cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
STUDI PEMBANGUNAN PASAR TIMBUL BARAT PASCA KEBAKARAN (OBJEK STUDI: PASAR TIMBUL BARAT, KELURAHAN TOMANG, KECAMATAN GROGOL PETAMBURAN, JAKARTA BARAT) Ican Prima Sang Putra Amazihono; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17412

Abstract

The existence of Traditional Markets is certainly very much needed by the community, because in addition to meeting daily needs, traditional markets can also be reached by various groups ranging from those with low, middle or middle and upper economic levels. Therefore, the author conducted a study to redevelop one of the markets in Tomang Village, Grogol Petamburan District, West Jakarta, namely Pasar Timbul Barat which experienced a fire accident on August 7, 2020. The main purpose of this research is to conduct a study on the development of Pasar Timbul Barat after the disaster fire. In addition, this research was conducted to find out the redeveloped market can provide 190 places of business and accommodate 144 traders who have lost their trading places due to market fires, find out what facilities and infrastructure must be provided to optimize market activities, find out how much it costs to redeveloping the market as well as to find out how so that the Pasar Timbul Barat after being redeveloped can compete and stay afloat against the development of the city of Jakarta, especially traditional markets as well as trends in the growth and lifestyle of residents in Tomang Village. The method in this study is the qualitative research method by conducting observations and interviews, while the quantitative method by distributing questionnaires to visitors and traders. The results of this study are the redevelopment of the Pasar Timbul Barat and the large construction costs with the concept of Modern Traditional Market. Keywords: Cost; Redevelopment; Traditional market  Abstrak Keberadaan Pasar Tradisional tentunya sangat dibutuhkan oleh mayarakat, dikarenakan selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional juga dapat dijangkau oleh berbagai kalangan mulai dari yang memiliki tingkat perekonomian rendah, menengah atau menengah keatas. Oleh sebab itu penulis melakukan penelitian untuk meredevelopment salah satu pasar yang ada di Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat yaitu Pasar Timbul Barat yang mengalami musibah kebakaran pada 07 Agustus 2020. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan studi pembangunan Pasar Timbul Barat pasca kebakaran. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk  mengetahui pasar yang diredevelop dapat menyediakan 190 tempat usaha dan menampung 144 pedagang yang telah kehilangan tempat dagang akibat dari kebakaran pasar, mengetahui apa sarana dan prasarana yang harus disediakan untuk mengoptimalkan kegiatan pasar,  mengetahui berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk meredevelop Pasar serta untuk mengetahui cara agar Pasar Timbul Barat setelah diredevelop dapat bersaing dan tetap bertahan terhadap perkembangan kota Jakarta terutama pasar-pasar tradisional serta tren pertumbuhan dan lifestyle penduduk di Kelurahan Tomang. Metode dalam penelitian ini yaitu metode penelitian Kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara, sedangkan metode Kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada pengunjung dan pedagang. Hasil penelitian ini berupa redevelopment Pasar Timbul Barat serta besar biaya pembangunannya dengan konsep Pasar Tradisional Modern. 
PENERAPAN METODE LANDSCAPE URBANISM DALAM PERANCANGAN AGRO EDU-WISATA DI CENGKARENG Rivaldo Clemens; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21493

Abstract

The history of the Cengkareng area, which has the image of a plantation area and green space, should be a comfortable, productive, healthy and sustainable area that is experiencing degradation. The plantations and green spaces in this area have changed their function into dense and unhealthy industrial buildings. Therefore, the Cengkareng area currently has a high stress level problem due to the absence of tourist attractions and green spaces. In this case, new attractors are needed in this area, which can revive the image of healthy and comfortable plantation areas and green spaces and provide lessons on how to cultivate a plant. By using the urban acupuncture method in finding problem points that must be healed in the Cengkareng area to restore the image of the area. The design of Agro Edu-Tourism Cengkareng is proposed to be an acupoint to restore the image of the area with agro-tourism and reduce stress levels so as to create a healthier area. With the existence of Agro Edu-Wisata with the application of the landscape urbanism method that emphasizes performance rather than pure aesthetics, it is hoped that it will have a major impact on the Cengkareng community. Keywords:  Attractor; Farming; Agrotourism Abstrak Sejarah Kawasan Cengkareng yang mempunyai citra kawasan perkebunan dan ruang hijau seharusnya kawasannya nyaman, produktif, sehat dan berkelanjutan ini mengalami degradasi. Perkebunan dan ruang hijau pada kawasan ini mengalami perubahan fungsi menjadi bangunan-bangunan industrial yang padat dan kurang sehat. Oleh karena itu, kawasan Cengkareng saat ini mempunyai masalah tingkat stress yang tinggi karena tidak adanya tempat wisata dan ruang hijau. Dalam hal ini membutuhkan adanya attractor baru pada Kawasan ini, dimana dapat menghidupkan kembali citra Kawasan perkebunan dan ruang hijau yang sehat dan nyaman serta memberikan pelajaran cara membudidayakan suatu tanaman. Dengan menggunakan metode urban akupuntur dalam menemukan titik-titik masalah yang harus disembuhkan pada Kawasan Cengkareng untuk mengembalikan citra Kawasan. Perancangan Agro Edu-Wisata Cengkareng diusulkan menjadi titik akupuntur untuk mengembalikan citra kawasan dengan agrowisata dan mengurangi tingkat stress sehingga menciptakan Kawasan yang lebih sehat. Dengan adanya Agro Edu-Wisata dengan penerapan metode landscape urbanism yang menekankan kinerja dari pada estetika murni, diharapkan dapat berdampak besar bagi masyarakat Cengkareng.
PERANCANGAN ‘KREATIF DAUR ULANG SAMPAH ANORGANIK’ SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN BANTARGEBANG Priska Debora Iskandar; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21642

Abstract

Waste should receive serious attention and handling. However, due to the lack of understanding of the community and the government, this waste problem has been neglected. There needs to be an effort to improve the quality of the environment by optimizing waste management so that it can benefit the people's economy and not damage the environment in cities in Indonesia. The project to be designed has the aim of overcoming the problem of environmental degradation in Bantargebang so as to produce a better environmental quality. Ecological architecture is used as a design concept that respects the importance of preserving natural ecosystems. This architectural design approach and concept as the application of urban acupuncture also promises to protect nature and the ecosystem in it from greater damage and create physical, social and economic comfort for its residents. The purpose and benefit of this research is to design a Creative Inorganic Waste Recycling as an application of urban acupuncture which is expected to overcome the problem of environmental degradation in the Bantargebang area. So that the area that previously experienced environmental damage can become a well-organized area and provide comfort for users. Keywords: Ecological Architecture; Environmental Degradation; Inorganic Waste; Recycle Abstrak Sampah seharusnya mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Namun karena kurangnya pengertian masyarakat dan pemerintah maka masalah sampah ini menjadi terabaikan. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan cara mengoptimalkan penanganan sampah sehingga dapat bermanfaat untuk perkonomian warga dan tidak merusak lingkungan di kota-kota di Indonesia. Proyek yang akan dirancang memiliki tujuan untuk mengatasi persoalan degradasi lingkungan Bantargebang sehingga menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik. Arsitektur ekologis digunakan sebagai sebuah konsep perancangan yang menghargai pentingnya kelestarian ekosistem alam. Pendekatan dan konsep desain arsitektur ini sebagai penerapan urban akupunktur juga menjanjikan untuk menjaga alam dan ekosistem di dalamnya dari kerusakan yang lebih besar dan menciptakan kenyamanan fisik, sosial dan ekonomi bagi penghuninya. Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah merancang sebuah Kreatif Daur Ulang Sampah Anorganik sebagai penerapan urban akupunktur yang diharapkan dapat mengatasi persoalan degradasi lingkungan pada kawasan Bantargebang. Sehingga kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan lingkungan dapat menjadi kawasan yang tertata baik dan memberikan kenyamanan bagi pengguna.
OMNICHANNEL RETAILING PADA PERANCANGAN PUSAT HIBURAN BARU DI PAMULANG, TANGERANG SELATAN Rendy Reynaldi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21645

Abstract

Continuous infrastructure and economic development cause land values in satellite cities to increase. This encourages stakeholders to re-examine whether the function of buildings on these potential lands is still relevant or has been abandoned. The same case occurred in the Pamulang Square area, Pamulang, South Tangerang. In the past, the trade center was successful and gained popularity among developers. However, now its prestige is fading after the shifting trend of retail consumers. Seeing this area that is almost dead makes this area suitable as a target for urban acupuncture. The idea is how to create a new 'shopping center' that could revive this area while providing benefits to all parties.The design process begins by finding out the history and development of shopping centers from time to time. The design method used is narrative architecture, where the project will describe the transition from a trade center to an entertainment center. In addition, film and collage methods are used to unite two contrasting entities. The result is an entertainment center that prioritizes the visitor experience to increase traffic to this area. The narrative in this project starts from the form of an adapted trade center to apply the latest technology, which is then continued with an outdoor gathering area with food and beverage stalls, as well as a retail area combined with interactive activities. Using an omnichannel retailing concept that combines technology and brick-mortar provides a new experience in response to a decline in shopping trips. It is hoped that by adopting these ideas, the area around Pamulang Square can revive and continue to provide benefits for traders and visitors. Keywords:  Narattion; Omnichannel; Retail; Trade Center; Urban Acupuncture Abstrak Pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang lebih merata menyebabkan nilai lahan di kota satelit menjadi meningkat. Hal ini mendorong para pemegang kepentingan untuk melihat kembali, apakah fungsi bangunan di lahan-lahan potensial ini masih relevan atau sudah ditinggalkan. Kasus yang sama terjadi pada area Pamulang Square, Pamulang, Tangerang Selatan. Jika dahulu trade center berjaya, namun kini pamornya semakin meredup seiring bergesernya tren konsumen ritel. Melihat area ini yang sudah hampir mati, menjadikan area ini cocok menjadi target akupunktur kota. Gagasan yang disampaikan adalah bagaimana menciptakan ‘shopping center’ baru yang mampu menghidupkan kembali area ini sekaligus memberikan keuntungan kepada semua pihak. Perancangan dimulai dengan mencari tahu sejarah dan perkembangan pusat perbelanjaan dari masa ke masa. Metode perancangan yang digunakan adalah narasi, dimana proyek akan menjelaskan transisi dari trade center konvensional, menjadi sebuah entertainment center. Selain itu juga dengan metode film dan kolase untuk menyatukan 2 entitas yang kontras. Hasil yang didapatkan adalah pusat hiburan yang mengutamakan pengalaman pengunjung untuk meningkatkan arus ke area ini. Narasi dalam proyek ini dimulai dari bentuk trade center yang disesuaikan dengan menerapkan teknologi terbaru, yang kemudian dilanjutkan dengan area berkumpul outdoor dengan kios-kios makanan dan minuman, serta terdapat area ritel yang digabungkan dengan kegiatan-kegiatan interaktif. Menggunakan konsep omnichannel retailing yang menggabungkan antara teknologi dengan toko offline sehingga memberikan pengalaman maksimal sebagai respon atas menurunnya aktivitas berbelanja. Diharapkan dengan mengadopsi usulan-usulan tersebut, area sekitar Pamulang Square dapat hidup kembali dan tetap memberikan manfaat bagi pedagang maupun pengunjung.
PENERAPAN METODE URBAN AKUPUNKTUR DALAM PERANCANGAN WADAH KOMUNITAS DI KALIANYAR, JAKARTA BARAT Eric Manzo Bewintara; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21682

Abstract

The number of slum settlements in Jakarta has increased dramatically, according to the Central Statistics Agency, slum settlements in Jakarta in 2017 were 14.55%, in 2018, 14.33% and in 2019 the number rose drastically to 42.73%. These slum settlements increase the potential for many diseases, such as dysentery, diarrhea, tuberculosis, malaria and typhus. These diseases not only cost the country 50 trillion, but also contribute to 88 percent of child deaths in Indonesia. One of the settlements in West Jakarta that has health problems is Kalianyar. The population density and building density in this village are very high. This results in poor environmental sanitation, air circulation and natural lighting in residential areas that are built close together. The high morbidity rate has an impact on the quality of life in this village. This paper presents the results of qualitative research on the physical condition of the environment and the socio-economic and health aspects of slum dwellers in Kalianyar. The aim of the study is to produce solutions to the problems mentioned above using an urban acupuncture approach. The analysis carried out resulted in solutions in the form of providing a community forum which in addition to being a place for education and community interaction, also became an integrated clinic facility, to improve public health in Kalianyar. Keywords: Diseases; Slums; Urban Acupuncture; Wellness Centre Abstrak Jumlah pemukiman kumuh di Jakarta naik drastis, menurut Badan Pusat Statistik, pemukiman kumuh di Jakarta pada tahun 2017 adalah 14.55%, pada tahun 2018, 14.33%dan pada tahun 2019 angka naik dengan drastis ke 42.73%. Pemukiman yang kumuh ini meningkatkan potensi terjadinya banyak penyakit, seperti disentri, diare, tuberculosis, malaria dan tifus. Penyakit-penyakit ini tidak hanya merugikan negara sejumlah 50 Triliun, tetapi juga berkontribusi sebanyak 88 persen kematian anak di Indonesia. Salah satu permukiman di Jakarta Barat yang mengalami masalah kesehatan adalah Kelurahan Kalianyar. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan di kelurahan ini sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan buruknya sanitasi lingkungan, sirkulasi udara dan pencahayaan alami di hunian penduduk yang dibangun berdempetan. Angka morbiditas yang tinggi berdampak pada kualitas kehidupan di kelurahan ini. Tulisan ini mengangkat hasil riset kualitatif tentang kondisi fisik lingkungan dan aspek sosial ekonomi dan kesehatan warga penghuni pemukiman kumuh di Kalianyar. Tujuan studi adalah untuk menghasilkan solusi permasalahan tersebut di atas dengan pendekatan urban akupuntur. Analisis yang dilakukan menghasilkan usulan solusi dalam bentuk penyediaan wadah komunitas yang selain menjadi tempat edukasi dan interaksi warga juga menjadi fasilitas klinik terpadu, untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di Kelurahan Kalianyar.
PENERAPAN METODE DISPROGRAMMING & ARSITEKTUR SIMBIOSIS DALAM REDESAIN PASAR ANYAR TANGERANG DI KAWASAN PECINAN TANGERANG LAMA Nathanael Kevin Marxalim; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21688

Abstract

Tangerang City, which is located in Banten Province, is a city that has an important history, especially as the forerunner to the development of settlements along cultural aspects of the Chinese Benteng community. However, over time, changes in social structure, cultural economy, and technological developments have made the historical and cultural uniqueness in the China area of ​​Old Tangerang City increasingly fade. It is feared that in the end, future generations will no longer know the history of Tangerang. Initially, Tangerang City had famous and considered vital buildings, such as  Boen Tek Bio Temple, the Benteng Museum, the Benteng Soy Sauce Factory, the Old Market, and the Anyar Traditional Market. When this study was conducted, some of these historic buildings had experienced a decline or degradation in both function and physical condition. One of them is Pasar Anyar which is less organized and controlled. This study aims to revive the old city area. By applying the urban acupuncture method, meso-scale analysis in the area resulted in a proposed intervention point to be carried out, namely the redesign of the Old Tangerang Anyar Market. To produce the right redesign, a disprogramming approach is used that accommodates two main functions, namely market and culinary, and to produce a redesign that can meet today's needs but still elevates the culture and feel of the old Chinatown, the symbiotic architectural method is used. Keywords:  Redesign; Traditional Market; Pasar Anyar;Chinatown Abstrak Kota Tangerang terletak pada Provinsi Banten yang memiliki sejarah penting terutama sebagai cikal bakal perkembangnya permukiman  berikut sendi kehidupan sosial ekonomi dan budaya komunitas Cina Benteng. Namun berjalan waktu terjadi perubahan struktur sosial, ekonomi budaya, dan perkembangan teknologi telah membuat keunikan sejarah dan budaya di kawasan Cina Kota Tangerang Lama semakin memudar. Dikhawatirkan pada akhirnya nanti generasi mendatang tidak lagi mengenal sejarah Tangerang. Awalnya Kota Tangerang memiliki bangunan- bangunan yang terkenal dan dianggap vital seperti Klenteng Boen Tek Bio, Museum Benteng, Pabrik kecap Benteng, Pasar Lama, Pasar Tradisional Anyar. Saat studi ini dilakukan, beberapa dari bangunan bersejarah tersebut telah mengalami penurunan atau degradasi baik fungsi maupun kondisi fisiknya. Salah satunya adalah Pasar Anyar yang kurang tertata dan terkontrol. Studi ini bertujuan untuk memvitalkan kembali kawasan kota lama tersebut. Dengan menerapkan metode urban acupunture, analisis skala meso di kawasan tersebut menghasilkan usulan titik intervensi yang akan dilakukan yaitu berupa redesain Pasar Anyar Tangerang Lama. Untuk menghasilkan redesain yang tepat, digunakan pendekatan disprograming yang mewadahi dua fungsi utama yaitu pasar dan kuliner, dan untuk menghasilkan redesain yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini namun tetap mengangkat budaya dan nuansa Pecinan lama digunakan metode arsitektur simbiosis.
PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE DAN ARSITEKTUR NARASI DALAM PERANCANGAN MUSEUM MEMORABILIA PRINSEN PARK DI KAWASAN THR LOKASARI, JAKARTA BARAT Catherine Natawibawa; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21699

Abstract

Prinsen Park was an entertainment center located in the City of Jakarta with facilities to support the lives of its actors and actresses as well as the artists. Prinsen Park became famous ever since a popular group of comedians called “Stamboel Comedy” made its appearance in 1894. However, around the 1970s, its popularity has fallen. Later, the place went under a rejuvenation and its name was changed to Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). In 1990, this place turned into a night entertainment area. This study begins with a meso-scale review (3 km from THR Lokasari area) with various analyses to understand the current and future socio-cultural characteristics of the community. These analyses will be used as a basic before intervening the area with urban acupuncture method. The result of this study has develop the design concept of a memorabilia museum using the narrative architecture method which expected to become the magnet that will revives this area.   Keywords: Urban Acupuncture; Memorabilia Museum; Narrative; Prinsen Park; THR Lokasari   Abstrak Prinsen Park adalah sebuah pusat hiburan yang pernah dimiliki oleh Kota Jakarta dengan fasilitas yang mendukung kehidupan para artis dan senimannya. Prinsen Park menjadi terkenal karena penampilan sebuah kelompok komedi bernama “Komedi Stamboel” pada tahun 1894. Namun sekitar tahun 1970-an, popularitasnya semakin menurun. Kemudian tempat ini mengalami peremajaan dan namanya pun berubah menjadi Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). Pada tahun 1990, tempat ini akhirnya berubah fungsi menjadi kawasan hiburan malam. Studi ini diawali dengan tinjauan skala meso (3 km dari kawasan THR Lokasari) dan melakukan berbagai analisis untuk memahami karakteristik sosial budaya masyarakat saat ini dan di masa mendatang. Hal ini digunakan sebagai dasar untuk melakukan intervensi terhadap kawasan tersebut dengan metode urban acupuncture. Studi ini menghasilkan konsep perancangan suatu museum memorabilia dengan metode arsitektur narasi yang diharapkan dapat menjadi magnet yang menghidupkan kawasan ini.
PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS PADA REVITALISASI LINGKUNGAN PECINAN MESTER, JATINEGARA, JAKARTA TIMUR Regina Natalina Naomi; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21700

Abstract

Mester Chinatown Area in Pasar Lama Street is part of a commercial area in Jatinegara. The area is full of history and Chinese culture yet has started to be forgotten. The vitality in the area starts to degrade, with several old, abandoned buildings and the disappearance of Chinatown characteristics. Urban acupuncture approach is used to find problematic spots in the 3 km radius. The chosen spot is located in the Pasar Lama Jatinegara area because of its potential, with vihara as a focal point and government plan to create open green space in the area. Then, urban acupuncture is used to identify essential intervention spots in the area. This study uses qualitative method to gather information on-field and understand the problems in the research area. To formulate the revitalization concept, this study refers to the symbiosis architecture approach, which attempts to interconnect two poles of yin and yang as a fundamental concept in Chinese culture. The final design is in the form of a cultural hub building as an attractor spot. It aims to revitalize the culture and the collective memory while also enlivening the activities in the area. Symbiosis architecture is realized through sacred space, intermediate space, and synergized yin-yang symbolism about nature (heaven/sky) and culture (earth), becoming a linkage and an attractor spot for the surrounding population. Keywords:  Chinatown; Linkage; Revitalization; Symbiosis Architecture; Urban Acupuncture Abstrak Lingkungan Pecinan Mester di Jalan Pasar Lama merupakan bagian dari Jatinegara yang dikenal sebagai kawasan perdagangan. Lingkungan ini sarat dengan sejarah dan budaya yang sekarang sudah mulai dilupakan. Vitalitas dalam lingkungan mulai menurun, dengan banyaknya bangunan-bangunan tua yang tidak terawat dan hilangnya komponen ciri Pecinan. Pendekatan urban acupuncture diterapkan untuk mengidentifikasi titik bermasalah dalam radius 3 km. Titik yang terpilih terletak di area Pasar Lama Jatinegara yang memiliki potensi dengan adanya vihara sebagai titik penting dan terdapat rencana kota untuk menambahkan ruang terbuka hijau dalam lingkungan. Urban acupuncture kemudian digunakan untuk menentukan titik intervensi yang diperlukan dalam lingkungan. Studi ini menggunakan metode kualitatif dalam menggali informasi di lapangan untuk memahami permasalahan di lokasi penelitian. Dalam menyusun konsep revitalisasi, studi ini mengacu pada pendekatan arsitektur simbiosis, yang berusaha menjalin dua kutub yin dan yang, sebagai konsep mendasar dalam kebudayaan China. Hasil perancangan yaitu suatu titik atraktor berupa bangunan publik yang berfungsi sebagai sentra kebudayaan pecinan yang bertujuan untuk merevitalisasi budaya dan memori kolektif serta menghidupkan aktivitas dalam lingkungan. Arsitektur simbiosis digunakan dengan aplikasi konsep ruang suci dan ruang antara dan simbolisasi yin-yang akan alam (langit) dan kebudayaan (bumi) sehingga dapat bersinergi dan menjadi suatu titik atraktor sekaligus area penghubung bagi penduduk sekitarnya.
MENGHIDUPKAN KEMBALI WISATA KULINER DAN RUANG SOSIAL DI KOTA TUA DENGAN KONSEP KONTEKSTUAL ARSITEKTUR Esther Pascalia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21701

Abstract

Culinary tourism at the fostered location of Taman Intan Kota Tua is an effort by the Government to be able to develop and preserve the historic area of ​​Kota Tua. Not long after the opening, the culinary tour of the Taman Intan Fostered Location was increasingly deserted by visitors, so many traders left the target location and returned to trading on the roadside. The land for the target location has been neglected so that it can have a bad impact on the undeveloped and forgotten Kota Tua area. This study aims to improve and preserve culinary tourism in the degraded Old Town. So that they can continue to develop and preserve the Old Town area, improve the economy of traders, and make the environment in the Old Town area cleaner and more organized. The stages of the writing method used are a. The Concept of Site Selection and Site Characteristics. b. Area Identification. c. Site Investigation. d. The point of distribution of street vendors in the Old City. e. Proposed Activities and Building Programs. f. Design Concept. g. Application of Contextual method. h. Mass Transformation. i. Final Result of Design. The findings as design indicators obtained are that the application of Urban Acupuncture, Contextual Architecture, and CPTED methods in building design, can be a small puncture that can revive the historic tourist area of ​​Kota Tua. Keywords : Urban Acupuncture; Culinary Tourism; Kota Tua Abstrak Wisata kuliner di Lokasi Binaan Taman Intan kota tua merupakan suatu upaya oleh Pemerintah untuk dapat mengembangkan dan melestarikan kawasan bersejarah Kota Tua. Tidak berlangsung lama dari pembukaan, wisata kuliner Lokasi Binaan Taman Intan ini kian hari semakin sepi pengunjung, sehingga banyak para pedagang meninggalkan lokasi binaan dan kembali berdagang di pinggir jalan. Lahan lokasi binaan ini jadi terbengkalai sehingga dapat berdampak buruk bagi kawasan Kota Tua yang tidak berkembang dan dapat terlupakan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan, serta melestarikan wisata kuliner di Kota Tua yang mengalami degradasi. Sehingga dapat terus mengembangkan dan melestarikan kawasan Kota Tua, meningkatkan perekonomian para pedagang, serta membuat lingkungan di kawasan Kota Tua bersih dan lebih tertata. Adapun tahapan metode penulisan yang digunakan yaitu a. Konsep Pemilihan Lokasi dan Karakteristik Site. b. Identifikasi Kawasan. c. Investigasi Tapak. d. Titik Persebaran PKL di Kota Tua. e. Usulan Aktivitas dan Program Bangunan. f. Konsep Perancangan. g. Penerapan metode Kontekstual. h. Transformasi Massa. i. Hasil Akhir Perancangan.  Temuan sebagai indikator perancangan yang didapat yaitu bahwa penerapan metode Urban Acupuncture, Kontekstual Arsitektur, dan CPTED pada rancangan bangunan, dapat menjadi sebuah tusukan kecil yang dapat menghidupkan kembali kawasan wisata bersejarah Kota Tua.
PENERAPAN METODE KONTEKSTUAL DAN THIRD PLACE DALAM PERANCANGAN RUANG PUBLIK PECINAN PANCORAN GLODOK Elysia Elysia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21703

Abstract

Pancoran Glodok is an area where ethnic Chinese are the main population. However, since the 1998 riots, Chinatown culture has begun to dim, so that this area is forgotten as a Chinatown area and the quality of the area is decreasing. The purpose of this design is to continue to develop the Chinatown culture of Pancoran by the Chinatown culinary tourism program, as well as provide open spaces to carry out Chinese culture. The design uses the application of the concept of Third Place in the formation of the program and uses the application of contextual architecture and also Chinatown architecture in the formation of compositions and application to the facade of the building. The findings obtained in the form of a design result are a design with the application of the third place concept and contextual architecture, as well as an application with Chinatown architecture so that it can become a Chinatown icon in the Pancoran Glodok area, which has a lot of potential. Keywords: Chinatown; Chinatown Culinary; Pancoran; Glodok; Third Place Abstrak Pancoran Glodok adalah suatu kawasan  dimana etnis Tionghoa sebagai penduduk utama. Namun, sejak kerusuhan 1998, kebudayaan pecinan mulai redup, membuat usaha mereka menjadi sepi pengunjung dan membuat para etnis tionghoa keluar dari kawasan ini sehingga kawasan ini terlupakan sebagai kawasan pecinan dan kualitas kawasan semakin menurun. Tujuan perancangan ini adalah untuk terus mengembangkan kebudayaan Pecinan Pancoran agar tidak semakin dilupakan dengan adanya program wisata kuliner Pecinan, Chinatown Market yang bertujuan merapikan PKL yang ada di sekitar tapak, serta  ruang terbuka untuk melaksanakan kebudayaan umat Tionghoa. Perancangan menggunakan penerapan konsep: Third Place pada pembentukkan program dan menggunakan penerapan arsitektur kontekstual dan juga arsitektur pecinan dalam pembentukkan gubahan dan penerapan pada fasad bangunan contohnya dengan ornamen pada dinding dan juga bukaan bangunan. Temuan yang didapatkan berupa hasil perancangan adalah sebuah desain dengan penerapan konsep third place dan arsitektur kontekstual serta penerapan dengan arsitektur pecinan sehingga dapat menjadi suatu ikon pecinan pada kawasan Pancoran Glodok yang memiliki banyak potensi.

Page 75 of 134 | Total Record : 1332