cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
REDESAIN PEMUKIMAN KUMUH GANG MARLINA BERBASIS KARAKTERISTIK MBR Samuel Freddy Sihite; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12357

Abstract

One of the problems of the urban population, especially in Indonesia is the growth of MBR (Low-Income People). The living environment of MBR itself has many problems, one of which is the quality of life. One way to improve the quality of life of MBR is by structuring a healthy residential environment. However, economic limitations MBR is something that must be considered in the design of the residential environment. Therefore, we need an adequate but affordable MBR settlement system and method. This research raises the issue of MBR in the Muara Baru area, North Jakarta. The Marlina Modular Social Housing Project in Muara Baru is one of the efforts to overcome these problems. Modular housing systems, natural energy utilization and material selection are used to reduce and streamline costs. On the other hand, the characteristics of MBR, namely social strength are also applied in buildings so that these settlements still have characteristics MBR. Thus, the combination of cost savings and the application of social power is expected to become a model for MBR settlements that can improve MBR's own welfare.    Keywords:  ecology; environment; housing; low-income people Abstrak Salah satu problem penduduk perkotaan, terutama di Indonesia adalah pertumbuhan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).  Lingkungan tempat tinggal MBR sendiri memiliki banyak permasalahan, salah satunya adalah kualitas hidup. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup MBR adalah dengan penataan lingkungan pemukiman sehat.  Namun keterbatasan ekonomi MBR menjadi hal yang harus diperhatikan dalam desain lingkungan pemukiman.  Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah sistem dan metode pemukiman MBR yang memadai namun tetap terjangkau.  Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang MBR di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara. Proyek Perumahan Sosial Modular Marlina di Muara Baru adalah salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.  Sistem pemukiman modular, pemanfaatan energi alam dan pemilihan material digunakan untuk menekan dan mengefisiensikan biaya.  Di sisi lain, karateristik MBR yaitu kekuatan sosial juga diterapkan dalam bangunan sehingga pemukiman ini tetap memiliki karakteristik MBR.  Sehingga, kombinasi penghematan biaya dan penerapan kekuatan sosial ini diharapkan dapat menjadi model pemukiman MBR yang dapat meningkatkan kesejahteraan MBR sendiri.
PENERAPAN SISTEM BANGUNAN APUNG SEBAGAI CARA UNTUK BERDAMAI DENGAN BANJIR DI JAKARTA UTARA Dennis Dennis; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12416

Abstract

Global warming has been the world's problem for years that hasn’t been solved yet. There are tons of effects caused by global warming, but the one that can be felt the most is the rise of earth's temperature, that also causes rising sea level. This causes a lot of problems, particularly tidal flood, that is happening in most areas near the sea, such as, North Jakarta. This area is known to be flooded a lot, especially when rain is pouring, and when the tide is rising. This is the issue that will be brought up in this research, on how architecture can solve the flooding problem on the coastal area. In the spirit of solving the issue, there are some methods that will be implemented. The first one is metaphor architecture; this method will be used in designing the building. The theme used for designing is beyond ecology. Beyond ecology is a designing theory which implements the relationships between the ecosystem and the living things around the site of the building. The aim in this research is to propose an alternate solution that can be used to help in preventing the tidal flood, by making peace with the flood with architectural approach. The proposed architecture solution is to create a floating community, that can adapt with the rising sea level so that everyone can avoid the flooding that is caused by global warming. Keywords:  Beyond ecology; Floating community; Global warming; Making peace with the floodAbstrakPemanasan global sudah menjadi masalah yang dihadapi dunia sejak bertahun-tahun lamanya, dan masih belum terdapat penyelesaiannya. Akibat dari pemanasan global sangat banyak, yang paling utama adalah meningkatnya suhu bumi, kemudian menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Hal ini menyebabkan terjadinya banjir, terutama banjir rob, di daerah-daerah yang berada di dekat laut, antara lain adalah Jakarta Utara. Daerah ini sudah terkenal sering mengalami banjir, terutama saat turun hujan, besar maupun kecil, juga saat terjadinya pasang air laut. Permasalahan banjir inilah yang kemudian diangkat menjadi isu bagaimana arsitektur menjawab masalah banjir di daerah pantai sebagai penelitian ini. Dalam upaya menyelesaikan masalah tersebut, ada beberapa metode yang dapat digunakan. Diantaranya adalah metode arsitektur metafora, yang merupakan metode yang digunakan dalam merancang bangunan. Tema yang digunakan pada proyek ini adalah beyond ecology. Beyond ecology merupakan sebuah teori dalam membangun yang memperhatikan dan menerapkan hubungan dengan lingkungan dan makhluk hidup sekitarnya. Oleh karena itu, solusi alternatif yang didapat, yang kemudian bisa digunakan untuk membantu menghadapi masalah banjir, adalah dengan cara berdamai dengan banjir, dengan menggunakan pendekatan arsitektur. Solusi arsitektur yang ditawarkan adalah merancang sebuah komunitas apung, yang dapat beradaptasi terhadap naik-turunnya permukaan air laut, sehingga bangunan dapat terbebas dari bencana banjir yang disebabkan oleh pemanasan global tersebut.
SEAWEED CHRONICLE: SEBUAH PROYEK HIBRIDA ESTETIKA & INDUSTRI RUMPUT LAUT DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA Gabrielle Nadine Cahya Mulya; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12382

Abstract

As an area close to Indonesia’s capital city, Thousand Island have both nature and human ecosystem problems. From a nature perspective, the high levels of carbon produced by human activities in the capital cause marine pollution and imbalance of the Java Sea ecosystem. Meanwhile, from a human perspective, the high dependence of the people of the Thousand Islands on the capital city to meet their daily needs has made it difficult for the quality of life and the local economy to develop. In addition, the Thousand Islands has potential to grow seaweed, but didn’t catch local people’s interest because of the low selling value due to a lack of knowledge on how to process seaweed properly. The author designed the ‘Seaweed Chronicle : An Industrial and Aesthetic Hybrid Project’ which aims to solve the problems of the Thousand Islands, especially Pari Island, with the principles of ecological architecture. The industrial program utilizes an abundance of seaweed commodities to be processed into daily necessities for the community to improve the quality of life. The application of the theme 'beyond ecology' in the form of a program to appreciate the aesthetics of seaweed, which aims to change the human perspective to appreciate and appreciate the existence of other creatures (not just objects that are enslaved, but as subjects that are equal to humans) so as to increase awareness of nature. The program details for the project are industrial workshops (processing seaweed into paper, plastics, fertilizers, building materials, and furniture), seaweed development galleries (consisting of painting galleries, aquariums, seaweed appreciation with light, sea waves, time travel, and reflection), restaurants, educational stages, and stalls selling seaweed products. The project can be enjoyed by the people of Pari Island as well as attracting tourists. Keywords: aesthetic; ecology architecture; industry; seaweedAbstrakSebagai daerah yang berdekatan dengan ibukota Jakarta, Kepulauan Seribu memiliki permasalahan ekosistem alam dan manusia. Dari segi alam, tingginya kadar karbon akibat aktivitas manusia di ibukota menyebabkan pencemaran laut dan rusaknya keseimbangan ekosistem Laut Jawa. Sedangkan dari segi manusia, tingginya ketergantungan masyarakat Kepulauan Seribu terhadap ibukota Jakarta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyebabkan kualitas kehidupan dan ekonomi setempat sulit berkembang. Selain itu, Kepulauan Seribu memiliki potensi budidaya rumput laut, namun kurang diminati masyarakat karena nilai jual rendah akibat kurangnya pengetahuan cara mengolah rumput laut. Penulis merancang proyek ‘Seaweed Chronicle : Sebuah Proyek Hibrida Estetika & Industri Rumput Laut’ yang bertujuan menyelesaikan permasalahan Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Pari, dengan prinsip arsitektur ekologi dan menyatukan fungsi estetika dan industri. Program industri memanfaatkan komoditas rumput laut yang melimpah untuk diolah menjadi barang kebutuhan sehari-hari masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup. Penerapan tema ‘beyond ecology’ berupa program penghayatan estetika rumput laut yang bertujuan mengganti cara pandang manusia agar lebih menghayati dan  menghargai keberadaan makhluk lain (bukan hanya sekedar objek yang diperbudak, namun sebagai subjek yang setara dengan manusia) sehingga meningkatkan kepedulian terhadap alam. Rincian program pada proyek adalah workshop industri (pengolahan rumput laut menjadi kertas, plastik, pupuk, material bangunan, dan furniture), galeri penghayatan rumput laut (terdiri dari galeri lukisan, aquarium, penghayatan rumput laut dengan cahaya, gelombang laut, perjalanan waktu, dan refleksi), restoran, panggung edukasi, dan kios penjualan hasil rumput laut. Proyek dapat dinikmati oleh masyarakat Pulau Pari sekaligus menarik wisatawan.
EKOSISTEM KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN DENGAN SISTEM APUNG Christie Angelina; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12395

Abstract

Baraya - Sustainable Living Ecosystem is a project to maintain green space and also rice fields as a source of food by providing a new container for the ecosystem. This project is based on the land, food and ecosystem crisis and how the City of Jakarta will be able to survive in the future in facing the existing problems. With 70% of the land in Indonesia being water, it can be used as a new container for adaptable and sustainable ecosystems. Having aquatic life, of course the floating architecture is designed with the use of materials and structures that can withstand sea conditions. This project is modular and can be extended to the needs of the community and other ecosystems so that its presence can have a positive impact on the surroundings. Keywords: ecosystem;  floating architecture; modularity; sustainabilityAbstrakBaraya – Sustainable Living Ecosystem adalah sebuah proyek untuk mempertahankan ruang hijau dan juga lahan persawahan-perkebunan sebagai sumber pangan dengan menyediakan suatu wadah baru bagi ekosistem. Proyek ini didasari atas krisis lahan, pangan, dan juga ekosistem dan bagaimana Kota Jakarta mampu bertahan di masa depan menghadapi permasalahan yang ada. Dengan kondisi lahan di Indonesia yang 70%nya merupakan air, dapat dijadikan sebagai suatu wadah baru ekosistem yang beradaptasi dan sustainable. Memiliki kehidupan di perairan, tentunya arsitektur apung dirancang dengan penggunaan material dan juga struktur yang mampu menahan kondisi laut. Proyek ini bersifat modular dan dapat diperluas sesuai keubutuhan dari masyarakat dan juga ekosistem lainnya sehingga kehadirannya dapat memberi dampak positif bagi sekitar. 
RUANG AJAR BALANG: FASILITAS EDUKASI PEMANFAATAN DAN PENGOLAHAN ECENG GONDOK DI SUNGAI SIAK Vellisa Chou; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12425

Abstract

According to data from the Data and Information Center of the Ministry of Agriculture (Kementan 2019), Riau Province is the largest palm oil producer in Indonesia with an area of 2,430.51 ha and an average production of 8,605.65 thousand tons annually. However, the high activity of the palm oil industry causes damage to the ecosystem around the river due to waste disposal which causes high metal contentin the water and siltation in the Siak River. Therefore, it is necessary to carry out handling in the form of wastewater treatment with natural biofiltration, one of which is water hyacinth. In addition to being economical, this aquatic plant has the potential to grow quickly. Balang-balang Learning Area is an educational center for water hyacinth as a heavy metal purification in the Siak River, Riau. In this project, utilize the potential of water hyacinth as a natural biofiltration that can purify heavy metals in the water content of the Siak River until 99.70% (Rosida, 2018). The growth of water hyacinth has become a potential for handicraft businesses and space installations. Therefore, the growth of water hyacinth can be controlled so that it does not interfere with wastewater treatment activities. In designing this project using a combination of locality and contextual design methods, it is hoped that the project can have elements of harmony and balance with localities in Siak Regency. The presence of the Balang-balang Learning Area is expected to be a facility that can educate the public on the potential of water hyacinth as a heavy metal purifier and its economic benefits. Keywords: education; purification; water hyacinth. AbstrakBerdasarkan data yang dilansir dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Kementan 2019), Provinsi Riau merupakan penghasil  kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 2.430,51 ha dan produksi mencapai rata-rata 8.605,65 ribu ton setiap tahunnya. Namun, tingginya aktivitas industri sawit menyebabkan rusaknya ekosistem yang berada di sekitar sungai akibat pembuangan limbah yang menyebabkan tingginya kandungan logam pada air dan pendangkalan di Sungai Siak. Maka dari itu perlu dilakukan penanggangan berupa pengolahan air limbah dengan biofiltasi alami, salah satunya adalah dengan eceng gondok. Selain ekonomis, tumbuhan air ini memiliki potensi perkembangan yang sangat cepat. Ruang Ajar Balang-balang merupakan pusat edukasi eceng gondok sebagai purifikasi logam berat di Sungai Siak, Riau. Proyek ini, memanfaatkan potensi eceng gondok sebagai biofiltrasi alami yang dapat mempurifikasi logam berat pada kandungan air di Sungai Siak sebesar 99,70% (Rosida, 2018). Perkembangan eceng gondok yang pesat menjadi potensi bagi usaha kerajinan tangan dan instalasi ruang. Dengan demikian perkembangan eceng gondok dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu aktivitas pengolahan air limbah. Pada perancangan proyek ini menggunakan penggabungan metode perancangan lokalitas dan kontekstual diharapkan proyek dapat memiliki unsur serasi dan seimbang terhadap lokalitas di Kabupaten Siak. Hadirnya Ruang Ajar Balang-balang diharapkan menjadi fasilitas yang dapat mengedukasi masyarakat terhadap potensi eceng gondok sebagai purifikasi logam berat dan manfaat ekonomi yang dimilikinya.
PUSAT EDUKASI POLUSI SERTA LINGKUNGAN DAN KANTOR KLHK YANG BEBAS DARI DAMPAK POLUSI UDARA DENGAN METODE GREEN ARCHITECTURE Farrel Ghazy Primananda Kristiharto; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12373

Abstract

Air pollution is a thing that can cause many disadvantage for environment and the organism in there, however on this day it is starting to be ignored by many people in earth, where many people underestimate this air pollution problem and ignore the environment, and if its leave it that way it will cause a bigger problem, air pollution can cause a health problem for human it can cause a bad impact for respiration. And the ignorance of people for environment can cause the stability in ecosystem. Of which cause decreasing the quality of human life and life will change drastic, where the clean air and healthy environment. Therefore it is needed a place that can make public aware with this problem, which in this project there will be an education centre for air pollution and environment. And this building use a green architecture method, which it can be an example for green architecture building. Keywords: Air Pollution; Education Centre; Environment; Green Architecture; Office Abstrak Polusi udara adalah hal yang sangat banyak menimbulkan kerugian bagi lingkungan maupun makhluk hidup nya itu sendiri, tetapi pada saat ini khususnya hal itu sudah mulai di acuhkan oleh sebagian besar manusia di mana banyak orang yang meremehkan dan acuh juga terhadap masalah ini, yang mana jika di biarkan masalah ini menerus akan mengakibatkan kerugian lebih besar lagi. polusi udara bisa berdampak pada kesehatan manusia khususnya pernafasan juga berdampak terhadap lingkungan, menyebabkan keseimbangan dalam alam rusak, yang mengakibatkan lingkungan hidup rusak, bukan hanya berdampak ke kehidupan binatang tapi juga kehidupan manusia, pada akhirnya jika terus di biarkan kualitas hidup manusia kan turun drastis dan kehidupan akan berubah sepenuhnya, di mana udara bersih dan lingkungan yang sehat tidak lagi di temukan. Oleh karena itu di butuhkannya wadah yang bisa membuat masyarakat peduli terhadap masalah ini, yang mana pada proyek ini adalah pusat edukasi polusi udara dan tentang lingkungan yang mana bangunan ini menerapkan metode green architecture atau arsitektur hijau yang secara garis besar adalah bangunan ramah lingkungan, yang mana bangunan ini bisa menjadi bangunan contoh dari green architecture. 
FASILITAS PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT PENJARINGAN Bernadeth Shirley Wiratmo; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12477

Abstract

Penjaringan, North Jakarta is an area that does not have access to a reliable source of clean water. The area, the most densely populated area and with a high poverty rate in North Jakarta, does not have access to the widely used water sources, namely well water and PAM. Due to the weak soil (Penjaringan Village is an area with a land subsidence of more than 80 cm in a period of ten years) and salty and polluted water, the community depends on water they can acquire at retail for a rather expensive price (Rp. 600,000, - per day) and the water provided by the government which is very limited in quantity. For people who couldn’t get water from these two sources, they would use polluted water (both ground water and water from alternative sources such as reservoirs) which then results in the number of sick people rising. Of course, the use of Pluit Reservoir water has the potential to be a solution to the Penjaringan clean water crisis, but after going through a purification process. Having the ability to process dirty and polluted Pluit Reservoir water into clean and potable water, research to improve clean water quality, provide education and introductions about water purification systems and their treatments, and of course a provide clean and potable water for the daily needs and consumption for people of Penjaringan, is the purpose of Fasilitas Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih untuk Penjaringan. Keywords: research center; water crisis; water treatment. AbstrakWilayah Penjaringan, Jakarta Utara merupakan wilayah yang tidak memiliki akses sumber air bersih yang handal. Kelurahan yang merupakan wilayah terpadat dan dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di Jakarta Utara tersebut tidak memiliki sumber air pada umumnya yaitu air sumur dan PAM. Dikarenakan kondisi air di dalam tanah yang asin, tercemar, dan lemah (Kelurahan Penjaringan merupakan wilayah dengan penurunan permukaan tanah lebih dari 80 cm dalam kurun waktu sepuluh tahun), masyarakat bergantung pada air bersih yang dapat dibeli eceran yang tergolong mahal (Rp. 600.000,- per bulan) dan air bersih bantuan pemerintah yang sangat terbatas kuantitasnya. Bila tidak dapat memperoleh air bersih dari kedua sumber tersebut, maka masyarakat menggunakan air yang tercemar (baik air tanah maupun air dari sumber alternatif seperti waduk) yang kemudian berakibat pada penurunan kondisi fisik. Tentu, penggunaan air Waduk Pluit memiliki potensi untuk menjadi solusi krisis air bersih Penjaringan, tetapi setelah melalui proses penjernihan. Memiliki kemampuan memproses air Waduk Pluit yang kotor dan tercemar menjadi air bersih dan layak minum, riset dan penelitian untuk mengembangkan kualitas air bersih, memberikan edukasi dan pengenalan tentang sistem penjernihan air dan perawatannya, dan tentunya tempat masyarakat Penjaringan dapat memperoleh air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan konsumsi, merupakan tujuan perancangan Fasilitas Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih untuk Masyarakat Penjaringan.
EKOLOGI BUDAYA DAN TRADISI : HIDUP DI DALAM RUANG ARSITEKTUR MULTI ETNIS Varianotto Sanjaya; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12479

Abstract

Humans are social creatures that are defined as living things that need the presence of other people directly or indirectly. Where as humans are creatures that couldn’t live alone and therefore, is in need of a second, third, or more individuals to carry out daily activities, which occur in succession, resulting in habits and become rules passed down from generation to generation to maintain the "face" or "value" of a group, which is one of the branches of the social ecological structure that exists in this modernization era, which is known as tradition and culture. The diversity of cultures and arts possessed by the Indonesian people is one of the gifts from the One Above All. With the results of this wealth (culture and tradition) it proves that diversity has occurred. Indonesia is a pluralistic country, so rich in culture as well as having thousands of regional identities. Therefore, it is true that there is a sense of pride in the Indonesian nation which is culturally diverse, with its diversity, there is still a strong unity and unity with the various existing tribes and ethnicities. . Bintan has natural wealth and high tourism potential in the social, cultural and natural fields. Bintan is one of the largest islands in the Riau Islands province (Segantang Lada). This archipelago area is also called the birthplace of Malay because this area used to be the Kingdom of Riau-Lingga, where the king was a Malay person. Apart from being Malay, Bintan has the culture and traditions of other tribes that participate in the development and growth of development and its community, namely the people of the Sea Tribe (Proto Melayu) and the Tiong Hoa ethnicity. Over time the customs and culture passed down from generation to generation, this architectural design aims to add and teach knowledge and history of the traditions and culture that exist within Bintan, and transmit the architectural styles of these tribes into a new style that influenced by the organic architectural style, as well as taking into account the environment of the surrounding ecosystem, in enriching the atmosphere or adding a taste to the surrounding environment. The design process in this design is to analyze the problems encountered, so as to issue ideas or ideas for programming that are in accordance with the problem. The Main Program is then adjusted to the selected site based on the existing criteria, so that it can produce design results that form or add value to the site environment. Keywords:  Culture ; Ecosystem ; Enviroment ; Ethnicity ; Tradition.ABSTRAKManusia merupakan makhluk sosial yang didefinisikan sebagai, mahkluk hidup yang membutuhkan kehadiran orang lain secara langsung atau tidak langsung. Dimana manusia dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan individu kedua, ketiga, dan seterusnya untuk melakukan aktivitas sehari-hari, yang terjadi secara beruntun, mengakibatkan kebiasaan dan menjadi aturan yang diturun temurunkan untuk menjaga “wajah” atau “nilai” dari sebuah kelompok, yang merupakan salah satu cabang dari struktur ekologi sosial yang ada pada era modernisasi ini, yang disebut sebagai tradisi dan kebudayaan. Keragaman budaya dan seni yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan  salah satu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan hasil kekayaan (Budaya dan tradisi) ini membuktikan bahwa keanekaragaman telah terjadi Indonesia adalah negara yang majemuk, begitu kekayaan budayanya sekaligus memiliki ribuan identitas kedaerahan. Oleh karena itu, memang demikian adanya rasa kebanggaan dengan bangsa Indonesia yang majemuk budaya,dimana dengan keaneragamannya, tetap terjadi persatuan dan kesatuan yang erat dengan berbagai macam suku dan etnis yang ada. . Bintan memiliki kekayaan alam serta potensi pariwisata yang tinggi di bidang sosial,budaya dan alam. Bintan merupakan salah satu pulau terbesar yang berada di provinsi Kepulauan Riau (Segantang Lada). Daerah Kepulauan ini juga disebut dengan bumi melayu karena daerah ini dulunya merupakan dibawah kekuasaan kerajaan riau-lingga dimana rajanya merupakan orang melayu. Selain melayu, Bintan memiliki budaya dan tradisi dari suku lain yang ikut serta dalam pengembangan dan pertumbuhan pembangunan dan marsyarakatnya yaitu bangsa Orang Suku Laut (Proto Melayu) dan etnis Tiong Hoa. Seiring waktu kebiasaan dan budaya turun temurun dari generasi ke generasi semakin menurun, maka perancangan Arsitektur ini bertujuan untuk menambahkan dan mengajarkan ilmu dan sejarah atas tradisi dan budaya yang ada didalam Bintan, serta memancarkan gaya arsitektur dari suku-suku tersebut kedalam satu gaya yang baru yang dipengaruhi oleh gaya arsitektur organik, serta mempertimbangka lingkungan ekosistem sekitar, dalam memperkaya suasana atau menambahkan cita rasa lingkungan sekitar. Dengan Rancangan ini yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperkenalkan serta mempreservasikan kebudayaan dan tradisi yang ada di pulau Bintan . Proses  Perancangan pada desain ini adalah, melakukan analisa terhadap permasalahan yang dihadapi, sehingga mengeluarkan gagasan atau ide untuk pemograman yang sesuai dengan permasalahan. Program Utama kemudian di sesuaikan dengan tapak yang terpilih atas kriteria – kriteria yang ada, sehingga dapat membuahkan hasil rancangan yang membentuk atau menambahkan nilai pada lingkungan tapak.  
HUNIAN SOSIAL DENGAN PENDEKATAN GREEN ARCHITECTURE Naganda Putra Margamu; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12403

Abstract

House is a place to live for the residents should feel comfortable and live ini decent place. The lack of green open space in Jakarta causes pollution to increase. The city of jakarta should use green open spaces fot its citizens to better, including the lower class community where they need these facillities so that their lives become more decent in terms of social and health aspects. Therefore, this project is carried out to make the public aware of the importance of green open space in Jakarta and to make a suitable place for the lower class community. This project offers a social housing progam and green open space for residents and the surrounding community. By using stack design methods to make, the building, site, and surroundings connected. This project also implements a green building system where there is a lack of green space in jakara. In this design, the method applies rainwater haversting, food production, and greenery on each floor. In the residents section, there are markets, stalls, selling ornamental plants, water, and foodcourt for thr residents work and facilities for the surrounding community such as jogging tracks, playgorund, parks, and else. So that nature, residents, society will keep each other healthy.Keywords:  Social Housing; Open Green Spaces; Green BuildingAbstrak Rumah menjadi tempat untuk tinggal bagi para penghuni. Dimana penghuni harus merasakan tempat yang nyaman dan layak. Kurangnya ruang terbuka hijau di Jakarta menyebabkan polusi semakin meningkat. Kota Jakarta seharusnya menggunakan ruang terbuka hijau bagi warganya untuk menjadi lebih baik, tak terkecuali masyarakat kalangan bawah dimana mereka membutuhkan fasilitas fasilitas tersebut agar kehidupan mereka menjadi lebih layak dalam aspek sosial maupun kesehatan. Oleh karena itu proyek ini dilakukan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya ruang terbuka hijau di jakarta serta membuat tempat yang layak bagi masyarakat kalangan bawah. Pada proyek ini menawarkan progam social housing dan juga ruang terbuka hijau bagi para penghuni maupun masyarakat sekitar. Dengan menggunakan metode perancangan stack yang bertujuan  agar bangunan, tapak dan sekitarnya saling terhubung satu sama lain. Proyek ini juga menerapkan sistem green building yang dimana minimnya ruang hijau di jakarta. Pada metode perancangan ini menerapkan raiwater haversting, food production, dan penghijauan di setiap lantainya. Pada bagian penghuni terdapat pasar, warung, menjual tanaman hias, warteg dan foodcourt untuk pekerjaan para penghuni serta fasilitas fasilitas pada masyarakat sekitar seperti jogging track, taman bermain, taman dan sebagainya. Sehingga alam, penghuni, masyarakat tetap saling menyehatkan. 
PENDEKATAN DESAIN BERBASIS POLA PERILAKU DAN PANOPTIK PADA RUMAH INTERAKTIF ANAK JALANAN DAN HEWAN TERLANTAR DI CIRACAS Ruby Sutanto; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12331

Abstract

The problem of street children and abandoned animals in urban areas is still something that gets less attention. The design of this interactive house aims to accommodate and provide a more decent and secure living space as well as the intervention of the government and the community in it. This of course requires a special approach in its design and planning. Each resident has a different character and also a different ecosystem. It is necessary to observe the behavior patterns of building occupants to find out the space requirements that are in accordance with the behavior of the users and can apply them appropriately. Then the panoptic approach to the shape of the mass pattern of the building which aims to facilitate the process of monitoring the occupants and architecture plays a role in the process of monitoring the occupants of the building. The different behavior patterns of each occupant of course require different applications in each space design on it, especially as a mass dwelling which is the new ecosystem in the future. Therefore, this behavioral and panoptic pattern approach is applied to buildings to consider the design aspects needed and can be applied appropriately and in accordance with the building's occupants who have different ecosystems and living spaces. Keywords: abandoned animals; behaviour; interactive house; panoptic; street children AbstrakPermasalahan tentang anak-anak jalanan dan hewan terlantar di perkotaan masih menjadi suatu hal yang kurang mendapatkan perhatian. Perancangan rumah interaktif ini bertujuan untuk menampung dan memberikan ruang hidup yang lebih layak dan terjamin serta adanya campur tangan pemerintah dan masyarakat di dalamnya. Hal ini tentu saja membutuhkan pendekatan khusus dalam perancangan dan perencanaannya. Masing-masing penghuni memiliki karakter yang berbeda dan juga ekosistem yang berbeda. Perlu adanya pengamatan pola perilaku dari penghuni bangunan untuk mengetahui kebutuhan ruang yang sesuai dengan perilaku penggunanya serta dapat mengaplikasikannya dengan tepat. Lalu pendekatan panoptik terhadap bentuk pola massa bangunan yang bertujuan untuk memudahkan dalam proses pengawasan terhadap penghuni dan arsitektur ikut berperan dalam proses pengawasan terhadap penghuni bangunan. Pola perilaku setiap penghuni yang berbeda tentu saja membutuhkan pengaplikasian yang berbeda di setiap perancangan ruang di dalamnya, terlebih lagi sebagai hunian massal yang merupakan ekosistem barunya kelak. Oleh sebab itu, pendekatan pola perilaku dan panoptik ini diterapkan pada bangunan untuk mempertimbangkan aspek-aspek desain yang dibutuhkan dan dapat diterapkan dengan tepat serta sesuai dengan penghuni bangunan itu sendiri yang memiliki  ekosistem dan ruang hidup yang berbeda.

Page 66 of 134 | Total Record : 1332