cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN VOID PEDAGOGY PADA PERANCANGAN RUANG KOMUNITAS DAN FASILITAS PELATIHAN LITERASI DIGITAL DI RAWA SIMPRUG, JAKARTA SELATAN Lidwina Lakeshia; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21716

Abstract

According to the UNHCR, adequate housing must have access to certain public facilities, infrastructure, and utilities, such as educational, health, recreational facilities. However, these facilities are difficult to find in kampung such as Rawa Simprug. The current existing public facilities have been degraded and are no longer suitable for use. Thus, there is very minimal room for active social interaction. In addition to that, as the world is re-entering a post-pandemic era, the application of technology in people’s everyday lives is indispensable. For instance, traditional markets are now equipped with low-technology to help the process of digitalized transaction. Therefore, the need for digital literacy is increasing in order to help society ease into this new era. The Community Hub and Digital Literacy Training Facility is a recreational, social, and educational facility in Rawa Simprug, South Jakarta. Lending the theory of void pedagogy from Charlie Edmonds, the urban void in Rawa Simprug can be refunctioned to reactivate the space. Through the reactivation of void spaces, the urban pedagogy explores the relationship between spatial freedom and progressive education, especially for digital literacy training. The design approach is layered architecture, adapted from software architecture to solve the design problems. This project aims to provide a space for social interaction and a digital literacy training facility through the integration of nature and technology as a strategy for urban acupuncture Keywords:  Digital Literacy; Interaction; Rawa Simprug; Urban Acupuncture; Urban Void Abstrak Menurut UNHCR, perumahan yang layak huni harus dilengkapi dengan sarana, prasarana, dan utilitas umum seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, dan rekreasi. Namun, hal ini sulit ditemukan di perkampungan seperti kawasan Rawa Simprug. Fasilitas umum yang ada mengalami degradasi fisik dan sudah tidak layak untuk digunakan, sehingga interaksi aktif antar masyarakat semakin berkurang. Selain itu, saat ini masyarakat sudah memasuki era pasca-pandemi – penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan. Contoh yang sudah ada adalah pasar yang dilengkapi low-tech. Hal ini dapat memudahkan transaksi dari yang sebelumnya konvensional menjadi lebih modern. Oleh sebab itu, literasi digital semakin dibutuhkan agar dapat membantu keseharian masyarakat di era baru ini. Ruang Komunitas dan Fasilitas Pelatihan Literasi Digital merupakan fasilitas rekreasi, sosial, dan edukasi di Rawa Simprug, Jakarta Selatan. Meminjam teori void pedagogy Charlie Edmonds, urban void di Rawa Simprug dapat diolah kembali agar menjadi ruang-ruang yang lebih aktif. Melalui reaktivasi void spaces di kawasan Rawa Simprug, konsep urban pedagogy ini menelusuri hubungan antara kebebasan spatial dengan edukasi progresif, khususnya untuk pelatihan literasi digital. Pendekatan perancangan arsitektur merupakan layered architecture yang diadaptasi dari software architecture untuk mengatasi masalah perancangan. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan ruang interaksi sosial masyarakat, sekaligus fasilitas pelatihan literasi digital melalui integrasi alam dan teknologI sebagai strategi urban acupuncture.  
JUANDA TITIK TEMU, FASILITAS TRANSIT TRANSPORTASI PUBLIK DI AREA STASIUN JUANDA, JAKARTA PUSAT Hans Felix Gunawan; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21718

Abstract

Developments in a city will inevitably continue to take place, as is the case with the city of Jakarta, various kinds of development occur in this capital city in order to make the city of Jakarta better. The most significant development that has been felt in this City lately is transportation infrastructure such as the MRT and LRT which are continuously being accelerated to meet the needs of the community. The development of this transportation infrastructure can not only stop by just making lines and stations, but the city also must think about the connection with the surrounding area so that the area around the transportation points can become a lively and interconnected area. One area that has the potential to become a community gathering point is Juanda Station, strategic location In the middle of the city and surrounded by various destinations such as transit areas, offices, tourism, and residential areas. With the existence of a better transit area and the addition of a public space area. This changes can make the surrounding area packed with all activities around the clock as a result of the existence of public space. Keywords:  Meeting Point; Public Space; Transit; Transportation Abstrak Perkembangan pada suatu kota tidak dapat dihindari akan terus berlangsung, sama halnya dengan kota Jakarta, berbagai macam pembangunan terjadi di Ibu kota ini demi membuat kota Jakarta menjadi lebih baik. Pembangunan yang paling signifikan dirasakan pada Kota ini belakangan adalah infrastruktur transportasi seperti MRT dan LRT yang terus dikejar demi memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Pembangunan infrastruktur transportasi ini tidak hanya bisa berhenti dengan hanya membuat jalur dan stasiunnya saja, tetapi juga harus memikirkan  keterhubungan dengan kawasan di sekitarnya agar area sekitar titik-titik transportasi dapat menjadi area yang hidup dan saling terkoneksi. Salah satu area yang memiliki potensi untuk menjadi titik temu masyarakat adalah Stasiun Juanda. Lokasi strategis yang  berada di tengah kota dan dikelilingi oleh berbagai destinasi seperti area transit, perkantoran, wisata, dan hunian. Dengan adanya area transit yang lebih baik dan penambahan area ruang publik. Perubahan ini dapat membuat kawasan di sekitar stasiun Juanda ini menjadi kawasan yang hidup tidak hanya sebagai tempat yang ramai pada jam kerja saja, tetapi juga memiliki kehidupan sepanjang hari sebagai dampak dari adanya ruang publik yang tercipta. 
REAKTIVASI TAMAN KOTA DENGAN KONSEP INTEGRASI, INFILTRASI, DAN INTERAKSI: KASUS TAMAN KOTA SUMENEP, MENTENG, JAKARTA PUSAT Jennifer Gabriella; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21720

Abstract

Urban acupuncture is an architectural approach that aims to smoothen the relationship between an urban space ecosystem and its inhabitants. This approach can trigger people to appreciate the space around them. Generations continue to change over time, resulting in changes in the region's character. Jakarta's rapid development also slowly disappeared from the culture of togetherness and tolerance. Menteng District, Central Jakarta, does not escape this phenomenon. Menteng, an initially proposed garden city, has undeniably developed into one of the luxury areas in Jakarta. However, some disconnected areas still exist in it, namely the green line in the form of a linear park on Jalan Sumenep, Menteng: from the linear park itself, Taman Lawang, ornamental fish market, Latuharhari Busway Stop, Tosari Busway Stop in Jalan Jenderal Sudirman, to Sudirman-Dukuh Atas train station. This area becomes an underused space and limits the potential for interactions and activities. In addition, amid the existence of this luxury area, it still has social disparities between the upper class and the lower classes, even marginalized groups, thus hindering inclusiveness and interaction within the community. Reactivating Sumenep Urban Park, Menteng, Central Jakarta: Integration, Infiltration, and Interaction project aims to revive the underused space in Menteng and become an active area for residents, communities, and visitors. Keywords:  Integration; Menteng Community; Reactivation; Social Gap; Urban Acupuncture Abstrak Urban acupuncture merupakan pendekatan arsitektur yang bertujuan untuk melancarkan arus hubungan ekosistem ruang kota dengan penghuninya. Pendekatan ini dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk menghargai ruang di sekitar mereka. Seiring waktu berjalan, generasi terus berganti dan mengakibatkan perubahan karakter kawasan. Perkembangan kota yang sangat cepat pun menyebabkan budaya kebersamaan serta toleransi terus terkikis. Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, tidak luput dari fenomena ini. Menteng yang dulunya telah direncanakan sebagai kota taman tentu saja berkembang menjadi salah satu kawasan mewah di Jakarta. Meskipun demikian, tetap ditemui koneksi yang terputus di dalamnya, yakni jalur hijau berupa taman linear di Jalan Sumenep, Kelurahan Menteng: dari taman linear itu sendiri, Taman Lawang, pasar ikan hias, Halte Busway Latuharhari, Halte Busway Tosari Jalan Jenderal Sudirman, hingga Stasiun Sudirman-Dukuh Atas. Kawasan ini menjadi suatu underused space yang seolah terpecah dan membatasi potensi interaksi serta aktivitas yang dapat terjadi. Selain itu, di tengah keberadaan kawasan mewah ini masih ditemui kesenjangan sosial antara masyarakat kelas atas dengan kelas bawah, bahkan kelas-kelas tersisihkan, sehingga menghalangi inklusivitas dan interaksi dalam kawasan. Proyek Reaktivasi Taman Kota Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat: Integrasi, Infiltrasi, dan Interaksi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali underused space di Menteng dan menjadi sebuah wadah aktif bagi warga setempat, komunitas, serta pengunjung yang hadir di dalamnya.
KONSEP ADAPTASI RE-USE DAN BIOPHILIC PADA REVITALISASI BANGUNAN BERSEJARAH (KASUS HELLENDOORN TUNJUNGAN, SURABAYA) Tabitha Aurell Krishanty; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21721

Abstract

The city of Surabaya is a city known for the history of the struggle of the Surabaya’s people who fought for the Indonesian people against the Dutch colonialists, which Bung Karno pioneered. On November 10, 1945, made Hero's Day to commemorate the struggle of heroes who have fallen on the battlefield. Tunjungan Street was one of the silent witnesses of the Surabaya’s people area who tore the Dutch flag and became a silent witness in the development of the city of Surabaya to become the metropolitan city. The Dutch built Tunjungan Street in the 20th century so this road became a famous area in the city of Surabaya. The area contains a shopping center, offices, restaurants and cafes, and a museum. The Dutch colonial buildings still stand firmly and are well-maintained to keep memories of the past, but, unfortunately, some of these buildings are abandoned because they are not well preserved. The theory of Urban Acupuncture, provides Energy Flows to abandoned buildings that are located between modern buildings that continue to grow. Incorporating the youth of Surabaya as Energy Flows will be able to revive the building by preserving and preserving its history. The design will revitalize Dutch colonial heritage buildings by developing old buildings into new functions that are more useful for the people of Surabaya City and adding new buildings that can support the new functions of old buildings. Using the adaptive reuse method. This method is being used to change the response of planners who assume that old buildings are a barrier to technological progress, development of the times, and the economy. The author will also use the narrative method to preserve and commemorate the existing history. The approach of the narrative method is one method for evaluating stories from a place starting from drafting concepts, designing processes, and as a communication tool for processing narratives into space. Keywords: adaptive reuse; Dutch colonial heritage building; revitalization; urban acupuncture Abstrak Kota Surabaya merupakan kota yang dikenal dengan sejarah perjuangan arek - arek Suroboyo yang memperjuangkan rakyat Indonesia untuk melawan penjajah Belanda. Pada tanggal 10 November 1945 menjadikan Hari Pahlawan guna mengenang perjuangan pahlawan yang telah gugur pada medan perang. Jalan Tunjungan Surabaya menjadi salah satu saksi bisu peristiwa arek - arek Suroboyo merobek bendara Belanda dan menjadi saksi bisu dalam perkembangan Kota Surabaya hingga menjadi kota metropolitan saat ini. Belanda membangun Jalan Tunjungan Surabaya dari abad ke-20 sehingga jalan ini menjadi kawasan yang terkenal di Kota Surabaya. Kawasan tersebut terdapat shopping center, kantor, restauran dan café, dan museum. Bangunan—bangunan kolonial Belanda masih berdiri dengan kokoh dan terawat menyimpan kenangan masa lalu, tetapi sangat disayangkan ada beberapa bangunan tersebut yang terbengkalai dikarenakan tidak dilestarikan dengan baik. Dengan teori Urban Acupuncture memberikan energy flows ke bangunan terbengkalai yang letaknya diantara bangunan - bangunan modern yang terus berkembang. Memasukkan jiwa anak muda Surabaya sebagai energy flows akan dapat menghidupkan kembali bangunan tersebut dengan mempertahankan serta melestarikan sejarah yang dimiliki. Perancangan akan melakukan revitalisasi pada bangunan peninggalan kolonial Belanda dengan mengembangkan bangunan lama menjadi fungsi baru yang lebih bermanfaat untuk masyarakat Kota Surabaya dan menambahkan bangunan baru yang dapat memberikan support pada fungsi baru bangunan lama. Menggunakan metode adaptive reuse. Metode ini dilakukan untuk mengubah tanggapan para perencana yang berasumsi bahwa bangunan tua merupakan penghalang bagi kemajuan teknologi, perkembangan jaman, dan ekonomi. Penulis juga akan menggunakan metode narasi untuk meletarikan dan mengenang sejarah yang ada. Pendekatan dari metode naratif merupakan salah satu metode untuk mengevaluasi cerita dari suatu tempat mulai dari menyusun konsep, proses desain, dan sebagai alat komunikasi untuk pengolahan narasi menjadi ruang.
PUSAT KEBUDAYAAN BETAWI DI RAWA BELONG, JAKARTA BARAT Christina Feny Santono; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21722

Abstract

Rawa Belong located in Kebon Jeruk, West Jakarta is one of the areas with Betawi values ​​that still survive, not only from its history but the Betawi people who still live in Rawa Belong are also still trying to preserve Betawi culture. However, because there are many other sectors that are developing, such as the education sector and industrial development, what is happening is even more focused on providing facilities in these other sectors. In a development, of course, requires a land, because it is more focused on providing other facilities, so that the land used by Betawi culture in the past is decreasing. The Rawa Belong Cultural Center project is a suitable and necessary urban acupunture development in the Rawa Belong area which has limited land for development in the development of its Betawi value sector. It can be seen from the things that need to be considered when building a Cultural Center itself which is in line with the original purpose of urban acupunture. Like paying attention to the value of existing historical references, a cultural center plays an important role in maintaining the values ​​and beliefs of the surrounding community. By using the everyday urbanism method, which is a method that describes an interaction that occurs daily in urban spaces, everyday life is 'very present', but still not separated from the past. Knowing the values ​​that existed in the past will help in tracing to the present and useful in making design decisions. The daily architecture of Rawa Belong shows a social reality that is influenced by the values ​​of Betawi culture which are starting to fade, so we need a place that can evoke the values ​​of everyday Betaw culture that still exist but are closed and starting to be forgotten. With the aim of being able to re-travel and develop the remnants of the Betawi heritage that still survives in Rawa Belong. By taking into account the historical reference values ​​that already exist, a cultural center plays an important role in maintaining the values ​​and beliefs of the people who live in Rawa Belong. As well as being able to contribute to the future with the function to be achieved in the development of this project, it is hoped that the values ​​that were almost lost due to priorities in the development of other sectors can persist and will remain a distinctive feature for Rawa Belong. Keywords: Betawi; Culture Center; Degradation; Urban Acupuncture Abstrak Rawa Belong yang berada di Kebon Jeruk, Jakarta Barat merupakan salah satu area dengan nilai Betawi yang masih bertahan, bukan hanya dari sejarahnya tetapi penduduk Betawi yang masih bertempat tinggal di Rawa Belong juga masih berupaya untuk melestarikan kebudayaan Betawi. Namun karena banyaknya sektor lain yang sedang berkembang seperti pada sektor pendidikan dan industri pembangunan yang terjadi malah lebih terfokus pada penyediaan fasilitas-fasilitas pada sektor lain tersebut. Pada suatu pembangunan tentunya membutuhkan suatu lahan, karena lebih terfokus pada penyediaan fasilitas lain membuat lahan-lahan yang digunakan budaya Betawi dahulu makinlah berkurang. Proyek Rawa Belong Cultural Center ini merupakan pembangunan urban acupunture yang cocok dan diperlukan pada area Rawa Belong yang memiliki lahan terbatas untuk pembangunan pada perkembangan sektor nilai Betawinya. Dapat dilihat dari hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun sebuah cultural center itu sendiri yang sejalan dengan tujuan asli dari urban acupunture. Seperti memperhatikan nilai referensi sejarah yang telah ada, sebuah pusat budaya memainkan peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai dan keyakinan bagi masyarakat sekitarnya. Dengan menggunakan metode everyday urbanism yang merupakan suatu metode yang menjelaskan tentang suatu interaksi yang terjadi sehari- hari di daIam ruang kota, everyday life ini bersifat ‘sangat sekarang’, tapi tetap tidak Iepas dari masa lalu. Jika dapat mengetahui nilai - nilai yang ada pada masa lalu maka akan membantu dalam merunut ke masa sekarang dan berguna dalam mengambiI keputusan desain. Arsitektur keseharian pada Rawa Belong menunjukkan suatu realitas sosial yang dipengaruhi oleh niIai budaya Betawi yang mulai luntur, sehingga diperlukannya suatu wadah yang dapat membangkitkan niIai budaya betaw sehari-hari yang masih ada namun tertutup dan mulai dilupakan. Dengan tujuan untuk dapat kembali menelusuri dan mengembangkan lagi sisa-sisa warisan Betawi yang masih bertahan di Rawa Belong. Dengan memperhatikan nilai referensi sejarah yang telah ada, sebuah pusat kebudayaan memainkan peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai dan keyakinan bagi masyarakat yang bertempat tinggal di Rawa Belong. Serta dapat berkontribusi untuk masa depan dengan fungsi yang ingin di capai dalam pembangunan proyek ini, diharapkan nilai-nilai yang tadinya hampir hilang karena prioritas pada pembangunan sektor lain dapat tetap bertahan dan akan tetap menjadi ciri khas tersendiri bagi Rawa Belong.
PENERAPAN TEKNIK AKUPUNTUR KOTA TERHADAP PUSAT OLAHRAGA DAN REKREASI SEBAGAI RUANG KETIGA DI TEPI DANAU SUNTER Marviera Liandry; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21723

Abstract

Lake Sunter, a sports and recreation center area in Sunter, is determined to be the acupoint in this area. East and West Sunter Lakes are a unit that has a function as a sports and recreation facility which is also adjacent to Gelora Sunter where the building supports indoor sports. As a unified area that has the same function, access for pedestrians is still considered lacking because it is separated by a highway with various types of vehicles passing by. Urban Acupuncture is an approach to provide solutions to problems in urban areas, including the problems found in the Lake Sunter area as a center for sports and recreation. By providing a sports center facility equipped with a "Third Place" such as the Food Library, Forest Café, swimming pool facilities, and art galleries. This facility is expected to be able to alleviate problems in sports and recreation center facilities in the area around Lake Sunter. Therefore, the analysis is carried out with reference points in the area around the Sunter Lake area to obtain a program that is considered suitable and able to alleviate or overcome problems around this area. This study uses a descriptive analysis method by examining literary sources which are then described and explained the research objects related to the problem being studied. Keywords:  sunter lake; third place; urban acupuncture Abstrak Danau Sunter, sebuah kawasan pusat olahraga dan rekreasi di Sunter, ditentukan untuk menjadi titik akupuntur pada kawasan ini. Danau Sunter Timur maupun Barat merupakan suatu kesatuan yang memiliki fungsi sebagai sarana olahraga dan rekreasi yang juga berdekatan dengan Gelora Sunter dimana bangunan tersebut menunjang olahraga yang dilakukan didalam ruangan. Sebagai sebuah kesatuan area yang memiliki fungsi yang sama, akses bagi para pejalan kaki masih dianggap kurang karena dipisahkan oleh jalan raya dengan berbagai jenis kendaraan yang lalu lalang. Teknik Akupuntur Kota (Urban Acupuncture) merupakan suatu pendekatan untuk memberikan solusi terhadap masalah di perkotaan, termasuk masalah yang terdapat pada kawasan Danau Sunter sebagai pusat olahraga dan rekreasi. Dengan memberikan sebuah fasilitas pusat olahraga yang dilengkapi dengan “Tempat Ketiga (Third Place)”  seperti Food Library, Forest Café, sarana kolam renang, dan galeri seni. Fasilitas ini diharapkan mampu meringankan permasalahan pada sarana pusat olahraga dan rekreasi di kawasan sekitar Danau Sunter. Oleh karena itu, anaIisis dilakukan dengan titik acuan pada area di sekitar kawasan Danau Sunter untuk mendapatkan sebuah program yang dinilai cocok dan mampu meringankan ataupun mengatasi permasalahan di sekitar kawasan ini. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan mengkaji sumber Iiteratur yang kemudian dideskripsikan dan menjelaskan objek-objek peniIitian yang bersangkutan dengan permasaIahan yang sedang diteliti.
PENGEMBANGAN BUDAYA DAN SEJARAH PELABUHAN SUNDA KELAPA PADA ERA MODERN Lee Gemmy Geminius; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21726

Abstract

Sunda Kelapa Harbor is one of the oldest ports in Indonesia, and is the forerunner of the formation of the City of Jakarta. Initially, Sunda Kelapa Harbor was a port of the Pajajaran Kingdom at the Ciliwung estuary, which later developed into the City of Jakarta. Until now, this port still functions as a port that serves traditional ships, namely inter-island transportation in Indonesia. Unfortunately only this area is now an industrial place, even though in the Sunda Kelapa area it has high historical values. Therefore, new media is needed to raise and develop historical values ​​in this area. Qualitative method as a method of collecting data. With the concept of culture and tourism development aims to develop the Sunda Kelapa port area into a tourist area so that it can embrace local wealth in the form of traditional cultural and historical industries as potential for area recovery. Keywords: Culture; History; Sunda Kelapa Abstrak Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan tertua yang ada di Indonesia, dan merupakan awal terbentuknya Kota Jakarta. Pada awalnya, Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran di muara Ciliwung, yang kemudian berkembang menjadi Kota Jakarta. Sampai sekarang,..pelabuhan ini masih berfungsi sebagai pelabuhan yang melayani kapal-kapal tradisional, yaitu angkutan antar pulau di Indonesia. Sayangnya kawasain ini sekarang hanya menjadi tempat industri saja padahal daerah sunda kelapa memiliki nilai sejarah yang tinggi.Sehingga dari itu maka diperlukan suatu media baru untuk mengangkat dan mengembangkan nilai sejarah pada kawasan ini.Metode kualitatif digunakan sebagai metode untuk mengumpulkan data.Dengan konsep cultural dan tourism development bertujuan mengembangakn wilayah pelabuhan sunda kelapa menjadi daerah wisata.sehingga dapat merangkul kekayaan lokal berupa industri tradisional budaya dan sejarah sebagai potensi pemulihan Kawasan.
PUSAT PERTANIAN DI SUNTER, JAKARTA UTARA Maria Maureen; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21728

Abstract

With a fixed amount of land and an increasing number of people, the government needs more residential land, by shifting the function of green land to be industrialized, especially in urban areas. This had such an impact on the farmers that the majority of the urban farmers retreated and went out of business. With the study of the Urban Acupuncture literature crossed with the decline in urban agriculture, this project intends to stimulate agricultural areas affected by the shift in land use above by using a system from the community for the community to revive the soul and surrounding habits that are starting to fade, namely agriculture, especially in the Sunter area, Jakarta Utara. With the location of the building which coincides with the JIS (Jakarta International Stadium) this project is intended to be a stimulus for the agricultural sphere as well as recreation to complement the JIS in the Sunter area. With the results as an outline of agriculture x Recreation, this project contains vertical agricultural land with various systems that support seeds, planting to sales management and also recreation which contains canteens, bazaars and communal areas to distribute more agricultural knowledge, bring people closer together and become a complementary recreation area for JIS itself. By becoming a link between the degradation of conventional urban agriculture with modern agriculture, it is hoped that in the future, this Agricultural Center project can be a driving force for the urban agricultural system to better adapt to the times. Keywords: Urban  Acupuncture; Shifting Agricultural Land; Agricultural Center; Sunter Abstrak Dengan jumlah lahan yang tetap dan jumlah manusia yang kian bertambah, pemerintah membutuhkan lebih banyak lahan perumahan, dengan menggeser fungsi lahan hijau untuk diindustrialisasikan khususnya di perkotaan. Hal ini sangat berdampak bagi para petani sehingga mayoritas petani kota mundur dan menggulung tikar. Dengan kajian literatur Urban Acupuncture yang disilangkan dengan menurunnya pertanian perkotaan, proyek ini bermaksud menstimulasi kawasan pertanian yang terdampak pergeseran fungsi lahan diatas dengan menggunakan sistem dari masyarakat untuk masyarakat untuk menghidupi kembali jiwa serta kebiasaan sekitar yang mulai memudar yakni pertanian khususnya di daerah Sunter Jakarta Utara. Dengan lokasi bangunan yang bertepatan dengan JIS (Jakarta International Stadion) proyek ini dimaksudkan untuk menjadi stimulain bagi lingkup pertanian serta menjadi rekreasi untuk melengkapi adanya JIS di kawasan Sunter ini. Dengan hasil sebagai garis besar pertanian x Rekreasi, proyek ini berisikan lahan pertanian vertikal dengan berbagai sitem yang menunjang bibit, tanam hingga management penjualan dan juga rekreasi yang dimana berisikan kantin, bazar dan area komunal guna mendistribusikan lebih lagi pengetahuan pertanian, mendekatkan masyarakat antar masyarakat dan menjadi area rekreasi pelengkap JIS ini sendiri. Dengan menjadi penyambung antara degradasi pertanian perkotaan konvensional dengan pertanian modern, diharapkan kedepannya, proyek Pusat Pertanian ini dapat menjadi pendorong sistem pertanian perkotaan untuk lebih beradaptasi dengan perkembangan zaman.
REVITALISASI EKS BANDARA KEMAYORAN Alvin Rivaldo Ngaginta; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21731

Abstract

Urban acupuncture is a method applied to revive a particular area through local internventions; This intervention is believed to act as a catalyst which could bring a previously dead or damaged back to life. Kemayoran International Airport was the first international airport in Indonesia, which operated from 1940 to 1985, when the Soekarno Hatta airport was opened. Now all that is left is an abandoned building, which holds a historical value with the potential of re-development and should be preserved accordingly. Despite being located in quite a crowded area, the condition of the building creates an unappealing atmosphere to its surroundings. Therefore, this project aims to revive the building previously known as Kemayoran airport, to fulfill the potential that it holds, by using the adaptive reuse method which is supported by architectural technologies for realization, in hopes that this would result in the increase of crowd numbers, therefore supporting the economic conditions of nearby areas. The main program included in this building was an aviation museum which tells the history of Kemayoran airport at its glory; Moreover, this building also includes a co-working space and a community center, as a respond to the vision of PPPK which is to make the area into a business district. With this revitalization, it is hoped that the former Kemayoran Airport can function again and have a positive impact on its surroundings. Keywords: Adaptive Reuse; Architectural Technology; Aviation Museum; Kemayoran Airport; Revitalization; Urban Acupuncture Abstrak Urban acupuncture merupakan metode yang diaplikasikan untuk menghidupkan kembali suatu kawasan melalui intervensi lokal; Intervensi ini diharapkan untuk berfungsi sebagai katalistor yang dapat menghidupkan kembali kawasan yang sudah mati atau rusak. Bandar Udara Internasional Kemayoran merupakan bandara internasional pertama di Indonesia, yang resmi beroperasi dari tahun 1940 sampai 1985, pada saat bandara Soekarno-Hatta dibuka. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan terbengkalai, sedangkan bangunan tersebut sebenarnya memiliki nilai historis yang seharusnya dipelihara selayaknya dan berpotensi untuk dikembangkan kembali. Walaupun berada di kawasan yang cukup ramai dengan pengunjung, tetapi kondisi bangunan tersebut membuat suasana sekitar menjadi kurang mengenakan. Maka dari itu, proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali bangunan eks Bandara Internasional Kemayoran sesuai dengan potensi yang dimilikinya, dengan menggunakan metode adaptive reuse yang didukung dengan teknologi arsitektur untuk merealisasikannya, dengan harapan bahwa hasil dari revitalisasi ini akan meningkatkan jumlah pengunjung yang akan membantu perekonomian kawasan sekitar. Program utama yang terdapat dari bangunan ini merupakan museum aviasi yang menceritakan sejarah bandara Kemayoran pada masa kejayaannya; Selain dari itu, pada bangunan ini juga terdapat co-working space dan community center, sebagai respon dari visi PPPK yang akan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan bisnis. Dengan adanya revitalisasi ini diharapkan Eks Bandara Kemayoran dapat berfungsi kembali dan membawa dampak positif terhadap sekitarnya.
ARSITEKTUR HITORISISME DAN KONSERVASI BANGUNAN TATA SASTRA DI KOTA TUA JAKARTA Daniel Satria Mahendra; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21732

Abstract

Kota Tua Jakarta is an area full of history and clear evidence of the founding of the capital city of Jakarta itself. As a city full of stories and developments, it is unsurprising that this area can maintain its originality as many historical buildings still exist. Indeed, more effort is needed as an effort to keep the characteristics and history of the region. Revitalization efforts are a top priority to maintain these assets. In recent years, the government has intensively researched and planned the development of Kota Tua Jakarta in the hope of revitalizing it optimally and thoroughly to prevent knowing a historic city. Revitalization that has not been comprehensive at this time creates new problems, one of which is the availability of land. This also impacts the Kota Tua Jakarta tourist area, where activities at one point create a need for space that is also fun. As a result, several facilities have been provided to support these activities that are not utilized optimally by visitors, one of which is the Taman Kota Intan Parking Area. The research method used is descriptive qualitative research, the Urban Acupuncture approach, and the concept of Transit Oriented Development. The result of the study is an adaptation of the existing land area of Taman Kota Intan Parking and the conservation of class B cultural heritage buildings, Tata Sastra Carbon Paper Factory. Keywords:  Activity; Historicism Architecture; Kota Tua Jakarta; Revitalization; Urban Acupuncture Abstrak Kota Tua Jakarta merupakan daerah penuh sejarah dan bukti nyara berdirinya Ibukota Jakarta itu sendiri. Sebagai kota yang penuh dengan cerita dan perkembangan, tidak heran jika kawasan ini mampu mempertahankan orisinalitasnya seperti banyaknya bangunan kolonial bersejarah yang masih berdiri disana. Tentunya diperlukan usaha lebih sebagai upaya dalam mempertahankan ciri khas dan sejarah pada kawasan tersebut. Upaya revitalisasi menjadi prioritas utama sebagai upaya menjaga asset tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar meneliti dan juga merencanakan pengembangan Kota Tua dengan harapan mampu melakukan revitalisasi maksimal dan menyeluruh sehingga mampu mencegah hilangnya identitas sebuah kota bersejarah. Revitalisasi yang belum menyeluruh saat ini menimbulkan masalah baru, salah satunya adalah masalah ketersediaan lahan. Hal tersebut turut berdampak pada kawasan wisata Kota Tua Jakarta dimana tingginya aktivitas pada satu titik menciptakan kebutuhan ruang yang juga terpusat. Alhasil terdapat beberapa titik fasilitas yang telah disediakan untuk mendukung aktivtas tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengunjung, salah satunya adalah Lahan Parkir Taman Kota Intan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga melalui pendekatan Urban Acupuncture dan konsep Transit Oriented Development. Hasil penelitian merupakan adaptasi lahan eksisting Lahan Parkir Taman Kota Intan dan juga konservasi bangunan cagar budaya golongan B, Pabrik Kertas Karbon Tata Sastra.

Page 77 of 134 | Total Record : 1332