes such as insomnia, paleness, and fatigue, then changes in mood, character, behavior and emotions. To deal with this problem, architecture can answer with biophilics architecture, with layering and city grid methods, we can determine space requirements for socializing, rotation and circulation of building users, access, rotation, layering, shifting, and also leveling which provides space for exploration in it is to produce programmatic value, functionality and aesthetics for healing needs. This will create a continuity between the site and its surroundings and the users of the building itself so that a healthy, sustainable ecosystem occurs. Keywords : stress; stressor; healing; ecosystem; biophilic; for awhileAbstrakBanyak hal yang telah terjadi di dalam kehidupan sehari – hari kita sebagai seorang manusia yang memiliki kecenderungan untuk tertekan, stres dan hal ini memiliki dampak yang sangat besar kepada manusia itu sendiri terlebih di masa pandemi COVID–19. Stres tersebut terjadi akibat stresor yang ada di kehidupan kita, stresor adalah sesuatu kondisi atau situasi yang menyebabkan stres atau hal yang membuat otak kita mengluarkan hormon stres / hormon koritsol. Hormon ini sangat berpengaruh dan dapat menyebabkan perubahan secara fisiologis seperti susah tidur, pucat, dan kelelahan, lalu perubahan suasana hati, karakter, perilaku dna juga emosi. Untuk menghadapi permasalahan ini, arsitektur dapat menjawab dengan biofilik arsitektur, dengan metode layering dan city grid, kita dapat menentukan kebutuhan ruang untuk bersosialisasi, rotasi dan sirkulasi pengguna bangunan, akses, rotasi, pelapisan, pergesaran, dan juga leveling yang memberikan ruang untuk eksplorasi dalam hal tersebut untuk menghasilkan nilai program, fungsionalitas dan estetika untuk kebutuhan penyembuhan. Hal ini akan menciptakan suatu kesinambungan antara tapak dan sekitar serta pengguna bangunan itu sendiri sehingga terjadi suatu ekosistem sehat yang berkelanjutan.

Page 65 of 134 | Total Record : 1332